
Haidar menatapi istrinya sambil menyilangkan kaki dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Memangnya kenapa?" tanya Haidar dengan datar.
"Abah nggak nyesel dapat mertua akhlak begituan?" tanya Aisyah.
Haidar terkekeh. "Aku nggak nikahi ayahmu. aku nikalhi kamu. nggak ada urusannya sama dia." jawab Haidar dengan enteng.
"Tapi kan, Abah mau tak mau harus menggauli dia juga." ujar Aisyah dengan pelan kemudian duduk disisi Haidar.
"Ya, aku tahu itu." ujar Haidar. "Aku menggaulinya sebagai pemenuhan adabku kepada istriku. asal bilang saja sama dia, jangan berkelakuan begitu didepan Mama. bisa-bisa ayahmu nanti kena semprot. syukur kalau kena semprot. kalau kena kemplang ya, memble bibirnya nanti. kejedot tinju Mama."
Aisyah tersenyum dan mengangguk-angguk. "Makasih Abah. Abah memang pengertian sama Umma."
"Tentu dong. kalau perhatian sama perempuan lain, itu namanya selingkuh." tukas Haidar lalu tertawa.
"Misalnya sama..." goda Aisyah, namun langsung dibekap bibirnya oleh Haidar.
"Nggak usah sindir-sindir aku." ujar Haidar dengan datar lagi. "Sudah, ambilin Abah minum." perintahnya.
Aisyah tersipu-sipu lalu bangkit menuju dapur. sementara Haidar kemudian menghubungi Haanish.
...*******...
Haanish baru saja tiba di Istana Odawara dan bekerja diruang kerjanya di Pavilyun kiri dekat menara kastil utama. piranti yang berada dipergelangannya menyala berkedip-kedip pertanda ada panggilan masuk. ia menekannya dan gelang itu menyorot cahaya ke depan membentuk layar holografis dengan wajah Haidar disana.
📲 "Wa alaikum salam, Kakakku yang ganteng." sapa Haanish sambil tersenyum. "Wololo habarimu?"
📲 "Watiya, sesehati, Alhamdulilah..." jawab Haidar dengan senyum datarnya.
Haanish tertawa.
📲 "Sudah lama aku tak melihat senyum itu." ujar lelaki tersebut. "Aku merindukanmu."
Haidar tersenyum sendu.
📲 "Pulanglah. tinggallah barang seminggu. kita akan saling memperbaiki segala kesalahan yang terjadi." pinta Haidar.
Haanish tertawa lepas tapi matanya telah berair. lelaki itu menangis dalam tertawa. penyakit patologisnya kambuh.
📲 "Aku sangat menginginkan hal itu." isaknya sambil tertawa. "Tapi tak bisa." ujarnya. "Kesibukanku sebagai penjaga arsip keluarga kekaisaran membelenggu langkahku untuk menemuimu." sedu Haanish ditengah tangis-tertawanya itu.
Haidar senyum dengan mata yang berkaca-kaca. ia mengangguk-angguk lalu menyeka bagian sisi matanya yang sudah basah. tak lama kemudian muncul Aisyah.
📲 "Moshi-moshi, Oneesan." sapa Haanish.
Aisyah menatap Haidar. lelaki itu tersenyum.
"Dia menyapamu." ujar Haidar.
Aisyah langsung menatap layar gawai dan melambaikan tangan.
📲 "Hai, Kak Haanish. apa kabarmu?" sapa balik Aisyah.
📲 "Watashi wa genki.... arigato..." jawab Haanish setelah menenangkan tangisnya. Aisyah menatap Haidar.
📲 "Tak usah kau pakai-pakai bahasa jepang dihadapan kakak ipar kau ini. pakai saja bahasa yang biasanya. ini gara-gara kelamaan tinggal di jepang. jadinya kau..." tegur Haidar.
📲 "Anata wa mata, nihon no hanbun no ichi o motte imasu. sore o wasurenaide kudasai!" todong Haanish dengan senyum pula.
Haidar mengangguk-angguk.
📲 "Hai, shitte imasu. tapi bisakah kita bicara bahasa indonesia saja?" pinta Haidar.
📲 "Aku memutuskan mengundurkan diri dari jabatan kepala keluarga Hasegawa." ujar Haanish. "Aku akan mencalonkan diri menjadi kepala keluarga Mochizuki. apa kau keberatan?!"
Haidar tersenyum dan menggeleng.
📲 "Kau juga seorang Mochizuki, Eiji. aku tak keberatan. aku mendukungmu sepenuhnya." jawab Haidar. "Katakan apa yang bisa kubantu?"
📲 "Aku butuh wujud monstermu, untuk menggertak anggota-anggota 53 keluarga Koga agar mereka menerimaku menjadi Kepala keluarga Mochizuki dan kepala klan Koga." ujar Haanish.
__ADS_1
📲 "Kapan suksesi pemilihan kepala keluarga?" tanya Haidar.
📲 "Tunggu kabar dariku." jawab Haanish.
📲 "Baik. aku tunggu." ujar Haidar.
Haanish mengangguk dan memutuskan pembicaraan seluler itu. sementara Haidar kemudian mengambil gelas berisi air yang diletakkan Aisyah di meja. sementara Aisyah menutup pintu lalu melangkah kembali ke sofa dan duduk disisi Haidar yang sudah meminum habis air dalam gelas dan meletakkan benda itu di meja.
"Umma... kok Abah haus terus sih?" ujar Haidar mengerutkan alisnya dan berdecap-decap.
"Haus?" tanya Aisyah mengangkat alisnya.
Haidar mengangguk lalu tersenyum. "Ya, haus... haus akan perhatianmu." ujar lelaki itu melancarkan rayuannya.
Aisyah berlagak hendak muntah ketika tiba-tiba Haidar langsung menyergapnya membuat jilbaber itu memekik kaget.
"Abah apa-apaan sih?!" pekik Aisyah berupaya meronta dari pelukan suaminya.
"Mau memperkosa kamu!" geram Haidar dengan dengusan syhawatnya. Aisyah tersenyum.
"Ya sudah, kalau mau merkosa Umma, dikamar saja! jangan disini!" pekiknya lagi dengan suara yang dibuat bagai mangsa yang sudah tertangkap.
Aisyah pandai benar membuat Haidar mabuk kepayang hanya dengan gerak tubuh dan suaranya. lelaki itu dengan kemampuan fisiknya yang begitu kuat, apalagi terpompa penuh oleh desiran birahi, meningkatkan adrenalin dalam darahnya yang dipengaruhi Darah Dewa, membuat Haidar dengan enteng memanggul Aisyah seperti memanggul seekor rusa yang baru saja diburunya. langkahnya ringan benar menuju kamar.
Aisyah melakukan dan mengikuti saja gaya permainan suaminya. dibikin mangsa, maka ia pun menjadi mangsa. dibikin makanan, maka dia pun menjadi makanan. Aisyah melakukan semua itu agar Haidar tak akan berpaling ke wanita lain. itu intinya.
...*******...
Haanish baru saja keluar dari Pavilyun ketika menemukan Marissa yang juga muncul mendatanginya.
"Apa pekerjaan Uda sudah selesai?" tanya Marissa.
Haanish mengangguk. Marissa tersenyum-senyum. Haanish langsung berujar, "Kalau senyum-senyum begini, pasti ada maunya nih."
"Apaan? boleh tahu, nggak?" tanya Haanish.
"Jalan-jalan yuk. bosan disini terus-terusan." rengek Marissa yang saat itu mengenakan furisode bercorak cerah dan meriah. rambutnya dibiarkannya tergerai. penampilannya mengingatkannya pada karakter Tomoe Himura, istri dari Battossai Kenshin Himura, tokoh dalam komik lawas beberapa dekade silam, Rurounni Kenshin karya Nobuhiro Watsuki.
Haanish tersenyum. "Tunggu sebentar. aku ganti baju dulu. bisa kan?" pinta Haanish.
Marissa mengangguk dan tersenyum. "Aku tunggu disini, ya?" ujarnya.
Haanish mengangguk lalu lekas-lekas menuju kastil dengan langkah setengah berlari. makin lama Haanish membiarkan rambut lurusnya tumbuh panjang dan menata rambutnya dengan gaya mizura, yaitu rambut depan dibelah tengah dan dikuncir ke atas. penampilannya jika mengenakan kimono akan mulai mirip seperti seorang samurai jaman sengoku.
tak lama kemudian muncul Sachiko dari genkan bagian timur. melihat Marissa yang duduk ditepian genkan, membuatnya melangkah mendekati nyonya berusia 19 tahun itu.
"Hai Marissa." sapa Sachiko dengan senyum datar.
Marissa menoleh dan balas menyapa juga dengan datar tanpa senyum. Sachiko kemudian duduk disisi Marissa.
"Dimana Yoshiaki-Dono?" tanya Sachiko dalam bahasa inggris. ia tahu bahwa wanita saingannya itu tak pandai berbahasa jepang.
"Bersalin baju." jawab Marissa seadanya membuat Sachiko tertawa lepas.
"Kenapa? ada yang lucu ya?" tanya Marissa.
"Nggak. aku hanya tertawa dengan kamu." ujar Sachiko lalu mulai tersenyum dengan gaya meremehkan.
"Apanya yang kau tertawai dariku?" tanya Marissa.
"Kamu... bukan warga jepang asli, mengenakan pakaian tradisional kami. bukankah itu lucu?" olok Sachiko.
Marissa tertawa. "Iya juga ya? makanya bukan aku yang kelihatan lucu. tapi kamu yang nampak begitu bodoh." jawab Marissa membuat Sachiko langsung terdiam.
"Apa kau bilang?" tanya Sachiko dengan pelan.
"Kau kelihatan benar tampang bodohmu itu." jawab Marissa. "Itu seperti pernyataan para pakar beladiri jepang yang mempertanyakan, mengapa Iaido, karatedo, dan seni beladiri mereka sudah mendunia dan digeluti oleh masyarakat dunia."
__ADS_1
Sachiko memicingkan mata. "Kau mulai mencari-cari masalah... Nyonya Hasegawa." ujarnya dengan nada menegur.
"Denai tak mencari masalah. Waang yang mencari masalah denganku." balas Marissa dengan tatapan tajam. "Apa kau pikir, aku nyaman menggunakan pakaian ini? aku menggunakannya, hanya karena menghormati adat istiadat. Lagipula suamiku adalah kepala keluarga dan klan. jika kami berdua warga biasa, mana mau aku menggunakan pakaian ini? jaket bulu tebal sudah cukup menghangatkan tubuhku... juga pelukan suamiku." ujarnya dengan senyum meremehkan pula.
"Aku ingatkan padamu..." ancam Sachiko.
"Nggak! kamu yang harus kuingatkan!" tandas Marissa memelototkan matanya kepada Sachiko. "Jangan berani macam-macam denganku, Sachiko Hasegawa. aku, bukan siapa-siapamu!" ujarnya menuding-nudingkan telunjuknya kepada Sachiko yang wajahnya sudah kaku membesi sebab diancam Marissa.
sambil mendengus, Marissa bangkit dan melangkah meninggalkan Sachiko. kebetulan yang pas, ketika itu Haanish baru muncul mendekatinya.
sang kepala keluarga itu mengenakan yukata tebal warna putih dengan hiasan abstrak kabur warna jingga-merah. bagian dalamnya warna kuning krem. sabuk lebarnya juga warna putih dan dipadu dengan jas haori hitam yang dihias dengan kamon keluarga Hasegawa dilima titik pakaian itu. sebuah kipas lipat nampak terselip disabuk. yang unik, Haanish mengenakan sandal kayu dan rambutnya lagi-lagi tetap dibuat gaya mizura. penampilannya sangat mirip dengan karakter Tenma Kumo dalam film lawas jepang, Laughing Under The Clouds (tertawa lepas dibawah naungan awan).
"Lama sekali berpakaiannya. denai hampir saja bosan." rajuk Marissa lalu bergelayut manja dilengan Haanish.
"Gomen sayangku. aku kan harus berpakaian juga untuk menyepadani pakaian kamu. nah sudah siap? kita kemana sekarang?" tanya Haanish yang sejenak melirik Sachiko yang berdiri di genkan pavilyun dengan sisi peripheral matanya.
"Kita keluar dari istana yuk. jalan-jalan cari ketenangan." ajak Marissa dengan senyum lebar mengambang menambah kecantikan alamiah wanita berusia sembilan belas tahun itu.
"Boleh. kemana? sebut saja." tanya Haanish.
"Bagaimana kalau ke kuil?" usul Marissa.
"Kenapa ke kuil?" tanya Haanish.
keduanya sudah melangkah menjauhi kastil, menyusuri jalanan yang dihiasi dengan batu-batu datar yang ditanam. Marissa mengangkat alisnya.
"Kan disini nggak ada masjid." jawab Marissa.
"Siapa bilang, Sayang?" tangkis Haanish. "Ada kok. hanya saja paling banyak diwilayah timur ini terdapat di wilayah sekitar Tokyo. tapi disini juga ada, diluar kota Odawara. tuh, Masjid Tokai."
"Masjid Tokai?!" seru Marissa dengan berbinar-binar. mereka berdua sudah tiba di pavilyun Honmaru, tempat menjamu tamu untuk melaksanakan kegiatan upacara minum teh.
Haanish mengangguk. "Letaknya di Minamiyana, Hadano. beberapa kilometer dari sini." jawab Haanish. "Mau kesana?" tanya lelaki itu.
"Tentu dong mau. masakan tempat ibadah sendiri nggak dikunjungi." seru Marissa dengan semangat.
keduanya duduk disisi genkan bangunan itu. dua orang dayang yang menjagai bangunan itu muncul menyapa sang kepala keluarga.
Haanish mengangguk sejenak lalu menyuruh kedua dayang itu menghubungi pihak protokoler kastil Odawara untuk membawakan mereka kendaraan kecil. tak lama kemudian, kendaraan yang ditunggu datang. sebuah kendaraan mini anti polusi berbentuk buggy keluaran dua bulan lalu oleh salah satu perusahaan otomotif di Jepang yang berkolaborasi dengan perusahaan Ark Industries cabang Nagasaki.
mobil buggy yang dikendalikan seorang supir itu berhenti beberapa jarak dari rumah minum teh tersebut. kedua suami-istri itu bangkit dan melangkah mendekati kendaraan tersebut. keduanya naik ke kendaraan mini itu.
"Antar kami ke gerbang utama." pinta Haanish.
"Baik Tuanku." jawab supir itu.
buggy bertenaga thermobattery itu melaju meninggalkan pavilyun Honmaru. mereka memutari kawasan kastil hingga tembus ke Taman lalu membelok ke kanan menyusuri jalanan kecil yang diapit oleh bangunan tempat tinggal para pelayan dan dayang istana, Hotoku Kaikan, dan kuil shinto, Hotoku Ninomiya. buggy itu kembali membelok kekiri dan akhirnya tiba beberapa ratus meter dari lokasi Gerbang Utama.
memang kawasan istana Odawara tidak bisa dimasuki kendaraan besar. kendaraan sejenis limousin saja hanya bisa berhenti didepan gerbang saja. Haanish dan Marissa turun dari buggy dan menatap sopirnya.
"Terima kasih, sudah mengantar kami." ujar Haanish dengan senyum. sopir itu membungkuk dalam merespon ucapan terima kasih sang kepala keluarga. Haanish berseru, "Kembalilah ke Barak Pengawal." perintahnya.
sopir itu membungkuk kembali dan mengendarai kendaraan mini berbahan bakar thermobattery itu. sopir itu adalah salah satu anggota tentara yang ditugaskan bersama sepasukan tentara dan polisi lainnya menempati Barak dibagian timur Honmaru, dan kebun binatang peliharaan milik keluarga Hasegawa. berseberangan dengan pavilyun tempat kerja Haanish yang berseberangan dengan Barak tersebut.
Haanish dan Marissa melangkah ke Gerbang utama. disana sudah menunggu sebuah limousin hitam. didepan bemper ada dua tiang bendera kecil. satunya dipasangkan bendera lambang pemerintahan Jepang, bunga kirimon atau pauwlonia. sedang tiang bendera kedua dipasangi bendera lambang klan Nagato.
"Selamat datang Tuanku." sapa sopir limousin itu.
"Ya, apa kabarmu?" sapa Haanish balik.
"Baik-baik saja Tuan." jawab sopir tersebut. "Kita akan kemana, Tuan?"
"Kurasa kami akan jalan-jalan, Tsuji." jawab Haanish. "Bawa kami dahulu ke Hadano. kami mau singgah di mesjid dikawasan situ."
"Baiklah. silahkan masuk ke mobil Tuanku." timpal Tsuji, sopir limousin tersebut.
Haanish mengangguk lalu mengajak Marissa masuk kedalam mobil. kendaraan mewah itu kemudian bergerak keluar dari Gerbang Utama menuju timur lalu membelok ke jalan Oharibata dan terus ke timur menuju Honcho hingga akhirnya menemukan jalan by pass Seisho sehingga bisa melaju dengan tenang. []
__ADS_1