The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 08


__ADS_3

Haanish memarkirkan kendaraannya didepan beranda. dengan malas ia keluar dari mobil itu dan melangkah menaiki beranda. namun begitu terkejutnya dirinya mendapati seorang wanita yang sangat dikenalnya terbaring disofa beranda tersebut.


"Denada..." gumam Haanish.


rasa kasihannya muncul. didekatinya sofa itu lalu kem8udian membungkuk dan mulai memondong tubuh Denada dan masuk kedalam rumahnya. Haanish membawanya ke kamar lalu membaringkan tubuh gadis itu ke ranjang.


Haanish mendesah panjang melepaskan penatnya lalu berbalik menuju kamar mandi dan menyiramkan air hangat yang menyemprot lewat shower ke seluruh tubuhnya setelah menanggalkan semua pakaian dan menampakkannya ke keranjang cucian.


Haanish yang merasa segar kemudian memutar keran shower sehingga air hangat itu berhenti menghujani tubuh kekar cutting style milik Haanish. lelaki itu memang bertubuh lebih ceking dari Haidar yang bertubuh kekar bulky mirip mendiang Sandiaga, ayah mereka. namun penampilan lelaki itu tetap terlihat hottish ditatapan wanita lainnya.


Haanish keluar dari kamar mandi. ia sejenak melirik ke arah Denada yang masih tidur. Haanish kemudian membuka lemari dan mengeluarkan pakaian. ia mengenakan kaos dan celana bokser lalu mengeringkan rambutnya. setelah itu ia menaiki ranjang dan berbaring disisi Denada yang masih tergolek tidur.


senyum tersungging dibibir Haanish dan ia kemudian mengecup pelipis gadis itu lalu mengatupkan mata dan tak lama ia meluncur ke alam mimpi.


...******...


Mahreen takjub ketika mendapati dirinya berdiri didepan rumahnya sendiri. tatapannya kemudian mengedar sekilas untuk mengenali kembali lingkungan sekitarnya.


langkah gadis itu kembali terayun dan kemudian melangkah membuka pintu rumah itu.


"Papachka... Mamachka... Miriam... Aku pulaaang..." seru Mahreen saat membuka pintu rumah dan mengamati keadaan dalam rumah itu. langkahnya terus terayun melewati ruang tamu hingga tiba akhirnya diruang keluarga.


disana nampak duduk Jabir Nurmagonegov dan istrinya Sarah. mereka menatap Mahreen dan tersenyum.


"Bagaimana kabarmu, nak? baik-baikkah kau disana?" tanya Jabir.


Mahreen mendekat namun Jabir menyela, "Jangan duduk bersama kami, nak. berdiri saja disitu."


"Kenapa Papachka? apakah kalian sudah tak menyayangiku lagi?" tanya Mahreen dengan sendu. sejenak gadis itu mencari-cari sesuatu.


"Miriam tak ada disini. dia juga sedang mencarimu." jawab Sarah membuat Mahreen makin heran.


"Kenapa dia harus mencariku?" tanya Mahreen.


Jabir menghela napas sejenak. wajahnya terlihat prihatin. "Putriku, Mahreen. setelah ini, kami berdua tak akan pernah bertemu denganmu lagi. maka dengar benar-benar wasiatku. aku meninggalkan sebuah potret dalam kalung yang tersimpan dalam kotak kecil yang kutitipkan kepada Miriam. kau tahu, siapa mereka?"


Mahreen sontak menggeleng dan Jabir mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum.


"Kau akan mengetahui siapa mereka dan apa hubungan mereka denganmu. dikotak itu juga kutuliskan surat yang menjelaskan tentang identitasmu. ingat nak. jangan pernah lupakan siapa kau sebenarnya. kelak, Masyarakat Sungai Amur akan mencarimu karena kau adalah pribadi yang akan memimpin mereka dalam menghadapi Klan Dracna dari Transylvania." ujar Jabir.


"Papachka, mengapa aku tak boleh duduk bersama kalian?" rajuk Mahreen.


"Nak... jika kau ikut duduk disini, maka kau tak akan bisa kembali ke alam nyata. kami mengirim pesan agar kau datang bukan untuk mendiami tempat ini, tapi hanya untuk mendengarkan pesan agar kau lebih berhati-hati dalam hidup. nyawa kalian berdua terancam bahaya. Klan Dracna menginginkan nyawa kalian sehubungan dengan sebuah artefak kuno. suatu saat kau akan mengetahuinya..." tutur Jabir dan tak lama kemudian matanya mulai membasah.


"Papachka... mamachka?" sahut Mahreen dengan sendu.


"Jangan bersedih, nak." hibur Sarah, "Kau tak sendirian. ada yang akan melindungi kamu dari Klan Dracna. selain itu, kau akan menemukan lelaki yang akan bersedia mati untukmu..."


"Selamat tinggal Nak, Allah selalu menyertaimu..." ujar Jabir.


"Papa..." sahut Mahreen.


dan pandangannya makin berkabut.


Mahreen terbangun dan menatap langit-langit kamar. matanya berkerjap-kerjap. Papachka... apa maķsudnya ini? mengapa aku tak akan bertemu dengan kalian lagi? mengapa Miriam mencariku?


perlahan namun pasti kedua matanya mulai basah dan akhirnya ia mulai terisak-isak sendiri kemudian memeluk guling. Papachka... Mamachka... Miriam...


sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. gadis itu tetap meringkuk dalam baringnya. ia menangis tanpa suara, takut membangunkan orang serumah.


...*******...


Denada terbangun saat matahari menyoroti wajahnya dari sudut ventilasi luar rumah. matanya menyipit menghalang silau yang hendak mengganggahi kornea matanya. wanita itu berpaling dan mendapatkan tubuh Haanish yang sedang memeluknya.


"Uhm..." Denada menggumam dan menggeliat malas, dan itu cukup membuat Haanish terbangun dari tidur.


"Oh, kau sudah bangun, sayang?" tanya Haanish kemudian menguap lebar.


"Kamu kemana semalam?" tanya Denada dengan malas. "Aku nunggu kamu ditempat kita biasanya... tapi... kamu tak kunjung datang... aku kemari menunggumu..."

__ADS_1


"Aku tahu... aku minta maaf." kata Haanish dengan jujur. "Kami sedang mengunjungi Mama dan makan malam bersama... " jawab pemuda itu.


"Makan malam bersama?... dengan siapa?" gumam gadis itu ikut menguap namun menutup mulutnya.


Haanish bangkit dan duduk ditepi ranjang. "Acara keluarga, setiap seminggu dua kali. kamu sudah tahu itu."


"Berarti aku datang disaat yang tak tepat ya?" gurau Denada kemudian tersenyum. gadis itu turun dari ranjang dan ikut duduk ditepi ranjang, namun Haanish menarik tangan gadis itu dan menyuruh Denada duduk dipangkuan pemuda itu.


"Jadwalnya saja yang nggak tetap. selalu saja tiba-tiba." kilah Haanish kemudian maju mengecup bibir kekasihnya.


"Ih, jorok kamu." tegur Denada. "Ini juga masih bangun dari tidur... masih ileran, tahu?" ujarnya menggoda.


"Biarkan." tangkis Haanish. "Aku ingin merasai naturalnya bibir dan bau mulutmu sebelum dikontaminasi oleh mouthspray itu." ujarnya tersenyum.


Denada tersenyum dan Haanish kembali mendekatkan dirinya. kali ini pemuda itu mengecup halus bibir Denada dan mengulumnya. Denada menyambut perlakuan itu dan membalasnya serupa bahkan lebih.


mereka yang terlibat dalam adegan itu tak menyadari suara mobil yang mendekat disambung langkah kaki yang juga berseliweran diruangan sebelah. keduanya terkonsentrasi penuh pada kegiatan mereka yang mulai memasuki tahapan erotisasi menuju koitus.


pintu terbuka, dan...


"ASTAGFIRULLAH AL ADHIIIIM.... EIJI !!!"


sontak kegiatan itu bubar ditengah-tengah saat Haidar memergoki keduanya duduk saling memangku ditepi ranjang, dan merapatkan tubuh mereka yang nyaris telanjang.


"Kamu sudah membuat kediaman ini menjadi rumah bordil ya?! awas! kuberitahukan Mama!" ancam Haidar yang kemudian berbalik memunggungi mereka.


"Alaaaa... lagakmu itu." ejek Haanish. "alim-alim bulotu kamu tuh..." pemuda itu masih memeluk Denada yang sudah kepalang malu dan menundukkan wajahnya. "Kamu kan sudah sering lihat aku begini. ini juga nggak sampai begituan... kamu saja yang...."


"Apa? coba teruskan kalimatmu?!" ancam Haidar menatap Haanish. "Cepat kenakan lagi pakaian kalian!"


dengan menggerutu Haanish memberdirikan Denada yang polos bagian atasnya. pemuda itu memungut pakaian Denada dan memberikannya pada gadis itu sementara ia pun memakai lagi kaosnya. Denada cepat-cepat berpakaian dan hendak pergi namun ditahan Haanish.


"Kamu bukannya mau kekamar kamu sana, kok malah kesini? dasar tukang ngintip. karlota kamu tuh." umpat Haanish mendekati Haidar yang masih memunggunginya. "Sudah keluar sana. aku mau nganter Denada pulang."


"Setelah pulang, kutemui kau di Buana Asparaga." kata Haidar. "Ada yang ingin kudiskusikan denganmu."


Haidar membalik menatap Denada lalu menatap lagi kearah Haanish. "Untung aku muncul. kalau nggak... awas kalau kalian begituan lagi dirumah ini..."


"Lho? apa urusanmu, kuman?! pergi sana!" usir Haanish dengan wajah membesi.


Haidar mendengus sejenak lalu pergi meninggalkan kamar itu. Haanish menutup pintu keras-keras


BLAMMMM...


Haidar kaget dan membalik lagi dengan wajah mengencang. namun hanya sampai disitu saja kemarahannya. selebihnya, ia tak pernah benar-benar ingin menaklukkan Haanish. sejak kecil mereka selalu saja berselisih paham meskipun Haanish selalu menanggapi kemarahannya dengan santai. dalam pertarungan keduanya sama kuat. tak akan berakhir pertandingan saat keduanya masih kuat memukul dan menendang. sejak diadu oleh Kenzie maupun Trias, bahkan Sandiaga sendiri. kedua putra keluarga Lasantu itu memiliki kekuatan fisik dan mental yang seimbang. hanya saja perawakan dan sifat mereka berbeda jauh sebab sebenarnya mereka hanya saudara sekandung ayah saja sedang ibu mereka berbeda.


Haidar adalah putra Sandiaga dari Inayah. sedang Haanish adalah putra Sandiaga dari Rosemary. Inayah duluan melahirkan kemudian disusul oleh Rosemary. keduanya lahir pada hari yang sama namun berbeda pada detik, menit dan jam. maka Haidar adalah putra sulung sehingga ayahnya menyebutnya Chounan (putra tertua) sedang Haanish dipanggil Eiji (Putra kedua).


Haidar Ali adalah sosok yang meledak-ledak, emosian dan sangat serius namun sebenarnya ia sangat baik. karakter granatnya itu hanya dipermukaan saja, merupakan pembawaan dari ibunya yang semasa muda memang merupakan singa betina yang tak gampang dipermainkan lawan.


Haanish berpembawaan santai bahkan terkesan joker namun dia mirip bom waktu. kalau kemarahannya meledak, ia akan sangat sadis seperti mendiang ayah dan neneknya, Azkiya. karena Haanish condong mensifati mereka. ia sangat jahil kepada Haidar ataupun kepada seseorang yang memang ingin dijahilinya. sifatnya mirip mendiang ibunya, Rosemary. hanya saja, Haanish sekarang menumpahkan rasa cinta kasihnya kepada Inayah, sebab wanita itu yang kemudian mengangkat derajatnya dan menempatkan statusnya sebagai putra sah keluarga Lasantu. Haanish tak akan pernah melupakan kebaikan ibu sambungnya itu.


Denada mendekati Haanish yang juga telah berbalik menatapnya.


"Kurasa, aku harus pergi." ujar Denada.


"Aku akan mengantarmu." sahut Haanish kemudian melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Denada kembali duduk disofa dekat ranjang menunggu kekasihnya selesai membersihkan diri.


Haanish muncul dan bersalin pakaian. ia mengenakan kaos merah yang dipadu dengan celana hitam dan jaket hitam pula lalu mengajak Denada keluar dari kamar.


keduanya berpapasan dengan Haidar yang muncul telah mengenakan pakaian resmi, setelan jas lengkap dengan rompi dan dasi. ia menatap Haanish.


"Eiji... jangan lupa." pesan Haidar.


"Wakatta..." jawab Haanish singkat sambil menggandeng Denada keluar meninggalkan kediaman. alih-alih menggunakan mobil, Haanish justru mengendarai motor gedenya membonceng Denada dan keduanya melesat ke jalanan.


Haidar hanya bisa menggelengkan kepala berkali-kali menyaksikan betapa ugal-ugalan si pemuda itu. ia kembali ke dalam kamarnya sejenak, lalu keluar lagi dengan langkah pasti mengayun kaki menuruni beranda dan masuk kedalam Tuatara V33K kesayangannya itu. tak lama kemudian kendaraan itu juga melesat meninggalkan kediaman Lasantu dan melaju dijalanan.


...******...

__ADS_1


Inayah sudah berada dimeja makan dan wajahnya agak sedikit mengeruh.


"Kapan anak itu bangun?" tanya Inayah.


"Sebenarnya sejak tadi sih Nyonya." jawab Tante Imel, "Tapi kelihatannya dia lagi sedih tuh. saya sempat melintasi kamarnya dan mendengar suara isakan."


"Katakan padanya untuk segera menemuiku." perintah Inayah.


Tante Imel mengangguk lalu pergi lagi menaiki tangga menuju lantai dua rumah tersebut. wanita itu tiba didepan pintu kamar. ia mengetok.


TOK TOK TOK...


"No'u, kamu dipanggil Nyonya... disuruh menghadap kepadanya." panggil Tante Imel.


tak lama pintu membuka dan Mahreen muncul. Tante Imel menatap Mahreen dan alis wanita itu bertaut.


"Kenapa No'u? kok kayak habis nangis? matamu bengkak lho." kata Tante Imel. "Lagi dimarahi Tuan Muda Chouji ya? atau lagi ngalami mimpi buruk?"


Mahreen cepat-cepat menyusuti bekas-bekas air mata. ia kembali menatap Tante Imel. "Ada apa Tante?"


"Nyonya manggil kamu. ini sudah waktu sarapan pagi." ujarnya. Mahreen mengangguk lalu keluar dari kamar didampingi oleh Tante Imel. keduanya tiba diruang makan.


"Kenapa kamu? seperti mengalami peristiwa buruk saja." komentar Inayah, "Duduklah..." pintanya.


Mahreen duduk dikursinya. "Maaf Mama... saya baru saja mengalami mimpi buruk dan sekarang masih terasa efeknya." kilah Mahreen. "Maafkan saya."


"Sudahlah. ayo kita makan." ajak Inayah.


Tante Imel kemudian melayani Mahreen dalam sarapan pagi itu. wanita itu kemudian pergi setelah diperintahkan Inayah melalui isyarat.


"Mahreen... Mama punya sebuah usul untukmu." ujar Inayah membuat Mahreen sejenak menatap wanita parobaya tersebut. Inayah menyambung lagi. "Tapi, sebelumnya bolehkah Mama bertanya?"


Mahreen sejenak menelan makanannya lalu mengangguk. "Silahkan, Mama..."


"Kamu ngekost?" tanya Inayah.


"Ya..." jawab Mahreen.


Inayah mengangguk-angguk. ia kemudian menetapkan sebuah keputusan. "Maukah kamu menemani Mama tinggal disini?"


Mahreen terdiam lalu menatap Inayah. wanita parobaya itu tersenyum, "Kamu nggak usah ngekost lagi. tinggallah dengan Mama... kamu mau, kan?"


"Mama... bukan saya mau menolak." tangkis Mahreen. "Taoi, saya orang baru. kita baru saja kenal... mengapa Mama sebaik ini sama saya? apakah Mama tidak kuatir, saya ini mungkin seorang penipu?" pancingnya.


"Nak... patut kamu tahu." ujar Inayah. "Mama ini seorang perwira polisi. sudah malang melintang didunia hitam dan tahu watak setiap orang." tandasnya, "Mama yakin... kamu itu bukan penipu..."


Mahreen terdiam lagi. Inayah kemudian menyambung lagi. "Kamu putrinya Jabir Nurmagonegov, kan?"


Mahreen terkejut. "Dari mana Mama tahu?" ujarnya.


Inayah tersenyum dan mengedipkan matanya. "Ada aja..." ujarnya dengan senyum jail. ia kemudian menyambung lagi. "Karena kamu putrinya Jabir Nurmagonegov, maka itulah aku menginginkan kamu tinggal disini. ayahmu, adalah sahabat suamiku..."


bibir Mahreen membulat dan ia paham mengapa Inayah sengotot itu. "Suami Mama dimana?"


"Sudah almarhum." jawab Inayah dengan singkat.


"Oh, maafkan saya..." jawab Mahreen lagi.


"Mama terima maafmu, dengan satu syarat." ujar Inayah.


"Apa itu Mama??" tanya Mahreen.


"Gampang syaratnya..." ujar Inayah lagi.


Mahreen memandang wanita parobaya itu. Inayah menyambung lagi, "Maukah kau menemani Mama dirumah ini?"


"Itukah syaratnya, Mama?" tanya Mahreen. Inayah tersenyum dan mengangguk.


Mahreen akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Mamachka.... Saya bersedia." []

__ADS_1


__ADS_2