The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 16


__ADS_3

Inayah menatap datar kepada Haanish. pemuda itu masih diam berupaya mencerna kalimat-kalimat perintah dari ibunya.


"Eiji...." panggil Inayah lagi.


Haanish menghela napas sejenak. pemuda itu kemudian senyum-senyum lagi. tapi Inayah sudah paham makna senyuman itu. anak ini tidak suka dengan perintahnya.


"Mama..." panggil Haanish membuat Inayah memperbaiki sikap. kedua alis wanita parobaya itu terangkat. Haanish yang tersenyum-senyum itu menyambung kalimatnya, "Mengapa aku harus menyelidiki kehidupan perempuan itu? bukankah Mama sudah menganggap Mahreen seperti anak Mama? ungkapan Mama tadi kontradiktif." tukasnya.


Inayah tersenyum, "Mama sudah menduga, kau akan menanyakan hal demikian." wanita parobaya itu memajukan tubuhnya, "Kau akan mendapatkan jawabannya kelak. Mama sebenarnya sudah memiliki ujung benang dari hipotesa ini, namun Mama hanya ingin menguatkannya dengan hasil penyelidikanmu nanti." Inayah mengulurkan tangan menyentuh pipi Haanish, "Sekarang Mama ulangi lagi... maukah kamu melakukan permintaan ini?"


Haanish yang tersenyum-senyum kemudian memudarkan senyumannya, lalu tersenyum lagi. Inayah sudah memahami benar karakter putra keduanya itu. arti-arti senyum dan tertawanya. dan wanita itu sudah bisa menerka makna senyuman Haanish yang terakhir kali.


"Bagus..." ujar Inayah, "Tapi ingat.... hal ini sangat sensitif. Chouji, apalagi Mahreen... tidak boleh tahu apa yang kau lakukan selama ini. Mama mengandalkanmu, karena kau seorang shinobi, sama seperti Mama dan almarhum Papamu. kemampuanmu sangat menunjang melakukan investigasi itu. kau bisa paham, Eiji?"


"Tapi Ma... selama ini, aku nggak bisa bohong dihadapan Chouji... entah mengapa, aku tak tahu pula. perbawanya sangat kuat." keluh Haanish dengan senyum lesu.


"Maka sekarang, kau harus menjadi seorang shinobi yang sesungguhnya. seorang pakar yang manipulatif." Inayah ganti menepuk pundak Haanish pelan-pelan. "Kau mampu Eiji, hanya saja kau kurang percaya diri dan hidup dalam bayangan kakakmu."


"Karena dialah putra mahkota, Mama..." tukas Haanish.


Inayah tersenyum. wanita parobaya itu mengangguk-angguk. "Mama paham perasaanmu..." wanita itu menghela napas. "Kau pernah nonton anime lawas Boruto: The Next Generation?" pancing Inayah.


Haanish menatap Inayah agak lama. wanita parobaya itu melanjutkan, "Didesa Konoha terdapat seorang Hokage terhebat dan terkuat didunia bernama Naruto Uzumaki, seorang veteran perang dunia yang berhasil mempersatukan semua rakyat shinobi dalam aliansi bersama. dalam masa pemerintahannya, ia dibantu oleh sahabat sekaligus rival terkuatnya, bernama Sasuke Uchiha yang bertindak dibelakang layar, mengantisipasi segala hal yang dapat mengancam stabilitas pemerintahan di Konoha. sahabat-sahabat Naruto bahkan menjuluki Sasuke dengan panggilan Hokage bayangan dalam artian yang sesungguhnya. bahkan Naruto sendiri mengakui hal itu. pemerintahan Konoha dijalankan oleh dua orang yang berperan dibidangnya masing-masing."


Haanish masih diam. Inayah kembali melanjutkan lagi. "Pernah dengar tentang babad tanah majapahit? negara kuno Majapahit pernah diperintah oleh dua orang ratu. begitu juga pada masa Singasari, juga pernah diperintah oleh dua orang raja. namun, meskipun mereka berdua memegang pemerintahan... visi mereka satu. dan itu yang membuat pemerintahan mereka sukses, tercatat dalam tinta emas sejarah..."


"Mama mengaitkan dua kisah itu... apa hubungannya denganku?" tanya Haanish.


"Kaulah hokage bayangan itu, Haanish... Kaulah Rajadewi yang berdiri dipihak Sri Gitarja, kaulah Mahisa Cempaka yang berdiri disisi Ranggawuni. kalian adalah dwitunggal penguasa Buana Asparaga... satunya berada didepan layar sebagai mentari, dan satunya berada dibelakang layar sebagai rembulan..." jawab Inayah.


mata Hanish berkaca-kaca mendengar penjelasan wanita parobaya itu. senyumnya kini dihiasi tetesan airmata yang membasahi pipinya. Inayah tersenyum lagi.


"Mama tak pernah menyingkirkanmu nak. tak ada dalam pikiran Mama seperti itu. meskipun kau tak terlahir dari rahimku, namun secara harafiah, kau adalah putraku. bukankah sudah kusebut dulu... tak ada lagi yang namanya Yoshiaki Hasegawa disini... yang ada adalah Haanish Hermawan Lasantu... apakah kamu tak memetik hikmah perkataan Mama?" ujar Inayah.


seketika Haanish maju memeluk Inayah. ia tertawa sekaligus menangis. dua tindakan kontrafiktif yang justru berdamai dalam sikap seorang Haanish yang memiliki kelainan patologis. Inayah mengusap punggung pemuda itu. membiarkan ia larut dalam eforia kebahagiaan bahwa ia tak pernah dianak tirikan dalam lingkar keluarga dalam. setelah merasa cukup, Inayah melepas pelukan Haanish.


"Nah... lakukan tugasmu, nak..." pinta Inayah.


Haanish menyeka ingusnya lalu tersenyum. "Tentu Mama... tentu..." jawabnya dengan tegas. "Sekarang, katakan padaku... mulai darimana aku melakukan penyelidikan?"


Inayah tersenyum lagi lalu mengangguk. "Mulailah dari perempuan bernama Miriam Nurmagonegov..."


...******...


Haanish mendapat akses ke setiap jaringan intelijen yang diperkenalkan Inayah kepadanya. anak itu seakan dididik sang wakapolda gorontalo menjadi agen rahasia tak resmi miliknya. semua satuan intel tersebut tahu siapa partner gelap mereka.


"Pergilah ke Padang, temui Bibimu, Yuki." pinta Inayah.


"Dalam rangka apa Ma?" tanya Haanish.


"Nanti kau akan tahu... jangan lupa, bawa pula Si Penebas Angin. benda itu akan menemanimu senantiasa dalam setiap pelaksanaan misi..." ujar Inayah.


"Mama... apakah Mama sudah tahu, kalau Chouji telah mengangkatku sebagai direktur Tangan Ketiga Buana Asparaga?" pancing Haanish.


"Mama yang usulkan itu..." jawab Inayah, "Seperti yang sudah Mama bilang sebelumnya. kalian berdua adalah Dwitunggal. paham?"


Haanish tersenyum lagi. "Paham Mama..." namun beberapa detik lagi, senyumnya lenyap. "Lalu, bagaimana dengan kuliahku Mama?"


"Kan kamu tinggal mengajukan waktu sidang, kan? ajukan saja dulu cuti semester. nanti Mama bantu meyakinkan dekan fakultasmu." jawab Inayah.


"Apakah aku boleh berangkat sekarang?" tanya Haanish dengan semangat.


"Lusa, anakku... persiapkan dulu semuanya..." jawab Inayh lagi.

__ADS_1


tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil. Inayah dan Haanish paham benar jenis mesin mobil tersebut.


"Kakakmu sudah datang. kita pending dulu pembicaraan ini." ujar Inayah.


pintu depan terbuka dan muncullah Haidar bersama Mahreen. keduanya melangkah disertai candaan dan tawa kecil. langkah keduanya terhenti saat melihat keberadaan Haanish dan sang ibu diruang keluarga. Mahreen langsung memperbaiki sikap dan melepas gandengan tangannya dari Haidar.


"Lho? tumben benar kau disini." tukas Haidar.


"Memangnya kenapa?" tanya Haanish menautkan alisnya. "Ini juga rumahku..."


Mahreen menatap Inayah dengan kikuk. "Ma..." sapanya dengan canggung.


"Baru darimana saja?" tanya Inayah kemudian menatap jam dinding. "Ini sudah jam lima... sudah sholat ashar, kalian?"


"Sudah Ma... di Masjid Agung Baiturrahim tadi." jawab Haidar dengan tanggap.


"Kau belum jawab pertanyaan Mama, Chouji..." tanya Haanish sekalian menggoda Haidar dihadapan ibunya. "Darimana saja kalian?"


Haidar menatap jengkel kepada Haanish sedang pemuda itu hanya menahan tawanya saja. apalagi Mahreen terlihat kikuk seperti kucing yang kebasahan tersiram air. Haanish langsung berdiri dan melonjak-lonjak mengejek keduanya.


🎶"Ini jaman edan... anak jaman sekarang. masih kecil sudah pada main pacaran... berdiri dempet-dempetan... kesempatan..."🎶 olok Haanish menirukan lagu salah satu grup band lawas dan menyambungnya dengan senandung.


Haidar makin mendelikkan matanya kepada Haanish. kepalan tangannya sudah mengencang hendak meremukkan kepala adiknya itu. Haanish berlagak polos dan bertanya, "Kenapa dengan matamu, Kak?" tanya pemuda itu dengan nada olokan.


"Eiji!" seru Haidar seketika membuat Haanish terlonjak lagi.


🎶 "Eh, copot. eh copot coopot..."🎶 lagaknya lagi meniru lagu lawas seorang penyanyi cilik.


"Eiji... nggak usah lagi mengejeknya." tegur Inayah.


"Jancouk!!!" umpat Haidar yang sudah muntab.


Haanish sudah bisa membaca gelagat itu. ia langsung melesat dan berdiri dibelakang Inayah lalu menuding Haidar, "Coba kalau berani!!!" tantangnya lalu tersenyum sambil mengeluarkan lidah berkali-kali.


"Sudahlah... sampai kapan kalian mau bertengkar terus?" tanya Inayah dengan watak gusar.


"Dia yang mulai Ma..." tuntut Haidar meminta dukungan.


"Eiji... sudah Mama bilang, tak usah lagi mengolok kakakmu." tegur Inayah, "Bisa-bisa hipertensinya naik lagi."


"Kok Mama bicara begitu sih?" lolong Haidar.


Inayah tertawa. begitu juga dengan Haanish. pemuda dan wanita parobaya itu langsung melakukan toss sebab sukses membuat Haidar merajuk. Mahreen mendekati Haidar.


"Sudahlah. dia juga kan adikmu." ujar Mahreen menenangkan Haidar. pemuda itu merasa tenang setelah dibujuk seperti itu oleh Mahreen.


Haidar menatap Haanish, "Tunggu pembalasanku!"


"Hah!!! siapa takut?!" tantang Haanish lagi.


"Kalau saja Mahreen tak menenangkanku... sudah sejak tadi kau..." ancam Haidar.


"Oooo..." sela Haanish kemudian menatap Inayah, "Ma... ternyata Chouji sudah punya tambatan hati..."


Inayah hanya tersenyum getir sedangkan Haidar langsung memerah wajahnya dan Mahreen kembali menjadi kikuk. Haanish menatap Haidar dengan senyum jahil.


"Sudah lupa sama Marina ya?" ungkit Haanish semakin membuat wajah Haidar bagaikan kepiting rebus.


Mahreen tersengat. telinganya langsung menegak. "Marina? siapa Marina?" tanya Mahreen kemudian menatap Haidar dengan tatapan cemburu.


"Eiji..." tegur Inayah, kuatir melihat candaan anak itu sudah keterlaluan.


Haanish tersenyum kepada Mahreen. "Tanyakan saja sendiri kepadanya..." pemuda itu kemudian melangkah pergi menuju pintu.

__ADS_1


"Haanish... kau tak ikut makan malam disini?" tanya Inayah.


"Pasti Ma... tapi aku masih punya keperluan lain." kilah Haanish tanpa menoleh hendak meraih gagang pintu.


"Pasti mau ngapelin Denada... iya, kan?!" tebak Haidar tanpa menoleh tapi tersenyum penuh kemenangan.


seperti sudah diduga sebelumnya oleh Haidar. tiba-tiba Haanish melesat kembali dan mencengkeram kerah kemeja kakaknya lalu menatap garang. "Kenapa kau singgung-singgung Denada dihadapan Mama?" ancamnya dengan suara lirih.


"Yee... suka-suka aku dong." balas Haidar melepaskan cengkraman tangan Haanish pada kerah kemejanya.


"Kamu masih menjalin hubungan dengan perempuan itu, Eiji?" tanya Inayah dengan wajah tak sedap dipandang.


Haanish hanya bisa cengar-cengir dihadapan ibunya. Inayah menggelengkan kepala berkali-kali. "Kamu ini belum jera juga. bukankah sudah Mama bilang, keluarga mereka kurang menyukai keluarga kita... nekad benar kamu menjalin hubungan dengan putrinya." omel Inayah.


"Hanya ingin menghilangkan sekat-sekat yang membatasi pergaulan kami, Mama..." kilah Haanish.


"Eiji... Mama tahu, kau punya hati yang tulus. tapi ketulusan kamu tak akan pernah menyentuh hati terdalam Pak Wei. ia punya sentimen historis kepada keluarga kita." ujar Inayah.


"Ma... aku nggak perduli si sipit itu mau komentar apa. yang jelas, aku cinta sama anaknya, bukan sama dia. kenapa dia yang kebakaran jenggot?" ujar Haanish dengan lantang.


"Mama nggak tahu lagi, harus dengan cara apa Mama menjelaskannya kepadamu." keluh Inayah.


"Kok Mama ikut-ikutan kayak si sipit itu?" tukas Haanish.


Inayah kaget sekaligus syok. "Eh, apa kau bilang? lancang benar kamu sama Mama ya?" seru Inayah menunjuk-nunjuk wajah Haanish.


Haanish kembali tertawa, "Ya Ma. Aku tahu..." olok Haanish membuat Inayah makin syok lagi. "Sudah ah, Mama nikah saja sama Om Dodit."


"Eh, urusan apa lagi kamu nyuruh-nyuruh Mama nikah sama Dodit?!" tanya Inayah dengan ketus.


"Supaya nggak iri saja sama aku." jawab Haanish.


"Iri? ada hubungan apa iri dengan suruhan kamu sama Mama untuk nikah dengan Om Dodit?!" tuntut Inayah.


"Ya supaya lebih leluasa saja, kan sudah halal." jawab Haanish enteng namun membuat Inayah murka seketika.


"EIJIII!!!!" seru Inayah yang sudah berang.


"Ampuuun Maaaaa.... Kabuuuuuurrrrrr..." seru Haanish dengan tanggap langsung melarikan diri dari tempat itu. sepeninggal Haanish, wanita parobaya itu menatap Haidar.


"Nah, kau lihat kelakuan adikmu? makin hari makin sesat saja dia dimataku. lancang benar! kenapa kau tak menghajarnya saja tadi, hah?!" seru Inayah melampiaskan kemarahannya kepada Haidar.


"Kan Mama yang menyulut emosinya. kok salahkan saya?" tangkis Haidar lalu duduk disofa. "Sudahlah Ma... nggak usah dipikirkan kejahilan Eiji tadi. sebenarnya maksudnya baik. mungkin dia kasihan lihat Mama kesepian."


"Kesepian apanya? apa kau melihat Mama kesepian? dimana letak kalian menilai Mama sedang kesepian? Mama nggak pernah kesepian. ada Mahreen disini, ada Imelda disiji, ada para pelayan dan pekerja-pekerja disini." kilah Inayah menyajikan alasan-alasan dan bukti layaknya opsir yang memaparkan BAP dihadapan jaksa.


"Ya, mana Chouji tahu? kan yang bilang tuh Eiji, bukan Chouji, kan? Mama kok malah jadi parno kalau sudah singgung urusan itu?." gerutu Haidar.


"Eh, kamu lagi?! sudah mulai ikut-ikutan Eiji mengintimidasi Mama hah?!" seru Inayah yang mulai berang lagi.


"Sudahlah Ma. aku mau istirahat dulu." ujar Haidar sembari bangkit dari sofa lalu melangkah meninggalkan ruangan. tak lama ia balik lagi. "Bibi Dewi barusan memberitahuku bahwa Om Cornell sama Cholil sudah balik dari Australia. sekedar Mama tahu saja." ujarnya kemudian balik lagi meninggalkan ruangan.


sepeninggal Haidar, Mahreen menatapi Inayah yang masih sibuk menata debaran jantung dan deru napasnya yang memburu.


"Mama... bolehkah aku tahu sesuatu?" tanya Mahreen.


"Tanyakan saja nak." jawab Inayah disela ia menormalkan deru napasnya.


"Kenapa keluarga Wei sangat membenci keluarga Lasantu?" tanya Mahreen.


"Dosa leluhur..." jawab Inayah, "Leluhur mama mertua adalah Mamoru Mochizuki. ia adalah salah satu dari sekian tentara jepang yang berdiam di Kwangtung, Manchuria pada era ekspansifnya jepang. kau pasti tahu sejarah pembersihan etnis di cina yang terjadi di Nanking?" pancing Inayah.


"Perkosaan Nanking..." sahut Mahreen.

__ADS_1


Inayah mengangguk-angguk. "Keluarga Wei adalah satu dari sekian warga Nanking yang mengalami peristiwa itu. meskipun Mama ragu, leluhur kami melakukan hal tercela itu, namun hal itu bisa saja terjadi." ujarnya dengan senyum getir.[]


__ADS_2