The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 24


__ADS_3

Kediaman Lasantu, pukul 16.22



Haidar sedang meneliti berkas-berkas personalia ketika Salman muncul dan duduk diseberang agak berdekatan dengan Haidar yang sedang sibuk dengan kegiatannya itu. lelaki dari Padang itu asyik mengunyah cemilan keripik ubi yang dibalur gula aren. itu penganan khas gorontalo dan ia menyukainya.



Salman sedikit melongokkan kepalanya kearah berkas-berkas itu. Haidar menatapnya.


"Kau shift ya?" tanya Haidar kembali meneliti curriculum vitae para pegawai itu.


Salman mengangguk. "Aman. Aden dapat bonus cuti tiga hari karena menangkap seorang residivis curanmor yang kami sergap di wilayah Tapa." lelaki itu merebahkan punggungnya di bantalan kursi. "Hari ini, bisa santai sambil ngemil keripik kesukaanku." ujarnya kembali merogohkan tangannya ke dalam kantong plastik dan mengeluarkan sekeping keripik tersebut dan melahapnya. "Uhmmm.... rancak banaaaa...."


Haidar tersenyum lalu melirik cemilan dalam genggaman Salman. "Ooo... Kasubi Pahangga..." ujarnya menyebut nama cemilan itu.



"Apa namanya tadi?" tanya Salman.


"Kasubi Pahangga..." jawab Haidar lagi. Salman mengeja-eja nama itu dalam gumamannya. Haidar tersenyum.


"Ada juga keripik dari Bete..." tambah Haidar. "Nanti saya pesankan untukmu."


"Bete? apa lagi itu?" tanya Salman dengan penuh minat.


"Keripik dari buah tanaman keladi." jawab Haidar, "Maksudnya keripik talas."


"Ooo... kalau di Padang, talas juga dijadikan kue Sapik, ada juga bubua lado." sahut Salman dengan santai sambil mengemil.


"Bubua lado?" tanya Haidar tanpa menoleh.


"Ya... makanan bubur nasi yang dicampur dengan batang talas muda dan dimasak sampai jadi bubur, ditambah rempah-rempah. rasanya sangat mantap." Salman sejenak menjilati lidahnya sendiri.


Haidar meringis. "Kurasa lidahku tak akan terbiasa dengan masakan itu." ia meletakkan berkas itu di meja dan menegakkan tubuhnya lalu merenggangkan tubuh sambil duduk.


"Mintuo Etek suka makanan itu. ia mempelajarinya dari Amak." ujar Salman. Mintuo Etek adalah panggilan untuk Airina didalam keluarga Williams. Haidar tertawa membayangkan hal itu.


"Kurasa, malam ini Eiji harus membiasakan lidahnya merasai makanan itu." ujarnya.


"Memangnya Haanish ke Padang?" tebak Salman meletakkan kantong cemilannya yang telah kosong di meja. Haidar mengangguk.


"Kemarin dia tiba disana. Mama menyuruhnya menemui Bibi Yuki, entah untuk urusan apa. saat kutanyakan sama Mama. beliau bilang itu untuk kepentingan Buana Asparaga." Haidar menerawangi warna lembayung diufuk barat. "Aku nggak lagi bertanya... lebih tepatnya... dilarang lagi mempertanyakan alasan kepergian Eiji..." Haidar menoleh menatap Salman. "Tapi aku yakin, ada alasan menarik dalam perjalanan itu. Eiji saja kulihat terkesan menyembunyikannya."


Salman mengangguk-angguk. "Kamu bisa merasakannya?" pancing lelaki kekar itu. Haidar mengangguk pula.


"Eiji, tak pandai berbohong, jika dihadapanku." tukas Haidar dengan yakin.


deringan gawai disaku Haidar membuyarkan percakapan mereka. pemuda itu mengeluarkannya dan menekan tombol pada gawai itu. seketika alat proyeksi pada gawai itu membentuk layar holografis menampilkan wajah Dewinta Basumbul.


🖥 "Assalamualaikum, Chouji." sapa Dewinta.


🖥 "Wa alaikum salam, Tante Dewi. ada kabar baik?" tanya Haidar dengan santai.


🖥 "Aku sudah menghubungi kolegaku di dukcapil. akan kukirimkan datanya kepadamu sekarang." ujar Dewinta.


wajah holografis itu hilang, berganti dengan paparan data diri dan foto seorang wanita berjilbab. Haidar mencermati apa yang tertera pada layar holografis tersebut.


Salman menyeletuk. "Pacarmu?"


Haidar menggeleng. "Orang yang punya hutang kepadaku."


Salman tertawa, "Kau melakukan bisnis renten juga?" oloknya.


Haidar mendecak kesal kepada Salman. lelaki itu hanya tertawa pelan dan ikut mencermati data itu.


"Aisyah Tilahunga... " sebut Salman, "Wuih, cantik juga..." komentarnya. Haidar kemudian mematikan gawai itu. ia kemudian menatap Salman.


"Attar... kau bisa bantu aku?" tanya Haidar.


"Bantu apa?" tanya Salman dengan santai.


"Menangkapnya, dengan tujuan pembobolan rumah." jawab Haidar dengan santai, membuat Salman langsung menegakkan badannya. sedang Haidar hanya menatap lelaki itu dengan datar pula.


...******...


Kediaman Williams, pukul 17.35

__ADS_1



Haanish menatapi Marina yang sementara mengolah sesuatu di pantry. ia mendekatinya.


"Lagi masak apa nih?" tanya pemuda itu kemudian menatapi rempah-rempah yang terhampar dimeja, dalam mangkuk-mangkuk bumbu. Marina terus saja sibuk mengawasi api dari kompor gas.



"Lagi masak Bubuo lado." jawab Marina sambil mengaduk pelan beras yang dimasak itu. Haanish mengerutkan kening.


"Bubuo lado itu apa?" tanya Haanish.


Marina tersenyum, "Sudah... pokoknya kalau sudah matang dan siap disajikan, kau cicipilah. siapa tahu kau suka." Marina menjeda pekerjaannya lalu menatap Haanish. "Atau kau mau membantuku mengolahnya?"


"Oke, siapa takut." sambut Haanish dengan senyum lebar lalu mengambil apron dan mengepasnya ke tubuhnya.


"Tuh, kamu giling bawang merah, bawang putih dan kunyit." perintah Marina menunjuk mangkuk-mangkuk berisi benda-benda yang disebut tadi kemudian gadis itu menunjuk cobekan.


Haanish melakukan apa yang diperintahkan, sementara Marina mengeluarkan ikan dari panggangan listrik. ia mengeluarkan kulit ikan itu dan mensuwir-suwir dagingnya lalu dimasukkan dalam mangkuk.


"Okey, sudah." ujar Haanish memperlihatkan hasil gilingan tersebut. Marina mengangguk.


"Tambahkan garam, cabe, dan gepengkan serehnya." pinta Marina.


"Okey..." jawab Haanish dan melakukan apa yang diminta gadis itu. ia menggilingnya lagi. setelah itu ia berucap, "Sudah."


"Masukkan ke panci itu." pinta Marina menunjuk panci berisi beras yang dimasak. Haanish melakukan apa yang diperintahkan Marina. setelah itu Marina memasukkan suwiran daging ikan, batang talas muda, sereh yang digepengkan, daun kunyit, daun salam, daun jeruk dan menambahkannya dengan asam kandis.


"Tolong diaduk pelan ya?" pinta Marina. "Aku akan menata meja makan."


"Okey." sahut Haanish dan kembali melakukan apa yang diperintahkan Marina.


tak lama kemudian, muncul Marinka dan Marissa. melihat Haanish yang mengenakan apron dan mengaduk isi panci dengan pelan, Marissa mendekat.



"Halo, Uda..." sapa Marissa kemudian melongokkan kepala ke dalam panci. "Lagi masak apa? Oooo... Bubua lado?" anak gadis itu kemudian tersenyum dan menjilati bibirnya. "Uhmmm... kayaknya enak nih. apalagi kalau Uda yang masak... hmmm... rasanya... aarrrghhh." ujarnya langsung mendekat dan berlagak hendak mengigit leher Haanish dari samping.



Haanish tercekat dan tak mampu bergerak sebab digertak seperti, adalah hal pertama baginya. Marissa rupanya termasuk tipe agresif dihadapan lelaki. pacarnya saja, Denada Wie, tidak seagresif itu. Marissa tertawa cekikikan melihat tingkah Haanish yang terdiam bagai patung.


"Oke, Uni." sambut Marissa lalu pergi meninggalkan Haanish yang terpaku. Marissa sejenak lagi menoleh menatap Haanish dan mengedipkan matanya membuat Haanish menelan ludah karena ngerinya, menyadari sepupunya begitu agresif.


Marinka datang mendekat. "Berikan kepada denai tugas itu. Uda duduk saja bersama Abi. dia titip pesan supaya Uda menjumpainya."



"Ooo... okey, makasih ya." jawab Haanish melepaskan apron yang melilit tubuhnya dan menyerahkan benda itu pada Marinka. setelah itu, Haanish melangkah santai meninggalkan pantry. langkahnya terayun menuju ruang keluarga. disana sudah menunggu Akram dan istrinya, Airina.


"Ah, kau sudah tiba. kemarilah." panggil Akram.


Haanish duduk dihadapan mereka. Akram mendekatkan tubuhnya. "Bagaimana desain armornya. kau suka?" tanya Akram.


"Mantap Om. tampilannya modis dan futuristis." jawab Haanish. namun kemudian wajahnya berubah serius. "Tapi, apakah nggak akan berefek pada tubuh saya saat chip itu ditanam disana?"


"Kamu tenang saja." tepis Akram. "Chip itu fungsinya adalah mensimultan kekuatanmu menjadi beberapa kali lipat. itu mirip booster apabila diaktifkan. kemampuan teknologi nano dalam chip itu nanti akan tersimultan dengan gerak syaraf otakmu dan seketika membentuk armor yang akan melindungimu." tuturnya.


Haanish mengangguk-angguk, meskipun ia tak terlalu paham. dunia cybertekno masih terasa asing baginya, meskipun dirinya dikelilingi oleh fasilitas bersifat semacam itu seperti smartcar, dan sebagainya.


"Menurut Mamamu... tugasmu ini nggak mudah. kemungkinan kau akan menghadapi rintangan dan halangan yang sangat bisa dipastikan menguji nyali dan beresiko kehilangan nyawa... apa kau siap?" pancing Airina.


"Saya akan menganggapnya sebagai bagian dari ritual musho-shugyo. untuk itu saya memohon restu kepada Om dan Bibi." ujar Haanish dengan senyum semangat.


Airina mengangguk disusul oleh Akram. "Kau, memang putra ayahmu..." puji lelaki itu.


"Karena saya pun.... seorang serigala, seperti almarhum Papa." sahut Haanish dengan senyum, kali ini terlihat keji dan bengis membuat Akram tersenyum canggung. Airina menghela napas.


"Baiklah. nyamankan dirimu sehari ini... besok sore, kalian akan take off langsung dari kediaman ini menuju Moskwa." ujar Airina dengan datar.


"Baiklah Bibi." ujar Haanish. "Kalau begitu, perkenankan saya ke kamar untuk mengistirahatkan diri."


Airina mengangguk. "Ingat... sedikit lagi waktu sholat maghrib tiba." ujarnya mengingatkan.


"Tenang Bi. saya hanya meditasi kok. nggak tidur." elak Haanish sambil terkekeh lalu melangkah pergi.


sepeninggal Haanish, Airina mendesah panjang namun pelan. Akram menatapnya.

__ADS_1


"Ada apa Zawjati???" tanya lelaki parobaya nan bercambang lebat itu. Airina mengangkat alis dan menatap suaminya.


"Aku menangkap sesuatu yang lain pada Marinka dan Marissa." ujar Airina membuat Akram memperbaiki gaya duduknya dan menatap istrinya dengan penuh perhatian. Airina menyambung lagi. "Kelihatannya drama antara Marina dan Eiji, juga akan menular kepada Marinka dan Marissa terhadap Haanish." tuturnya.


Akram menautkan alis sejenak lalu mendatarkan lagi ekspresi wajahnya saat Airina menyambung lagi. "Kali ini nggak tanggung-tanggung. dua-duanya memiliki perasaan kepada Eiji."


Akram menarik napas panjang. "Nggak dipungkiri, anak-anak almarhum Uda Sandi memang tampan dan memiliki aura flamboyan." Akram terkekeh. "Kalau Haanish sih memang kentara dia flamboyan. cuma Haidar yang seriusan dan kaku, mampu juga membuat Marina terpikat."


"Ketiga anak kita itu sudah dewasa, Hubby... alangkah baiknya dicarikan saja jodohnya. aku hanya ingin tentram saja dalam hidup ini. aura Papa itu sebenarnya merupakan kutukan dalam keluarga." tukas Airina setengah mengeluh.


"Hussh... jangan bicara begitu." tegur Akram, "Jika bukan karena aura flamboyan itu, aku nggak akan bertemu dan tertarik padamu. ingat, kau juga banyak digilai para lelaki semasa mudamu. dan itu disebabkan oleh aura tersebut." lelaki itu merengkuh istrinya dan membawanya ke dada. "Jangan menentang takdir... akuilah... maka kau tak akan terbebani oleh pemikiran semacam itu."


keduanya berpelukan lama diruangan itu, ditemani senyapnya suasana menuju waktu sholat maghrib.


...******...


Kampung Tengah, Kota Gorontalo. pukul 21.45


berbekal alamat yang diberikan Haidar, Salman menemukan tempat kediaman Aisyah Tilahunga dan putrinya. lelaki itu meminjam satu unit mobil reaksi cepat, Polres Kota Gorontalo. lampu sokle biru menyala kedap-kedip diatas atap kiri kendaraan tersebut.


kemunculan mobil polisi sontak membuat warga disekitaran situ menjadi ribut dan bertanya-tanya. dengan santai Salman mematikan mesin kendaraan lalu keluar dari kendaraan tersebut. langkahnya yang dipadu postur kekar bagai binaragawan membuatnya disegani benar oleh para warga.


Salman tiba didepan pintu. ia mengetuknya dengan keras. para warga menonton dari jauh. para lelaki sendiri tak ada yang berani mendekat. bukan hanya tubuhnya saja yang menciutkan nyali mereka. namun tatapan sinisnya pula membuatnya secara sosial terbentengi oleh tatapan para warga yang terusik jiwa karlota nya.


DUK DUK DUK DUK DUK DUK


pintu membuka dan keluarlah Aisyah. jilbaber itu kaget melihat seorang lelaki tinggi besar berdiri dihadapannya. Aisyah melongokkan wajah ke seberang dari tubuh Salman. ia meneguk ludah sekali melihat sebuah mobil dinas kepolisian disana.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Aisyah dengan nada suara bergetar.


Salman mengeluarkan surat perintah dan menyerahkannya kepada Aisyah. "Saya mendapat perintah untuk membawa ibu ke kantor polisi atas kasus pembobolan rumah."



"Tidak mungkin!" pekik Aisyah dengan kaget. sementara warga menjadi ribut. mereka terbagi menjadi dua fraksi. satunya iba dan memberi penguatan moril sedang satunya menghujat dan mengumpati Aisyah dan putrinya.


"Anda nggak usah mengelak. semuanya diselesaikan di kantor polisi saja." tukas Salman dengan datar. "Bangunkan putrimu. kalian berdua ikut dengan saya."


dengan lesu akhirnya Aisyah masuk lagi. sementara Salman mengamati para warga yang saling karlota membicarakan nasib buruk yang menimpa Aisyah. tak lama kemudian Aisyah muncul menggandeng Aya Sofia yang berjalan setengah mengantuk. Salman dengan refleks langsung memeluk Sofia dan membaringkannya di jok bagian belakang mobil. Aisyah juga disuruh duduk dibelakang menemani putrinya.


kendaraan melaju meninggalkan tempat tersebut. Aisyah masih terpekur menyesali nasib buruk yang menimpanya. hingga akhirnya mobil berhenti dan Aisyah mengangkat wajah. ia terkesiap.


"Lho? ini kan kediaman Laki-laki itu? kok saya dibawa kesini?" protes Aisyah. Salman mendengus.


"Sebelum kau ku proses, pelapor memintaku untuk menghadapkan kamu kepadanya supaya kau meminta maaf." jawab Salman dengan ketus. "Masuklah! dia sudah menunggumu!"


tak ada jalan lain kecuali mengikuti saja kemauan opsir tersebut. dengan langkah gontai, Aisyah menaiki beranda dan mendorong pintu membuka lalu melangkah memasuki bangunan.


disana, di kursi tamu itu nampak Haidar duduk menyanggakan kedua sikunya pada lutut dan menatap Aisyah yang melangkah mendekatinya.


"Apa kabarmu... Aisyah." sapa Haidar dengan senyum datar.


"Buruk!" jawab Aisyah dengan ketus, "Entah dosa apa yang kuperbuat sampai aku mengalami kesialan ini."


"Kesialan macam apa yang menimpamu?" tanya Haidar menautkan alis.


"Sebelum bertemu denganmu, hidupku anteng-anteng saja. meski aku miskin, kerjaku serabutan, tapi aku dan putriku bahagia! kami tidak punya musuh! dan sekarang... begitu kau hadir diantara kami... nasib buruk pun silih berganti menggelayutiku..." umpat Aisyah.


Haidar diam saja sambil mengangguk-angguk mendengarkan umpatan jilbaber itu.


"Kenapa kau tak henti-hentinya menggangguku?!" sambung Aisyah lagi. "Sekarang aku nggak tahu bagaimana lagi menghadapi para warga disana. mereka mengira aku seorang kriminal... itu semua gara-gara kamu! gara-gara kamu!"


"Bagus." ujar Haidar sambil berdiri dan melangkah mendekati Aisyah. pemuda itu menatap jilbaber tersebut dengan datar namun tatapannya menusuk. "Dengan begitu, kau tak perlu susah-susah mendiami tempat jorok itu."


Aisyah tercengang mendengar kalimat pemuda itu barusan. ia kemudian mendesis. "Manusia macam apa kau?"


"Tinggalkan tempat tak higienis itu." ujar Haidar.


"Kalau bukan disitu, kemana lagi aku mau tinggal hah?! kami ini tak punya rumah tetap!" seru Aisyah dengan kesal.


"Kalian berdua, mulai malam ini akan tinggal di kediaman ini." jawab Haidar dengan tenang.


"Kau sudah gila!" umpat Aisyah lagi. "Mana betah aku ditempat yang membingungkan ini?!"


"Maka betahkanlah..." jawab Haidar kemudian berbalik melangkah beberapa jejak hingga akhirnya berhenti dan Haidar menoleh kearah Aisyah yang masih diam ditempatnya.


"Mau sampai kapan kau mematung disitu?!" sergah Haidar.

__ADS_1


sambil mendengus kesal, Aisyah terpaksa melangkah mengikuti pemuda tersebut.[]


__ADS_2