The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 17


__ADS_3

Marissa terbangun dalam kondisi polos dan hanya diselimuti selimut futon. diruangan itu hanya dirinyalah berada. perlahan wanita itu bangun dan mengucek-ucek matanya. tangan kanannya menarik selimut menutupi bagian dadanya sedang tangan kirinya menggapai pakaian yang berserakan disisi kasur hampar itu.


Marissa mengenakan pakaiannya lalu bangkit dan melipat selimut beserta kasur hampar itu. ia menyimpannya dalam lemari. wanita itu melangkah pelan menuju pintu. ia menggesernya.


didepan pintu itu berdiri seorang dayang berpakaian formal, langsung membungkuk dalam saat Marissa membuka pintu itu.


"Selamat pagi, Nyonya Hasegawa." sapa dayang itu kemudian menegakkan tubuhnya. ia mengucapkannya dalam bahasa inggris yang formal.


"Hai, selamat pagi juga." balas Marissa langsung mendekati dayang itu. "Bisa kamu tunjukkan dimana kamar mandi? saya sudah sangat gerah." balas Marissa juga menggunakan bahasa inggris. meskipun Marissa seorang polyglotis, namun ia tak mempelajari bahasa jepang.


"Silahkan ikuti saya, Nyonya." ajak dayang itu membungkuk lagi. setelah itu ia menegakkan tubuh dan berjalan mendahului Marissa yang kemudian mengikutinya. mereka menuruni tangga dan menyusuri lagi koridor panjang yang akhirnya membawa mereka ke sebuah ruangan luas. ditengah ruangan itu ada kolam besar dipenuhi air hangat yang mengepul uapnya.


beberapa dayang yang menjagai tempat itu kemudian mempersilahkan Marissa melepaskan pakaiannya.


"Semuanya?" tanya Marissa dengan canggung menatap dayang tersebut.


"Semuanya Nyonya. setelah itu anda akan mandi dilayani oleh mereka." jawab dayang tersebut.


"Tapi.... saya terbiasa mandi sendiri." kilah Marissa. "Bisakah saya mandi sendirian dan kalian semua menunggu diluar?"


dayang itu tersenyum. "Saya paham, anda belum terbiasa dengan kehidupan istana. tapi, sebagai istri seorang kepala keluarga Hasegawa dari Klan Nagato, anda harus dilayani sebagaimana istri seorang aristokrat."


"Tapi...." protes Marissa.


"Nyonya... bagaimanapun, Tuan Hasegawa adalah abdi istana kekaisaran. beliau adalah penjaga arsip negara. secara umum dalam pemerintahan negara, Tuanku Yoshiaki adalah seorang Sekretaris Negara. itulah mengapa keluarga Hasegawa sejak pemerintahan Reiwa diijinkan mendiami kastil Odawara yang dulunya dijadikan sebagai tempat wisata.... jepang memiliki 50 wilayah prefektur yang diperintah oleh seorang gubernur yang diangkat oleh Yang Terhormat Perdana Menteri. itu pun hanya jabatan publik biasa." ujar dayang itu.


"Baiklah, baiklah... aku nggak mau membantahmu lagi. tapi ijinkan aku melakukan prosesi mandi janabat." pinta Marissa.


"Mandi janabat?" gumam dayang tersebut dengan bingung.


"Iya, mandi janabat." ujar Marissa. "Dalam ajaran agama kami, mandi janabat dilakukan setelah dua sejoli melakukan persebadanan. itu adalah sarana membersihkan diri."


dayang itu mengangguk-angguk. "Baiklah Nyonya. silahkan melakukan prosesi mandi janabat. kami akan tetap menunggu disini."


Marissa memutar bola matanya. "Terserah kalian sajalah."


Marissa melepaskan pakaiannya tanpa sungkan lagi dan masuk ke dalam kolam hangat itu. ia kemudian membaca doa dan mulai melakukan prosesi mandi janabat, kemudian setelah itu berendam sambil membasahi kepalanya.


para dayang kemudian maju mendekati kolam. Marissa langsung menudingkan jemarinya.


"Stop berdiri disana!" sergah Marissa. "Berdiri saja dipinggir kolam. aku nggak mau kalian masuk. paham?!"


dayang itu menunduk dan tersenyum kemudian mengangguk-angguk. "Terserah anda saja, Nyonya." ujar dayang itu kemudian menatap beberapa dayang disisi kolam untuk berdiri saja.


sementara Marissa sudah begitu nyaman berendam. ia menyandarkan punggungnya pada salah satu dinding kolam.


"Aahhhhhhh.... mantap hari ini..." gumamnya kemudian mendesah panjang. Marissa menatap salah satu dayang. "Pijiti pundakku." pinta wanita itu.


dayang yang dipanggil itu mengangguk patuh lalu melangkah menuju sisi kolam dimana Marissa bersandar. dayang itu mengulurkan jemari. ia mulai memijiti pundak nyonya muda tersebut.


lama Marissa menikmati pijatan lembut itu, sementara dayang lainnya maju menyiramkan air hangat perlahan ke tubuh Marissa. dayang lainnya maju lagi dan mulai menggosok tubuh nyonya muda itu.


"Uhm... keluargaku juga memiliki asisten rumah tangga semacam ini, tapi aku, kakak-kakakku, bahkan Abi dan Umi melarangku untuk menyuruh-nyuruh hal-hal remeh semacam ini..." gumam Marissa. ia kemudian menggeleng pelan. "Ah, ada baiknya aku tak berkomentar tentang tugas mereka ini. bisa-bisa aku malah menjadi pusat pembicaraan lagi."


Marissa kemudian menatap dayangnya yang mematung menatapnya sementara dilayani.


"Suamiku kemana sih? sepagi itu ia meninggalkanku sendirian dikamar." gerutu Marissa, "Padahal semalam ia mabuk berat lho... tapi kok sudah pergi lagi." keluh Marissa.


"Nyonya... harap Nyonya memaklumi. Tuan Hasegawa-Dono, memiliki tugas yang tidak kalah menguras tenaga dan otaknya. sebagai sekretaris yang memegang rahasia istana kekaisaran, maka Tuan Hasegawa-Dono sepagi itu telah berada dikantornya dibagian pavilyun dekat kastil ini." tutur dayang tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu selepas mandi, aku akan ke sana." ujar Marissa dengan semangat.


"Jangan Nyonya." cegah dayang itu. "Sebaiknya jangan mengacaukan pekerjaan Tuan Hasegawa."


"Lalu apa yang kulakukan disini?" omel Marissa. "Aku kayak pengangguran disini. kalau dirumahku, aku selalu menguji coba armorku dan melakukan perbaikan-perbaikan."


"Nyonya tetap memiliki kesibukan. Nyonya akan mengunjungi beberapa keluarga yang merupakan pendukung keluarga Hasegawa." jawab dayang itu.


"Kapan?" tanya Marissa.


"Selepas mandi ini." jawab dayang tersebut.


Marissa mengeluh lagi. "Aaahhh.... tak menyenangkan jadi istri seorang penguasa domain semacam ini. aku pasti diikat oleh aturan super ketat yang akan memeloroti kelincahanku." ujarnya kemudian menatap dayang tersebut.


"Aku tak kenal kau. sebutkan namamu." pinta Marissa kepada dayang tersebut.


"Maaf, Nyonya. kami para dayang dilarang berbicara terlalu sering, sebab bisa melunturkan kewibawaan anda." jawab dayang tersebut.


"Halah, aku nggak perduli! sebutkan namamu, cepat!" desak Marissa berlagak galak.


"Nama saya, Saori Akutagawa. saya direkrut oleh Tuan Besar Ryoma untuk menjadi dayang anda, sebab suami anda, selain merupakan seorang Katoku Keluarga Hasegawa dan Toryo dari klan Nagato, Tuanku Yoshiaki juga merupakan anggota keluarga Mochizuki, yang notabene merupakan akar keluarga dari keluarga Akutagawa." jawab dayang tersebut.


"Jadi kau masih kerabat dekat keluarga Mochizuki?" tanya Marissa. dayang itu mengangguk. Marissa bertanya lagi. "Keluarga mana lagi yang merupakan kerabat dekat keluarga Mochizuki?"


"Selain keluarga Akutagawa, keluarga Uchitaka dan Keluarga Ugai juga merupakan percabangan dari keluarga Mochizuki." jawab Saori dengan santun.


Marissa mengangguk-angguk berupaya memahami penjelasan Saori tentang silsilah keluarga tersebut. nyonya muda itu kembali menatap Saori.


"Tunggu... apakah.... kau berasal dari klan Koga?" tebak Marissa.


"Tepat sekali Nyonya." jawab Saori. "Tuan Yoshiaki juga, selain seorang Toryo klan Nagato, beliau juga seorang anggota klan Koga. bukankah ia menyematkan nama klan Koga sebagai nama tengahnya?"


"Jika Nyonya sudah tak berkeinginan meneruskan kegiatan mandi, silahkan menuju kamar ganti. nanti Nyonya akan dikawal menuju kamar Nyonya dan didandani disana. silahkan, Nyonya." ujar Saori sambil membungkuk.


"Baiklah..." jawab Marissa sejenak menyelam lalu muncul dengan tubuh basah.


ia keluar dari kolam itu dan dipakaikan yukata tipis yang berfungsi menyerap air selepas mandi. setelah itu seorang dayang maju memberikan handuk yang langsung di gunakan untuk membersihkan wajah dan menggulungnya di kepala untuk meremas sisa air yang membasahi rambutnya.


Marissa keluar dari kamar mandi, dikawal oleh dua-tiga dayang beserta Saori yang kemudian ikut masuk kedalam kamar. tiga dayang suruhan Saori itu kemudian menelanjangi Marissa dan satunya membawa pergi yukata tipis yang tadinya dikenakan nyonya belia itu.


Marissa mulai didandani, ditaburi bedak beras pada wajahnya dengan taburan samar. bagaimanapun wajah cantik Marissa tidak terhalang oleh taburan bedak itu. ia kemudian dipakaikan kimono warna cerah dengan corak gambar burung cormoran dibagian bawah pakaian tradisional tersebut.


Marissa mematut-matut dirinya dicermin, tersenyum lebar dalam balutan pakaian tradisional itu. ia mengelus obi tebal nan lebar yang melingkari kimono jenis tsukesage itu. Marissa menatap Saori.


"Cantikkah?" tanya Marissa.


"Cantik bagaikan bunga seruni." sahut Saori dengan senyum dan membungkuk 30 derajat.


"Terima kasih..." balas Marissa juga membungkuk mengikuti gaya bungkukan dayangnya yang membuat Saori kembali tersenyum.


"Silahkan kembali ke tempat kalian." perintah Saori kepada tiga orang dayang tersebut. keduanya membungkuk ke arah Marissa lalu berbalik meninggalkan kamar.


"Bisakah mereka tidak melakukan gaya membungkuk itu lagi?" pinta Marissa, "Ini tak ada hubungan dengan larangan dalam ajaran agamaku, melainkan lebih ke sisi humanikanya saja. aku paling tidak suka melihat orang lain membungkuk kearahku...." Marissa menjeda sejenak kalimatnya lalu menatap Saori dan tersenyum. "Kecuali, musuhku... aku memang ingin mereka sujud meminta maaf kepadaku." nyonya muda itu kemudian tertawa sambil bercakak pinggang.


Saori tersenyum. "Anda, pantas menyandang gelar Nyonya Hasegawa." ujarnya.


Marissa mengibaskan tangannya. "Sudahlah, jangan kau buat aku malu lagi dengan ucapanmu itu." tegurnya lalu meminta Saori menunjukkan tempat dimana ia menerima tamu.


kedua wanita itu kemudian melangkah keluar kamar. dalam waktu singkat keakraban diantara keduanya sudah terjalin erat. Marissa memang seorang yang sangat sosialis. ia pandai membawa diri dengan lingkungannya sehingga gampang diterima oleh orang-orang sekitarnya meskipun baru pertama kali berjumpa.

__ADS_1


para tamu sendiri tak menyangka, Nyonya Hasegawa, yang mendiami kastil Odawara itu adalah seorang wanita yang masih berusia 17 tahun dan dalam proses belajar secara daring di sekolah menengah kejuruan jurusan teknik dinegara asalnya.


Marissa dengan cepat membaur dan mengakrabi para tamu. pembicaraannya bahkan sering nyambung dengan pembicaraan para tamu yang kebanyakan wanita berusia 30 tahun keatas. disisinya, Saori sendiri mengagumi cara Marissa membawakan dirinya tanpa kehilangan wibawa sebagai istri seorang kepala keluarga sekaligus kepala klan.


acara penerimaan tamu itu selesai dan Marissa sendiri bahkan ikut menemani tamu-tamunya, mengantar mereka hingga ke pintu gerbang dan melepas kepergian mereka dengan lambaian tangan dan senyum terkembang.


"Anda luar biasa, Nyonya." puji Saori. "Dulu, semasa Nyonya Hasegawa terdahulu, para tamu begitu terlihat hormat dan sangat santun. namun dihadapan anda mereka bisa berekspresi dengan bebas. bagaimana anda bisa membuat mereka begitu?"


"Saya memperlakukan mereka sebagai kakak dan ibu saya, bukan memperlakukan mereka sebagai warga atau bawahan saya." jawab Marissa dengan enteng. "Saori, kamu mungkin belum tahu... almarhum Papa mertuaku dulunya adalah pimpinan golongan genyosha yang paling ditakuti, padahal beliau sangat ramah dengan orang lain. aku ingin seperti dia. aku adalah keponakannya sekaligus menantunya."


"Apakah beliau adalah Kumicho Ketujuh dari klan Yamaguchi, Saburo Koga Mochizuki?" tebak Saori.


"Wah, pengetahuanmu mendalam juga." puji Marissa. "Tapi, darimana kau tahu? apakah Kakek Hasegawa yang memberitahu?"


Saori menggeleng. "Aku putri dari Seijiro Akutagawa, salah satu dari anggota 53 Serigala Yamaguchi yang mengabdi kepada mendiang Papa Mertua anda." jawab wanita itu.


Marissa langsung terpukau. "Suhhanallah... Masya Allah!" serunya, "Dunia memang demikian kecil."


sedang asyiknya kedua bercakap-cakap. nampak dari kejauhan Haanish melangkah mendekat. Saori langsung menjaga sikap, berdiri dibelakang Marissa.


"Assalamualaikum, istri kecilku." sapa Haanish.


"Wa alaikum salam!" jawab Marissa dengan wajah datar.


Haanish sedikit terkejut melihat wajah istrinya yang hanya menyambut dengan datar.


"Kenapa ini? marah ya?" tanya Haanish lalu menatap Saori dan memberikan isyarat kepadanya agar menjauh. Saori membungkuk lalu mundur beberapa langkah.


kini disana hanya Haanish dan Marissa. Lelaki itu bertanya lagi. "Kenapa marah? kalau aku punya salah, ya... aku minta maaf deh." ujar Haanish dengan lembut dan senyum.


Marissa sejenak melengos lalu menatap lagi suaminya. "Kenapa main tinggal-tinggal tadi? mentang-mentang sudah merasai enaknya, lalu pergi meninggalkan istri sendirian dikamar. keterlaluan..." omel Marissa sambil bercakak pinggang.


"Aku nggak mau membuat kau terbangun. tidurmu nyenyak benar habis pergumulan itu. aku tak tega... jadi kutinggalkan diam-diam bukan karena aku mau lari, tapi tugasku juga sudah menunggu tadi. lihat, kan? aku pakai pakaian resmi." ujar Haanish mengembangkan tangan.


Marissa menatap stelan jas formal yang dikenakan Haanish. disisi kanan kerah jasnya terpampang pin klan Nagato. Haanish menurunkan tangan dan mencolek dagu Marissa.


"Kita hari ini melawat ke Tokyo, menemui Naikaku Sori Daijin, Kaiho Shima di Chiyoda. beliau mengundangku sehubungan dengan pengarsipan dokumen-dokumen negara." ujar Haanish membuat wajah Marissa kembali ceria.


"Benarkah? kapan kita kesana?" tanya Marissa.


"Kan ku bilang hari ini, dodooolll..." olok Haanish membuat Marissa tertawa.


Haanish mengajaknya. kedua sejoli itu menuju parkiran. disana, Saori dan seorang lelaki berpakaian formal berdiri menyambut.


"Kau sudah kenalan dengan dayangmu?" tanya Haanish.


"Tentu, dia Saori, putri Seijiro Akutagawa, mantan anggota 53 Serigala Yamaguchi." jawab Marissa.


"Cerdas..." puji Haanish mencolek lagi dagu istrinya membuat Marissa kembali tersenyum. Haanish memperkenalkan pengawalnya.


"Lelaki ini bernama Aoki Fujita. dia alumni perguruan Kashima Kantori." ujar Haanish. "Mereka berdua mulai saat ini akan terus bersama dan melayani kita dalam keseharian."


"Sampai ke kamar?" pancing Marissa.


"Ya nggak laaah..." ujar Haanish kemudian tertawa. "Kalau yang urusan itu, cukup aku saja yang ngurusi kamu." Haanish kemudian mendekat, "Kamu nggak akan bisa dikendalikan orang lain... hanya aku yang bisa mengendalikan kamu." bisiknya membuat Marissa hanya tersenyum-senyum.


"Sudah ah, ayo masuk." Haanish menegakkan tubuh dan menyuruh Marissa masuk ke mobil. setelah itu menyusul Saori duduk di bagian depan. Haanish menatap Aoki.


"Awasi sekitaran dan jangan turunkan kewaspadaan." pesan Haanish dengan pelan.

__ADS_1


Aoki mengangguk lalu mempersilahkan Haanish untik masuk. setelah itu sang pengawal memasuki mobil duduk dibagian kemudi dan menyalakan mesin. dalam waktu singkat mobil itu bergerak meninggalkan kastil Odawara dan bergerak menuju Tokyo.[]


__ADS_2