
EN GARDE !!!!
diiringi teriakan keras kedua petarung maju mengayunkan pedangnya. suara benturan logam beradu dan keduanya mengerahkan teknik terbaik untuk melumpuhkan lawannya.
gaya Barbasetti yang dibawakan lelaki itu sempat membuat Haanish kelimpungan sejenak hingga ia menemukan ritme permainan lawannya barulah Haanish mulai mendesak lawannya dengan teknik permainan gaya Niten Ichi.
kedua petarung itu memiliki skill yang sama mumpuni meski dari aliran perguruan yang berbeda-beda. Haanish juga bukan alumni perguruan Hyoho Niten Ichi. ia hanya diajari secara umum oleh ayahnya, Sandiaga, karena semasa muda, Sandiaga pernah mempelajari aliran Niten Ichi di wilayah Kansai. aliran Koga maupun Eishin yang notabene merupakan warisan keluarganya tidak menggunakan gaya dua pedang. itulah sebabnya Haanish menggunakan gaya pedang kebanggaan Musashi Miyamoto tersebut.
adu pedang kembali terdengar dan bunyi benturan menimbulkan dentingan ritme yang teratur dan indah mirip dentangan genta kecil dari sebuah musik ritmis yang dimainkan dua petarung itu.
setelah melewati beberapa pertarungan, keduanya sama-sama memisahkan diri, menjauh sejarak lima meter saling berhadapan penuh kesiagaan.
"Kau curang! aku sudah memperkenalkan namaku kepadamu!" tuntut Haanish mengarahkan ujung pedang pendeknya kepada lelaki itu.
si lelaki tertawa, "Maafkan aku. namaku Nikolai Basarab dari Transylvania. aku seorang anggota Dracna."
"Itu sudah kutahu dari liontin yang menggantung dilehermu itu." ujar Haanish menunjuk dengan pedang pendeknya. "mengapa kau menyekap Miriam Nurmagonegov?"
"Oo... perempuan itu?" gumam Nikolai Basarab. "Dia adalah anggota keluarga yang menyembunyikan keturunan salah satu pentolan anggota Masyarakat Sungai Amur yang memegang kunci keberadaan darah dewa."
"Kau salah." tukas Haanish. "Bukan Mahreen yang mengetahui keberadaan darah dewa melainkan seorang lelaki bernama Saburo..." pemuda itu terkekeh. "Lain kali, carilah sumber yang benar!"
"Bukankah kau anggota Masyarakat Sungai Amur?" tukas Nikolai. "Tentu kau juga mengetahui tentang darah dewa." pemuda itu mengarahkan pedang lengkungnya kepada Haanish, "Sebaiknya, katakan dimana darah dewa tersebut."
"Kalau kutahu, tentu aku juga tak akan mengatakannya padamu..." balas Haanish.
"Berarti kau mencari kematian!" seru Nikolai.
"Kau juga mau saja disuruh menantang kematian." balas Haanish sambil tertawa.
"Serahkan nyawamu!" seru Nikolai maju menusuklan pedangnya. dengan tangkas Haanish maju mengayunkan Si Penebas Angin dari atas ke bawah.
TRANGGGG TRANGGG TRAANGGG
keduanya kembali saling bertempur. dan nyata bahwa keduanya sama kuatnya dalam olah permainan pedang. kini yang menentukan tinggallah stamina. Haanish yang diperkuat dengan mikrochip itu terlihat bagai tak nampak lelah. berkali-kali ia mengayun si Penebas Angin yang disusul pula dengan pedang pendek menjajari serangan gaya dua pedang aliran Barbesetti yang dimainkan Nikolai.
permainan pedang itu berlangsung selama tiga jam hingga akhirnya sama-sama petarung mengundurkan diri. keduanya menjauh dalam titik aman.
"Aku sudah mengenalmu." ujar Nikolai. "Kita pasti akan bertemu lagi di pertempuran yang lebih dahsyat."
"Aku nantikan kedatanganmu." tanggap Haanish pula.
Nikolai mengangguk. "Suatu saat aku pasti akan menemukan Mahreen." ujarnya kemudian menyarungkan kembali pedang dan belati panjangnya. Haanish tersenyum saja.
"Aku juga nggak akan membiarkan kau menemukan Mahreen." balas Haanish.
sejenak Nikolai menatapnya lalu berlalu kembali dan meninggalkan ruangan tersebut. Haanish kembali berkonsentrasi membuyarkan ki hingga perlahan baju jirah nanoteknologi itu mengurai dengan sendirinya kedalam tubuh pemuda itu.
Haanish berbalik menatap jenazah Miriam Nurmagonegov. pemuda itu mengibaskan Si Penebas Angin beberapa kali ke arah ikatan yang membelenggu tubuh jenazah itu. tali yang mengikat itu putus dan tubuh Miriam jatuh ke tanah.
Haanish menyarungkan kembali Si Penebas Angin dan menyisipkan pedang itu pada sabuk celananya lalu memanggul jenazah Miriam Nurmagonegov keluar dari areal benteng itu.
bersama para jamaah Masjid Juma, jenazah Miriam di urus sesuai syariat, kemudian di sholati dan dimakamkan di pemakaman umum kota Derbent. setelah itu Haanish bergerak pulang ke Moskwa, kembali menemui Marina di Hotel Four Season. rencananya, hari ini mereka langsung take off pulang ke Indonesia.
...*******...
Malam itu, Haidar sudah diperbolehkan pulang setelah di periksa dan dipastikan ia tak mengalami hal-hal yang dapat mempengaruhi kesehatannya ke depan.
"Hanya kami harap Pak Haidar senantiasa check up kesehatan minimal dua kali dalam seminggu." ujar dokter, "Hal ini penting untuk memastikan apakah trombofilia dan berubahnya warna darah bapak ke hitam sudah tidak ada lagi."
"Saya akan mengikuti nasihat pak dokter." jawab Haidar dengan tenang. dokter itu mengangguk dan mempersilahkan anggota keluarga membawa pulang Haidar.
Salman mengendalikan kendaraan yang ditumpangi Inayah, Haidar dan Mahreen kembali ke kediaman Lasantu. tidak ada yang bersuara didalam sana. hanya keheningan saja yang terjadi.
tak lama kendaraan tiba, tepat disaat Aisyah dan putrinya keluar membawa kopor pakaian. Haidar menautkan alis dan langsung keluar.
__ADS_1
"Eh, eh, mau kemana kamu?!" sergah Haidar.
Aisyah menatap Inayah dan Salman yang juga keluar dari kendaraan kemudian disusul Mahreen juga. tatapan gadis bermata hijau itu menghujam paling tajam ke arah Aisyah.
Aisyah menatap Haidar, "Saya rasa, sudah cukup kami menumpang di rumah bapak. saya mau mencari penginapan lain."
"Lho? siapa yang menyuruhmu keluar dari sini?" sergah Haidar lagi dan langsung menunjuk pintu. "Masuklah..." pintanya.
Aisyah masih saja mematung disitu karena tak enak dengan Inayah dan Mahreen. seketika Haidar membentak. suaranya mengguntur.
"MASSUKK!!" serunya membuat Aisyah kaget dan buru-buru menggandeng Aya Sofia yang juga ketakutan, kembali ke dalam kediaman.
Haidar mengatur lagi napasnya yang mulai memburu kemudian menatap Inayah dan Mahreen. pemuda itu mendekati mereka.
"Maaf, Mama... saya agak keras bersuara." ujar Haidar dengan kikuk.
"Tak apa-apa. nah, sekarang beristirahatlah kamu. Mama dan Mahreen mau balik pulang." ujar Inayah kemudian berbalik dan menatap Salman. "Attar... bawa Bibi pulang, nak." pintanya.
"Siap! Bibi!" seru Salman kembali masuk kedalam mobil. Mahreen menatapi Haidar yang memandangnya dengan senyum datar lalu mengangkat tangan dan melambai. mau tak mau, Mahreen ikut melambai dan menyunggingkan senyum meskipun terasa hambar saja.
mobil kembali melaju meninggalkan kediaman Lasantu, menyusuri jalanan. mereka membelok ke timur menyusuri jalan utama. rencanannya Salman akan mengikuti rute yang menuju ke kompleks perkantoran gubernur Gorontalo lalu membelok ke kiri menuju timur dan sedikit saja jaraknya akan tiba di Kediaman Ali.
Mahreen yang tak puas kemudian bertanya, "Mamachka... mengapa Mamachka membiarkan Haidar menyuruh masuk perempuan itu kedalam? apakah Mamachka tidak takut jika sesuatu terjadi lagi atas diri Haidar?"
Inayah tersenyum lalu menoleh menatap Mahreen yang masih menatapnya dengan tatapan protes. wanita parobaya itu menyentuh punggung tangan gadis berkerudung tersebut.
"Mama percaya dengan Chouji." ujar Inayah dengan mantap sambil tersenyum, "Anak Mama yang satu itu, paling kuat menahan hati. dia nggak seperti Haanish yang bisa langsung mengumbar hasratnya."
Mahreen masih belum puas. "Tapi Mamachka, bukankah itu malah akan mengundang fitnah yang besar kepada mereka berdua?"
Inayah menatap langit malam dan mengangguk. "Hal itu bisa saja terjadi. tapi sepanjang pengetahuan Mama... Haidar tak akan berani melanggar etika kesopanan itu. orangnya sangat berkompeten. dia tak akan pernah punya niat menghancurkan dirinya."
"Tapi perempuan itu, cantik, Mama..." protes Mahreen.
"Kenapa ini? kau cemburu pada perempuan itu?" tukas Inayah setengah menggoda membuat Mahreen terdiam dan akhirnya menunduk.
"Tidak Mamachka.... saya tak cemburu." kilah Mahreen, "Hanya saja, hal itu merupakan sesuatu yang janggal... bukankah berkumpul tanpa ikatan antara seorang lelaki dan seorang perempuan akan menempatkan seseorang dalam suatu tempat tanpa ikatan pernikahan...."
Inayah kemudian menekan piranti mobilephone pada sandaran kursi supir. ia menekan nomor telepon Kediaman Ali. pembicaraan itu terselenggara dalam bentuk video call. tak lama kemudian muncul dilayar, seorang wanita berpakaian hitam mengenakan apron putih.
"Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" tanya Imelda dengan sikap formal dan dagu yang terangkat.
"Besok, kau tinggal di Kediaman Lasantu, mengawasi Haidar dan Haanish." ujar Inayah.
"Bukankah disana ada Bik Inah?" tanya Imelda.
"Bik Inah lagi pulang kampung mengurus hajatan keluarganya. itu kata Haidar." jawab Inayah.
Imelda mengangguk, "Siap laksanakan, Nyonya." layar itu kemudian gelap lagi dan Inayah menyelesaikan percakapannya.
wanita itu menatap sang gadis yang tersenyum puas lalu mengangguk-angguk. "Sekarang, kau tak perlu kuatir lagi." sindir Inayah membuat Mahreen melengos malu.
...******...
Aisyah menidurkan Aya Sofia dulu dikamarnya sementara Haidar menunggu di Pantry sambil menikmati secangkir kopi buatan sendiri. pemuda itu sesekali menatap jam dinding lalu kembali menyesap kopinya.
sejam kemudian, Aisyah muncul mengenakan pakaian terusan warna biru toska dan menghampiri meja pantry. Haidar menyesap kopi lagi.
"Kenapa kau mau pergi?" tanya Haidar.
Aisyah masih diam. wanita itu sibuk pula menyeduh kopi lalu menyesapnya. sejenak ia mengangguk-angguk menegaskan nikmatnya kopi itu lalu kemudian duduk berseberangan dengan Haidar.
"Sampai kapan aku kau tahan disini?" tanya Aisyah menatap Haidar.
"Siapa yang menahanmu? memangnya kamu narapidana, nanti ditahan-tahan?" olok Haidar namun wajahnya terlihat serius.
"Kau tahu kan? bagaimanapun akan terlihat ganjal dimata masyarakat ketika lelaki dan wanita tanpa ikatan sah, tinggal dalam satu rumah... namamu nanti yang akan tercoreng." tegur Aisyah.
__ADS_1
"Ooo... maksudmu, kau mau dihalalkan, begitu?" pancing Haidar membuat Aisyah tergagap.
"Bu-bukan b-begitu..." tangkis Aisyah, "M-mestinya t-tak p-perlu s-s-seperti ini..."
Haidar terkekeh pendek. "Kukira kamu mau dihalalin." oloknya. "Aku sih oke-oke saja. tinggal panggil penghulu, ya sudah nikahnya..."
"Aku nggak mau nikah siri!" tolak Aisyah dengan tegas, namun sejenak kemudian ia kaget dan malu sendiri menatap Haidar yang juga menatapnya dengan alis bertaut dan pemuda itu sejenak kemudian tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Issshhh.... segitunya ya? sudah nggak tahan kamu?" olok Haidar lagi.
"Ah, sudahlah..." tepis Aisyah lagi dengan wajah yang memerah malu. keduanya kemudian diam lagi tenggelam dalam hening. akhirnya Haidar buka suara.
"Mama memberimu ijin tinggal disini." ujar Haidar membuat Aisyah kaget. Haidar menyambung lagi. "Dan itu tanpa permintaanku."
"Lho? bukannya..." Aisyah hendak menjelaskan aturan yang dituturkan oleh Mahreen.
"Ya...aku tahu." sela Haidar, "Aku pun nggak ngerti mengapa Mama menyanggupinya. mungkin beliau punya pertimbangan tersendiri." pemuda itu kemudian menyesap lagi kopinya hingga tandas. "Tapi aku lega, beliau mengatakan demikian... setidaknya, beliau masih memiliki hati seorang ibu." seusai berkata begitu, Haidar melangkah meninggalkan Aisyah di pantry. ia menjejak tangga. sejenak kemudian ia berbalik lagi.
"Kuharap kau tak lagi meninggalkan kediaman ini. aku terlanjur menyukai Sofi, seperti anakku sendiri... maksudku, seperti adikku sendiri." ujarnya meralat perkataan sebelumnya kemudian berbalik menaiki tangga lagi.
di pantry, Aisyah yang sementara menyesap kopi, menyunggingkan senyum tak kentara mendengar kalimat pemuda itu barusan.
...******...
pesawat perusahaan MLt. Group sudah mendarat dilapangan pribadi dihalaman belakang kediaman Williams. mereka berdua disambut oleh Akram dan ketiga anggota keluarganya.
"Bagaimana? lancar?" tanya Akram kepada Marina.
"Alhamdulilah Abi... dia menandatangi perjanjian investasi dari ekstraksi bijih besi kita di Sawahlunto." jawab Marina.
"Dan sekalian mereka berdua berencana mengikatkan diri kedalam hubungan percinta..." sela Haanish.
DUAAGHHH...
WADAAWWWW...
teknik ushiro geri keage yang diarah Marina ke Haanish, sukses menghantam ************ pemuda itu tanpa sempat dicegah. sepatu highheelsnya benar-benar menancap dibagian paling pribadi itu. Haanish meraung kesakitan sambil melompat-lompat memegangi bagian paling pentingnya.
sejenak mereka terpana dan akhirnya terpingkal-pingkal melihat peristiwa itu. hanya Marina yang merah wajahnya dan Marissa yang tidak tertawa. Marissa sendiri justru menatap Marina dengan tajam seakan hendak memukulnya.
Haanish tertawa-tawa sambil terus memegangi selangkangannya. Marina menatapinya dengan tajam dan menudingkan jarinya kearah pemuda itu.
"Sekali lagi kamu bicara, kupatahkan bagian itu!" sergah Marina lalu mendengus dan melangkah meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Airina akhirnya ikut menyusul putri sulungnya diikuti oleh Marinka, masuk ke dalam rumah.
Akram hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. "Kamu jangan menggoda dia. kamu nggak tahu kalau Marina itu kalau marah, sangat mirip dengan ibunya." ujar Akram, "Kamu sih, nyari-nyari penyakit."
Haanish masih melompat-lompat untuk menormalkan ki yang sempat bergerak kacau akibat tendangan sepak Marina ke bagian pentingnya yang tiba-tiba itu. Marissa mendekat.
"Uda nggak apa-apa?" tanya Marissa.
"Sudah begini, kau bilang tak apa-apa?" ujar Haanish masih tertawa. Akram mendehem melihat Marissa hendak lagi mendekatkan tubuhnya ke Haanish.
dengan wajah cemberut Marissa menjauhkan dirinya. Akram tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Bagaimana misimu?"
"Menarik... ternyata, Mahreen itu anak angkat dari keluarha Nurmagonegov..." jawab Haanish. "Aslinya dia putri dari Ivanka Korkov dan Saburo... Saburo..." pemuda itu mengingat-ngingat lagi penggalan kalimat yang diucapkan almarhummah Miriam Nurmagonegov.
"Saburo Koga Mochizuki..." tebak Akram.
"Ya! benar!" seru Haanish sambil melonjak kegirangan, namun sejenak kemudian ia terdiam dan menatap Akram. "Kok Om bisa tahu? memang Om kenal dengan lelaki bernama Saburo Koga Mochizuki itu?"
"Sangat kenal malah..." jawab Akram. "Lelaki itu sangat dekat dengan Mamamu."
"Oh ya?" gumam Haanish lalu melipat tangannya ke dada. "Semestinya aku harus segera melaporkan hal ini kepadanya."
"Kenapa tak mempergunakan teleporticon?" pancing Akram dengan senyum jahil. Haanish menatap pamannya itu.
"Benarkah aku bisa langsung tiba disana dengan perangkat itu?" tanya Haanish dengan takjub. Akram mengangguk.
__ADS_1
"Ya, tapi untuk saat ini, kau belum boleh melakukan perjalanan teleportasi. tubuhmu belum fit. yang ada, malah kau akan mengalami syok saat melakukan itu." Akram kemudian maju menggandeng Haanish dan membawanya ke dalam, diikuti oleh Marissa.
"Kau istirahat semalam disini, nanti besok, kau kukirim dengan paket ekspress melalui teleporticon." ujar Akram dengan senyum terkembang.[]