
Kediaman Lasantu, hari senin pukul 08.11
Aisyah sedang membersihkan debu menggunakan vacum cleaner ketika pintu utama membuka dan masuklah seorang wanita berusia 35 tahun, mengenakan pakaian mirip seorang pelayan eropa, lengkap dengan apron putih yang menutupi dadanya. ia menyandang sebuah kopor seret.
Aisyah sudah tahu, siapapun yang dapat membuka pintu tersebut, tentu ia termasuk dalam daftar orang berkepentingan dalam keluarga Lasantu maupun Ali. dengan santun ia meletakkan vacum cleaner di sisi meja pantry dan melangkah menyambut wanita itu.
"Assalamualaikum, ada yang bisa dibantu, Nyonya?" sapa Aisyah kepada wanita tersebut. wanita itu yang tak lain adalah Imelda (Tante Imel) hanya memgangguk dengan datar.
"Saya Imelda, kepala pelayan di Kediaman Ali. sekarang tugas saya adalah menjadi kepala pelayan dirumah ini." jawab Imelda sambil mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Aisyah. Imelda menyambung lagi. "Dan satu saya tekankan."
"Apa itu Nyonya?" tanya Aisyah dengan santun lagi.
"Saya belum MENIKAH.." sergah Imelda memelototkan mata. "Jangan panggil lagi saya Nyonya. tapi panggil saya Mbak Imel! mengerti?!"
Aisyah mengangguk dengan patuh. "Ya, Mbak." jawabnya.
"Bagus..." respon Imelda balik lalu menatap ruangan disekitaran. "Mana Tuan Haidar?" tanya Imelda.
"Barusan pergi." jawab Aisyah.
Imelda menatap Aisyah sejenak lalu menatapi ruangan itu. "Kudengar kau punya anak..." tukas Tante Imel dengan datar.
"Ya... baru saja diantar Pak Haidar ke sekolah..." jawab Aisyah sekenanya. Imelda terkejut lalu menatap Aisyah dengan sorot tatap mencela.
Aisyah tenang saja ditatapi Imelda. "Pak Haidar memaksa. aku nggak bisa melarang." jawabnya merendah.
Imelda menegakkan dagunya. "Baiklah, jika Tuan Haidar menginginkan begitu, akupun tak mempermasalahkannya."
Aisyah mengangguk sopan. "Biar saya tunjukkan kamar.."
"Saya tahu jalannya." sela Imelda dengan ketus, "Saya lebih lama kerja disini daripada kamu!" wanita itu menarik kopor seretnya melangkah dengan angkuh meninggalkan Aisyah yang hanya memandangnya pula kemudian mengangkat bahu dan kembali bekerja membersihkan lantai itu.
...*****...
Haanish menatap arloji dipergelangan tangannya yang berfungsi ganda sebagai alat teleportasi interlokal. Akram menepuk pundaknya.
"Sampaikan salamku kepada Mamamu." ujar Akram.
"Pasti saya sampaikan, Om." jawab Haanish dengan senyum lebar. Airina kemudian maju menjajari suaminya.
"Nak... aku hanya berpesan kepadamu." pesan Airina. "Ketika kau mengetahui sebuah kebenaran, meskipun itu pahit dan menggiriskan... tetaplah menerimanya. ingatlah... pahit jangan langsung dimuntahkan, manis jangan langsung ditelan."
"Saya akan mengingat-ngingat petuah Bibi dengan baik." jawab Haanish dengan santun.
pemuda itu kemudian melangkah mendekati Marina. wanita itu hanya mensedekapkan tangannya didada dengan menatap jutek kepada Haanish.
"Apa sudah kau ceritakan perihal Mikail Usmanov kepada Bibi?" tanya Haanish dengan lirih.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Marina dengan lirih nan ketus.
"Itu juga urusanku, Marina. kau ingat?" ungkit Haanish, "Aku tak mau saudara perempuanku terluka untuk yang kedua kalinya."
Marina terdiam mendengar ucapan Haanish. pemuda itu beralih kepada Marinka dan Marissa. ia tersenyum kepada mereka berdua.
"Aku pamit..." ujarnya.
"Hati-hati dijalan, Uda." pesan Marinka.
"Jangan lupakan aku, ya Uda." tambah Marissa.
Haanish mengangkat alisnya sebelah sejenak. ungkapan itu agak aneh. namun akhirnya Haanish memilih tak menghiraukannya. ia mengangguk lalu berbalik. sambil menenteng Si Penebas Angin, pemuda itu mengaktifkan perangkat teleporticon.
seketika tubuh pemuda itu diselimuti cahaya putih kebiruan dan muksa setelahnya. Akram menghela napas sejenak lalu menghembuskannya dengan pelan.
semoga kalian berdua akan tetap tabah dalam menghadapi cobaan yang bertubi-tubi...
...*****...
Haidar memasuki ruang kerjanya dan duduk dengan santai di kursi. ia kemudian memeriksa beberapa file yang sudah menumpuk di mejanya. ia membuka dan memeriksa selembar demi selembar file tersebut, kemudian menanda tanganinya. begitu seterusnya hingga file yang terakhir.
setelah itu ia menekan salah satu tombol di meja. terdengar dengungan sesaat dan terdengar suara perempuan.
🔊 "Ya, Pak?" tanya perempuan tersebut.
🎙"Kemarilah..." panggil Haidar kemudian melepas tombol itu dan menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi.
__ADS_1
tak lama terdengar ketukan. Haidar menyuruhnya masuk. pintu membuka dan muncul seorang wanita mengenakan pakaian resmi. ia menghadap.
"Ada apa, pak?" tanya perempuan itu.
"Antarkan berkas-berkas itu ke sekretaris umum." perintaj Haidar. karyawan itu membungkuk datar lalu mengambil file-file itu dan berbalik meninggalkan ruangan.
tinggallah Haidar disana. ia kemudian bangkit dan melangkah keluar dari ruangannya dan melintasi meja para karyawan. tujuannya adalah lantai puncak, dimana kantor presdir berada. Haidar tiba di lift dan menekan tombol. pintu itu membuka dan Haidar masuk ke dalamnya.
lift itu membawa Haidar ke lantai puncak dan tiba disana. pemuda itu menekan tombol dan pintu membuka lagi. Haidar keluar menyusuri sebuah lorong panjang yang akhirnya menjorok ke kanan. disana nampak sang sekretaris umum duduk memeriksa file yang diantar tadi.
sekretaris itu melihat Haidar dan menyapa. "Tuan Muda."
"Presdir lagi didalam?" tanya Haidar.
"Ada." jawab sekretaris tersebut.
"Katakan kalau saya hendak menghadap." ujar Haidar.
sekeretaris itu mengangguk lalu menekan tombol interkom. tak lama terdengar suara.
🔊 "Ya ada apa Sekretaris?" tanya seorang wanita.
🔊 "Tuan Muda Haidar hendak menghadap." jawab sekretaris tersebut.
🔊 "Suruh masuk!" jawabnya.
Sekretaris melepas tombol interkom dan menatap Haidar. "Tuan Muda dipersilahkan menghadap."
Haidar mengangguk dan melangkah. pintu itu membuka saat Haidar bergerak maju. ia masuk kesebuah ruangan yang lapang. diujung ruangan nampak Dewinta Basumbul sedang berbincang dengan seseorang melalui layar holografis.
kedatangan Haidar membuatnya memberi isyarat kepada pemuda itu untuk menunggu sebentar. wanita parobaya itu menyelesaikan percakapannya lalu kemudian menonaktifkan video comference tersebut. wanita itu tersenyum lalu bangkit melangkah menuju sofa dimana Haidar duduk.
"Ada apa Tuan Muda, tumben-tumbenan datang menghadap?" tanya Dewinta setengah menggoda.
Haidar tersenyum. "Tadi siapa Tante? kayaknya bukan Om Cornell tuh."
"Ooo itu, teman seangkatan Tante dulu. Namanya Daeng Isogi Amirrulah." jawab Dewinta Basumbul kemudian tertawa, "Kamu menyangka Tantemu ini selingkuh ya?" tebak Dewinya membuat Haidar senyum tersipu.
"Jangan terlalu suudzon sama orang. Om Cornell juga tahu siapa lelaki itu. mereka seasrama waktu masih kuliah dulu." ujar Dewinta kemudian terhenyak sejenak, "Lho? kok jadi ngomongin orang lain ya?"
Haidar tertawa pelan. Dewinta tersenyum melihat wajah ceria pemuda itu. "Nah, gitu dong. sekali-sekalilah bergaya santai. jangan seriusan terus... cepat tua." olok Dewinta, setelah iti ia kembali ke sikap seriusnya. "Tuan Muda ada keperluan apa kemari?"
"Oh, siapa? teman kamu?" tanya Dewinta.
"Di bilang teman juga sih nggak Tante. cuma seorang yang perlu dibantu agar ringan beban hidupnya." jawab Haidar dengan nada diplomatis.
Dewinta mengangguk-angguk dan tersenyum. "Kalau dia layak dibantu, ya kita bantu." jawabnya pula secara diplomatis.
Haidar yang ganti mengangguk-angguk. Dewinta tersenyum. "Apakah orangnya ulet dan rajin?" tanya Dewinta.
"Dia punya pengalaman kerja jadi kurir barang." ujar Haidar. Dewinta kembali mengangguk-angguk lagi.
"Coba melamar saja." ujar Dewinta. "Tuan Muda kan bagian HRD. tentu tahulah bagaimana sifat seseorang. Tuan Muda bisa menilai apakah orang ini bisa bermanfaat bagi perusahaan kita, atau tidak."
Haidar mengangguk-angguk. "Maafkan saya Tante. ini pertama kalinya saya merekomendasikan seseorang. makanya saya perlu juga diskusikan hal ini dengan Tante. biarpun keluarga Lasantu adalah pemiliknya, namun pengendali perusahaan adalah Tante."
Dewinta tersenyum dan mengangguk-angguk. "Intinya ya suruh melamar saja. sesuaikan dengan persyaratan administrasi."
Haidar mengangguk dan berdiri. "Makasih Tante. ucapan Tante tadi menenangkan saya. nanti saya hubungi dia untuk segera mengajukan lamaran."
Dewinta mengangguk dan bangkit. Haidar membungkuk datar lalu berbalik langkah meninggalkan ruangan itu. beberapa jarak dari pintu masuk, ia berpapasan dengan sekretaris umum.
"Tuan Muda..." sapa sekretaris itu membungkuk datar lalu melangkah kembali menuju Dewinta yang sudah duduk ditempat kerjanya.
Haidar terus melangkah meninggalkan ruangan itu. langkahnya terayun santai di koridor hingga lift.
...******...
di kafetaria itu, Mahreen duduk dengan lesu mengaduk minumannya. diseberangnya duduk Callista juga sedang asyik menyeruput minumannya sesedikit mungkin untuk menikmati sedapnya rasa minuman tersebut.
"Lis... aku jadi nggak bersemangat akhir-akhir ini." ujar Mahreen dengan pelan.
Callista melirik sahabatnya yang hanya mengaduk-aduk minumannya. jilbaber itu menegakkan tubuhnya dan memajukan badan menyangga siku pada permukaan meja.
"Karena perempuan bernama Aisyah itu?" tebak Callista.
Mahreen tak menjawab. namun Callista sudah tahu apa yang menjadi permasalahannya. jilbaber itu tersenyum.
__ADS_1
"Kau takut, perempuan itu akan merebut Haidar dari kamu?" ujarnya menggoda. Mahreen menatap Callista dengan wajah keruh.
"Kamu jangan bercanda dulu dong." tegur Mahreen merajuk. "Aku lagi pusing nih."
"Pusing mikirin lelaki yang mau diambil orang lain?" goda Callista lagi.
Mahreen mendengus lalu hendak beranjak ketika Callista menahannya. "Oke, oke, aku nggak nggodai kamu lagi." jilbaber dihadapannya kini memasang wajah serius. "Sebelum kamu melakukan sesuatu yang lebih jauh, sebaiknya kau menyelidiki dulu. jangan sampai kecurigaanmu malah membuatmu makin jauh dari Haidar."
"Tapi, aku benar-benar nggak terima, Lis." ujar Mahreen. "Aku saja nggak berani tinggal disana sebab sudah dijabarkan oleh Mamachka bahwa kediaman Lasantu hanya didiami oleh anak laki-laki." wajah gadis itu makin menampakkan rasa tak puas. "Tapi, lihatlah sekarang. pemilik rumah sendiri mengijinkan perempuan tak dikenal tinggal dikediaman itu."
"Tapi Kudengar, Bunda Iyun menyuruh Tante Imel tinggal juga disana untuk sementara, mengawasi mereka berdua." tukas Callista. "Kupikir kamu nggak perlu sekuatir itu. Tante Imel itu orangnya keras dan adil. Haidar dan Haanish saja segan dengannya." Callista mencondongkan tubuhnya kedepan, "Apa lagi kalau dia dalam mode angry bird, weeeehhh... dua anak itu nggak akan berkutik."
"Benarkah?" tanya Mahreen dengan ragu.
Callista mengangguk. "Kau lihat saja nanti. kau pikir wanita bernama Aisyah itu akan betah disana jika ada Tante Imel? yang ada malah dia ngacir duluan."
sepercik harapan muncul dibenak Mahreen. harapannya kepada Imelda agar wanita itu merenggangkan hubungan antara Aisyah dan Haidar. muncul ide dibenak gadis rusia itu. ia mencondongkan wajahnya pada Callista.
"Kita hasut Tante Imel agar membenci Aisyah." usul Mahreen.
Callista terhenyak, "Jangan Reen... kasihan perempuan itu."
"Ah, penakut kamu." cela Mahreen.
"Aku bukan penakut, Reen... tapi menempatkan wanita itu dalam posisi tersudut akan membuat simpati Haidar akan makin besar kepadanya." tegur Callista.
"Tenang... itu urusanku." sela Mahreen sambil tersenyum licik.
Callista terperangah, tak menyangka, Wanita dihadapannya punya sisi lain yang mungkin lebih jelek dari perkiraannya. sisi buas yang tak dinampakkannya.
"Ah, aku nggak ikutan ah." tolak Callista dengan enggan.
"Kenapa? akan menjadi seru jika melakukannya bersama-sama." rayu Mahreen.
"Jangan Reen. kalau ketahuan Haidar, bisa bahaya." tegur Callista. "Kamu nggak tahu, marahnya Haidar kayak gimana? atau kau juga mau merasakan kemarahannya?" tukas Callista dengan serius.
Mahreen terdiam lama. namun akhirnya ia hanya bisa mendesah. "Lalu.... gimana dong? aku hanya kuatir, dia akan makin dekat dengan perempuan itu. anak itulah yang menjadi media kedekatan antara Haidar dengan perempuan itu."
"Kita culik saja anaknya." usul Mahreen dengan enteng.
"HHHHH???? bionguma!" umpat Callista. "Kamu berani benar ya? apa sudah bosan hidup kau?!"
"Nggak ada cara lain Lis." ujar Mahreen sambil merentangkan tangannya. Callista mendengus.
"Nggak! nggak boleh!" sergah Callista dengan dingin. "Kalau kau mau tetap yakin dengan keputusanmu, aku nggak melarang. tapi jangan maksa aku agar menutupi segalanya dihadapan Haidar. aku nggak sanggup!"
Mahreen kembali hanya bisa mendengus kesal saja dengan kalimat yang dilontarkan Callista.
...******...
sebagaimana seorang shinobi menyampaikan laporannya. Haanish duduk berlutur dihadapan Inayah yang duduk disofa. keduanya berada diruangan kerja sang wakapolda tersebut.
Haanish menyampaikan semua laporan perjalanannya. mulanya wajahnya merah padam mendengarkan penuturan dari putra keduanya itu. opsir itu mendesah sejenak lalu bangkit dan melangkah mondar-mandir dengan pelan.
"Sudah kuduga sebelumnya, kalau Mahreen bukan anak kandung dari Sarah dan Jabir Nurmagonegov." gumam Inayah sambil terus mondar-mandir saja.
Haanish mendengarkan dengan cermat semua gumaman ibunya itu. ia masih dalam posisi berlutut.
"Bagus Haanish. penyelidikanku tentang Mahreen maju selangkah." ujar Inayah menatap putranya yang masih berlutut itu.
Haanish mengangkat wajah. "Mama... sebelum meninggal, Miriam pernah menyebut nama asli Mahreen sebelum ia diadopsi keluarga Nurmagonegov. nama aslinya sebelumnya adalah Julia Fedora Bushra."
"Memang itu namanya." sahut Inayah. "Rupanya dia memang putri dari Ivanka Korkov."
"Sebelum wafat, Miriam pernah menyebut nama ayahnya Mahreen, Mama." sahut Haanish. "Kalau tak salah, namanya adalah Saburo Koga Mochizuki."
"Ya itu benar." jawab Inayah.
"Om Akram bilang kalau Saburo Koga Mochizuki sangat dekat dengan Mama. kok Mama nggak cerita sih sama saya?" protes Haanish.
"Untuk apa diceritakan? untuk lebih menyakitkan anak itu jika ia mengetahui rahasia dirinya sendiri." ujar Inayah kemudian duduk lagi di sofa.
"Mama... bukankah marga Mochizuki merupakan salah satu marga yang disandang Oma sebelum ia melakukan natiralisasi." tukas Haanish. "Berarti orang bernama Saburo tersebut merupakan anggota garis dalam keluarga ini. siapakah dia, Mama?"
Inayah lama menatap Haanish lalu mengangguk. "Kita sangat mengenalnya Nak. lelaki itu tak berdiri jauh dari kita."
Haanish masih diam mendengarkan. Inayah kemudian melanjutkan keterangannya.
__ADS_1
"Lelaki bernama Saburo Koga Mochizuki tidak lain dan tidak bukan.... adalah Papamu sendiri." []