
"Issha, berbicaralah sopan pada orang tua. dimana adat waang tu?" tegur Salman agak keras. "Kalau waang bandel begini, aden nggak akan melatih waang lain main senjata." ancamnya.
Marissa langsung mengangkat telunjuknya kepada Salman lalu mengatur sikapnya dan kembali tersenyum manis menatap layar gawai.
"Abi... Issha hanya mau dinikahkan sama Uda Haanish." ujar Marissa dengan yakin. sedang Salman hanya geleng-geleng kepala saja.
"Memangnya Haanish mau sama kamu?" pancing Salman.
"Wallahu a'lam bis shawab." jawab Marissa sambil mengangkat bahu. "Yang jelas, seperti kata denai tadi. denai hanya mau dinikahkan dengan Uda Haanish."
"Mengapa kamu ngotot mau nikah sama anak itu?" bujuk Akram. "Masih banyak laki-laki lain yang bisa menjadi imam kamu."
"Denai hanya melakukan ta'aruf sekali saja." tandas Marissa. "Dan itu sudah denai lakukan." ujar Marissa dengan senyum.
"Maksudnya?" ujar Akram tak paham, "Memang kamu melakukan ta'aruf dengan Haanish dimana?" tanya sang ayah.
Airina terkesiap. "Astaga, berarti..."
Akram menatap dengan heran dan tak nyaman. "Berarti, bagaimana?"
Airina menatap sejenak kepada suaminya, kemudian menatap Marissa. "No'u, kamu ngapa-ngapain dengan Haanish kan didalam kamar itu?"
senyum jahil muncul diwajah gadis itu. ia langsung saja menukas, "Kalau iya, memang kenapa?" ujarnya membesarkan matanya nan berbinar.
"Astagfirullah, Issha..." pekik Airina dengan lirih. matanya berkaca-kaca.
Marissa langsung menghiburnya. "Tenanglah Umi. anakmu nggak sebejat itu." ujarnya membuat Airina menjadi tenang. "Tapi, persoalan nikah dengan Uda Haanish, denai serius kok."
Salman terhenyak. "Adiek. kau itu masih muda. masih usia sekolah. mengapa memikirkan nikah? urus dulu sekolahmu. belum lagi, kau akan bergabung apakah dengan MLt. Group atau Ark Industries. pikirkan dulu masa depanmu." bujuk lelaki itu.
"Aku sudah memikirkan masa depanku, Uda Attar." ujar Marissa menyunggingkan senyum. "Aku akan jadi ibu muda yang profesional."
Akram menepuk dahinya dan menatap Airina. "Sayang, urusilah dulu, anak kita ini. kurasa aku sudah tak sanggup menghadapinya." keluh Akram memperlihatkan wajah trenyuh.
"Alaaaa.... Abi keseringan bohongi denai dengan raut wajah itu. denai nggak akan tergerak. hati denai sudah mantap sekarang." tandas Marissa.
"Marissa Williams! kamu tidak mau menuruti perintah orang tuamu?" sergah Akram membuat Airina sendiri terperangah.
"Hubby! jangan bicara keras kepada anak-anak kita!" sergah balik Airina kemudian mencubit lengan suaminya. Akram meringis.
"Aduh, oke, oke... terserah kamu saja sayang." ujar Akram.
Airina kini bicara. "Issha... Umi sudah tahu kekerasan tekadmu. tapi Umi dan Abi perlu membicarakan hal ini dengan Bibi kamu."
"Silahkan, kalian orang-orang tua membicarakan perjodohan kami." ujar Marissa dengan enteng lalu kembali menikmati santapannya dan tak mau bicara lagi.
Salman menjauh dan bicara. "Mamak sama Mintuo tak usah kuatir. aden akan menjaga adiek baik-baik. percayakan kepada aden."
akhirnya kedua orang itu mau menerima saran dari Salman. pembicaraan seluler itu dihentikan. Salman kembali menyimpan gawai dan mendekati meja makan. ia menikmati lagi nasi goreng buatan Marissa.
"Kamu benaran ingin nikah dengan Haanish?" pancing Salman. Marissa mengangguk lagi sambil tetap menikmati makanannya.
"Mengapa? aden ingin dengar alasannya." desak Salman dengan tenang. Marissa meletakkan sendok dan garpu di piring yang makanannya tersisa sedikit. gadis itu menatap Salman.
"Cukup Uda Haidar dan Uni Marina yang menderita dalam kisah itu... denai tak mau Uda Haanish menderita." jawab Marissa.
Salman mencondongkan tubuh dan menatap penuh perhatian. " Bagaimana? apa maksud adiek dengan ucapan barusan."
"Apakah Uda pikir denai tak memperhatikan kehidupan Uda Haanish? denai tahu lho, sekarang Uda Haanish lagi stres karena pacarnya diambil orang." jawab Marissa dengan enteng lalu mengambil piring dan mencucinya.
Salman terhenyak, "Jangan bilang kalau waang..."
"Ya, denai selalu stalking kehidupan Uda Haanish." jawab Marissa meletakkan piring yang kosong ke rak dan alat makan ketempatnya lalu kembali duduk didepan Salman.
Marissa tersenyum, "Jadi denai memutuskan untuk menjadi selimut hati bagi Uda Haanish."
Salman memicingkan mata. "Issha, kau sanggup mencintai seseorang yang tidak mencintaimu? apakah kau pikir Haanish segampang itu bisa membelokkan cintanya padamu? bagaimana kalau tidak? kau tak menderita?" todongnya berkali-kali.
Marissa tersenyum lagi. "Itu resiko yang harus aku terima. tapi dibalik itu, aku mempunyai peluang sama besar dengan resiko itu." Marissa menyentuh punggung tangan sepupunya itu. "Uda, selama ini Uda kuanggap nomor dua setelah Abi. aku hanya minta Uda mendukungku, mensupportku dan menguatkanku. doa Uda, selalu kuharap."
__ADS_1
mata Salman langsung berkaca-kaca. hatinya haru sekaligus trenyuh. Marissa siap menjadi tumbal atas itu. lelaki itu menegakkan tubuhnya. ia tersenyum dan suara bergetar.
"Adiek. percayalah." tukas Salman. "Aden akan selalu mendukungmu. Haanish akan menyesal jika tak melihat sebuah permata dihadapan matanya." pemuda itu kemudian bangkit. "Kita akan ke kediaman Ali. calon suamimu, menunggu disana!" setelah itu Salman berbalik dan melangkah pergi.
Marissa memperhatikan sepupunya itu. nampak Salman seperti sedang menyingkirkan airmatanya dengan punggung tangan dalam posisi memunggunginya. Marissa kembali tersenyum dan berlari.
"Uda, tunggu aku dong." seru Marissa, "Main tinggal saja." gerutunya.
...******...
Inayah duduk termenung menatap Haanish. Haidar duduk diseberang bersama Mahreen.
"Jadi, sudah kuat tekadmu untuk melakukan pengembaraan itu?" pancing Inayah lagi untuk menegaskan pendirian pemuda itu.
"Iya, Mama... saya hanya meminta restu dari Mama." ujar Haanish dengan mantap.
Inayah mengangguk-angguk lalu menghela napas. "Eiji, apakah ini murni dari hatimu untuk membuktikan bahwa leluhur kita bebas dari kesalahan, ataukah hanya sebuah hasrat membuktikan bahwa apa yang diungkapkan keluarga Wie adalah kebohongan dan ini menjadi peluang bagimu untuk mendapatkan Denada kembali?" pancing wanita itu tidak membuat Haanish terdiam.
suasana hening kembali menggelayuti ruangan itu. Haidar menatap tegang ke saudaranya. jika memang keinginan Haanish untuk mencari kebenaran tentang Mamoru Minamoto hanya didasarkan pada keinginan untuk membuktikan leluhurnya tak bersalah dan membuat Denada kembali dalam pelukan pemuda itu, maka Haidar adalah orang pertama yang akan menentangnya.
lama diam akhirnya Haanish tersenyum. "Mama, aku sudah merelakan Denada Wie untuk Wijaya Tanuwirdja. biarlah mereka bahagia meski itu membuatku terluka. aku masih bisa mentolerirnya." pemuda itu menunduk sejenak lalu terkekeh. "Yang tidak kuterima adalah, penghinaan mereka kepada leluhur. itu saja."
Inayah kembali mengangguk-angguk. ia menatap Haidar. "Bagaimana menurutmu, Chouji?" tanya Inayah kepada putranya.
Haidar sejenak menatap Haanish lalu menatap ibunya. "Kurasa, Mama harus mengijinkannya. bukan saya hendak membela, namun saya setuju." pemuda itu kemudian menatap Haanish. "Ketiadaan cela akan sangat mempengaruhi kredibilitas perusahaan ke depan. bagaimanapun, orang melihat citra perusahaan melalui citra pemiliknya."
Inayah kembali mengangguk-angguk. "Hmmm... baiklah. bisakah kamu menunggu sehari lagi? ada beberapa persiapan yang dilakukan sebelum kamu berangkat ke jepang."
Haanish mengangguk. "Baiklah, Mama... terserah kepada Mama saja."
bunyi dentangan bel, menjeda pertemuan itu. mereka bertiga menatap pintu depan. Haanish bangkit.
"Biar aku yang buka." ujar Haanish sambil melangkah menuju ruang tamu dan membuka pintu. ketika itu pula, ia terkejut.
"Salman? Marissa?" seru Haanish dengan kaget.
"Siapa nak?" seru Inayah dari seberang ruangan. Haanish menoleh.
"Hai, ketemu lagi, Uda." sapanya.
Haanish tersenyum dan mengangguk. Marissa kembali menggoda.
"Kalau tersenyum, Uda bahkan lebih tampan dari Nabi Yusuf alaihi salam." ujar Marissa membuat Haanish disergap rasa jengah dan malu.
Salman tiba didepan Inayah. "Bibi... aden membawa Marissa menghadap. sekalian ada yang ingin dimufakatkan oleh mintuo etek dan mamak tuo kepada Bibi."
alis Inayah sejenak mengerut lalu melurus kembali. "Tentang apa, itu Salman?" tanya Inayah dengan senyum penasaran.
"Sila hubungilah mereka berdua, Bibi." jawab Salman.
"Akan kuhubungi nanti." ujar Inayah. "Panggilkan kemari anak bontot Yuki itu."
Salmam mengangguk lalu kembali ke ruang tamu dimana Haanish dan Marissa berbincang-bincang. ia memanggil Marissa. gadis itu menoleh.
"Bibi memanggilmu." ujar Salman.
Marissa mengangguk lalu pergi meninggalkan tempat itu dan memasuki ruangan dimana meteka duduk. ia mendekat ke hadapan Inayah. wanita parobaya itu tersenyum.
"Rupanya inilah putri bungsu keluarga Yuki itu?" ujar Inayah dengan senyum dan mengangguk-angguk lagi.
"Assalamualaikum, Bibi." sapa Marissa maju mencium tangan Inayah. wanita parobaya itu tersenyum lalu membelai kepala Marissa.
"Wa alaikum salam." balas Inayah. "Bagaimana kabarmu nak?"
"Alhamdulilah, Bi.. terlebih saat ini denai..." jawaban Marissa tak terlanjut sebab mendengar deheman Salman. Inayah menatap lelaki itu.
"Kenapa Salman?" tanya Inayah dengan heran.
Salman langsung tersenyum lebar. "Tenggorokan aden kelihatannya kering." ujarnya kemudian mendehem-dehem lagi sedang Marissa hanya memasang tampang cemberut. Inayah menggeleng-gelengkan kepala sambil senyum lalu menatap lagi Haanish yang sudah duduk sejak tadi. Marissa sejak tadi ingin benar duduk disisi Haanish namun dipelototi Salman membuat gadis itu menahan keinginannya.
__ADS_1
"Baiklah nak. sehari ini kamu beristirahatlah." ujar Inayah.
"Baiklah Mama. saya pergi dulu." kata Haanish kemudian bangkit dan pergi. sontak Marissa bertanya membuat Salman langsung menepuk jidatnya.
"Uda mau kemana?" tanya Marissa.
Haanish menahan langkah, menatap sejenak Marissa, kemudian Inayah, lalu menatap Marissa lagi. "Aku mau balik ke kediaman Lasantu, hendak istirahat." jawab Haanish.
"Denai ikut..." ujar Marissa hendak berdiri namun langsung ditahan Salman dan didudukkan lagi dengan tambahan pelototan mata lagi. Marissa menunduk dengan wajah cemberut.
Inayah menggeleng-gelengkan kepala sambil senyum sedang Haanish kembali mengayun langkah meninggalkan ruangan itu. Haidar ikut berdiri.
"Wonu odito, watiya olo ma mo hindu." ujar Haidar. (Kalau begitu, saya juga hendak permisi / pamit).
Inayah mengangguk. Haidar menatap sejenak Mahreen lalu berbalik meninggalkan ruangan tersebut. Salman bangkit pula.
"Aden titip Marissa disini, Bibi." ujar Salman, "Aden hendak balik pulang ke Kediaman Lasantu."
Inayah mengangguk lagi. Salman menatap sepupunya. "Waang sementara tinggal disini menunggu dijemput mamak tuo dan mintuo etek."
"Tapi denai hendak...." protes Marissa.
"Issha..." sela Salman dengan sabar. "Dalam meraih sesuatu, diperlukan sabar dan doa. semoga apa yang waang cita-citakan akan terwujud segera. aden permiai dulu."
Salman berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan. tinggallah Marissa ditemani Inayah dan Mahreen. wanita parobaya itu menatap Marissa yang matanya berkaca-kaca sambil *******-***** ujung bajunya.
"Marissa... kesini nak." panggil Inayah dengan lembut.
Marissa masih menunduk, bangkit dan duduk disisi Inayah. kepala gadis itu kemudian direngkuh Inayah dan dibawanya kesisinya. tak lama, Inayah mendengar isakan.
"Lho? kenapa nangis?" tanya Inayah dengan lembut.
Marissa tak menjawabnya sebab sibuk menyusuti airmatanya dengan punggung tangan. Mahreen tersenyum.
"Kamu nggak usah takut dihadapan Mamachka. beliau nggak jahat, juga bukan seorang pemarah. tenanglah." bujuk Mahreen lalu tersenyum menatap Inayah. wanita itu melepas pelukannya dan menatap Marissa yang masih menunduk.
"Lari dari rumah ya?" tebak Inayah langsung membuat Marissa mengangguk-angguk pelan. Inayah tersenyum lagi. "Kenapa?" tanya wanita parobaya itu.
"Mau ketemu Uda Haanish, tapi nggak diijinkan Abi." jawab Marissa dengan pelan. Mahreen meraih gelas di meja hendak meminumnya. Inayah bertanya lagi.
"Kenapa mau ketemu Haanish?" tanya Inayah.
"Mau bilang, kalau denai siap jadi istrinya." jawab Marissa jujur langsung membuat Mahreen tersedak menyemburkan air dari mulutnya. buru-buru gadis itu menyeka bibir dan bajunya yang basah, kemudian ditatapinya Marissa dengan takjub.
Inayah menatap Marissa dengan dalam lalu tersenyum. dibelainya rambut hitam pekat gadis itu. "Kenapa anakku ini ingin hendak jadi istri Haanish?"
"Denai tak mau lihat inyo bersedih terus. jika hanya perkara perempuan itu yang membuat Uda selalu sedih, denai mau kok jadi istrinya." jawab Marissa kini berani menatap wajah Inayah.
Inayah tersenyum-senyum. dasar anak jujur... sepolos ini sudah berani menanggung resiko sebagai pengagum bayangan dari Eiji...
"Jika ternyata Haanish melihatmu hanya sebagai adik, bagaimana?" tanya Inayah memancing reaksi Marissa.
"Ibu... ada orang mengatakan, cinta datang setelah nikah. bagi denai, tak masalah jika Uda belum mencintai denai sepenuhnya. cinta itu adalah pembiasaan dan kebiasaan. jika inyo terbiasa melihat denai disisinya, tentu inyo akan melupakan perempuan itu dan mencintai denai." jawab Marissa membuat Inayah kembali senyum dan membelai rambut ponakannya itu.
"Anak yang baik... semoga kebaikanmu akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlimpah." ujar Inayah.
Marissa tersenyum, "Terima kasih Ibu."
Inayah mengangguk. "Sekarang, Issha tentu lelah. Issha istirahat ya? Mama sebentar lagi mau diskusi dengan ibumu tentang sesuatu."
Marissa mengangguk patuh. Inayah menatap Mahreen. "Antarkan anak ini ke kamar di sisi kamarmu." perintah wanita parobaya itu.
Mahreen mengangguk dan bangkit menatap Marissa. "Nona, mari ikut saya." ajak Mahreen.
Marissa bangkit dan melangkah mengikuti Mahreen meninggalkan ruangan. kini tinggallah Inayah diruangan itu dan wanita itu mengeluarkan gawai lalu melakukan panggilan lewat video. tak lama kemudian muncul wajah Airina dan Akram.
📲 "Assalamualaikum, Yuki, Akram..." sapa Inayah.
📲 "Wa alaikum salam..." sapa mereka berdua. Airina langsung menyampaikan permintaan maaf atas kelakuan Marissa yang dianggapnya tidak berkenan dihati Inayah.
__ADS_1
📲 "Mengapa aku akan tersinggung dengan niat tulus ponakanku itu? dia bahkan lebih jujur darimu saat kau gengsi menyatakan perasaanmu kepada Akram sewaktu gadis dulu." sindir Inayah dengan senyum membuat Airina sontak merona merah wajahnya sedang Akram sendiri tak menyangka bahwa dulu ternyata sang istripun menggilainya, hanya takut mengungkapkannya.[]