
Airina meninggalkan kamar itu sambil terus menyusuti air matanya yang masih mengalir. ia keluar mencari suaminya membiarkan kamar lengang dimana Marissa terbaring gering disana. beberapa saat kemudian, nampak daun jendela bergerak-gerak dan membuka. sesosok tubuh masuk dari sana sambil menenteng Si Penebas Angin.
pemuda itu melangkah mendekati Marissa yang terbaring diam. dia duduk disisi ranjang. ditatapinya wajah cantik gadis itu.
"Issha.... bangun..." panggil Haanish dengan lirih.
belum ada jawaban. gadis itu masih terbaring diam. Haanish kembali mengumpulkan ki dan menyatukannya di titik Hara. ia kembali menyeru.
"Issha... ini aku, Haanish... bangunlah..." panggil pemuda itu.
perlahan nan pasti, kedua mata itu membuka. Marissa menatap langit-langit ruangan membiasakan pandangannya kemudian menoleh menatap Haanish yang duduk disisi ranjang.
"Uda..." sebutnya dengan lirih.
Haanish tersenyum haru. "Sedalam itu perasaanmu?" todong pemuda itu.
Marissa hanya tersenyum. Haanish menggelengkan kepala. ia membelai rambut gadis itu. "Sayang aden ka waang tu adolah sasuatu nan salah..." ujar Haanish membuat Marissa terdiam dan matanya kembali berkaca-kaca. Haanish tersenyum menyambung lagi, "Sayang aden ka waang tu adolah sasuatu nan salah... salah satu nan mambuek bahagia taruih..."
mendengar sambungan kalimat itu, tersungginglah senyum manis meskipun mata gadis itu tetap berkaca-kaca.
"Uda serius ka denai?" tanya Marissa dengan lirih.
"Menurutmu, kenapa aku kembali?" pancing Haanish.
seketika Marissa bangkit duduk dan memeluk Haanish. ia terisak-isak namun hatinya bahagia bukan main. Haanish yang semula kaget, kemudian tersenyum dan menyapu-nyapu punggung gadis itu.
"Sudah, tenangkan hatimu. aku hanya ingin membuktikan sesuatu saja yang berhubungan dengan leluhur kita. setelah itu semua selesai... aku akan kembali padamu." ujar Haanish kemudian melepas pelukannya dan menyusuti air mata yang terlanjur jatuh dipipi Marissa. "Kamu bisa melepaskan aku sebentar saja, kan?"
Marissa menatap Haanish agak lama setelah itu ia mengangguk mantap. Haanish tersenyum dan tiba-tiba mengecup bibir gadis itu membuat Marissa sejenak kaget namun tersipu. Haanish bangkit dan melangkah menuju jendela.
"Aku pergi.... gembirakanlah hatimu." ujar Haanish dengan senyum lalu mengedipkan mata.
Marissa tersenyum dan melambaikan tangan. Haanish lalu melompat keluar jendela. beberapa saat kemudian Airina masuk mendapati Marissa yang sudah duduk dengan tersenyum.
Airina memekik dan berlari menghambur memeluk putrinya. Marissa hanya tersenyum dan balas memeluk.
"Jangan buat begini lagi! kamu membuat Umi dan Abi panik. kenapa kamu sebodoh ini mencintai orang yang tak mencintaimu?!" ujar Airina setelah melepas pelukannya kemudian menyusuti air matanya.
"Tidak Umi... Uda mencintaiku. denai yakin se yakin-yakinnya." jawab Marissa dengan mantap.
Airina menautkan alis. "Maksudmu?"
Marissa tak menanggapi pertanyaan ibunya. ia hanya tersenyum saja penuh arti. Airina terhenyak sejenak menatap daun jendela yang membuka, dan bangkit berlari melalui jendela menatap ke halaman. pandangannya menyusuri setiap senti dari pekarangan dan halaman namun tak menemukan apapun yang diinginkan. Airina kembali menegakkan diri menatap putrinya yang duduk dengan wajah yang tersenyum-senyum saja.
...******...
Haanish menggunakan perangkat teleporticon untuk tiba di atap gedung Buana Asparaga Tbk dimana pesawat perusahaan itu berada. untung saja pilot belum beranjak dari kokpit saat Haanish masuk lagi. pilot itu heran melihat kemunculan pemuda itu lagi.
"Maaf, sudah membuat anda tak nyaman." ujar Haanish dengan senyum lalu menyambung. "Tadi ada ganjalan sehingga saya memutuskan balik. sekarang ganjalan itu sudah hilang. kita take off kembali menuju jepang!"
pilot itu mengangguk dan kembali ke kokpit kemudian mulai menjalankan mesin dan mulai menerbangkan pesawat. kendaraan udara itu kemudian mengangkasa dan melesat ke arah utara.
Haanish tersenyum-senyum mengenang wajah Marissa. ia tak mengerti mengapa hatinya tiba-tiba saja mengingat gadis itu dan kini terpaut kepadanya. padahal, rasa cinta kepada Denada belum hilang. pemuda itu mengarahkan tatapannya ke jendela, memandang hamparan lautan pasifik yang membentang dibawahnya.
tunggulah aku, Issha... setelah ini berakhir... aku akan datang mencarimu....
...*****...
Aisyah diam dalam mengendarai kendaraan segala medan itu. ia mengendarai dengan kecepatan rata-rata namun konsentrasi terbagi antara memperhatikan jalanan dan mengenang kembali pertemuannya dengan sang pemilik properti terbanyak dan terluas di Gorontalo itu. kalimat-kalimat yang mengandung makna, bahkan membuatnya sedikit muncul sifat berharap terngiang lagi dalam benaknya.
__ADS_1
pagi menjelang siang, diantara pukul sembilan pagi, Aisyah datang bertandang ke kediaman Ali setelah mengantar Aya Sofia ke sekolahnya. wanita parobaya itu menyambutnya diruang keluarga saat pelayan membuka dan mendampingi Aisyah menghadap kepadanya.
Inayah menyuruh pelayan untuk menyuguhkan cemilan dan minuman. Inayah kemudian menatap tamunya itu.
"Wololo habarimu No'u?" sapa Inayah dengan senyum anggun membuat Aisyah merasa tunduk dihadapan wanita parobaya itu.
"Alhamdulilah, watiya sesehati, Ibu." jawab Aisyah. "Maksud kedatangan saya kemari hendak membicarakan sesuatu."
pelayan muncul lagi membawakan nampan berisi dua cangkir teh dan setoples kue karawo berbahan coklat. cemilan itu diletakkan ditengah meja sedang kedua cangkir diletakkan pelayan ke hadapan dua orang itu.
"Matoduwolo mongilu waw morasai boyito kukisi." pinta Inayah seraya membuka tutup stoples.
"Oduolo." jawab Aisyah kemudian mengambil cangkir dan mulai menyeruput isi cangkir kemudian meraih kedalam stoples mengambil sebuah kue dan mencicipinya.
Inayah tersenyum menatapnya. "Sekarang katakan, apa maksud kedatangan kamu kemari." ujar wanita parobaya tersebut.
Aisyah meletakkan cangkir dan memperbaiki duduknya. "Begini Nyonya. saya kemari hendak meminta ijin untuk meninggalkan Kediaman Lasantu." ujarnya.
Inayah mengangguk-angguk pelan, menunduk sejenak lalu kembali menatap Aisyah. "Mengapa anda berniat meninggalkan Kediaman Lasantu? apakah ada diantara perbuatan kedua anak saya yang mengganggu pikiran anda?"
Aisyah tersenyum dan menggeleng, lalu menjawab. "Perilaku kedua putra anda sangat baik. Tuan Muda pertama dan kedua juga begitu sayang kepada putri saya..."
"Lalu apa yang mendasari anda untuk meninggalkan Kediaman itu?" sela Inayah dengan lembut.
Aisyah lama diam, kemudian menghela napas dan menjawab. "Saya hanya menjaga nama baik kedua tuan muda. saya kuatir, keberadaan saya disana akan memancing reaksi dan komentar tetangga sekitar yang nantinya juga akan berdampak tidak baik terhadap pergaulan mereka dengan masyarakat. hal itu tentu juga akan mempengaruhi citra perusahaan... sebab lawan tentunya akan mempergunakan isu tersebut untuk melemahkan integritas perusahaan."
Inayah tersenyum lalu mengangguk-angguk. Aisyah lama diam kemudian bertanya lagi, "Nyonya... dengan ini, maukah Nyonya melepas saya dan putri saya meninggalkan Kediaman Lasantu?"
"Justru makin kuat aku menolak kamu untuk meninggalkan Kediaman Lasantu." jawab Inayah.
"Tapi Nyonya..." sela Aisyah.
"Aisyah... putrimu menjadi pengikat keberadaan kamu disana. mereka sudah terbiasa dengan putrimu. aku menahanmu, bukan karena kamu, tapi karena putrimu. tegakah kamu membiarkan putrimu tinggal ditempat yang tak nyaman?" ujar Inayah.
"Nyonya... dua hari lagi saya akan melamar ke Buana Asparaga Tbk." ujar Aisyah.
"Itu bagus..." komentar Inayah dengan senyum.
"Berarti, bisakah saya meninggalkan Kediaman itu dan tinggal di asrama perusahaan?" usul Aisyah.
Inayah menggeleng. "Aku tak akan mengijinkannya." jawab wanita parobaya tersebut membuat Aisyah langsung lesu.
Inayah melambaikan tangan mengisyaratkan agar Aisyah mendekatinya. jilbaber itu bangkit dan duduk disisi Inayah. wanita parobaya itu kemudian mengambil tangan Aisyah dan menepuk-nepuk punggung tangan wanita itu.
"Suatu saat... kamu akan menjadi sosok yang sangat berperan dalam perkembangan Buana AsparagaTbk." ujar Inayah. "... juga terhadap Haidar..."
"Tapi Mahreen..." sela Aisyah.
"Dia hanya bisa menjalankan peran sebagai adik saja... dia tak akan bisa menjadi pendamping putra pertamaku..." jawab Inayah membuat Aisyah terngiang akan kata-kata Haanish kepadanya waktu itu.
"Nyonya... tolong jelaskan maksud Nyonya mengatakan hal semacam itu." pinta Aisyah.
Inayah membarut jilbab wanita itu. "Kelak, kau akan tahu sendiri..."
Aisyah semakin terdiam dalam keheningannya. tenggelam dalam tatapan lembut penuh keanggunan itu.
...******...
Bandara Haneda, Tokyo. pukul 15.54 Nihon Hyojunji.
Haanish melangkah dengan santai menyusuri ruangan arrival itu. ternyata ia sudah ditunggu oleh salah seorang yang disuruh oleh keluarganya. lelaki itu mengangkat papan nama bertuliskan namanya dalam bahasa jepang, Yoshiaki Koga Hasegawa.
kemunculan seorang pemuda yang menyampirkan ransel dibahu dan menenteng Si Penebas Angin ditangan lainnya menerbitkan senyum penerima tamu itu.
__ADS_1
"Yoshiaki Koga Hasegawa?" sahut penerima tamu itu.
"Ya, itu saya..." jawab Haanish.
penerima tamu itu membungkuk dalam 45 derajat lalu menegakkan diri dan mempersilahkan Haanish untuk mengikutinya. kedua lelaki itu terus menyusuri ruangan demi ruangan dan tiba diluar gedung.
mobil telah menunggu dan keduanya masuk. Haanish meletakkan ransel dan Si Penebas Angin ditepi tempat duduknya. ia menatap si penerima tamu itu.
"Pak Kiyosaki... apakah kakek sudah tahu kedatangan saya?" tanya Haanish.
"Tentu Tuan Muda. Tuan Besar Hasegawa sudah mempersiapkan kedatangan anda. Nyonya Kaede juga sudah menunggu." jawab Kiyosaki.
Haanish mengangguk-angguk lalu menatap pemandangan kota dari kaca mobil. "Banyak yang sudah berubah.... aku penasaran..." ujar Haanish menatap Kiyosaki, "Apakah istana kekaisaran masih tetap seperti itu?"
Kiyosaki tertawa. "Tentu saja tetap seperti itu untuk menjaga tradisi. hanya saja, tentu banyak mengalami renovasi dan revitalisasi."
"Apakah selama ini tidak ada sentimen tidak puas dari pihak Hokucho?" pancing Haanish.
"Pihak Hokucho sudah lama mengikhlaskan keluarga besar Daikakuji yang sekarang dipimpin Kaisar Reiwa untuk memimpin jepang yang kita cintai ini. dan keluarga Jimyoin tetap diberi beberapa tempat dijabatan kekaisaran untuk menjamin harmonitas diantara dua keluarga besar yang memimpin tahta seruni." jawab Kiyosaki.
"Berarti dekrit Kaisar Meiji yang mengklaim tahta berada di keluarga Daikakuji tetap ditaati ya?" komentar Haanish. Kiyosaki mengangguk-angguk setuju.
kendaraan terus melaju hingga tiba dikediaman Hasegawa di istana Odawara. istana yang pernah menjadi kediaman keluarga pendiri keshogunan Kamakura itu sekarang telah dipercayakan oleh keluarga kekaisaran untuk dihuni dan dikelola oleh keluarga Hasegawa sebagai kerabat dekat pengabdi istana kekaisaran.
mobil berhenti didepan gerbang. Haanish turun dan dipandu Kiyosaki memasuki kawasan dalam istana tersebut. istana Odawara dipugar oleh keluarga Hasegawa tanpa merubah bentuknya, mempertahankan orisinalitas bangunan sebagaimana bentuknya pada jaman Kamakura. pemugaran itu juga sudah mendapat restu Kaisar Reiwa Yang Agung, Naruhito melalui wali negara, Pangeran Asahiko.
kedua orang itu disambut oleh pelayan. rupanya Kiyosaki adalah kepala pelayan di istana itu. keduanya kembali menyusuri koridor istana naik ke lantai tiga. disana, diruangan yang biasa digunakan para daimyo dulu dalam menerima mengawasi wilayah kekuasaannya, telah menanti Ryoma Hasegawa yang telah berusia 85 tahun, telah sepuh usianya meski jabatan kepala keluarga masih disandangnya.
Haanish menghadap lalu berlutut. "Kakek..." sapa pemuda itu.
Ryoma Hasegawa mengangguk pelan lalu menatapi Kiyosaki. lelaki itu membungkuk dalam lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu. Ryoma Hasegawa menatap Haanish dengan tatapan dalam.
"Bagaimana kabarmu, cucuku?" sapa Ryoma Hasegawa dengan suara lemah.
Haanish mengangguk dalam. "Alhamdulilah, Kakek. saya dalam keadaan sehat wal afiat." jawab Haanish dengan lembut.
"Kakek sangat rindu padamu, nak." ungkap Ryoma dengan nada trenyuh. Haanish menangkap sesuatu yang ganjil saat itu juga.
"Kakek bisa menghubungiku jika rindu." ujar Haanish menenangkan kakeknya. "Aku tak kemana-mana. aku selalu di Indonesia."
"Kakek ingin kau tinggal disini." jawab Ryoma dengan hati penuh harap.
"Bukankah ada Tante Kaede yang menemani Kakek? bukankah ada sepupuku, Sachiko yang menghibur Kakek?" ujar Haanish lagi.
"Ini bukan persoalan itu, nak." ujar Ryoma. kakek itu menegakkan tubuhnya yang mulai ringkih. ia menatap Haanish dan mengacungkan kipasnya berkali-kali kearah Haanish. "Ini adalah masalah kepemimpinan dalam keluarga kita. dalam keturunanku, hanya kaulah cucu lelaki dalam aras utama keluarga Hasegawa. Ryuzou, hendak mengklaim tahta ini, semenjak mengetahui kau tak tinggal disini dan lebih memilih tinggal di Indonesia bersama keluarga ayahmu."
"Bukankah itu wajar, Kakek? aku memang anak ayahku. ibu saja wafat di Indonesia, hanya abunya saja yang disemayamkan disini. itulah sebabnya aku tinggal disana sebab itu tanah kelahiranku." kilah Haanish beralasan.
"Tapi, kau cucuku. kau putranya Rosemary!" tandas Ryoma dengan tegas agak ketus.
Haanish kemudian duduk bersila dihadapan kakeknya. "Kakek. apa susahnya menyerahkan saja jabatan kepala keluarga itu kepada Kakek Ryuzou? toh, tak ada bedanya. kalian sama-sama bermarga Hasegawa."
"Banyak perbedaannya nak. sangat banyak perbedaannya." ujar Ryoma mengetukkan ujung kipas ke meja. "Kau yang tinggal di indonesia, memang tak banyak mengerti urusan kekeluargaan ini. tapi patut kau ingat bahwa kita ini adalah keluarga samurai yang tetap memegang adat istiadat lama meskipun jepang telah menjajaki jaman digital. jabatan toryo (kepala keluarga samurai) harus dipegang oleh orang yang berkompeten untuk itu dan Kakek mengharapkan kau yang menjabatnya."
Haanish tersenyum. "Kakek... perlu Kakek ketahui pula bahwa kedatanganku kemari bukan untuk mengungkit-ungkit silsilah keluarga. aku saat ini sedang dalam misi menyelidiki masa lalu salah satu leluhurku, yaitu Mamoru Mochizuki." ujar pemuda itu.
"Kenapa kau hendak menyelidiki kehidupan dari Mamoru Mochizuki?" tanya Ryoma.
"Untuk mengungkap sebuah kebenaran sebagai bukti bahwa leluhurku tidak memiliki cela dimasa lalu." jawab Haanish. "Aku ingin menyelidiki sejarah keluargaku secara kredibel agar bisa membuka mata keluarga Wie bahwa keluargaku tidak memiliki cela apapun." jawab Haanish lagi.
"Persoalan itu gampang, nak." ujar Ryoma. "Aku akan membantumu mencari kebenaran itu. asalkan kau mau pula menerima persyaratanku."
"Persyaratan? mengapa harus memakai persyaratan?" erang Haanish.
__ADS_1
"Katakan saja itu hubungan mutualisme antara kamu dan kakekmu ini." jawab Ryoma kemudian memajukan punggungnya. "Majulah sebagai perwakilanku dalam rapat keluarga. klaim jabatan kepala keluarga itu, maka kau akan mendapatkan segala keinginanmu!"[]