
Haidar mengendarai Tuatara V33K miliknya dengan tenang dijalanan. Haidar tak menyangka kalau hari itu ia ketiban peristiwa yang akan mempengaruhi hidupnya kelak. pemuda itu baru saja meninggalkan Buana Asparaga Tbk, dan berniat untuk have lunch disebuah restoran kecil kegemarannya. kendaraannya melaju santai dijalanan.
sekarang pemerintahan memberlakukan sistim ganjil-genap dijalanan utama. para polisi yang mengenakan armor PATO warna putih hitam dengan lampu sokle pipih warna merah dikedua bahu yang berkedip-kedip sibuk mengatur lalu lintas. kebetulan hari ini pemberlakuan genap bagi kendaraan bermotor. para opsir itu kadang melakukan patroli mandiri dibeberapa jalur jalanan lain untuk memastikan tak ada kasus pencurian maupun pembegalan dijalanan.
Haidar sengaja mencari rute lain untuk mempersingkat jarak. jalanan agak sepi saat Haidar mendekati simpang tiga jalanan dan ketika membelok, tiba-tiba muncul sebuah otoped yang dikendarai seorang wanita. Haidar serta merta menginjak pedal rem.
CKIIIITTTTT....
namun tabrakan tetap saja tak terhindarkan.
GUBRAKKK.
otoped itu menghantam permukaan depan Tuatara V33K dan terpental kesamping sejauh semeter bersama pengendaranya yang terjungkal. Haidar terhenyak sesaat sementara pengendara otoped itu terbaring lalu bangkit duduk sambil meringis kesakitan mengusap paha dan pinggulnya.
setelah sadar dari keterkejutannya, Haidar langsung keluar dari mobil dan memeriksa kendaraannya. permukaan mobil itu tidak penyok, hanya baret saja sedikit akibat serempetan otoped dengan mobil itu. setelah memastikan kendaraannya tak apa-apa, Haidar lalu menghampiri pengendara itu.
untung saja lalu lintas disana sedang tidak ramai. beberapa kali terlihat kendaraan bermotor entah beroda empat maupun tiga dan dua melintas, namun tak satupun dari mereka berhenti meski hanya sekedar memperhatikan kecelakaan itu.
rasa kepedulian memang sudah terkikis dari sanubari setiap pemakai jalan. mereka tetap saja cuek dan melajukan kendaraan sambil menghindari tempat terjadinya kecelakaan. Haidar berlutut dihadapan pengendara itu.
"Anda tak apa-apa, Nona?" tanya Haidar dengan datar.
pengendara itu menatapnya sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepala. namun Haidar dapat dengan jelas melihat betapa pengendara itu sebenarnya menyembunyikan kenyataan bahwa ia kesakitan.
"Biar ku periksa..." ujar Haidar.
"Jangan..." tolak wanita itu masih dengan wajah yang menyiratkan kesakitan bercampur rasa jengah.
Haidar menatap wanita itu. alisnya bertaut. ia agak tersinggung dengan penolakan wanita tersebut. pemuda itu menganggap penolakan tersebut merupakan anggapan bahwa lelaki itu tak bertanggung jawab.
"Nona... kau celaka karena aku. sepantasnya aku memeriksa keadaanmu jangan sampai kau mengalami cedera atau apa..." ujar Haidar dengan datar.
"Tidak. terima kasih. saya terburu-buru." jawab wanita itu berupaya bangkit.
lagi-lagi Haidar hendak mencoba membantu wanita itu berdiri dan lagi-lagi wanita itu menepiskan tangannya. Haidar hanya bisa menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar, melampiaskan amarahnya. setidaknya dengan itu terlampiaskan ketimbang ia membiarkan tangannya terayun menampar si wanita karena kekurang ajarannya menepis pertolongannya. pemuda itu berdiri membiarkan saja si wanita berdiri.
Haidar mengamati wanita itu memberdirikan otoped dan pemuda itu langsung paham mengapa wanita itu menyebut dirinya sedang terburu-buru. rupanya wanita itu bekerja sebagai kurir dan mungkin sedang dalam mengantarkan barang yang harus tiba tepat pada waktunya, jika mau mendapat rating bagus dari pelanggan.
Haidar merogoh dompet dan mengeluarkan kartu namanya lalu mengulurkannya kepada wanita tersebut.
"Nona, jika kau memiliki keluhan, hubungilah saya. insya Allah saya akan berupaya membantumu." ujar Haidar menyodorkan kartu namanya.
sejenak wanita itu menatap kartu nama tersebut lalu menerimanya dengan ragu ketika melihat Haidar terkesan memaksakan wanita itu menerimanya. setelah itu Haidar langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam mobilnya dan Tuatara V33K itu melaju kembali. wanita itu mengekori mobil yang melaju meninggalkan tempat itu dan wanita itu lalu merobek-robek kartu nama tersebut dan membuangnya dijalanan itu kemudian kembali menjalankan otopednya, meninggalkan tempat tersebut.
beberapa saat kemudian, tujuan perjalanan telah terlihat. restoran kecil yang selalu menjadi langganan pemuda itu berdiri tegak nan anggun disisi jalanan. Haidar memarkir Tuatara V33K dipinggiran jalan. dengan santai ia keluar dari kendaraannya dan melangkah menyusuri trotoar yang memisahkan restoran itu dengan jalanan.
tatapannya sekilas melihat seorang anak kecil yang berdiri diluar bangunan itu. anak itu hanya mengenakan kaos lusuh dan celana jumpsuit pendek sebatas lutut dan sepatu kets tipis. rambutnya pendek, wajahnya bersih dan kedua matanya lentik. anak itu hanya diam berdiri saja sambil mengamati setiap orang yang lewat. ketika menatap Haidar, pandangan anak itu seakan terpana. rasa kekaguman nampak jelas ditatapan kedua mata bocah itu terhadapnya. Haidar masih sempat menatap bocah itu saat si bocah menatapnya pula.
Haidar tak terlalu memperdulikannya. ia melangkah masuk ke restoran itu dan mencari tempat untuk duduk. Haidar menemukan tempat yang strategis, yaitu tempat bersisian dengan jendela besar dekat jalan sehingga ia dapat dengan mudah memperhatikan lingkungan diluar restoran itu.
Haidar tidak menyadari bahwa anak yang berdiri diluar itu bertepatan benar dijendela itu sehingga dengan jelas anak itu mengarahkan tatapan kagumnya kepada Haidar dari balik jendela. Haidar duduk dan menghela napas lega.
ia memanggil pelayan dan memesan menu makan siang. pelayan itu beberapa kali menuliskan daftar menu itu pada blocknote nya lalu mengangguk dan berlalu. Haidar mengeluarkan gawai. ia memanggil seseorang dalam daftar nomor itu.
📲 "Halo... ya, ini aku, Haidar... kapan kita ketemuan?" tanya pemuda itu. terdengar suara renyah disana. suara seorang wanita.
📲 "Aku masih di kampus. tapi mata kuliahku sudah selesai. kamu dimana?" tanya wanita itu.
📲 "Aku di..." Haidar menyebutkan nama restoran itu, "Bagaimana? bisakah kita bertemu?"
📲 "Aku selesaikan urusan pengajuan kredit semester dulu. setelah itu akan menemuimu. kamu nggak terburu-buru kerja, kan?" tanya wanita itu.
📲 "Baiklah, aku tunggu kamu... asal jangan sejam saja." ujar Haidar dengan senyum datar.
terdengar suara tawa disana.
__ADS_1
📲 "Memangnya kenapa kalau sejam menunggu?" goda wanita itu.
📲 "Aku bisa mati bosan." jawab Haidar, "Cepatlah selesaikan urusan itu. dan segeralah kemari."
📲 "Baiklah... daaagh..." jawab wanita itu.
Haidar tersenyum datar lagi.
📲 "Daaagh..." sahutnya kemudian letakkan kembali gawainya di meja.
tak lama kemudian datanglah seorang pelayan membawa nampan dengan segelas qahwa capuccino yang berbusa ditopingnya. minuman itu diletakkan di meja.
"Terima kasih." jawab Sandiaga kembali melempar senyum kaku. pelayan itu tersenyum dan mengangguk lalu pergi meninggalkan Haidar.
Haidar mengambil gelas itu dan menyeruput isinya sedikit. setelah itu ia mendesah sedikit dan tersenyum puas sambil meletakkan gelas itu kembali ke mejanya. tanpa sadar Haidar menoleh ke jendela dan tatapannya bertemu dengan tatapan anak itu.
deg... deg... deg...
alis Haidar mengerut sesaat. ia belum bereaksi. anak itu tetal saja menatapnya dengan ekspresi kagum. Haidar berpikir mungkin ia saja yang merasa. pemuda itu menoleh ke kiri ke kanan memastikan bahwa anak itu menatap arah lain yang mungkin bertepatan dengan posisinya. namun ketika Haidar kembali mengarahkan pandangan ke jendela, tetap saja tatapan anak itu terarahkan kepadanya.
Haidar mencoba melambai ke arah anak itu. ternyata anak itu merespon dengan berlari masuk kedalam restoran dan menemui Haidar. pemuda itu membungkuk sedikit dan mendekatkan wajahnya kepada anak itu.
"Kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Haidar dengan lembut.
anak itu menggeleng. Haidar menghela napas.
"Kau anak sekolahan?" tanya Haidar lagi.
dengan sigap anak itu mengangguk. Haidar menegakkan tubuh dan menatap ke jendela mencari-cari sesuatu. bisa jadi ada orang tua anak itu yang sedang menantinya, namun kelihatannya pencarian pemuda itu sia-sia. Haidar kembali menatap anak itu.
"Kemana orang tuamu?" tanya Haidar.
anak itu tak menjawab. mata anak itu mulai berkaca-kaca. Haidar menghela napas.
dengan senyum sumringah, anak itu kemudian duduk dikursi itu dan kembali menatap Haidar dengan tatapan kagum membuat Haidar justru terasa canggung. pemuda itu menelan salivanya sejenak mengusir kecanggungan yang tercipta.
"Boleh kutahu, siapa namamu?" pancing Haidar.
"Aya Sofia..." jawab anak itu.
alis Haidar sedikit terangkat. anak ini menyandang nama yang bagus nan anggun. itu adalah nama lain dari sebuah bangunan masjid bersejarah di Istanbul, Hagia Sophia. senyum datar muncul dibibir pemuda itu.
"Nama yang bagus." puji Haidar.
"Makasih..." jawab Aya Sofia dengan lirih.
Haidar melambaikan tangan ke arah kasir dan tak lama seorang pelayan muncul mendekati Haidar.
"Ya?" sapanya dengan santun.
"Berikan anak ini Orson..." pinta Haidar.
Orson adalah istilah yang merujuk pada sirup jenis jus jeruk atau lemonade. namun masyarakat Gorontalo umumnya menyebut orson untuk semua minuman jenis jus maupun sirup.
pelayan itu mengangguk dan meninggalkan tempat itu. Haidar kemudian memperhatikan Aya Sofia.
"Kamu pasti bolos ya?" tebak Haidar.
Aya Sofia hanya tersipu. Haidar kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. tak lama kemudian dua pelayan muncul mendorong kereta makanan tiba dimeja Haidar. pelayan itu memindahkan semua piring makanan ke meja. setelah itu pelayan memindahkan teko kaca berisi air ke meja tersebut dan menata gelas minuman.
"Makanlah..." ajak Haidar menyorongkan piring berisi makanannya ke arah Aya Sofia.
dengan sumringah Aya Sofia menyantap makanan itu. Haidar menatapnya dengan tatapan iba. anak ini belum pernah merasakan makanan seperti itu, nampak benar dari lahapnya dia menyantapnya. Aya Sofia sejenak menatap Haidar dan menghentikan makannya.
"Om nggak makan?" tanya Aya Sofia lirih.
__ADS_1
Haidar tersenyum hangat, "Melihatmu senang menyantap makanan itu, membuatku senang sehingga rasa lapar itu mendadak hilang." kilah Haidar. "Habiskan makanan itu." sambungnya meminta.
Aya Sofia melanjutkan menyantap makanan itu hingga lunas tak bersisa. sejenak anak itu bersendawa lirih, malu terdengar oleh Haidar. anak itu meminum habis orson tersebut menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan bersendawa. Haidar kembali tersenyum.
"Alhamdulilah, kau menghabiskannya." kata Haidar, "Kalau nggak, tentu aku akan marah. sebab makanan itu adalah anugerah maka nggak boleh di mubazirkan."
"Makasih Om..." jawab Aya Sofia lagi dengan lirih.
Haidar mengangguk-angguk. pemuda itu menghela napas sejenak. "Kau hafal arah rumahmu? biar Om mengantarmu pulang."
Aya Sofia menggeleng polos. Haidar kembali mengangguk-angguk. "Baiklah..." gumamnya. "Sebutkan nama sekolahmu..." pinta Haidar.
Aya Sofia menyebutkan nama sekolahnya. itu adalah salah satu sekolah negeri dikota Gorontalo. Haidar mengangguk-angguk lagi.
"Baik... aku akan mengantarmu pulang sekarang." ujar Haidar sambil berdiri. pemuda itu mengajak Aya Sofia ikut dengannya. anak itu turun dari kursi dan mengikuti langkah Haidar menuju kasir.
"Bagaimana kabarnya Pak Haidar?" sapa kasir itu.
"Alhamdulilah, baik." jawab Haidar tersenyum sambil mengeluarkan kartu black gold first royal keluaran Bank Dubai dan menyerahkan kartu unlimited edition tersebut ke tangan kasir.
Kasir tersebut menggesekkannya ke peranti penangkap data elektronik di mejanya. sebuah nominal harga muncul dan transaksi dilakukan. setelah itu sang kasir menyerahkan kembali kartu tersebut ke tangan Haidar.
memang sejak mendiang Kenzie Lasantu, memegang kepemimpinan di kerajaan bisnisnya, lelaki itu menyimpan kekayaan keluarganya yang beraset trilyunan rupiah itu di bank Dubai sehingga Kenzie dan anggota keluarganya berhak menggunakan fasilitas elit bank termahsyur itu, termasuk penggunaan kartu tersebut.
"Sering-sering kemari Pak ya?" ujar kasir itu kembali sambil membungkuk datar. Haidar mengangguk.
"Aku sebenarnya punya janji dengan seorang wanita disini. namanya Mahreen Nurmagonegov. jika dia tiba, katakan aku masih punya keperluan sedikit. kau bisa menahannya sejenak sampai aku balik kembali ke sini?" pinta Haidar.
"Tentu saja..." jawab kasir itu. "Apakah dia harus dilayani sebagaimana anda?"
"Ya..." Haidar mengeluarkan kartu nama dan menyerahkannya ke kasir. orang itu mengangguk dan menatap Haidar. "Semoga urusan anda segera selesai."
"Tentu..." jawab Haidar singkat saja lalu menggenggam pergelangan tangan Aya Sofia dan membawanya ikut keluar. keduanya melangkah menyusuri trotoar. Haidar membuka pintu mobilnya.
"Masuk..." perintahnya.
Aya Sofia mengikuti perintahnya dan masuk ke dalam mobil tersebut. Haidar menutup pintu dan memutari mobil lalu membuka pintu dan masuk dari sisi seberang tepat didepan kemudi mobil.
"Kita akan menuju sekolahmu." ujar Haidar.
"Kenapa Om?" tanya Aya Sofia agak takut-takut.
kendaraan itu perlahan meninggalkan tempat itu dan mulai melaju dengan tenang dijalanan utama. Haidar menanggapi pertanyaan anak tersebut.
"Om mau cari tahu alamat rumahmu dari pihak sekolah, supaya Om bisa ngantar kamu sampai rumahmu." jawab Haidar. "Om paling nggak suka melihat anak yang bolos sekolah..."
Aya Sofia menunduk sambil memainkan jemarinya di ujung baju. Haidar menyambung sambil tetap menyetir mobil. "Kamu tahu? semasa kecil, Om nggak pernah bolos. Om selalu mengingat bahwa orang tua Om menyekolahkan Om demi tujuan yang baik. makanya Om tak mau membuat orang tua Om kecewa."
Aya Sofia masih menunduk. Haidar mengerling sekilas kepada anak itu.
"Kamu janji nggak akan bolos lagi?" tanya Haidar.
Aya Sofia mengangguk-angguk pelan. Haidar menghela napas lalu tersenyum. "Bagus... kamu bisa pegang janjimu?"
masih dengan wajah menunduk, Aya Sofia mengulurkan kelingking berkait kepada Haidar. pemuda itu tersenyum lagi lalu mengaitkan kelingkingnya ke kelingking anak itu.
"Karena kamu sudah berjanji, Om akan berikan hadiah untukmu." ujar Haidar.
Tuatara V33K itu melaju lagi dan singgah disebuah toko mainan. Haidar turun dan mengajak Aya Sofia ke toko tersebut. disuruhnya Aya Sofia memilih mainan apa yang diinginkannya. dengan semangat, Aya Sofia memilih sebuah boneka beruang besar warna kuning emas mengenakan sebuah kaos merah. Haidar mengangguk-angguk lagi kemudian membayar harga mainan itu menggunakan transaksi via kartu.
setelah itu, keduanya kembali kedalam mobil dan Tuatara V33K itu kembali melaju dijalanan. sepanjang perjalanan, Aya Sofia terus bersenandung gembira. Haidar membiarkan saja.
tak lama kendaraan itu tiba didepan sebuah sekolah. Haidar melihat didepan gerbang itu, berdiri seorang satpam dan seorang wanita yang kelihatannya sedang dalam keadaan panik. Haidar mengenalnya. wanita itu adalah korban tabrakannya tadi siang. kedua orang itu menatap Tuatara V33K yang merapat perlahan mendekati keduanya.
Haidar keluar dari mobil bersamaan dengan Aya Sofia yang memeluk boneka. melihat Aya Sofia, wanita itu langsung menjerit dan menghambur kehadapan Aya Sofia. ia memeluknya dan menumpahkan tangisnya dibahu anak itu. Haidar hanya tercekat melihat adegan itu.[]
__ADS_1