
Gorontalo, Pemakaman Keluarga Ali. pukul 08.30 WITA.
prosesi pemakaman Komisaris Besar Polisi, Inayah Amalia Ali, S.I.K berlangsung dengan penuh hikmah. Haidar dan Haanish berdiri dengan tegar mengenakan pakaian formal stelan jas. sementara Aisyah dan Marissa memyembunyikan suara dalam tangisnya. hanya Aya Sofia yang terdengar tangisnya.
Salman Attar Williams bertindak sebagai komandan upacara, sedang inspektur upacara dipimpin langsung oleh Kapolda Gorontalo, Mayjen Pol. Marwan Djubu, S.I.K, M.H.
diantara pemanggul peti jenazah, terdapat Dodit, Heru, Alan dan beberapa sahabat lama Inayah sewaktu polwan itu masih aktif dijalanan. Dodit yang terlihat begitu berduka, namun tetap bersikap tegar. rombongan pemanggul peti, tiba disisi liang lahat.
diiringi tembakan salvo dan gerak penghormatan, peti jenazah Inayah perlahan diturunkan menuju liang lahat disaksikan oleh Haidar dan Haanish.
"Jadda... Jadda... kenapa Jadda meninggalkan Aya..." sedu Aya Sofia yang nyaris saja disebabkan emosi hendak menghambur menuju liang pemakaman itu kalau saja tidak ditahan Aisyah.
Salman memejamkan matanya sejenak membiarkan butiran airmatanya jatuh menyusuri permukaan pipinya. peti berisi jenazah Inayah telah dimasukkan kedalam liang lahat oleh empat orang bintara yang bertugas memasukkan peti orang nomor dua dijajaran kepolisian daerah itu. setelah itu liang tersebut mulai ditimbuni.
Haidar dan Haanish ikut serta dalam menimbun makam itu. makin keras terdengar tangis Aya Sofia dan isakan Aisyah serta Marissa.
ditenda sebelah berdiri Dewinta Basumbul dan suaminya, Cornell Waroka, putra-putrinya, Cholil dan Callista. tak lupa, Wie Fen Ying dan istrinya yang juga ikut hadir. bagaimanapun setelah mengetahui sejarah melalui dokumen yang valid tentang pernikahan Mamoru Mochizuki dan Jiao Wie, akhirnya mereka mengakui bahwa keluarga Lasantu dari garis Kenzie dan Azkiya adalah kerabat jauh keluarga Wie.
mereka menyaksikan liang lahat itu selesai ditimbuni. bendera merah putih yang digunakan untuk menaungi liang lahat kemudian dilipat sedemikian rupa, kemudian diserahkan dengan takzim kepada Haidar.
"Yang Sabar ya, Nak." ujar Kapolda tersebut dengan suara yang terdengar trenyuh.
Haidar hanya mengangguk datar saat menerima bendera tersebut. prosesi upacara pemakaman telah selesai dan semua anggota kepolisian telah meninggalkan tempat itu, terkecuali Salman.
anggota keluarga Lasantu, termasuk Dewinta dan keluarganya, beserta Salman yang mewakili keluarga Williams yang masih dalam perjalanan dari Padang. tak lupa Wie Fen Ying dan istrinya ikut pula dalam rombongan itu. mereka mengelilingi makam tersebut.
sesuai permintaan Haidar, makam ibunya dibuat bersisian dengan pohon Flamboyan itu. kelak, lelaki itu akan menanam bunga melati disisi paita ibunya.
"Jaddaaa..." sedu Aya Sofia sambil menyapu-nyapu batu pusara Inayah.
Haidar kemudian berjongkok disisi Aya Sofia. lelaki itu menyapu pundak putri sambungnya. "Jangan tangisi jadda, Sofi. Jadda sudah tenang." tegur Haidar dengan lembut. nada suaranya terdengar bergetar.
"Abaaahhh..." sedu Aya Sofia memeluk ayah sambungnya.
Haidar ikut menangis meski tanpa suara. yang ada hanyalah isakan bersahut-sahutan. Aisyah ikut berjongkok memeluk suaminya dan larut dalam kesedihan itu.
Haanish hanya tegak berdiri menatap kuburan yang masih basah tanahnya itu. disisinya Marissa sesenggukan menahan tangisnya yang dirasainya sulit.
Haidar menyapu kepala putri sambungnya. "Marilah kita berdoa agar arwah jadda akan selalu tenang disana." ajak lelaki itu.
Aya Sofia mengangguk. Haidar memimpin doa dimulai dari Alfatihah hingga beberapa doa penenang lainnya dan mengkhatamnya dengan ucapan Alhamdulilah sambil mengusap wajah dengan telapak tangan.
ketiganya lalu bangkit dan beranjak meninggalkan makam itu diikuti oleh Dewinta dan keluarganya beserta Salman. langkah Haidar sejenak terhenti saat dilihatnya Haanish dan Marissa masih tetap bergeming disitu.
"Eiji..." tegur Haidar.
"Pergilah... aku masih ingin disini... sedikit lagi." jawab Haanish dengan datar.
Haidar menatap Haanish agak lama. lelaki itu kemudian menatap kakaknya. "Aku tak apa-apa. pergilah..." ujar lelaki berambut panjang sepunggung itu.
Haidar akhirnya mengangguk dan mengajak yang lainnya meninggalkan pemakaman itu. Wie Fen Ying agak lama menatap lelaki yang nyaris jadi mantunya itu.
"Aku minta maaf mewakili Denada. dia tak bisa hadir disini sebab sedang dalam lawatan bisnis di Hanoi." ujar Wie Fen Ying sambil menepuk halus pundak Haanish.
lelaki itu hanya diam, tak berkomentar. Wie Fen Ying merasa kehadirannya ditempat itu tak dibutuhkan oleh Haanish. lelaki itu akhirnya memilih meninggalkan lelaki yang ditemani istrinya itu.
kini tinggal Haanish dan Marissa yang berdiri disisi kuburan itu. Haanish kemudian mengambil posisi duduk dengan gaya Zazen, gaya yang dipergunakan para samurai untuk melakukan upacara penghormatan.
"Mama... terima kasih, telah mengangkat derajatku setara dengan Chouji. terima kasih telah bertindak sebagai pengganti ibuku saat beliau meninggalkanku diusia tujuh tahun. terimakasih... karena telah merawat dan membimbingku tanpa pamrih... maafkan aku, belum bisa membalas semua budi baikmu. bagaimanapun aku berupaya membalasnya... tetap saja budimu... tak akan mampu kubalas... terimalah penghormatanku... Mama..." ujar Haanish kemudian melakukan sujud reishiki, menghormati kuburan itu. agak lama juga lelaki itu bersujud hingga akhirnya ia kembali tegak.
mata lelaki itu telah basah. ditatapinya kuburan tersebut. "Aku bersumpah atas namamu, Mama.... Nikolai... akan mendapat hukuman lebih dari yang dia lakukan padamu." ujar Haanish kemudian ia bangkit berdiri.
Marissa datang mendekat dan memeluk suaminya. Haanish membalas pelukan itu dan keduanya kemudian berbalik meninggalkan pemakaman tersebut diiringi semilir angin kering kemarau tersebut.
__ADS_1
...*******...
Dinara menatap hamparan sabana yang hijau menghampar luas bagai tak memiliki batas. dedaunannya bergerak-gerak gemulai melambai seakan dihembus angin. padahal tak sekalipun terasa angin bertiup. namun, suasana ditempat itu terasa teduh, tak panas... terasa penuh kedamaian.
"Dimanakah aku ini? mengapa aku berada ditempat ini?" gumam Dinara.
"Dinara..." sapa seseorang yang langsung membuat Dinara menoleh. ia mengenal suara itu.
"Mama!" serunya dengan riang.
disana memang nampak Inayah mengenakan pakaian putih terusan yang panjang. wajahnya begitu berbinar seakan ia masih berusia 30-an tahun. Dinara menghambur memeluknya.
"Mama... kenapa kita disini? bisakah kita pulang? Mama bisa menuntunku pulang, kan?" rengek Dinara dengan manja.
Inayah tersenyum lalu mengangguk. "Kamu memang masih bisa kembali, tapi Mama... tidak bisa lagi."
"Memangnya kenapa Mama?" tukas Dinara dengan wajah cemberut. "Ayo Mama, mari pulang sama-sama." ajak gadis itu.
"Dia sudah tak bisa kembali. tempatnya sudah disini." ujar lelaki yang tiba-tiba muncul dibelakang Dinara dan melangkah mendekatinya. "Tapi... kamu masih bisa pulang. kembalilah ke alam kamu nak. belum saatnya kamu berada disini."
Dinara menatap lelaki itu sejenak, lalu memandang Inayah. "Mama... bukankah dia...?"
"Ayah kandungmu, nak." jawab Inayah dengan tenang.
Dinara terhenyak sejenak. Inayah menuntun Dinara mendekati Sandiaga. "Berikan salam kepada ayahmu, nak."
Sandiaga hanya tersenyum dan membelai kepala putrinya. "Maafkan aku. kelihatannya, aku memang ayah yang durhaka karena membiarkanmu berada lama dalam pengasuhan keluarga Nurmagonegov."
"Ya, Papa kejam!" tukas Dinara yang tanpa sadar sudah terisak-isak.
"Tidak ada cara lain Julia." sela seorang wanita berambut merah dan bermata biru. "Jika kami tak melakukan itu, maka orang-orang Dracna akan menemukanmu dan juga membunuhmu."
Dinara menatap wanita itu dan seketika ingatannya kepada wanita itu langsung muncul. gemetar suara gadis itu menyebut, "Ma...mama..." desisnya.
"M-mama..." desis Dinara lagi.
"Julia Fedora Bushra..." sebut Ivanka mengungkit nama lama dari Dinara. gadis itu menggeleng.
"Nama itu sudah tak berlaku Ma. begitu juga dengan Mahreen Nurmagonegov..." ujar Dinara menegaskan. "Sekarang... aku menyandang nama... Dinara Haifa Lasantu..."
Ivanka mengangguk-angguk dan tersenyum. "Aku tahu... dan aku bahagia... kau sudah memiliki status yang jelas."
"Kembalilah nak. waktumu sedikit!" ujar Sandiaga tiba-tiba.
"Tapi, bagaimana aku bisa kembali?" tanya Dinara dengan panik.
tiba-tiba Sandiaga maju dan mendorong tubuh Dinara. seakan-akan dorongan itu memiliki tenaga kuat, membuat Dinara melayang meninggalkan sabana.
"Mamaaaa.... Papaaaa..." teriak Dinara dengan panik.
"Selamat tinggal anakku... kami selalu mencintaimu..." seru Sandiaga.
...*******...
Dinara membuka perlahan kedua matanya. ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan suasana disekitarnya. gadis itu menyadari bahwa dia berada disebuah ruangan yang kumuh.
Dinara hendak menggerakkan tubuhnya ketika menyadari bahwa ia dirantai dengan ketat pada sebuah tiang yang membuat gerakannya menjadi sangat terbatas. kembali gadis itu menghamparkan pandangannya mengamati ruangan yang melingkupinya.
tak lama muncul seorang pria. seorang lelaki yang sangat dikenalnya. lelaki itu berdiri menatap Dinara yang berdiri terikat dalam balutan rantai.
"Kau..." desis Dinara memicingkan mata.
"Bagaimana kabarmu, Dinara... maksudku... Mahreen Nurmagonegov..." sapa lelaki itu yang tak lain adalah Nikolai Basarab. lelaki itu kembali tersenyum namun terlihat lebih seperti mengejek gadis itu. "Atau, haruskah kamu kupanggil Julia Fedora Bushra?"
__ADS_1
Dinara melengos membuat Nikolai tertawa pelan. "Kau kalau melengos begitu kelihatan makin cantik saja." gombal lelaki itu membuat Dinara kembali menatap Nikolai dengan tatapan jijik.
"Bicaralah sesukamu... yang jelas, aku adalah Dinara Haifa Lasantu. anak ketiga dari Sandiaga Hermawan Lasantu." ujar Dinara dengan senyum mengejek. "Kalau saja kakak-kakakku ada disini... kau pasti sudah mampus."
Nikolai kembali tertawa. "Itu kalau memang kedua kakakmu berada disini." oloknya. "Tapi nyatanya kan tidak. lagi pula, mereka berdua tak mengetahui letak tempat ini."
"Mereka berdua akan menemukannya." tandas Dinara dengan mantap.
"Aku suka sikap percaya dirimu." puji Nikolai. "Tapi, kepercayaan diri tidak cukup untuk mengalahkanku Nona. kau harus memiliki kekuatan, kecepatan dan keakuratan."
Dinara tertawa. "Aku pernah mendengar hal itu dari film Forbidden Kingdom..."
"Kalimat yang mana?" tanya Nikolai dengan senyum.
"Kalimat tadi itu." tukas Dinara, "Mirip dengan kalimat yang diucapkan oleh biksu jelmaan Sun Go Kong kepada Taois pemabuk, Lu Yan."
Nikolai tertawa lagi. "Kau penggemar film aksi?"
Dinara menggeleng. "Aku lebih suka melihat kau tewas mengerikan ditangan Kakak sulungku."
Nikolai tertawa. "Aku akan menunggunya untuk membebaskanmu. tapi, dia harus menyerahkan dulu nyawanya ke tanganku."
Dinara tertawa. "Kau terlalu bermimpi. sebaiknya berpikirlah realistis."
"Aku sudah berpikir realistis saat menantang kakak sulung kamu itu." tukas Nikolai. "Aku sudah bisa menilainya saat kami bertarung. hasilnya nol besar! Kakakmu tak akan bisa mengalahkanku."
"Itu adalah pertarungan perdananya menghadapi sesama pengguna Darah Dewa. jika nanti saatnya, dia pasti akan dengan mudah mengalahkanmu." jawab Dinara, "Dan aku sangat menantikan pertemuan itu."
"Silahkan... datangkanlah kakakmu itu." tantang Nikolai. "Namun sebelum itu, katakan padaku dengan jujur."
"Tentang apa?" tanya Dinara.
"Dimana kalian sembunyikan darah dewa yang lainnya?" ungkap Nikolai dengan datar.
Dinara tertawa sejenak. ia kemudian menatapi Nikolai. "Eh, kalau ku tahu sudah dari tadi kubeberkan padamu." ujarnya dengan kesal. "Aku nggak tahu sama sekali tentang darah dewa atau semacamnya."
"Pembohong juga rupanya kau?" sindir Nikolai dengan senyum masam.
"Aku mana tahu tentang hal itu? mendengarnya saja baru sekali ini." tukas Dinara dengan kesal. "Kau menculik orang yang salah. semestinya, kau menanyai dulu orang tua asuhku, atau Miriam, sebelum kau membunuhnya!"
Nikolai bertepuk tangan. "Ah ya. benar juga." ujarnya. "Tapi sayangnya, mereka bertiga juga bungkam saat ku tanyai hal itu. begitu juga dengan ibu kandungmu dan dua orang temannya saat ditanyai oleh ayahku." lelaki itu mengembangkan tangannya. "Katakan padaku, kemana lagi aku harus mencari? mereka yang kutanyai malah hilang tak berbekas."
"Berarti, Allah nggak mengijinkan kamu untuk mencari mereka." tukas Dinara. "Kamu nggak berhak untuk itu."
"Aku paling berhak atas kepemilikan relik kuno itu!" hardik Nikolai membuat Dinara kaget disebabkan kerasnya hardikan itu. Nikolai mendekati Dinara yang terikat hingga jarak keduanya begitu dekat hingga Dinara dapat dengan jelas merasakan desah napas lelaki itu.
"Sejak jaman kuno, Persaudaraan Dracna memiliki klaim jelas atas relik kuno tersebut." tandas Nikolai. "Dan kau tahu, mengapa kami selalu mengejar-ngejar pemilik tidak sah dari relik tersebut?"
"Katakan saja. supaya jelas bagiku, sepadan atau tidakkah nyawa ibuku yang tewas disebabkan menjaga rahasia keberadaan darah dewa itu." pinta Dinara.
"Kau pikir darah dewa tidak akan membawa dampak yang sangat merusak?" pancing Nikolai.
"Apa maksudmu?" tanya Dinara.
"Darah Dewa adalah jenis darah yang tidak akan ditemukan jenis rhesusnya, sebab memiliki antigen yang tidak akan pernah ditemukan pada golongan darah manapun." tutur Nikolai. "Seperti yang kau tahu, bahwa darah manusia biasa hanya terdiri dari empat golongan saja. kemudian juga, kau akan mengetahui bahwa ada jenis-jenis darah langka seperti darah emas yang memiliki rhesus nol (Rh-null) yang sampai saat ini hanya dimiliki oleh 43 orang diseluruh dunia, dan ini tak mengalami peningkatan, bahkan justru makin lama berkurang."
"Apa hubungannya dengan darah dewa?" tanya Dinara.
"Darah Dewa adalah sejenis darah yang memiliki rhesus nol. namun selain itu, ia memiliki antigen yang memiliki fungsi memutasi setiap sel darah yang dijangkitinya. efeknya selain bisa membuat pengguna darah itu menjadi makhluk berkekuatan hebat namun disisi lain, darah dewa akan membuat penggunanya menjadi monster paling buas." jawab Nikolai. "Kau sudah melihat perubahan ujud Kakak sulungmu itu, kan? kalau dia tak mampu mengendalikan antigen mutasi dari darah dewa, selamanya, kakakmu akan menjadi sosok monster. dia tak akan sama seperti dulu lagi."
"Aku yakin, Kak Haidar akan bisa mengendalikan darah dewa yang telah mengalir dalam darahnya itu." ungkap Dinara dengan mantap.
mendengar ungkapan wanita itu, Nikolai hanya tersenyum saja. []
__ADS_1