
Mahreen terbaring pingsan dikamar milik Marina. gadis itu semaput yang mendengar berita tentang pembantaian keluarga Nurmagonegov oleh kelompok tak dikenal dari mulut Mikail Usmanov. ia dijagai oleh Inayah yang terus membarut kepala gadis rusia yang sementara syok itu.
sementara Haanish berdiri dipintu didampingi Marissa. Haidar berdiri dibelakang Inayah menatap Mahreen dengan wajah membesi.
sementara diluar, Syafira sekeluarga meminta penjelasan kepada Mikail tentang pingsannya Mahreen Nurmagonegov. investor asal Rusia itu menjelaskan sepengetahuannya. Marina juga menjelaskan hal yang sama sedangkan Akram dan Airina sesekali menambahkan.
Salman berdiri melipat tangannya kedada sedang disisinya Callista menyandarkan kepalanya dibahu kekar opsir tersebut. gadis itu terisak seakan simpati dengan penderitaan sahabatnya itu.
sementara didalam kamar, Haidar menghembuskan napas dengan kasar lalu mengerling menatap Haanish.
"Jelaskan padaku, Eiji..." pinta Haidar. "Apa benar berita tersebut?"
Haanish menghela napas lalu mengangguk-angguk. "Ya... itu benar..." jawabnya dengan pelan.
"Apakah kepergianmu bersama Marina ke Rusia, untuk menyelidiki asal-usul Mahreen?" tebak Haidar.
Haanish tidak menjawab. Inayah yang mengangguk. "Ya, Mama yang menyuruh Eiji ke Rusia untuk menyelidiki identitas Mahreen. ia menyandang marga Nurmagonegov. nama keluarga yang pernah disinggung almarhum ayah kalian bahwa keluarga itu sangat dekat dengannya."
"Jadi?" tuntut Haidar.
"Mama bermaksud kembali menjalin tali silaturrahim dengan keluarga itu. bagaimanapun mereka pernah hidup bwrsama dengan ayahmu di Rusia saat itu terjebak dalam jaringan klan Naga Hitam dan Nasyarakat Sungai Amur di Komsomolsk." ujar Inayah.
Haidar membuang napas lagi. "Mama dan Eiji mulai bermain dibelakangku." tukasnya. "Kalian dulunya tak begini terhadapku. apakah karena aku mencintai Mahreen?"
Inayah berdiri lalu menatap Haidar. "Nak... ada satu rahasia besar antara kalian bertiga yang Mama simpan hingga saat ini. Mama akan mengatakannya nanti di kediaman Ali. kuharap, kau akan tabah dan menerima takdir yang menyelimuti keluarga kita."
"Mama jangan bicara berbelit-belit! katakan saja disini, Ma." pinta Haidar dengan memelas.
Inayah tersenyum lalu membelai rahang putranya. "Ini adalah rahasia keluarga kita, nak. tidak etis... tak pantas dibicarakan disini." ujar wanita parobaya tersebut.
Haidar mengencangkan rahangnya kembali dan ditatapinya Haanish. "Eiji... jika Mahreen terguncang karena ini. kau harus bertanggung jawab." tukasnya.
"Bro. bagaimanapun nantinya Mahreen akan mengetahui kebenaran apakah itu cepat, atau lambat. apakah kebenaran itu tersampaikan lewat mulut aku atau Mama atau justru tersampaikan lewat lisan dari Mikail Usmanov. ini takdir Chouji... kau tidak bisa menyalahkan takdir." kilah Haanish.
"Dan kenapa mereka bisa terbunuh?!" todong Haidar.
"Mana kutahu? memangnya aku mendapati mereka dibunuh? aku saja nyaris terbunuh saat mencari berita tentang keluarga Nurmagonegov." ujar Haanish membela diri dan maju hingga ke hadapan Haidar. "Kelompok itu adalah Dracna, kau tahu, kan mereka? kita pernah mengalahkan mereka di pesta aqiqahnya Marinka! mereka membunuh Jabir dan Sarah, lalu menyekap Miriam di Benteng Naryn Kala, menyiksanya disana untuk mencari keberadaan Mahreen."
"Teruskan!" desak Haidar seraya bercakak pinggang.
"Aku bahkan bertarung secara langsung dengan Nikolai Basarab... dia anaknya Sergey Basarab, orang yang Papa bunuh dalam perang tanding di Benteng Poenari. pertarungan diantara kami terhenti tanpa ada yang memenangkannya. aku berhasil melepaskan Miriam tapi nyawa gadis itu tak tertolong. dia tewas karena luka siksaan."
"Teruskan!" desak Haidar lagi.
"Maaf, aku nggak bisa! Mama melarangku untuk itu." jawab Haanish.
Haidar langsung maju mencengkeram kemeja pengantin adiknya. "Katakan, atau kau kumampuskan disini?!" ancamnya.
"Hei, jangan berani-beraninya menyentuh suamiku!" hardik Marissa yang berang.
Haidar menatap Marissa dengan tatapan garang. dan sekali lagi kedua matanya memendarkan cahaya kekuningan. ditudingnya perempuan itu.
"Kamu... sebaiknya diam dan jangan ikut campur! aku tak segan untuk.." ancam Haidar dengan suara berat.
"Untuk apa?!" tantang Haanish. "Untuk menghabisi kami berdua?" Haanish kemudian tertawa keras dan setelah itu wajahnya membesi menatap Haidar sambil terkekeh. "Kau pikir dengan membunuhku, maka urusanmu selesai?! picik kau!!!" umpat Haanish.
"Eiji!!!" sergah Haidar.
"Tak perlu kau urusi Mahreen, Chouji... anak itu adalah tanggung jawab Mama... bukan kamu!" Haanish kemudian mendekat dan berkata lirih. "Urusi saja Aisyah... dia lebih layak dari pada Mahreen."
"Kau!!!" sergah Haidar mengayunkan tinjunya hendak menghantam wajah Haanish. namun dengan cepat Inayah maju memperisai Haanish dan menangkap tinju yang diayunkan Haidar.
Haidar tercekat. "Mama?" ujarnya dengan kaget. pendaran cahaya kekuningan dimatanya langsung menghilang.
Inayah memicingkan mata. "Sebegitukah kau terhadap saudara sedarahmu, Chouji? demi seorang gadis bernama Mahreen?"
Haidar menjadi gugup. "T-tidak Mama... m-m-maafkan aku." ujarnya.
Inayah mengibaskan tinju putranya lalu mendekat ke Haidar. "Mama melakukan semua ini untuk menjaga keutuhan keluarga kita! Eiji nggak salah, Chouji! jika kamu mau menyalahkan seseorang, salahkan Mama. salahkan Mama!" seru Inayah. "Mama tak menyangka segini ternyata akhlak kamu ya? tunggulah dirumah, dan kau akan mendengar kebenarannya! bukan disini! PAHAM KAU?!" sergah wanita parobaya tersebut.
hardikan Inayah mengundang Akram dan Airina muncul dikamar itu.
"Ada apa ini?" tanya Airina dengan datar.
Inayah mendekati Airina. "Maafkan Kakak, Yuki... kami sudah membuat gaduh dikediamanmu."
Airina menatap Haanish "Kalian berdua, pergilah ke kamar pengantin. ini adalah malam kalian berdua. nggak boleh ada yang mengganggu." ujar Airina.
"Mama... kami pergi dulu." ujar Haanish. Inayah mengangguk mengiyakan.
Haanish mengajak Marissa meninggalkan kamar itu. Airina menatap Inayah. "Kak, maafkan aku." ujarnya.
Inayah menatap Haidar sejenak lalu berbalik meninggalkan kamar disusul oleh Akram. kini tinggal Inayah dan Haidar yang menemani Mahreen yang sementara pingsan.
__ADS_1
"Nak... beristirahatlah... kau terlalu lelah berpikir." ujar Inayah.
Haidar hanya menghembuskan napas dengan kasar lalu berbalik meninggalkan ruangan. kini tinggal Inayah dikamar itu menjagai Mahreen yang belum bangun dari pingsannya.
...*******...
Haanish dan Marissa benar-benar terganggu malam pertamanya. keduanya tak bisa konsentrasi melakukan kegiatan itu dan lebih memilih tiduran saja sambil peluk-pelukan.
Haanish memeluk Marissa yang menyandarkan tubuhnya ditubuh kekar cutting style pemuda itu. keduanya memilih duduk dibalkon kamar, bersandar pada kursi santai, membiarkan udara malam merayap menuju pagi dan keduanya saling memeluk disana.
"Issha..." panggil Haanish.
"Ya, Uda." jawab Marissa sambil menengadah menatap waajh Haanish yang tetap memandang taman kediaman Williams.
"Aku harap kamu jangan memandang marah kepada Chouji..." ujar Haanish. "Dia hanya sedang mengalami kepanikan disebabkan oleh pingsannya Mahreen dan kebenaran dibalik identitas gadis itu."
"Memang... Mahreen itu siapa, Uda?" tanya Marissa.
"Tak etis aku menjelaskan hal itu disini. biarlah nanti kita akan mendengar apa yang akan Mama kuakkan disana." ujar Haanish.
"Baiklah Uda. selama itu membuat Uda nyaman, Issha nggak akan bertanya apa-apa kok." ujar Marissa. "Yang penting sekarang, Issha sudah resmi jadi istri Uda."
Haanish tersenyum lalu mengecup batok kepala istrinya itu. "Ahhh... istri mungil dan bandelku..." ujarnya, "Aku cinta padamu, Marissa Williams."
Marissa tersenyum lalu membenamkan wajahnya dalam pelukan lelaki itu. ia sepuas mungkin menghirup bau kelelakian pemuda itu agar bisa mengidentifikasi bau tubuh suaminya.
"Nantinya kita berdua akan tinggal di jepang." ujar Haanish.
"Kemanapun Uda melangkah denai akan selalu bersama Uda." tandas Marissa.
"Dalam keadaan apapun dan situasi bagaimanapun?" pancing Haanish.
"Dalam keadaan apapun dan situasi bagaimanapun!" jawab Marissa menandaskan.
"Wadduhhh... sedap benar nih, terus dikawal istri." ujar Haanish sambil mempererat pelukannya.
"Memangnya, Uda kerja apa sih di jepang? apa kita akan tinggal selama-lamanya disana?" tanya Marissa.
"Uda diangkat sebagai kepala keluarga dan klan Hasegawa. kita akan tinggal di Istana Odawara, bekas kediaman keluarga Hojo pada jaman sengoku." jawab Haanish.
"Keluarga Hasegawa secara turun temurun dipercaya kekaisaran jepang sejak era restorasi hingga sekarang sebagai penjaga arsip-arsip negara. jadi kedudukanku mirip-miriplah sama menteri negara." jawab Haanish.
"Wah, hebat dong." puji Marissa. "Berarti denai adalah Nyonya besarnya dong!"
"Tentu saja!" jawab Haanish kemudian tertawa.
keduanya kemudian tertawa-tawa bersama. setelah itu Marissa menatap Haanish dengan senyum dikulum. "Uda, denai boleh tanya sesuatu, nggak?"
Haanish mengangguk. "Silahkan saja. mau tanya apa saja boleh, asal jangan tanya Allah tinggal dimana? itu aku tak tahu." jawab pemuda itu enteng.
Marissa tertawa lagi. "Ih, Uda ini memang lucu dan menggemaskan." gadis itu mencubit hidung Haanish.
"Mau nanya apa?" tanya Haanish.
"Uda masih cinta nggak sama Denada?" pancing Marissa.
"Kenapa nanya hal begitu?" tanya Haanish. "Kamu cemburu?"
Marissa tersenyum saja. Haanish tertawa, "Haaah.... yang begitu ditanya? ya sudah nggak laaaah..."
"Yakin?" tanya Marissa sekali lagi.
Haanish menatap istrinya agak lama lalu mengangguk-angguk. "Istri bandelku... aku paham, tak mudah bagimu menerima hal itu. tapi perlu kau ketahui bahwa Denada itu sudah menjadi milik Wijaya Tanuwirdja. itu tak bisa lagi dirubah." Haanish kemudian mengisyaratkan Marissa untuk mengecup bibirnya. gadis itu mendekatkan wajahnya lalu mengecup pelan bibir suaminya.
Marissa tersenyum lalu bangkit. Haanish menatapnya.
"Mau kemana?" tanya Haanish.
"Ada saja." jawab Marissa melangkah santai ke dalam. tak lama kemudian ia membawa sebuah piranti berbentuk kotak. benda itu diletakkan didepan Haanish.
"Apa ini?" tanya Haanish.
"Audio player." jawab Marissa. "Buatan denai."
"Wah, aku nggak tahu cara mengaktifkannya." ujar Haanish.
Marissa menekan tombol disalah satu sudut benda kotak itu. muncullah layar holografis yang menampilkan deretan lagu-lagu hits dari jaman dulu hingga saat itu. Marissa menyentuh salah satu lagu dalam layar holografis itu dan mengalunlah sebuah lagu tanpa lirik. Marissa mulai melantunkan lirik lagu tersebut.
🎶🎶🎶🎶🎶
jujur saja ku tak mampu
__ADS_1
hilangkan wajahmu di hatiku
meski malam mengganggu
hilangkan senyummu di mataku
kusadari... aku cinta padamu
meski ku bukan yang pertama dihatimu
namun cintaku terbaik untukmu
meski ku bukan bintang dilangit
tapi cintaku yang terbaik....🎶🎶
musik kembali mengalun. Haanish meletakkan kotak itu di kursi santai. ia bangkit lalu meraih Marissa kedalam pelukannya. mereka berdua berdansa dalam posisi berpelukan. Marissa kembali menyanyikan lirik lagu itu.
🎶jujur saja ku tak mampu
tuk pergi menjauh darimu
meski ku ragu
kau tak disampingku setiap waktu
kusadari... ku cinta padamu
meski ku bukan yang pertama dihatimu
namun cintaku terbaik untukmu
meski ku bukan bintang dilangit
tapi cintaku yang terbaik... 🎶
Haanish tersenyum dan mengangguk-angguk. "Aku paham... Issha... nggak perlu kau sindir lewat lagu itu."
Marissa tertawa sedangkan lagu terus mengalun. ia menyetelnya ke mode repeat-on, sehingga lagu itu terus mengalun.
Haanish dengan gemas langsung memondong Marissa kedalam dan keduanya bercinta dalam beberapa putaran. waktu menjelang subuh menjadi saksi pergulatan cinta dua pasangan yang telah sah itu.
...******...
Haidar tak tenang dikamarnya. lelaki itu mondar-mandir dalam ruangan itu. ia benar-benar tidak fokus malam itu. bayangan tentang pingsannya Mahreen, tak hilang dari benaknya. semakin ia berupaya melupakannya, semakin bayangan Mahreen lekat dipikirannya.
Haidar memutuskan untuk keluar dari ruangan. pemuda itu melangkah menyeberangi ruangan demi ruangan dalam kediaman yang bagai istana itu. ia akhirnya tiba didepan kamar Marina yang ditempati Mahreen yang sementara pingsan.
pemuda itu membuka sedikit pintu, mengintip kedalam dan melihat sang ibu, tidur dalam posisi duduk disisi ranjang, menjagai Mahreen yang masih sementara terbaring gering.
Haidar menutup lagi pintu itu dan hendak melangkah ketika dilihatnya Marina yang berdiri bersandar didinding mengenakan romper yang dibalut night robe. Haidar melangkah mendekat hingga akhirnya pemuda itu berdiri dihadapan Marina.
"Kau belum tidur?" tanya Haidar dengan lembut.
"Kau sendiri?" balas Marina.
"Aku tak bisa tidur... keadaan Mahreen mengganggu pikiranku." jawab Haidar dengan polos.
Marina hanya tersenyum lalu melengos sejenak dan kembali menatap Haidar.
"Perempuan itu tak apa-apa. kau tidur sajalah." usul Marina.
"Kuperhatikan, kau lebih agresif terhadap pria." tukas Haidar. "Atau mungkin hanya analisisku yang salah."
"Untuk apa kau mengurusiku lagi? aku bebas menentukan langkahku, Haidar." ujar Marina hendak melangkah namun ditahan lengannya oleh Haidar.
Marina menatap pemuda itu. rasa itu memang masih ada. sulit dihilangkan. namun ia harus move on dari perasaan itu. keduanya punya masa depan sendiri-sendiri. keduanya punya jalan takdir yang dijalani masing-masing.
"Sejak kapan kau mengenal lelaki itu?" tanya Haidar.
"Sejak pertama berjumpa di Moskwa. aku dikawal oleh Haanish. kami hanya membicarakan tentang bisnis." jawab Marina dengan jujur. "Begitu juga dengan pertemuan dikantor pusat. itu semua hanya pembicaraan bisnis."
"Tapi dia datang mengunjungimu, tepat disaat acara itu." tukas Haidar.
"Mana aku tahu? aku sendiri heran." tangkis Marina. "Tapi sebenarnya tak perlu heran juga sih. dia kan investor kelas internasional, seperti George Soros pada jamannya. semua bisa diketahuinya hanya dengan menjentikkan jari saja."
"Jangan dekati lelaki itu, Rina." pinta Haidar.
Marina tertawa kecil, lalu menatap Haidar. "Sudahlah Haidar. tak usah terbawa hati. aku punya pilihan, kau punya pilihan. kita tidak dapat bersama lagi karena tempat kita telah digantikan Marissa dan Haanish. kau, cintailah Mahreen. aku akan mencintai lelaki lain yang aku pilih." tandasnya lalu pergi meninggalkan Haidar yang sendirian termangu-mangu diruangan itu.
kokok ayam menandakan waktu subuh telah menjelang. Haidar dengan lesu melangkah meninggalkan ruangan itu menuju ke kamarnya. []
__ADS_1