
Haidar Ali Lasantu, putra pertama keluarga Lasantu itu, baru saja menyelesaikan beberapa tugas dalam pembelajaran daring kemarin. pemuda itu memang sosok yang memiliki dedikasi tinggi bahkan dalam statusnya sebagai mahasiswa tingkat akhir di UIN Sultan Amai Gorontalo, Fakultas Ekonomi Islam, program studi manajemen bisnis.
selain itu Haidar mengambil magang di Buana Asparaga Tbk dikala tidak ada jam perkuliahan. ia bekerja sebagai tenaga ahli operasional dibawah bimbingan beberapa senior dalam perusahaan itu. sudah sejak lama Dewinta Basumbul mengajukan permohonan pensiun, namun masih ditangguhkan oleh Inayah disebabkan usia putra pertamanya belum layak memimpin sebuah imperium bisnis yang telah merajalela selama lima dekade dan telah melewati empat generasi dari Keluarga Lasantu sebagai pemilik Buana Asparaga Tbk.
kini, Haidar sedikit lagi siap menjadi seorang nautonnier yang diharapkan membawa kebijakan yang lebih baik bagi perusahaan ke depan. dia sementara menuju kearah itu. pelan namun pasti dan bertahap namun tanpa hambatan apapun. bagaimanapun pada dasarnya, Haidar seorang polymath yang handal, selain Haanish juga tentunya. hanya saja Haanish tak terlalu perduli dengan warisannya. anak itu lebih senang menjalani hidupnya sebagai lelaki yang haus akan petualangan, entah itu cinta, hidup dan hal-hal yang berbahaya.
lelaki itu mengenakan kemeja lengan panjang dari bahan katun tipis. lekukan sepir bulky yang menghiasi tubuhnya nampak jelas dibalik pakaian itu. pemuda itu melangkah menuju meja makan. disana sudah ada makanan tersedia. disediakan oleh asisten rumah tangga, Bik Maimunah yang dipercayakan Inayah untuk mengurusi kehidupan putra mahkota itu.
Haidar Ali menarik kursi dan duduk. ia menatapi masakan pagi itu. sejenak liurnya menetes melihat makanan yang tersaji pagi itu, sukses menggugah seleranya. Bik Inah muncul membawa jus buah apel. minuman keseharian yang sering dikonsumsi Haidar setiap pagi.
"Assalamualaikum, Tuan. wololo habari uty pagi lotiya?" sapa Bik Maimunah dengan santun.
Haidar Ali tersenyum datar. "Alhamdulilah, piyo-piyohu Bik." jawabnya pula.
Bik Maimunah tersenyum dan meletakkan gelas tinggi berisi jus buah apel itu dihadapan Haidar yang mulai menyantap sarapannya pagi itu. Bik Maimunah meninggalkan majikannya kembali ke dapur dan membereskan beberapa kegiatannya yang tertunda.
sementara Haidar Ali sementara makan, ia meletakkan gawai di meja dan mengaktifkannya. pemuda itu memilih fitur dan mengaktifkan aplikasi smarteve.co.id lalu memilih channel stasiun televisi yang diminatinya. tak lama kemudian muncul tampilan holografis dari tayangan-tayangan acara yang disajikan stasiun tersebut, sambil meneruskan sarapannya.
ditengah kegiatannya menikmati sarapan pagi itu, tiba-tiba notifikasi panggilan masuk muncul. secara otomatis gawai itu merespon dan memperlihatkan potret pemilik panggilan. Haidar menekan fitur yang muncul. tak lama kemudian nampaklah wajah holografis seorang wanita parobaya berusia sekitar 58 tahun, berpenampilan modis dan menarik. wanita itu tersenyum.
📲 "Assalamualaikum, Bunda Dewi." sapa Haidar mendahului.
📱"Wa alaikum salaam..." balas Dewinta Basumbul kemudian terkekeh pelan. "Wah, Bunda keduluan kamu lagi, dalam mengucap salam." ujarnya kembali membuat Haidar Ali tersenyum datar.
📲 "Bunda, sepagi ini kok menghubungi saya? ada yang harus diselesaikan?" tanya Haidar dengan heran.
Dewinta Basumbul memperlihatkan wajah merajuk.
📱"Apa Bunda nggak boleh menyapa putra Bunda ini?" tanya Dewinta Basumbul. pertanyaan yang dibarengi mimik wajah cemberut CEO Buana Asparaga Tbk itu membuat Haidar melebarkan senyumnya.
📲 "Boleh, siapa bilang nggak boleh?" jawabnya menenangkan wanita parobaya itu. "Aku hanya heran sepagi ini Bunda hubungi aku. kukira ada tugas perusahaan yang harus kuselesaikan. kan kubilang, hari ini aku ijin nggak masuk sebab ada pertemuan tatap muka dengan dosen kuliahku. Bunda nggak membaca pesan singkat yang kukirim?" pancing Haidar dengan suara tenang.
📱"Bunda sudah baca." jawab Dewinta Basumbul. "Eh, anak Bunda sekarang kuliah di kampusmu lho. dia MABA yang baru selesai menyelesaikan OPAK virtual."
📲 "Yang mana?" tanya Haidar, namun dijawabnya sendirian. "Pasti Callista. nggak mungkin Cholil mau kuliah di kampus yang bertitel religius begini." komentar Haidar.
📱"Cholil lagi bersama ayahnya di Canberra, Australia." jawab Dewinta.
📲 "Oh ya? lagi ngapain sih? setahu saya nggak boleh berburu kangguru." olok Haidar membuat Dewinta tertawa pelan. "Nanti bisa didenda pemerintah disana."
📱"Nggak usah pusingkan dua laki-laki nyentrik itu." ujar Dewinta. "Bunda cuma mau pesan sama Tuan Muda Chounan... titip Callista, ya?"
📲 "Bunda, memangnya saya ini petugas PT. Pos Persero pake minta dititipin. memangnya Callista itu paket ya?" olok Haidar lagi. "Kalau perkara jagai Callista, nggak usah juga Bunda repot-repot bilang. Callista kan sudah kuanggap adikku. pastilah kujaga."
📱"Alhamdulilah... makasih ya, Tuan Muda." ujar Dewinta.
📲 "Sudah? segitu saja?" pancing Haidar.
Dewinta mengangguk pelan dan Haidar balas mengangguk-angguk.
__ADS_1
📲 "Ya sudah, Bunda nggak mau mengganggu sarapan pagimu. Bunda pamit dulu ya? Assalamualaikum..." ujar Dewinta.
📲 "Wa alaikum salaam...." jawab Haidar.
pembicaraan itu terputus dan waktu digawai itu menunjukkan pukul 08.56 pagi. pemuda itu menyorongkan piringnya yang sudah kosong ke tengah meja lalu mengambil gelas dan meneguk isinya nyaris tandas. Haidar bangkit seraya meletakkan gelas. Bik Maimunah muncul lagi.
"Bibi... saya berangkat dulu. minta tolong titip rumah sama Om Rinto, ya?" pesan Haidar.
Bik Maimunah mengangguk sopan dan pemuda itu meraih gawainya yang tergeletak di meja kemudian berbalik melangkah meninggalkan wanita itu. ia melintasi ruangan penerima tamu dan tiba diberanda. Haidar menuruni tangga beranda dan mendekati kendaraannya, Tuatara V33K.
kendaraan itu tidak lagi menggunakan kunci fisik untuk membuka pintu, melainkan menggunakan sistim rekam sidik jari. perangkat ini menjadikan supercar itu menjadi mobil dengan tingkat sekuritas teraman sebab tak mampu dicuri oleh maling. siapa yang bisa meniru sidik jari seseorang dalam waktu yang mendesak?
Haidar menempalkan telapak tangannya. maka palmprinter itu langsung bereaksi.
🔊 "Akses diberikan. Silahkan Tuan Haidar Ali." seru penjawab audio pada kendaraan itu seiring pintu itu melepaskan e-key dan membuka.
Haidar menguak pintu lalu masuk ke dalam dan menutup pintu kendaraannya kembali. sistim permesinan kendaraan itu sudah menggunakan fasilitas pengaktif suara.
"Hidupkan mesin." perintah Haidar. perangkat AI pada mobil itu merespon dan mesin pun menyala lalu menderum sendiri. Haidar memegang setir kemudi dan menginjak pedal gas.
Tuatara V33K itu kemudian bergerak meninggalkan kompleks perumahan elit itu. dalam beberapa kelokan Haidar telah melaju bersama kendaraannya meninggalkan Puri Manggis Residence dan menyusuri jalanan menuju utara, arah perlimaan Telaga.
tujuan perjalanan Haidar adalah Kampus II UIN Sultan Amai Gorontalo yang terletak di Limboto. kendaraan itu termasuk yang tercepat, mengalahkan mobil-mobil lokal yang kecepatannya rata-rata. dengan kecepatan 380 Km/jam, waktu yang ditempuh hanya lima belas menit saja.
Tuatara V33K itu memasuki komplek pekarangan kampus dan memasuki wilayah parkir depan gedung fakultas. Haidar keluar dari mobil dan melangkah santai memasuki gedung tersebut. ada pegawai piket disana dan Haidar menghampiri pegawai tersebut.
"Assalamualaikum... Saya Haidar Ali Lasantu, Mahasiswa semester akhir Prodi Manajemen Bisnis." ujar Haidar kemudian menyebut nomor induk mahasiswanya.
"Saya mau ketemu Pak Djamaludin. sudah punya deal dengan beliau." jawab Haidar dengan senyum hangat.
"Wah... Pak Djamaludin belum datang pak." sahut pegawai itu. "Dia tadi menghubungi pihak kepegawaian bahwa hari ini beliau agak terlambat datang. dia masih sementara pengurusan berkas kenaikan pangkat di BKPP Kota Gorontalo."
"Ooo... begitu..." gumam Haidar mengangguk-angguk. "Kalau begitu, tolong hubungi saya jika beliau sudah tiba. saya menunggu di kafetaria kampus." pemuda itu tersenyum tipis. "Maaf telah merepotkan anda, namun pertemuan ini penting bagi saya. mohon bantuannya." pinta Haidar dengan sopan.
"Akan saya hubungi anda jika beliau sudah tiba." sambut pegawai itu. Haidar mengangguk lalu pamit dan melanglah meninggalkan ruangan lobby itu.
langkah pemuda itu terayun santai menyusuri selasar gedung hingga ia tiba disebuah bangunan yang luas dan berlantai satu tapi luas nan lebar. diatas pintu itu, terdapat plank nama bertuliskan 'KAFETARIA'
Haidar memasuki kafetaria dan sejenak mengamati ruangan yang ramai oleh aktifitas makan para mahasiswa. lelaki itu menemukan Haanish yang duduk ditengah-tengah kelompoknya. Haidar mendekati komunitas itu.
ia duduk dua blok dari tempat itu dan memesan minuman. setelah itu tanpa menoleh, Haidar menyimak percakapan mereka.
Gunadi, mahasiswa yang gaya bicaranya kemayu asyik bercerita tentang bagaimana dia hendak dijodohkan oleh orang tuanya.
"Kamu harus mencari istri, seorang guru." ujarnya dengan suara pelan.
"Memang kenapa Gun?" tanya Zais, mahasiswa komunitas yang penampilannya lebih mirip Osama bin Laden itu, lengkap dengan gamis dan surban serta jenggot lebat yang menghias dagu dan rahangnya.
"Kalian pasti tahu, kan? aku pernah pacaran sama Juliana, mahasiswi fakultas kedokteran itu?" pancing Gunadi melambai-lambaikan tangannya dengan kemayu.
__ADS_1
"Si dokter gigi itu?" tebak Haanish dengan senyum nyaris menahan tawa. Gunadi menganggukkan kepala dengan gemulainya.
"Ibuku nggak setuju, Man." jawabnya menampar luwes lengan Haanish yang kekar.
teman-teman sekomunitasnya langsung mengerutkan alis, termasuk Haanish. Gunadi kemudian menyambung.
"Kata ibu, nanti pas aktifitas ranjangnya nggak enak. baru goyang sedikit, dicabut. baru goyang sedikit, sudah dicabut." jawab Gunadi yang langsung sukses membuat mereka tertawa. "Nggak jadi-jadi nanti kau punya anak. begitulah kata ibuku." sambungnya membuat teman-temannya semakin terpingkal-pingkal.
beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan papernya memanfaatkan jaringan wireless fidelity di kafe itu merasa terganggu dan memandang kesal. namun komunitas itu tak perduli. lagipula, siapa yang berani melabrak mereka? ada Haanish disana.
siapapun tahu, siapa Haanish. bukan karena dia putra kedua pemilik Buana Asparaga Tbk. tapi karena sepak terjangnya yang disegani semua mahasiswa maupun dosen. semasa MABA, Haanish pernah menaklukkan beberapa mahasiswa senior yang berani membully pemuda itu. Haanish tak seperti Haidar yang begitu alim dan tak gampang menjatuhkan tangan kasarnya. anak kedua mendiang Sandiaga itu, paling dermawan mengumpat dan rajin memukul siapapun yang berani mengganggunya atau sahabat-sahabatnya.
"Jangan juga cari istri, pegawai Telkom." ujar Gunadi. "Baru tiga menit, putus... itulah petunjuk ibuku." sambungnya. "Begitu juga, jangan cari istri, pegawai Pos.... baru mau masuk kamar, langsung ditanya 'mau yang kilat, atau biasa'?"
kembali kafetaria itu digaduhkan oleh suara tawa. beberapa mahasiswa yang sudah jengkel memilih menyingkir daripada harus berhadapan dengan mereka. Haidar masih tetap menyimak dan tersenyum datar ketika mendengar banyolan si lelaki feminin itu. minuman pesanannya sudah tiba, ditambah bonus sepiring cemilan, sebab pemilik kafe itu sangat perhatian dengan Haidar.
semasa menjadi mahasiswa aktif, Haidar sering ke kafe, hanya untuk membantu pengelola kafe itu menyiapkan makanan. ia sangat tak perduli dengan statusnya sebagai anak sultan yang mentereng. itulah sebab, anak-anak pengelola kafe yang mewarisi tempat itu dari pengelola kafe sebelumnya selalu memperlakukan Haidar lebih daripada mahasiswa lain.
"Terima kasih..." ujar Haidar kemudian menyisipkan selembaran seratus ribuan ke tangan pelayan itu.
"Wah... jangan Kak." tolak pelayan itu. ia sudah diwanti-wanti sebelumnya oleh pengelola bahwa tak boleh menerima pemberian Haidar. pemuda itu mendesis.
"Sssttt... sudah ambil saja." ujar Haidar dengan lirih. "Jangan kasih lihat sama pengelola. nanti kau dimarahi lagi." sambungnya berlagak mengusir.
"Makasih, Kak." jawab pelayan itu dengan lirih pula. Haidar mengangguk-angguk mengiyakan. sepeninggal pelayan itu ia sesekali menyeruput minumannya sambil menyimak lagi pertunjukan komedi tunggal dari Gunadi.
"Kalau nikah sama guru..." tutur Gunadi menjelaskan alasannya. ia menirukan seorang guru yang mengajar didepan kelas, "Sudah jelas? belum? ulangi lagi...." ujarnya sambil mengoyangkan pinggul meniru genjotan lelaki yang sementara mengawini perempuannya.
meledaklah tawa mahasiswa-mahasiswa itu. Gunadi menyambung lagi. "Sudah jelas? sudah? beri pelajaran baru..." ujarnya kembali menirukan genjotan pinggul seorang pejantan yang mengawini betina.
"Banggalah kalian sama guru." ujar Gunadi mengakhiri banyolannya.
Haidar bangkit dan melangkah ke tengah komunitas itu lalu duduk disisi Haanish sambil meletakkan gelas minumannya di meja. kemunculan Haidar yang terkenal sangat serius itu langsung secara otomatis membuat mereka membungkam sendiri mulutnya yang tertawa. suasana langsung hening.
"Kamu jangan begitu, Gun..." tegur Haidar. "Kamu sudah menghina profesi guru."
"Guru itu profesi paling enak, deh." kilah Gunadi kemudian menatapi kawan-kawannya yang bungkam. tak ada yang berani lagi tertawa.
"Apanya yang enak?" tanya Haidar dengan tatapan tajamnya.
"Diajari terus ya?" sela Haanish untuk mencairkan suasana yang terlanjur canggung gara-gara kemunculan Haidar.
"Diajari..." sambut Gunadi karena ditanggapi Haanish.
"Setiap hari gaya baru ya?" pancing Haanish lagi mengompori Gunadi.
"He-ehm..." tanggap Gunadi lalu menirukan lagi gaya guru yang sementara mengajar. "Jadi suamiku, apakah sudah jelas? belum? ulangi lagi." ujarnya kembali menirukan genjotan pinggul seorang pejantan.
kawan-kawan Gunadi sebenarnya hendak tertawa. namun karena disitu ada Haidar, maka mereka tak berani melainkan menahannya dengan susah oayah sehingga masing-masing dati merwka nampak seperti orang yang mengalami sakit gigi atau gusi bengkak. Haidar baru saja hendak mengomentari, namun langsung disela oleh Haanish.
__ADS_1
"Sudah, sekali ini santailah sedikit." tegur Haanish. "Hidupmu itu kelihatannya lurus terus. sesekali membengkoklah sedikit." ujarnya dengan nada kesal. "Kedatanganmu selalu saja menimbulkan keheningan suasana. kawan-kawanku tak bisa mengekspresikan dirinya. kau selalu saja menempatkan suasana, madelo to neraka."
ungkapan Haanish membuat Haidar mengurungkan niat mengomentari kalimat-kalimat banyolan yang dilontarkan Gunadi barusan.[]