
Buana Asparaga Tbk, pukul 09.00 WITA
ruangan Lazuardi, adalah ruangan khusus yang diperuntukkan bagi para pejabat Buana Asparaga Tbk dalam melakukan rapat-rapat khusus termasuk didalamnya Rapat Direksi.
para Shareholders, pemegang saham mayoritas dan minoritas, para eksekutif bagian berkumpul pada ruangan tersebut. sesuai namanya, ruangan itu dicat warna biru mengikuti bias biru fajar sebelum mentari muncul bersinar.
hari itu berlangsung penyerahan jabatan dari Dewinta Basumbul kepada Haidar Ali selaku Direktur Utama Buana Asparaga Tbk. sepatah dua kata diucapkan Dewinta mengakhiri masa jabatannya kemudian disusul kata sambutan dari Haidar Ali sebagai presdir yang baru. semua pejabat sudah tahu, siapa putra pertama keluarga Lasantu itu.
"Saya akan melakukan langkah-langkah yang semestinya untuk memastikan Buana Asparaga berada pada koridornya yang sebenarnya. terima kasih, Assalam Alaikum wa Rahmatullahi wa Baraqatuhu..." ujarnya mengakhiri pidatonya sebagai awal seorang Dirut Buana Asparaga Tbk.
para kepala bagian setelah Dewinta Basumbul menyalami lelaki itu. Haidar menyambut jabatan tangan itu lalu mempersilahkan para karyawan untuk menikmati sajian dalam meja. Haidar kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa sepengetahuan siapapun. ia melangkah santai menyusuri koridor menuju lift dan masuk kedalamnya.
benda itu membawa Haidar turun ke tingkat bawah, dilantai pertama. ia melewati ruangan lobby dan meja resepsionis kemudian keluar dari gedung itu menuju tempat parkir. tiba-tiba gawai disakunya berbunyi. Haidar menghentikan langkah sejenak.
ia merogoh saku mengeluarkan gawai itu dan mengalihkan pembicaraan ke audio call.
๐ฒ "Kenapa Bibi?" tanya Haidar.
๐ฒ "Kok kamu pergi nggak bilang-bilang?" protes Dewinta. "Bibi kerepotan nyambut tamu lho. mereka mencari kamu!"
๐ฒ "Maaf Bibi. tapi aku harus pergi. nanti aku kabari Bibi lagi. ada yang harus ku selesaikan." ujar Haidar lalu menonaktifkan gawainya dan menyimpannya lagi. lelaki itu melangkah menuju Tuatara V33K miliknya dan dalam waktu yang tak lama, kendaraan futuristik itu keluar dari halaman parkir dan melaju meninggalkan Buana Asparaga.
...******...
Aya Sofia duduk sementara memasukkan buku ke dalam tas ketika tiba-tiba Aidil langsung duduk di bangku depan mejanya. jilbaber cilik itu berupaya tak memperdulikannya.
"Apa kau marah?" todong Aidil. "Kau keberatan?"
"Tentang apa?" tanya Aya Sofia tanpa memandang wajah Aidil. jilbaber itu terus saja memasukkan beberapa jilid buku ke dalam tas dan terakhir tabletnya.
"Aya. dengarkan aku." panggil Aidil.
"Ya, kau sejak tadi sudah kudengar. kau mau apa?" sahut Aya tetap tak menatap ke arah Aidil.
"Aku mau bilang kalau aku suka sama kamu." jawab Aidil menunggu respon jilbaber itu.
sejenak kegiatan Aya Sofia terjeda. setelah beberapa lama diam, ia kembali melakukan aktifitasnya hendak keluar dari kelas.
"Kamu mau kemana?" tanya Aidil.
"Aku mau ke kantin." jawab Aya Sofia dengan tenang dan kembali melangkah.
Aidil ikut bangkit dan menjajari Aya Sofia, sedang jilbaber itu tak terlihat perduli. ia terus melangkah. beberapa teman kelas yang melihat mereka bersiul-siul menggoda.
"Bagaimana tanggapanmu?" tanya Aidil.
"Tentang apa?" tanya Aya Sofia terus berjalan.
"Tentang pernyataan itu." jawab Aidil.
"Biasa saja." timpal Aya Sofia.
"Biasa saja?" balas Aidil.
Aya Sofia mengangguk. Aidil mendengus kesal. "Setelah semuanya mengetahui dan menyaksikannya?" pancing Aidil.
mereka tiba di kantin. ada banyak siswa disana. mereka menjamu dirinya sendiri. kantin itu memang menerapkan cara penyajian service your self, sehingga anak-anak terbiasa melayani kebutuhannya sendiri. katakanlah mereka seperti belanja prasmanan dengan kocek anak-anak.
Aya Sofia mengambil piring dan menyendok nasi sekedarnya lalu menyendok sayur kegemarannya dan mengambil tempe goreng. sementara Aidil mengambil apa yang disukainya. ia menjajari lagi jilbaber itu dan keduanya duduk berdampingan di kursi.
tiba-tiba Aidil menyentil dengan sebuah lagu.
๐ถ sebelum kita makan, dik... cuci tanganmu dulu...๐ถ
Aya Sofia melirik ke Aidil yang tersenyum-senyum. jilbaber itu mendengus lalu memasukkan kedua tangannya ke baskom kebokan yang ada di meja. Aidil terkekeh dan melanjutkan liriknya.
๐ถ menjaga kebersihan, dik... untuk kesehatanmu...๐ถ
Aidil menyentil hidung Aya Sofia membuat jilbaber itu seketika menepis tangan anak laki-laki itu. Aya Sofia tak sedikitpun bicara. ia hanya menatap saja dengan kesal. Aidil tak perduli. ia terus bernyanyi.
๐ถ Banyak-banyak makan, jangan ada sisa...๐ถ
disini Aya Sofia menyela.
๐ถ Makan jangan bersuara!๐ถ
Aidil tertawa kecil dan mengangguk-angguk sambil mengacungkan dua jempol membuat anak gadis itu tanpa sadar tersipu-sipu. Aidil kembali memancing.
๐ถBanyak-banyak makan, jangan ada sisa...๐ถ
__ADS_1
namun ternyata Aya Sofia tak merespon, membuat anak laki-laki itu akhirnya mengangkat bahunya dan mengakhiri liriknya.
๐ถAyo makan bersama....๐ถ
Aya Sofia dengan santai mengambil sendok dan garpu lalu mulai mencampur makanannya.
"Aya..." panggil Aidil lagi.
Aya Sofia mendesis menyuruh Aidil diam. anak perempuan itu mulai menyantap makanannya. Aidil dengan spontan mengambil sebuah gelas tinggi lalu mengambil teko dan menuangkan air ke dalam gelas tersebut dan menyorongkan benda itu ke hadapan Aya Sofia.
"Makasih." ujar Aya Sofia.
Aidil mengangguk lalu ia pun makan. keduanya tak bicara sepatah kata pun. Aisyah memang mulai menerapkan aturan, kalau makan jangan bersuara, sesuai isi lagu yang dinyanyikan Aidil tadi. itu lagu sangat lawas yang diciptakan komponis bernama Pak Kasur.
tanpa mereka sadari, kegiatan mereka dipantau oleh Aisyah dari kejauhan ditemani oleh guru konseling.
"Aidil kelihatannya memang perhatian kepada Aya Sofia, Bu." ujar konselor itu.
"Tapi aku tak merasa nyaman." sahut Aisyah. "Aku tahu, pergeseran budaya telah sedemikian merasuk hingga ke kehidupan anak-anak. bahkan mengucapkan kata cinta kepada lawan jenis, telah mereka tahu, bahkan sebelum meninggalkan bangku taman kanak-kanak." jilbaber itu kemudian menatap konselor tersebut. "Tapi bagaimanapun, hal itu belum layak benar bagi mereka berdua. usia keduanya masih 12 tahun."
"Aidil sebenarnya sudah berusia 13 tahun." ralat konselor itu. "Ia terlambat masuk sekolah karena baru saja pulang dari luar negeri. ibunya seorang ekspaktriat yang bekerja di kedutaan asing di Jakarta. saban dua kali dalam seminggu ia pulang ke Gorontalo sekedar menemui suami dan anaknya." tutur Konselor itu. "Aidil menjalani pendidikan usia dininya di luar negeri saat ayahnya menjadi TKI disalah satu negara tersebut."
Aisyah mengangguk-angguk. "Pantasan dia tidak hadir dipertemuan ini..." gumamnya.
"Ayahnya juga termasuk orang sibuk. sekarang ayahnya Aidil itu punya restoran kecil yang dikelolanya." jawab konselor tersebut.
Aisyah menatap konselor tersebut. "Aku ingin anda memantau apa saja kegiatan putriku disekolah. pantau juga Aidil. seberapa dekat anak itu mendekati anakku." pinta Aisyah kemudian mengansurkan sebuah amplop tebal. dengan rasa girang yang disembunyikan, konselor itu meraih amplop itu dan langsung menyimpannya.
"Tak usah kuatir. saya akan memantau keduanya." ujar konselor itu.
Aisyah mengangguk lalu mohon pamit meninggalkan tempat itu. ia baru saja keluar dari gedung sekolah ketika mendapati seorang yang ia kenal mendekatinya. Aisyah memicingkan mata.
"Joni...." gumamnya dengan datar.
"Apa kabar Nyonya Lasantu...." sapa Joni dengan senyum santun.
"Mau apa kau kemari?" tanya Aisyah dengan ketus.
"Aku mau mengunjungi putriku." jawab Joni dengan santai.
"Aya bukan putrimu! kau tak memiliki anak dariku." sangkal Aisyah. "Pergilah Joni."
"Kau yang sombong. bukan aku." sangkal Aisyah lalu beranjak lagi dari situ.
tiba-tiba Joni meraih pergelangan tangan Aisyah dan menariknya hingga Aisyah tertarik jatuh dalam pelukan Joni. jilbaber itu meronta keras dan Joni hanya tertawa.
"Lepaskan! lepaskan aku B**i! lepaskan aku!" pekik Aisyah.
"Ah, masa aku akan melepaskan wanita yang telah membuatku mabuk kepayang?" ujarnya dengan kurang ajar dan hendak mendekatkan wajah mencium Aisyah.
PLAKKKK.
UGHHH...
BLUGHHH....
sebuah tamparan keras ditengkuk berhasil menghilangkan keseimbangan motorik lelaki bejat itu. Joni menggelosor lemas dan jatuh dilantai depan sekolah tersebut. Aisyah kaget dan tak sempat bersuara. ia menatap seseorang dihadapannya.
penolong itu adalah seorang lelaki berusia lima puluhan, kecil, ringkih, tapi ternyata kuat sekali kemampuan fisiknya. kulitnya hitam legam bekas terbakar paparan sinar ultraviolet. lelaki tua itu menatap Aisyah.
"Anda tak apa-apa, Nyonya?" tanya kakek itu.
"Aku.... aku tak... apa-apa...." jawab Aisyah setelah hilang kekagetannya. ia menatap kakek itu. "Anda siapa?"
"Saya pengawal anda." jawab kakek itu. "Saya Usman Bobihu, asal Kota Marisa." ia menuturkan asal-usulnya. "Saya sejak seminggu kemarin dihubungi suami anda untuk melakukan pengawalan dari jarak jauh." lelaki itua itu kemudian menatap Joni yang tergolek pingsan.
"Nyonya silahkan pulang." ujar Kakek itu. "Orang ini, biar saya saja yang urus. silahkan."
dengan bergegas, Aisyah meninggalkan tempat itu, menaiki kendaraannya, sebuah mobil mini Wuling E487L warna silver dan melaju meninggalkan area itu.
Usman sejenak menatap Joni yang terkapar pingsan. ia meraih gawai dan menghubungi majikannya.
๐ฒ "Bagaimana?" tanya orang dibalik sana.
๐ฒ "Aman terkendali." jawab Usman. "Kirim segera mobil untuk mengangkut orang ini!"
๐ฒ "Beres..." jawab orang itu.
Usman menyimpan lagi gawainya dan membungkuk menarik pakaian Joni agar lelaki yang tergeletak pingsan itu ikut bergerak. tak lama kemudian sebuah mobil box muncul. seorang laki-laki besar muncul dari mobil dan mengangkut tubuh Joni lalu memasukkannya kedalam mobil.
__ADS_1
"Bos kirim salam padamu." ujar si tinggi besar itu.
"Apa?" tanya Usman.
"Kau selidiki lagi orang bernama Parman Tilahunga!" jawab si tinggi besar itu.
"Baik. kalau begitu, aku pergi dulu." ujar kakek itu.
si tinggi besar itu mengangguk lalu masuk kembali ke dalam mobil dan mobil itu melaju meninggalkan tempat itu. sementara Usman kembali melakukan penyelidikannya.
...*******...
BYURRRR....
HUAAAHHHHH....
Joni kaget dan gelagapan ketika si tinggi besar menyiramkan air ke wajahnya. Joni menggeleng-gelengkan kepala mengusir butiran air yang memenuhi wajahnya. lelaki itu bangkit sempoyongan menatap si tinggi besar yang berdiri dihadapannya.
"Siapa kamu?! dimana saya?!" bentak Joni.
tak sedikitpun si tinggi besar itu goyah dengan bentakan lelaki itu. sebaliknya, tatapan datar lelaki tinggi besar itu menggoyahkan semangat Joni.
lelaki itu menatapi sekitarannya yang gelap. hanya ada cahaya artifisial yang menyoroti tempatnya dan si tinggi besar itu berdiri sekarang.
"Dimana ini?! katakan! kau menculikku?!" bentak Joni lagi.
"Kau memang kurang ajar Joni Ahmad." seru suara dari kegelapan.
si tinggi besar menyingkir dan melangkah mundur menghilang dalam kegelapan ruangan luas itu.
"Siapa kamu?! kalau berani, datangi aku!" seru Joni menantang.
CEKLEK.... BYARRRR....
sebuah cahaya satunya menyoroti lagi tempat dihadapannya. nampak seorang yang dikenalnya, mengenakan pakaian stelan jas warna hijau dengan kemeja putih dan dasi kelabu yang menggantung di kerah kemeja itu.
"Haidar...." gumam Joni.
lelaki berpakaian stelan jas itu memang Haidar. ia kemudian melepaskan jasnya, membiarkan rompi yang memeluk tubuh dasi mengepit didada.
"Kau tak menyangka?" pancing Haidar masih tetap ditempatnya.
"Kau pengecut!" umpat Joni. "Kalau kau berani, datanglah ke sini. akan kuhancurkan setiap ruas tulang dalam tubuhmu itu!"
Haidar tertawa pendek.
"Mengapa kau mengganggu seseorang yang sudah tak pantas lagi kau ganggu? dia bukan lagi istrimu." ujar Haidar dengan sabar.
"Kalau begitu, aku akan menjadikan Aisyah kembali menjadi istriku..." lelaki itu maju melesat kearah Haidar sambil melayangkan tinju. "Setelah membunuhmu!"
Haidar tersenyum dan bersiaga memasang sikap bertarungnya.
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
terjadi benturan antar lengan ketika Joni berkali-kali mengayunkan tinjunya dan berkali-kali juga Haidar menangkisnya. refleks lelaki itu lebih cepat dari kecepatan seorang atlit yang paling mahir.
ayunan-ayunan tinju itu hanya terlihat lambat dalam pandangannya. dengan santai Haidar mengibaskan tangan bahkan sengaja tak mempergunakan kedua tangannya dan hanya meliuk-liuk saja kesana kemari menghindari ayunan tinju, dan sepakan yang diayunkan Joni.
lelaki itu makin marah dan penasaran sebab semua serangannya hanya mengenai udara kosong saja sedang Haidar hanya santai meliuk-liukkan tubuh dan kepalanya menghindari setiap serangan lelaki itu bahkan tak pernah menjauh dari jangkauan serangannya.
terkadang Haidar hanya mengibas sekali lalu mendorongkan telapaknya menghantam dada Joni hingga lelaki itu terdorong kembali beberapa meter kebelakang sedang Haidar kembali berdiri dengan santai dihadapannya.
"Kau bilang kau ingin membunuhku." olok Haidar dengan senyum cengengesan. "Mana buktinya?" ujarnya mengembangkan tangan. "Menyentuh tubuhku saja kau tak mampu. apalagi mau merebut Aisyah dariku."
"Terlalu sombong rupanya kau!" umpat Joni kemudian mengamati sekitarannya. lelaki itu kembali mengumpat-umpat sebab tak mendapatkan sebarang bendapun yang bisa digunakan untuk alat bantu membjnuh Haidar.
lelaki itu tertawa. "Kau butuh senjata untuk membunuhku?" pancing Haidar. ia lalu menjentikkan jari tiga kali.
tak lama kemudian muncul si lelaki tinggi besar. Haidar menatapnya. "Ambillah sebilah Sumala. kasih ke lelaki lemah itu. aku mau memberinya kesempatan untuk membunuhku."
lelaki tinggi besar itu mengangguk lalu berbalik melangkah kembali dalam kegelapan. Haidar menatap Joni dan tertawa.
"Beristirahatlah dulu barang sejenak. senjata yang kau inginkan sementara dicarikan." ujar Haidar.
Joni hanya mendengus-dengus jengkel saja. tak lama terdengar suara benda dibuang dan...
KLONTANG KLONTANG TANG TANG TANG....
sebilah sumala tergeletak dihadapan Joni. lelaki itu sejenak menatap Haidar yang mengangkat bahu dan menunjuk parang itu lalu mengangguk seakan berkata itu senjatamu, ambillah dan serang aku sekuat tenagamu.... []
__ADS_1