
Haanish menselonjorkan kedua kakinya, merenggangkan tungkai-tungkai itu sejenak dan menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi santai yang panjang itu. pemuda itu baru saja melaksanakan ritual sholat maghrib secara munfarid. pemuda itu mengeluarkan tasbih juzu warisan ayahnya kemudian mulai membaca dzikir dan wirid dengan suara lirih senyap.
tak lama kemudian muncul Marissa yang membawa sepiring penganan kue goreng yang dilabur gula aren dan segelas besar berisi teh melati. gadis itu meletakkan keduanya di nakas dekat kursi santai yang diduduki Haanish.
kedua mata pemuda itu terpejam dan larut dalam lantunan dzikir dan wirid sambil mencatut-catut biji tasbih juzu dari jemari-jemarinya. Marissa sekali lagi duduk bersimpuh menyandarkan kedua sikunya disisi kursi panjang dan menyangga wajahnya yang menyiratkan rasa kagum itu dengan kedua tangannya, menatap sang calon imamnya.
Marissa membiarkan Haanish larut sendirian dalam lantunan dzikir sedang ia pun larut dalam mendengar senyap-senyap suara hilang-timbul dari bibir Haanish yang membacakan dzikir itu.
Haanish akhirnya menyelesaikan ritualnya dan membuka mata. dan ia terlonjak langsung mendapatkan Marissa yang sedang duduk memandanginya dengan sorot mata kagum.
"Astagfirullah.... Issha..." desis Haanish. "Kamu mengagetkan aku lagi.... seperti pertama kali didalam kamar itu."
"Uda masih mengingatnya dengan jelas ya?" ujar Marissa yang bertambah kagumnya dengan tajam ingatan pemuda itu.
"Tentu saja aku masih jelas mengingatnya." ujar Haanish menegakkan duduknya dan bersila diatas kursi santai terbuat dari kayu jati itu. Marissa bangkit lalu duduk disisi kursi. tangan satunya menyangga bantalan kursi itu dan tangan satunya disilangkan dipahanya yang dibalut pakaian terusan mirip abaya.
"Uda makin buat denai kagum." gombal Marissa membuat Haanish tertawa.
"Kamu itu memang unik ya?" ujar Haanish mencubit hidung mancung Marissa, membuat gadis itu menunduk tersipu sejenak lalu menatap Haanish lagi. pemuda itu menyambung. "Biasanya itu, cowok yang menggombali cewek. eh, ini malah ceweknya yang menggombali cowok. kayaknya dunia memang sudah terbalik ya?" ujar Haanish kemudian tertawa.
wajah Marissa memberenggut. "Uda nggak suka digombal ya?"
"Kalau kamu yang ngegombal... aku makin suka." jawab Haanish membuat Marissa tersenyum lagi dengan lebar memamerkan deretan giginya yang berbaris bagai biji ketimun.
"Uda memang paling bisa bikin denai melepek-lepek hati." ujar Marissa.
Haanish tertawa kembali dan mencondongkan tubuhnya kedepan. "Kau ini, makin membuat aku tak sabar untuk segera memilikimu."
"Ya... dimiliki saja sekarang..." tantang Marissa.
Haanish menggeleng dan mendecak. "Ckckckckck.... dasar memang kaum matriarkis. perempuannya lebih agresif ketimbang laki-lakinya." ujarnya lalu tertawa lagi, "Tapi nggak apa. aku makin senang supaya nggak bingung-bingung mintanya... kasih ngasih kode password saja..."
Marissa tertawa kecil. "Jadi Uda mau halalin Issha sekarang?"
"Dasar anak bandel." ujar Haanish tertawa lagi. "Sudah, sabar saja dulu. nanti kalau sudah nikah... menyerah nantinya." olok Haanish.
Marissa sejenak melengos, "Hah!!!" ujarnya kemudian menoleh lagi menatap Haanish. "Nanti kita berdua tandingan. siapa yang lebih dahulu knock out, dia harus melayani makan-minum si pemenang selama seminggu."
"Ooo jadi ceritanya mau taruhan nih?" tukas Haanish kemudian mengalungkan tasbih juzu itu dilehernya. penampilannya yang berjubah itu makin mirip kaum biarawan. hanya saja pemuda itu tak mengenakan turban.
"Kalau Uda mau." sahut Marissa.
Haanish tertawa sejenak lalu menatap gelas besar berisi teh melati dan sepiring gorengan terigu berlabur gula halus yang terletak di nakas.
"Untuk aku nih?" tanya Haanish.
Marissa mengangguk. Haanish mencomot satu gorengan dan menyodorkan ke arah Marissa. "Buka mulutnya." pinta Haanish.
Marissa membuka mulut menggigit sedikit kue itu kemudian giliran Haanish menggigiti sisanya. keduanya makan dengan tenang.
"Ummmm... nikmat..." puji Haanish. "Kamu yang buat?"
"Belajar sedikit-sedikit, Uda. supaya nanti bisa senangkan Uda setiap saat." jawab Marissa. Haanish mengangguk-angguk. Marissa kemudian menyambung kata, "Uda, cobain cara makan yang mantap yuk." ajak gadis itu.
"Cara makan yang bagaimana?" tanya Haanish.
Marissa mencomot lagi kue itu dan membiarkan kue itu dibibirnya. ia mengisyaratkan Haanish menggigiti sebelahnya dengan tujuan nanti bibir keduanya bertemu. namun Haanish menggeleng.
"Nggak." ujarnya tegas. "Nanti kalau sudah nikah, mau gaya makan apa yang Issha hendaki, akan aku ladeni." ujarnya sambil senyum.
__ADS_1
Marissa menggigit kue itu dan meletakkan sisanya di piring. ia merajuk manja. "Aaahhhh... kapan sih kita nikah. Denai sudah tak tahan ingin terus memeluk Uda."
Haanish tertawa lagi. "Sabar, sayang...." hiburnya. "Tiga hari lagi... nggak lama kok. kebelet ya?" olok pemuda itu.
Marissa tanpa sungkan mengangguk, membuat Haanish terbatuk-batuk sendiri dan langsung mengambil gelas dan meminum teh melati itu buru-buru. Marissa tertawa sambil menutup mulutnya.
setelah menenangkan diri, Haanish meletakkan gelas itu dinakas dan menatap Marissa. "Kamu mau main-main denganku? tunggu saja. malam pertama, kamu akan kuterkam, dan tak akan kubiarkan sedikitpun keluar dari kamar."
"Denai akan menunggunya. denai akan lihat, seberani dan segarang apa Uda diranjang." tantang Marissa membuat Haanish terperangah.
"Aduh... gila memang anak ini." gumamnya, kemudian terkekeh. "Kelihatannya... kamu ingin membuktikan sesuatu... apa sih?" selidik Haanish.
Marissa tersenyum lagi, menunduk sejenak, lalu menatap pemuda itu. "Denai selalu merasa cemburu... denai takut, Uda masih belum bisa move on dari Denada Wie."
Haanish terkekeh lalu membelai rambut panjang lurus gadis itu. "Aku tak melarang, kamu memiliki kecemburuan itu. hal yang manusiawi sebab, kau bukan cinta pertamaku..." ujar Haanish dengan lembut sambil terus membelai mempermainkan rambut lurus Marissa. ia menyambung kata lagi, "Tapi... kau harus meyakini... bahwa kau adalah pelabuhan terakhirku... untuk selama-lamanya."
kalimat terakhir yang diucapkan Haanish berhasil membuat hati Marissa makin luluh dan matanya berkaca-kaca. Haanish mencondongkan wajahnya mendekat kearah Marissa.
"Marissa Williams... aku mencintaimu karena Allah..." desis Haanish.
"Issha juga, Uda." jawabnya dengan suara serak basah.
makin lama, wajah keduanya makin dekat dan Marissa meredupkan tatapannya hingga memejamkannya. ia menunggu tindakan selanjutnya dan...
TOENGGGG...
Haanish menowelkan telunjuknya didahi gadis itu, meniru gaya Sasuke Uchiha yang menowelkan telunjuknya pada Sakura Haruno.
"Sadar woyy... memang, aku mau nyium kamu?" desis Haanish dengan senyum jahil.
Marissa langsung membuka mata. "Ih, Uda bikin denai halu saja. jadi malu nih." rajuknya. "Kenapa waktu ketemu di halaman belakang Uda mencium denai? dibibir lagi."
"Itu kan untuk melepaskan rindu supaya kamu nggak gering lagi. kalau sudah nikah, kukasih yang lebih mantap deh." ujar Haanish tertawa lagi.
"Lebih dari yang didapatkannya!" tandas Haanish kemudian bangkit. ia mengulurkan tangan kearah Marissa yang masih duduk disisi kursi santai itu.
"Kedalam yuk." ajak Haanish. "Nggak nyaman duduk berduaan disini. ada syaikh-than yang memata-matai."
Marissa tersenyum dan menyambut uluran tangan itu. keduanya melangkah ke dalam saling bergandeng tangan. Haanish menggenggam gelas besar berisi teh melati dan Marissa membawa piring berisi penganan tersebut.
...*******...
sepanjang perjalanan, Aisyah terus saja menampakkan wajah keruh. kedua matanya bekas basah airmata yang baru saja disusutinya. sementara disampingnya, Haidar terus menyetir kendaraannya dengan wajah lurus kedepan dan permukaan kulitnya yang terus merona merah.
sesekali Aisyah melirik ke pemuda disisinya itu yang kini membisu bagai arca, setelah melakukan agresi birahi yang berujung pada penyatuan tubuh dalam keadaan terpaksa.
Haidar membelikan Aisyah pakaian baru setelah merobek-robek pakaiannya dalam pergumulan birahi didalam Tuatara V33K tersebut dalam suasana senja menjelang maghrib. untungnya tubuh Aisyah proporsional sehingga Haidar tak kesulitan menemukan pakaian yang muat ditubuh jilbaber itu sekalian berbohong pada penjaga toko, bahwa pakaian yang belinya adalah milik istrinya.
untungnya persetubuhan terjadi di area sunyi sehingga luput dari patroli kepolisian. tentu jika tertangkap, maka nama Inayah sebagai wakapolda akan tercemar dengan perilaku putra pertamanya itu.
Haidar masih diam. ia tak berani bicara dan tak lagi berani berbuat lebih daripada menyetir saja kendaraannya. Aisyah melirik dan memicingkan matanya. Haidar menoleh sekali menatap Aisyah dan kembali membuang wajahnya kedepan saat membentur tatapan sinis jilbaber yang teraniaya itu.
Tuatara V33K itu tiba didepan asrama kediaman Aisyah. Haidar langsung keluar dan menuju pintu belakang mengambil boneka dan mainan milik Aya Sofia, sementara Aisyah membuka pintu mobil tepat disaat Aya Sofia juga membuka pintu depan asrama itu.
ia terkejut sekaligus senang melihat kehadiran Haidar yang membawa berbagai jenis boneka dan mainan. itu dipastikan untuknya. sedangkan Aisyah berjalan dibelakang Haidar tertatih-tatih menahan perih dibagian paling pribadinya yang barusan digempur Haidar sebelumnya.
"Halo sayang, ketemu lagi deh." sapa Haidar sambil menyerahkan boneka-boneka dan mainan itu kepada Aya Sofia.
"Hai... Papa..." balas Aya Sofia dengan gembira menerima hadiah-hadiah itu. anak perempuan itu menggandeng Haidar masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Haidar duduk melantai karena memang asrama itu tak menyediakan perabot. untungnya Aisyah melapisi lantai dengan permadani sehingga terasa hangat diduduki. Aisyah masuk ke dalam kamar mandi dan melaksanakan mandi janabat membersihkan tubuhnya dari bekas-bekas persenggamaan.
dalam kamar mandi itu, Aisyah mandi sambil mengumpat-umpat lirih karena berhasil disentuh Haidar dan ia sendiri tak mampu melakukan perlawanan bahkan akhirnya ia menikmati ekstase dan kulminasi dari kegiatan itu. hentakan pinggul Haidar dirasakannya begitu bertenaga hingga bagian terdalam dirinya menerima hangatnya aliran sungai sukla yang mengalir kedalam lubuk rahimnya. ia mengakui tanpa sadar keperkasaan sang pemuda dalam permainan yang berlangsung selama dua jam penuh tanpa henti itu.
sementara Aisyah keluar, ia sempat menyaksikan Haidar bercengkrama dengan putrinya. tanpa sadar senyumnya tersungging hingga perih dibagian itu sedikit terlipur. Aisyah masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. setelah itu ia keluar dan masih mendapati Haidar asyik bermain dengan Aya Sofia.
Aisyah ke dapur dan mulai melakukan kegiatan memasak. ia memasak makanan yang disukai Haidar. sementara ia mengaduk-aduk penggorengan, sesekali ia melirik saat Haidar meninabobokan Aya Sofia hingga tertidur dalam pangkuan pemuda itu.
andaikan dia adalah ayah dari anak itu....
Aisyah menepis lagi utopia yang merajut sejenak impian dikepalanya dan kembali fokus memasak. akhirnya kegiatannya rampung dan makanan itu sudah siap saji.
Aisyah mengambil Aya Sofia yang tertidur dari pangkuan Haidar dan memeluknya, membawanya ke kamar anak itu, membaringkannya diranjang dan menyelimutinya.
Aisyah keluar lagi dari kamar dan duduk dihadapan Haidar. ia menyorongkan piring lebar berisi makanan ke hadapan Haidar.
"Makanlah..." ujarnya.
"Kamu sendiri?" tanya Haidar.
"Aku nggak berselera." jawab Aisyah dengan datar.
"Sudah kenyang dengan p***hku?" olok Haidar membuat Aisyah tersedak dan terbatuk-batuk. pemuda itu meraih piring itu dan mengambil sendok lalu mulai menyantap makanan.
Aisyah yang wajahnya merona merah karena disindir Haidar secara seksual melirik terus kepada Haidar yang santai menikmati makanan hasil masakannya. pemuda itu mengangguk-angguk.
"Seperti biasanya... enak." pujinya.
Aisyah mengangkat alis dan memperbaiki duduknya. "Kamu sebenarnya mau apa ketemu denganku?" tanya Aisyah.
Haidar mengangkat telunjuknya mengisyaratkan Aisyah untuk jangan bertanya dulu. pemuda itu menelan makanannya. "Biarkan kuhabiskan dulu makanan ini." pintanya.
Aisyah kembali diam membiarkan Haidar menandas habiskan makanan buatannya. jilbaber itu bangkit sejenak mengambil gelas dan mengisinya dengan air diteko. ia membawanya dan menyodorkan gelas berisi air itu kepada Haidar.
pemuda itu menyelesaikan makannya lalu meraih gelas pemberian Aisyah dan menghabiskan isinya. setelah itu Aisyah membereskan piring dan gelas itu. Haidar bangkit dan berdiri dibelakang Aisyah yang sementara mencuci piring dan gelas.
"Kau kerasan di asrama ini?" tanya Haidar.
"Sangat kerasan..." jawab Aisyah masih dengan posisi mencuci. "Aku justru merasa lebih bebas ketimbang tinggal di kediamanmu."
Haidar mendekat. "Haruskah kubeli perabotan duduk dan yang lainnya?" usul pemuda itu.
"Sudah kubilang, aku bukan penerima bantuan langsung tunai." jawab Aisyah. "Aku nggak suka diutangi. akhirnya... berlebih juga aku membayarnya..." sambungnya dengan nada kesal.
"Jadi kau anggap kejadian tadi bagian dari caraku menagih hutang budiku?" pancing Haidar makin mendekat.
"Wallahu a'lam bis shawab..." jawab Aisyah meletakkan piring dan gelas di tatakan. "Mana aku tahu isi hatimu? aku hanya hafal kebiasaanmu, namun hati... aku sama sekali tak mampu menyelaminya..."
Haidar merengkuh tubuh Aisyah dari belakang dan jilbaber itu tersentak dengan perlakuan pemuda itu. ia langsung menoleh.
"Paaakk..." tegurnya lagi.
Haidar memajukan wajahnya kembali mencium lembut bibir Aisyah dan mengulumnya. Aisyah akhirnya terbawa perasaan, membalas perlakuan itu, seakan menganggap Haidar adalah suaminya. keduanya kembali tenggelam dalam pertemuan bibir itu.
akhirnya Haidar sadar sendiri dan menarik wajahnya. ditatapinya Aisyah dengan lembut. "Maafkan aku... entah apa yang merasuki benakku, setiap aku menatapmu... entah kenapa birahiku selalu menggelora..." pemuda itu melepas pelukannya. "Kau sangat berbeda dengan Mahreen... sangat berbeda..."
Aisyah menunduk dalam posisi membelakangi. "Pak... ***** anda harus segera dihalalkan... sebaiknya, anda segera menikahi Mahreen dan berhenti mengingat saya. hari ini, saya biarkan anda menyentuh saya. saya anggap itu sebagai pembayar utang saya selama ini... jadi, silahkan tinggalkan tempat ini... ini yang terakhir kalinya anda menemuiku dan Sofi."
"Apakah kau akan meninggalkan Buana Asparaga?" pancing Haidar. "Aku susah payah merekomendasikan kamu kepada presdirnya."
Aisyah memutar badan menghadap Haidar. "Saya akan tetap bekerja disana." tandas Aisyah, " Selama anda tak akan mengganggu saya lagi, saya akan tetap bekerja disana... ini agar Sofi tetap bisa bersekolah dan bergaul baik dengan tetangga-tetangganya."
Haidar mengangguk-angguk sejenak lalu berbalik meninggalkan Aisyah sendirian diruangan itu. begitu tubuh pemuda itu menghilang dikegelapan, menyisakan Aisyah yang menumpahkan tangisnya yang sejak tadi ditahannya agar terlihat tegar dihadapan orang lain.[]
__ADS_1