
keduanya tertawa mendengar kisah kehidupan Puncan yang penuh liku tapi lucu kedengarannya.
"Terakhir saya berinisiatif, jualan peti mati." ujar Puncan.
"Peti mati?" tukas Haidar dengan kaget.
Puncan mengangguk. "Ya... kan bisnis begituan nggak ada saingannya di kalimantan timur sana. kan banyak juga orang-orang dayak yang sudah beragama kristen, memerlukannya. Lagipula modalnya kan hanya kayu doang pak." ujarnya mengajukan alasannya.
Haidar mengangguk-angguk. "Okey... terus?"
Puncan melanjutkan lagi. "Saya mulai tekuni pekerjaan itu. misalnya hari senin saya buat, selasanya sudah jadi... eh..." keluhnya.
"Lho? eh kenapa?" tanya Haidar lagi.
"Lusanya... nenek saya wafat." ujar Puncan dengan pelan. "Orang-orang pada mengira, saya buat peti mati untuk nenek saya."
Haidar geleng-geleng kepala mencermati kisah lelaki Tenggarong itu. "Sekarang kamu kerja apa?"
"Jadi fotografer. lumayan biar sedikit yang penting ada rejeki Allah." ujarnya dengan wajah yang diupayakan gembira.
tak lama kemudian Haanish muncul bersama Marinka. lelaki itu menatap Haidar. "Kau dan Djalenga diundang Abi kedalam." Haanish kemudian menatap Puncan. "Pertarungan kita belum selesai."
Puncan langsung pucat diancam seperti itu. Marinka langsung heran melihat betapa ketakutannya lelaki itu dihadapan Haanish.
Haidar langsung bangkit. "Aku mau bicara dengan Oom Akram tentang tantangan itu. dan kau, Eiji... simpan gigi taringmu untuk pertempuran yang lebih bermanfaat!"
Haanish tertawa. "Bukankah itu juga bermanfaat? aku akan menikmati pertarungan itu." ujarnya kemudian menatap Puncan dengan sorot mata yang dipenuhi aura Karasu Tengu no Shisen.
Puncan menelan ludah menatap kedua mata Haanish yang tiba-tiba saja memendarkan cahaya kebiruan. ia lebih mirip vampir sebab kulit Haanish lebih putih dari kulit Haidar yang agak gelap.
Haidar memperdengarkan geraman monsternya membuat Haanish langsung mendengus. "Ya, ya, terserah kau. aku tak akan melakukan itu jika kau menginginkannya." dengus lelaki itu kemudian kembali masuk meninggalkan tempat itu.
Haidar dan Djalenga yang bangkit ikut mengikuti langkah Haidar memasuki ruangan meninggalkan Puncan dan Marinka.
gadis itu duduk disisi pemuda itu. "Ada apa denganmu? kulihat kau ketakutan. ada apa? mana keberanian kamu lalu saat menantang Sutan Pamenan nan mudo kemarin-kemarin?" sindir Marinka.
"Aku akhirnya menyadari betapa besar perbedaan kekuatan kami berdua, Marinka." ujar Puncan pada akhirnya.
"Jadi, kau menyerah?" pancing Marinka dengan senyum mengejek.
Puncan menelan ludah. senyum ejekan itu dirasa begitu menghinakan harga dirinya. namun jika memaksakan diri hanya demi memenangkan seorang wanita, rasanya terlalu naif.
"Aku tidak akan mundur... tapi besar kemungkinan, aku akan mati." jawab Puncan dengan senyum.
Marinka tersenyum dan mencubit dagu Puncan. "Kamu nggak akan mati. kamu kan punya ini." ujar Marinka menunjuk dada kiri Puncan.
"Aku nggak punya *****. kok nunjuknya ke situ?" tanya Puncan dengan heran.
Marinka tertawa, "Dasar laki-laki. pikiran mereka hanya sebatas itu saja." omelnya kemudian tersenyum. "Kamu masih punya semangat."
Puncan hanya tersenyum mendengar kalimat dari Marinka. sebenarnya dia berharap Haidar akan mencegah pertarungan tersebut agar besar kemungkinan dirinya dipermalukan akan makin kecil.
...********...
__ADS_1
didalam ruangan, Akram mengerutkan alis melihat Haidar yang hanya bertelanjang dada dan celana panjang yang robek. Haidar senyum tersipu.
"Maaf, Oom...." ujar Haidar.
Airina menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu memperlihatkan lagi ujud darah dewa kepada orang lain? kepada lelaki ini?" tanya Airina menganggukkan kepala kearah Djalenga.
"Tidak Ibu, Kakak Haidar kasih lihat itu tubuhnya sama pacarnya Marinka di beranda." jawab Djalenga dengan jujur.
"What? seriously?" seru Haanish menyela lalu tertawa keras. "Bisa kupastikan dia pasti terkencing-kencing gemetaran."
"Itu sebabnya juga, aku meminta agar pertarungan kamu dengan dia ditiadakan." pinta Haidar. "Adat itu sudah nggak relevan. aku tak suka melihat dua orang yang saling mencintai terpaksa dipisahkan hanya karena tak mampu menaklukkan Haanish. itu terlalu kejam!"
"Oma Syafira yang menyetujuinya, Chouji." ujar Airina.
"Aku akan meminta kebijakan Oma untuk itu. jika tidak, aku yang akan menggantikan posisi Puncan menghadapi Haanish agar Marinka tidak terluka. cukuplah bagiku tak mendapatkan Marina. aku sudah rela. tapi jika Marinka juga harus melalui derita yang sama, aku paling didepan untuk membelanya!" seru Haidar dengan tegas.
"Uda..." sahut Marinka yang ternyata telah berdiri disana dan maju menghambur memeluk Haidar dan menumpahkan emosi dalam pelukan lelaki itu. Haidar membelai rambut gadis itu.
"Ya Allah... pakai acara drama lagi." olok Haanish bercakak pinggang. "Bro. aku juga nggak menyukai pertarungan! kau pikir aku melupakan semua ajaran Papa? tapi ini adalah perintah, Chouji. ini adalah sabda dari ninik-mamak keluarga ini. kau harus paham itu. kita berada diranah minang, bukan di tanah hulonthalangi, Bro. wa arimasuka?" debat lelaki itu.
"Aku paham tentang itu. tapi, jika ingin memberikan tantangan, berikanlah yang sepadan." ujar Haidar sembari menenangkan Marinka dan menyuruhnya pergi ke sisi Airina. "Kita berdua memiliki kekuatan yang berada diluar ambang batas manusia biasa. kau sudah pahami itu. semestinya kau menolak untuk menciptakan keseimbangan dalam sebuah pertarungan. ini ibarat seekor gajah yang akan melawan pelanduk. sangat tidak adil."
Akram berdiri tersenyum-senyum mengagumi keberanian Haidar membela putrinya. Haidar kemudian mendekati Haanish.
"Eiji... Marinka itu sejak kecil kita gendong-gendong, kita peluk, kita manjakan... masa setelah besar kita susahkan dia? otak kamu dimana?!" sergah Haidar.
"Dasar nggak punya pikiran!" sela Marinka yang bersembunyi dibelakang Airina.
"Inka..." tegur Airina.
"Kalau begitu, besok aku bicara sama Oma. bahkan jika perlu, aku akan menjilati telapak kakinya agar Marinka tidak menemui halangannya." seru Haidar, "Itu sumpahku pada kalian semua!"
"Terserah kamu!" sergah Haanish kemudian duduk dan mengomel panjang pendek dengan bahasa jepang campur bahasa gorontalo. terdengar sangat lucu dipendengaran Airina maupun Haidar.
Airina tersenyum lalu menatap Marinka. "Berdoa sajalah di Sholat malam kamu, agar Uda Haidar bisa melunakkan hati Inyiak."
"Terima kasih, Umi." sedu Marinka memeluk ibunya.
Akram mendehem keras agar pembicaraan itu teralihkan. semuanya menatap lelaki tersebut. Akram menatap Djalenga. "Sesuai rekomendasi dari putriku, aku membuatkan kamu sebuah suit armor berbahan sutra polimetrik amiloid"
"Aku belum pernah mendengarnya. setahuku, sutra hanya dihasilkan dari kepompong ulat sutra." komentar Haidar.
"Sutra ini dihasilkan dari hasil campuran serat jaring laba-laba. sutra ini memiliki ketahanan hingga 1 Gpa, jauh lebih kuat dari kevlar tapi lebih lentur dari nylon." jawab Akram kemudian menatap celana panjang milik Haidar yang robek. "Dan kau juga memerlukannya. minimal celana panjangnya." sindirnya membuat Haidar tersipu-sipu.
"Terserah kepada Oom saja. saya berterima kasih jika Oom memikirkannya juga buat saya." jawab Haidar masih dengan gaya tersipu-sipu.
"Tentu saja Abi akan membuatkannya untukmu. kalau nggak, bagian menggantung ditengah selangkanganmu itu akan tak berguna lagi dihadapan Aisyah." olok Haanish sambil tertawa.
Haidar mengerling menatap tajam ke arah Haanish membuat lelaki itu langsung melengos wajah dan mengangkat tangannya kemudian duduk santai lagi.
"Besok, kedua pakaian itu sudah jadi." ujar Akram.
"Terima kasih Bapak, Ibu." ujar Djalenga membungkuk takzim kepada Akram dan Airina. "Bapak-Ibu telah menolong saya untuk bisa membebaskan Dinara."
__ADS_1
"Dan kamu nggak berterima kasih sama kami nih?" pancing Haanish mengungkit.
"Tentu saja saya haturkan terima kasih kepada Kakak berdua yang mengijinkan saya ikut serta dalam pembebasan ini." tambah Djalenga dengan senyum canggung lagi.
"Hadeh, Eiji, Eiji... dasar gila hormat juga kamu ya?" sindir Haidar kemudian menatap Airina. "Begini nih, kalau sudah jadi birokrat disana. songongnya kebangetan."
"Jadi kamu mau menantangku hah?!" seru Haanish pada akhirnya.
"Besok aku mau menemui Oma Syafira." ujar Haidar dengan datar. "Kalau ternyata hal itu tak bisa dihindari lagi, maka saya berdiri didepan membela mereka berdua untuk menghadapi kamu!" tandas Haidar menudingkan telunjuknya kearah Haanish.
"Ooookey! siapa takut?!" seru Haanish membalas ancaman Haidar. "Kita buktikan sekali lagi, mana yang lebih hebat. Langga Linula Tuwawa (silat gorontalo aliran Suwawa) atau Koga Koryu Bujutsu!"
Haidar berdiri, "Okey!" balasnya.
Haanish berdiri dan mendengus sejenak lalu menatap Marinka dan seketika kedua matanya memendarkan sinar kebiruan. Karasu Tengu no Shisen.
"Persiapkan dirimu Marinka! jika Haidar kalah, maka aku akan membunuh Puncan sebagai pemenuhan tandingan itu!" seru Haanish dengan seringai kejinya lalu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan sambil memperdengarkan tawanya.
Marinka bergidik dan langsung memeluk ibunya. "Umi..." sedunya dengan takut.
Airina dengan senyum datar menyentuh tubuh putrinya. "Jangan takut. kuatkan hatimu. Umi yakin... Sutan Pamenan nan mudo tidak akan membunuh Puncan."
"Dari mana Umi tahu? bukankah dia mengidam patologis tertawa? dia itu psikopat!" ujar Marinka dengan lirih.
Airina kembali hanya tersenyum. "Tidurlah... atau ku temani kamu tidur?" pancing Airina setengah mengolok.
Marinka langsung merengek. "Temani denai tidur. denai takut bermimpi buruk." keluhnya.
Airina mengangguk-angguk lalu memeluk putrinya kemudian menuntun putrinya menuju kamar. Akram sejenak menghela napas.
"Kau siap menghadapi Sutan Pamenan?" tanya Akram.
"Alaaah... tak ada yang namanya pamenan-pamenanan! bagiku, dia tetaplah Eiji! adikku! dia harus tunduk padaku! aku kepala keluarga Lasantu! dia adalah anggota keluargaku! dia wajib patuh kepadaku!" tandas Haidar yang sudah terpancing emosinya. sejak tadi kedua matanya memang telah berubah menjadi mata monster.
Djalenga sedikit bergidik melihat kedua mata lelaki itu. dia pernah melihat ujud makhluk penjelmaan Haidar saat terjadi insiden penculikan Dinara dan pembunuhan Inayah di kantor KKIG di Mataram.
"Kalau begitu, beristirahatlah. waktu sudah mau masuk waktu maghrib. mari kita sholat bersama." ajak Akram.
...*******...
dalam kamar yang sunyi itu, Marinka yang telah menyelesaikan ritual sholat Qiyamullailnya, dibalut mukena putih pastel, menengadahkan tangan dan wajahnya menatap ke kekosongan. dalam gemetar suaranya, gadis itu berdoa.
"Ya Allah, Engkau tuhanku. segala puji bagi-Mu yang menegakkan langit dan bumi. Engkaulah pemilik segala makhluk, segala puji bagi-Mu. Ya, Allah... denai pasrahkan diri kepada-Mu, denai beriman kepada-Mu, berkeluh kesah hanya kepada-Mu, memohon keputusan hanya kepada-Mu." sedunya dalam doa. Marinka kembali menangis tanpa suara. hanya isakannya yang terdengar dan kembali ia mengucap. "Ya Allah, sesungguhnya denai memohon petunjuk dari ilmu Waang. memohon kekuasaan dari kekuatan Waang. memohon karunia yang besar dari rahmat Waang. karena denai tak kuasa sebab Waang lah sesungguhnya yang kuasa. denai tak mengetahui apapun yang ghaib. maka, jika memang Uda Puncan adalah pilihan yang baik untuk denai, agama denai, juga kehidupan denai, maka tetapkan kan mudahkan inyo bagi denai dan berkatilah kami berdua. namun...." sekali lagi Marinka menangis tanpa suara, kembali memperdengarkan isakannya, kemudian melanjutkan doanya. "Namun... apabila Uda Puncan bukan pilihan yang baik bagi denai yang dapat mengakibatkan keburukan, baik dimasa kini dan mendatang kelak... maka jauhkan inyo dari denai, dan ridhailah denai. sesungguhnya Waang lah pemilik kehidupan denai. segala puji bagi Waang, wahai Tuhan Seru Sekalian Alam."
Marinka kemudian bersujud kembali menumpahkan tangisnya pada hamparan sejadah.
tanpa disadarinya. dibalik pintu, Haanish menyandarkan diri didinding sisi pintu itu. pendengarannya yang tajam itu mendengar jelas segala keluh kesah adik sepupunya itu. kedua matanya yang memendarkan cahaya kebiruan itu berkaca-kaca. setelah puas menguping, Haanish beranjak meninggalkan tempat itu.
namun langkahnya tertahan saat melihat Haidar juga berdiri disana menatapnya. setelah menenangkan diri, Haanish melangkah mendekati Haidar dan menyelisihi tempatnya. keduanya berdiri saling membelakangi.
"Sejak kecil, kita berdua selalu bersama, meski sikap dan kelakuan kita berbeda, orang-orang memandang kita adalah sebuah kesatuan unik yang dimiliki keluarga Lasantu." ujar Haidar dengan pelan. "Ingatkah kamu, Marinka sejak bayi bermain-main dalam gendongan dan pelukan kita? tega kah kamu menyusahkan adik sepupumu sendiri?"
Haanish hanya tersenyum. tanpa menoleh, ia menjawab. "Aku lebih tahu, apa yang tidak kamu ketahui, Bro." ujarnya.
__ADS_1
"Semoga saja begitu." ujar Haidar.
Haanish melangkah meninggalkan Haidar. lelaki itu menghela napas sejenak dan kembali melangkah menuju dapur, untuk mengambil air wudhu, persiapan sholat Qiyamullail hingga subuh nanti.[]