The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 52


__ADS_3

Nikolai berdiri memandang jauh kearah sebuah yacht yang terlihat mengapung di perairan Hebrides dalam. lelaki itu membiarkan tubuhnya disapu angin musim panas yang deras menghembus menyebabkan pakaiannya berkibar-kibar. tak lama kemudian, muncul seorang lelaki dan berdiri disisi Nikolai.


"Ivanovich..." sebut Nikolai tanpa menoleh ke arah lelaki itu.


lelaki itu memang Ivanovich. ia telah dibebaskan dengan berbagai cara oleh salah satu pejabat Uni Eropa yang terkoneksi dengan Klan Dracna.


untuk lebih mengenal siapa Ivanovich, silahkan membaca kisahnya di Flamboyant.


"Yacht itu terlihat sangat mencurigakan." komentar Ivanovich.


"Mereka memang sedang melakukan pengamatan terhadap Staffa." ujar Nikolai. "Tapi... aku tak memusingkan hal itu."


"Haruskah aku turun tangan untuk membereskan penghuni Yacht itu?" pancing Ivanovich.


"Jangan menumpahkan darah untuk hal yang tak perlu. lawanmu yang tangguh akan segera mendatangimu. kau urusi saja dia. nggak usah repot-repot membunuh jika keinginanmu hanya untuk bersenang-senang saja." tegur Nikolai.


Ivanovich tersenyum mengelus cambang yang menghias rahangnya. "Aku hanya memberi saran saja Nikolai."


"Organisasi kita, bukan organisasi pembunuh, Ivan." ujar Nikolai. "Kalau kau ingin melampiaskan rasa senangmu untuk membunuh, tempatmu bukan dalam organisasi ini." Nikolai kemudian menoleh pelan menatap Ivanovich, "Aku bisa kembali merekomemdasikan kamu kepada ISIS."


"Ngapain aku bergabung dengan kelompok ekstrimis itu?" cemooh Ivanovich, "Black Water masih lebih bagus ketimbang mereka." Ivanovich kemudian mengibaskan tangannya. "Sudahlah, aku tak mau membahas itu. bagaimana dengan tawananmu itu?"


"Dia ditempat yang aman, disalah satu sudut dipulau ini." jawab Nikolai.


Ivanovich kemudian menatapi lagi yacht yang sementara mengapung diperairan itu.


"Aku sudah menyebarkan anak buahku disekitaran pulau ini." ujar Ivanovich. "Setelah pertempuran ini, dan jika kita selamat, pimpinan tertinggi mengundang kita di Kastil Peleş."


Nikolai tersenyum. "Kau saja yang menemui Charles Sinaia." usul lelaki itu. "Aku malas bertemu dengannya."


"Tapi dia pimpinan kita." tukas Ivanovich.


"Dan aku pimpinanmu!" tandas Nikolai menatap Ivanovich dengan tajam. "Aku tak akan pernah tunduk dihadapan Sinaia! aku adalah Nikolai Basarab, penguasa Transylvania! aku keturunan Vladislav Dragulia-Sang Pemaku! aku semestinya yang duduk di tahta kepemimpinan Klan Dracna, bukan dia!"


"Tapi keluarga Sinaia adalah pengikut setia keluarga Corvin. itu harus kau pahami. dan bagaimanapun, kita masih menghadapi Sirius Hunyadi yang terus-terusan menekan pemerintahan Rumania agar mendiskreditkan kita." tegur Ivanovich.


"Setelah ini, aku yang akan membunuh Sirius!" tukas Nikolai. "Sampai kapanpun Budapest, tidak boleh lagi menekan Bucharest hanya untuk mencari nama dijajaran Ordo Kristus!"


"Jika itu kau lakukan, kau akan mendapatkan teguran dari Tyler Rodman." tegur Ivanovich lagi. "Ingat, Sirius Hunyadi berteman baik dengan Presiden Uni Eropa itu. aku saja dibebaskan oleh Tyler Rodman, atas prakarsa Adam Roctshild. bukan apa-apa, tapi hanya mengingatkan kamu saja. bagaimanapun, Ordo Dracna hanya cabang terkecil dari Ordo Kristus dan Ordo Kristus hanya satu dari bagian aliansi persaudaraan Masonik yang menggurita kekuasaannya diseluruh dunia. kau hanya akan mengacaukan rencana mereka jika bersikeras hendak membunuh Sirius Hunyadi."


Nikolai menatap Ivanovich sejenak lalu berbalik melangkah meninggalkan lelaki itu. Ivanovich membuang napas sejenak dan memandang tatapan ke arah yacht diperairan itu. setelahnya ia berbalik melangkah menyusul Nikolai.


...******...


"Kelihatannya, mereka tahu keberadaan kita, Marina." ujar Mikail.


Marina memicingkan mata menajamkan penglihatannya. ada beberapa teknik Karasu Tengu yang dikuasainya. aalh satunya Sen no shisen, atau menatap sejauh jarak seribu. tanpa dibantu oleh teleskop, Marina mampu menjangkau jarak pandang sejauh pandangan elang yang mengawadi mangsanya.


"Kau benar..." ujar Marina pada akhirnya. "Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini."


"Ke Pulau Mull saja. itu jarak paling dekat jika kita tetap memaksakan diri untuk mengamati Pulau Staffa." usul Mikail.


"Kelihatannya begitu." ujar Marina kemudian melangkah meninggalkan dek, menuju anjungan. "Menurutmu, bagian sebelah mana dari Pulau Mull yang bisa digunakan untuk memantau Pulau Staffa?"


"Sebenarnya jarak paling dekat untuk mengamati Pulau Staffa adalah pulau Little Colonsay." jawab Mikail, "Tapi Kelihatannya itu akan menjadi jarak yang rawan. kalau pulau Inch Kenneth kelihatannya cocok. apa kita akan berkemah disana?"


Marina menggeleng. "Kita mendarat saja dipelabuhan terdekat. kita ke Tobemory dan menyewa pesawat kembali ke Glasgow."


"Jadi, kita berhenti mengamati pulau itu?" pancing Mikail.


"Aku sudah menandai lokasinya. kita bisa mengamati Pulau itu tanpa harus kesini lagi." ujar Marina kemudian menyalakan mesin.


tak lama kemudian yacht itu bergerak meninggalkan kawasan perairan itu.


...******...


Kediaman Williams, Padang, Sumatera Barat, pukul 15.43 WIB.


diberanda, berkumpul Haidar, Haanish dan Djalenga sedang sibuk membahas rencana penyusupan ke Pulau Staffa. tak lama kemudian muncul Marinka yang membawa nampan berisi cemilan dan minuman ringan sejenis sirup.


"Makasih Adek." jawab Djalenga dengan sopan.


Marinka mengangguk sambil tersenyum merespon ucapan santun pemuda sasak itu. Haanish mendehem.

__ADS_1


"Sudah, jangan saling tatap-tatapan." tegur Haanish mengolok Marinka. "Nanti malah..."


"Sutan Pamenan nan mudo! kenapa sih waang usil terus sama denai?" seru Marinka dengan ketus.


"Nggak, aku hanya ingin menegaskan saja. jangan sampai Puncan..." balas Haanish dengan gaya malas.


"Puncan akan menjawab tantangan waang secara jantan. denai akan memastikannya." sahut Marinka dengan alis berkerut.


"Tunggu..." sela Haidar. "Kok Eiji dipanggil Sutan Pamenan?"


"Itu gelar marapulai nya." jawab Marinka. "Jika seorang lelaki menikahi perempuan minang, dia akan dianugerahi gelar itu dari Ninik-Mamak."


Haidar mengangguk-angguk. Haanish tertawa. "Aku paling nggak suka gelar-gelaran." ujarnya kemudian menatap Marinka. "Jangan salah paham."


Marinka mendengus lalu membalikkan tubuh meninggalkan ketiga orang itu. Haanish tertawa sembari mencomot sekeping keripik dari piring dan mencicipinya.


"Aku tak sabar menantikan hari esok." ujar Haanish mengunyah keripik itu.


"Kakak, boleh aku bertanya?" sela Djalenga.


Haidar menatapi pemuda sasak itu. Djalenga melanjutkan, "Sebenarnya, jenis baju besi apa yang akan dipakaikan kepada saya?"


"Bukan baju besi." sela Haanish. "Tapi zirah."


"Bukankah zirah juga disebut baju besi?" bantah Djalenga.


"Zirah itu adalah istilah yang digunakan untuk sejenis pakaian pelindung dalam pertempuran. baju besi, adalah bagian dari zirah, tapi tak semua zirah terbuat dari besi." jawab Haanish.


"Zirah pada jaman dulu terdiri atas jenis baju rantai, baju sisik dan baju lempeng. dan jelas itu sudah tak efektif jika digunakan pada jaman sekarang. zirah yang kumaksud adalah zirah moderen yang terdiri atas solid armor dan suit armor." sambung Haidar.


Haanish kemudian memperlihatkan jenis-jenis armor yang dibuat oleh Ark Industries.


"Ini adalah solid armor jenis eksoskeleton." ujar Haanish memperlihatkan gambar holografis armor YUKI01 milik Akram dan YUKI COUPLE milik Airina. gambar kemudian beralih ke armor WM01 milik Marissa. "Kalau ini solid armor jenis skin armor. menurut istriku, armor miliknya dilengkapi dengan beta particle generator dan konverter tenaga surya sebagai mesin penggerak yang dikendalikan oleh cybernetic interface dan battle computerize sebagai konsol pengendali."


"Kalau suit armor bagaimana bentuknya, Kakak?" tanya Djalenga lagi.


"Ya, nanti kamu lihat saja apa yang Abi buatkan untukmu." jawab Haanish kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Djalenga. "Dan itu nggak gratis."


"Berarti... saya harus bayar, Kakak?" tanya Djalenga dengan canggung.


Djalenga tersenyum lalu mengangguk. "Pasti Kakak."


"Kita lihat saja." tukas Haanish.


"Kamu ini curigaan saja kerjanya sama orang." tegur Haidar.


"Aku nggak pernah percaya siapapun hingga ia masuk kedalam anggota keluarga kita." jawab Haanish.


Djalenga tersenyum saja mendengar kata-kata lelaki itu. Haidar bangkit. tatapannya mengarah ke depan.


"Siapa orang itu?" tanya Haidar menganggukkan kepala ke depan.


kedua lelaki itu mengikuti tatapan Haidar. Haanish langsung tertawa. "Wah, datang rupanya."


"Siapa itu?" tanya Haidar sekali lagi.


"Puncan Karnaaq... dari Tenggarong." jawab Haanish yang juga ikut berdiri.


lelaki yang datang itu memang Puncan. ia kemudian berdiri didepan beranda.


"Aku datang memenuhi tantangan." ujar Puncan dengan datar.


Haanish tertawa lalu menuruni tangga dan berdiri dihadapan Puncan. "Bagus... aku akui memang orang Tenggarong, pemberani semua."


"Tentu... anda saja yang pengecut." ujar Puncan kemudian mengangguk kearah Haidar dan Djalenga yang duduk diberanda. "Mengundang dua orang itu untuk mengeroyok saya."


Haanish menoleh ke arah Haidar dan Djalenga. "Dia nuduh kalian datang membantuku mengeroyok dia."


Haidar melambaikan tangan memanggil Haidar. "Masuklah kawan. tak baik berdiri diluar. kau adalah tamu disini."


Puncan mengangguk sejenak lalu menatap Haanish. "Orang itu ternyata masih lebih beradab dari pada kamu." sindirnya membuat Haanish tertawa sementara Puncan melangkah menaiki tangga beranda.


Haanish melesat hendak membokong Puncan ketika dengan gesit Haidar maju melesat dengan kecepatan yang menakjubkan, tiba-tiba berada dihadapan Haanish yang nyaris mengayunkan tinju.

__ADS_1


"Eiji..." tegur Haidar mengulurkan tangan menekan dada Haanish hingga lelaki itu tertahan langkahnya.


Puncan terkejut dan menoleh melihat dua bersaudara itu saling berhadapan. wajahnya pias memucat. kecepatan itu sama sekali tak disangkanya.


orang-orang dikeluarga ini adalah golongan pendekar sejati... apakah aku terpaksa mengakui kekalahan atau bertahan dalam ketidak mampuan menghadapi salah satu dari keduanya ini?


Haidar menoleh menatap Puncan. "Masuklah kawan." ajak Haidar mengangguk kearah sofa.


"Terima kasih." ujar Puncan.


Haidar sejenak menatap ke arah Haanish yang tersenyum bengis lalu berbalik melangkah menaiki tangga menuju beranda diikuti Haanish dari belakang. Puncan sendiri kemudian duduk disisi Djalenga.


Haidar dan Haanish kembali duduk ke tempat mereka semula. Haidar menatap Haanish. "Sebaiknya kamu pergi temani Oom Akram, melihat bagaimana armor milik Djalenga sementara dibuat."


Haanish terkekeh sambil mendengus. "Baiklah... terserah kamu saja!" ia bangkit lalu melangkah meninggalkan beranda.


sepeninggal Haanish, Haidar menatap Puncan. "Ada yang bisa kubantu untukmu?" tanya Haidar.


"Aku kebetulan baru saja tiba dari Muara Kaman." ujar Puncan. "Aku mendengar kalau Marinka ditimpa musibah. jadi aku datang untuk menyatakan belasungkawa."


"Memang, siapa yang wafat? Oom Akram atau Bibi Yuki baik-baik saja tuh?" tukas Haidar mengerutkan alis.


"Kata Marinka, bibinya yang wafat..." Puncan menerawang, "Kalau tak salah... namanya Ibu Inayah..."


Haidar tersenyum dan mengangguk-angguk. "Terima kasih atas simpati anda." ujar lelaki itu. "Beliau adalah ibunda saya."


"Ooohh... maafkan saya." seru Puncan langsung memajukan tubuhnya mengulurkan tangan menyalami Haidar. "Saya turut berduka cita."


"Odu'olo..." jawab Haidar mengangguk-angguk dan mengoncang salamannya dengan lembut. "Terima kasih..." sambungnya.


Puncan mengangguk-angguk pula. Haidar mengangguk. "Selain itu... ada yang bisa kami bantu untukmu?"


"Sebenarnya kedatangan saya adalah memenuhi tantangan dari Sutan Pamenan nan mudo untuk mengadu kekuatan agar saya bisa melamar Marinka." jawab Puncan.


"Kau tak akan bisa melawannya." sahut Haidar. "Maaf jika hal ini terkesan meremehkan kamu. tapi, sebaiknya nggak usah."


"Tapi... hal itu sudah disepakati oleh keluarga." kata Puncan.


"Aku akan bicara dengan kedua orang tua Marinka juga Nenek dan kakeknya, paman bibinya." ujar Haidar.


"Terima kasih jika anda hendak menolong saya. tapi, saya akan tetap menantang Sutan Pamenan nan mudo untuk membuktikan bahwa saya adalah lelaki sejati." tandas Puncan dengan semangat.


"Meski dengan resiko kalah dan dipermalukan?" pancing Haidar.


Puncan terdiam.


Haidar menghela napas dan mengangguk. "Jangan memaksakan sesuatu yang tak bisa kau menangkan. seorang pejuang sejati... sebenarnya sangat menghindari pertempuran."


Puncan terdiam lama. Haidar kemudian bangkit membuka kemejanya membiarkan tubuh telanjang atasnya yang bersepir-sepir. lelaki itu melangkah perlahan mendekati Puncan.


"Apa kau akan melawan makhluk seperti ini?" seru Haidar yang kemudian merubah dirinya menjadi makhluk berwajah singa. celana panjangnya robek sebatas paha. begitu juga dengan sepatunya.


Puncan terhenyak kaget melihat perubahan Haidar menjadi makhluk mengerikan tersebut. tubuhnya gemetar dan bibirnya tergagap tapi tak mampu bicara. Makhluk itu menggeram sejenak kemudian tubuhnya yang semula kekar menyusut dan berubah kembali ke ujud aslinya yaitu Haidar yang kini hanya mengenakan celana yang robek.


"K-k-kau..." ujar Puncan melengking.


"Ya... itulah kami berdua..." ujar Haidar. "Sekarang... apa kau tetap meneguhkan niatmu menantang adik lelakiku itu?"


Puncan akhirnya terduduk dengan lemas. habis sudah harapannya memenangkan Marinka. namun dihadapannya, Haidar tersenyum.


"Kamu jangan kuatir. nanti aku akan bicara dengan Haanish. dia tak akan membantahku." ujar Haidar. lelaki itu kemidian mengulurkan tangan mengusap pundak Puncan. "Yang penting dari sebuah hubungan itu bukan soal kekuatan fisik, tapi adalah tanggung jawab."


Puncan hanya bisa mengangguk-angguk dengan canggung. Djalenga menatap lelaki Tenggarong itu dengan senyum geli. keadaannya nyaris sama dengan Puncan. sedikit di bully untuk melihat keteguhan hati dan kelelakiannya.


Haidar menatap Puncan. "Selama ini, kamu bekerja apa saja?"


Puncan mengingat-ngingat. "Hidup saya itu sarat dengan problem-problem. dulu saya jualan bakso, laku sih, cuman ada satu pelanggan, habis memesan pas pulang matanya melotot saja. saya kira bakso saya enak. eh nyatanya itu pelanggan kesedak baksonya sendiri."


Haidar tersenyum-senyum, "Terus?" pancingnya.


"Akhirnya saya ganti berdagang bakso. saya coba jualan es campur. pertimbangan yang kan modal sedikit, tapi untungnya banyak." tutur Puncan.


Haidar mengangguk-angguk lagi. Puncan menyambung, "Saya jualan di stadion, pas ada kegiatan latihan. pasti laku itu. saya pesan es balok satu gerobak."

__ADS_1


"Terus? laku habis Kakak?" tanya Djalengan juga penasaran.


"Pas pesanan es datang. tiba-tiba cuaca mendung dan langsung turun hujan. ya sudah. semua es dalam gerobak itu jadi air semua." pungkas Puncan dengan senyum tanpa beban namun mengundang tawa pelan kedua lelaki itu.[]


__ADS_2