The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 29


__ADS_3

Kakek itu kembali tertawa. "Kau bisa apa menghadapi dua puluh orang yang mengepungmu?!" kakek itu kemudian menatap mereka. "Tunggu apa lagi?! bunuh lelaki ini?"


seketika menghamburlah kedua puluh pria bersenjata pisau itu. seketika Haanish menghunus Si Penebas Angin.


SRIIINGGGG.... JLEBBB... JLEB!!!


Haanish menghujamkan ujung pedang ke titik poin 'T' diwajah musuhnya yang jatuh terduduk akibat stun tadi. pria itu tewas tanpa suara, hanya sentakan kaget ketika bilah Si Penebas Angin menembusi titik diantara hidung dan pelipis pria itu.


Haanish mencabut pedang itu lalu mengibaskan ke arah musuh-musuhnya. dalam waktu sekejap terjadilah pertarungan tak seimbang.


...*****...


Haidar mempersilahkan Aisyah untuk keluar sekedar merehatkan dirinya bersama putrinya. Haidar memberikan salah satu dari kartu kredit miliknya kepada Aisyah.


"Berbelanjalah.... berikan yang terenak untuk Aya Sofia." ujar Haidar kemudian tersenyum menatap Aya Sofia lalu mengucak-ngucak rambutnya. "Aku tak ingin kalian merasa tertekan disini."


Aisyah menerima kartu itu dengan ragu. satu dorongan paksa dari jemari Haidar menjejalkan kartu itu ke telapak tangannya membuat wanita itu menyerah dan menyimpannya dalam dompetnya. wanita itu menatap Haidar dan memicingkan mata.


"Ini bukan termasuk dalam pengembalian hutang, ya?" tuntutnya.


Haidar menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendecak, "Ck ck ck... kau ini terlalu suudzon sama saya. sesekali berprasangka baiklah sama orang." tegurnya.


Aisyah menarik napas dan menegakkan kepalanya. "Baiklah. kalau begitu aku permisi dulu." ujarnya pamit sambil menggandeng Aya Sofia.


"Aya permisi dulu Om..." sahut Aya Sofia lagi sambil melambai. Haidar tersenyum kemudian balas melambai.


"Bersenang-senanglah..." ujar Haidar kepada Aya Sofia. pemuda itu kemudian menatap Aisyah, "Jangan lupa, balik lagi kemari." pesannya.


"Ya, memang kemana lagi aku dan putriku pulang?!" gerutu jilbaber itu kemudian menarik tangan putrinya menjauh meninggalkan kediaman tersebut.


Haidar memandangi dua orang itu yang kemudian saling berboncengan pada otoped bekas itu. Haidar menghela napas lagi. ia mengambil gawainya dan menghubungi seseorang. tak lama kemudian pada layar gawai muncul wajah seorang pria.


📲 "Dengan Galaxy Cycle Gorontalo, Roy Husain disini." sambut pria itu, "Ada yang bisa dibantu Pak?"


📲 "Saya pesan Elecycle 071. satu unit, lengkap dengan bak boncengannya ya?" pesan Haidar. "Saya transfer hari ini biayanya sekaligus ongkirnya. tolong dikirim nomor rekeningnya ya?"


📲 "Oh, baik pak." ujar Roy Husain dengan sigap.


pembicaraan seluler itu kemudian berakhir. tak lama kemudian pihak toko mengirimkan brosur penjualan beserta nomor rekening untuk melakukan transaksi. Haidar kemudian melakukan transaksi secara online melalui aplikasi. tak lama kemudian transaksi selesai. Haidar menyimpan kembali gawai tersebut kemudian kembali masuk kedalam rumah.


hari ini hanya dia sendirian didalam kediaman itu. Haidar tak menyia-nyiakan waktu. pemuda itu melangkah setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya. sesampainya disana ia membuka lemari dan mengeluarkan Golok Ailesh kemudian kembali ke lantai bawah menuju dojo.


pemuda itu menggeser pintu shoji dan masuk ke dalam ruangan penempaan tubuh dan jiwa itu. ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana training putih. setelah melakukan pemanasan, Haidar mulai melatih berbagai jurus dengan menggunakan golok itu. selama sejam ia tenggelam dalam aktifitas itu hingga akhirnya ia menyelesaikan satu gerakan terakhir dari jurus tersebut.



Haidar mengatur napasnya yang memburu. namun ia merasakan keanehan. golok itu bergetar, makin lama makin terasa. Haidar melepaskannya. benda itu jatuh di matras. tak lama kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi.


gagang golok itu membuka. mata Haidar melebar melihat sebuah ceruk pipih dalam gagang itu. didalam ceruk itu nampak sebuah alat injeksi yang berisi sebuah cairan merah kehitaman. Haidar mendekat dan mengulurkan jemarinya mencungkil ceruk itu, mengeluarkan alat injeksi tersebut. disana juga ada sepucuk surat dari kertas tipis.


Haidar membuka surat itu dan membacanya.


*Kepada putraku Haidar.


jika kau menemukan alat injeksi dalam gagang pedang, maka kuberitahukan kepadamu. sesungguhnya, itulah darah dewa yang dikejar-kejar oleh Klan Dracna yang telah membuat kekacauan dipesta aqiqah sepupumu dan membunuh kedua kakek nenekmu.


darah dewa adalah artefak istimewa. maka jagalah dengan darahmu. semoga Allah menyertaimu selalu...

__ADS_1


^^^dari ayahmu.^^^


^^^Sandiaga*^^^


Haidar terkejut. inilah darah dewa yang selalu diungkit dalam pembicaraan antara ayahnya dan dua paman kembarnya itu dilaboratorium. sang ayah menyuruhnya untuk menjaga benda itu dengan darahnya.


apakah maksud Papa supaya aku menyuntikkan cairan ini kedalam tubuhku?


Haidar menatap alat injeksi kecil dalam jepitan kedua jarinya. pemuda itu kemudian menutup gagang golok dan kembali mengamati cairan dalam alat injeksi itu.


apakah Papa memang ingin aku menyuntikkan cairan ini kedalam darahku?


hatinya benar-benar tergelitik dengan bahasa surat itu. Haidar kembali menatap alat injeksi itu dan memantapkan hatinya.


baiklah. aku akan menyuntikkannya...


Haidar mendekatkan alat injeksi itu ke lengan kirinya dan kemudian menusukkannya. alis pemuda itu mengerut menahan rasa perih sesaat yang menyengat saat jarum disuntikkan. setelah itu, dengan perlahan Haidar menekan tuas injeksi dan beberapa detik kemudian cairan merah kehitaman itu telah menyatu dalam tubuhnya, mengalir bersama darahnya.


pemuda itu bangkit dan melangkah dengan gontai keluar dari dojo. tak lupa ia meraih golok Ailesh dan menentengnya sambil membawa pula alat injeksi dan surat tersebut mendekati tempat sampah yang terletak disisi meja pantry.


Haidar kemudian meremas surat itu dan membawa alat injeksi tersebut, membuangnya ke tempat sampah. pemuda itu lalu melangkah santai menuju tangga. namun baru beberapa langkah ia menjejak...


deg... deg... deg...


Haidar kaget merasai tiba-tiba dadanya berdebar. makin lama debaran itu makin terasa dan tak beraturan. disusul kemudian rasa panas dari titik tantian di pusarnya perlahan menyebar ke seluruh tubuh. Haidar terhenyak dan dadanya terasa tersengat hawa panas.


dengan mata membeliak menyiratkan kesakitan luar biasa, Haidar jatuh ke lantai dan mengelepar sesaat sebelum akhirnya diam tak sadarkan diri.


...******...


Kedua puluh orang itu tak ada artinya bagi Haanish. ia membunuh mereka semua hanya dengan beberapa kali sabetan pedang. Si Penebas Angin benar-benar berpesta darah saat itu. bilahannya yang semula putih mengkilap menjadi penuh warna merah dari darah yang dikurasnya pada daging-daging musuhnya.


Kakek itu terjerembab dan mengaduh kesakitan. Haanish mengibaskan Si Penebas Angin melepaskan sisa darah yang menempel dibilahannya kemudian pedang itu disarungkan. pemuda itu kemudian melangkah santai sambil memunguti salah satu pisau milik musuh dan langsung mencengkeram tengkuk kakek itu.


"Kamu mau lari kemana?" tanya Haanish lalu melempar kakek itu hingga jatuh membentur meja.


kakek itu mengaduh kesakitan dan Haanish kembali mencengkeram tengkuknya. kakek itu dibawanya ke meja dan ditelungkupkan. keempat tungkainya diikat dengan ikat pinggang sehingga posisi kakek itu seperti orang memeluk permukaan meja itu.


"Sebelum kau mati. ada baiknya kau memberi beberapa informasi berharga untukku." ujar Haanish sambil meletakkan Si Penebas Angin di sisi tas Navy Club yang diletakkannya di salah satu sofa. sejenak Haanish melirik dua puluh mayat laki-laki yang tertebas dibeberapa bagian tubuhnya kemudian menatap lagi kakek itu.


"Katakan dimana Miriam Nurmagonegov, Kakek?" desak Haanish dengan kasar, "Kau anggota keluarga yang berkhianat. seharusnya mendapat lebih dari ini."


"Margaku bukan Nurmagonegov, tapi Bolsheviksky!" ujar kakek itu dengan ketus. "Lepaskan aku, atau kau akan merasakan pembalasan pedih dari klan Dracna!" ancamnya.


"Mereka boleh saja mendatangiku. aku sudah siap menyambut mereka." balas Haanish. "Tapi sebelum itu, aku ingin mengorek dimana keberadaan Miriam Nurmagonegov. katakanlah kakek, supaya aku akan memberikanmu kematian yang cepat, bukan kematian yang menyiksa."


"Lakukan saja semaumu! aku tak takut!" tantang kakek itu.


Haanish tertawa. penyakit patologisnya kambuh. pemuda itu mengangguk-angguk.


"Baik... bagiku, itu tak masalah." ujar Haanish tiba-tiba merobek punggung pakaian kakek itu hingga permukaan punggungnya terlihat.


kakek itu meronta dan Haanish menyumpalnya dengan secarik kain dari pakaian yang dirobeknya itu. Haanish tersenyum dan matanya berbinar. ia menatap kakek itu.


"Anda pernah mendengar siksaan darah elang??" pancing Haanish membuat kedua mata kakek itu membelalak dan dia menggeleng cepat sambil mengerang-ngerang.


Haanish tak perduli. ia mulai menyayat permukaan kulit di punggung kakek itu hingga sampai daerah pinggang. mata kakek itu kembali membelalak menyiratkan kesakitan. darah mulai mengalir membasahi meja. Haanish terus berkarya melakukan penyiksaan dengan menyayat dan memotong tipis permukaan kulit hingga daging dan akhirnya ia menarik potongan daging itu dengan pelan untuk memberi efek perih luar biasa.

__ADS_1


Kakek itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerang-ngerang sebab mulutnya tersumpal kain. matanya maram-melek menyiratkan betapa ia menderita dengan penyiksaan itu. kini nampaklah bagian dalam tubuh kakek itu. barisan tulang punggung dan rusuk.


Haanish dengan ekspresi santai mulai memisahkan pangkal-pangkal tulang rusuk dari batang tulang punggung tersebut. ia berupaya membuat korbannya masih dalam keadaan hidup dan sadar sehingga merasakan efek sakit yang mendera.


kini pemandangan mengerikan terpampang. Haanish membengkokkan tulang rusuk itu keluar hingga menyerupai pilah-pilah sayap elang. kepala kakek itu mulai terkulai dan matanya mulai meredup.


Haanish melepaskan sumpal pada mulut kakek itu dan bertanya, "Dimana kau sembunyikan Miriam Nurmagonegov, Kakek Bolsheviksky?"


mata redup kakek itu menatap Haanish dan mulutnya membuka pada akhirnya, menyebut sebuah tempat yang berupa situs bersejarah di Derbent, masih dalam wilayah Dagestan. setelah itu ia benar-benar melepaskan nyawanya.


Haanish melepaskan pisau dan menyeka kedua tangannya yang penuh darah dengan pakaian-pakaian mayat itu. setelahnya ia mengambil tas dan pedangnya kemudian melangkah meninggalkan kediaman itu. tujuan berikutnya adalah benteng Naryn-Kala.


...******...


Aisyah heran melihat sebuah kendaraan pengangkut barang berhenti didepan gerbang kediaman Lasantu. ia melajukan otopednya dan berhenti disisi kendaraan tersebut. seorang lelaki keluar dari halaman dalam dengan keadaan bingung. Aisyah mendekatinya.


"Ada apa pak?" tanya Aisyah.


"Ini bu. kami mengantarkan pesanan satu unit Elecycle seri 073 atas nama Haidar Ali Lasantu." jawab laki-laki itu kembali menatap kediaman yang terlihat sunyi. "Tapi kok saya gedor-gedor pintunya nggak terbuka. saya coba buka gagang pintunya juga nggak bisa terbuka." keluhnya.


"Bapak sejam kapan berada disini?" tanya Aisyah.


"Kayaknya satu jam saya disini." jawab laki-laki itu. "Saya bingung, mau ditaruh dimana benda ini? saya masih harua mengantar pesanan lain." keluhnya lagi.


"Saya tinggal disini kok. silahkan bendanya ditaruh saja dihalaman parkir." ujar Aisyah turun dan menyuruh Sofia menyambut barang berupa sebuah sepeda motor segala medan (ATV) lengkap dengan bak boncengan dibelakangnya. barang itu diturunkan dengan papan luncuran dan dibawa oleh laki-laki itu masuk kedalam pekarangan kediaman Lasantu.


Aisyah baru saja hendak masuk tapi langsung dicegat lelaki itu. jilbaber itu menautkan alisnya. "Ya, ada apa pak?"


"Ibu, benar-benar tinggal disini?" tanya laki-laki itu dengan ragu dan sangsi.


Aisyah menghela napas panjang. "Bapak nggak percaya?" tantangnya. laki-laki itu diam saja. Aisyah mengangguk ke arah pintu kediaman itu. "Bapak tahu kenapa pintu itu nggak bisa dibuka oleh Bapak?" pancingnya.


laki-laki itu diam. Aisyah menyambung lagi, "Kediaman ini dilengkapi sistim keamanan yang canggih. pintu itu menggunakan sistim fingerprint." Aisyah mengajak dengan isyarat agar laki-laki itu percaya bahwa ia tinggal dirumah itu. keduanya melangkah masuk ke beranda.


ssesampaiya didepan pintu, Aisyah memperlihatkan telunjuknya kepada laki-laki itu dan menekannya pada layar fingerprint. terdengar suara dari *robotic system program.


🔊"Assalamualaikum, Nyonya Aisyah Tilahungga. silahkan masuk*."


Aisyah menatap laki-laki itu dan mengankat alisnya. laki-laki itu tersenyum canggung dan mundur lalu pamit bergegas meninggalkan tempat itu. Aisyah menatap Aya Sofia yang masih menatap kendaraan segala medan itu.


"Sofi, ayo masuk." ajaknya.


Aya Sofia menoleh kearah ibunya dan berlari mendapatinya. dengan senyum ibu dan anak itu memasuki pintu yang membuka dengan sendirinya. namun baru selangkah Aisyah masuk, ia mendapati pemandangan mengerikan.


ASTAGFIRULLAH!!!!


Aisyah memekik panik melihat Haidar yang tergeletak tak sadarkan diri. disebelahnya menggeletak golok Ailesh. jilbaber itu berlari mendapati Haidar, disusul oleh Sofi.


"Om! bangun Om!" seru Sofi dengan panik. anak itu berlari dan duduk disisi Haidar lalu mengguncangkannya beberapa kali. "Om! bangun! Om!" serunya dengan panik.


Aisyah menenangkan dirinya dulu lalu mengulurkan tangannya menekankan telunjuk ke sisi leher pemuda itu, pada posisi nadinya. beberapa detik kemudian ia mendesah lega.


ia masih hidup, hanya pingsan... aku harus berbuat sesuatu...


Aisyah meraba saku pemuda itu dan menemukan gawainya. ia kemudian mengeluarkan gawai dari saku dan mengaktifkannya. ada beberapa nomor yang muncul. namun ia mencari nama yang dikenalnya saja. tak lama ia menemukan nomor Salman. jilbaber itu kemudian menghubungi opsir itu lewat video call.


tak lama layar menampilkan wajah Salman. Aisyah tak menunggu lama. ia langsung memekik.

__ADS_1


"PAK ATTAR! TOLONG! TOLONG! PAK HAIDAR PINGSAN! PAK HAIDAR PINGSAN, TOLONG PANGGIL BANTUAN! CEPAT!" []


__ADS_2