The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 27


__ADS_3

Salman mengendarai mobil milik Callista dengan kecepatan rata-rata. ia tak mau membuat kesan pertamanya terlihat jelek dimata jilbaber itu. bagaimanapun, Haidar telah mempercayakan gadis itu kepadanya. sesekali Callista mencuri pandang menegaskan penampilan lelaki yang sementara menyupiri mobilnya itu.


keduanya diam dalam perjalanan membuat Salman dirundung rasa canggung. ia berupaya mencari-cari cara untuk mencairkan kebekuan suasana dalam mobil itu.



"Alamat rumahnya dimana?" tanya Salman tiba-tiba.


Callista kali ini berani menatap wajah lelaki itu. Salman merasa pertanyaannya sudah melanggar garis privasi gadis itu. ia meralatnya.


"Maksudku, kita hendak kemana?" tanya Salman.


"Ke rumah." jawab Callista singkat.


"Berarti... saya nanya alamatnya... nggak salah... kan?" tanya Salman dengan senyum kikuknya. Callista kini paham, lelaki itu canggung.



"Ya, nggaklah Kak. nanyanya sudah tepat." timpal Callista, "Lihat saja layar GPS di mobilephone. ketik nama Callista Waroka... nanti muncul alamatnya."


"Oh iya..." ujar Salman langsung mengaktifkan aplikasi Go-map. go.id pada mobilephone. ia menekan menu nama dan menemukan nama Callista Waroka disana kemudian menekannya. seketika layar holografis muncul memenuhi kaca depan mobil.


Salman mengangguk dan kali ini melajukan mobil lagi. diperjalanan itu, Salman bertanya lagi.


"Namamu Callista?" tanya Salman.


Callista tertawa. "Sudah tahu, kok malah nanya?"


Salman terkekeh, "Iya ya? kok ditanya lagi?" keduanya lalu tertawa. Salman menyambung. "Maaf, saya kadang agak canggung dihadapan perempuan. soalnya, perempuan yang saya akrabi selain Amak saya, hanyalah tiga sepupu perempuan saya."


"Nggak usah canggung didepan saya, Kak." timpal Callista, "Anggap saja saya sepupunya Kakak."


Salman tertawa. "Ah ya. sebaiknya saya membiasakan diri dengan kamu." ujarnya, "Kamu tahu? aku punya hadiah pemberian Mamak Tuo. sebuah revolver besar yang kunamai juga Callista."


"Oh... anggap saja saya pistolnya Kakak kalau begitu." timpal Callista setengah menggoda. Salman kembali tertawa.


"Aden nggak berani membandingkan adiek dengan pistol besar itu, meski namanya sama." ujar Salman, "Adiak lebih cantik dari pistol itu."


Callista tertawa. "Gombalan Kakak, garing." olok jilbaber itu. Salman tertawa mendengar olokan jilbaber tersebut.


"Aden memang tak pandai menggombal. aden terbiasa bicara langsung pada pokoknya. makanya... para gadis di nagari tu tak mau dekat aden. kata mereka ya, kira-kira mirip dengan kalimat adiek barusan." sahut Salman.


Callista jadi halu mendengar kepolosan Salman tersebut. lelaki itu langsung memperbaiki suasana. "Tapi kali ini aden tak akan canggung lagi. sebab ada kawan yang mampu melihat bagaimana perasaan aden."


"Oh ya?" ujar Callista. "Siapa sih? kakak yang ada di kediaman Lasantu itu?"


"Bukan..." jawab Salman dengan singkat dan tenang.


"Ah, Kakak bikin penasaran saya saja. siapa sih? karlota sedikit kan nggak apa-apa." desak Callista.


"Kamu..." jawab Salman dengan pelan.


deg....


Callista terdiam mendengar jawaban Salman. lelaki itu sendiri kini lebih banyak diam. tak lama, kendaraan tiba disebuah jalan kecil. ia masuk dan berhenti disebuah rumah bertingkat.


"Disini rumahnya?" tanya Salman.


Callista mengangguk. Salman mengarahkan mobil masuk kedalam pekarangan. setelah itu ia mematikan mesin dan keluar.


"Tugas aden memastikan keselamatan adiek, tuntas sudah." ujar Salman sembari menyerahkan kunci kepada jilbaber tersebut. "Sekarang, aden mohon pamit kembali pulang."


"Kak, nggak masuk dulu?" Callista menawarkan.

__ADS_1


"Nantilah Kapan-kapan aden akan bertandan kerumah adiek. untuk saat ini, aden belum bisa, sebab mesti siap-siap masuk kantor malam harinya." jawab Salman hendak berbalik.


"Kak..." panggil Callista.


Salman berbalik lagi menatap jilbaber itu.


"Hati-hati dijalanan. dikompleks sini, biar siang, banyak garong dan preman. saya kuatir..." ujar Callista dengan cemas.


"Adiek tak usahlah cemas akan aden." ujar Salman. lelaki itu mencabut pistol revolver besar kebanggaannya dan memperlihatkannya kepada jilbaber itu. "Ada Callista yang menjaga aden."


seketika wajah jilbaber itu bersemu merah. Salman tersenyum. "Assalamualaikum..." ujarnya pamit.


"Wa alaikum salam." jawab Callista dengan pelan.


Salman melangkah santai sambil menyarungkan lagi Callista dibalik pinggulnya lalu mengayunkan langkah dengan penuh percaya diri, diikuti oleh lirikan mata Callista yang mengawasinya hingga opsir itu menghilang dilekukan jalan.


...*******...


Akram menjabat tangan Haanish. "Semoga sukses dengan misi pertama kamu ini." ujarnya memberi semangat.


"Makasih Om." balas Haanish. "Saya nggak akan pernah lupa bantuan Om kepada saya."


Akram tertawa sambil menepis. "Jangan kau bicara soal budi padaku, nak. dimataku, kau dan Haidar adalah anakku juga!"


Airina yang berada disisi suaminya kemudian maju. "Ini ada titipan dari pamanmu, Ikram." ujar Airina seraya menyerahkan sebuah kotak kecil ke tangan Haanish. "Pesannya, kau hanya bisa mengunakan benda ini jika berada dalam posisi hidup atau mati!"


Haanish menatap kotak ditangannya itu kemudian menyimpannya dalam saku. pemuda itu menenteng sarung kain berisikan Si Penebas Angin. mereka menatap ke lapangan luas dihalaman belakang kediaman Williams. sebuah jet futuristik dengan logo perusahaan MLt. Group nampak berdiri gagah. disisi tangga itu berdiri Marina mengenakan pakaian resmi.


Marinka maju mengulurkan tangan. "Selamat bertugas Uda." ujarnya dengan suara sendu yang ditahan-tahan. ada rasa yang terpendam nampak dalam untai kata-katanya.


"Terima kasih atas bantuanmu mendesain mikrochip Ark 01 Narsys. aku tak akan melupakannya." ujar Haanish membuat wajah Marinka merona merah. "Kapan-kapan kita berlatih pedang lagi ya?"


Marinka tersenyum lalu mengangguk. dibelakang Marinka nampak Marissa terlihat cemberut, mungkin ia cemburu melihat kedekatan Haanish dengan Marinka. setelah Marinka mundur. Marissa maju dan menyalami Haanish.


"Denai akan selalu tetap menunggu Uda." ujarnya dengan kalimat penuh makna. Haanish sendiri hanya tertawa pelan.


setelah melambaikan tangan, Haanish berbalik melangkah menuju pesawat dimana Marina telah menunggunya. keduanya kemudian menaiki tangga pesawat dan masuk kedalam kabinnya. tak lama kemudian pesawat perusahaan itu mengangkasa secara vertikal lalu memutar arah dan langsung melesat dengan kecepatan hipersonik.


didalam kabin, Haanish duduk berhadapan dengan Marina. pemuda itu menyandarkan gulungan kain berisi Si Penebas Angin di dinding, sementara ia kemudian menyandarkan punggung pada dudukan kursi sambil menggenggam sekaleng softdrink.


sementara dihadapannya, Marina sibuk mengutak-atik tuts keyboard laptopnya memeriksa jadwal kegiatan yang dikirimkan personal kepegawaian MLt. Group.


"Chouji kirim salam padamu." ujar Haanish. "Aku sengaja tak menyinggung hal itu dihadapan Om dan Bibi. kuatirnya, malah kamu lagi yang dipingit ke dalam kurungan ujicoba di laboratorium itu." pemuda itu kemudian terkekeh.


"Oh ya?" gumam Marina yang masih terfokus pada layar laptop. Haanish mengangguk.


"Ia makin berisi badannya. beda denganku yang semakin lama makin ceking saja karena banyak bergadang." tambah Haanish. "Sampai sekarang pun, ia masih tetap mengingatmu."


masih dengan tatapan yang terpaku ke laptop, Marina menjawab, "Tentu dong. aku kan saudaranya juga, meski sepupuan. dia tak akan melupakanku sampai kapanpun."


Haanish yang kesal memajukan tubuhnya dan menjulurkan tangannya mendorong laptop itu agar menutup. Marina sempat kaget lalu mendecak kesal ke arah Haanish.


"Apaan kamu Eiji? ganggu orang lagi serius kerja saja." gerutu Marina.


"Hentikan dulu kegiatanmu." pinta Haanish. "Kau tak merindukan Chouji?"


"Bagiku... dia adalah masa lalu." jawab Marina meletakkan laptop dimeja disamping kursinya. "Kami sudah merelakannya bersama. bukankah lirik lagu Teri Meri Prem Kahani sudah mewakili perasaan kami waktu itu?"


Haanish mengenang kembali saat itu. dia benar-benar paham perasaan keduanya sehingga ia tak ribut dipesta melainkan mengurung diri saja di dojo, memuaskan dahaga patologisnya sambil mencurahkan airmata, ikut menenggelamkan diri dalam elegia cinta terlarang itu. (untuk mengetahui lebih jelas kisah antara Haidar dan Marina, silahkan baca novel Flamboyan.)


Haanish terkekeh pelan sambil mengangguk-angguk. Marina paham, sepupu dihadapannya tersinggung rasa empatinya. Marina tersenyum lalu meletakkan laptop.


"Eiji... aku memahami perasaanmu." tukas Marina dengan wajah penuh ketabahan. "Aku berterima kasih atas empati yang kau tunjukkan kepada perasaan kami berdua. tapi Eiji. patut kau tahu bahwa kami berdua hingga saat ini masih berada dalam proses penyembuhan.... dan penyembuhan itu terasa sangat lama dan menyiksa." mata gadis itu berkaca-kaca. "Aku sendiri sampai saat ini... jujur.... aku masih menyimpan perasaan itu... tapi... itu nggak boleh! itu terlarang! harus ada yang berkorban, atau terkorbankan diantara kami berdua. baru perasaan itu akan hilang dengan sendirinya."

__ADS_1


Haanish tetap saja terkekeh. kedua matanya juga berkaca-kaca. " Aku paham. aku paham... maafkan aku... bisa aku permisi sebentar? aku harus meredakan hatiku dulu." pemuda itu langsung bangkit dan melangkah menuju toilet. suara tawanya makin lama makin terdengar dan makin membahana.


dua orang bodyguard hendak mengawal pemuda itu namun langsung dicegah oleh Marina.


"Biarkan dia... dia hanya ingin menenangkan diri saja. tetaplah kalian disini." ujar Marina.


"Tapi suara tawanya itu mengganggu." protes salah satu pengawal itu. Marina mengangguk-angguk sambil menutup mata sejenak lalu kembali membuka dan menatap kedua pengawalnya.


"Jangan mengganggu serigala yang melolong sendirian... kalian tak ada apa-apanya dibanding dia. bukan aku meremehkan kemampuan kalian berdua. tapi sungguh... aku bicara dari hati. kalian hanya akan cari mati jika mencari masalah dengannya. tetaplah disini!" tandas Marina.


kedua pengawal itu hanya bisa memendam rasa penasarannya. sementara di toilet, suara tawa pemuda itu masih tetap berkumandang.


pesawat itu menempuh waktu perjalanan selama empat jam saja dikarenakan kecepatan yang digunakan merupakan sistem kecepatan melebihi kecepatan suara. mereka mengangkasa diketinggian 25 kilometer diatas permukaan laut. hingga akhirnya pesawat memasuki wilayah kedaulatan republik federasi rusia. pilot menyampaikan permintaan ijin melintas dan dijawab oleh atase pertahanan dirgantara negara itu.


kecepatan pesawat diturunkan menjadi kecepatan biasa dan mereka pun turun ke ketinggian 8 kilometer diatas permukaan laut hingga akhirnya tiba di moskwa. pesawat perusahaan itu minta ijin melakukan landing di Demodedovo, oblast, 42 kilometer arah tenggara pusat kota Moskwa. itu adalah salah satu bandara internasional di negara beruang merah tersebut.


kedatangan mereka ternyata sudah ditunggu oleh orang-orang yang dikirim Mikail Usmanov. megainvestor itu sudah mengintruksikan orang-orang untuk menjemput dan membawa utusan dari MLt. Group ke Podolski.


podolski adalah salah satu kota satelit yang berada diluar kota Moskwa. kota ini merupakan kota industri dan pusat administrasi pemerintahan distrik Podolsky di Oblast. terletak ditepi sungai Pakhra, menjadikannya sebagai kota terbesar di Oblast.


lambang kota itu adalah sebuah perisai berdasar warna biru laut dengan dua buah beliung mattock yang saling bersilang. iringan kendaraan itu tiba dipinggiran kawasan peristirahatan dekat kawasan pariwisata lokal, Gorodskoy Plyazh.


kendaraan berhenti dan mereka keluar dari mobil. Marina dikawal oleh Haanish yang menenteng Si Penebas Angin beserta dua orang pengawal bersenjata pistol dipandu oleh belasan orang suruhan Mikail Usmanov.


Mikail Usmanov adalah generasi ke lima dari keluarga Usmanov yang terjun dalam usaha produksi baja. kredibilitas MLt. Group membuatnya tertarik untuk memulai kerja sama dibidang produksi biji baja.


Marina mengira jika investor yang akan dihadapinya ini bertampang kakek-kakek narsis, seperti halnya para investor eropa. namun nyatanya, Mikail Usmanov adalah seorang lelaki berperawakan sedang dengan tinggi tubuh 198 sentimeter dan termasuk tampan dengan tulang rahang yang tegas. lelaki itu mendatangi Marina.


"Selamat datang dinegeri ini, Nona Marina Williams." sapa Mikail Usmanov yang datang mengembangkan tangan hendak memeluk Marina, ketika tiba-tiba Haanish dengan kelebatan yang tak mampu diikuti tatapan orang-orang maju dan menahan dada megainvestor itu dengan ujung sarung pedang.


"Maaf, mungkin saya lancang." sela Haanish dalam bahasa inggris. "Tapi Nona Marina tidak suka dipeluk oleh orang yang bukan Mahramnya." ujar pemuda itu dengan senyum dan tatapan matanya memendarkan cahaya kebiruan. itu jurus Karasu Tengu no Shisen. tatapan maut sang penjaga surgawi.


belasan orang-orang suruhan Mikail Usmanov itu sontak pula mengeluarkan senjata dan membidik Haanish yang telah lancang menahan langkah tuannya. tanpa menoleh Haanish menyeru. "Lindungi CEO MLt. Group!"


kedua pengawal itu sontak memperisai Marina dari dua sisi sambil menodongkan pistolnya pula kearah para pengawal-pengawal Mikail Usmanov.


"Maafkan saya atas sikap protektif sepupu saya, Tuan Mikail." ujar Marina dalam bahasa rusia. gadis itu memang seorang polyglot, yang menguasai beberapa bahasa dunia. itulah sebabnya keluarga Williams mempercayakan perusaan multinasional itu kepada gadis tersebut. "Namun ia benar. saya tidak nyaman dengan pelukan orang lain, kecuali mahram saya. maafkan kekolotan saya ini." sambungnya berupaya mencairkan suasana tanpa merendahkan diri dijadapan investor rusia itu.


Mikail Usmanov tertawa dan menepiskan sarung pedang milik Haanish yang tertahan didadanya. ia mengangguk-angguk. "Saya juga minta maaf. ini murni kebiasaan saya saja. sebab di negeri ini dan mungkin negeri-negeri eropa dan amerika, berpelukan adalah hal yang biasa. sekali lagi, maafkan saya."


"Sama-sama." jawab Marina kemudian menyentuh pundak Haanish. "Sudah cukup proteksinya." ujarnya lirih, "Kau nyaris membatalkan negosiasi penting antara MLt. Group dengan keluarga Usmanov."


Haanish hanya terkekeh dan menurunkan sarung pedangnya lalu mundur. Mikail tersenyum.


"Bisa kita mulai pertemuannya?" tanya Mikail.


"Silahkan." jawab Marina.


"Mari..." ajak Mikail.


keduanya melangkah bersama sambil tetap diawasi oleh Haanish. keduanya kelihatan akrab saat berbincang-bincang dalam bahasa rusia. ternyata ketahuan pula kalau Mikail adalah seorang muslim, sehingga langsung menghilangkan sedikit sekat dihati Marina saat mendiskusikan beberapa hal yang berhubungan dengan muamalah.


sambil duduk menikmati knish, kinkhali dan shashlik, negosisasi pun dimulai. Haanish tak paham bahasa rusia. tapi ia mencermati bahasa tubuh yang ditampilkan sepupunya itu. kelihatannya Marina sangat menikmati kebersamaan dengan investor ini. senyumnya terkembang beberapa kali. entah mungkin Mikail Usmanov memuji integritas Marina dalam mengemudikan roda MLt. Group, atau menggoda dan menggombalinya dengan rayuan picisan yang ditanggapi secara ringan pula oleh Marina.


acara makan itu berakhir dan keduanya saling bersalaman tangan. Haanish memperhatikan wajah si investor rusia itu. kelihatannya ia terkesan dan tertarik pada Marina. tentu saja. sepupunya itu berwajah campuran. bahkan arsitektur lokal tak nampak sama sekali di wajahnya. Marina lebih mirip gadis dari ras kaukasia ketimbang mongoloid. ia membawa gen dominan dari Akram Williams yang notabene keluarganya adalah keturunan Irlandia.


dalam perjalanan kembali ke Moskwa, Haanish menginterogasi sepupunya itu.


"Bagaimana kesanmu terhadap lelaki itu?" tanya Haanish.


"Dia lelaki yang baik dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya." jawab Marina dengan santai.


"Kelihatannya... kau menyukainya." tukas Haanish.

__ADS_1


"Tentu saja aku menyukainya. dia pengusaha yang humble. perjanjian kerjasama ini berjalan baik berkat dia juga." jawab Marina dengan nada diplomatis.


"Bukan itu maksudku." tepis Haanish. "Maksudku... melihat tatapanmu kepadanya... kurasa kau memang menyukai investor itu, Marina." []


__ADS_2