
Marissa terbangun. ia mendapati dirinya sendirian, telanjang beralaskan selimut tebal. tak ada Haanish disampingnya. gadis itu langsung bangun dan mengenakan pakaiannya. bergegas ia keluar dari kamar dan berjalan cepat menyusuri ruangan demi ruangan mencari kekasihnya.
mata Marissa mulai berkaca-kaca. ia tak menemukan keberadaan Haanish. hingga akhirnya ia tiba didepan kamar Marina yang ditempati Mahreen. disana ia mendengar suara percakapan antara Inayah dengan Haanish.
"Mama... aku tak bisa membayangkan... apa yang terjadi pada mereka berdua setelah mengetahui kebenaran ini." ujar Haanish dengan suara pelan.
"Mereka harus tahu. biar kita menunda-nunda, suatu saat mereka akan tahu. dan Mama nggak mau mendengar kebenaran itu dari mulut orang lain." tandas Inayah lalu menatap Mahreen. "Lihatlah anak ini. dia begitu syok mengetahui keluarganya meninggal akibat dibantai kelompok Dracna. kutukan itu terus membayangi keluarga kita. ayahmu terlanjur menabuh genderang perang dengan Dracna semenjak ia menjadi petarung andalan Klan Naga Hitam."
"Aku pun akan menyambangi klan itu. aku akan menyelidiki siapa sebenarnya ketua dari Klan Naga Hitam itu." ujar Haanish. "Aku sudah membongkar-bongkar dokumen negara. aku hanya menemukan kalau klan itu didirikan ditepian Sungai Amur oleh Uchida Ryohei. Masyarakat Sungai Amur dan Klan Naga Hitam adalah satu organisasi dengan nama yang berbeda. Uchida Ryohei sendiri adalah murid kesayangan Mitsuru Toyama yang mendirikan Genyosha, partai yang menjadi leluhur semua partai-partai yakuza yang tersebar diseluruh jepang. keluarga Mochizuki sendiri adalah salah satu anggota partai Genyosha. Klan Yamaguchi juga merupakan penerus partai Genyosha, begitupun dengan klan-klan yakuza lainnya."
Inayah mengangguk-angguk. "Mama harap semua penyelidikanmu itu akan membawa arah yang baik bagi keluarga kita. Mama percaya sepenuhnya padamu."
Haanish tersenyum. "Mama... bukankah Mama mengatakan bahwa aku adalah sisi gelap dibalik sisi terang yang digenggam Chouji? maka sekarang aku akan bergerak dengan cara itu. cara seorang shinobi... live by honor, kill by stealth... bukan begitu, Mama?"
Inayah tersenyum dan membelai rahang Haanish. "Ah... kau memang putra ayahmu dan ibumu..." puji Inayah.
"Mama... aku putramu..." tandas Haanish.
Inayah mengangguk-angguk. "Maaf, ya... kau putraku!" ralat Inayah kemudian memeluk lembut Haanish. "Oh, nak.... Mama sudah tak berhak lagi mengatur hidupmu. kau sudah menikah..." ujarnya kemudian melepas pelukan. "Kau telah menggenapi sebagian dari perintah agama. kau sudah menjadi seorang imam dalam keluargamu. Mama hanya pesan, jangan kau berani meneteskan airmata seorang istri. sebab ia adalah belahan jiwamu. ia adalah tulang rusuk kirimu. ia adalah wanita yang dikirimkan Allah untukmu. jaga Marissa... Mama sayang anak itu. dia sepertimu, energik dan gila petualangan... kamu tahu? dia rela melintasi dirgantara, tanpa pengetahuan apapun hanya untuk bertemu denganmu. itu adalah bukti, ia mencintaimu. jaga cintanya. jangan berpaling. kau akan rugi melepaskan mutiara hanya demi sebuah tahi anjing yang tak berguna. Marissa adalah mutiara itu Eiji... camkan itu!" pesan Inayah.
Haanish tersenyum dan mengangguk. "Ya, Mama..."
pintu terbuka dan nampaklah Marissa disana. keduanya menoleh dan Marissa menghambur masuk langsung memeluk Inayah.
"Mama..." sedu Marissa dengan terisak.
Inayah memeluk Marissa dengan heran sambil menatap Haanish. pemuda itu juga mengangkat bahu pertanda ia pun heran pula. Inayah melepaskan pelukannya dan dibelainya rambut Marissa.
"Anak Mama ini kenapa?" tanya Inayah dengan lembut.
"Mama... terima kasih sudah menerima denai menjadi anak Mama... Issha akan berupaya menjadi istri yang baik bagi Uda." ujar Marissa ditengah isakannya.
Inayah langsung paham dan ia menggoda. "Oooo ketahuan nih. ngintip pembicaraan Mama sama Haanish ya?"
Marissa langsung tersipu-sipu dan akhirnya mengaku dengan gerak mengangguk-angguk. Inayah tertawa lalu memeluk lagi menantu perempuannya.
"Aaahhh... dasar mantu bandel... kok kamu mirip Mama waktu muda ya? suka mengintip pembicaraan orang." sindir Inayah setengah menggoda.
"Habisnya pas denai bangun, Uda nggak ada disamping. ya, denai kuatir jangan-jangan Uda sudah balik ke Gorontalo. denai kan nggak mau ditinggal." kilah Marissa dengan manja.
"Aaa... kamu itu." omel Haanish dengan senyum. "Masih bau ranjang, tahu! mandi sana!"
Marissa langsung mengerling sinis. "Eh, denai bau ranjang gara-gara Uda ya?! mau lepas tanggung jawab ya?!" tukasnya dengan ketus.
Haanish terkekeh. "Cieeeheheh... lepas tanggung jawab? memangnya aku apaan nanti dituduh seperti itu? baru sehari jadian suami-istri sudah berani nuduh aku begitu?"
Marissa langsung menyengir memamerkan barisan giginya yang bagai biji ketimun. "Nggak kok Uda. Issha kan sayang sama Uda. apakah semalam bukan bukti kecintaan denai sama Uda?" tangkis Marissa membuat wajah Haanish langsung merah sedang Inayah langsung mengibas-ngibaskan tangannya.
"Aduh... pembicaraan dua puluh tahun ke atas nih... sudah, sudah... pergi kalian sana." usir Inayah sambil tertawa.
Marissa mencium pipi wanita parobaya tersebut lalu menggamit lengan Haanish. "Ayo Uda, kita kekamar lagi." ajaknya.
"Ngapain di kamar? ini sudah pagi lho." tangkis Haanish.
"Nggak mau. pokoknya, selama tiga hari kita berdua harus peram dalam kamar. denai mau cepat-cepat hamil supaya punya anak dan Uda nggak bisa lari lagi dari tanggung jawab." tangkis Marissa.
__ADS_1
Haanish hanya tertawa sambil diseret keluar Marissa dari kamar. Inayah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
dasar pasangan lebay...
...******...
Haidar sudah kembali bersama rombongan Buana Asparaga kembali ke Gorontalo menggunakan jet perusahaan. kendaraan udara itu menempuh jarak hanya dalam waktu dua jam saja dan mereka mendarat diatas gedung kantor Buana Asparaga Tbk.
satu persatu turun Haidar, Salman, Callista, Dewinta Basumbul dan Cornel Waroka. mereka kemudian menuruni gedung menggunakan lift khusus, tiba dilantai satu kantor dan Salman minta ijin meninggalkan tempat itu kembali ke kesatuannya.
"Titip anak saya, Callista, ya nak Salman." pinta Dewinta.
"Baik Bu." jawab Salman dengan santun.
"Pertemuan dengan ayah-ibumu adalah hal yang menggembirakan saya." ujar Cornel. "Kedepan, silaturrahim ini harus makin ditingkatkan. semoga kita akan menjadi keluarga kelak."
"Insya Allah Pak, semoga Allah menetapkannya demikian." ujar Salman kemudian ijin pamit. Callista mencium tangan ayah dan ibunya lalu melangkah mengikuti Salman yang bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Dewinta menatap suaminya. "Sayang, aku ke ruanganku dulu ya?" ujarnya.
Cornel mengangguk. Dewinta melangkah meninggalkan kedua lelaki itu. Haidar menatap Cornel yang mengekori punggung istrinya.
"Om... ke ruangan saya yuk." ajak Haidar. "Suntuk saya sehari ini agaknya."
"Asal ada playstation saja." goda Cornel.
Haidar tertawa. "Tenang... untuk Om, sengaja saya membeli satu set PC lagi yang isinya permainan playstation. atau ayo kita main game online saja, sambil ngobrol. bisakah?" usul Haidar.
"Ide bagus tuh! ayo!" ajak Cornel dan keduanya langsung beranjak meninggalkan tempat itu.
...*******...
sementara Haanish tetap saja diperam oleh Marissa. seharian ini mereka melakukan prosesi reproduksi seperti keinginan Marissa. tiga hari tiga malam penuh! sekali perempuan itu menginginkan demikian, maka tak ada yang bisa melarang. kalau lapar, Marissa tinggal menelepon bagian dapur mengantarkan makanan kedalam kamar.
Marina telah kembali ke inggris, menumpang jet perusahaan sedangkan Marinka sudah aktif kembali menjalani tugas sebagai presdir Ark Industries.
kelimanya duduk dan Inayah mengutarakan pendapatnya. "Aku akan kembali besok. Mahreen akan kubawa. dia akan dirawat dikediamanku nanti."
"Apa kakak tak akan merasa berat? tanya Airina. "Kakak akan kerepotan. nantinya kakak tak bisa menjalankan tugas penuh sebagai seorang polisi."
"Itu resiko pekerjaan Yuki." jawab Inayah.
Akram mengangkat bahu. "Kalau itu mau kakak, kami juga tak bisa apa-apa selain mengikuti saja." Akram menatap Ikram. "Nanti saudaraku akan memberikan obat yang bagus untuk Mahreen."
"Syncope bisa terjadi pada siapa saja." ujar Ikram. "Tekanan darah Mahreen mendadak menurun drastis hingga menyebabkan hilangnya pasokan darah ke otak. itu mengganggu kerja kelistrikan didalam sarafnya. untungnya tak memicu aritmia. ia mengalami hipotensi ortostatik akibat stres emosional yang intens."
"Jadi, menurutmu dia nggak akan bisa bangun?" pancing Inayah.
Ikram menggeleng. "Tidak juga. itu tergantung pada dirinya. anak ini, jika memiliki kekuatan hidup yang kuat, ia akan sadar dari syncope yang dideritanya."
Inayah hanya bisa menghela napas panjang. "Ia tak punya sanak keluarga lagi di Rusia. keluarga Nurmagonegov yang mengasuhnya juga telah musnah dibantai oleh klan Dracna. satu-satunya keluarganya.... hanyalah aku."
"Jangan bilang kalau Mahreen..." tebak Airina dengan hati yang berdebar.
"Dia putri Sandiaga dengan wanita Rusia bernama Ivanka Korkov." jawab Inayah pelan, takut terdengar oleh Mahreen.
__ADS_1
Airina terhenyak dan mengencangkan rahangnya. "Dasar pejantan..." gerutunya.
"Yuki, dia itu kakakmu. jangan bicara seperti itu." tegur Inayah. Airina melengos dan membuang napasnya lalu menatap Inayah.
"Kak. aku rela-rela saja melihat kakakku menikahi Rosemary. anaknya sekarang adalah menantuku. aku terima takdir ini. tapi... mengapa muncul lagi masalah seperti ini?!" omel Airina dengan lirih. "Kakak tak merasa terluka?"
"Semua wanita akan terluka jika di duakan, apalagi ditigakan." jawab Inayah. "Tapi aku sekarang berupaya mengikhlaskannya. bagaimana pun aku menyangkal, kebenaran tidak akan berpaling dari mereka. selain Haidar, aku memiliki putra dan putri bernama Haanish dan Mahreen."
semuanya terdiam. Ikram akhirnya menghela napas. "Aku akan meramu obat khusus untuknya. obat ini akan meningkatkan daya tahan tubuhnya dan menenangkan perasaannya. semacam analgesik. seperti itulah."
"Kapan kau buatkan? besok aku akan berangkat bersama Mahreen." tanya Inayah dengan sangsi.
Ikram tersenyum menatap Hayati. ia kemudian menatap Inayah. "Kakak tenang saja. sehari bisa kubuat obat itu. untuk sementara aku membuatnya untuk takaran dua minggu. lalu kita lihat perkembangannya seperti apa. kalau kondisinya, pemberian obatnya langsung dihentikan."
Inayah mengangguk. "Aku serahkan kepadamu saja."
Akram terkekeh. "Kakak tak lihat perangai dua pengantin baru itu? seharian terus mendekam terus mereka dikamar. apa tak lelah?" ujarnya disambut tawa Ikram. Hayati dan Airina hanya tersipu dan tersenyum saja. Inayah terkekeh.
"Tadi Marissa bilang sama Haanish. mereka berdua harus mendekam selama tiga hari, tak boleh keluar. Marissa katanya ingin cepat hamil dan beranak supaya Haanish nggak akan lari dari tanggung jawabnya." tutur Inayah.
Akram terhenyak. "Astaga... sebar-bar itukah anak bontotku?" serunya menatap Airina yang juga makin tersipu. "Sayangku. kelihatannya Issha mewarisi keugal-ugalan kita berdua."
"Hush..." itu saja yang keluar dari mulut Airina yang kemudian memukul lengan suaminya dengan tersipu pula.
"Iya ya? kalau dipikir, Marina dan Marinka nggak seberani itu. ah, memang kalau anak bungsu itu selalu terus terang. apa adanya." komentar Ikram.
"Biarkan saja mereka mendekam. mau sepuluh hari kek, seratus hari kek, atau seribu hari kek, itu urusan mereka." komentar Airina. "Yang penting kita sudah memenuhi tanggung jawab, menikahkan anak perempuan kita." Airina menatap Akram. "Hubby, kelihatannya lelaki dari Rusia itu tertarik pada Marina."
"Oh ya? kok kau kepo sekali ya?" sindir Akram setengah menggoda.
"Kalau urusan anak-anak, aku pasti karlota, Hubby." ujar Airina. "Bagaimanapun kita tak boleh salah memilih jodoh. kita harus tahu benar siapa laki-laki yang meminati anak perempuan kita."
"Kalau itu, aku setuju denganmu." Akram mengurut dagunya. "Bagaimana cara menyelidikinya?"
"Kurasa, aku harus menyuruh Haanish lagi untuk memata-matai lelaki itu." ujar Airina.
Inayah tersenyum. "Kalau Haanish bersedia." tangkis Inayah. "Karena pasti, ia nggak akan berkutik dihadapan Issha. anak itu tipe suami takut istri, kayaknya. kayak wajah macan yang ditunggangi burung merak dalam kesenian reog."
"Ah, kurasa nggak akan begitu, Kak." tangkis Airina lagi. "Anakku yang sangat bucin padanya. kakak bayangkan? kedatangan Haanish pertama kali, anak itu langsung nyelonong masuk tanpa bertanya hanya karena penasaran dan ingin melihat secara langsung, siapa pemuda bernama Haanish itu."
"Kok bisa begitu ya?" tanya Inayah.
"Sedari kecil, Marina selalu bercerita tentang kisah pertempuran Haidar dan Haanish dalam mengalahkan gerombolan pengacau yang menyerang kediaman Lasantu waktu itu." kenang Airina. "Yang paling antusias mendengar kisah itu adalah Issha. kalau Inka tak terlalu serius mendengarkan kisah yang diceritakan kakaknya sebelum tidur."
"Teruskan." pinta Inayah dengan penuh minat.
"Bahkan, anak itu pernah sesumbar dihadapan kakaknya. aku mendengarnya sendiri. ia ingin melihat pemuda bernama Haanish itu sebab terpesona akan cerita Marina yang mana Haanish, berbekal sepuluh batang pedang kayu, ia mengalahkan berpuluh orang pengacau itu." tutur Airina.
"Apa dia tak begitu tertarik mendengar kisah tentang Haidar yang mengumandangkan Jurus Bahana penggetar Jiwa yang merontokkan semangat para pengacau itu?" pancing Inayah.
"Pernah sih, tapi dia tahu kalau Haidar itu menyukai kakaknya. Issha tidak suka merebut milik orang lain. tapi jika itu miliknya, ia akan memperjuangkannya seperti seorang yang mempertahankan benteng." jawab Airina.
"Apakah Marina masih menyimpan perasaan kepada Haidar?" pancing Inayah lagi.
"Aku nggak tahu kak. semenjak itu ia selalu menutupi perasaannya dihadapan kami." jawab Airina. "Tapi, aku berharap Marina akan menemukan jodoh yang baik untuk dirinya. akupun berdoa, Haidar akan menemukan jodoh yang paling baik untuknya."
__ADS_1
"Semoga saja begitu." ujar Inayah dengan pendek.
mereka tenggelam lagi dalam diamnya.[]