The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 20


__ADS_3

Haanish mengerutkan alisnya. "Apa?"


gadis bermukena itu mengulang lagi. "Namaku, Marissa Williams." sebutnya. melihat Haanish tetap menatapinya dengan tatapan sangsi, gadis bermukena itu menghela napas lalu menyambung lagi. "Aku anak bungsu dari keluarga Williams."


Haanish masih juga menatapnya dengan tatapan ragu. wajah cantik bermukena itu akhirnya mendengus lalu bangkit dan hendak pergi. Haanish langsung menahan pergelangan tangan gadis itu membuat dirinya limbung dan jatuh dipangkuan Haanish. pemuda itu langsung mengangkat tangannya.


"Ups... gomennasai..." ujarnya.


Marissa tersipu, tepat pada saat itu pintu terbuka dan masuklah Airina, Marina dan Marinka. seketika Haanish langsung menegapkan duduknya dan mengangkat tangan.


sumpah Bibi, aku nggak punya maksud apa-apa. anak ini tiba-tiba masuk dan membuatku kebingungan.


Airina memicingkan mata kemudian menatap putri bungsunya dengan tajam. Marissa hanya tersenyum-senyum saja membuat wanita parobaya itu terpaksa geleng-geleng kepala. tak lama kemudian terdengar suara adzan. Airina menghela napas.


"Eiji... pergilah temani pamanmu sholat subuh." perintah Airina.


Haanish langsung bangkit. "Baik Bi... saya berangkat sekarang." ujar pemuda itu kemudian mengambil sejadah dan melangkah keluar kamar. Marina dan Marinka juga ikut menyusul Haanish.


sepeninggal mereka, Airina mendatangi putri bungsunya. wanita parobaya itu kemudian duduk dengan gaya zarei dihadapan Marissa.


"Sudah tahu kesalahanmu?" pancing Airina.


Marissa menunduk sebentar lalu menatap ibunya dan mengangguk-angguk tenang. Airina mendesah dan menghela napas lagi.


"Bukankah merupakan hal yang terlarang ketika seorang wanita dan lelaki berada dalam satu ruangan?" pancing Airina lagi.


"Tapi kami berdua kan mahram, Umi." tangkis Marissa dengan senyum sambil melipat kedua tangannya didada.


"Tapi lagakmu itu bukan memperlihatkan ciri-ciri seorang mahram bagi Haanish, Issha." balas Airina dengan lembut tapi tajam. mata Marissa membesar.


"Umi kelihatannya salah paham nih." tukas Marissa. "Tadi itu kami bukan main peluk-pelukan kok." kilahnya, "Tadi itu Issha sedang memperkenalkan diri sama Uda. terus Uda mengira Issha tu jin, sebab tiba-tiba muncul tanpa ditahu. Issha kesal karena Uda nggak percaya kalau Issha ini benar-benar Issha, makanya Issha kesal hendak pergi langsung ditahan sama Uda kebanting deh jatuh ditubuhnya. begitu!"


Airina menatap dalam ketatapan Marissa kepadanya. ibu itu paham kemudian sang anak tak berdusta. Airina kembali mengangkat alis dan menghela napas.


"Lain kali, kalau mau introducting, jangan pake cara kontoversial begitu dong." tegur Airina, "Umi kan jadi mikirnya yang nggak-nggak."


"Aghfir liabnatik ya umiy..." ujarnya pelan sambil menunduk.


Airina tersenyum lalu mengulurkan kedua tangannya meraih dan membawa Marissa ke pelukannya. diusap-usapnya punggung anak gadisnya dengan lembut. "Sekali ini, Umi maafkan. selanjutnya, Umi nggak akan memberi ampun lagi. paham?"


Marissa melepaskan pelukan ibunya. "Aku paham, Umi."


"Bagus." respon Airina kemudian mengangguk, "Sekarang pergilah ke ruang tengah. kakak-kakakmu sudah menunggu disana untuk sholat subuh."


...******...


seperti perintah bibinya, Haanish menemani Akram melaksanakan sholat subuh di masjid terdekat dengan kediaman Williams. keberadaan Haanish sedikit menarik perhatian. pasalnya wajahnya terlalu asing bagi para warga lokal.


"Ini keponakan saya, namanya Haanish Hermawan Lasantu." ujar Akram memperkenalkan Haanish kepada beberapa orang yang hadir di masjid itu.


"Ooh... jadi, ini keponakan dari Nyonya Airina?" tebak salah satu jamaah.


"Salam kenal semuanya." jawab Haanish yang tiba-tiba langsung membungkuk sedalam 45 derajat membuat para jamaah jadi bingung dan ribut.


Akram tertawa, menenangkan para jamaah. "Anak ini kan peranakan jepang. jadi gayanya nggak berubah."


para jamaah mengangguk-angguk lagi membuat Haanish menjadi canggung dan berharap sesi perkenalan itu akan segera berakhir. untunglah seruan iqamat berkumandang membuat para jamaah langsung buyar dan berbaris membentuk shaf-shaf. Haanish memutuskan mengambil shaf dibelakang. rencananya, begitu selesai ritual salam, ia akan langsung menghilang saja.


...*****...


Haidar melaksanakan sholat subuh dengan khusyu' di kamarnya. gerakan-gerakan sholatnya tenang, penuh thuma'ninah. pemuda itu menyelesaikan ritual terakhir dalam sholat, yaitu salam. setelah itu ia duduk bersila.


Haidar mulai melantunkan dzikir-dzikir hingga ucapan yang ke sembilan puluh sembilan setelah itu ia mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk-Mu. wahai pemilik alam semesta, tiada syarikat bagi-Mu. untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah yang pertama-tama berserah diri... Ya Allah, tunjukilah aku kepada perbuatan yang baik, dan akhlak yang baik, tiada yang dapat memberi petunjuk kepada perbuatan dan akhlak yang baik selain Engkau juga. hindarkanlah aku dari perbuatan dan akhlak yang buruk. tiada yang mampu menghindarkanku dari perbuatan dan akhlak yang buruk itu selain Engkau jua.... Ya Allah, hanya kepada-Mu, aku ruku' dan hanya kepada-Mu aku percaya, menyerah, tawakkal... ampunilah aku dari apa yang telah kulakukan dan dari apa yang belum kulakukan... ampunilah aku dari apa yang kurahasiakan dan dari apa yang kulakukan secara terang-terangan.... Engkau mengetahui diriku lebih dari diriku sendiri... tiada yang paling benar... kecuali Engkau saja, Ya... Allah...."


Haidar kemudian membaca doa penutup setelah itu mengusap kedua tangannya ke wajahnya. Haidar menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan lalu berdiri dan mengemasi sajadahnya, meletakkan benda itu di nakas setelah melipatnya dengan apik. Haidar meraih kitab Al-Qur'an kecil disisi nakas itu dan menyimpannya dalam saku kemeja.



pemuda itu, masih mengenakan sarung, kemeja dan pecinya keluar dari kamar dan melangkah menuju beranda tingkat dua. pemuda itu membelok ke sudut dimana terdapat sebuah kursi gantung. ia mengeluarkan Al-Qur'an kecil dari sakunya dan mulai membuka kitab itu kemudian mendarasnya dari ayat dalam surah yang terakhir kali dibacanya.


lantunan tilawah pemuda itu terdengar merdu. lama juga Haidar tenggelam dalam aktifitasnya mendaras Al-Qur'an tersebut hingga akhirnya waktu tanpa terasa telah memasuki pukul 06.25 pagi. nampak mentari telah muncul dari balik punggung pegunungan bagian timur.


Haidar menghentikan kegiatan tilawah nya kemudian bangkit masuk lagi ke kamarnya. pemuda itu kemudian melangkah menuju kamar mandi dan mulai melakukan pembersihan diri menggunakan air hangat.


ini adalah hari sabtu. satu dari sekian hari yang bebas dimana ia tak perlu masuk kantor. sayangnya, Bik Inah sedang mudik untuk sementara waktu membantu kerabatnya yang melaksanakan hajatan. entah hajatan apa. Haidar hanya menitipkan uang segepok-dua gepok untuk keperluan Bik Inah dikampungnya sekalian sumbangan untuk hajatan tersebut.


kediaman itu serasa sunyi. Haanish sudah sehari berada di Padang memenuhi tugas yang diembankan sang ibu. Haidar pun tak tahu jenis tugas macam apa yang dilaksanakan Haanish tersebut. keduanya terkesan merahasiakannya dari pemuda itu.


Salman sejak subuh buta mendapat panggilan langsung dari satuan tugasnya. salah satu intel memberitahu tempat persembunyian target buruan mereka. Salman adalah salah satu dari sekian opsir yang paling ditakuti para preman karena penampilannya yang pendiam dijalanan namun ringan memukul jika sedikit saja ada kesalahan.


terdengar bunyi gawai dalam saku celana yang tergeletak ditepi ranjang. Masih mengenakan handuk, Haidar buru-buru keluar mengaktifkan panggilan tersebut.


📲 "Dengan pelanggan nomor 033543A1?" sapa suara itu.


Haidar langsung mengenalnya. itu adalah kode pesanan dari barang yang dipesannya semalam.


📲 "Ya, dengan 033543A1 disini." jawab Haidar.


📲 "Pesanan anda sebentar lagi tiba dalam sepuluh menit. mohon di cek kembali barang kiriman sebelum memberikan rating pelanggan." sahut suara itu.


📲 "Baik. saya tunggu pesanannya." jawab Haidar kemudian menutup pembicaraan seluler tersebut. ia meletakkan gawai itu kembali di ranjang dan Haidar berganti pakaian.


pemuda itu mengenakan celana sarung bermotif khas gorontalo dengan kaos merah marun bermerek gucci. terdengar dentangan bel. Haidar buru-buru menyemprotkan pengharum tubuh ke dirinya lalu berlari pelan keluar kamar. bergegas pemuda itu menuruni tangga menuju lantai satu.


"Tunggu sebentar..." serunya melangkah cepat menuju pintu dan membukanya.


"Kau..." seru keduanya bersamaan.


Haidar benar-benar kaget mengetahui kurir pengantar pesanannya adalah Aisyah Tilahunga. wanita itu juga tak kalah kaget ketika mengetahui kediaman tempat dirinya mengantarkan pesanan adalah milik Haidar.


Aisyah yang gugup cepat-cepat mengulurkan paket kepada Haidar dan langsung berbalik setengah berlari menuju otopednya.


"Eh, tunggu!!!" seru Haidar memanggil, "Bayarannya! kau lupa mengambil bayarannya!!"


namun seakan tak mendengar, atau memang pura-pura tuli, Aisyah Tilahunga langsung melarikan otoped meninggalkan kediaman itu. Haidar berdecak kesal.


ah, ini sama saja ia menghutangiku!!!


dengan jengkel, Haidar masuk kembali kedalam dan meletakkan paket di meja pantry. ia kemudian mengeluarkan gawai dan menelepon kantor kurir tersebut.


📲 "Halo? dengan pimpinan perusahaan kurir DRG?" sapa Haidar.


📲 "Benar, saya sendiri." jawab orang itu.


📲 "Kau punya pegawai bernama..." Haidar berupaya mengingat-ngingat lagi wajah Aisyah, ".... Aisyah Tilahunga?"


📲 "Ya, benar. ada keluhan tentang pelayanan kami?" tanya orang itu.


📲 "Dia lupa mengambil bayarannya. tolong hubungi kembali dia untuk mengambil bayarannya yang tertinggal." ujar Haidar kemudian mematikan kembali panggilan gawainya.


Haidar kemudian membuka paket tersebut dan mengeluarkan sebuah rantang makanan bersusun-susun berisi nasi, lauk ikan bilendango, sayur putungo, dan sekumpulan kue popolulu.


sementara melafadzkan doaadab makan, Haidar menghampar semua rantang itu di meja dan ia mengambil piring dan sendok lalu mulai menyendok nasi dari rantang ke piringnya, kemudian menyendok sekerat ikan bilendango dan menumpahkan sedikit sayur putungo ke hamparan nasi tersebut kemudian mulai memakannya.


tak lama dalam suapan ketiga, terdengar bunyi dentangan bel. Haidar meletakkan piring dan bangkit lalu melangkah ke pintu. ia membukanya.

__ADS_1


"Maaf, aku kelupaan, sebab buru-buru mengantarkan pesanan lain." ujar Aisyah berkilah menutupi kegugupannya.


"Masuk dulu." ajak Haidar.


"Maaf, tapi saya..." tolak Aisyah yang tanpa sempat meneruskan kalimatnya, keburu ditarik masuk oleh Haidar ke dalam bangunan.


pemuda itu menutup pintu lalu berbalik menuju pantry. Aisyah hendak menggapai gagang pintu ketika terdengar suara pemuda itu, "Nggak usah sok mau kabur. pintu itu dipasangi pengaman anti maling. sekali tertutup, tak bisa membuka kecuali aku atau orang-orang berkepentingan yang bisa membukanya kembali."


Aisyah langsung pias wajahnya. dengan cemas ia menggoncang-goncangkan gagang itu. namun tetap saja percuma. Haidar telah kembali duduk dan menikmati makanan paginya.


Aisyah terpaksa hanya berdiri saja didepan pintu itu. Haidar memanggilnya tanpa menoleh.


"Kemarilah, temani aku makan." ajak Haidar dengan cuek.


"Maaf Pak. tapi saya buru-buru." tolak Aisyah dengan kecemasan yang disembunyikannya.


merasa kesal, Haidar kembali menghubungi perusahaan kurir dimana Aisyah bekerja. terdengar jawaban panggilan.


📲 "Ya, ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya suara operator tersebut.


📲 "Pegawai anda ada disini sekarang. apakah pegawai bernama Aisyah ini punya beberapa job kurir lain?" selidik Haidar.


📲 "Untuk saat ini, baru job kurir ke anda saja pak. dia belum menerima job lain." jawab operator tersebut.


Haidar sejenak mengerling kepada Aisyah yang semakin cemas karena kebohongannya terbongkar. pemuda itu mengencangkan rahang sejenak memperlihatkan wajah muntab yang makin membuat Aisyah takut. Haidar kembali menghubungi operator itu.


📲 "Untuk saat ini, saya akan menggunakan jasa pegawai anda ini seharian. saya akan mengganti biaya operasionalnya. apakah sepuluh juta sudah cukup?" pancing Haidar.


📲 "Lebih dari cukup, pak. silahkan." jawab operator itu.


📲 " Terima kasih." sahut Haidar kemudian menutup dialog seluler itu kemudian menatap Aisyah yang berdiri terpaku di pintu.


tangan Haidar terangkat dan melambai memanggil Aisyah agar mendekat. dengan takut-takut, wanita itu melangkah mendekati hingga akhirnya berdiri disisi meja pantry.


"Duduk..." suruh Haidar dengan datar dan berat.


Aisyah mengikuti perintah pemuda itu. ia duduk diseberang Haidar. pemuda itu menunjuk semua rantang yang tersebar di meja.


"Kau harus menghabiskan semua isi rantang ini sekarang." perintah Haidar.


"Tapi saya masih kenyang, Pak." tolak Aisyah.


KURURURNYUNYUKKRUNYUK....


bunyi geraman dalam perut Aisyah sekali lagi memberitahu Haidar bahwa wanita itu berbohong lagi demi menyelamatkan gengsinya. wajah pemuda itu mengencang membuat Aisyah tak berani lagi menantang wajah Haidar yang mengisyaratkan kemurkaan. lelaki itu memang membenci para pembohong.


"Kau sudah banyak berbohong kepadaku." tukas Haidar dengan kesal. "Aku tak akan peraturan lagi jika kau banyak kilah. ambil piring dan temani aku makan!" sergah Haidar.


kali ini Aisyah benar-benar berada dibawah takluk. wanita itu langsung berdiri dan berlari menuju rak piring, mengambil piring dan sendok kemudian kembali ke meja pantry dan menyendok satu persatu lauk dan sayur serta nasi kedalam piring dan mulai memakannya.


tanpa Aisyah sadari, sesungging senyum datar terbit dibibir pemuda itu saat ia melihat wanita itu makan dan mulai menikmati makanannya. keduanya makan hingga tanpa sadar mereka menghabiskan isi rantang itu.


Haidar bersendawa kecil dan mengucap tahmid. ia mengambil tisu kertas di kotak dan mengelap bibirnya. Aisyah bangkit mengemasi semua piring dan rantang, membawanya ke wastafel dan mencucinya satu persatu.


Haidar menonton saja dari meja pantry, apa yang dilakukan perempuan itu. sampai akhirnya Aisyah menyelesaikan pekerjaannya dan berbalik kemudian tertegun menyaksikan tatapan Haidar yang begitu dalam padanya.


"Pak..." panggil Aisyah menyadarkan Haidar. pemuda itu terhenyak sesaat dan langsung memperbaiki sikapnya.


"Tunggu sebentar." ujar Haidar mengambil gawai dan membuka aplikasi kemudian menaikkan rating Aisyah ke yang paling tinggi. tak lama kemudian ia mentransfer uang ke rekening Aisyah.


terdengar bunyi notifikasi dan Aisyah membuka aplikasi. ia terperangah mendapati ratingnya mencapai tingkat paling tinggi dari semua pegawai kurir diperusahaan itu, ditambah nominal uang sepuluh juta lebih delapan ratusan ribu, masuk ke rekening operasional perusahaan tersebut.


"Aku sudah membayar semua biaya operasional dan pendapatanmu selama sehari." ujar Haidar. "Jadi, sehari ini kau tak boleh kemana-mana, melainkan selalu bersamaku." sambung pemuda itu dengan sikap yang arogan.[]

__ADS_1


__ADS_2