
Salman Attar Williams mondar-mandir dikoridor tersebut. sesekali ia menatap jarum arloji kuno handmade yang melingkar dipergelangan tangannya. disebelahnya, di kursi yang memanjang itu, duduklah Aisyah dan Aya Sofia.
Aisyah *******-***** jemarinya sendiri. bibirnya komat-kamit, entah melafadzkan apa. yang jelas saat ini jilbaber itu dalam keadaan panik.
tim medis yang memeriksa keadaan Haidar juga belum keluar dari kamar itu. semuanya serba menegangkan. Salman sesekali melirik Aisyah dan putrinya. tak lama kemudian muncul seorang wanita parobaya mengenakan pakaian terusan dengan jilbab yang menjulur ke perut. ia diapit oleh dua orang gadis yang tak lain adalah Mahreen dan Callista.
Salman melihat kedatangan Inayah yang diapit oleh Mahreen dan Callista, langsung mendatangi mereka.
"Bibi..." sapa Salman lalu mengangguk pada Mahreen dan Callista. Inayah memegang lengan kekar opsir itu.
"Bagaimana kabar Haidar?" tanya Inayah dengan cemas.
"Masih sementara diperiksa tim medis, Bibi." jawab Salman.
"Mengapa bisa jadi begini?" tanya Inayah.
"Aden tak berada ditempat, Bibi. waktu itu aden disuruh Haidar untuk mengantar adiek Callista ke rumahnya." jawab Salman kemudian menoleh ke arah Aisyah dan putrinya yang juga sementara menatap Inayah, "Perempuan itu yang menemukan Haidar terbaring pingsan tak sadarkan diri."
Inayah menatap Aisyah dengan tatapan memicing sejenak. kelihatannya ini perempuan yang ciri-cirinya sesuai dengan perkataan Mahreen...
Mahreen menatap Aisyah dan mengerutkan alisnya. gadis bermata hijau itu mendatangi Aisyah. "Kok kamu bisa berada dikediaman Lasantu?" tanya Mahreen.
"Saya tinggal disana." jawab Aisyah membuat Mahreen terkejut dan langsung menatap lagi Inayah. wanita parobaya itu kemudian mendekat dan duduk disisi Aisyah setelah ia mengisyaratkan Mahreen untuk menyingkir dari situ.
"Kau siapa, nak?" tanya Inayah dengan datar.
Aisyah sejenak menatap Salman. lelaki itu mengangguk. jilbaber tersebut menghela napas sejenak dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Saya Aisyah Tilahunga, berasal dari Tolinggula. saya adalah kenalan Pak Haidar. saya diminta Pak Haidar tinggal di kediaman Lasantu sebab pembantunya yang terdahulu lagi tak berada ditempat sebab pulang kampung mengurus hajatan keluarga." jawab Aisyah dengan jujur.
"Seberapa dekat kamu dengan anakku?" tanya Inayah dengan datar dan mengintimidasi.
"Tidak begitu dekat Bu. saya dulunya bekerja di perusahaan kurir barang. lalu ketemu Pak Haidar dan dia meminta saya tinggal di Kediaman Lasantu sementara waktu untuk menunggu pembantunya pulang kemari." jawab Aisyah lagi.
Inayah menegakkan tubuh dan menatap Salman. lelaki itu mengangguk membenarkan keterangan Aisyah. Inayah mengangguk-angguk. tak lama kemudian pintu membuka dan dua orang dokter muncul.
"Keluarga Pak Haidar?" tanya salah satu dokter.
Inayah berdiri, "Saya mamanya..." ujarnya.
dokter mengangguk. "Pak Haidar mengalami kontraksi mendadak dan menyebabkan ia secara cepat mengalami kram tubuh dan langsung membuatnya jatuh." ujarnya menatapi Inayah dan satu persatu orang yang hadir ditempat itu. "Tapi untungnya beliau tak mengalami stroke. biasanya jatuh yang tiba-tiba akan menyebabkan benturan dengan lantai atau tanah atau apalah itu. yang jelas akan menyebabkan dinding pembuluh darah pecah sehingga berpotensi stroke."
semua lega mendengar keterangan dokter itu. Inayah bertanya lagi. "Bisa kami membesuknya?"
"Silahkan saja." jawab dokter itu. "Tapi jangan banyak-banyak. pasien membutuhkan udara segar yang lbih banyak. maksimal tiga orang boleh menjenguknya.
mereka mengangguk-angguk. kedua dokter itu pamit meninggalkan Inayah dan rombongannya. tak berapa lama kemudian dua orang lagi tim medis keluar dari ruangan itu.
"Aku heran. itu bukan kejadian yang umum. trombofilia bisa menyebabkan kematian jika terlalu lama dibiarkan. tapi darahnya tak ada lagi yang berwarna merah segar. semua darahnya menghitam." celetuk salah satu tim medis dengan lirih.
Inayah mendengar semua perkataan dokter itu dan wajahnya menjadi tak tenang. ia menatapi Mahreen. "Kita berdua disini sejenak untuk menjagai Chouji."
Mahreen mengangguk. Salman kemudian mendehem. "Kalau begitu, aden hendak membawa pulang Callista lagi ke rumahnya." usul Salman. Inayah menatap Callista dan jilbaber itu mengiyakan saja. Inayah mengangguk.
"Baiklah. hadija ya?" pesannya.
Salman tersenyum sendiri. lagi-lagi antonim HADIJA keluar lagi dari bibir wanita parobaya itu. kalau perempuan tak peka, bisa cemburu sebab menyangka laki-laki yang dipesan memiliki wanita idaman lain.
Salman mengajak Callista meninggalkan tempat itu. Inayah masuk duluan kedalam kamar meninggalkan Mahreen dan Aisyah serta Aya Sofia yang duduk dibangku panjang. Mahreen kemudian duduk pula dan menatap kamar itu. keduanya masih diam, canggung memulai pembicaraan.
"Ibu... bisakah kita disini, menjagai Om?" tanya Aya Sofia.
"Ibu tak tahu nak." jawab Aisyah dengan lembut menatap putrinya, "Kita hanya bisa berdoa saja, semoga Om Haidar lekas sembuh dari pingsannya."
__ADS_1
Aya Sofia mengangguk dan tak banyak bicara lagi. Aisyah kemudian bangkit hendak pergi. Aya Sofia pun ikut beranjak. Mahreen menatapnya.
"Hendak kemana kamu?" tanya Mahreen.
"Saya hendak berdoa, semoga Pak Haidar bisa lekas sembuh dari sakitnya." jawab Aisyah.
"Sejak kapan kamu tinggal dikediaman itu?" todong Mahreen. "Kamu tahu, aturan dikeluarga Lasantu tidak memperbolehkan seorang perempuan muda, apalagi yang sudah beranak untuk berdiam dikediaman Lasantu?"
"Maaf, saya tak mengetahuinya. Pak Haidar tidak memberitahu hal itu pada saya." jawab Aisyah dengan jujur.
"Tentu saja dia tidak memberitahukannya." sela Mahreen, "Andalah yang membuatnya tak memberitahukan hal itu. keadaan anda yang punya anak menerbitkan rasa iba membuat dia melanggar ketentuan dikeluarganya sendiri."
Aisyah menghela napas dan memejamkan mata sejenak lalu menatap Mahreen. "Saya juga tak suka berlama-lama disana. setelah dia sadar dari keadaannya sekarang, saya akan memohon pamit." seusai berkata begitu, Aisyah menggandeng Aya Sofia meninggalkan Mahreen sendirian.
...*****...
Inayah duduk tafakur menundukkan wajahnya menemani Haidar yang masih terbaring diam dalam keadaan subsconcius. keterangan dokter tumpang tindih dengan keterangan salah satu tim medis itu membuat perasaan sang ibu tak tenang.
sang ibu tak tahu apa yang menimpa putranya dan justru itulah yang membuatnya makin tak tenang. Inayah tak pandai seni kanpo igaku yang bisa mendeteksi gejala penyakit yang mendera Haidar. kecakapannya dibawa ibu mertuanya kedalam liang lahat. sang ayah juga wafat tak sempat mengajarkan Inayah ilmu-ilmu tentang pengobatan asli gorontalo. ia benar-benar berada dalam ketidak tahuan yang nyata.
hanya lantunan dzikir yang bisa ia bacakan untuk menenangkan hatinya yang dirundung sedih tak beralasan itu. hanya keajaiban yang bisa membangunkan Haidar dari tidurnya. dan Allah menjawabnya.
perlahan mata Haidar membuka dan membiasakan dengan keadaan sekitarnya. perlahan ia menoleh menemukan sang ibu yang duduk tafakur memejamkan mata sambil membaca dzikir. lengannya perlahan terjulur memegang tangan ibunya yang menopang tepi ranjang.
"Mama..." panggil Haidar dengan lemah.
Inayah membuka mata dan menemukan sang putra sudah siuman, menatapnya dengan tatapan bingung. sang ibu menyapu dada putranya.
"Syukurlah kau sudah bangun nak." ujar Inayah dengan perasaan lega, "Bagaimana perasaanmu hari ini?"
"Aku tak apa-apa, Ma... nggak usah takut." jawab Haidar dengan pelan. senyum datarnya tersungging. Inayah menjadi tenang. sunggingan senyum datar itu adalah keseharian putranya memberitahu bahwa segala akan baik-baik saja. sang ibu mengangguk.
"Baguslah kalau begitu. ibu sudah tenang." ujar Inayah dengan senyum lega. "Ibu dan Mahreen diberitahu Salman kalau kau pingsan dirumah..."
Haidar mengangguk-angguk saja. Inayah memegang lagi lengan putranya dengan lembut. "Nak, kenapa kau langgar ketentuanku?" tanya wanita parobaya itu dengan lembut.
"Mengijinkan Aisyah tinggal di Kediaman Lasantu?" tebak Haidar. Inayah mengangguk. pemuda itu menghela napas lalu bertutur. "Ya, aku belum sempat memberitahu Mama. perempuan itu patut ditolong. aku berencana memasukkan perempuan itu ke Buana Asparaga. sementara ini ia kuminta tinggal karena saat ini Bik Inah tidak berada ditempat... apa Mama keberatan?"
"Baiklah. besok, perempuan itu tak akan berada di kediaman Lasantu lagi." ujar Haidar.
namun diluar dugaan, Inayah justru menggeleng. "Biarkan perempuan itu tinggal disana. kamu nggak bisa terus-terusan mengandalkan tenaga Bik Inah yang sudah tua. Mama mengijinkan dia tinggal disana, bersama anaknya itu."
"Terima kasih, Mama." puji Haidar, "Mama memang sangat memahami saya."
Inayah hanya tersenyuk dan mengangguk. "Siapa namanya perempuan itu? Aisyah ya?"
Haidar mengangguk. Inayah tersenyum, "Namanya mengingatkan Mama akan almarhummah nenek tua kamu yang namanya sama dengan perempuan itu." Inayah menerawang, "Menurut cerita Abah, Bibi Aisyah dan suaminya, Om Bakri itu adalah orang-orang yang sangat baik. mereka dibunuh dengan sadis atas alasan pembalasan dendam terhadap keluarga Lasantu. nenekmu membunuh si pembunuh itu dengan Si Penebas Angin."
"Bagaimana rupanya, Oma Aisyah?" tanya Haidar.
Inayah menggelengkan kepalanya. "Mama nggak tahu. mungkin kamu bisa mengunjungi gallery keluarga disayap kiri lantai dua kediamanmu. disana terpajang foto-foto keluarga kita."
Haidar menatap lagi langit-langit ruangan. ia mendesah, "Kurasa Mahreen akan salah paham kepada Aisyah." ujarnya dengan pelan. "Ia berpikir perempuan itu akan menjadi saingan terberatnya."
Inayah hanya tersenyum. aku berharap, Haanish akan membawa kabar yang baik tentang asal usul Mahreen. jika ternyata ia putrinya dari maduku yang kedua, aku tak bisa membayangkan bagaimana terlukanya hati mereka berdua mengetahui kenyataan yang sebenarnya...
kedua ibu dan anak itu hanya terdiam dalam ruangan itu.
...******...
Haanish memandang benteng Naryn-Kala yang berusia beberapa abad itu, masih bercokol dengan angkuhnya di sudut kota Derbent.
Benteng itu merupakan warisan kerajaan persia-pra islam dibawah pemerintahan Shahan Shah Koshrau I di atas puing benteng bukit kuno Dag-Bary dengan tujuan melindungi wilayah itu dari serbuan bangsa Yajuj Majuj.
Haanish melangkah memanjati tangga benteng tersebut. ia menenteng Si Penebas Angin. perlengkapannya seperti tas selempang Navy Club, dititipkannya kepada seorang syaikh yang berdiam di Masjid Juma, yang merupakan salah satu situs kuno yang masih berdiri, berasal dari peninggalan bani Umayyah.
__ADS_1
Haanish mengerahkan ki untuk mendeteksi keberadaan makhluk hidup dibenteng itu. ia menemukannya. hawa murni miliknya mendeteksi setidaknya ada lima puluh anggota klan Dracna bersembunyi disana, menyekap Miriam Nurmagonegov untuk mengorek keterangan tentang jati diri Mahreen Nurmagonegov.
Haanish memusatkan konsentrasinya, mengumpulkan ki kedalam titik hara, menstimulasi mikrochip yang ditanam dalam tubuhnya. mikrochip itu bereaksi dan tak lama tubuhnya diselimuti armor Ark 01 Narsys tersebut.
armor nanotech itu berbentuk mirip oyoroi mirip dengan oyoroi yang terdapat di dojo pribadi, namun dalam pola ketat membungkus tubuh, dibalut rompi tanpa lengan yang menjulur panjang hingga ke paha, menghalangi pelindung paha. Haanish menempatkan Si Penebas Angin disisi sabuk bagian kiri, bersisian dengan pedang pendek modifikasi yang sepaket dengan baju jirah itu.
armor itu sangat ringan sehingga Haanish tak kesulitan mengerahkan teknik hayagakejutsu, melesat dengan teknik lari tak terdeteksi dan bersembunyi diceruk-ceruk dinding mengamati beberapa orang anggota klan Dracna berseliweran melakukan penjagaan.
Haanish mengamati pola patroli orang-orang itu dan mulai memahami celah yang dihasilkan dari titik kelemahan yang dicermati Haanish. pemuda berbaju jirah nanotech itu. keluar dari persembunyiannya membunuhi satu persatu orang-orang Dracna itu hingga tak tersisa. Haanish memasuki bagian dalam benteng, menemukan sebuah ruangan. nampak disana terdapat sebuah palang berpola 'X'. dipalang itu terikat seorang jilbaber. wajahnya terlihat letih dan menahan rasa sakit.
Haanish mendekatinya namun tetap mengerahkan ki dalam parameter sejauh sepuluh meter untuk mendeteksi adanya pembokongan dan mengatisipasinya jika itu terjadi. namun rupanya, tak ada siapapun disana selain ia dan wanita yang terikat di palang tersebut.
"Miriam Nurmagonegov?" sapa Haanish dengan pelan.
dengan payah, jilbaber itu mengangkat wajahnya, menatap sosok berbaju jirah serba biru yang berdiri beberapa meter dihadapannya. setelah itu ia menunduk lagi karena kelelahan yang sangat.
"Siapa kau?" tanya jilbaber itu dengan lemah.
"Kau kenal Mahreen Nurmagonegov?" selidik Haanish.
sejenak jilbaber itu menghela napas dan mendesahkannya. "Jika kau ingin mengetahui tentang Mahreen dariku, kau hanya menemui kesia-siaan. simpanlah keinginanmu. sampai mati pun, aku tak akan memberitahu dimana Mahreen sekarang."
Haanish tersenyum dibalik helm armornya, "Kedatanganku atas perintah Masyarakat Sungai Amur. kuharap kau sudi mengikutiku. aku akan melepaskanmu."
Haanish sengaja membawa nama komunitas itu untuk memancing jilbaber itu untuk mengakui diri apakah ia memang Miriam atau bukan.
"Jangan..." cegah jilbaber itu.
"Mengapa?" tanya Haanish.
"Aku sudah tak kuat lagi." desah Miriam. "Jika kau punya keperluan... berhubungan dengan Mahreen, katakan saja."
"Siapa Mahreen Nurmagonegov?" tanya Haanish.
"Dia saudariku..." jawab Miriam.
"Kau yakin?" selidik Haanish, bukankah Jabir dan Sarah hanya memiliki satu orang putri?"
"Dia saudariku... meski bukan sekandung." ujar jilbaber itu dengan lemah.
"Jadi... siapa sebenarnya Mahreen? mengapa klan Dracna menginginkan dirinya?" selidik Haanish.
"Dia putri seorang anggota Masyarakat Sungai Amur dan seorang petarung dari klan naga hitam...." jawab jilbaber itu.
"Jelaskan lebih mendetail." pinta Haanish.
"Nama asli Mahreen adalah Julia Fedora Bushra... ia putri Ivanka Korkov dan... seorang jawara... bernama... " erang jilbaber itu.
"Siapa?..." desak Haanish maju sedikit lagi dan meraih rahang jilbaber itu dan mengangkat wajahnya sehingga menatap kearah Haanish. "Siapa? siapa ayahnya?" desaknya.
".... Saburo.... Koga... Mochi... zuki..." jawab jilbaber itu akhirnya terkulai lagi.
Haanish terkejut dan memeriksa wanita itu. ternyata jilbaber itu telah wafat. pemuda itu mendesah kecewa. pikirannya kembali bermain.
mochizuki? bukankah itu keluarga dari Oma? apakah Mahreen anak dari salah satu anggota keluarga Mochizuki? sebaiknya kutanyakan saja sama Mama...
Haanish menatap jilbaber itu lalu mendesah, "Innalillahi... wa inna ilaihi roojiun... Allahummaghfirlaha, warhamha, wa aafiha, wa'fu'anha... semoga kau mendapatkan tempat yang damai... Miriam Nurmagonegov.."
"Setelah itu kau yang akan menyusulnya." seru seseorang dibelakang Haanish.
pemuda itu membalik dan menemukan seorang lelaki muda mengenakan pauldron yang melindungi kedua bahunya. jenis pakaian yang dikenakannya menandakan ia seorang petarung pedang yang hebat. Haanish mengarahkan ujung bilahan pedang modifikasi kearah lelaki itu.
"Kau yang menyiksanya?" todong Haanish.
"Tanpa disiksa juga, perempuan itu pasti mati juga. tubuhnya lemah. sangat lemah." jawab pemuda itu. Haanish menatap dua bilah pedang yang tersampir disisi kiri dan kanan pinggang, khas gaya berpedang Eropa.
"Kalau begitu, aku atas nama Masyarakat Sungai Amur akan membalaskan kematiannya." ujar Haanish memindahkan pedang modifikasi kegenggaman tangan kirinya sementara tangan kanannya menghunus Si Penebas Angin. Haanish menggunakan pola gaya Ichi Niten ciptaan Musashi Miyamoto. tatapan tajamnya menghujam lelaki itu.
"Masyarakat Sungai Amur, Yoshiaki Koga Hasegawa..." ujar Haanish memperkenalkan diri mempergunakan nama lamanya.
__ADS_1
pemuda itu ikut menghunus kedua pedangnya dan menggunakan teknik gaya Barbasetti. tangan kanannya menggenggam pedang jenis rapier dan tangan kirinya menggenggam pisau panjang, *é*pêe.
"En Garde...." []