
Marina duduk santai di geladak yacht. gadis itu memandang jauh ke arah Pulau Staffa. seperti namanya, Staffa dalam bahasa gaelik skotlandia, artinya pilar atau tongkat. entah mengapa pemerintah Inggris menamainya demikian. mungkin karena dinding-dinding pada gua Fingal yang merupakan bekas lorong vulkanis untuk memuntahkan lava dan lahar yang keluar dari perut bumi.
"Apakah kita akan memasuki pulau itu?" tanya Mikail yang juga duduk disisi gadis itu sembari memegang segelas brandy.
Marina menggeleng. "Nggak. aku lebih suka berada di lautan ketimbang dalam gua. aku sedikit memiliki gejala klaustropobia." ujarnya dengan getir.
Mikail tersenyum. "Sedikit lagi, kau akan terbiasa dengan ruangan yang sempit."
Marina mengerling menatap lelaki itu. "Maksud kamu?"
"Nggak... aku hanya ingin memberikan kamu kata-kata motivasi. jangan biarkan ketakutan mendekatimu. beranilah agar kau bisa bebas melangkah." ujar Mikail.
"Aku tak tahu, apakah aku bisa." sahut Marina. "Tapi, terima kasih atas nasihat yang kau berikan."
"Tentu... apapun akan kulakukan untuk membuatmu percaya bahwa aku pantas untuk kamu." ujar Mikail menyisipkan kata-kata rayuan membuat Marina tersenyum.
tak lama kemudian terasa gawai dalam saku mantelnya bergetar. Marina merogoh dan mengeluarkannya. ia menatap layar gawainya.
"Dari Marissa..." gumam Marina kemudian mengaktifkan jawaban panggila ke mode video call.
📲 "Assalamualaikum... kenapa Issha?" tanya Marina.
📲 "Aciak, posisinya lagi dimana? apakah di kantor cabang?" tanya Marissa yang saat itu sementara berada di lantai dua Kediaman Lasantu, tepatnya diberanda. "Kok denai lihat lautan? Aciak mabal kerja ya?" tuduh wanita itu.
📲 "Hush, sembarangan saja bicara." omel Marina.
Marissa sejenak memperhatikan layar lalu kemudian tersenyum-senyum.
📲 "Apa? apa? kenapa senyum-senyum? bikin curiga saja." omel Marina lagi.
📲 "Alhamdulilah... Makasih ya Allah... Aciek sudah dapat jodoh..." ujar Marissa. "Moga-moga cepat nikah ya?"
📲 "Waang itu dari tadi, nyerocos saja kerjanya." omel Marina menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karena di goda adik bungsunya itu. adapun Mikail hanya tersenyum-senyum saja tapi membuang wajahnya. Marina sejenak menatap Mikail yang memandang pulau Staffa lalu menatap lagi layar gawai.
📲 "Kenapa waang menelpon denai?" tanya Marina dengan lembut.
📲 "Aciak, boleh bantu kami nggak?" tanya Marissa.
📲 "Apa? kalau denai bisa bantu, ya pasti denai bantu." ujar Marina.
📲 "Aciak lagi berlayar kemana ini?" tanya Marissa.
📲 "Denai lagi ada dilautan disekitaran kumpulan pulau Hebrides dalam. kenapa?" pancing Marina.
Marissa merenung sejenak.
📲 "Kepulauan Hebrides.... kepulauan Hebrides..." tak lama kemudian senyum wanita itu mengembang, "Berarti di wilayah Argyll dan Bute, kan?" tebak wanita itu.
📲 "Ya, memangnya kenapa?" tanya Marina.
nampak gadis itu melihat, suami adiknya, Haanish muncul mengenakan kaos membawa nampan berisi makanan dan diletakkan di meja.
📲 "Kalian ada dimana ini? di Kediaman Lasantu?" tebak Marina.
Marissa mengangguk sedang Haanish duduk disisi istrinya lalu melambaikan tangan ke arah Marina. gadis itu juga balas melambaikan tangannya dan tersenyum.
📲 "Kok Aciak bisa tahu?" tanya Marissa mengerutkan alisnya.
📲 "Ya, tahu dong." seru gadis itu dengan senyum terkembang. "Denai kan pernah tinggal lama sebulan disana. Waang belum lahir tuh, Marinka saja masih bayi waktu digendong-gendong Haidar sama suamimu itu."
Marissa sejenak menatap suaminya lalu memandang layar gawai.
📲 "Aciak belum akan pulang toh?" ujar Marissa.
Marina menggeleng.
📲 "Sebulan lagi." jawabnya, "Masa pulang-pulang terus sih. denai kan lelah juga nantinya." ujar gadis itu kemudian menatap Haanish. "Eh, itu temannya si Marinka yang laki-laki itu... siapa sih namanya?"
📲 "Puncan Karnaaq... orang Kutai Tenggarong." jawab Haanish. "Kenapa dengan dia?"
📲 "Lho? kamu sudah lupa? bukannya kamu yang bilang mau nantangin dia untuk menguji apakah ia pantas untuk Marinka?" ungkit Marina.
Haanish tertawa dan garuk-garuk kepala.
📲 "Sebenarnya sih, aku hanya coba-coba saja. cuma gertak saja sama dia." jawab Haanish.
📲 "Kayaknya Inyiak setuju kalau kamu yang maju menantang dia." ujar Marina. "Saat mendengar berita itu dari Marinka, Inyiak yang kebetulan juga mengunjungi Kediaman Williams, memutuskan bahwa Sutan Pamenah nan Mudo, Haanish Hermawan yang akan maju menantang lelaki itu. Inyiak nggak jadi memanggil Uda Attar."
📲 "Oh, jadi Salman juga sudah tahu, kalau Marinka di minati oleh lelaki Tenggarong itu?"
📲 "Umi yang kasih tahu ke Mamak etek." jawab Marina.
📲 "Ya sudah... kalau Ni**nik-Mamak sudah sepakatnya begitu, ya, aku mau bagaimana lagi?" jawab Haanish akhirnya mengangkat bahunya.
📲 "Okey, kembali ke persoalan utama." sela Marissa. "Aciak bisa bantu kami mengamati Pulau Staffa, nggak? yang ada gua Fingal itu lho."
__ADS_1
📲 "Ini denai berdiri beberapa jarak didepan pulau itu." ujar Marina kemudian memperlihatkan pemandangan pulau tersebut dari yacht.
📲 "Bagus... bisa nggak nanti kirim drone kesana ya?" pinta Marissa.
📲 "Ya... nanti denai lakukan." ujar Marina. "Mau dibikin sekarang nih?"
📲 "Nggak. tahun depan saja." rajuk Marissa, "Ya sekarang dong!" omelnya.
Marina tertawa.
📲 "Oke deh. tunggu ya?" ujar Marina. "Nanti denai alihkan gelombangnya ke channel waang."
Marissa mengangguk.
📲 "Denai tunggu ya?" tuntut Marissa kemudian mengakhiri pembicaraan selularis itu.
Mikail menatap gadis itu. "Kau ada bakat menjadi agen rahasia. kenapa nggak mendaftar saja ke BIN, M16 atau CIA begitu?" pancingnya.
Marina tertawa, "Aku nggak suka terikat." ujarnya.
Mikail tersenyum, "Tapi... kau mau kan, terikat denganku?"
Marina menatap Mikail lalu menggeleng. "Nggak. aku mau terikat kalau kau datangi langsung kedua orang tuaku dan menyatakan keinginanmu!" ujarnya memelototkan mata namun senyumnya tersungging.
"Jangan kuatir." tukas Mikail, "Sepulangnya dari sini, aku akan mendatangi mereka dan menyampaikan keinginanku."
"Aku nggak percaya!" tandas Marina dengan senyum.
"Apa? kau tak percaya?" tukas Mikail membelalakkan mata.
"Ya... nanti kalau kulihat dengan mata kepalaku sendiri, baru ku percaya." jawab Marina dengan senyum dikulum.
Mikail kali ini benar-benar tertantang. ia harus menjawab tantangan itu.
...******...
Haanish menyuapkan sedikit demi sedikit nasi goreng buatannya ke mulut Marissa. lelaki itu agak heran, entah kenapa akhir-akhir ini Marissa jadi malas memasak. meski begitu, Haanish tak menghiraukan dan mengambil tugas itu. toh, memasak juga bukan kodrat wanita. laki-laki juga harus tahu memasak. buktinya kebanyakan chef restoran itu laki-laki.
"Uda... masakannya enak banget nih." puji Marissa. "Entar masakin lagi ya?" pinta Marissa.
Haanish tertawa. "Kamu ini makan, kayak orang hamil saja." sejenak kemudian tawa Haanish langsung lenyap dan menatap Marissa. "Issha...."
serentak wanita itu mengangguk-angguk dan matanya berkaca-kaca. senyumnya tersungging dan tangan kanannya memperlihatkan testpack yang menunjukkan dua garis merah.
"Denai... hamil... Uda..." ujarnya lirih.
"K-k-kau... ha-h-ha-ham-hamil???" pekik Haanish.
Marissa kembali mengangguk. dan seketika Haanish langsung bangkit dan tersubgkur sujud dilantai beranda itu. tubuhnya gemetar sedang Marissa terisak-isak bahagia. lama lelaki itu melakukan prosesi sujud syukur lalu bangkit dengan bersimpuh. dihadapannya, Marissa juga duduk bersimpuh.
"Kau... kau... hamil?" tanya Haanish dengan lirih dan senyum keharuan kembali menghias wajahnya. jemarinya terulur menyentuh wajah istrinya.
"Ya, Uda.... denai hamil..." jawab Marissa dengan lirih dan masih terisak-isak.
Haanish perlahan mendongakkan kepala dan akhirnya melepaskan tawanya yang menggema. ia merentangkan tangan ke angkasa, mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya.
"Aku akan jadi ayaaaahhhh...." serunya dengan pengerahan ki yang kuat.
...*****...
Haidar sejenak terhenyak mendengar keterangan dari Aisyaj perihal adik iparnya itu.
"Pantasan makannya banyak kayak raksasa mau nelan bumi." tukas Haidar merebahkan punggungnya disandaran sofa. disisinya duduk Aisyah yang juga menyandarkan punggungnya dan duduk melipat kakinya. didepan mereka, di meja, terdapat rantang berisi masakan yang dibuat Aisyah untuk suaminya.
"Dan perasaannya sensitif sekali." sambung Aisyah. "Makanya aku berikan dia sisa testpack yang masih tersisa. untuk menguji apakah ia benar-benar hamil atau hanya gejala pseudocyesis..."
"Istilah apa lagi itu?" tanya Haidar.
"Gejala kehamilan palsu." jawab Aisyah dengan tenang.
"Kehamilan palsu? memang ada yang namanya hamil palsu?" tanya Haidar lagi dengan penuh minat.
"Ada..." jawab Aisyah. "Biasanya berhubungan dengan stres." sambungnya.
"Jangan-jangan, Issha cuma hamil palsu lagi." tukas Haidar.
"Hush!" sergahnya memukul lengan suaminya. "Nggak baik bicara macam itu." tegur jilbaber tersebut. "Kata-kata itu adalah doa. kamu mau kalau kata-kata itu malah kebalik ke aku, gara-gara ucapanmu barusan?!" ujarnya memelototkan mata.
Haidar terhenyak. "Astaga, jangan dong!" serunya.
"Makanya..." ujar Aisyah seraya mencubit paha Haidar membuat lelaki itu meringis kesakitan. "Jangan sembarangan bicara! apalagi kamu tuh sekarang sudah nikah sama aku. karma yang menimpamu juga pasti akan menimpaku, menimpa Sofi... kamu mau?"
"Aduh, jangan ngomong yang horor-horor dong." pinta Haidar langsung menegadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan. "Astagfirullah...." gumannya pelan dan lirih.
Aisyah tersenyum-senyum. "Alhamdulilah, Abah ganteng ku sudah menyadari kealpaannya." ujarnya bersyukur.
__ADS_1
"Ah... terima kasih, Umma..." ujar Haidar dengan senyum payi. "Kau memang istri yang hebat."
"Dan Abah adalah suami yang hebat." balas Aisyah.
"Oh ya?" ujarnya menegakkan tubuh.
Aisyah mengangguk-angguk lalu menyambung lagi. "Abah mau menerima Umma yang berstatus janda beranak satu, itu merupakan hal yang luar biasa." ujarnya. "Karena... nggak semua lelaki yang menikahi janda, juga menyayangi anaknya. tapi... Abah lain... justru kebersamaan kita disebabkan karena Abah mencintai Sofi, layaknya anak Abah sendiri." mata jilbaber itu berkaca-kaca. "Makasih ya, Abah." ujarnya dengan lirih.
Haidar benar-benar tersentuh dengan kalimat istrinya. lelaki itu tanpa sadar tersenyum dan kedua matanya mengalirkan airmata. ia menyentuh pipi Aisyah.
"Aku bersyukur... kita berdua dipertemukan... meski dengan kesan pertama yang tak mengenakkan." ujar Haidar.
Aisyah tertawa sambil menyusut air matanya yang sempat jatuh dipipinya. "Iya ya? Abah masih ingat ya?"
"Tentu dong. aku pertamanya ketemu kamu kan waktu kita tabrakan dipersimpangan itu. masih ingat, nggak?" pancing Haidar.
Aisyah mengangguk-angguk. "Ya... sebenarnya saat itu, Umma lagi buru-buru mengantar barang."
"Terus ketabrak." sambung Haidar. "Itu kenapa bisa ketabrak? lagi melamunkan apa sih?"
"Nggak usah diungkit lagi." pinta Aisyah.
"Itu saat kamu baru pisah dari si Joni itu ya?" tebak Haidar kemudian mendekat dan mengelus-elus pelan paha istrinya. Aisyah mengangguk membenarkan.
"Tapi kamu nggak usah kuatir..." ujar Haidar. "Joni tak akan pernah mengganggumu lagi... selamanya!"
"Oh ya... tentang Joni... Abah ngapain si Joni?" tanya Aisyah.
"Sudah kusuruh bertobat." ujar Haidar dengan senyum datar. "Sekarang, boleh nggak aku minta sesuatu sama kamu?"
"Apa?" tanya Aisyah.
Haidar menunjuk suite pribadi disebelah ruangan kerja itu. "Masuklah ke kamar itu, datang tunggulah aku sebentar lagi." pinta Haidar.
Aisyah hanya senyum-senyum masam saja. Haidar membelalakkan mata.
"Kenapa? nggak mau ya?!" todong Haidar.
"Mau kok. mau... mau... mau..." jawab Aisyah dengan cepat dan langsung bangkit melangkah menuju pintu suite mini itu. sejenak ia menatap manja lagi kepada Haidar. "Abah jangan lama-lama ya?" pintanya dengan suara yang manja.
"Aku kan lagi menghabiskan masakan kamu nih." ujar Haidar menunjuk rantang yang tergeletak dimeja.
Aisyah tersenyum. "Oke deh. Umma duluan ya?"
Haidar mengangguk dan jilbaber itu membuka pintu suite mini tersebut lalu masuk kedalamnya. Haidar menatap pintu itu dan kenangannya terhadap Joni terlintas lagi.
...*******...
Haidar mengembangkan tangan. "Ayo... buktikan perkataan kamu itu!" tantangnya.
seketika Joni dengan teriakan keras maju menikamkan parang tersebut ke tubuh Haidar.
JLEB!!! UUGHHH...
Haidar menerima tikaman itu. sumala dalam genggaman Joni benar-benar menusuk bagian dada Haidar membuat lelaki itu tersentak.
Joni seketika mengumandangkan tawa. "Hahahaha... mampus kau! Aisyah akan jadi milikku! kau tak berhak! Aisyah adalah milikku! MILIKKU!!!!" seru Joni kemudian tertawa.
UHUKKK UHHHHUUUKKKK...
Haidar memuntahkan darah segar dan lukanya makin melebar ketika Joni menghujam-hujamkan terus ujung parang itu ke dada lawannya sambil terus mengumandangkan tawa kemenangannya.
namun tawa lelaki itu perlahan lenyap saat mendengar sekehan tawa pelan dari Haidar. wajah lelaki itu yang semula tertunduk perlahan mengangkat dan menatap Joni, membuat wajah lelaki itu memucat.
"Kau!... tak mungkin!" pekik Joni dengan panik.
tiba-tiba Haidar mencengkeram pergelangan tangan Joni membuat lelaki itu ketakutan, berupaya melepaskan cengkeraman tangan lelaki itu, namun sia-sia sebab genggaman Haidar pada pergelangan tangan Joni sangat kuat.
lelaki itu makin ketakutan dan melolong minta tolong saat menatap perubahan mata Haidar.
"Siapa kau?! siapa kau?! lepaskan aku!" lolong Joni ketakutan.
"Aku adalah hukuman yang diutus Allah kepadamu. jika kau tak mengganggu istriku, aku tentunya tak akan mendatangimu!" jawab Haidar yang setelah itu melakukan perubahan wujud.
Joni makin ketakutan dan melolong-lolong minta ampun. namun Haidar yang telah dirasuki darah dewa tak menghiraukannya lagi dan langsung memangsa lelaki itu hingga tak bersisa.
...******...
Haidar terhenyak sadar saat suara Aisyah yang memanggil menghantam gendang telinganya. Haidar gelagapan.
"Kenapa?" tanya Haidar.
"Abah pasti melamun nih!" tegur Aisyah. "Makannya sudah selesai, kan?"
__ADS_1
Haidar menatap isi rantang yang semuanya sudah tandas. lelaki itu menelan ludah sejenak. ia kembali menatap Aisyah.
"Aku ke tempatmu sekarang." ujarnya seraya menyambar gelas dan menghabiskan isinya lalu bangkit dan melangkah mendekati Aisyah lalu menggandengnya masuk kembali ke suite mini itu. keduanya akan bercinta sebagaimana biasanya. []