
📲 "Apakah Kakak tak tersinggung dengan kepolosannya?" tanya Airina dengan malu.
📲 "Kamu tahu diriku sejak lama Yuki. kau tahu betapa marahnya aku, kau jebak dengan memasukkan lima batang cabe rawit kedalam penganan yang kuantarkan kepada Sandiaga waktu itu?" ungkit Inayah membuat Airina tersipu.
📲 "Ya, saya tahu...." ujar Airina. Inayah mengangguk-angguk.
📲 "Karena ini, aku memutuskan.... akan mengambil Marissa menjadi anakku... ia akan menjadi pendamping Haanish kelak." jawab Inayah dengan yakin membuat Airina berlinang airmata sedang Akram hanya tersenyum sambil menyapu pundak istrinya. Inayah melanjutkan, "Aku sudah menetapkan keputusanku... bagaimana dengan kalian?"
Airina menarik isakannya terlebih dulu. kemudian menjawab.
📲 "Anak nakal itu telah membuat Kakak jatuh hati. saya hanya menyerahkan sepenuhnya kepada Kakak saja. bagi kami... kebahagian Issha, tentulah kebahagiaan kami pula." jawab Airina dengan sesenggukan pelan.
Inayah mengangguk-angguk pelan.
📲 "Baiklah... mulai saat ini, dia akan kupingit disini." ujar Inayah kemudian memberikan lagi beberapa kalimat tambahan sebelum akhirnya menutup pembicaraan seluler. Inayah kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan sofa. langkah kakinya terayun hingga berhenti pada sebuah lukisan besar seorang lelaki yang duduk diapit dua wanita yang berdiri disisi kanan dan kirinya.
tatapan Inayah terantuk pada wajah suaminya. "Ayank... sedikit lagi... kau akan jadi kakek." gumamnya kemudian tersenyum seraya mengulurkan jemari mengusap wajah sang lelaki di potret besar tersebut.
...*******...
lima orang berkumpul makan malam di meja pantry itu. mereka menikmati sajian makanan yang dibuat oleh Tante Imel. wanita itu sendiri tidak ikut makan disana sebab menurutnya ia hanya menjalankan tugasnya sebagai asisten rumah tangga.
"Persiapkan waktu kamu sehari ini, agar besok sore atau malam berangkat dengan hati yang bersih." pesan Haidar disela-sela kegiatan makannya. lelaki itu selalu makan menggunakan jemarinya.
Haanish hanya mengangguk saja sambil menikmati makanan. Salman sejenak melirik Haanish lalu menatap Haidar.
"Semoga apa yang dicari Haanish akan tercapai dan dia bisa merelakan sesuatu yang hilang, sebab Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, lebih setia dan tentunya... lebih cantik." ujar Salman lagi.
Haanish tersenyum dan meletakkan alat makannya dipiring yang telah tandas. ia menatap Salman dan Haidar.
"Jangan bilang kalau Issha mau dijodohkan denganku." tebak Haanish membuat Haidar menghentikan makannya dan menatap Salman.
"Bisa jadi..." jawab Salman dengan tenang kemudian menatap Haanish. "Apakah kau keberatan?" tanya pemuda itu dengan datar namun Haanish dapat melihat dengan jelas kilatan ketersinggungan dimata pemuda itu.
Haanish tersenyum. "Anak itu... aku teringat... waktu itu dikamar, tiba-tiba dia nyelonong masuk dan mengajakku kenalan. aku sendiri sempat syok menyadari keberaniannya."
"Keberaniannya menurun dari ibunya... kenekatannya menurun dari ayahnya..." jawab Salman.
"Kau kenal benar mereka bertiga." sindir Haidar.
Salman mengangguk. "Tentu, aku besar bersama mereka. aku lelaki satu-satunya dikeluarga Williams. aku calon kepala keluarga yang nantinya akan menyandang nama adat setelah menikah nanti. aku memahami perasaan ketiga sepupuku." ujarnya dengan tenang.
Aisyah yang ikut di meja makan tak berminat nimbrung dalam obrolan itu. ia sibuk menyuapi Aya Sofia. Haidar menatap Aya Sofia.
"Nak, pakaian muslimah yang Om kasih, bagus dipakai?" tanya Haidar dengan senyum dan lembut.
"Bagus Om." jawab Aya Sofia dengan antusias. "Saya akan memakainya pada acara hari ibu lusa nanti." ujar Aya Sofia dengan gembira. Salman dan Haanish tersenyum menatap kegembiraan diwajah anak itu.
"Baik. nanti Om akan berikan kejutan lain untuk Sofia, kalau makannya banyak. biar sehat." ujar Haidar dengan senyum lagi.
__ADS_1
"Okey Om. mulai hari ini saya akan makan banyak." jawab Sofia dibarengi tawa Salman dan Haanish serta senyuman Aisyah yang tak luput dari tatapan Haidar.
"Bergembiralah... lusa depan kau akan melamar di Buana Asparaga." ujar Haidar. "Jadi persiapkan saja semua, mulai dari surat lamaran, data diri, ijazah terakhir dan pengalaman kerja."
"Kau merekomendasikannya?" tanya Haanish.
Haidar mengangguk. Haanish langsung tertawa pelan, "Beeeehhhh.... yang perhatian benar sama kamu." godanya menatap Aisyah yang hanya senyum tersipu.
"Aku merekomendasikannya untuk menolongnya, bukan untuk tujuan lain." ujar Haidar menegaskan lisannya.
Haanish tersenyum lalu menatap Salman yang juga tersenyum. pemuda itu menatap kembali Haidar.
"Ya... aku tahu.... aku tahu..." ujar Haanish.
Haidar menautkan alisnya. "Tahu bagaimana maksudmu?"
Haanish mengangkat bahu, "Ya... tahu saja..." ujarnya kemudian menatap Aisyah yang pura-pura tak perduli sambil menyuapi lagi putrinya.
Salman kemudian bangkit. "Brothers, aden cabut dulu. hari ini, aden tugas malam." ujarnya kemudian menatap Aisyah. "Terima kasih atas hidangannya, Nyonya Lasantu, ups... maksudku, Nyonya Aisyah..." ujar Salman langsung meralat ucapannya saat mengetahui tatapan Haidar begitu tajam kepadanya. sedang Haanish hanya menahan tawa saja. "Hidangannya, sangat enak."
Salman melangkah meninggalkan ruangan itu menuju pintu utama. ia membuka pintu itu dan melangkah pergi. Haanish ikut bangkit lagi.
"Aisyah... boleh kupanggil saja Aish?" tanya Haanish meminta persetujuan wanita itu. dengan manis senyumnya, Aisyah mengangguk. Haanish mengangguk pula. "Sebaiknya, sering-seringlah kau memasak. Chouji akan semakin terbiasa dengan masakanmu... setelah itu dengan harum tubuhmu." ujarnya kemudian berbalik hendak pergi saat Haidar memanggilnya lagi dengan ketus.
"Kamu kalau bicara jangan sembarangan begitu." tegur Haidar agak meninggi suaranya. "Ada Sofi disini. nggak baik bicara begitu."
Haanish menatap Aya Sofia yang disuapi ibunya sedangkan Aisyah sejak tadi sudah memerah wajahnya, entah malu dihadapan Haidar atau tersanjung oleh ucapan Salman dan tuja'i yang diungkapkan Haanish untuk menyindir Haidar.
"Ooo... jadi kalau nggak ada Sofi, aku boleh bicara begitu?" pancing Haanish membuat Haidar terdiam dengan bibir gemetar.
Haanish tersenyum lalu mengangguk-angguk. "Baiklah, aku paham. aku tak akan mengganggumu lagi." ujar pemuda itu melangkah meninggalkan mereka. "Nyamankan diri kalian berdua... aku yakin, dalam waktu yang tak lama... kalian akan menjadi sepasang kekasih."
Aisyah mengambil sendok yang dilemparkan Haidar.lalu kembali menaruhnya ditempatnya.
"Kalau marah, jangan membuang-buang barang." tegur Aisyah. "Emosi itu dikontrol sedikit." sambungnya sambil kembali menyuapi Aya Sofia.
"Aku malu terhadapmu. Eiji selalu saja menyindir hubungan diantara kita. padahal aku tak punya pikiran apa-apa denganmu." ujar Haidar dengan datar menyorongkan piring yang telah kosong.
Aisyah mengambil semua piring itu dan menaruhnya diwastafel. wanita itu kemudian menatapi putrinya. "Aya sudah kenyang kan? boleh nggak Aya ke kamar?"
Aya Sofia mengangguk lalu turun dari kursi. "Aya pergi, Ibu... Om..." ujar Aya Sofia mencium tangan ibunya lalu melangkah mendekati Haidar lalu mencium tangan pemuda itu. Haidar tersenyum kemudian membelai kepala anak itu.
"Jadi anak baik, ya?" pinta Haidar.
Aya Sofia mengangguk dan Haidar menciumnya dikepala. anak itu dengan riang dendang melangkah ke koridor meninggalkan Aisyah dan Haidar berdua di pantry.
Haidar memperhatikan Aisyah yang sedang mencuci piring dan menatanya pada rak.
"Maafkan aku... atas perlakuanku kemarin... mencium kamu." ujar Haidar dengan pelan.
Aisyah tersenyum. ia menyeduh dua gelas kopi dan menyorongkan segelas pada Haidar. "Oh, kupikir kau sudah melupakannya..." sindir Aisyah dengan senyum mencebik.
"Sudahlah... jangan memojokkanku." pinta Haidar memelas, "Aku kelepasan emosi dan aku tak tahu mengapa aku melakukannya."
Aisyah menatapnya dalam. "Sebaiknya, aku tinggal diluar kediaman ini. itu akan lebih mengontrol dirimu untuk tidak kelepasan emosi." usul Aisyah. wanita itu kemudian menegakkan tubuh. "Aku berterima kasih, kau begitu baik terhadap kami berdua. aku bahkan sempat berpikiran dan berharapan yang bukan-bukan kepadamu." Aisyah kemudian tersenyum getir, "Tapi aku harus tahu diri. aku menyadari status diriku akan sangat mempengaruhi prestise kamu dihadapan karyawan-karyawan dan relasi bisnismu. aku hanya tidak mau keberadaan kami akan memberatkanmu dimasa yang akan datang."
"Kau pikir ibuku akan membiarkan kamu keluar dari kediaman ini?" pancing Haidar.
"Maksudmu?" tanya Aisyah mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Sudah kubilang. kamu tinggal disini atas persetujuan Mamaku. kalau kamu mau keluar dari sini, silahkan saja. tapi jangan minta ke aku, mintalah ke Mama, karena beliau yang menyuruhku untuk membiarkanmu tinggal disini." tukas Haidar.
Aisyah terdiam. Haidar menyambung. "Semestinya kamu bersyukur. kamu pikir gampang mendapatkan persetujuan Mama? Mahreen saja tidak diijinkannya tinggal disini, melainkan disana. aku saja heran kok bisa-bisanya Mama membolehkanmu tinggal disini."
Aisyah menghela napas. "Baiklah... kalau begitu, aku akan menghadap Nyonya besar agar dapat diijinkan keluar dari kediaman ini."
"Terserah kamu sajalah." ujar Haidar kemudian bangkit tanpa menyentuh minuman yang disuguhkan Aisyah kepadanya. pemuda itu melangkah meninggalkan Aisyaj sendirian disana, menaiki tangga menuju lantai dua, menuju ke kamarnya.
Aisyah menghela napas dan memijiti keningnya seje ak lalu bangkit mengambil gelas itu dan meletakkannya di wastafel. setelah itu, ia melangkah meninggalkan pantry menuju ke kekamarnya di koridor belakang.
...******...
esok harinya....
Haanish hanya membawa ransel dan Si Penebas Angin sebagai penjaga dirinya. pemuda itu berdiri halaman belakang kediaman Ali. disana ada lapangan luas yang diperuntukkan buat Helikopter. pemuda itu akan menaiki heli, dan akan mendarat diatap gedung Buana Asparaga Tbk. disana nanti, ia akan diterbangkan dengan pesawat perusahaan ke jepang. Haanish tak akan mempergunakan perangkat teleporticon pemberian Akram, sebab frekuensi gelombangnya beda. salah-salah ketika piranti itu diaktifkan malah berefek balik menciderai tubuh pemuda itu. alat itu juga masih dalam tahap pengembangan dan belum diperjual belikan.
Inayah dan Marissa menemani pemuda itu. Haanish menatap ibunya. Inayah membelai rambut putra keduanya.
"Eiji... murnikan niat dan ikhlaskan langkahmu." pesan Inayah. "Jangan pernah menoleh ke belakang. masa depanmu masih panjang. dan jangan berpikir, apa yang lepas darimu merupakan sebuah ketidak adilan... Bisa jadi Allah melepaskan yang baik dari genggamanmu namun memberikan yang lebih baik untukmu."
Haanish menghela napas lalu mengangguk-angguk saja. Inayah mengerling kearah Marissa.
"No'u, tidak adakah yang hendak kau sampaikan?" pancing Inayah.
Marissa sejenak menatap Inayah lalu menatap Haanish. wajah gadis itu terlihat menyimpan rindu yang ia pendam sedemikian rupa. gadis itu hanya tersenyum saja dengan lesu.
"Semoga Uda mendapatkan apa yang Uda inginkan selama ini." ujar gadis itu saja.
Haanish menatap dalam ke kedua manik mata gadis itu. ia menemukan sebuah kerinduan disana. pemuda itu hanya tersenyum datar lalu berbalik pergi menuju helikopter. ia menaikinya dan tak lama kemudian kendaraan itu mengudara ke angkasa dan bergerak menuju arah utara.
Inayah berbalik pada saat dimana Marissa tiba-tiba menggeloyor jatuh. dengan sigap wanita parobaya itu menangkapnya dan menatap wajah lugu yang pingsan itu. ia meraba nadi dileher Marissa. setelah itu Inayah meraih gawai dan menghubungi para pekerjanya untuk membawa Marissa ke dalam kediaman Ali.
...******...
Airina duduk disisi ranjang menatapi sang putri yang entah kenapa langsung gering sepeninggal Haanish. Akram duduk diruang keluarga menatap lantai dihibur oleh Inayah. sementara Salman hanya berdiri dengan tatapan kosong menatap pemandangan dari jendela dengan kedua matanya yang merah.
"Anakmu mengalami stres sebab memendam perasaan terhadap orang yang ia impikan." ujar Inayah. "Itulah sebabnya aku telah memutuskan untuk segera menyatukan mereka berdua saat Haanish pulang dari Jepang."
"Saya tidak bermasalah dengan hal itu." ujar Akram kemudian bangkit dan melangkah mondar-mandir dengan pelan diruangan itu. "Yang saya kuatirkan adalah perasaan yang bertepuk sebelah tangan. bagaimana jika Haanish menolak perjodohan ini? mau dikemanakan wajah anakku? kemana wajah keluarga William-alkatiri?"
Salman menatap Akram. "Mamak jangan kuatir. aden akan yakinkan Haanish untuk menerima Marissa..." lelaki itu menatap Inayah sejenak lalu menatap Akram. "... dengan cara apapun..."
Inayah menatap Salman dengan tajam. sejenak pemuda itu terintimidasi dengan tatapan wanita parobaya itu. namun kemudian Salman kembali menegakkan wajah dan tubuhnya bersikap sebagaimana layaknya seorang opsir sejati.
Inayah menatap Akram. "Yang jelas, aku tetap pada pendirianku. ini juga untuk kebaikan Eiji. dia harus melangkah ke depan. memikirkan bahwa ia masih memiliki peluang untuk menjadi sosok yang lebih baik kedepannya."
ruangan itu kini hening dalam dalam landa pemikiran antara pemilik pikiran itu sendiri. sementara diatas pesawat yang melaju didirgantara, Haanish mendadak dilanda rasa tak nyaman. entah kenapa wajah Marissa terus terbayang dipelupuk matanya. pesawat sudah jauh meninggalkan Indonesia.
pemuda itu melongokkan kepala menatap hamparan awan. namun anehnya disana ia seakan menatap wajah Marissa yang tersenyum. Haanish makin tidak tenang. ia langsung menghubungi pilot.
"Putar balik! kita kembali ke Indonesia!" seru Haanish.
pilot itu mengangguk dan kembal memutar setang kemudi. pesawat menukik memutar lagi berbalik arah. Haanish makin tak tenang. ia bangkit mencari sebuah tas parasut untuk terjun payung.
pemuda itu menemukannya. ia kemudian memasangkannya ke punggungnya. tak lama kemudian, pesawat kembali memasuki dirgantara Indonesia. pesawat sudah berada diangkasa pulau sulawesi, tepatnya kawasan gorontalo.
Haanish berteriak kepada pilot. "Aku akan melakukan terjun payung. lintaskan saja pesawat di atas kediaman Ali. aku akan turun disana.
pilot mengarahkan pesawat itu hingga akhirnya menemukan lokasi kediaman Ali. ketika pesawat melintas, Haanish langsung membuka pintu pesawat dan melontar keluar melayang diangkasa.[]
__ADS_1