The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 34


__ADS_3

Haidar hanya mendengus mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan adiknya. "Sudah tahu membantah juga kamu rupanya." sindir Haidar.



"Bukan membantah, kakak Chouji-ku yang tersayang." tangkis Haanish, "Tapi bersikap profesional dan proporsional."


"Mana proporsionalmu? kau nggak masuk-masuk kantor." protes Haidar.


"Suka-suka aku dong! siapa suruh aku dipekerjakan jadi direktur Tangan Ketiga." tangkis Haanish lagi, "Aku itu nggak suka tampil formal sepertimu, tahu nggak kau? sebagai sosok bayangan di Buana Asparaga, aku dituntut juga bersikap layaknya seorang Intel. masa, Intel muncul di kantor? nggak lucu dong."


"Kau paling bisa berkelit kalau disuruh melaksanakan kewajiban adminstrasi." sindir Haidar lagi.


"Kelak, kau yang akan menduduki jabatan CEO, paska upacara wisuda kita. jadi, mulai persiapkan saja mentalmu sebagai raja. ingat pepatah yang selalu didengungkan Papa setiap kita berlatih tanding di dojo?" ujar Haanish mengingatkan.


"Apa itu?" tanya Haidar.


Haanish mengejanya dalam bahasa inggris, "If they stand behind you, give them protection. if they stand beside you, give them respect... but..." Haanish mengacungkan garpunya lagi dan memutarnya beberapa kali, "If they stand against you, SHOW NO MERCY!!!!"



Haidar tertegun mendengar kalimat-kalimat itu. ia terkenang lagi saat mendiang ayahnya masih hidup. kalimat itu memang pernah diucapkan beberapa kali saat selesai melakukan uji tanding.


"Apakah karena itu kau selalu bertindak bengis kepada setiap musuhmu?" pancing Haidar.


"Bukan bengis, tapi tegas." tandas Haanish, "Apakah kau pikir, jika Sun Tzu tidak memenggal pimpinan selir dihadapan Kaisar, apakah naskah seni perangnya bisa diterapkan hingga hari ini oleh setiap perusahaan maupun lembaga militer?"


Haidar kembali lagi mengakui kecerdasan Haanish dalam olah strategi. pemuda itu mengangguk-angguk. "Baiklah... kali ini aku tak bisa menyanggahmu."


"Karena aku benar kali ini. iya kan?" pungkas Haanish kemudian menatap paket di sisi meja. "Itu milik siapa?"


"Milik anaknya perempuan itu." jawab Haidar dengan pelan.


Haanish tersenyum lagi. "Akuilah kalau hatimu sudah terbagi, Chouji..."


"Hatiku, masih milik Mahreen." tangkis Haidar.


Haanish tersenyum lagi. "Bagaimana kalau nggak?" pancingnya.


Haidar menatapnya sambil memicingkan mata. "Apa maksud kamu bicara begitu?"


Haanish mengangkat bahu. "Ya, nggak apa-apa. itu hanya prediksi dan antisipasi saja."


"Kau juga menyukai Mahreen, Eiji?!" todong Haidar.


Haanish langsung tertawa keras. setelah puas tertawa ia menatap Haidar. "Chouji, kau sudah tahu dari dulu, kalau aku hanya menyandarkan cintaku pada Denada, tidak pada yang lain. aku hanya memberikan kau opsi-opsi. apa yang kau lakukan jika ternyata cintamu pada Mahreen tak berbalas?"


"Apakah Mahreen tak mencintaiku lagi?" tukas Haidar dengan ragu.


"Jangan berprasangka yang tidak-tidak." ujar Haanish. makanan dipiringnya sudah tandas. pemuda itu bersendawa keras membuat Haidar menatapnya dengan jijik.


"Issshh... bisakah tak bersendawa dihadapanku?! liang amandelmu kelihatan sekali. kau memang mirip gorila yang sedang kekenyangan!" cela Haidar.


Haanish tertawa sekali lagi sambil meraih paket itu. Haidar bergerak hendak merampasnya namun dicegah oleh Haanish.


"Aku yang akan mengantarkannya..." ujar Haanish.


"Jangan lakukan itu, Eiji." ujar Haidar.


Haanish menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Nggak Chouji. hanya aku yang bisa. kau tak mau diusir keluar dari kamar kan?"


"Maksudmu?" tanya Haidar.


"Aaah... dasar manusia bodoh!" umpat Haanish, "Kak, kamu menciumnya tanpa seijinnya. bagaimana bisa ia menerima kamu dikamarnya?!"


"Dan kau akan ke kamarnya menyerahkan paket itu sekaligus memaksa ia menyerahkan dirinya kepadamu?!" tukas Haidar mengencangkan rahangnya dan geraman kucing besar itu terdengar lagi.


"Ngapain aku masuk ke kamar orang yang bukan mahramku?! aku cuma mau menyerahkan ini dan mengklarifikasi perbuatanmu barusan. itu saja. kamu jangan nuduh adikmu yang macam-macam dong!" sergah Haanish.


"Okey, maafkan aku." ujar Haidar pada akhirnya. "Baiklah, kau saja yang serahkan itu dan kuserahkan amanatku padamu."


"Beres... istirahatlah... dan tunggu kabar baik dariku." ujar Haanish mengedipkan matanya dan bangkit melangkah memasuki koridor yang mengarah ke kamar para pembantu rumah tangga sambil menenteng tas berisi paket itu. sesampainya disana, Haanish melihat ketiga kamar dan menemukan selop milik Aisyah tergeletak diluar pintu kamar paling ujung.



ia mendekati pintu itu dan mengetoknya. tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah Aisyah.

__ADS_1


"Ya, ada apa pak?" tanya Asiyah dengan santun.


"Pak, pak, pak... memang saya sudah tua apa?!" gerutu Haanish membuat Aisyah tersenyum.


"Ya, kan panggilan umum laki-laki kan bapak. kalau panggilan umum perempuan kan ibu." jawab Aisyah menjelaskan maksud istilah itu.


"Panggil saya, Abang Eiji." ujarnya dengan senyum genit. pemuda itu lalu mengangsurkan paket yang tertinggal di meja pantry. "Ini ketinggalan. katanya Chouji, untuk kamu."


"Chouji?" gumam Aisyah menautkan alis.


"Chouji! nama pendeknya Haidar!" ujar Haanish. "Almarhum Papa sering menyebut kami dengan sebutan itu. Chouji untuk Haidar, dan Eiji untukku."


Aisyah mengangguk-angguk paham. "Baik Kak Eiji... makasih ya?" ujarnya hendak masuk.


"Ets... tunggu dulu. main masuk saja." tahan Haanish sambil menggerutu menatap Aisyah.


"Ada apa lagi kak?" tanya Aisyah dengan sabar.


"Tadi ******* sama Chouji di Pantry, enak nggak?" goda Haanish dengan senyum cengir. Aisyah langsung tertunduk malu.


"Maaf Kak... tadi..." ujar Aisyah hendak menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Nggak apa-apa." ujar Haanish. "Saya senang, dia bisa cipoki kamu. itu artinya ada perkembangan." sambungnya sambil terkekeh.


"Maksudnya?" tanya Aisyah tak paham.


Haanish menyandarkan punggung ditiang pintu sambil melipat tangannya didada sedangkan Aisyah juga menyandarkan punggungnya ditiang pintu lainnya sambil menjinjing tas berisi paket.


"Chouji itu, orangnya sangat lurus. ia paling kaku dengan cewek. orangnya sangat menjaga moral." jawab Haanish membuat Aisyah melengos dan melempar senyum sinis.


menjaga moral apanya? disisosornya bibirku tanpa permisi.. diremasnya dadaku tanpa ijin... memang aku ini apaan?!


Haanish tersenyum-senyum saja melihat jilbaber itu tersenyum sinis. ia mengangkat bahu.


"Itu pertama kalinya, dia kelepasan emosi..." ujar Haanish membuat Aisyah terkejut dan langsung menatap Haanish. pemuda itu terkekeh menyambung kalimatnya. "Kamu orang pertama yang berhasil membuatnya kelepasan emosi."


Aisyah menelan salivanya. Haanish menegakkan tubuhnya lalu melambaikan tangan. "Okey, aku permisi, tak mau lagi mengganggu tidur siangmu."


Haanish berbalik hendak pergi ketika Aisyah memanggilnya. pemuda itu berhenti dan membalik lagi menatap jilbaber itu. Aisyah mendehem sejenak lalu bertanya.


"Mahren Nurmagonegov, maksudmu?" tebak Haanish. Aisyah mengangguk pelan.


Haanish menghela napas sejenak lalu tersenyum. "Bahkan dihadapan Mahreen, ia tak pernah seagresif itu." ujar Haanish berhasil memerahkan roma diwajah Aisyah. pemuda itu menyambung. "Dalam pandanganku, Mahreen nggak cocok menjadi pacarnya... dia lebih cocok menjadi adiknya."


Aisyah tanpa sadar tersenyum. Haanish lalu terkekeh dan menunjuk Aisyah. "Kalau kau... barulah cocok jadi calon istrinya." setelah itu Haanish berbalik dan tertawa-tawa hingga akhirnya tubuhnya hilang dilekukan koridor.


wajah Aisyah kembali merona merah mendengar ucapan Haanish barusan. senyumnya tanpa sadar kembali tersungging dan ia memeluk paket itu demikian lekat ke dadanya. setelah puas meresapi keindahan itu, Aisyah masuk kembali ke dalam kamarnya.


...*******...


Mahreen memutuskan mendatangi Kediaman Lasantu sendirian. ia sudah tiba didepan pintu lalu menekankan sidik jarinya ke mesin fingerprint. terdengar dengungan sesaat dan disusul suara.


🔊 "Assalamualaikum Nona Mahreen, silahkan masuk." disusul kemudian dengan bunyi ceklek pertanda pintu itu dibuka pengamannya.


Mahreen mendorong pintu itu dan masuk. ia berpapasan dengan Haanish yang baru muncul dari koridor. pemuda itu mengangkat alisnya.


"Hei, Mahreen... tumben muncul kamu disini." sapa Haanish.


"Kak Eiji juga baru tiba?" tanya Mahreen.


Haanish mengangguk lalu melangkah ke sofa tamu dan duduk disana. "Pagi tadi, aku langsung menuju tempat kerja Mama. siangnya aku pulang kemari. masih malas ke kampus. badan masih pegel." keluhnya sambil mengusap-usap pundaknya.


"Kak Chouji ada?" tanya Mahreen.


"Ada... tunggu saja dia diberanda lantai dua. nanti kuhubungi..." ujar Haanish sambil bangkit. "Oh ya... supaya lebih akrab, kau seduh dua cangkir minuman hangat atau dua gelas minuman dingin dan bawa kesana.... maaf ya, layani diri sendiri dulu." ujar Haanish sambil melangkah. "Tante Imel kelihatannya lagi balik ke kediaman Ali, sore dia balik lagi kemari."


Mahreen langsung menyusulnya. "Kak Eiji tahu tentang Aisyah?"



Haanish mengangguk. "Mama sudah bilang padaku. dia adalah karyawan sementara yang mengurusi rumah tangga kediaman Lasantu."


"Dia cuma pembantu rumah tangga, kan? bukan lebih dari itu, kan?" tanya Aisyah memastikan.


Haanish tertawa. "Mengapa kau sesensitif itu?" todong pemuda tersebut. "Apakah kau mencemburuinya?"

__ADS_1


Mahreen terdiam membuat Haanish terkekeh. "Perempuan itu memang cantik juga. sepantaran dengan usiamu kurasa. apalagi mamah muda begitu, uhm... goyangannya asyik tuh." goda Haanish memanas-manasi hati Mahreen.


gadis itu tersulut lagi cemburunya. ia mendengus pelan. Haanish terkekeh lagi. "Sudah, jangan tersulut begitu. nggak baik. sekarang laksanakan perintahku. buatlah dua gelas minuman dingin dan bawa ke beranda. sedikit lagi Chouji ke sana menemuimu." Haanish kemudian melirik arloji dipergelangan tangannya. "Dan sore nanti kau wajib ikut bersamaku ke tempat yang sangat penting."


"Tempat apa itu kak?" tanya Mahreen dengan penasaran.


"Nanti kuberitahu." ujar Haanish dengan senyum dan mengisyaratkan Mahreen untuk melakukan perintahnya.


sementara Mahreen melakukan tugasnya, Haanish menaiki tangga menuju lantai dua dan berhenti ke sebuah kamar. ia mengetok pintunya beberapa kali. tak lama kemudian Haidar keluar dengan penampilan kusut.


"Itu Mahreen di pantry sementara buat minuman untukmu." ujar Haanish, "Sementara ini nyamankan dirimu di beranda." sambung pemuda itu kemudian melangkah santai menuju kamarnya disayap timur lantai dua itu.



Haidar langsung masuk kamar dan merapikan dandanannya kemudian keluar lagi memakai kaos dan celana kain tipis untuk menyesuaikan dengan udara siang menjelang sore itu. pemuda itu melangkah ke beranda lantai dua dan duduk disalah satu kursi. ia membaca sebuah buku yang diambilnya dari rak bawah meja itu.


tak lama kemudian muncul Mahreen membawa nampan berisi dua gelas panjang minuman dingin. ia mendekati Haidar yang duduk dikursi.


"Hai... kak vy segodnya???" sapa Mahreen. (bagaimana labar hari ini?)


Haidar menoleh lalu tersenyum. "Alhamdulilah, YA v poryadke." jawabnya. (Aku baik-baik saja.)


Mahreen tersenyum lalu meletakkan dua gelas minuman dingin itu di meja. nampan disisipkannya dirak bawah meja dan gadis itu duduk didepan Haidar.


"Vypey eto..." pinta Mahreen, "Ya spetsial'no prigotovil etot napitok dlya tebya." (minumlah. ku buat khusus minuman itu untukmu.)


Haidar tersenyum, "Balgodarnost' " ujarnya mengucapkan terima kasih lalu menyeruput minuman itu melalui sedotan. ia tersenyum lagi dan memuji, "Vkusnyy napitok." (minuman yang sedap.)


Mahreen tersenyum lagi. keduanya agak lama diam hingga Mahreen kemudian bicara lagi. "Ya skuchayu po tebe... dolgoye vremya ty ne poyavlyalsya v kolledzhe."


(Aku kangen... sudah lama kamu nggak muncul di kampus.)


Haidar tersenyum lagi. "Ya zanyat v ofise." jawabnya sambil merebahkan punggung lebih dalam, "Prosto zhdu ispytaniya dissertatsii..." (Aku sibuk dikantor. toh tinggal menunggu sidang skripsi.)


Mahreen tersenyum memperbaiki rambutnya. "Ty ne skuchayesh' po mne?" pancing gadis itu. (Apakah kau tak merindukanku?)


Haidar mencondongkan tubuhnya, "Ya dolzhen skazat', chto skuchayu po tebe?" (haruskah kunyatakan rasa rinduku padamu???)


Mahreen mengangguk, "Da. ya khochu, chtoby vy vyrazili tosku po mne." (ya, aku ingin kau nyatakan kerinduanmu padaku.)


Haidar mengangguk lalu menatap dalam ke mata hijau milik Mahreen. pemuda itu perlahan mengucap, "Mahreen Nurmagonegov.... ya skuchayu po tebe..." (Aku merindukanmu)


Mahreen tersenyum lagi dan mendekatkan wajahnya kepada pemuda itu. makin lama wajah keduanya makin dekat dan Haidar dapat dengan jelas merasai hembusan napas dari Mahreen yang menyapu wajahnya. lama kelamaan keduanya mulai terbawa haru-birunya emosi dan mata keduanya mulai meredup. nyaris saja kedua bibir itu saling bertemu kalau saja Haanish tak muncul dan menegur mereka berdua.


"Woy, jangan ******* disini dong!" tegur Haanish.


Mahreen terjatuh kedepan dan sialnya wajah gadis itu menghujam tepat dibagian paling pribadi milik Haidar yang hanya terbalut dengan celana panjang kain tipis.


BLUGH...


dan Haidar langsung membungkukkan tubuh meringis menahan sakit sebab bagian pentingnya itu tertabrak wajah Mahreen. buru-buru Mahreen bangkit dan mengusap-usap wajahnya yang sempat merasai tonjolan besar dibagian bawah itu.


Haidar sendiri bangkit perlahan sebab merasakan ngilu akibat tabrakan wajah sama bagian pribadi tersebut.


"Kenapa sih kamu selalu saja mengganggu urusan aku?!" tukas Haidar dengan berang. wajahnya merah menahan malu.


"Eh, semestinya kamu tuh bersyukur, aku muncul hingga kalian tercegah dari perbuatan tersebut." tangkis Haanish sambil bercakak pinggang.


"Alaaa... macam kau yang suci saja." balas Haidar, "Kamu pun sering ******* sama Denada, aku nggak protes!"


"Sudahlah... yang penting moral kamu terjaga. semestinya senang dan bersyukur." ujar Haanish lalu menatap Mahreen. "Reen, ayo ikut aku!" ajaknya.


"Kemana Kak?" tanya Mahreen dengan malas. ia belum puas menuntaskan rasa rindunya kepada pemuda itu.


"Pokoknya ikut aku dulu." paksa Haanish.


dengan lesu Mahreen melangkah mendekati Haanish dan pemuda itu menariknya keluar dari beranda itu, menuruni tangga hingga tiba dilantai satu. mereka keluar dari kediaman dan Haanish menaiki sepeda motor gedenya. ia menepuk bantalan.


"Ayo naik!" ajaknya.


Mahreen akhirnya naik dan membonceng. kendaraan itu meluncur meninggalkan kediaman Lasantu. Haanish menyusuri jalanan melaju dengan kecepatan tinggi membuat Mahreen mau tak mau terpaksa memeluk erat pinggang pemuda itu.


ternyata Haanish membawanya ke kuburan. mereka berhenti didepan gerbang.


"Kak, kenapa kita kesini?" tanya Aisyah dengan tegang.

__ADS_1


"Menjenguk ayah kita..." jawab Haanish sekenanya.[]


__ADS_2