The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 02


__ADS_3

alangkah senangnya jika semua keinginan tercapai. tidak ada yang namanya kesedihan. yang ada hanyalah kegembiraan. benarkah?


terkadang rasa sakit mengajarkan manusia menjadi dewasa dalam memandang kehidupan. rasa sakit ditinggalkan akan membuat manusia menyadari bahwa dunia bukan tempat untuk kebahagiaan. gembira, itu mungkin saja. tapi bahagia bukan kata yang tepat untuk menggambarkannya.


apakah kita bahagia jika apa yang kita inginkan terkabul? itu bukan bahagia. itu hanyalah kegembiraan. bahagia, lebih luas dari sekedar kebahagiaan.


ada yang mengatakan bahwa dalam menghadapi rasa duka, seorang manusia harus ikhlas. tapi benarkah demikian? kelihatannya kata yang cocok mewakili perasaan itu bukan ikhlas, melainkan rela. karena ikhlas, itu bukan rela, melainkan kepatuhan mutlak seorang hamba.


contohkanlah dalam Al-Qur'an. setiap Surah yang bertebaran, ada 114 Surah dan 6.666 ayat yang tercakuo dalam firman itu. semua Surah selalu memiliki tema dan itu terungkap dalam judul Surah. misalnya An-Nas, itu membahas tentang manusia dan kelemahannya. Al-Falaq, membahas tentang waktu subuh dan keutamaan serta misteri dibaliknya. tapi dari semua Surah, ada satu yang kelihatannya tidak sinkron, baik itu dari segi tema maupun judulnya.


Surah Al-Ikhlas.


apakah dalam surah itu menyinggung tentang kata ikhlas? tema dan judulnya tidak berkaitan sama sekali, tapi benarkah demikian? apa itu ikhlas? ternyata ikhlas adalah kepatuhan mutlak, bukan kerelaan mutlak. ikhlas adalah doktrin mutlak tentang dzat Allah itu sendiri, bukan tentang manusia, juga bukan tentang makhluk lain. jika berkenaan dengan makhluk lain, maka kerelaan lebih tepat mewakili perasaan itu. bukan ikhlas. manusia sering salah kaprah dalam memahaminya. namun juga senang menenggelamkan diri dalam kesalah pahaman makna dibalik sebuah kata.


...****...


waktu kedukaan selama empat puluh hari telah berlalu. keluarga Ali, maupun keluarga Lasantu kembali merajut kepingan hati dan asa yang sempat berceceran dan berserakan disudut sanubari yang terluka oleh ketiadaan orang yang dicintai dan dihormati.


Inayah kembali sibuk dengan pekerjaannya sebagai penegak hukum. wanita itu memiliki etos kerja yang tinggi sebagaimana mendiang ayahnya. dan itu dibayar penuh oleh pemerintah. wanita itu sekarang menduduki jabatan kedua di struktur kepemimpinan kepolisian daerah. pangkatnya sebagai Asisten Komisaris Besar Polisi menghantarkannya menduduki jabatan sebagai wakil Kepala Kepolisian Daerah Gorontalo. surat keputusan itu diterima tepat pada hari keempat puluh peringatan kematian Trias Ali.


prosesi upacara serah terima jabatan telah dilakukan. sudah seminggu, Inayah menjalani peran sebagai orang nomor dua dijabatan publik kepolisian daerah itu. dia tetap memelihara sikapnya. dan waktu mulai kembali berjalan.


...*****...


Kediaman Ali resmi ditinggali oleh Inayah, sedang kediamannya di Puri Manggis Residence diserahkan kepada Haidar. adapun kediaman Lasantu yang dilengkapi dojo pribadi milik mendiang Azkiya, menjadi milik Haanish. kedua remaja itu menjalani pendidikan yang sama di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Amai Gorontalo, hanya saja berbeda fakultas dan prodi.


Haidar, sebagai calon pewaris Buana Asparaga Tbk, diharapkan untuk lebih membawa kerajaan bisnis keluarga menuju arah yang lebih baik kemudian mengambil pendidikan di manajemen bisnis. ia adalah calon ujung tombak dari perusahaan yang bergerak diberbagai bidang seperti pertanian, industri dan ekstraktif yang merupakan basis perusahaan ini.


Haanish lebih memilih pendidikan dibidang hubungan internasional. ia tak terlalu tertarik memimpin perusahaan. pemuda itu lebih suka berpetualangan. ia sangat aktif dalam kegiatan pecinta alam.


namun, Inayah telah merancanakan hal-hal yang terbaik untuk anak-anaknya kelak. setidaknya itu menurutnya.


...*****...


masa orientasi pengenalan kampus (OPAK) untuk UIN Sultan Amai Gorontalo baru saja berakhir seminggu yang lalu. para MABA (Mahasiswa Baru) atau pelajar UIN semester awal diminta untuk segera memenuhi administrasi pembelajaran oleh petugas Admin/TU melalui surat elektronik.


seorang gadis, berambut agak bergelombang dan mengenakan pakaian yang layak melangkah memasuki pekarangan Kampus. wanita itu berwajah cantik dengan kulit eksotis. yang membuatnya makin menarik adalah sepasang bola matanya yang berwarna hijau keabu-abuan, sangat berlainan dengan warna bola mata mahasiswa lokal lainnya.


wanita itu tak mengenakan jilbab meskipun ia beragama islam, melainkan hanya melilitkan saja kerudung melingkari leher jenjang dan menutupi sebagian rambutnya yang hitam bergelombang itu.


wanita itu adalah Mahreen Nurmagonegov, seorang mahasiswa asing yang merupakan anggota mahasiswa program pertukaran pelajar antara Indonesia dan Rusia. gadis itu melangkah santai menyusuri jalanan yang dilapisi beton yang dicetak gaya batu bata yang saling bersambungan. langkah kakinya terayun santai ketika terdengar suara wanita lain memanggilnya.


"Tunggu..." seru perempuan itu dengan langkah setengah berlari. napasnya terdengar tak teratur.


Mahreen menoleh. siapa perempuan ini? apakah dia sama-sama mahasiswa baru sepertiku?


"Hai..." sapa jilbaber cantik itu. "Kamu mahasiswi program pertukaran pelajar itu, kan?" serunya dengan suara riang lalu mengulurkan tangan. "Boleh kenalan? Aku Callista Waroka. kalau kamu?"


Mahreen mengangguk datar. "Aku Mahreen Nurmagonegov." jawabnya balas mengulurkan tangan menjabat tangan Callista.


"Bisa kita sama-sama jalan?" tanya Callista.

__ADS_1


"Bisa saja. bukankah arah kita sama?" jawab Mahreen lagi.


Callista tertawa. "Benar juga."


keduanya tiba digedung perkuliahan. diselasar sudah banyak berkumpul para mahasiswa yang sedang sibuk membaca-baca lembaran digital entah itu pengumuman, jadwal perkuliahan, kelompok kelas dan sebagainya. Mahreen bergabung dengan kerumunan pelajar-pelajar itu.


"Kelompok mana kau?" tanya Callista.


"Kelas A." jawab Mahreen.


Callista mengangguk-angguk lalu berbalik dan melangkah santai keluar dari keramaian itu. jilbaber itu duduk tenang dideretan bangku panjang yang terdapat di tempat itu. Mahreen menghampiri Callista yang duduk santai lalu mengeluarkan gawai dan mengaktifkannya. tampilan holografis muncul dan Callista sibuk menekan dan memilah lembar-lembar tampilan holograf yang muncul dihadapannya.


Mahreen duduk dan mengamati sahabat barunya. gadis itu terkejut melihat tampilan holografis dari jadwal yang terdapat di papan digital itu.


"Lho? kok kamu bisa mengakses jadwal itu?" tanya Mahreen dengan heran.


Callista menganggukkan kepala sejenak kearah depan. Mahreen mengikuti arah anggukan jilbaber itu. ia menemukan perangkat antena wireless fidelity yang mencuat sedikit disudut langit-langit selasar bagian dalam dekat papan digital yang dikerumuni para mahasiswa.


"Kampus ini memiliki ruang publik yang bisa kita akses kapan saja, termasuk jadwal, pengelompokan mahasiswa dan beberapa hal publik lainnya. bahkan kita bisa melakukan transfer pembayaran perkuliahan melalui aplikasi publik ini." tutur Callista dengan senyum kembali membaca jadwal holografis dihadapannya.


"Ah, kenapa kau tak bilang?" gerutu Mahreen. "Jadinya kan aku tak perlu ikut berjubel bersama mereka."


Callista tersenyum. "Papan digital itu diperuntukkan bagi golongan mahasiswa menengah kebawah yang tidak memiliki perangkat semacam kita-kita yang golongan menengah keatas...." jawab jilbaber itu.


Mahreen kembali melayangkan pandangan sejenak ke arah kerumunan mahasiswa itu. Callista menghela napas. "Melihat mereka, aku sering merasa bersyukur dengan keberadaanku yang selalu tercukupi ini." jilbaber itu kemudian menatap kerumunan yang masih ada itu. "Global Trade Area telah membawa dampak besar bagi negeri ini. yang lemah tergilas dan yang kuat semakin berkuasa...." ujarnya dengan nada prihatin. "Seandainya aku bukan orang kaya, tentunya aku ikut bergabung dengan kerumunan itu."


Mahreen tersenyum tipis. "Kau benar. sekat itu meski tak kelihatan namun nampak jelas."


💻"Cholil? ada apa?" tanya Callista.


💻"Masih lama kau disana?" tanya lelaki yang wajahnya terpampang jelas dalam layar holografis itu. wajah yang sama identiknya dengan wajah jilbaber itu. keduanya rupanya pasangan kembar dampit.


💻"Sedikit lagi aku kembali." jawab Callista. "Memang ada apa? bukankah hari ini kau juga harus pulang ke rumah? masih ngapain saja sih di Canberra?"


💻"Masih ada urusan sedikit, Callista yang comel..." olok Cholil, saudara kembarnya itu. "Bunda tadi hubungi kamu, namun katanya nggak bisa nyambung... makanya Bunda hubungi aku.... Bunda bilang, beliau masih ada pertemuan sedikit dengan dewan direksi Buana Asparaga Tbk. pertemuan itu sendiri dilaksanakan di Jakarta. setelah itu Bunda akan menuju Sumatera Barat, meninjau kembali tambang-tambang milik Buana Asparaga yang ada disana. kelihatannya Bunda akan lama diluaran sana."


💻"Lalu Ramanda sendiri?" tanya Callista.


💻"Lho? Ramanda kan sama-sama dengan Rakandamu ini Yunda sayang..." jawab Cholil lagi kembali mengolok.


dalam keluarga itu, Dewinta Basumbul, ibu dari kedua anak kembar itu memang mengenalkan panggilan-panggilan khusus dalam keluarga mereka. Cornell Waroka, sang ayah sekaligus kepala keluarga, dipanggil Ramanda yang artinya ayah. Dewinta sendiri menyebut dirinya Ibunda namun sering disingkat oleh kedua anaknya dengan sebutan 'bunda' saja. Cholil dipanggil Rakanda yang artinya sama dengan istilah brother dalam bahasa inggris, dan Callista dipanggil Ayunda.


💻"Oh iya ya?" ujar Callista kemudian tertawa. "Lupa..." tambahnya. "Ya sudah kalau begitu. nanti setelah mengurus semua administrasi, aku langsung pulang." setelah itu Callista menonaktifkan semua lembaran holografnya dan menyimpan gawainya kembali. jilbaber itu menatap sahabat barunya.


"Aku mau ke gedung fakultas dulu, hendak merampungkan beberapa administrasi yang belum selesai." ujar Callista kemudian bangkit. "Insyaa Allah kita akan ketemu lagi."


Mahreen tertawa pelan. "Memang kamu tahu tempat tinggalku? oloknya membuat Callista terkekeh.


"Sebutkan. nanti aku akan menyambangimu. kamu teman pertamaku di kampus hari ini. anggap saja langkah maju menjadi sahabat yang lebih baik."


Mahreen menyebutkan alamat kostnya dan Callista tersenyum. jilbaber itu mengangguk.

__ADS_1


"Baik. nanti kuhubungi lagi ya?" ujar Callista kemudian melambai dan berbalik melangkah meninggalkan selasar itu. Mahreen akhirnya menyibukkan diri. ia menekan sebuah tombol pada benda semacam arloji digital yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


benda itu kemudian melebar dan membentuk tablet mini dengan pemancar gambar holografis. pada keyboard holograf itu Mahreen mengetik nama situs elektronik dari UIN Sultan Amai Gorontalo dan beberapa saat kemudian muncul beberapa tampilan. gadis berkerudung itu mengamati tampilan-tampilan itu. ia menekan lembar holografis yang menampilkan jadwal perkuliahan. setelah itu gadis tersebut menonaktifkan peralatannya dan bangkit lalu melangkah meninggalkan tempat yang masih dipenuhi masyarakat akademika itu.


...******...


bunyi alarm mengagetkan Haanish yang sementara tidur. tubuhnya langsung melengkung bangun diantara sadar dan tidak. dengan mata yang masih setengah terpejam, pemuda berambut panjang sebahu itu mengulurkan tangan dan menekan sebuah alat berbentuk kubus.


dari alat itu menyembul sebuah wajah holografis seorang lelaki yang sangat dikebalnya. Dengan membuang napas, pemuda itu menggerutu.


"Uhm... kau..." ujarnya dengan pelan.


"Ya! aku! Memangnya kenapa?" tantang wajah holografis itu. "Ini sudah siang, woy! bangunlah! mau sampai kapan kamu berkemul begitu?" hardik lelaki itu.


"Aaahhh... sudahlah Chounan. aku malas mendengar suara rempongmu itu. ini masih pagi, dan kau merusaknya dengan suaramu yang mirip burung alo itu." ledek Haanish yang duduk memeluk lututnya yang masih terbalut selimut tebal. lelaki itu memang telanjang. torsonya yang polos menampilkan lekuk-lekuk sepir cutting style yang membuatnya terlihat hottish. disebelahnya terlihat gundukan yang bersembunyi dibalik selimut yang dipakai Haanish.


seakan tahu apa yang dilakukan saudaranya itu, wajah lelaki yang berada dalam tampilan holografis itu, tak lain adalah Haidar Ali menjadi tegang.


"Astaghfirullahal adhziim! Nish... kamu lagi ngapain?! kamu begituan lagi?! " hardik Haidar dengan gusar.


Haanish tertawa menyadari saudara menangkap basah dirinya. pemuda itu menyibak selimut itu membiarkan setengah tubuh bagian atas gadis yang telanjang itu terekspos oleh saudaranya. Haidar mengumpat-ngumpat dalam bahasa Gorontalo kuno.


"Singkirkan pemandangan busuk itu dariku!" hardik Haidar.


Haanish tertawa lagi. ia memang paling senang mengusili saudaranya yang berdarah putih itu. Haidar memang sangat alim disegala sudut kehidupannya. lelaki itu dididik sangat kuat dalam perihal agama oleh Trias dan Kenzie hingga pemuda itu selayaknya seorang Sufi ditengah kehidupan hedonistis yang mewabah dunia.


pemuda itu kembali menyelimuti tubuh perempuan disisinya itu lalu menatap Haidar.


"Kamu ngapain sih mengganggu aku sepagi ini?" tanya Haanish dengan wajah keruh. wajah tampan yayoi itu terlihat kesal.


"Mama mengundang kita makan malam di kediamannya. kamu jangan ngeles lagi, alasan-alasan klise kamu sudah malas aku mengatakannya pada Mama." ujar Haidar.


"Sepagi ini kau membangunkan aku hanya untuk mengatakan ini?!" pekik Haanish lalu mengumpati Haidar dengan umpatan bahasa gorontalo pula.


"Hati-hati dengan ucapanmu itu Haanish! kau mengumpatku hah?!" bentak Haidar lagi.


"Baiklah, Tuanku Putra Mahkota..." ujar Haanish menyindir lagi status putra tertua dikeluarga Lasantu itu. "Katakan sama Mama, aku pasti datang."


"Jangan ngeles lagi kau!" ancam Haidar.


"Iya, iya..." jawab Haanish dengan wajah yang disabar-sabarkan. wajah holografis Haidar Ali hilang menyisakan ruangan yang sunyi dan suasana yang hening.


Haidar menarik napas lalu bangkit melangkah dengan tubuh telanjangnya yang kekar berlekuk-lekuk itu menuju kamar mandi. lelaki itu mengaktifkan shower dengan tepukan tangan dan air hangat pun mengalir deras membasahi tubuh lelaki yang sementara janabat itu.


ketika Haanish keluar dari kamar mandi itu, perempuan tadi sudah bangun dan mengenakan pakaiannya. pemuda itu tersenyum.


"Nggak mandi kamu?" tanya Haanish yang telah mengenakan piyama mandi itu.


"Nggak. biar aku mandi dirumahku saja." tolak wanita itu sementata memakai make up, mempercantik wajahnya.


"Aku mau ke kampus." ujar Haanish. "Nanti kita ketemuan setelah jam kuliahku selesai."

__ADS_1


wanita itu hanya mengangguk lalu pamit dan melangkah meninggalkan kamar. Haanish hanya melihat dari balik kaca jendelanya, perempuan itu menuruni tangga selasar dan memasuki Mercedes-Benz versi 288 melaju meninggalkan kediaman Lasantu.[]


__ADS_2