
Puncan kaget mendapati todongan Si Penebas Angin yang diarahkan Haanish kepadanya. Marinka langsung berdiri.
"Sutan Pamenan nan batuah Haanish Hermawan!" seru Marinka menyebut gelar marapulai lelaki tersebut. "Waang tak berhak mengatur hidup denai. pahami posisi waang sebagai urang semenda dikeluarga kami!" tukasnya.
Haanish terhenyak tak kentara di sindir putri kedua keluarga Williams. Haanish membelalakkan matanya kepada Marinka. pendar cahaya kebiruan dikedua matanya pudar perlahan.
"Apa kau sudah lupa tradisi yang dibangun Nenek Syafira dan Bapu Kevin Williams? apa kau lupa, saat Abi melamar Umi, beliau harus bertarung dulu dengan Papa, Mama, Ibuku dan Opa Kenzie?" ungkit Haanish kemudian menatap Puncan. "Lelaki ini, harus mengikuti tradisi jika ingin masuk dalam lingkar keluarga Williams."
Puncan menatap Marinka. "Apa benar begitu?"
Marinka menatap Puncan sejenak lalu menarik napas dan mendesah, "Yang diucapkannya benar."
untuk melihat latar belakang kisah lamaran Akram Williams kepada Airina Yuki Lasantu, silahkan baca Flamboyant.
Haanish menarik lagi pedangnya dan menonaktifkan armornya hingga Si Penebas Angin pun menghilang dalam genggaman. lelaki itu kemudian menatap Puncan.
"Aku tunggu kamu esok untuk membuktikan jika kamu sungguh-sungguh ingin bergabung dalam lingkar keluarga Williams. jika kau tidak hadir besok, aku anggap kau mengundurkan diri dan jangan pernah dekati Marinka lagi." ujar Haanish kemudian berbalik meninggalkan tiga orang itu itu menuju pintu utama.
"Dasar urang andia. nggak ingat Uda, kalau besok disuruh Umi ke Pulau Lombok?" seru Marinka masih dengan kesal. langkah Haanish tertahan sejenak lalu menatap Marinka.
"Oh ya? kapan Umi bilang?" tanya Haanish.
Marinka baru sadar bahwa keterangan itu ia dapatkan dari ibunya baru saja. sedangkan Haanish baru saja muncul disitu entah dari mana.
"Memang Uda tadi kemana?" tanya Marinka.
"Dari rumahnya Nenek, sowan." jawab Haanish tenang. "Memang kenapa?"
"Oh, denai pikir Uda sudah diberitahu." jawab Marinka dengan pelan dan malu.
Haanish tertawa pelan. "Tuh, kamu yang kasih tahu. makasih ya?" ujarnya kemudian menatap Puncan Karnaaq. "Pertandingan kita ditunda. nanti aku akan datang menyambangi kamu. sebenarnya secara adat, kamu harus bertanding denganku dan kakakku, atau dengan Attar disini. tapi karena aku mengagumi kamu yang langsung dibela Marinka, tentukan saja dimana lokasi pertarungannya kamu inginkan."
Puncan belum bisa menjawab hal itu. dia hanya diam. Marinka langsung menyela. "Dia akan bertanding di halaman depan rumah Nenek." jawab Marinka, "Jika.... dia bersedia."
"Aku bersedia." seru Puncan dengan tegas.
"Bagus... itulah seorang lelaki." puji Haanish kemudian melangkah masuk kedalam kediaman.
Marinka menghela napas panjang lalu menatap Puncan dan Sintia. "Maafkan aku." ujar Marinka dengan pelan.
"Jadi itu suaminya Issha?" bisik Sintia lagi dengan wajah kagum. "Ganteng benar. kayaknya bukan produk lokal tuh."
Marinka tersenyum getir. "Sebenarnya, Sutan Pamenan nan Batuah itu masih keluarga sangat dekat dengan kami. dia sebenarnya keponakannya Umi. Ayahnya adalah almarhum Mamak Tuo dan mintuo angah yang berkebangsaan jepang."
"Oh ya? pantasan gantengnya kebangetan ya? pasti bapaknya itu ganteng juga."
"Sudahlah. nggak usah pikirkan itu lagi." ujar Marinka kemudian menatap Puncan. "Kalau kau nggak bersedia juga nggak apa-apa."
"Tenang saja! orang itu sudah berani menantang aku. nanti sampaikan saja salam padanya, aku akan memperlihatkan kepadanya keberanian orang-orang Tenggarong kepada kaum penjajah itu." seru Puncan.
Marinka kembali tersenyum getir. "Ibuku berdarah setengah jepang, Puncan."
Puncan langsung terdiam mendengar keterangan Marinka. gadis itu melanjutkan. "Nenekku dari pihak Umi, adalah wanita jepang yang telah menaturalisasi dirinya."
"Oh, maafkan aku, telah menyinggungmu." ujar Puncan dengan gugup.
Marinka tersenyum. "Biarlah... tak mengapa."
Sintia langsung berdiri. "Wah kelihatannya aku masih ada urusan penting ini. saya permisi dulu ya?" ujar Sintia hendak pamit.
"Saya juga hendak permisi." ujar Puncan pula. ia merogoh kantung kemejanya dan mengeluarkan selembar kartu nama kemudian menyodorkannya kepada Marinka.
"Itu alamatku, tempat tinggal dan tempat kerja." ujar Puncan menunjuk kartu nama dalam genggaman Marinka. "Semuanya tertera disana."
Sintia dan Puncan akhirnya pamit dan meninggalkan kediaman tersebut. Marinka mengawasi dari beranda langkah kedua orang yang menjauh itu lalu kemudian membereskan cangkir dan sepiring cemilan ke dalam nampan dan bangkit sambil membawa nampan itu ke dalam kediaman.
__ADS_1
...********...
Mataram, Nusa Tenggara Barat, Pukul 14.00 WITA
acara pembeatan Mahreen sedang berlangsung. acara ini digelar di kantor paguyuban warga Gorontalo yang tinggal di Nusa Tenggara Barat (KKIG). prosesi ini berlangsung selama sehari penuh sejak waktu subuh berlalu.
Inayah mengundang Datu Djatiswara bersama Djalenga dan kedua Inaq-Amak nya untuk menghadiri dan menyaksikan prosesi adat itu. dalam kegiatan molungudu (mandi uap dengan memakai ramuan tradisional khas Gorontalo), hanya Maryati yang diberikan ijin menyaksikan secara langsung sedang kaum lelaki bersama-sama kaum lelaki lainnya menggelar pengajian dan mongaruwa.
setelah kegiatan molungudu, Mahreen menjalani prosesi momonto (pemberian tanda suci pada tubuh dengan menggunakan campuran kunyit, kapur dan air). pemberian tanda suci itu di totokkan pada dahi, bahu, lengan dan kaki gadis itu. tanda suci itu dalam bahasa Gorontalo disebut Bonto.
Mahreen setelah itu oleh kaum tua perempuan menggantikan pakaian gadis itu dengan sarung batik tunggohu yang diikatkan sebatas pangkal dada, kemudian didudukkan pada dudangata (tempat memarut kelapa) menghadap ke arah timur. kaum ibu menggenggam bulewe (bunga pinang) yang sudah mekar dan prosesi momuhuto (mandi kembang) pun dimulai.
Inayah mendapat penghormatan pertama menyiramkan tubuh Mahreen dengan air yang diisi dalam balung bambu kuning yang direndam bersama kembang-kembang. setelah itu dilanjutkan dimandikan oleh ibu-ibu lain.
setelah prosesi itu selesai, dipandu oleh Inayah dan seorang hulango (dukun wanita), Mahreen dibimbing menjalani prosesi mopohuta'a to pingge. Mahreen menginjak pelan tujuh buah piring berisi hasil-hasil bumi dengan kaki kanan dilanjutkan dengan kaki kiri dan piring itu tidak boleh pecah saat dilangkahi, yang terus diiringi dengan tuja'i (pantun) berbahasa daerah oleh seorang pemangku adat hingga prosesi itu selesai.
mandi uap itu sendiri memiliki hikmah agar seorang gadis senantiasa memelihara kesehatan tubuh dan penampilannya. adapun mandi kembang memiliki hikmah agar seorang gadis harus selalu bersih jasmani dan ruhaninya. itulah sebabnya mengapa prosesi mandi kembang mirip dengan prosesi mandi janabat. adapun makna dari menginjak tujuh piring itu adalah agar sang gadis mesti menata kehidupannya dengan hati-hati.
kedatangan Haidar dan keluarganya, begitu juga dengan Haanish dan istrinya tiba tepat kegiatan mokhatamu (membaca surah-surah Al-Qur'an dari Surah Ad-Dhuha hingga Surah An-Naas lalu ditutup dengan bacaan Surah Al-Fatihah) yang dilakukan Mahreen bersama-sama dengan kaum ibu.
acara khataman itu selesai dan Mahreen dipakaikan pakaian adat Bili'u. rambut gadis itu disanggul dan dipasangkan sunting-sunting dari perak kemudian didudukkan di puade kecil khusus seorang diri saja.
Djalenga menatap dengan kagum menyadari betapa cantik dan anggunnya Mahreen dalam balutan baju adat itu. tak lupa ia mengabadikannya dengan memotretnya memakai gawainya. pemuda Sasak itu hanya tersenyum-senyum sedangkan Samirep dan Maryati tak henti-henti mengomentari kecantikan Mahreen dalam balutan pakaian adat itu.
"Memang dasarnya sudah cantik, jadi biar dipakaikan apapun, ya cocok." ujar Maryati mengakhiri komentarnya. Inayah sendiri hanya tersenyum.
kemunculan Haidar sempat membuat Mahreen nyaris keluar dari puade hendak memeluk lelaki itu jika tidak ditatapi tajam oleh Inayah.
Aisyah maju mencium tangan mertuanya, begitu juga dengan Marissa. Djalenga dan Samirep bahkan tak menyangka bahwa kedua putra wanita itu begitu tampan.
seorang pemuka adat kemudian maju memberitahukan kepada khalayak ramai alasan dari dilaksanakan prosesi pembeatan ini. alasannya dijelaskan secara umum saja menyamarkan dalih bahwa Mahreen memang benar-benar putri dari mendiang Sandiaga.
setelah itu Inayah maju menjelaskan bahwa ia telah mengurus semuanya dan menjelaskan bahwa ia telah berketetapan mengganti nama Mahreen Nurmagonegov dengan nama yang ia persiapkan, ditambah sematan marga dari mendiang suaminya.
"Dinara Haifa Lasantu." guman Djalenga mengulang-ulang nama tersebut dan membenamkannya dalam sanubarinya.
Dinara tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. sedangkan Haidar dan Haanish pun langsung menangis tanpa suara bersandar pada pelukan istri-istri mereka.
"Alhamdulilah..." ujar Aisyah menyapu lengan suaminya.
"Baru sekali ini denai lihat Uda meneteskan airmata. tapi denai senang." bisik Marissa sembari menyapu lengan Haanish.
Inayah sendiri tersenyum bahagia dengan mata yang basah. Ayank... lihat putrimu... dia sudah kembali ke pelukan kita...
para tamu kemudian maju memberikan selamat kepada Dinara, termasuk Djalenga dan inaq-Amak nya, setelah itu Datu Djatiswara.
"Selamat ya, nak. berbahagialah... sekarang kamu adalah bagian penuh dari keluarga Lasantu." ujar Djatiswara dengan senyum tulus dan menepuk-nepuk punggung tangan Dinara.
"Terima kasih Datu." jawab Dinara.
"Halo Mahreen... eh, maksudnya Dinara..." sapa Callista yang langsung menghambur memeluk sahabatnya itu dan menciumi pipinya. "Selamat datang di keluarga besar Buana Asparaga."
Salman yang berdiri dibelakang Callista hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Eh, Attar..." seru Haanish yang telah menyusuti airmatanya lalu tertawa. "Kapan kau nikahi Callista?" todong lelaki itu.
Inayah menatap Haanish dengan tajam membuat lelaki itu kembali cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. Salman menjawab kalem.
"Nunggu kakaknya dulu nikah." jawab Salman. "Kalau aden melangkahinya, bisa-bisa Cholil dapat jodohnya nanti diatas usia empat puluhan."
semuanya tertawa. Cholil langsung maju. "Enak saja kau bicara Salman. aku akan buktikan kepadamu kalau aku juga bisa dapat perempuan."
"Taruhan saja!" tukas Haanish. "Pasti seru!"
"Baik! taruhan saja." seru Haidar kali ini mengaminkan usul Haanish. "Siapa diantara kalian dalam waktu sebulan naik pelaminan, yang kalah harus membiayai semua keperluan pesta! bagaimana?!"
__ADS_1
"Deal!!!!" seru Salman dan Cholil berbarengan.
...*******...
Kantor KKIG (Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo) di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Pukul 18.45 WITA.
prosesi pembeatan telah selesai sejak siang pukul 15.00 tadi. para syarada'a, wakil pengadilan agama, dan para tetua adat yang diundang Inayah telah diterangkan kembali atas biaya pribadinya ke Gorontalo.
secara hukum, gadis itu telah resmi menjadi anggota keluarga Lasantu. Dinara Haifa Lasantu, itulah nama gadis itu sekarang.
diruangan lapang itu, duduk semua anggota keluarga. dihadapan Inayah duduk Dinara yang diapit oleh Aisyah dan Marissa. wanita parobaya itu didampingi Aya Sofia disisinya bersama Haidar dan Haanish.
keluarga Djalenga beserta Datu Djatiswara diberikan fasilitas mendiami salah satu hotel sebelum akhirnya meninggalkan Mataram kembali ke Sade.
Inayah menatap Dinara dengan tatapan teduh. wanita itu akan menceritakan segalanya tentang asal usul gadis itu.
"Sekarang dengarkan Mama, Dinara." ujar Inayah memulai penuturannya. "Sesuai janji Mama. kau akan menerima segala keterangan yang berhubungan dengan dirimu. persiapkan dirimu baik fisik dan mental karena berita ini mungkin akan membuat kamu syok dan menggoncangkan jiwamu." Inayah sejenak menarik napas lalu melanjutkan. "Tapi, hal ini harus disampaikan untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan dikemudian hari."
Dinara duduk dengan jantung yang berdegup kencang. ini adalah peristiwa paling penting bagi dirinya untuk lebih mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya.
"Mama akan kisahkan dulu tentang perjalanan Sandiaga Hermawan Lasantu ke Rusia untuk memenuhi undangan dari Andrey Lukin dalam rangka Kegiatan Tarung Sejagat yang diadakan oleh Klan Naga Hitam yang dipimpin oleh Aleksei Dragunov." ujar Inayah, dan mengalirlah kisah itu dimulai dari pertemuan kembali Sandiaga dengan Ivanka yang kedua kalinya hingga Inayah yang mengetahui pernikahan mereka yang dijabarkan secara jujur oleh lelaki itu kepada istrinya.*)
*) untuk lebih jelas mengenal kisah percintaan Sandiaga Hermawan Lasantu (Saburo Koga Mochizuki) dengan Ivanka Korkov, silahkan baca novel FLAMBOYANT.
Dinara tak menyangka bahwa ternyata ia merupakan darah daging dari Ivanka Korkov dan Sandiaga Lasantu. Inayah juga menceritakan alasan dirinya disembunyikan oleh Ivanka kepada Jabir Nurmagonegov hingga akhirnya Sandiaga membunuh Sergey Basarab di Benteng Poenari untuk membalaskan kematian Ivanka Korkov yang dibunuh oleh kelompok Dracna di Komsomolsk.
Dinara menangis tersedu-sedu setelah Inayah mengakhiri kisah itu. ia menatap Haidar dengan tatapan mencela. lelaki itu sendiri hanya menunduk juga dengan mata yang basah.
"Mengapa Mama tahu?" pancing Inayah.
Dinara diam. Inayah melanjutkan.
"Mama pernah diberitahu mendiang Papamu. bahwa namamu sebelumnya adalah Julia Fedora Bushra sebelum Ivanka menyembunyikan kamu kepada keluarga Nurmagonegov untuk menghindari pemburuan klan Dracna. Jabir Nurmagonegov kemudian mengganti namamu menjadi Mahreen Nurmagonegov agar dirimu tak terdeteksi. kedatanganmu kesini, membuat Mama memerintahkan Haanish untuk mengusut semuanya ke Rusia." ujar Inayah. "Silahkan Mama persilahkan Haanish untuk membeberkan hasil penyelidikannya."
Haanish menarik isakannya sejenak sementara Marissa yang matanya juga sudah basah memberikan penguatan moril kepada suaminya untuk menyampaikan kebenaran tersebut.
"Dengarkan adikku." ujar Haanish. "Sebelumnya, aku minta maaf, tak bisa menyelamatkan Miriam yang wafat akibat disiksa Nikolai di Benteng Naryn Kala. jika kau ingin menjiarahinya, Miriam dimakamkan di kompleks pekuburan masjid Juma di Derbent. sedangkan kedua orang tua asuhmu dimakamkan di pemakaman umum kota Machkala."
"Spasibo tebe ***'shoye.... brat..." sedu Dinara mengangguk-angguk.
Haanish mengangguk-angguk pula dan menarik isakannya. sementara Haidar makin merasa pilu hatinya akibat dosa yang diperbuatnya kepada saudara sedarahnya itu.
"Aku melakukan penyelidikan atas perintah Mama untuk menelusuri jati dirimu. aku ke Rusia, menyamar sebagai pengawalnya Marina Williams yang melakukan lawatan bisnis ke Moskwa untuk menemui Mikail Usmanov. aku kemudian berangkat ke Dagestan dan singgah di Machkala untuk menemui kedua orang tua asuhmu. sayangnya, mereka telah dibunuh oleh Klan Dracna, kemudian menyembunyikan Miriam ke Derbent." tutur Haanish. "Aku kemudian mengejar mereka dan menemukan Miriam di sekap di Naryn-Kala. sebelum wafat, Miriam menceritakan kebenaran tentang statusmu yang sebenarnya."
"Apakah itu sebabnya kamu yang tadinya mendukung cintaku kepada Kak Haidar, berbalik menjadi penentang keras, dan memaksaku mengunjungi pohon flamboyan itu?" tebak Dinara masih ditengah sisa tangis dan isakannya.
Haanish mengangguk sendu. "Maafkan aku karena tak membuka segalanya. selain disebabkan sumpahku kepada Mama, aku juga menimbang-nimbang bahwa berita itu pasti akan menggoncangkan jiwa kalian berdua."
"Tapi aku terlajur..." ujar Dinara.
"Adikku..." sela Haanish. "Jangan pernah mengungkit lagi masa yang telah lalu. jadikan saja itu ibrah dan hikmah agar kedepan, kau tak salah melangkah. paham?!" tandas lelaki itu.
Haidar kini mengagumi mengapa Haanish begitu teguh menjaga sumpahnya. sementara Haanish kemudian langsung mengembangkan tangannya.
"Sekarang, maukah kau memeluk kakakmu ini, Dinara Haifa?" pinta Haanish dengan suara serak.
"Moy lyubimyy brat..." sedu Dinara langsung menghambur dan memeluk Haanish dan tersedu-sedu disana. Haanish tertawa-tawa sedang matanya basah membanjirkan airmata.
Haidar pun langsung maju menubruk mereka dan ketiganya saling berpelukan. Haidar tersedu keras sambil menyerukan permintaan maaf kepada adik bungsunya itu. mereka saling bertangisan sedang Haanish yang kambuh penyakit patologisnya makin tertawa keras dengan mata yang basah.
Inayah menangis bahagia didampingi Aisyah dan Marissa yang juga sudah sejak tadi mewek. kedua mantu itu memeluk mertuanya. sedang Aya Sofia juga menangis tapi bingung apakah sedih atau bahagia. ia tak memahami suasana saat itu selain mengalirkan air matanya saja.
Ayank... ketiga anakmu sudah berkumpul kembali.... apakah tugasku sudah selesai?... bisakah kau mengijinkan aku bersanding disisimu?
Inayah masih tetap menangis meski hatinya bahagia bukan kepalang. []
__ADS_1