The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 50


__ADS_3

Kediaman Ali, Saptamarga-Botupingge, pukul 19.15 WITA.


malam itu adalah peringatan duka hari ketujuh, wafatnya Inayah Amalia Ali. seluruh anggota keluarga inti Lasantu-Ali hadir beserta kerabat-kerabat mereka. disana juga ada Nunce Hamid dan Dino Hamid, pentolan keluarga Hamid yang menjadi pembicaraan dua keluarga besar karena ditengarai hendak menguasai perkebunan milik Inayah yang diwarisinya dari Saripah Hamid.


Haidar mengundang, beberapa ulama yang pandai dalam membacakan doa-doa arwah. mengikuti adat yang berlaku, ia dan Haanish mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan mengenakan saluk dari bahan batik serta bawahannya celana panjang hitam dari bahan katun. sarung batik khas Gorontalo melingkar dipinggang masing-masing kedua lelaki itu. adapun Imam dan mengenakan pakaian gamis sedang para undangan mengenakan kemeja putih dan celana hitam.


diruangan yang lapang itu, terhampar kain putih panjang yang diletakkan berbagai macam masakan khas untuk acara mongaruwa. disisi luar dari hamparan piring masakan itu menggeletak barisan piring-piring berisi nasi putih.


diujung barisan yang diduduki oleh imam, terdapat nampan besar berisi tempat dupa, piring berisi alama dan beberapa perangkat lain. selain sebagai tuan rumah, Haidar bertindak sebagai pembawa acara itu. ia mengucapkan beberapa patah kata dihadapan para undangan yang mengelilingi hidangan tersebut. lelaki itu membawakan kalimat dalam bahasa Gorontalo halus yang intinya mempersilahkan imam tersebut untuk memulai kegiatan berdoa.


imam tersebut mengangguk-angguk lalu meminta persetujuan para undangan. mereka mengangguk-angguk mempersilahkan imam untuk memulai prosesi doa arwah. diiringi oleh kepulan asap dan bau dupa (alama), prosesi itu dimulai.


puncaknya para imam dan undangan memasuki fase ekstase sambil terus melantunkan dzikir La ilaha illa Allah yang sangat cepat dan sebagian undangan lain mengucapkan kalimat yang jelas terdengar hanya kata la-ha-la-ha-i-la. begitu seterusnya hingga imam menghentikan pembacaan dzikir itu lalu melanjutkannya dengan doa penutup dan doa penenang arwah.


selesai sudah prosesi pembacaan dzikir itu dan Haidar kembali mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Gorontalo yang artinya mempersilahkan agar imam dan para undangan menikmati sajian masakan yang telah disediakan.


Djalenga yang berada dalam barisan undangan itu, mengikuti apa saja yang dilakukan para undangan. ia menalar sendiri apa yang harus dilakukannya berdasar pengamatannya terhadap aktifitas para undangan.


adapun ditaman para tamu undangan yang lain mengerubuti meja yang dipenuhi hamparan loyang-loyang prasmanan berisi masakan-masakan. Aisyah bersama-sama Aya Sofia melayani para undangan. Marissa hanya diminta bantuannya sesekali saja karena Aisyah memahami kondisi adik iparnya yang sementara hamil muda. Marissa tidak boleh terlalu aktif. kehamilan pertama itu sangat rentan dengan keguguran.


setelah kegiatan makan bersama itu, Haidar muncul lagi membawakan kalimat dalam bahasa Gorontalo kepada imam dan para undangan yang intinya memberitahu bahwa acara makan telah selesai dan dilanjutkan dengan pemberian sedekah. Haanish muncul membawa nampan berisi tumpukan amplop-amplop berisi uang yang kemudian diambil Haidar kemudian dibagi-bagikan kepada para undangan. Imam disendirikan karena uang amplopnya agak lebih dari para undangan yang lain.


setelah membagikan sedekah, Haidar kemudian memberitahukan dalam bahasa Gorontalo bahwa acara selanjutnya adalah penyampaian kata-kata takziyah. penyampai kata-kata takziyah adalah seorang ulama yang fasih dalam penyampaian kalimat-kalimat tersebut.


acara tersebut berlangsung hingga selesai pada pukul 22. Haidar menyalami sang pendakwah sekaligus menyisipkan sedekah ke telapak tangannya. lelaki itu pamit dan meninggalkan Kediaman Ali, diantar secara pribadi oleh Haanish menggunakan Tuatara V33K milik Haidar.


sekarang kediaman itu sepi. ketiadaan Inayah membuat rumah itu begitu lengang, dan sunyi. Haidar melangkah pelan menuju ruang keluarga. langkahnya terhenti dan tatapannya mengarah ke sebuah sofa panjang. nampak dalam lintasan ingatan, bayangan sang ibu nampak duduk disofa itu menatap kearah Haidar dan tersenyum.


dua titik airmata perlahan jatuh mengaliri pipi lelaki itu. wajahnya kembali memamdang sebuah potret besar menampakkan sosok Sandiaga yang duduk mengenakan setelan jas resmi, diapit oleh Inayah yang mengenakan kebaya khas Gorontalo dan Rosemary yang mengenakan kimono. langkahnya kembali terayun mendekati potret besar itu.


agak lama Haidar memandangi potret tersebut. jemarinya kemudian terulur menyentuh wajah Inayah dan kembali air mata lelaki itu, kali ini agak banyak meski ia tak memperdengarkan tangis dan isakan.


suara langkah kaki mendekat tak dihiraukan Haidar yang masih menyentuh potret itu. Aya Sofia yang mengenakan pakaian terusan dan kerudung mendekat lalu memeluk lengan ayah sambungnya.


"Abah... merindukan jadda ya?" tanya Aya Sofia dengan lirih.


Haidar menurunkan tangannya dan menoleh menatap Aya Sofia. anak gadis itu dapat dengan jelas melihat kedua mata Haidar yang telah basah, namun konturnya berubah mirip mata reptil.


Aya Sofia sejenak terpana melihat kedua mata ayah sambungnya itu kemudian jemarinya terulur menyusuti bekas-bekas airmata dipipi lelaki itu. perlahan kedua mata Haidar yang tadinya mirip mata reptil kembali kewujudnya sebagaimana mata biasanya.


"Kalau... Sofi?" tanya Haidar dengan suara serak.


Aya Sofia menyandarkan kepalanya dibahu Haidar. "Jujur, Aya nggak nyangka dan sampai sekarang, Aya rindu sekali segala hal tentang Jadda." jawab Aya Sofia. "Nggak ada nenek sebaik jadda."


airmata Haidar makin deras mendengar jawaban anak sambungnya itu. Aya Sofia kembali menatap Haidar dan melepas gandengannya.


"Abah... Jadda mungkin meninggalkan kita... tapi, beliau akan selalu bersama kita." ujar Aya Sofia yang juga mulai menahan isakannya dan kalimatnya mulai terbata-bata. "Jad... da... selalu... disini... Abah... sela..lu disini..." ujar Aya Sofia menyentuh dadanya meyakinkan kepada Ayahnya bahwa anak itu rela kehilangan neneknya.


tiba-tiba Haidar memeluk putri sambungnya dan menumpahkan tangis tanpa suaranya disana sedang keduanya disaksikan oleh Aisyah dari jauh.


"Abah... rindu benar... sama jadda...." ujar Haidar pada akhirnya dengan lirih, kemudian melepas pelukannya dan menatap Aya Sofia. "Tapi... Abah akan berupaya merelakan... asalkan... kalian berdua... tidak akan pergi meninggalkan Abah... please...."


Aya Sofia yang juga telah basah matanya menyusuti airmata dipipi Haidar. "Abah... Sofi nggak akan ninggalin Abah... Umma juga... yakin deh."


"Janji?" tuntut Haidar.


Aya Sofia mengangguk-angguk. Aisyah pun akhirnya mendekati Haidar lalu memeluknya dengan lembut.

__ADS_1


"Abah adalah ayah terbaik bagi Aya... untuk apa dia mencari lagi yang lain, ketika ada ayah terbaik yang melindunginya?" ujar Aisyah menenangkan hati Haidar yang sementara guncang.


"Dan aku bagimu?" tuntut Haidar dengan rengekan.


Aisyah mendekat dan berbisik. "Suami yang sempurna."


Haidar tersenyum dalam tangis tanpa suaranya itu. ia memeluk keduanya dengan erat dan menggigit bibirnya agar isakan tak akan keluar dari mulutnya.


Djalenga menatap ketiga orang itu dengan senyum haru lalu berbalik meninggalkan ruangan tersebut, kembali ke kamar tamu diberanda. disana ia bertemu dengan Haanish dan Marissa yang baru saja tiba dan menaiki beranda.


"Haidar mana?" tanya Haanish.


"Didalam Kakak." jawab Djalenga lalu pamit masuk ke dalam kamar.


Haanish dan Marissa terus membuka pintu dan melangkah masuk kemudian mendapati ketiganya yang sementara berpelukan saling menguatkan diri.


Haanish baru saja hendak berkomentar ketika Marissa langsung membekap bibir suaminya. Haanish menatap Marissa yang menggelengkan kepalanya dan lelaki itu paham. keduanya berdiri diam membiarkan Haidar meredakan hatinya yang sementara guncang.


Haidar seakan tahu keberadaan adiknya kemudian berujar. "Duduklah... kami sudah selesai." lelaki itu melepaskan pelukannya dan berdiri menatap Haanish. Aisyah sendiri menyusuti air matanya. begitu juga Aya Sofia.


"Senang aku nonton drama live macam begini." komentar Haanish dengan senyum lalu melangkah duduk di sofa. sementara Marissa, seperti biasanya langsung diajak Aisyah meninggalkan tempat itu, membiarkan suami-suami mereka terlibat dalam pembicaraan serius.


Haidar melangkah memutari sofa kemudian duduk. ia menunduk. "Maafkan aku... tadi... aku terbawa suasana... bagaimanapun dalam ingatanku..."


"Sudahlah Chouji..." sela Haanish. "Bukan hanya kau yang berduka. apa kau pikir aku tak berduka? beliau sosok penting dalam hidupku setelah Okasan. dia yang mengangkat derajatku dan menyematkan marga ayahku dibelakang namaku. kematiannya... sungguh tak pernah kusangka sama sekali...."


"Kita berdua sekarang... yatim piatu, Eiji." tukas Haidar dengan lirih.


"Allah tak akan memberi ujian yang tak bisa dijalani seorang hamba, Chouji." ujar Haanish. "Setidaknya kita berdua bersyukur bahwa beliau meninggalkan kita disaat kita berdua telah mapan." hiburnya, "Pikirkan bagaimana nasib orang yang ditinggal ayah ibunya dalam keadaan yang belum mapan sama sekali. kita berdua masih sangat beruntung, Chouji."


kisah dimana Rosemary wafat dapat anda temukan dalam cerita Flamboyant.


Haidar mencermati kalimat-kalimat saudaranya itu. dan Haanish benar. lelaki itu akhirnya mengangguk-angguk memahami kebenaran dari ucapan saudaranya yang patologis itu.


"Kau benar... maafkan aku..." ujar Haidar.


"Sekarang tugas kita adalah membebaskan Dinara dan menghukum Nikolai atas perbuatannya." ujar Haanish. "Dan pastikan, ia merasai bagaimana deritanya Mama."


"Aku yang akan membunuhnya." ujar Haidar. "Kau bersama Djalenga bertugas membebaskan Dinara."


Haanish menatap lama ke arah Haidar dan akhirnya mengangguk. "Baiklah... aku ikut saja kemauan kamu."


Haidar mengangguk. "Tinggallah sehari disini. temani kami. rumah ini serasa begitu sunyi."


"Setiap manusia pasti akan menemui fase kesunyian, Chouji. yang kau lakukan hanya menerima kesunyian itu, jangan menolaknya." tukas Haanish.


Haidar menatap lama ke arah Haanish hingga akhirnya ia bangkit dan melangkah meninggalkan Haanish yang hanya duduk melipat tangannya didada. lelaki itu menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Haanish mendesah sejenak lalu bangkit dan melangkah menuju dapur.


...*******...


Haidar menatap kolam luas yang dipenuhi daun teratai raksasa. ada beberapa tangkai teratai yang menyembulkan bunganya yang indah berwarna merah muda.


aduh... disini lagi....


lelaki itu menatapi kedua tangannya, juga tubuhnya sendiri yang kini dibalut pakaian mirip toga putih yang menerawang menampakkan bayangan samar dari tubuhnya yang bersepir bulky itu.

__ADS_1


kenapa aku kemari lagi???


Haidar kembali menghampar pandang hingga akhirnya ia tak menemukan cara kecuali menyeberangi danau luas yang dihampari beberapa daun lotus raksasa itu.


langkah Haidar mulai terayun menyeberangi danau memanfaatkan pijakan pada daun teratai raksasa yang membulat itu. ia terus melangkah dengan hati-hati sambil tatapannya mengawasi keadaan disekitarnya.


suasananya hening dan damai. Haidar mendengar kicauan-kicauan burung namun tak menemukan satupun seekor burung yang bertengger ataupun yang terbang melintas sekali saja.


sekian lama ayunan langkahnya menjejaki satu demi satu daun teratai raksasa itu hingga akhirnya ia menemukan permukaan yang dangkal. diujung danau itu terdapat sebuah bukit yang mengalir air terjun. namun sebenarnya bukan itu yang menjadi pokok dari pada konsentrasinya.


dihadapannya berdiri menatap air terjun sosok tinggi besar dan penuh dengan tonjolan sepir mirip seorang binaragawan. rambut sosok itu gondrong sepunggung dan berwarna hitam kekuning-kuningan. sosok itu membelakangi Haidar yang telah tiba ditempat itu.


"Assalamualaikum..." sapa Haidar.


sosok itu berbalik dan terhenyaklah lelaki itu. sosok itu adalah perwujudan dirinya sendiri yang dirasuki darah dewa. sosok lelaki berwajah singa dengan surai lebat dan tubuh penuh tonjolan otot.


"Kau..." pekik Haidar tertahan.


"Kenapa? kenapa kau kaget dengan dirimu sendiri?" tanya sosok itu. "Bukankah aku adalah kamu? kamu adalah aku? apa yang membuatmu terkejut?"


"Dimana ini?" tukas Haidar kembali mengamati sekelilingnya. "Aku merasa akrab dengan pemandangan ini."


"Tentu..." ujar sosok itu. "Kau terperangkap disini ketika kecil, saat kau tak bisa menerima kenyataan cintamu terhadap Marina Williams tak bisa dipertahankan."


"Dari mana kau tahu?" pekik Haidar dengan kaget.


sosok itu tertawa lalu mengaum sejenak. ia kemudian menatap Haidar. "Bukankah sudah kubilang, kita ini adalah sebuah kesatuan utuh dalam wujud yang berbeda."


Haidar melangkah mendekatinya dan jarak keduanya kini berhadap-hadapan.


"Bukankah kau..." ujar Haidar.


"Aku tahu... aku tahu..." sela sosok itu. "Kau mempertanyakan tentang darah dewa... iya kan?"


Haidar diam saja lalu melangkah menuju sebuah batu yang terdapat ditepi danau yang dangkal. ia kemudian memanjatnya dan duduk bersila diatas batu itu.


"Sekarang katakan." tuntut Haidar. "Mengapa aku tak bisa mengendalikan darah dewa sehingga berubah wujud menjadi kamu?"


sosok itu kembali lagi tertawa lalu melangkah mendekat dan berdiri didepan batu yang diduduki Haidar.


"Siapa bilang kau tak bisa mengendalikan darah dewa? kau hanya perlu menerima lalu mengakui. kesalahannya, kau tak mau menerima dan mengakui secara hati, padahal tubuhmu sendiri telah mengakui khasiat dari darah dewa tersebut." ujar sosok itu.


"Sehingga berubah menjadi kamu?!" todong Haidar.


sosok berwajah singa itu terkekeh. "Ketahuilah Haidar. aku, bukan perujudan darah dewa. benda itu hanya membantu mengeluarkan potensi luar biasa dalam dirimu."


"Lalu kamu?" tuntut Haidar.


"Aku adalah sifat haiwaniyahmu sendiri yang dianggap oleh darah dewa mampu membawa aspirasi hatimu untuk menegakkan sesuatu yang kau anggap bertentangan dengan kata hatimu." jawab sosok itu.


"Berarti, aku mampu menetralisir pengaruh darah dewa?" tanya Haidar.


makhluk itu menggeleng. "Kau selamanya tak akan bisa menetralisir darah dewa. darah itu sudah menyatu dengan darahmu sekarang. yang kau lakukan, hanya menerima dan mengakui. itu saja. gampang kan?"


"Aku tak paham..." gumam Haidar dengan masygul.


"Barangsiapa mengenal dirinya... akan mengenal Allah." ujar sosok itu. "Seorang petarung sejati, tahu dengan benar siapa dirinya." []

__ADS_1


__ADS_2