
keputusan yang diambil Haidar membuat Inayah dan Haanish tercengang. Haidar menatapi ibunya dan Haanish bergantian.
"Bagaimana menurut Mama?" tanya Haidar.
Inayah memperbaiki dulu gejolak darahnya yang menggelegak. ia sadar pada akhirnya bahwa Haidar belum mengetahui kebenaran yang paling benar itu. Haanish hanya bisa berdiri tegak mengencangkan kedua kepalannya yang gemetar. Marissa sudah bisa membaca gelagat, akan segera terjadi badai besar yang akan melanda keluarga ini.
"Bagaimana Mama? apakah Mama setuju?" tanya Haidar dengan lembut.
Inayah menarik napas panjang. "Mama senang, kau telah memutuskan untuk membuat pilihan berumah tangga." Inayaj kemudian menatap Haidar dengan datar. "Mama akan mendukung segala keputusanmu, nak. tapi bukan perkara menikahi Mahreen." tandas Inayah.
"Mama..." ujar Haidar dengan kecewa. "Bukankah perhatian Mama selama ini kepada Mahreen bagaikan perhatian seorang ibu kepada anaknya? apakah Mama tak berniat menjadikan Mahreen menjadi benar-benar anak Mama?" tanya Haidar dengan gemetar.
Inayah sejenak menatap Haanish lalu kembali menatap Haidar. "Nak, ada kebenaran tersembunyi dibalik identitas Mahreen... Haanish menemukan hal itu di Rusia."
"Ya, tentang Miriam, saudarinya yang tewas disiksa Nikolai Basarab dibenteng Naryn Kala." tukas Haidar sejenak menatap Haanish. "Bukankah kalian sudah membeberkannya kepadaku?"
"Ya... tapi ada yang harus kau ketahui." ujar Inayah.
Haidar mendengus. "Baiklah! ini yang kutunggu sejak lama. kalian berdua bertindak tanpa sepengetahuanku, dan kalian telah menemukan informasi yang berharga, namun menyembunyikan hal itu kepadaku." Haidar bangkit dan melangkah mendekati Haanish. "Kau tahu? kau ingin tahu apa kapasitasmu dihadapanku?" Haidar menudingkan jarinya dan menekan dada Haanish dengan telunjuknya. "Kau! kau pembohong paling kejam yang pernah ku kenal."
"Aku hanya terikat sumpah dengan Mama untuk tak memberitahukan kebenaran itu, Chouji! Mama bilang, beliau sendiri yang akan membeberkannya kepadamu dan aku menghormati keputusan beliau!" tangkis Haanish tak kalah garang memamerkan senyum buasnya, efek dari kelainan patologisnya. "Nah, sekarang Mama akan menjabarkan kebenaran itu padamu. dengarkan baik-baik!"
Haidar berbalik menatap ibunya. Inayah sejenak menarik napas, kemudian menghembuskannya.
"Bismillahirrahmanirrahim.... Haidar, anakku. dengarkan dan camkan baik-baik berita ini dalam benakmu. Mama tak akan mengulanginya untuk yang kedua kali." ujar Inayah dengan datar penuh perbawa. ia duduk tegak di sofa itu. tatapannya terhujam penuh kepada Haidar dan lelaki itu dapat dengan jelas melihat kedua mata ibunya mengaktifkan aura karasu tengu.
"Keluarga Nurmagonegov... bukanlah keluarga Mahreen yang sebenarnya. anak itu dipungut Jabir Nurmagonegov atas permintaan ibu kandungnya, Ivanka Korkov, demi menyelamatkan Mahreen dari incaran klan Dracna yang akan menculiknya sebagai ancaman agar Ivanka membocorkan keberadaan darah dewa. ayahmu, menyembunyikan darah dewa dalam sebilah pedang bersejarah yang dibuatnya menjadi dua bilah atas bantuan Akram. dua bilah senjata itu adalah Golok Ailesh yang diwariskannya kepadamu, dan dari situ kau menemukan sebagian darah dewa tersebut. senjata lainnya adalah pedang Rinjai yang disimpan oleh Bibimu, Yuki sebagai pusaka keluarga Williams." tutur Inayah.
"Wah, Mama... aku tak menyangka." sela Marissa dengan takjub. "Selama ini aku berpikir, itu hanya sebuah artefak biasa milik keluargaku.... ternyata..."
"Ya, itulah kebenarannya." ujar Inayah menatap Marissa sejenak lalu kembali menatap Haidar. "Ivanka Korkov adalah satu-satunya wanita yang mengetahui bahwa darah dewa berada ditangan ayahmu. setelah menitipkan putrinya kepada keluarga Nurmagonegov, Ivanka Korkov bersama Aleksey Dragunov dan Andrey Lukin ditangkap Sergey Basarab dan dipaksa memberitahukan letak keberadaan darah dewa. mereka bertiga dibunuh dan Sergey Basarab menemukan lokasi keberadaan ayahmu. itulah sebabnya dalam perhelatan aqiqah Marinka Williams, mereka datang mengacaukan pesta, membunuh kedua kakek-nenekmu... kalian berdua mengalahkan kelompok itu dan ayahmu menantang Sergey di benteng poenari dan membunuhnya disana."
Haidar terhenyak mengetahui kisah itu. "Apakah Mama sudah bisa menerka sebelumnya?"
Inayah mengangguk. "Sejak kedatangan Mahreen kemari dan memperkenalkan dirinya, Mama sudah curiga dan Mama langsung memintanya tinggal disini. semuanya sebenarnya adalah wasiat terakhir Papamu. dia berpesan jika ada seorang wanita bernama Mahreen Nurmagonegov datang kepada Mama, maka Mama harus menerimanya tinggal dirumah kita dan menganggapnya sebagai putri Mama. begitulah pesan terakhir almarhum Papamu." jawab wanita parobaya itu.
"Berarti, Papa sangat mengenal siapa Mahreen dan ibunya!" tebak Haidar.
Inayah lagi-lagi mengangguk. "Sangat kenal." jawabnya. "Mahreen adalah nama yang diberikan Jabir Nurmagonegov untuk menyamarkan identitas anak itu yang sesungguhnya. nama asli Mahreen adalah Julia Fedora Bushra... anak itu adalah anak hasil pernikahan Ivanka Korkov dengan.... Papamu!" jawabnya.
jawaban yang kedua kali ini bagai gelegar halilintar yang menyambar kepala Haidar. seakan bersinergi dengan keterkejutan lelaki itu, diluaran juga terdengar suara ledakan halilintar dan cuaca berubah menjadi mendung. tak lama kemudian hujan deras bercampur angin ribut mulai menerpa kota Gorontalo.
"M-mama.... i-itu... t-t-tak benar... k-k-kan?" sangkal Haidar dengan gagap.
"Itulah kebenarannya, Chouji! Mahreen... sebenarnya adalah adik bungsu kalian... dari ibu yang berbeda..." jawab Inayah.
__ADS_1
mendadak Haidar lunglai. ia nyaris pingsan kalau saja Haanish tak bergerak cepat menyangga tubuh lelaki itu. Haidar gemetar. kebenaran itu membuatnya syok bukan main. bagaimana nantinya dengan Mahreen? ia pasti bertambah syok karena itu adalah keguncangan besar kedua baginya.
Haidar menatap Haanish. matanya berkaca-kaca. "Eiji... katakan... itu... nggak... benar.... kan?" ujarnya dengan lirih.
"Kak, apapun akan kulakukan untukmu meskipun aku harus membohongi dunia dan memutar balikkan kisah sejarah..." sedu Haanish. "Tapi... inilah kebenarannya, Kak... itulah kebenarannya.... maafkan aku..." ujarnya memeluk Haidar dan tersedu-sedu.
"Tapi aku telah.... kami telah...." ujarnya tertahan-tahan dan akhirnya Haidar meraung keras.
AAAAAAAARRRRRRRGGGGGHHHHHH..... PAPAAAAAA....
seketika lelaki itu berbalik dan berlari meninggalkan ruangan itu. Inayah terkejut. begitu juga dengan Haanish. sementara dikamar Mahreen, raungan Haidar berhasil menarik gadis itu dari kondisi tanpa sadarnya. gadis itu terbangun diiringi pekikan kekagetan dua suster tersebut.
Mahreen sejenak menatap suster-suster itu lalu kabel infus dan peralatan detektor jantung yang melekat dilengannya. gadis itu mencabutnya semua dan bagai mendapat suntikan energi baru, gadis itu turun dari ranjang dan berlari keluar dari kamar.
ia berjalan terseok-seok menyusuri lantai dua dan turun ke lantai satu mendapati Inayah beserta Haanish dan Marissa disana.
"Mama... itu tadi... Kak Haidar... kan?" seru Mahreen dengan lemah.
Inayah terkejut mendapati keberadaan anak itu. bergegas ia bangkit dan menggapai gadis itu. "Anakku... bagaimana kau bisa sadar?" ujarnya dengan cemas.
Mahreen tak perduli. ia hanya menatap pintu. "Mama... bukankah tadi itu.... Kak Haidar?"
Inayah mengangguk-angguk. "Ya... itu tadi Haidar... dia datang menjengukmu tadi." ujar Inayah menenangkan gadis itu meski akhirnya wanita parobaya tersebut berlinangan air mata.
"Mama... aku akan menyusul Chouji!" seru Haanish kemudian berlari menuju pintu.
Inayah tanpa sungkan lagi memeluk gadis itu dan menangis."Ya Allah.... terima kasih, Engkau telah membangunkan putriku dari pingsannya.... ohhh.... anakku..."
"Mama..." Mahreen melepas pelukan Inayah. "Mengapa Mama menangis? apakah Mama bersedih?"
"Mama bahagia... sekaligus berduka, nak...." jawab Inayah.
"Apa berita gembira... dan berita dukanya, Mama?" tanya Mahreen dengan penasaran.
"Sebuah berita baik, tapi dua berita kurang baik..." jawab Inayah. "Tapi.... biarkan Mama betgembira dulu dengan keberadaanmu yang telah sadar nak. bisakah?" pinta wanita parobaya tersebut dengan lirih.
Mahreen akhirnya hanya tersenyum dan mengangguk lalu memeluk kembali Inayah. wanita parobaya itu melampiaskan emosinya tersedu-sedu dalam memeluk Mahreen. gadis itu sendiri kemudian menatap Marissa yang hanya menatapnya dengan datar.
...*******...
suasana masih badai. di pekuburan Keluarga Ali. nampak seorang lelaki melangkah tertatih-tatih menggenggam sebilah golok dan mendekati sebatang pohon flamboyan. ditengah guyuran hujan keras diselingi cahaya percikan kilat dan gelegar guntur, lelaki itu yang tak lain adalah Haidar Ali berseru dengan pengerahan penuh jurus Bahana Penggetar Sukma.
"PAPAAAAAA..... SELAMA INI AKU MENGHORMATIMU SEBAGAI SURI TAULADANKU.... SELAMA HIDUPKU, AKU MENJUNJUNG SETIAP PETUAHMU... SEBAGAI RASA BAKTIKU... TAPI SEKARANG! NYATA BAGIKU.... KAU HANYA PEMBOHONG BESAR! KAU PENDUSTA CINTA! KAU PEJANTAN AMORAL! KAU MELUKAI MAMA! SELAMA INI... KUPIKIR HANYA EIJI SATU-SATUNYA KELUARGAKU DARI ISTRIMU YANG LAIN... NAMUN NYATANYA DILUARAN.... KAU MENUMPAHKAN BENIH LAGI KEPADA SEORANG WANITA.... MENGAPA HARUS MAHREEN, PAPAAAA...MENGAPA HARUS MAHREEENNNN????" Haidar berseru penuh kemarahan. ia mengacungkan goloknya kearah batang pohon Flamboyan itu.
"KAU TAHU?! AKU MENCINTAINYA! AKU JATUH CINTA PADA ADIKKU SENDIRI! AKU JATUH CINTA PADA DARAH DAGINGKU SENDIRI!!! ITU SEMUA SALAHMU, PAPAAA... SALAHMU PAPAAA... SEKARANG LIHATLAH! AKU AKAN MENUMBANGKANMU DENGAN GOLOK PEMBERIANMU SENDIRI... MAMPUSLAH KAU! MEMBUSUKLAH KAU DI NERAKA!!! AKU MEMBENCIMU!"
__ADS_1
Haidar maju melesat mengayunkan goloknya hendak menebang pohon flamboyan itu. namun disaat yang sama saat golok itu nyaris menyentuh batang pohon itu, tiba-tiba tubuh Haidar dihantam oleh Haanish yang memeluknya. keduanya jatuh bergulingan dan Haanish berdiri menjauh dua meter dihadapan Haidar.
"Chouji! jangan gila kau! kau mau merobohkan pusara Papa?! sudah bertukarkah pikiranmu?! sadarlah Chouji! beristighfarlah!" seru Haanish dengan sikap berdiri siaga dengan sikap hangetsu dachi namun kedua tangannya terpantang kebawah.
Haidar menatap Haanish. "AKU TAK PERLU BERISTIGHFAR DEMI SEORANG LELAKI BEJAT SEPERTINYA!" seru Haidar mengarahkan Golok Ailesh kearah pohon flamboyan itu. "AKU JADI BEGINI, GARA-GARA DIA! PEJANTAN AMORAL ITU TAK LAYAK MENDAPATKAN PENGHORMATAN DARIKU!"
"Sebagaimanapun... dia tetap Papa kita, Chouji! dia sudah beristirahat! jangan ganggu Papa dengan tingkah konyolmu itu!" seru Haanish lagi.
Haidar mengarahkan Golok Ailesh ke arah Haanish. "KAU JUGA SAMA DENGANNYA! KAU PENDUSTA, PEMBOHONG, TEGA KAU MENYEMBUNYIKAN FAKTA ITU DARIKU! KAU SUDAH MENGETAHUI... AKU DAN MAHREEN TELAH MELAKUKAN PERSEBADANAN... MENGAPA KAU TAK MEMBEBERKAN SAJA KEBENARANNYA PADA SAAT ITU?! MENGAPA EIJI?!" todong Haidar.
"Karena hati orang yang dimabuk cinta dan birahi akan sulit menerima kebenaran, Chouji!" tandas Haanish. "Aku hanya bisa mewanti-wanti kamu untuk tak menyentuh Mahreen lagi. hanya sebatas itu yang bisa kulakukan sebab aku terikat sumpah oleh Mama. hanya beliau yang akan memberitahukan semuanya padamu!" tangkis Haanish.
"TAPI KAU MELUPAKAN BAKTIMU PADAKU... EIJI! KAU TAHU, AKU ADALAH CALON KEPALA KELUARGA LASANTU!" tuntut Haidar.
"Maka bersikaplah sebagai seorang toryo sejati Chiuji!" balas Haanish. "Akui kesalahanmu! dan maafkan segala kesalahan Papa dan Mama yang baru saat ini bisa memberitahukannya kepadamu! bukan hanya mereka yang menyayangimu Chouji, aku juga! itulah sebabnya aku sekeras itu kepadamu!"
lelaki itu mendekati Haidar yang masih diam diamuk amarah. Haanish kembali membujuknya.
"Perkara kau telah menyebadaninya, itu disebabkan ketidak tahuanmu! biarlah itu menjadi aibmu untuk berintropeksi diri! Allah Maha Tahu dan Maha Mengerti... kau hanya terjebak dalam lingkaran yang kau tak pahami!" ujar Haanish lagi.
"KENAPA ALLAH MEMBERIKU UJIAN SEPERTI INI?! AKU JATUH SUDAH CUKUP MERELAKAN MARINA! SEKARANG, MENGAPA AKU TERJATUH KE LEMBAH YANG SAMA?! MANA KEADILANMU YA ALLAAAAHHH?????" seru Haidar mengembangkan tangannya menatap angkasa yang masih mendung memuntahkan butiran air hujan yang masih deras mengguyuri tempat itu.
"Jangan salahkan Allah atas kesalahanmu, Chouji! kau yang menjebak dirimu sendiri dalam permainan cinta terlarang itu. sekarang sadar dan kembalilah ke jalan yang benar." seru Haanish.
Haidar masih juga belum bisa menerima kenyataan itu. seketika ia meraung keras dan mengembangkan tangan. terjadi perubahan pada fisiknya yang membuat Haanish terkejut.
permukaan kulit Haidar yang putih itu perlahan menghitam dan kedua matanya berubah mirip mata kucing. sepasang taring mencuat muncul dari kedua sudut bibirnya. tubuh Haidar makin lama membesar dan makin kekar, membuat pakaiannya seketika robek, menyisakan sebuah celana rombeng yang melekat dibagian bawah lelaki itu.
"Sudah kuduga! makhluk itu adalah kau!" pekik Haanish.
"AAARRRRGGGGHHHH... AKU TAK BISA MENGENDALIKAN LAGI PELEPASAN EMOSI INI..." seru Haidar lalu menatap Haanish. "KAU...HARUS MAMPUUUUUUSSSSSS....."
seketika Haidar melesat menuju Haanish. lelaki itu terkejuy tapi tak panik sebab ia telah memperkirakan segalanya. Haanish menyambut serangan itu.
Haidar mengayunkan golok kesegala sudut mengincar titik maut ditubuh Haanish. lelaki itu tak mau kalah. ia mengaktifkan armor Ark01-Narsys sebagian, hanya untuk memunculkan wujud Si Penebas Angin dalam genggamannya.
berbekal pedang warisan keluarga Mochizuki itu, Haanish menangkis segala serangan yang diarahkan kakaknya dengan gencar. lelaki itu tidak berniat mengaktifkan armor Ark01-Narsys sepenuhnya karena hal itu bisa menghasut Haidar yang akan menganggapnya memancing pertarungan.
Haanish sangat menyayangi Haidar. ia sangat hormat kepada kakaknya itu, meski bukan dari rahim yang sama, Haanish selalu bertekad mempersembahkan pengabdian terbaiknya untuk Haidar sebagai bukti bahwa ia adalah seorang keluarga Lasantu yang setia.
Haanish hanya menggunakan Si Penebas Angin untuk menangkis serangan, bukan berbalik menyerang. ia mempelajari gerakan kakaknya dan berhasil menemukan celah. keteledoran Haidar yang diamuk amarah memberikan keuntungan dirinya.
berbekal teknik ippon nukite tsuki, Haanish menotok bebetapa titik ditubuh Haidar, membuat lelaki itu mengalami kekacauan metabolisme. tubuhnya yang semula berada dalam mode monster perlahan menyusut kembali ke tubuhnya semula.
Haidar roboh dan jatuh pingsan. golok terlepas dari tangannya. Haanish menonaktifkan armor Ark01-Narsys sehingga wujud Si Penebas Angin juga ikut menghilang. lelaki itu mendekati Haidar lalu memapahnya sambil menenteng senjata lelaki itu.
__ADS_1
"Mari kita pulang kak....Aisyah sudah menantimu dengan cemas." ujar Haanish pelan terus memapah Haidar yang setengah pingsan melangkah meninggalkan kompleks pekuburan keluarga Ali.[]