
PLAKKKK...
Haidar benar-benar terkejut dan tak sempat menangkis ketika tangan wanita itu melayang langsung mendarat diwilayah pipi dan mulutnya.
"Ada apa ini?!" sergah salah satu perawat. "Ibu Aisyah!!"
Haidar menatap Aisyah yang juga menentang tatapannya dengan pandangan berapi-api. pemuda itu dapat dengan jelas melihat aura kemarahan menyelimuti tubuh wanita itu.
Aisyah menudingkan telunjuknya kepada Haidar. "Kamu! tapualemu! tinggolopumu! u tahu'a yilate yi'o!!!" umpatnya dengan napas memburu, "yilongola wa'u piloma'imu to dingingo hah?!"
"Maksudmu apa?!" erang Haidar dengan heran.
sementara dua perawat tersebut hanya bisa memandang dengan tercengang menyaksikan pertengkaran tersebut. Haidar menyerahkan Aya Sofia kepada salah satu perawat dan mengisyaratkan mereka agar segera menghindar. kini diruangan bermain itu tinggal mereka berdua.
tanpa sungkan, Aisyah maju melayangkan lagi tamparannya dan kali ini Haidar tak banyak pertimbangan. ia menangkap tangan wanita itu.
"Jelaskan padaku, ada apa denganmu?!" sergah Haidar melempar tangan wanita itu.
Aisyah tak patah semangat kembali maju menghambur memukul dada Haidar berkali-kali. pemuda itu tak melawan lagi, ia membiarkan saja Aisyah menumpahkan emosinya didadanya. hingga akhirnya tumbukan demi tumbukan melambat dan akhirnya berhenti seiring dengan tersangganya kepala Aisyah ke dada Haidar dan menangis disana.
entah kenapa, kedua tangan Haidar perlahan terangkat dan memeluk lembut punggung Aisyah yang tergoncang-goncang menumpahkan tangisnya. isakan bercampur keluhan keluar lirih dari bibir wanita itu. tangan satunya Haidar menyapu-nyapu pelan rambut dan punggung wanita itu.
...*****...
Haanish menatap kagum bangunan itu. kediaman Alkatiri benar-benar memadukan gaya kuno dan moderen dalam sebuah arsitektur bangunan.
"Bagaimana? bangunan ini terlihat eksotis bagi Uda?" pancing Marissa dengan bangga.
Haanish mengangguk-angguk dengan kagum. "Sulit kupercaya, dijaman sefuturistis ini, masih ada yang menggemari gaya kuno." komentarnya.
Marissa terkekeh. "Ayo masuk." ajaknya.
kedua muda-mudi itu menginjakkan kaki hendak naik ketika tiba-tiba serangkum tenaga besar maju menghimpitnya. Haanish terkejut dan menatap pemilik serangan itu. seorang nenek dengan tatapan mencorong tajam maju menghantamkan telapaknya. serta merta, Haanish menyilangkan kedua lengannya yang sudah dialiri ki.
BUAMMMM...
Haanish terpental tapi masih sempat menguasai diri. ia melakukan salto berulang kali dan akhirnya mendarat beberapa meter dari tangga bangunan tersebut dengan sikap kaki sochin dan kedua tangan terpentang.
Marissa yang kaget dengan pembokongan tersebut hanya bisa tergeming ditempatnya. sementara disisinya berdiri seorang nenek berpakaian abaya panjang yang kepalanya dibalut kerudung. tatapannya tenang namun tajam. tentu saja Haanish langsung mengarahkan teknik Karasu Tengu no Shisen. kedua matanya memendarkan cahaya kebiruan.
"Oh, Nenek..." gumam Haanish.
setelah sadar dari keterkejutannya, Marissa menegur neneknya. "Inyiak, mengapa inyi**ak menyerang Uda? apakah kesalahan dia, Inyiak?"
"Kalian berdua sudah menonton berita?" pancing Syafira Alkatiri menatap Haanish, kemudian Marissa.
Marissa terkesiap langsung mengeluarkan gawainya dan menekan tombol disalah satu keyboard gawai itu. maka muncullah layar holografis yang menampilkan seorang pembaca berita yang mewartakan tentang peristiwa serangan tunggal yang dilakukan Haanish terhadap lima orang lelaki berandalan.
"Oooh... mereka ini, begajulan yang sering mengganggu denai, Inyi**ak. sepantasnya Uda memang menaklukkan urang tu." ujar Marissa membela diri.
"Tapi tetap saja mengundang perhatian khalayak ramai!" gerutu Syafira Alkatiri menatap Marissa dengan kesal. "Kau selalu saja merepotkan anggota keluargamu!"
"Salah urang tu sendiri, mengapa cari masalah dengan keluarga Williams." ujar Marissa dengan enteng. "Untung saja denai tak bawa MW0."
MW0 adalah armor yang dibuat Akram khusus untuk putri bontotnya itu. Marissa tak pandai beladiri. tapi anak itu pandai menggunakan senjata api sebab diajari diam-diam oleh Salman. Akram baru mengetahuinya saat Marissa berlatih sendiri menembak di halaman belakang kediaman Williams. armor itu kemudian dibuat dengan penerapan nanotech namun diperingati keras oleh Akram untuk hati-hati menggunakan armor tersebut. inisial MW merujuk pada nama Marissa Williams dan digit nol menunjukkan bahwa armor itu adalah prototip namun mengalami banyak kali updating untuk proses menyempurnakan baju jirah mutakhir tersebut.
"Awak yakin, pasti sekarang ini kedua orang tuamu sibuk mengadakan konferensi pers hanya untuk menutupi kenakalan kalian saja." omel Syafira Alkatiri sambil geleng-geleng kepala.
Marissa menghembuskan nafas kasar. "Anduang kalau hanya ingin memarahi kami disini, lebih baik kami balik pulang saja." ujar gadis itu meraih tangan neneknya lalu menciumnya setelah itu menuruni tangga. "Percuma kalau datang hanya untuk diomeli."
"Tunggu! kalian hendak kemana?!" sergah Syafira Alkatiri lebih ketus lagi.
Marissa berhenti dan berbalik menatap neneknya. "Anduang nggak dengar denai bilang apa tadi? p-u-l-a-n-g..." jawabnya. "Permisi, Anduang..." Marissa berbalik lagi dan tiba dihalaman lalu mengajak Haanish meninggalkan kediaman itu.
tapi sebenarnya, itu hanya akal-akalan Marissa saja. ia tahu sebenarnya sang nenek termasuk golongan orang-orang berhati pengiba. buru-buru Syafira Alkatiri turun mengejar Marissa.
"Eh, eh, tunggu... memangnya siapa yang menyuruhmu pulang?!" omel Syafira Alkatiri.
Marissa tersenyum penuh kemenangan tapi masih tetap berlagak melangkah pergi hingga akhirnya dicegat sang nenek.
"Kalian berdua dasar cucu kurang ajar!" omel Syafira menuding-nudingkan telunjuknya kepada Marissa dan Haanish. "Kalian tega membiarkan seorang nenek berlari-lari kelelahan hanya untuk mencegat dua cucunya yang kurang ajar ini? dimana adab kalian berdua, hah?!"
__ADS_1
Haanish terkekeh dan tiba-tiba langsung membopong Syafira Alkatiri membuat nenek itu syok dan meronta. "Hei, lepaskan aku! lepaskan aku!"
Haanish tak mendengarkannya. pemuda itu dengan kecakapan ringan tubuh mengarahkan teknik hayagakejutsu, melesat cepat dan tiba didepan pintu rumah dalam hitungan detik saja kemudian menurunkan nenek itu.
PLOK! PLOK! BUK!
tiba-tiba Syafira menimpuk tengkuk Haanish dengan telapak tangannya membuat Haanish terduduk kesakitan memegang tengkuknya.
"Ampun! ampun! nek! ampun!" teriak Haanish yang takut melawan. sementara Marissa dihalaman tertawa terpingkal-pingkal melihat pemuda itu ditimpuk beberapa kali oleh nenek itu.
"Cucu kurang ajar! beraninya kau menggendongku tanpa seijinku! hanya suamiku yang boleh menggendongku. selain itu tidak boleh! cucu kurang ajar! kau mau kubunuh, heh?!" sergah Syafira dengan berang.
pintu terbuka dan keluarlah Kevin Williams. "Ada apa pagi-pagi begini sudah membuat keributan!" omel kakek itu. "Sayang, lepaskan anak itu! dia nggak bermaksud jelek sama kamu!"
Syafira Alkatiri balik mendelik kepada Kevin Williams. "Apa Mas bilang?! anak ini tidak punya maksud jelek padaku? lelaki mana yang berani menggendong perempuan, selain istrinya, hah?!"
Kevin Williams memutar bola matanya. "Ya Allah..." keluhnya lalu menatap Marissa. "Hei nak, tenangkan nenekmu!" setelah itu si kakek masuk lagi kedalam rumah.
Marissa berlari menaiki tangga lalu memperisai Haanish dari tangan Syafira yang nyaris saja menyentuh kepala gadis itu. Marissa langsung berteriak, "Kalau Anduang mau bunuh denai, bunuh saja!"
tangan Syafira terhenti nyaris tepat dikepala gadis itu. Syafira menarik tangannya dan melipatnya didada. "Bangkit kalian berdua, dasar cucu..." nenek itu akhirnya mendesah, "Ah, sudahlah... ayo masuk!" ajaknya kemudian masuk ke dalam rumah.
Marissa langsung memamerkan senyum kemenangannya dan menatap Haanish yang memelas kesakitan. alis gadis itu turun-naik berkali-kali. "Ayo masuk." ajaknya.
Haanish bangkit mengikuti Marissa yang memasuki bangunan itu. disana sedang duduk Kevin Williams dikursi malasnya sambil menghisap cangklong pipa panjang. asapnya terlihat mengepul-ngepul dari cerobong ujung cangklong itu.
sementara Syafira sedang meletakkan cangkir berisi kopi buatan yang ditumbuk dan dijerang menggunakan cengkeh dan rempah-rempah tertentu. Marissa sendiri kagum dengan sang nenek. dijaman eletronis seperti ini sang nenek malah lebih senang menggunakan cara tradisional dalam mengolah kopi.
"Assalamualaikum, Inyiak, Anduang..." sapa Marissa dengan suara nyaring dan dibalas nyaring pula oleh keduanya.
"Wa alaikum salaam!!!" seru mereka berbarengan.
"Duduk." perintah Kevin.
keduanya duduk di sofa empuk sementara sang nenek muncul membawa sepiring penganan lamang tapai baluo lengkap dengan mangkuk cairan tapai nya. penganan itu diletakkan di meja bersama dua gelas air kopi. setelah itu sang nenek pergi lagi berkumpul bersama suaminya. meteka bercengkerama berdua.
"Di coba, Uda." ujar Marissa.
Haanish memajukan tubuhnya, mengulurkan jemarinya mengambil kue itu tanpa mencoleknya pada kuah tapai. ia langsung memakannya, mengunyahnya lalu mengangguk-angguk meresapi nikmatnya.
"Enak..." pujinya kemudian mencomot sebuah lagi.
"Kalau di Gorontalo, namanya kue bulu atau kue bambu, sebab dimasak dalam liang hulapa.." tutur Haanish.
"Hulapa?" gumam Marissa.
"Sejenis bambu cina yang kulit batangnya tipis dan gampang retak. biasanya selalu dijadikan bahan untuk galah dan tiang bendera. galah yang diisi beras yang dibungkus daun pisang kemudian dijerang diatas api sampai galahnya hangus sehingga bau harum nasinya keluar." sambung Haanish.
"Tapi kok Uda nggak mencocol kue lemang nya ke kuah tapai?" tanya Marissa.
"Kalau di gorontalo, kami pakai sambal cabai sebagai penyedap. makanya aku nggak mencocolnya ke kuah itu karena kurasa akan berlawanan dengan rasa lidahku." jawab Haanish.
tak lama kemudian gawai milik Haanish yang tersimpan di celana bergetar. Haanish langsung mengeluarkannya dan meletakkan gawai itu di meja dan menekan tombol pengaktif. tak lama kemudian muncul layar holografis yang menampilkan wajah Airina.
📲 "Darimana saja kalian?! waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi!" tanya wanita parobaya itu dengan ketus.
📲 "Kami dirumah nenek, Umi." sela Marissa yang kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.
📲 "Baik! tunggulah disana." ujar Airina. "Mama akan menjemput kalian."
layar holografis itu lenyap dan pengaktif proyektor mati lagi. Haanish mengambil gawainya dan menyimpannya disaku.
"Kelihatannya... kita akan di omeli untuk yang kedua kalinya." komentar Haanish sambil tersenyum-senyum dan memakan lemang itu.
"Kita lihat saja nanti." ujar Marissa dengan senyum liciknya.
...******...
Aya Sofia makan dengan lahap segala makanan yang dipesan Haidar. Aisyah sendiri hanya bisa menatap iba terhadap putrinya. diliriknya dengan sembunyi-sembunyi, Haidar yang tersenyum datar memperhatikan Aya Sofia yang menyantap makanan itu dengan nikmat.
"Habiskan ya?" pinta Haidar, "Sebab... inna mubadzirina kaana ikhwaanaa syayathiina..." sambungnya mengungkit salah satu hadis yang membahas tentang jeleknya berlaku mubadzir (membuang-buang rezeki).
Aisyah hanya menjebikan bibirnya lalu melengos. perilaku itu tak luput dari tatapan periperal Haidar yang hanya tersenyum datar.
"Nggak usah menjebikan bibir seperti itu." tegur Haidar, "Sebaiknya makanlah sebelum makananmu dikotori oleh lalat-lalat pembawa penyakit."
__ADS_1
Aisyah mendengus pelan sedang Aya Sofia mendongak menatap Haidar. "Om bicara sama Sofi?" tanya anak perempuan itu dengan lirih.
"Nggak sayang." jawab Haidar. "Om bicara sama peremouan-perempuan yang terlalu banyak menjaga gengsinya."
"Oooo..." sahut Sofia lalu kembali makan.
Aisyah melirik sinis kepada Haidar. pemuda itu membalasnya dengan mendelikkan mata.
apa lirik-lirik?!
Aisyah balas mendelik. memang cuma kamu yang bisa mendelik?! aku juga bisa!! nih!! wanita itu mendelikkan mata lentiknya dan menelanjangi Haidar dari atas hingga bawah oleh tatapannya.
Haidar mengencangkan rahangnya. dasar perempuan tak tahu diuntung. sudah syukur kamu tak ku laporkan ke polisi karena kasus pembobolan. aku punya rekaman CCTV nya!
Aisyah mengerling dengan tatapan seperti hendak memangsa pemuda diseberang meja itu. kenapa tidak kau laporkan saja?! aku mau lihat seberapa bodohnya kau melakukan kedzaliman pada seorang wanita lemah sepertiku
Haidar menggeram dan memicingkan mata, begitu pula dengan Aisyah. keduanya tanpa sadar mendekatkan wajah mereka masing-masing untuk mengintimidasi lawannya. Aya Sofia mendongak dan heran melihat ibunya dan Haidar saling mendekatkan wajah dengan tatapan ingin membunuh.
"Ibu dan Om lagi ngapain sih?" tanya anak perempuan itu dengan heran.
Haidar kaget, begitu juga Aisyah. keduanya menyadari batas diantara mereka hanya tinggal dua sentimeter saja. keduanya kemudian mendengus dan duduk lagi sebagaimana biasa namun saling membuang pandang. Aya Sofia hanya bisa menggelengkan kepala berkali-kali sebab bingung melihat kelakuan orang dewasa yang menurutnya membingungkan.
tak lama dari depan rumah makan itu muncul dua gadis yang tak lain adalah Callista dan Mahreen. mereka asyik bercanda dan tertawa saat hendak memilih tempat duduk. tanpa sengaja Callista melihat Haidar.
"Lho? bukannya itu Kak Chouji?" sebut Callista.
Mahreen mengikuti tatapan sahabatnya dan hatinya sedikit bergetar menyadari Haidar duduk bersama seorang ibu beranak.
"Iya... tapi siapa perempuan dan anak itu ya?" gumam Mahreen.
"Kesana yuk?" ajak Callista.
"Jangan, Lista." tahan Mahreen. "Bisa jadi, Kak Chouji lagi sementara berbincang dengan temannya." ujarnya dengan ragu.
"Justru itu, kita samperi dia. supaya kita tahu, perempuan itu siapa." sahut Callista, "Supaya kecurigaanmu juga bisa terjawab. nggak baik menyimpan beban dalam hati."
akhirnya Mahreen mengangguk. keduanya mendekati tempat dimana Haidar duduk bersama Aisyah dan Aya Sofia.
"Kak Chouji..." sapa Callista.
seketika Haidar dan Aisyah menoleh. wajah pemuda itu mencerah.
"Ah, kalian... duduklah disini." ajak Haidar dengan riang. pemuda itu menyadari tatapan Mahreen kepada Aisyah. dia langsung memperkenalkannya.
"Ini, Aisyah Tilahunga dan putrinya Aya Sofia." ujar Haidar. "Dia teman lamaku." kilah Haidar berbohong.
Aisyah mengangguk santun sedang Aya Sofia melempar senyum lebar. Mahreen dan Callista membalasnya dengan senyum ramah meski agak canggung.
"Yang ini Callista Waroka, putri dari CEO Buana Asparaga Tbk. " ujar Haidar menunjuk Callista yang mengenakan jilbab pasmina, kemudian menunjuk Mahreen. "Dan ini, Mahreen Nurmagonegov, mahasiswi awal semester program pertukaran pelajar dari Universitas Islam Kazan, Rusia."
"Kelihatannya, Nyonya Aisyah tidak nyaman dengan keberadaan kami." tukas Callista dengan senyum lalu menatap Haidar. "Baiknya kami mengambil tempat lain."
"Oh, nggak." tandas Haidar, "Nggak seperti itu. dia hanya belum terbiasa berhadapan dengan wanita-wanita cantik macam kalian berdua." sindir Haidar dengan santai membuat Aisyah hanya bisa melempar senyum lucu lagi kepada Callista dan Mahreen kemudian menatap Haidar dengan tatapan sinis. Haidar menyambung. "Duduklah disini. biasakan diri kalian. bukankah Islam menyuruh kita untuk saling kenal mengenal?"
akhirnya dua perempuan itu duduk mengapit Haidar. Aisyah menatap keduanya dan tersenyum. "Kelihatannya, kalian bertiga sudah sangat mengenal." ujar wanita itu sekaligus menyindir Haidar.
"Tentu saja, Tatah." jawab Callista. "Walaupun aku putri presdir Buana Asparaga Tbk, tetapi pemilik sebenarnya adalah Kak Chouji ini." ujarnya menunjuk Haidar.
sejenak kekagetan melanda Aisyah. pemuda ini ternyata seorang trilyuner....
Haidar tersenyum lalu menatap tajam Aisyah. mengerti kau sekarang? aku punya kekuasaan diatasmu...
"Kalian memanggilnya Chouji?" tanya Aisyah.
Callista tersenyum lagi. tapi Haidar menyela, "Aku punya darah jepang dari nenek lewat galur ayah!"
Callista mengangguk membenarkan. "Keluarga Lasantu punya dua anak laki-laki. yang sulung adalah Kak Chouji, sedang yang bungsu adalah Kak Haanish, tapi dikeluarga, dia dipanggil Eiji."
Aisyah manggut-manggut. Callista menyambung lagi. "Chouji itu dalam bahasa jepang artinya putra pertama sedangkan Eiji itu, artinya putra kedua."
Aisyah menatap Mahreen. "Terus kalian bisa kenal sama si... Chouji ini..."
"Ooo... Mahreen tinggal di Kediaman Ali, rumah kediaman mamanya Kak Chouji..." jawab Callista.
__ADS_1
"Ooo... kelihatannya, kalian berdua itu pacaran ya?" tukas Aisyah dengan senyum. Haidar mendehem.
"Itu bukan urusan kamu." jawabnya dengan datar.[]