The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 33


__ADS_3

Mahreen entah kenapa tak bisa tenang malam itu. sedang diluaran terdengar gemuruh guntur dan sesekali terlihat percikan kilat yang menjalar dengan jinak dibongkahan-bongkahan awan.


ini adalah hari ketiga dimana Djalenga tak menampakkan wajahnya yang eksotis itu. malam ini adalah sehari setelah perayaan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam dilaksanakan oleh para penduduk desa Sade dan Ende, dua desa sasak Wetu Lima yang berada di Kecamatan Rambitan.


Mahreen makin tak tenang dan memutuskan keluar dari Bale Bonter. ia mengenakan jaket mengusir cuaca dingin yang mulai menyengat permukaan kulit putihnya. Cholil buru-buru menghalangi jalannya.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Cholil. "Lihatlah..." ujarnya menunjuk angkasa. "Langit bergemuruh terus. kelihatannya malam ini akan hujan deras."


"Jangan halangi langkahku!" ancam Mahreen menudingkan jarinya ke wajah Cholil.


"Okey, aku tak akan menghalangi jalanmu!" ujar Cholil. "Tapi tolong katakan, kau mau kemana?"


"Aku mau menemui Djalenga!" ujarnya kembali hendak berjalan. Cholil menjajarinya.


"Aku akan menemanimu." ujar lelaki itu.


"Nggak perlu. temanilah Callista. dia sendirian di Bale Bonter!" tolak Mahreen.


"Tapi..." protes Cholil.


Mahreen menghentikan langkahnya lalu menatap Cholil. "Aku mau mencari Djalenga. sudah tiga hari ini, ia tak nampak batang hidungnya. aku kuatir, ada yang terjadi padanya. aku hendak menemui Inaq-Amak nya."


"Nggak usah. ini sudah malam." cegah Cholil. "Kau hanya akan mengganggu waktu tidur mereka."


"Tapi aku butuh kepastian!" ujar Mahreen berkeras. "Aku kuatir. kau tahu? tiga hari yang lalu dia sempat pamitan dan salah satu kalimatnya membuatku tak tenang."


"Memang kalimat apa yang dia lontarkan padamu?" tanya Cholil mendekat lagi.


"Jika masih memiliki waktu, dia akan muncul dihadapanku." ujarnya dengan nada keluhan. "Entah mengapa ia mengatakan kalimat semacam itu? aku sampai saat ini dilanda pikiran tentang dia."


"Apa... kau jatuh cinta, Mahreen?" desis Cholil.


"Apa maksudmu? aku nggak tahu apa maksud perkataanmu. aku hanya mengkuatirkan Djalenga! aku tak punya perasaan apapun padanya." kilah Mahreen.


"Jika begitu, biarkan saja Mahreen. kau tak berhak menyakiti tubuh dan hatimu hanya untuk mengingat seorang pemuda bernama Djalenga!" tukas Cholil.


"Cholil! jika kau tak mau membantuku, pergilah pulang dan temani Callista! biar aku yang pergi ke rumah inaq untuk mencari tahu!" sergah Mahreen kemudian kembali melangkah meninggalkan Cholil yang terdiam ditempatnya. bingung menentukan pilihan. lelaki itu mengumpat-umpat dengan jengkel atas kekeras kepalanya si gadis Rusia itu.


Cholil terpaksa berlari pulang ke Bale Bonter sementara Mahreen tetap melanjutkan perjalanannya ke bagian ujung desa, tepatnya menuju kediaman Djalenga.


langkahnya terayun cepat sementara ia mengepit bagian kerah jaket untuk menahan udara dingin yang masuk melalui tempat itu.


ia tiba di kediaman itu dan langsung mengetuk pintu.


"Assalamualaikum.... Assalamualaikum..." seru Mahreen berkali-kali.


lama ia mengetuk pintu hingga akhirnya pintu membuka dan keluarlah Maryati. wanita itu kaget mendapati Mahreen didepan rumah berdiri dengan wajah cemas.


"Ya, nak?" tanya Maryati.


Mahreen spontan bertanya. "Djalenga? Djalenga dimana, Inaq?" ia bicara dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan cemas.


"Ini sudah malam nak." tegur Maryati. "Pulanglah."


"Aku tak bisa pulang, Inaq." tandas Mahreen berkeras. "Sebelum kutemukan Djalenga. sudah tiga hari ini dia tak kunjung datang ke rumah. ada apa? apa inaq menyembunyikan sesuatu?"


Maryati menghela napas. "Djalenga sedang membela temannya Ocen yang memari anak perempuan dari Desa Bayan. Djalenga turut serta sebagai pewarta kepada pihak perempuan. namun keluarga perempuan tak rela dan menuntut diadakan paresean."


"Paresean..." gumam Mahreen sejenak kemudian terhenyak. "Adu tanding?!" serunya. Maryati mengangguk.


"Dimana? dimana diselenggarakannya?" tanya Mahreen setengah mendesak.


tak lama muncullah Samirep. ia pun terkejut mendapati Mahreen disana.


"Anak? mengapa malam begini belum pulang?" tanya Samirep.


"Amak! antarkan saya menemui Djalenga di Bayan!" pinta Mahreen. "Bukankah dia melakukan paresean di Bayan?"


Samirep terkejut dan menatap Maryati dengan tatapan mencela. wanita parobaya tersebut menunduk. Samirep menatap Mahreen.


"Anak, pulanglah. tak baik seorang wanita jalan-jalan tengah malam buta begini. pulanglah. biar Amak antarkan kau." ujar Samirep.

__ADS_1


"Tidak! Amak antarkan saya ke Bayan." pinta Mahreen. matanya sudah berkaca-kaca. "Aku... aku... aku tak bisa tenang dirumah... segala pikiranku selalu mencari-cari dia! Amak, pozhaluysta....otvedi menya... k etomu cheloveku..." pintanya mulai terisak.


Samirep tak tahu apa terjemahan kalimat yang dilontarkan Mahreen karena ia menggunakan bahasa Rusia. tapi insting sang bapak menyuruhnya untuk mengantarkan Mahreen kepada Djalenga.


"Baiklah Anak. kau memaksaku. aku akan penuhi keinginan kamu." ujar Samirep kemudian turun dari Bale Tani.


"Pak..." panggil Maryati kemudian bicara bahasa sasak, memperingatkannya untuk berhati-hati. Samirep mengangguk dan menjawab dalam bahasa sasak bahwa ia akan baik-baik saja dan Maryati tak usah memikirkannya.


Samirep menatap Mahreen. "Mari Anak, kita ke Bale Bonter menemui Kepala Kampung." ajak Samirep.


Mahreen mengangguk lalu mengikuti langkah Samirep menyusuri jalanan hingga akhirnya mereka tiba didepan Bale Bonter. ternyata disana telah menunggu Djatiswara dan Cholil.


Djatiswara yang melihat kedatangan Samirep langsung mendekat dan menegur lelaki itu dalam bahasa sasak yang mencelanya karena menerima kedatangan Mahreen.


Samirep membela diri. ia menjelaskan kronologinya dalam bahasa sasak. Djatiswara mencermati cerita Samirep lalu menatap Cholil. "Benar demikian, anak?"


"Yang jelas, kami berpisah karena beda paham. saya kembali ke bale bonter melapor kepada bapak. kemungkinannya Mahreen memang tetap melanjutkan perjalanannya menuju rumah bapak ini." ujar Cholil.


"Kalau begitu, tak ada yang bisa kulakukan." ujar Djatiswara. "Ini murni keinginan seorang gadis yang ingin menemui kekasihnya..."


"Tapi..." protes Mahreen.


"Aku tak akan mengijinkan kamu menemui dia jika bukan karena kalian berdua telah saling berkasih! paham?!" tukas Djatiswara kali ini agak keras dan menekan.


dengan kesal akhirnya Mahreen berujar, "Khorosy, khorosy! Ya ochen iyublyu Dzhalengu! vy vse dovol'ny?!" setelah itu ia menghentakkan kakinya dan terisak menutup wajahnya.


"Itu, dengar Bapak. dia hanya mencari Ocen untuk mencari tahu dimana Djalenga berada." ujar Samirep membela Mahreen.


"Oh, kalau itu nggak bisa! nanti Ocen bakal kena malu dan memari yang dia lakukan akan tercoreng dengan keberadaan Mahreen. si perempuan akan mengira Ocen selingkuh dan..." tukas Djatiswara tak mau kalah debat.


Cholil tertawa, "Nggak. bapak berdua salah paham. itu kalimat dalam bahasa Rusia yang mana Mahreen mengakui kalau dia.... suka sama Djalenga."


kedua lelaki itu saling pandang dan akhirnya tertawa.


"Oh, kalau begitu kita harus bergegas." seru Djatiswara. kepala kampung itu buru-buru lari ke sisi bangunan masjid dan tak lama kemudian sebuah kendaraan segala medan muncul.


"Ayo, kalian bertiga naik." ajak Djatiswara.


"Saya nggak ikut pak. biar Pak Samirep dan Mahreen saja yang ikut." tolak Cholil.


segera Samirep dan Mahreen naik membonceng dan Djatiswara langsung menarik gas. kendaraan segala medan itu melaju meninggalkan Desa Sade.


...******...


Grantung, Bayan. pukul 00.01 dini hari WITA.



gending ngadokang, disebut juga gending rangsang telah dibunyikan untuk yang keberapa kali. ini sudah yang keempat kalinya pertandingan paresean berlangsung. sekarang tiba waktunya paresean yang diadakan karena tuntutan Haji Bentang, ayah dari Kinanti, gadis yang di memari oleh Ocen, akan digelar.



lelaki itu mewakili pihak keluarga perempuan menuntut kepada kepala adat sasak diseluruh kepulauan Lombok, untuk menggelar paresean sebagai tantangan bagi pihak laki-laki. mana bila dalam paresean, pepadu dari pihak keluarga laki-laki mampu mengalahkan pepadu dari pihak keluarga perempuan, maka Haji Bentang akan mengikhlaskan Ocen dan keluarganya menyelenggarakan nyongkolan untuk meminang dan menyandingkan kedua mempelai tersebut.


tak ada cara lain lagi kecuali menyanggupi tantangan itu. tapi keluarga kuatir mengajukan Ocen sebagai pepadu. pasalnya fisik lelaki itu pipih kurus bagai tiang lidi. belum sampai sekali dipukul, Ocen pasti langsung tepar dan acara lamaran pasti batal.



Djalenga mengajukan diri mewakili Ocen menjadi pepadu. akhirnya pihak perempuan menantang diadakannya paresean tepat malam peringatan maulidan.


pakembar (wasit) dan pengadok (sponsor) dari kedua pihak mulai berkisah memuji pepadu dari pihaknya masing-masing dan memanas-manasi pihak lawannya.


ternyata Haji Bentang tidak mengambil pepadu dari Desa Bayan, melainkan menyewa Jusri dari Desa Ende yang sedesa dengan Ocen sebagai pepadu yang akan bertanding melawan Djalenga.


Jusri telah berada dilapangan menggenggam penjalin (batang rotan yang dijadikan senjata pengganti pedang) dan sebuah perisai bulat besar yang merupakan kulit kerbau yang dililit rotan dan kayu. lelaki kekar itu bertelanjang dada. kepalanya dimahkotai dengan saput dan pinggangnya dililit bebadong. Jusri terlihat bibirnya komat-kamit, padahal ia mengunyah sirih seperti mengunyah permen karet.


Djalenga pun maju. penampilannya sama dengan Jusri, hanya saja saput dikepalanya berwarna merah marun. begitu juga dengan bebadong yang melingkari pinggangnya. gending mayuang sudah dilantunkan menggantikan gending ngadokang. kedua pepadu telah berada di arena.


pakembar sedikit menjelaskan alasan diadakannya paresean ini kemudian masing-masing pengadok bicara lantang memuji dan mengangkat derajat pepadu dipihaknya. setelah itu pakembar maju meminta kedua pepadu itu juga maju saling berhadapan.


begitu pakembar meneriakkan kata untuk memulai pertunjukan, seketika gending mayuang berganti alunan menjadi gending beradu. seketika Jusri maupun Djalenga telah bersikap tempur satu sama lain, memperlihatkan keperwiraannya.

__ADS_1


gending beradu terus mengalun dengan gagap gembita mempengaruhi psikologis petarung untuk mengeluarkan teknik terbaiknya dalam mengalahkan lawan. suara hantaman rotan yang beradu dengan perisai kulit kerbau terdengar menghentak dan bertalu-talu.


Djalenga dan Jusri, sama-sama seorang petarung yang mumpuni. keduanya sama kuat maka sulit ditentukan mana yang akan memenangkan pertarungan itu. namun, Djalenga pernah mengalah saat diadu dengan Jusri ketika diadakannya paresean saat Djalenga tertangkap oleh warga Ende ketika memari Hanifah.


TAK TAK BRAK TAK TAK BRAK BRAK TAK BRAK BRAK


bunyi dentuman rotan kembali terdengar beradu dengan perisai. berkali-kali Djalenga menghantam dan menyerang Jusri dan berkali-kali pula Jusri berhasil menangkisnya.


hingga tiba-tiba Jusri menggunakan cara licik, yaitu menjegal kaki Djalenga hingga pemuda itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang.


Jusri yang terkekeh senang maju dan melompat diudara hendak mengayunkan rotannya untuk membabat dada Djalenga yang terbuka.


tiba-tiba terdengar teriakan...


DJALENGA!!!!


Djalenga tak sempat melihat siapa yang berteriak, tapi dia kenal suara itu. sedetik kemudian menyusul sesosok tubuj wanita menghambur dan memeluk tubuh Djalenga, hendak memperisainya.


HIH... TRAKKKK


nyaris rotan milik Jusri menghantam tubuh wanita itu kalau saja Djalenga tidak berinisiatif bergulingan sambil memeluk wanita itu, membuat keduanya lolos.


wanita itu adalah Mahreen. ia duduk tersimpuh sedang Djalenga duduk dengan berlutut. tangannya yang menggenggam perisai disilangkannya di tengkuk hingga perisai tersebut dan menutupi wilayah kepala dan punggungnya.


"Mengapa kau kemari?!" sergah Djalenga dengan lirih.


sementara Jusri kembali memukul-mukulkan rotan ke perisai yang digenggam Djalenga. si pemuda tetap menahan gempuran itu sambil terus berlutut dan menyilangkan rotan melindungi tubuh Mahreen jika sekiranya Jusri berniat curang.


"Aku.... aku mengkuatirkanmu." desah Mahreen dengan terisak-isak.


"Aku nggak apa-apa." jawab Djalenga sesekali meringis saat dirasakannya hantaman rotan terasa begitu keras.


"Tapi... tapi aku tidak." tukas Mahreen dengan ketus disela isakannya.


"Aku sedang memperjuangkan cinta." jawab Djalenga.


"Apakah.... cinta itu untukku?" tanya Mahreen dengan lirih.


"Aku harus bertahan dan memenangkan paresean ini. jika tidak, Ocen dan Kinanti tidak bisa bersatu." ujar Djalenga.


"Jika sekiranya cinta itu adalah aku.... kau akan memperjuangkannya?" tanya Mahreen.


"Jika cinta itu adalah kau... aku akan memari kamu sebagai bentuk perjuangan cintaku!" tandas Djalenga tanpa ragu.


seketika Mahreen langsung memegang rahang Djalenga dan ia memajukan wajahnya. gadis Rusia itu maju mencium dan mengulum bibir tebal Djalenga dengan lama dan menutup mata. Djalenga pun tak menolak. ia membiarkannya juga menutup mata merasai sensasi ciuman tersebut. alunan gending beradu yang terdengar gagap gembita seakan tak terdengar lagi, karena dalam benak otak Djalenga telah mengalun simphoni cinta yang berirama mars.


para penonton bersorak sorai sementara Djatiswara hanya diam terpaku melotot menonton peristiwa itu. begitu juga dengan Samirep. bedanya, Samirep langsung menyungkurkan dirinya dan melakukan sujud syukur. doa sang istri dikabulkan Allah.


perlahan kedua muda-mudi itu membuka mata dan Mahreen melepaskan ciumannya. ditatapnya wajah Djalenga dengan tatapan kasih.


"Menangkan cintaku, menangkan cintaku... Djalenga!" seru Mahreen dengan lirih.


mata Djalenga melebar dan seketika ia berbalik dan mengayunkan rotan dari bawah ke atas ke arah Jusri yang juga bersamaan mengayunkan rotannya.


HEEEIIIYYYAAAAHHHHH....


BRETAKKKKK....


UAGGGHHHH...


batang penjalin yang digenggam Djalenga sukses menghantam rusuk bagian kanan Jusri disertai pengerahan tenaga yang besar.


tubuh Jusri langsung terlempar dan tak mampu bangkit lagi. ia hanya bisa merintih dengan posisi terjengkang sedang dihadapannya Djalenga berdiri tegak dengan perisai dan batang penjalin yang terpentang.


pakembar menyuruh pengadok dari pihak Haji Bentang, maju memeriksa keadaan Jusri. dengan sedih setelah memeriksa, sang *pe*ngadok memberi isyarat kepada pekembar bahwa Jusri sudah tak bisa lagi melanjutkan paresean.


seketika pekembar berseru bahwa pihak Amak Ocen lah yang memenangkan peresean itu. seluruh pihak laki-laki langsung bersorak-sorai mengagungkan kemenangan Djalenga.


sedangkan Mahreen langsung kembali memeluk pemuda itu dengan tangisan kebahagiaan. sambil sesekali menciumi pipi dan bibir Djalenga, gadis Rusia itu terus berseru.


"Ty zavoyeval moyu lyubov'... Ty zavoyeval moyu lyubov' Dzhalenga.... Ya lyublyu vas... YA LYUBLYU VAS, DZHALENGA!!!"

__ADS_1


dan Djalenga hanya tersenyum dalam lantunan syukur dalam hatinya.


Ya Allah... Kau telah menjawab doaku... kau telah menjawab doaku... []


__ADS_2