
Djalenga tak menyangka kalau wanita Rusia yang baru dikenalnya itu berani membelanya didepan ibu-ibu tukang ghibah itu. Mahreen menatap satu persatu ibu-ibu penggosip itu. mata hijaunya menyorot tajam.
"Kenapa ibu-ibu? heran ya?" pancing Mahreen.
ibu-ibu itu saling tatap satu sama lain. salah satunya langsung maju memberi sangkalan. "Ah, kalau hanya ucapan itu, kami-kami sudah nggak percaya." ujar ibu tersebut menatap Djalenga yang sudah menunduk. "Sudah berapa kali dia berkoar hendak memari seorang gadis, tapi tak kunjung dapat juga." ibu itu tersenyum terkesan meremehkan Djalenga. "Pernah sekali dia memari putri seorang Datu dinegeri ini. dikasih sama Datu itu. tapi begitu hendak memari, si Lalu ini tertangkap warganya si Datu dan akhirnya harus membayar denda adat. kasihan inaq-amak si Djalenga ini. gara-gara dia, jadi miskin benar."
"Iya. dia ini salah satu dari bujang lapuk kampung ini." timpal salah satu ibu yang kemudian dibarengi tawa ibu-ibu yang lain.
Mahreen melirik ke arah Djalenga yang hanya melengos kesana kemari berupaya menghilangkan rasa jengah sebab diejek oleh ibu-ibu tersebut. jika menurut kata hati, sebenarnya lelaki itu hendak lari saja menghilang dari gerombolan para penggosip itu.
namun ia tak mau pula kehilangan muka dihadapan gadis Rusia itu. tindakan pengecut dengan melarikan diri sangat terhina dalam pandangannya. biarlah sekali ini wajahnya terasa tebal dan merah-hitam menahan malu sebab diejek sedemikian rupa oleh para penggosip itu.
Mahreen mendatangi Djalenga. "Lalu! bilang apa kek, jangan hanya diam saja!" ujar Mahreen dengan lirih.
Djalenga menatap Mahreen dan tersenyum getir. "Mereka memang benar, Mahreen. aku ini memang bujang lapuk." jawabnya jujur dan rendah hati.
Mahreen mendecak kesal lalu pergi meninggalkan Djalenga. Djalenga mengejar gadis itu diiringi sorak-sorai ibu-ibu pengghibah tersebut. dijalanan yang agak jauh, keduanya kembali seiringan berjalan.
"Aku kecewa sama kamu." tukas Mahreen. "Meskipun benar yang mereka katakan tentang kamu, jangan hanya diam! berkoarlah seperti sebelumnya meski itu semua tak terlaksana. bukankah kau laki-laki?!" sergahnya.
"Apa yang mesti kubanggakan, Mahreen. aku memang keturunan bangsawan, tapi miskin. keluargaku baru saja membayar denda adat yang besar, menguras benar-benar lumbung mereka akibat kelalaianku memari anak gadis penguasa itu. sekarang inaq-amak ku sudah tak punya apa-apa lagi selain humanya yang tinggal sehektar saja. itupun terancam hendak digadai karena hasil panen gagal. aku tak punya kepercayaan diri lagi memari anak gadis orang." ujarnya pelan namun tatapannya terarah lurus ke depan. Mahreen dapat melihat mata lelaki itu berkaca-kaca. tiba-tiba pemuda itu menatap Mahreen membuat gadis itu buru-buru memalingkan wajah kedepan. Djalenga terkekeh.
"Tapi, untuk apa kita mendengar kisah melankolis mirip cerita sinetron itu? mari kita jalan-jalan saja menikmati desa. siapa tahu ditengah jalan, kita berdua nanti bertemu dengan Datu Jatiswara." usul Djalenga.
Mahreen mendengus lalu tersenyum. "Ah, dasar lelaki gengsian." omelnya. "Sudah! beritahu saja aku letak rumah ina**q-mamak kamu itu."
"Mau apa kesana?" tanya Djalenga.
"Mau ketemu mereka! memang mau apa lagi? mau shooping?" jawab Mahreen kembali dengan wajah kesal.
Djalenga sejenak menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil cengar-cengir. mata Mahreen melotot padanya dan mengencangkan rahang lalu mengangguk kearah jalan meminta lelaki itu menunjukkan jalannya.
Djalenga mengangguk-angguk lalu melangkah mendahului Mahreen. gadis itu kemudian melangkah dibelakangnya. keduanya kembali menyusuri jalanan desa, memutari alun-alun untuk menghindari kawanan penggosip itu. Djalenga tidak memusingkan dirinya yang dihina-hina. ia hanya menjaga perasaan Mahreen jangan sampai ikut terseret pula dalam hal tersebut.
...*******...
resepsi pernikahan antara Haidar Ali Lasantu dengan Aisyah Tilahunga dilaksanakan dengan meriah. keluarga dari Aisyah sudah diberitahu dan diundang menyaksikan pernikahan anggota keluarganya.
ada hal yang lucu, terjadi sehubungan dengan menjelang pernikahan tersebut. keluarga Tilahunga sempat gempar ketika dua iringan truk bermuatan satu regu Brimob dan Unit Reaksi Cepat yang dipimpin Salman berhenti didepan rumah. regu-regu elit itu langsung turun dan memasang formasi penjagaan sedang yang lainnya menyisir hingga ke belakang rumah.
para warga sudah menduga yang tidak-tidak perihal kemunculan dua truk polisi tersebut. mereka mengira ada diantara anggota keluarga tersebut yang terlibat jaringan terorisme ataupun pengguna narkotika dan obat terlarang.
tak lama kemudian sebuah mobil Maung hitam meluncur tiba dan berhenti didepan dua truk tersebut. dari dalam mobil muncul Salman yang kemudian membuka pintu agar Inayah turun dari mobil tersebut.
Salman mengenakan pakaian tempur, lengkap dengan rompi logistik membuat penampilannya makin sangar. Inayah sendiri mengenakan pakaian dinas lengkap. dari pintu belakang, pintu membuka dan keluarlah Aisyah dan Aya Sofia. keduanya berjalan dibelakang Salman dan Inayah dikawal dua orang korps Brimob berseragam tempur.
dengan gemetar ketakutan, orang tua dari Aisyah Tilahunga menerima rombongan itu.
"Keluarga Tilahunga?" tanya Salman.
"I-i-iy-iya..." jawab lelaki tua itu dengan gagap. "Ad-ada yang b-b-bisa di-d-dibantu, pak?" tanya lelaki itu lalu menatap Aisyah seakan menuntutnya atas kedatangan rombongan polisi itu.
__ADS_1
"Silahkan Nyonya Aisyah duduk bersama Aya Sofia." ujar Salman dengan datar berwatak sangar menunjuk kursi plastik dideretan kursi-kursi plastik diruangan itu. sementara itu sudah banyak warga yang berkumpul dijalan dan dihalaman namun tak berani mendekati sebab ditatapi satuan regu Brimob dan Unit Reaksi Cepat yang memandang mereka dengan tatapan mencorong.
Aisyah dengan tenang sambil menggandeng Aya Sofia masuk ke dalam rumah dan duduk disalah satu deretan kursi. Salman menatap Inayah dan langsung melakukan penghormatan.
"Lapor, Target sudah didapatkan dan siap dengan kegiatan selanjutnya." ujar Salman.
Inayah mengangguk. "Lanjutkan!"
Salman menyahut. "Lanjutkan!"
Inayah kemudian masuk dikawal oleh Salman kedalam kediaman itu dan duduk dideretan kursi yang menghadap kepada dua orang tua Aisyah.
Salman kemudian duduk disisi Inayah menatap dua orang tua dari Aisyah. "Bapak Parman Tilahunga dan Jusriya Lamake?" tanya Salman.
"Ya, ya pak." jawab Parman dengan membungkuk-bungkuk takut. Salman mengangguk-angguk.
"Anda kenal wanita disisi saya? beliau adalah Wakil Kepala Kepolisian Daerah Propinsi Gorontalo, Ibu Kombespol. Inayah Amalia Ali, S.I.K...." ujar Salman memperkenalkan Inayah kepada dua orang tua itu.
"Ya, ya Pak... Bu..." ujar Parman lagi dengan lugunya.
"Anda mau tahu, kenapa rumah anda langsung didatangi orang nomor dua dikepolisian ini?" tanya Salman dengan suara berat. Parman menatap Aisyah dan Aya Sofia. anak perempuannya itu hanya sesekali menunduk dan diam seribu bahasa.
Jusriya Lamake menatap Aisyah. "No'u, apa lagi yang kau perbuat? tidak cukupkah bagi kami rasa malu gara-gara kau bercerai dari Joni?"
Aisyah tetap menunduk. begitu juga dengan Aya Sofia. anak itu sudah diwanti-wanti duluan oleh Inayah untuk tak bicara sedikitpun. pada dasarnya Aya Sofia cerdas, jadi dia cepat paham.
Jusriya Lamake kembali mencolek lengan Aisyah dengan kasar. "Aisyah! bilang sama kami, nak! kasus apa lagi yang kau buat sampai bikin satu kompi datang kesini?! jawab nak!" sergah wanita parobaya itu dengan putus asa lalu menutup wajahnya dan menangis lagi.
"Ibu Jusriya! sebaiknya perbaiki sikap anda dihadapan pimpinan saya!" sergah Salman lagi dengan watak marah dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
Inayah menatap Aisyah yang menunduk sejenak lalu mengangkat wajah menatap ibu mertuanya dan tersenyum miris. Inayah memicingkan matanya.
apakah kau dijual mereka untuk membayar hutang-hutang keluarga?!
Aisyah terkejut saat mendengar suara Inayah yang seakan masuk kedalam otaknya. wanita parobaya tersebut melakukan percakapan secara telepati padanya.
jawab dengan jujur dari hatimu... apakah mereka menjualmu kepada keluarga itu sebagai pembayar hutang?!
Aisyah sekali lagi hanya tersenyum, namun matanya telah basah. Inayah sudah paham isyarat hati anak mantunya. ditatapnya Parman.
"Pak Parman Tilahunga." panggil Inayah dengan suara datar yang diiringi perbawa. Parman sendiri terkejut melihat kedua mata polwan itu memendarkan cahaya kebiruan. Inayah memang telah mengaktifkan jurus Karasu Tengu no Shisen.
"Ya, ya Bu..." jawab Parman dengan gentar.
"Berapa hutangmu pada keluarga itu?!" tanya Inayah dengan datar. "Anda melakukan praktek jual beli manusia berkedok pembayaran hutang. terlebih lagi anda melakukannya kepada putri anda sendiri. anda mau diganjar hukuman seumur hidup?!" pancing Inayah dengan memicingkan nata.
Parman terkejut. "Mak-maksud Ibu?"
"Apa anda kira ini masih jaman Siti Nurbaya? anak perempuan dijadikan jaminan pembayar hutang?! anda masih punya nurani?!" tanya Inayah.
Parman tak berkutik. Inayah menatap Salman. "Orang ini melakukan praktek terlarang! tangkap dan bawa ke markas!" seru Inayah sambil bangkit.
__ADS_1
seketika Jusriya langsung bangkit dan menghambur memeluk kaki Inayah. "Ibu, Ibu, mohon maafkan suami saya! kami tidak punya cara lain! putra keluarga itu meminati anak saya. mereka menjebak kami dengan hutang agar kedepan kami tak bisa membayarnya dan hutang budi itu harus dibalas. kami terpaksa menyerahkan Aisyah untuk dinikahi putra mereka. dengan itu hutang kami dianggap setengah lunas." sedu Jusriya terangguk-angguk menangis pilu.
Inayah menatap Aisyah sejenak lalu menatap Salman. "Perempuan ini juga, bawa ke markas!" seru Inayah membuat Jusriya langsung meraung-raung histeris saat beberapa anggota polisi menangkapnya dan membawanya ke truk.
Parman langsung ditangkap Salman dan juga dibawa ke truk. mereka ditonton oleh sekalian warga yang saling bisik-bisik. truk yang mengangkut Parman dan Jusriya berangkat meninggalkan tempat itu.
Inayah menatap Aisyah lalu melangkah mendekatinya. "Kamu yang sabar ya?" ujar Inayah dengan pelan menyapu pundak jilbaber itu.
Aisyah hanya mengangguk-angguk. Inayah menatap sejenak keluar lalu kembali menatap Aisyah. "Ayo, kita kembali ke mobil." ajaknya.
Aisyah mengangguk lalu melangkah menyusul Inayah sambil menggandeng Aya Sofia. mereka kembali memasuki Maung hitam itu dan kendaraan taktis tersebut bergerak meninggalkan Tolinggula.
Parman dan Jusriya tak tahu kalau mereka dipermainkan oleh Inayah. ia sengaja membuat mereka ketakutan, menggertak sisi psikologis mereka agar tak lagi merendahkan putri mereka sendiri. Parman yang pasrah dan Jusriya yang putus asa dibawa ke markas Polda Gorontalo. sebelumnya kedua orang itu dipakaikan kain pembungkus kepala mirip tersangka ******* yang akan dieksekusi mati. keduanya diturunkan dan Salman berganti mobil menggunakan mobil biasa.
Salman menaikkan keduanya ke bagian belakang mobil dan dikawal dua orang reserse berpakaian kasual. mereka melesat ke Puri Manggis, tempat dimana Haidar dan Aisyah tinggal.
kendaraan itu berhenti. kedua polisi itu turun dan membuka pintu belakang lalu mengeluarkan Parman dan Jusriya yang terpasang karung penutup kepala. Salman keluar dari pintu depan dan menyuruh kedua partnernya membawa Parman dan Jusriya menuju sebuah rumah mewah.
wajah mereka masih dipakaikan karung hingga akhirnya keduanya dimasukkan ke dalam rumah. setelah itu kedua polisi itu mengeluarkan karung penutup kepala itu.
Parman dan Jusriya mengerjap-ngerjapkan matanya mengusir silau dan membiasakan diri dengan kecerahan udara diruangan tersebut. kedua polisi itu langsung pergi, juga bersama Salman.
"Bu... kita ini dimana?" tanya Parman kepada Jusriya.
"Aku tak tahu Pa... ruangan ini kelihatan mewah sekali." jawab Jusriya sambil menatapi keseluruhan ruangan itu.
tak lama kemudian muncul seorang nenek tua membawa nampan berisi empat cangkir minuman dan sebuah piring berisi kue. nenek itu meletakkan keempat cangkir dimeja beserta piring itu lalu menatap kedua laki istri parobaya tersebut.
"Silahkan." ujarnya dengan ramah lalu berbalik meninggalkan ruangan.
Parman dan Jusriya cepat-cepat mendekati meja itu lalu duduk dan menatapi hidangan itu. Parman hendak meraih cangkir saat Jusriya menahannya.
"Pak... jangan sembarang sentuh. siapa tahu itu kopi bersisi sianida." bisik Jusriya membuat Parman urung mengambil cangkir itu.
"Kita ini mau diapakan, Bu? si Aisyah bikin ulah apa lagi? kok kita yang kena getahnya?" keluh Parman.
pintu membuka dan masuklah Inayah. wanita itu tak lagi mengenakan pakaian dinas kepolisian namun mengenakan gaun modis khusus wanita karir berusia empat puluhan. wanita itu begitu nampak perbawanya bahkan Parman yang laki-laki, tak mampu menekan wibawa wanita itu.
"Bu Inayah..." sapa Parman dengan kikuk dan membungkuk.
"Duduk." perintah Inayah.
kedua laki-bini parobaya itu langsung duduk dan Inayah duduk dihadapannya. wanita itu menatap keduanya. "Silahkan dinikmati. saya tak pernah menaruh sianida di minuman tamu-tamu saya." ujar Inayah menyindir.
Jusriya menelan ludah sejenak lalu memberanikan diri mengambil cangkir itu dan menyeruput isinya. kopi itu terasa khas. wanita itu meletakkan kembali cangkir itu di meja. melihat istrinya berani meminum kopi itu, Parman langsung pula meraih cangkir dan menyeruput isinya hingga setengah lalu meletakkan cangkir itu juga di meja.
"Bagaimana perjalanannya? menegangkan?" pancing Inayah membuat Parman menelan ludah.
"Bu. kami ini mau diapakan? terus terang Bu, kami ini miskin. ibu sia-sia menyiksa kami karena tak ada yang bisa diharapkan dari kami..." ujar Parman memelas.
__ADS_1
"Ada... ada yang bisa kuharapkan dari kalian." jawab Inayah dengan datar. "Perkenalkan... menantuku..." ujar Inayah.
pintu membuka dan muncul seorang jilbaber berpakaian modis bersama putrinya. sontak Parman dan Jusriya terhenyak kaget. []