
Marina berdiri beberapa jarak dari tempat mereka duduk berkumpul. wanita itu menatap kearah Haanish.
"Oh, rupanya kau." ujar Marina. "Kapan kau tiba?"
"Baru saja. Marinka yang jemput." jawab Haanish. "Bagaimana kabarmu?"
Marina melangkah mendekat lalu duduk disisi Airina. "Alhamdulilah, aku baik-baik saja. kudengar, dua hari lagi kita akan bersama-sama ke Rusia. benarkah?" tanya Marina.
"Ya. aku mau ke Dagestan, mencari seorang bernama Miriam Nurmagonegov." jawab Haanish.
"Bukannya, kau menjadi pendampingku dalam pertemuan dengan Mikail Usmanov, merealisasikan kerjasama dibidang produksi baja?" tanya Marina menautkan alis menatap Haanish kemudian ibunya.
"Ya, dia akan mendampingi kamu." jawab Airina. "Setelah itu, ia akan ke Dagestan."
"Apakah itu tak memberatkanmu?" tanya Marina menatap Haanish. pemuda itu menjentikkan jari sambil tersenyum.
"Makanya disinilah peran Paman untuk menfasilitasiku." ujar Haanish membuat Akram tertawa.
"Aku sudah paham jalan pikiran ibumu itu. aku punya suit armor baru yang kukembangkan. itu jenis nanotech varian baru. nanti ku berikan padamu." ujar Akram.
"Apakah itu purwarupa lagi?" tanya Haanish.
"Tapi sudah kukembangkan." jawab Akram. "Aku juga sudah memperbaiki sarung pedang khusus untuk Si Penebas Angin, berdasarkan prototip sarung pedang yang sebelumnya digunakan ayahmu waktu menghadapi Sergey Basarab di Catatea La Poenari."
"Baguslah kalau begitu. kurasa kau harus bersiap-siap dalam dua hari kedepan, sampai waktu keberangkatan kita." ujar Marina kemudian bangkit dan menatap kedua orangtuanya. "Umi, Abi, sawf 'aidzir nafsi 'iilaa ghurfati."
Airina mengangguk. Akram tersenyum. "Khudi al'umur bibasatat ya abnati..." jawabnya.
Marina mengangguk pelan lalu melangkah meninggalkan tempat tersebut. Marinka mengekori kepergian kakak sulungnya itu lalu menatap Haanish. "Ada apa dengannya? apakah Uda tahu?"
Haanish hanya bisa tersenyum dan mengangkat bahu. ia kemudian menatap Airina. "Bibi... kalau begitu, aku istirahat dulu."
"Tunjukkan kamarnya, Marinka." pinta Airina.
Marinka dengan sigap berdiri dan menatap Haanish. "Mari saya tunjukkan." ajaknya.
Haanish bangkit sambil menenteng Si Penebas Angin yang kembali disembunyikan dalam gulungan kain itu. ia mengekori langkah Marinka yang terayun santai menuju sayap kiri kediaman Williams.
sementara itu, Marina yang sudah masuk dikamarnya kemudian melangkah menuju jendela dan menyibak sedikit gorden, membiarkan cahaya mentari siang menjelajahi ruang kamarnya. wanita itu menengadah menatap langit dari balik jendela kaca.
"Apo kaba waang nan disinan.... walopun hanyo lemaik ruang jo maya, kito saliang manyapo... namun salalu ado arok ... nan sagalanyo denai titip'an dalam do'a...." desahnya pelan lalu menutup mata menikmati cahaya mentari bersatu dengan hembusan angin siang yang sepoi.
...******...
Haidar melakukan meditasi sendirian di dojo pribadi dilantai satu kediaman Lasantu. lelaki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana training merah darah, duduk bersila dalam posisi tegak. kedua matanya memejam tenang. napasnya hirup-hembus teratur, kentara dari dadanya yang mengembang dan mengempis dengan teratur pula. kedua tangannya terpangku di lutut menyangga Golok Ailesh dalam pangkuan tangannya.
lama dalam posisi seperti itu, membiarkan hawa murni dalam tubuh mengalir dari ujung-ujung prana yang bersarang dititik pingala, ida dan sama-sama kemudian merasuk kedalam titik shumsuna. perpaduan titik pingala (yang) dan ida (yin) dalam shusumna, memunculkan keseimbangan sirkulasi energi alam yang menyatu dalam tubuh.
sebagaimana prana adalah energi kosmik yang universal sehingga tidak akan ada yang namanya kesadaran jika tak ditunjang oleh prana. intinya, seseorang disebut hidup ketika memiliki prana. ketika prana meninggalkan tubuh, maka kematianlah yang akan terjadi. dalam fisika dasar, manusia memiliki dua sistem saraf yang disebut saraf simpatis dan saraf parasimpatis. keduanya saling berkaitan menunjang kehidupan manusia. saraf simpatis berkorelasi dengan titik shumsuna, sedangkan parasimpatis berkorelasi dengan napas, darah dan peredaran air dalam tubuh manusia.
sekian lama kemudian, kedua mata pemuda itu membuka dan menelusuri lantai dojo yang dipasangi matras berbahan dasar karet sintetis. pemuda itu mengangkat golok Ailesh dan bangkit lalu berdiri tegap menyandang senjata tersebut ditangan.
__ADS_1
ditengah hawa dingin malam, Haidar melatih kembali jurus-jurus silat yang pernah diajarkan oleh kedua kakeknya. mengandalkan golok Ailesh ditangannya, Haidar mempraktekkan teknik-teknik menyerang yang mengincar tujuh titik vital ditubuh manusia.
Salman yang saat itu merasa lapar ditengah malam terbangun dan mendengar sayup-sayup suara teriakan seseorang. pemuda berkepala botak hanya mengenakan celana ketat selutut dan kaos, keluar dari kamar dan menuruni tangga hingga ke lantai satu. suara itu makin jelas dan akhirnya Salman mengetahui suara-suara tersebut berasal dari dojo pribadi tersebut.
Salman memberanikan diri mendekat dan mengintip dari pintu dojo yang terbuka sedikit. ia menyaksikan tarian-tarian jurus yang memukau dari silat dan langga yang dipraktekkan Haidar dengan menggunakan golok Ailesh. rasa laparnya lenyap berganti sensasi unik untuk menjajal kemampuan lelaki yang sementara latihan ditengah makan malam itu.
Haidar sendiri, mungkin terlalu fokus dalam latihannya, tak sempat menajamkan dria pendengarannya. ia terus saja melakukan gerakan demi gerakan dalam teknik serangan menggunakan golok itu. hingga akhirnya Haidar berhasil menyelesaikan gerakan terakhir dari jurus silat hasil ajaran Kenzie, pemuda itu kembali ke sikap semula, menyembunyikan golok dari bawah kebelakang dan meletakkan telapak tangan kiri didada kanan kemudian menekurkan wajah membaca doa-doa penenang.
POK POK POK POK POK POK...
Haidar kaget sejenak dan menoleh melihat Salman yang bertepuk tangan berkali-kali dengan wajah kagum, berdiri didepan pintu shoji yang menguak. cahaya dari ruangan sebelah menyoroti ruangan dojo yang pencahayaannya buram.
"Kamu..." gumam Haidar.
"Mantap! mantap!" puji Salman lalu menghentikan standing applause nya kemudian mendatangi Haidar. "Aku benar-benar beruntung malam ini. bayangkan aku yang tiba-tiba terbangun karena kelaparan justru kemudian menyaksikan pertunjukan silat yang hebat. aku benar-benar surprise dan exciting menonton tarian silatmu itu. belajar dimana sih?"
Haidar menenangkan deru napasnya yang masih memburu sedang Salman dengan santainya langsung duduk dimatras dan bersila menghadap kearah Haidar seakan bagai murid yang meminta ilmu pengetahuan kepada seorang guru. mata Salman menyoroti golok dalam genggaman Haidar.
"Itu Golok Ailesh buatan Paman Akram, kan?" tebak Salman.
Haidar menatap golok dalam genggamannya lalu mengangguk-angguk pelan. pemuda itu menghembuskan napas membuang aura kelelahannya kemudian duduk menselonjorkan kedua kakinya dimatras. posisi duduknya menyamping membuat Salman berada dibagian kirinya. golok Ailesh diletakkan ditengah-tengah antara dirinya dan Salman.
"Papa mewariskan golok ini padaku." ujar Haidar yang sementara melakukan perenggangan kaki dalam rangka pendinginan.
Salman mengangguk-angguk lalu bertanya lagi, "Belajar silat dimana sih? kok agak lain dengan aliran-aliran silat yang saya ketahui?"
Haidar menoleh menatap Salman, kemudian menekur lagi sambil melakukan peregangan kaki. "Aku meramunya bersama seni langga."
"Langga???" gumam Salman.
"Tapi kok kau punya seni yang langka itu?" selidik Salman.
"Seni Langga aliran Suwawa, dipegang oleh keluarga Mantulangi, keluarga dari Totu perempuanku. Opa Kenzie dan Bapu Trias mempelajari silat dan langga dari salah satu mendiang tetua dalam keluarga Mantulangi, yaitu Bapu Ridhwan. dari Opa Kenzie dan Bapu Trias, aku mewarisi seni ini." tutur Haidar. (untuk mengenal siapa Bapu Ridhwan, silahkan membaca novel pertama: Lazuardi Cinta.)
Salman manggut-manggut mendengar penuturan Haidar yang berkaitan sedikit dengan sejarah keluarganya. lelaki botak itu tersenyum pula.
"Aku juga sedikit-banyak menguasai teknik-teknik silek kumango gaya keluarga Alkatiri dari Amai Syafira Alkatiri. beliau memaksa Aden belajar silek karena Aden lah satu-satunya lelaki di keluarga William-alkatiri. maklumlah itu merupakan salah satu pusaka keluarga yang wajib diwariskan kepada dunsanak keluarga Williams-alkatiri." sahut Salman juga.
"Kau sudah melihat aliran silat milik keluargaku." ujar Haidar. "Sekarang, aku minta kau memperlihatkan satu-dua jurus dari Silek kumango milik keluargamu." pintanya.
Salman tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menepis-nepiskan jemarinya didepan wajah. "Melihat kecepatan, keakuratan dan keindahan gaya tarian silatmu, Aden malah jadi minder memperlihatkan silek kumango milik keluargaku. apalagi aku tak terlalu menguasainya dengan baik." tolak lelaki itu dengan halus.
"Jangan terlalu merendah dihadapanku." ujar Haidar tersenyum datar. "Berlakulah adil kepada saudaramu ini. perlihatkan walau sedikit saja." pinta Haidar.
Salman menimbang-nimbang permintaan pemuda itu. akhirnya ia menyerah dan mengangguk lalu bangkit dan melangkah ke tengah ruangan. ia menatap Haidar yang sudah duduk bersila.
"Aden harap waang jangan marah melihat gerakan silat Aden yang lebih mirip gorila mengamuk ini." ujar Salman merendah.
"Uwito ja'tawa 'u. pokoknya pobilehi mayi boyito silatimu." pinta Haidar sedikit memaksa.
Salman mengangguk-angguk. ia kemudian berdiri siap dalam sikap alif. kemudian lelaki botak itu mulai memperagakan dua-tiga jurus dalam silek kumango yang dikuasainya. Haidar memperhatikan dan menganalisis setiap gerakan yang dimainkan Salman hingga lelaki itu menyelesaikan gerakan terakhir dari jurus yang ia mainkan dan kembali ke sikap sebelumnya, yaitu sikap alif. Salman menatap Haidar ditengah napasnya yang memburu.
"Bagaimana?" tanya lelaki itu dengan gelisah.
__ADS_1
"Sangat bertenaga dan kokoh." komentar Haidar, "Konsep langkah ampek yang kau mainkan itu terlihat bagai pasak yang menghujam kedasar lantai. terlihat lemah padahal menipu."
"Waang terlalu memandang tinggi..." sindir Salman yang kembali duduk dihadapan Haidar.
Haidar menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak. kau salah jika berpikir aku seperti menjilatimu. aku menganalisis semuanya. konsep langkah tuo dan pijak baro yang nampak dalam tiga jurus yang kau mainkan memperlihatkan kombinasi antara teknik serangan dan pertahanan yang manunggal."
Salman tanpa sadar menegakkan dadanya saat mendengar komentar pemuda dihadapannya. Haidar menatapnya.
"Kurasa, dalam waktu-waktu ke depan... kita berdua harus bertanding." ujar Haidar.
"Maaf, bro. aden tak suka bertanding." tampik Salman.
"Bertanding itu perlu, bukan dalam wujud memperlihatkan arogansi kita sebagai praktisi beladiri, Uda Salman. tapi untuk saling mempelajari dan mengisi setiap kelemahan dalam teknik-teknik, baik serangan maupun pertahanan yang kita selenggarakan dalam sebuah pertarungan sebenarnya." jawab Haidar.
Salman mengangguk-angguk mendengar jawaban pemuda itu. Haidar melanjutkan, "Ada pepatah yang mengatakan semakin banyak orang berkeringat dalam latihan tanding, maka akan semakin sedikit kemungkinan baginya terluka dalam sebuah pertarungan hidup-mati. seperti itulah konsep uji tanding, Uda."
Salman kembali mengangguk-angguk dan tersenyum lebar. "Baik. jadi kapan kita akan melakukan uji tanding?" tanya Salman dengan semangat.
"Yang jelas bukan malam ini." jawab Haidar. "Waktu telah merambat menuju dini hari. kurasa kita berdua harus beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga yang terbuang tadi."
Salman tertawa dan kembali mengangguk-angguk senang.
...******...
jam telah menunjukkan pukul empat pagi ketika Haanish baru saja menyelesaikan ritual sholat qiyamullailnya. lelaki itu memang jarang mengamalkan amalan sunnah itu. namun disaat-saat tertentu, Haanish pasti akan melakukannya, meski tak terjadwal sebagaimana Haidar yang setiap malamnya selalu menghiasi diri dengan ritual tersebut, terkecuali dia dalam keadaan sangat lelah dan mengantuk.
pemuda itu duduk bersila dan mengeluarkan seuntai tasbih juzu namun sudah dimodifikasi jumlah butirannya dari 108 butir menjadi 33 butir sesuai dengan lafalan dzikir. Haanish mewarisi tasbih itu dari Sandiaga, ayahnya yang mendapatkan benda itu sebagai hadiah dari bentuk rasa kagum seorang biarawan buddha aliran Nichiren kepadanya.
lantunan dzikir terus mengalun dari bibir Haanish yang komat-kamit. terkadang tubuh pemuda itu menggigil, bukan karena menahan hawa dingin dari subuh melainkan merinding yang disebabkan oleh sesuatu yang tak dipahaminya.
akhirnya, kata-kata dzikir itu selesai juga dilantunkannya. perlahan mata Haanish membuka, dan...
ASTAGFIRULLAH!!!
Haanish terlonjak nyaris terjengkang ketika mendapati seorang gadis mengenakan mukena putih bersih duduk bersimpuh menyangga dagunya dengan telapak tangannya. adapun tangan yang lainnya memeluk tubuhnya sendiri. wajah gadis itu bersih, dan begitu cantik dengan kedua mata lentik yang terus menatapi Haanish.
setelah hilang rasa kagetnya, Haanish memperbaiki duduknya dan mendekatkan wajahnya kepada perempuan muda itu.
"Kalau kau jin muslim, maka pergilah sebab diantara kaum kita sudah terikat perjanjian dengan para nabi dan rasul untuk tidak saling mengganggu. jika kau jin ifrit, maka pergilah juga sebab aku tak tertarik dengan kecantikanmu!" seru Haanish dengan lirih, takut suaranya terdengar hingga keluar kamar.
gadis bermukena itu justru tertawa kecil lalu merubah sikapnya duduk dengan tegak.
"Apakah menurut Uda, denai ini mirip jin?" tanya gadis bermukena itu.
"Mana kutahu?" ujar Haanish melengoskan wajahnya sejenak lalu menatap lagi gadis bermukena tersebut. "Setahuku, makhluk humanoid yang muncul tiba-tiba dihadapan manusia itu berarti kaum jin."
gadis bermukena itu mengangkat alis berkali-kali sambil tersenyum. "Ya, sudahlah kalau begitu. anggap saja aku jin muslim jika itu membuatmu senang."
"Sebenarnya kau ini apa? jin atau manusia sih?" tanya Haanish kemudian mengulurkan tangan meraba pipi gadis bermukena itu. "Lho? nyata! bisa kepegang! berarti kau manusia dong!"
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku ini jin?" tukas wanita itu dengan wajah cemberut, namun semakin membuat wajahnya makin cantik. "Uda saja yang nganggap aku ini jin."
__ADS_1
Haanish mengangkat tangan dan menenangkan dirinya. "Baiklah, aku salah." akunya. "Sekarang, bolehkah kutahu siapa namamu?"
dengan senyum merona, gadis bermukena itu memperkenalkan dirinya, "Namaku, Marissa Williams..."[]