The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 35


__ADS_3

"Menjenguk ayah kita." jawab Haanish sekenanya.


"Apa Kak?" tanya Mahreen sempat kaget dan heran, mengapa Haanish bicara seperti itu.


Haanish menatap Mahreen penuh makna. menjenguk ayah kita, Julia.... ayah kita...



Mahreen merasa risih dengan tatapan pemuda itu langsung meninju lengan Haanish membuat pemuda itu kaget.


"Kakak kenapa sih liat-liat saya begitu? tertarik ya?!" olok Mahreen kemudian menjulurkan lidah. "Sory ya Kak, hati saya hanya untuk Kak Chouji."


Haanish kembali tersenyum. tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Mahreen makin risih. "Ih, Kakak kenapa lagi? mau nangis ya?" tegurnya.


Haanish menggeleng dan memperbaiki lagi hatinya. "Ayo.." ajaknya.


"Tunggu Kak. aku nggak ngerti." panggil Mahreen. "Maksudnya ayah kita itu apa?" todong gadis itu.


"Suatu saat ia akan menjadi ayahmu, Mahreen..." jawab Haanish sekenanya membuat Mahreen tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Iya juga ya?" gumamnya mengakui lalu tersenyum lebar.


Haanish tersenyum lagi. ia mengajak Mahreen untuk mengikutinya. mereka menyusuri pekuburan keluarga Ali. langkah mereka terhenti pada sebuah pohon flamboyan yang sedang mekar.



"Itu makam ayah kita." ujar Haanish menunjuk batang pohon itu. Haanish sengaja menggunakan kalimat ayah kita untuk membiasakan Mahreen mendengar dan akhirnya pasti akan terbiasa mengucapkannya.


Haanish menatap Mahreen. "Dibawah pohon ini terdapat makam Papa... batang pohon ini telah meretakkan pembatas kuburan dan membenamkan batu nisan. Mama kemudian mengukir nama Papa dibatang pohon ini sebagai pengganti nisan." ujarnya mengisyaratkan Mahreen untuk mendekat.


gadis berkerudung itu mendekat dan dapat dengan jelas melihat sebuah nama terpatri dibatang pohon itu. jemarinya terjulur menyentuh batang pohon itu. namun sebuah perasaan aneh menjalari benak gadis itu.


perasaan apa ini? mengapa aku tiba-tiba merasa begitu dekat dengan tempat ini?


Haanish tersenyum namun matanya sudah tergenangi oleh air mata yang siap dimuntahkan ketika kelopak mata tak mampu membendunginya.


"Bisakah kau memeluk batang pohon itu?" pinta Haanish. "Seakan kau memeluk ayahmu..."


Mahreen heran mengapa juga ia mengikuti permintaan Haanish. dan entah kenapa, ketika ia memeluk batang pohon itu, semilir angin menghembus menyapu wajahnya bagai ruas-ruas jemari yang mengusap-usap wajah gadis itu. dibelakangnya Haanish memejamkan mata dan tersenyum dalam tangisnya. ia mengembangkan tangan.


Papa... kulaksanakan tugasku, membawa putrimu kepadamu. maafkan jika dia belum mengenalmu... suatu saat ia akan menerima kenyataan ini....


Mahreen merasakan aura kedamaian saat dia memeluk batang pohon tersebut. lama ia terdiam dalam kegiatannya itu hingga akhirnya ia melepaskannya kembali dan menemukan Haanish sedang merentangkan tangan menengadahkan telapak tangannya ke atas seakan ia sedang berdoa mirip gaya Nabi Musa yang meminta lautam dibelah.


"Kak Eiji lagi ngapain?" tanya Mahreen.


Haanish membuka mata dan menyadari tatapan heran gadis itu terhujam ke matanya. buru-buru ia menurunkan tangan dan tersenyum.


"Aku meresapi udara dingin yang bertiup." kilah Haanish. ia mengajak Mahreen meninggalkan tempat itu. maghrib mulai menjelang dan Mahreen merasa bergidik menatapi suasana pemakaman yang sunyi. ia berjalan mendahului Haanish meninggalkan pemakaman itu.


Haanish menatap sejenak kearah batang pohon itu dan tersenyum sambil menyeka airmatanya.


maafkan aku Pa.... suatu saat nanti, Mama akan mengatakan semua kebenaran ini pada mereka berdua. untuk saat ini, aku sudah sangat bersyukur, ia datang memelukmu.... aku permisi dulu Papa... selamat tinggal...


Haanish berbalik meninggalkan pemakaman tersebut diiringi oleh hembusan angin senja yang menggidikkan tengkuk.


...*******...



sudah empat hari, Denada Wie disekap dalam gudang itu. ia memang tetap diberikan pelayanan berupa makanan dan minuman. namun, kebebasan yang terampas membuat Denada tak memiliki selera makan lagi. tubuhnya mulai kurus dan sebuah garis hitam membayang dibawah kelopak matanya.


Haanish tak pernah tahu, kekasihnya dikurung, selain untuk mencegah bertemunya Denada dengan Haanish, juga esoknya, akan dilaksanakan upacara Dingjing*) antara dua keluarga pengusaha tersebut.

__ADS_1


*) dingjing \= pelamaran. ding hun \= penetapan tanggal nikah.



hari yang ditunggu itu kini tiba. hari ini tepat pukul 09.00, keluarga Wie menerima kunjungan Keluarga Tanuwirdja. kepala keluarga Tanuwirdja, Suwirya ( Tan Pu yi), menyambangi langsung sambil membawa putranya, Widjaya (Tan Chen Tung). mereka disambut langsung oleh Johanes Wie dan Jaques Wie.


Wijaya mencari-cari keberadaan Denada. Jaques yang menyadari hal itu langsung menggandeng pemuda tersebut. "Jangan kuatir, adikku pasti datang menyambangimu." godanya membuat Wijaya tertawa.


mereka kemudian duduk bersama diruang utama. Suwirya Tanuwirdja menyerahkan sebuah bingkisan kepada Johanes Wie. "Sebagai pengakuan kepada calon mertua." ujarnya disambut tawa senang oleh Johanes Wie.


"Anda sangat menghargai kami." sambut Johanes Wie.


lelaki itu mengisyaratkan kepada Jaques untuk membawa Denada ke ruang pertemuan. Jaques mengangguk lalu pergi menuju gudang. disana ia menemukan gudang dijaga oleh para centeng bersenjata golok.


"Buka pintunya." perintah Jaques.


kedua pengawal itu mengangguk. salah satunya maju membuka pintu gudang. Jaques masuk dikawal salah satu pengawal itu. ia menemukan Denada sedang duduk dengan posisi kaki dirantai.


"Aanchi..." panggil Jaques menyebut nama tionghoa gadis itu.


Denada mengangkat wajah menatap sang kakak. Jaques menarik napas panjang lalu berkata, "Calon suamimu sudah tiba. A Thia menyuruhku membawamu untuk menemui mereka. nah persiapkan dirimu."


Denada memejamkan matanya sejenak lalu mengangguk-angguk pelan. Jaques tersenyum senang. selama empat hari ini, sang adik rupanya mulai luntur semangat perlawanannya. ia sudah mulai menyadari bahwa kekuatan materi diatas segalanya. cinta hanya akan ada saat pernikahan.


Jaques memerintahkan pengawalnya melepaskan rantai yang membelenggu pergelangan kaki gadis itu. setelah itu Jaques membawa Denada menuju kamarnya untuk dirias. gadis itu menatap sang kakak.


"Bisakah aku memperoleh fasilitasku sehari ini?" tanya Denada dengan lembut.


"Tentu saja." jawab Jaques. lelaki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan gawai milik Denada. "Kamu tahu? aku memeriksa semua pesan masuk. tak sedikitpun kekasihmu itu menghubungimu minimal pakai pesan singkat." ujarnya dengan senyum angkuh. "Itu artinya, kekasihmu itu tak mau memperjuangkan cinta kalian berdua."


"Aku tak akan mengejarnya lagi." ujar Denada dengan datar sambil mengulurkan tangan meminta gawai miliknya. "Kakak nggak usah kuatir."


Jaques mengangguk-angguk lalu tersenyum. "Baik. kutunggu kamu diluar. berdandanlah yang menarik. calon mantu keluarga Tan, harus berpenampilan anggun."


...******...


Haanish baru saja keluar dari kamar mandi saat gawainya yang tergeletak di nakas bergetar. ia mengambil benda itu dan melihat layar.


...S. M. S....


kedua mata Haanish melebar melihat tiga abjad pada layar gawainya. rahangnya mengencang. sialan! rupanya selama ini Denada dalam sekapan keluarganya! aku harus menolongnya!


pemuda itu hanya berdandan sekenanya. lalu bergegas menuruni tangga menuju lantai satu. disana, bahkan ia tak perduli saat melewati Salman, Haidar dan Aisyah yang sedang berkumpul di meja pantry.


"Woy, nggak sarapan kamu?" seru Haidar.


"Nggak! ini lagi gawat!" jawab Haanish yang sudah melangkah menuju pintu dan membukanya. Salman dan Haidar saling pandang.


"Maksudnya apa?" desis Salman menautkan alis.


lama Haidar diam memikirkan ucapan adiknya, hingga akhirnya ia terhenyak dan menatap Salman. "Astaga! gawat! pasti Denada sedang dilamar orang!"


buru-buru Haidar bangkit hendak pergi. Aisyah memanggil. "Denada itu siapa?" tanya jilbaber itu.


ditangga, Haidar menjawab, "Pacarnya Haanish!" serunya sambil berlari. tak berapa lama ia melongokkan kepala sedikit ke bawah. "Attar! ikut denganku ke Kondominium Bali Raisindo! kita harus mencegah Haanish mengamuk disana!" serunya setelah itu ia menghilang ke lantai atas.


sementara diluar, Haanish langsung menstarter sepeda motor gedenya dan langsung menarik gas melaju menyusuri jalanan malam itu. ia tak memperdulikan sekitar. tujuannya hanyalah bagaimana bisa sampai tepat sebelum dinghun dinyatakan. kendaraan roda dua itu beberapa kali menyalip kendaraan lain dan mengakibatkan tersemburnya sumpah serapah para pengendara lain yang terkejut oleh tingkah Haanish yang ugal-ugalan itu.


ia akhirnya tiba di kompleks kondominium Bali Rasaindo. beberapa jarak dari rumah kediaman Wie, nampak kendaraan-kendaraan mewah berjejer. itu pasti para pengiring keluarga Tanuwirdja yang sedang melakukan acara dingjing.


Haanish sengaja memarkir kendaraannya agak jauh. ia kemudian berjalan mendekati rumah kediaman Wie. sesampainya disana, pemuda itu disambut pengawal.


"Ada yang bisa saya bantu, dik?" tanya salah satu pengawal dengan nada datar.

__ADS_1


Haanish tersenyum, "Saya ingin bertemu Denada Wie. bisa saya dipersilahkan masuk?"


kedua pengawal itu saling pandang. satunya maju dan bertanya lagi. "Kamu mau apa? sekarang ini sedang berlangsung kegiatan lamaran dan penetapan tanggal pernikahan."


"Saya datang untuk menghentikan acara itu." ujar Haanish membuat kedua pengawal itu kaget dan menggeram seketika sambil bersiaga menghunus golok.


"Kurang ajar! berarti kau datang mencari gara-gara?!" seru salah satu pengawal.


"Terserah padamu. yang jelas, aku mau membawa Denada bersamaku!" jawab Haanish dengan ketus.


diiringi sebuah pekikan keras, pengawal itu maju mengayunkan golok. Haanish dengan refleks mundur selangkah dan golok itu hanya lewat beberapa senti dari wajah Haanish.


melihat serangannya meleset, si pengawal menggeram marah dan sekali lagi mengayunkan golok. namun kalinini Haanish tak menghindar. ia menangkap lengan pengawal itu dan memuntirnya.


pengawal itu merintih dan golok terlepas dari jemarinya. Haanish menghujamkan tendangan kikomi geri menghantam area rusuk atas nyaris ketiak membuat pengawal itu tersentak dan rubuh tak berkutik lagi.


pengawal satunya maju lagi mengayunkan golok. Haanish dengan geram mengayunkan teknik naiwan shuto uke menghantam lengan dalam pengawal itu dan menyusulnya dengan mencengkram lalu Haanish melakukan bantingan fumikiri hingga pengawal itu terjengkang dan sekali lagi hujaman mae chudan tsuki menghantam ulu hati pengawal itu membuatnya langsung tepar.


Haanish berdiri tegak mengawasi dua pengawal yang tak sadarkan diri. tak lama kemudian, muncul lagi puluhan pengawal bersenjatakan golok. Haanish menggeram lagi.


"Sini! kemari kalian semua!" seru Haanish melambaikan jemarinya memancing sekaligus menghasut para pengawal itu agar maju menghadapinya.


...*******...


Denada benar-benar terlihat cantik mengenakan ceongsam tanpa lengan namun terusan ke bawahnya panjang hingga ke betis, membelah sedikit mengintip pahanya yang putih. ia mengenakan hiasan rambut yang membuatnya tampil bagai bintang-bintang film glamour jaman dulu.


gadis itu diapit oleh Johanes Wie dikiri, dan Suriyati Wang dikanannya. sedang Jaques duduk agak jauh dari mereka. dihadapannya duduklah Wijaya Tanuwirdja mengenakan kemeja cangsan dengan bordiran unik. sedang sang ayah mengenakan jubah labuh hitam dengan bordiran ular naga di bagian dada kirinya. hal yang wajar sebab Suwirya adalah salah satu dari anggota asosiasi wirausahawan tionghoa-Indonesia yang disponsori oleh kelompok elit yang disebut Sembilan Naga.


Wijaya menatap kagum dan suka kepada Denada yang paling banyak menunduk itu. Suwirya kemudian menatap Johanes.


"Saudara Wie... kurasa, kita sudah saling sepakat bahwa kedua anak kita akan melakukan pernikahan. jadi, kami membawakan sangjit sebagai tanda lamaran ini sudah direstui." ujar Suwirya dengan senyum senang.


"Kakak Tan, jangan terlalu merendah diri." jawab Johanes Wie berbasa-basi. "Kami menerima apa saja yang Kakak berikan untuk keluarga ini."


keduanya tertawa bersama. Suwirya mengisyaratkan kepada pengiringnya untuk membawa 20 baki sangjit dengan turupan kain berwarna merah. keduapuluh baki itu dihamparkan di meja dihadapan keluarga Wie. melotot benar mata Johanes dan Jaques melihat barang-barang begitu mewah yang berada dalam baki itu.


"Bagaimana? kalian menerimanya?!" pancing Suwirya kemudian menatap putranya Wijaya. sang putra sendiri hanya tersenyum melihat sang ayah memamerkan kekayaannya.


"Tentu! tentu saja kami setuju dengan ini." ujar Johanes Wie. Suwirya kemudian menatap kedua orang tua itu. "Berarti sekarang kita akan menentukan tanggal pernikahannya. bagaimana kalau kita tentukan dua minggu kedepan ini?"


Johanes Wie tanpa sungkan langsung mengangguk setuju lalu mendesak istrinya untuk ikut mengangguk pula. Denada hanya menunduk saja.


Suwirya menatap Denada. "Kalau menurut nak Aanchi, kapan kau ingin dinikahi Chen Tung?" pancing Suwirya.


Denada menghela napas panjang. tubuhnya terus saja disenggol oleh sang ibu supaya cepat menjawab. Denada akhirnya mengangkat wajah menatap Suwirya.


"Saya menyerahkan sepenuhnya kepada..." ujar Denada.


namun ucapan itu tak berlanjut sebab terjadi hiruk pikuk yang membuat acara lamaran itu jadi kacau balau. seorang pengawal menghambur kedalam. Suwirya terkejut melihat penampilan pengawal itu yang sudah awut-awutan.


"Siapa yang mengacaukan acara ini?!" hardik Johanes Wie dengan murka sambil berdiri.


"Seorang pemuda mengamuk dihalaman. dia sudah merobohkan delapan belas pengawal, pak!" seru pengawal yang bonyok itu.


dengan geram, Johanes Wie melangkah keluar disusul oleh Jaques, Suwirya dan Wijaya. adapun Denada ditahan oleh ibunya untuk tetap berada didalam. rombongan pria itu tiba diberanda dan menyaksikan sembilan belas orang pengawal terkapar dengan wajah lebam dan seorang lagi masih dalam penganiayaan pemuda berambut panjang setengkuk itu.


"Berhenti!" seru Johanes Wie.


Haanish menghentikan hujaman tinjunya yang berkali-kali itu diwajah pengawal kedua puluh dan melepaskannya. pengawal itu paling sial karena merasakan semua amarah Haanish.


pemuda itu berbalik perlahan dan menatap rombongan pria yang memandangnya. Haanish menatapi mereka satu persatu dan tatapan paling menghujam dirasakannya adalah tatapan Wijaya Tanoewirdja.


"Kenapa kau berbuat kekacauan disini, anak muda?!" tanya Suwirya Tanuwirdja dengan datar namun berwibawa. Haanish sangat merasakan pancaran chi yang terpompa melalui khikang yang dibuatnya.

__ADS_1


"Aku datang untuk melakukan khitbah kepada Denada Wie!" jawab Haanish juga dengan datar dan tenang, memancarkan ki miliknya, menekan intimidasi chi yang dipancarkan Suwirya.[]


__ADS_2