
Salman sudah beberapa hari bertugas di Gorontalo. dia ditempatkan di kesatuan yang mana Inayah pernah bertugas dulu, yaitu reserse kriminal Polres Gorontalo. lelaki itu sudah melapor ke satuannya dan telah menjalankan tugasnya. tentunya untuk menyamarkan identitasnya sebagai seorang petugas negara, Salman sangat jarang mengenakan seragam dinas dan lebih sering mengenakan pakaian kasual saja meskipun ia selalu menyimpan lencana yang disematkan dalam dompetnya.
Salman mengandalkan pistol khusus pemberian Pamannya, Akram. pistol itu jenis revolver besar berlaras panjang. Ia menamainya Callista. senjata itu merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke 25. dikeluarga Williams, ia adalah cucu tertua, setelah itu barulah Marina, Marinka dan Marissa yang merupakan putri Akram dan Airina. kedua kakek-neneknya begitu menyayangi cucu-cucunya.
...******...
Haidar menatapi pohon Flamboyan itu. dibatangnya yang sudah dianggap paita itu, tertera nama sang ayah, tanggal lahir dan tanggal wafatnya. angin menghembus menyapu lembut tubuh pemuda berpakaian stelan jas itu.
"Assalamualaikum, Papa... aku harapkan kau baik-baik saja disana..." sapa Haidar. pemuda itu sejenak menarik napas lalu melepaskannya perlahan. "Aku hanya mampir sebentar untuk memastikan rumahmu tidak mengalami hal-hal jelek semisal sudah lapuk... tapi aku menyadari bahwa pohon ini terlihat baik-baik saja dan semakin indah tumbuh kembangnya."
"Ternyata kau disini." ujar seseorang membuat Haidar menoleh sejenak.
"Eiji..." gumam Haidar kemudian kembali menatap pohon tersebut. si pemilik suara yang ternyata adalah Haanish kemudian berdiri menjajari tubuh kakaknya.
"Memang, pikirmu aku dimana?" pancing Haidar.
"Workaholik sepertimu kupikir sedang berada dikantor. aku menghubungi Tante Dewinta tadi, dan beliau bilang kamu nggak ada dikantor. kupikir mungkin kau menemui pacarmu dan..." tutur Haanish.
"Pacar?" sela Haidar menatap Haanish dengan menautkan alis. "Memangnya aku punya pacar?"
Haanish tertawa, "Kamu nggak usah berkelit. aku bisa membaca kegengsian diwajahmu itu. apa kau pikir aku tak menguasai fisiognomi?"
"Pacarku siapa sih? Callista? jangan mimpi kamu." todong Haidar mulai berang.
"Memang Callista pacarmu? kayaknya aku nggak percaya. aku lebih yakin kalau kau memacari Mahreen..." tebak Haanish.
wajah Haidar memerah sejenak lalu segera menepisnya. "Kubilang kamu jangan sembarangan bicara Eiji. Papa nanti bisa dengar dan..." sergah pemuda itu.
"Biarpun Papa dengar, dia nggak akan melarang kamu sebab dia paham kau sudah dewasa. cinta monyetmu itu nggak usah kau kenang lagi. saatnya kau melangkah ke depan dan tancaplah gas menuju kesuksesan cinta." ujar Haanish kemudian tertawa.
Haidar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kalimat yang dilontarkan adiknya itu. Haanish maju lalu mengusap batang pohon flamboyan itu.
"Dengar Papa... kuharap kau jangan lagi menghalangi kakakku dalam pencarian cintanya. sudah cukup kisahnya bersama Marina harus kandas gara-gara persoalan mahram dan.." ujar Haanish.
"Eiji... jangan ungkit lagi kisah itu." sela Haidar.
"Baiklah, terserah kau..." jawab Haanish saat menatap Haidar lalu menatap lagi batang pohon itu. "Kuharap Papa merestui hubungan Chouji dengan Mahreen..."
Haanish menarik tangannya dari batang pohon tersebut. "Baik Pa. aku cabut dulu." lelaki itu berbalik dan melangkah meninggalkan Haidar.
"Mau kemana kau? aku menunggumu di kantor." panggil Haidar tanpa menoleh.
"Kau tak perlu menungguku disana. hubungi saja dan aku akan melakukan apa yang kau inginkan. ciaooo..." seru Haanish yang hanya mengirimkan suara melalui pengerahan ki, sebab sebenarnya ia sudah tak berada disana sejak tadi.
Haidar hanya tersenyum datar lalu merogoh sakunya. ia mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil sebatang. batangan berisi cincangan tembakau itu dijepitnya dibibir lalu Haidar menyulutnya. sejenak Haidar menikmati harum dan tajamnya aroma tembakau yang melalui tenggorokannya dan menghembusnya dengan pelan. angin kembali menyapu wajahnya dengan lembut.
...******...
kelompok itu sedang bercengkerama di kediaman Lasantu. mereka memang memenuhi undangan Haanish untuk pesta kecil-kecilan di beranda lantai dua. disana terdapat charcoal grill (panggangan berbahan dasar arang) yang sekarang sementara digunakan memanggang daging.
"Hati-hati, jangan sampai gosong. itu daging kelas satu woy." sahut Elvin, memperingatkan Zais yang sedang memanggang.
"Banyak bacot kau!" timpal Zais terbatuk-batuk. "Bantu akulah, bro. lama-lama bukan cuma dagingnya yang gosong. nih janggut asoy kesayanganku juga ikutan hangus nih." omelnya.
Elvin tertawa dan kembali sibuk dengan kelompoknya. sementara Salman baru tiba dan memarkir sepeda motornya. matanya memicing sejenak menatap keramaian dilantai dua. ada beberapa pemuda sedang asyik berpesta.
Salman melangkah memasuki rumah dan terus menuju lantai dua. kedatangan lelaki kekar berkepala botak itu sedikit menyita waktu mereka.
"Ini siapa?" tanya Rodin, "Hey, kalian mengundang orang ini nggak?" tanya pemuda itu kesemua temannya.
__ADS_1
Salman masih diam dalam tegapnya. tatapannya masih menghujam datar kepada Rodin. sementara itu Zais yang mengenakan celemek meninggalkan sejenak pekerjaannya lalu mendekati Salman. lelaki berjanggut tebal sepanjang dada itu mengamati Salman dari ujung kepala ke ujung kaki kemudian menatap teman-temannya.
"Bray... kelihatannya orang ini mencurigakan." ujarnya lirih lalu kembali menatap Salman. "Kamu ini siapa? kok lancang sekali masuk ke rumah ini?"
"Kalian sendiri berada disini tanpa kehadiran tuan rumah. kalian yang sebenarnya patut dicurigai." balas Salman sambil mengamati para pemuda itu dengan cermat.
"Yeee... asal bicara." ujar Zais, "Kami ini mahasiswa, temannya Haanish yang punya rumah ini. nah, kamu? siapa?"
"Aku, Salman Attar Williams. juga tinggal di kediaman ini." jawab Salman dengan tenang.
Zais tertawa, "Nih orang pembohong benar." serunya kepada para pemuda, "Dia pikir kita percaya." Zais kemudian menatap Salman. "Eh, kami tak tahu kamu ini orang dari mana sampai beraninya mengaku tinggal disini. sebaiknya kamu pergi saja, mumpung kami masih bersikap baik."
Salman menatap semua pemuda diberanda itu lalu tersenyum. "Maaf jika aden tak bisa mengabulkan pendapat waang semua. tapi, jika waang bersikeras, aden terpaksa harus melakukan tindakan preventif."
"Tindakan macam apa?!" tantang Zais.
"Semacam ini!" seru Salman mengayunkan tinjunya.
BAM!!!
wajah Zais menjadi landasan pendaratan tinju Salman yang beratnya 48 kilogram. pemuda itu terlempar menimpa meja. para mahasiswa yang marah bangkit dan maju mengeroyok Salman.
mereka tak sadar sedang melakukan penyerangan terhadap aparat negara. Salman juga tak gampang dijatuhkan. selama masa pendidikan disekolah menengah dan lanjutan, pemuda itu telah menggeluti dunia gulat. Salman juga sedikit menguasai silek dari ajaran neneknya, Syafira Alkatiri.
segala serangan yang diarahkan para mahasiswa itu selalu mental bahkan berbelok mengenai diri mereka sendiri ketika Salman sesekali mempraktekkan aneka teknik silek keluarga Alkatiri kepada para pemuda itu.
"Ambil senjata!" seru Zais yang langsung mengambil besi penyula dan maju hendak menusuk Salman.
DOR!!!
bunyi tembakan menggelegar dan besi penyula yang digenggam Zais langsung patah tersambar peluru. pemuda berjenggot tebal itu terdiam ditempat bersamaan dengan para mahasiswa yang juga terdiam sebab syok mendengar suara tembakan yang suaranya bagaikan bunyi guntur.
Salman berdiri tenang mengarahkan moncong pistol revolver besar miliknya kearah para mahasiswa tersebut. Zais yang kehilangan nyali melepaskan batang penyula yang sudah buntung. ia kemudian perlahan jongkok sambil meletakkan kedua tangan diatas kepala.
"Jangan lakukan itu." pinta seseorang dibelakang Salman.
serentak Salman berbalik dan menemukan Haanish berdiri menyandarkan punggungnya di dinding sambil melipat tangan kedada. Salman kemudian menurunkan senjatanya. hal itu dimanfaatkan Zais untuk bangkit dan melompat hendak menerjang Salman.
Salman refleks kembali menatap Zais yang sementara berada diudara dan lelaki botak itu kembali mengarahkan moncong senjatanya. Haanish bertindak cepat. dengan teknik hayagakejutsu yang dipadukan dengan genjutsu aliran Koga, pemuda itu melesat dan berdiri diantara kedua orang itu. tangan kanan pemuda itu mencolok lubang penarik pelatuk pistol milik Salman sehingga reserse itu tak bisa menarik pelatuknya sedang tangan kiri Haanish menghantam tubuh Zais yang kembali terjungkal dilantai diikuti tatapan kaget kawan-kawannya.
"Cukup sudah lelucon ini!" ujar Haanish dengan tatapan tajam ke arah Zais. "Kau mau menyerang petugas negara? kalian semua suka dipenjara heh?!" serunya kepada kawan-kawannya. mereka semuanya terdiam.
Haanish kemudian menatap Salman yang terkejut dan menatap kagum kepada pemuda itu. "Kau mau menghabisi kawan-kawanku, Attar?!" tantangnya dengan seringai bengis.
Salman pernah diberitahu Marina tentang sifat kedua putra Lasantu. khususnya Haanish yang menderita kelainan patologik. jika ia tertawa, bukan berarti ia senang. justru mungkin pemuda itu berada dalam kondisi marah bahkan murka. Salman menyerap informasi itu dengan baik.
"Maafkan aku, saudaraku." tanggap Salman langsung melepas pistolnya. pemuda itu terkejut melihat pistol dalam genggamannya.
"Hei, hei... singkirkan pistolmu. aku jijik melihatnya." seru Haanish langsung melempar senjata itu kembali kegenggaman Salman.
Haanish kemudian menatap sahabat-sahabat kampusnya. "Perkenalkan, Saudara jauhku dari Padang. dia bernama Salman Attar Wiliams. kami masih berkerabat karena Bibiku nikah dengan saudara kembar ayahnya. kalian kenal, Dr. Ikram Williams? pendiri Ikram Pharmaeutic? ini putranya."
seketika para mahasiswa itu terkejut dan langsung mendekat dan menyalami Salman. sikap mereka berubah kearah hormat tak terkira.
"Kupikir untuk lebih akrab, sebaiknya kau bergabung bersama kami." ajak Haanish. pemuda itu kemudian berbisik kepada Salman. "Dan singkirkan segera pistolmu. disini sangat aman. kau tak perlu securiga itu sama orang."
Salman tertawa lalu mengangguk-angguk. ia pamit kepada Haanish lalu meninggalkan kerumunan tersebut. Haanish kembali bergabung dengan kawan-kawannya.
"Kemana saja kamu?! kalau tak ada kamu, sudah meletus kepala kami semua ditembak lelaki itu." umpat Zais yang bangkit sambil menyapu-nyapu celemeknya.
__ADS_1
"Sudah, nggak usah banyak bacot kamu. selesaikan pekerjaanmu. itu daging sudah mau gosong!" ujar Haanish menunjuk panggang arang tersebut.
Zais buru-buru berlari menuju panggangan tersebut dan memeriksa daging-daging yang dipanggang. Haanish kemudian duduk dikursi yang kosong.
"Kamu kemana saja? kami kira, kamu sudah ninggalin kita-kita ini." ujar Rodin.
"Aku lagi sama-sama Chouji pergi nyambangi kuburan Papa. memangnya buat apa aku ajak kalian semua ke kuburan? mau hening cipta kamu semua?" ujar Haanish menatapi kawan-kawannya.
Rodin hanya terkekeh. "Nggak. Tapi semalam ini, kok kakakmu Chouji belum pulang? apakah karena segitu gila kerjanya ia nggak pulang-pulang?"
"Bukan urusan kamu!" ujar Haanish menowel jidat Rodin. "Sudah, kita berpesta sekarang! sudah siap saladnya? makanannya? minumannya?"
"Sudah, tadi bibi yang tua itu sudah menyiapkannya. tinggal kita ambil di pantry." jawab Rodin.
"Ya sudah, ambil sana!" perintah Haanish.
Rodin mengangguk lalu mengajak satu orang temannya pergi meninggalkan beranda, turun menuju pantry mengambil salad dan beberapa makanan ringan serta minuman. tak lama mereka kembali membawa sebuah dus berisi minuman dan loyang berisi salad, sebotol mayonese, sambal dan sekotak penuh cemilan kacang mete.
mereka meletakkannya di meja dan Zais mengambil daging dengan penjepit lalu meletakkannya di piring lebar yang telah dihamparkan salad. lelaki berjanggut itu bagai chef terampil yang membalurkan saus mayones dan sambal dipermukaan daging panggang itu.
"Ya, saatnya berpesta." seru Haanish diiringi suara semangat kawan-kawannya. sejenak Haanish menatap tingkat ketiga. ia kembali menatap kawan-kawannya.
"Aku undang dulu anggota baru kita." ujarnya kemudian meninggalkan beranda dan menaiki tangga menuju lantai tiga. didepan pintu, Haanish mengetuk pintu.
pintu itu menguak. Salman muncul mengenakan kaos yang terasa begitu ketat. didadanya tercetak tulisan 'Just Bring It' khas gaya seorang petarung handal jaman dulu.
"Kenapa Bro?" tanya Salman.
"Kamu nggak ikut bergabung? acaranya akan segera dimulai" ajak Haanish.
Salman tersenyum. "Ayo, aden paling suko dapat sahabat."
Haanish tersenyum dan mengisyaratkan Salman mengikutinya. kedua pemuda itu melangkah menuruni tangga dan muncul diberanda.
"Ayo kita mulai pestanya!" seru Haanish.
teman-temannya antusias menyambut ajakan itu dan Salman bergabung dengan mereka. kali ini Elvin yang kebagian sebagai disk jockey memainkan lagu-lagu mix dari DJ Equipment.
mereka duduk mengelilingi meja dan langsung menyerbu makanan dan minuman itu. satu dus minuman ludes diambil oleh para mahasiswa itu. Haanish membiarkan saja sebab ia yang biangnya pesta.
sementara asyik mengikuti alur pesta, Haanish dengan tatapan peripheral menyadari kehadiran Haidar yang tidak mau mengganggu urusan mereka. pemuda itu menyelinap, membiarkan anak-anak itu tenggelam dalam pesta kecil-kecilan itu.
Haanish ikut menyelinap tanpa setahu kawan-kawannya. sebelumnya ia sudah memberitahu Salman agar mewakilinya bergabung dalam pesta itu.
Haanish menyusul Haidar yang baru saja hendak membuka pintu kamar. deheman pemuda itu membuat Haidar urung membuka pintu kamarnya. ia menoleh kearah Haanish yang melangkah mendekat.
"Kau meninggalkan pesta." tegur Haidar.
"Aku ingin menemanimu saja." jawab Haanish.
"Aku nggak apa-apa. kembalilah ke teman-temanmu." tolak Haidar dengan halus.
"Wajahmu memberitahuku, bahwa kau punya masalah. katakan saja padaku. kita ini keluarga bukan?" bujuk Haanish.
Haidar tersenyum datar. "Hanya urusan kantor. tak penting."
"Jangan bohong padaku. apa yang bisa kubantu? apa ada pengkhianat dalam perusahaan yang meresahkanmu?" pancing Haanish.
"Nggak juga. hanya pekerjaan yang melelahkan." kilah Haidar.
__ADS_1
Haanish menatapnya sejenak lalu tersenyum. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, Chouji. tapi aku tak akan memaksamu mengatakannya." pemuda itu kembali menyahut. "Tapi, jika kau butuh seseorang, aku selalu ada untukmu."
Haanish kemudian berbalik meninggalkan Haidar sendirian disana. pemuda itu menghela napas sesaat kemudian memutar gagang pintu dan masuk kedalam kamar.[]