The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 21


__ADS_3

"Assalamualaikum... Pa... Ma..." sapa jilbaber itu.


"Hai, neeek... Bapu..." sapa putrinya.


"Aisyah! Aya!" seru Parman dan Jusriya berbarengan.


jilbaber itu memang Aisyah dan Aya Sofia. anak itu sendiri mengenakan busana muslim modis yang rompinya disulam dengan lambang kamon keluarga Mochizuki. pakaian itu khusus dihadiahkan Haidar kepadanya.


keduanya melangkah lalu duduk disisi Inayah. Parman dan Jusriya masih belum hilang rasa kagetnya. keduanya membelalakkan mata dan mengangakan mulutnya.


"Pak..." tegur Inayah, "Mulutnya tolong dikatupkan. nanti lalat masuk dan bertelur dikerongkongan anda."


seketika Parman dan Jusriya mengatupkan mulutnya. Aisyah tersenyum. "Bagaimana rasanya dikerjai polisi, Pa? Ma?"


"Jadi itu ulah kamu?!" seru Parman.


"Keterlaluan kamu!" sahut Jusriya.


Inayah mendehem keras membuat Parman dan Jusriya langsung diam. keduanya memang tak berkutik dihadapan wanita yang penuh wibawa ini.


Inayah menatap kedua orang tua itu. "Aisyah telah dinikahi oleh putra saya. kami mengundang anda hanya untuk memberitahu dan menyaksikan prosesi gelar resepsi pernikahan mereka." ujar wanita itu.


Parman dan Jusriya membungkuk patuh. Inayah melanjutkan. "Sudah cukup kesalahan yang kalian lakukan terhadap putri kalian sendiri. saya sebenarnya bisa memperkarakan hal itu..."


ucapan Inayah barusan membuat Parman pucat pasi. Jusriya langsung menyela. "Bu... kami..."


Inayah mengacungkan telunjuk menyuruh Jusriya diam. wanita itu tak mampu lagi melanjutkan kata-kata. Inayah menarik napas panjang lalu menyambung lagi. "Karena aku menghormati menantuku... maka aku anggap hal itu hanya keteledoran orang tua yang terhimpit hutang. tapi bukan berarti aku memaafkan kalian.... sekali saja kudengar kalian berdua memanfaatkan menantuku, aku tak segan mencebloskan kalian ke penjara... selama-lamanya!"


Parman dan Jusriya dengan patuh membungkuk-bungkuk. Inayah menatap Aisyah. "Mereka tidak akan tinggal disini. aku tak mau ketentraman kalian terganggu. orang tuamu akan ku pesankan kamar hotel. mereka akan tinggal disana selama resepsi digelar."


"Saya terserah Mama saja." jawab Aisyah.


Inayah mengangguk lalu menatap Parman dan Jusriya. "Silahkan. saya sudah menyiapkan hotel untuk anda." jawab Inayah sambil bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu. hal itu dimanfaatkan Parman untuk mendekati putrinya.


"Mertuamu itu sadis sekali." gerutu Parman.


"Ya." jawab Aisyah, "Jika dihadapan orang yang tak disukainya. tapi buktinya Papa melihat beliau lembut kepadaku, berarti ia menyukaiku."


"Aisyah... Papa..." ujar Parman.


"Sudahlah Pa... utang kita sudah selesai dengan cerainya aku dari Joni. mereka tak akan menyentuhku lagi jika tidak mau berurusan dengan mertuaku." ujar Aisyah.


Parman diam saat Aisyah menyuruh Aya Sofia kembali ke kamarnya. anak itu dengan lincahnya berlari meninggalkan ruangan itu. sepeninggal putrinya, Aisyah menatap lagi kedua orang tuanya.


"Aku harap Papa dan Mama bisa membawa diri disini. jangan melakukan sesuatu yang bisa merusak hari bahagiaku. aku ingin hidup tenang Ma, Pa. sudah cukup aku menderita karena keteledoran kalian yang ingin hidup bagai orang mentereng di Tolinggula." tandas Aisyah.


Parman hanya menatapi istrinya. Jusriya menghela napas. "Kami melakukannya juga untukmu agar kau tak direndahkan warga desa. kamu tahu, kita ini hanya keluarga buruh yang mengelola sawah dan ladang orang, bukan pemilik persawahan atau perkebunan. kalau tak bekerja keras, tentu tak mendapat makan."


"Tapi itu lebih terhormat ketimbang banyak berhutang demi gengsi Mama." ujar Aisyah.


terdengar lagi deheman membuat Parman dan Jusriya buru-buru bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu sebab Inayah telah berdiri dipintu.


keduanya diantar ke hotel oleh Inayah yang dikawal oleh Salman. disana, keduanya diberikan fasilitas VIP, sehingga mereka benar-benar dilayani dengan sebaik-baiknya.


sementara Aisyah yang baru saja hendak membereskan meja, terjeda sejenak dengan pintu yang membuka. Haidar muncul menenteng tas kantornya, mengenakan pakaian dengan jas yang sudah membuka.


"Assalamualaikum..." sapa Haidar.


"Wa alaikum salam." jawab Aisyah.


Haidar melangkah menuju kamar diikuti oleh Aisyah. setelah didalam kamar, Aisyah mempreteli semua pakaian suaminya dan menggantinya dengan pakaian santai.


"Mama sudah tiba?" tanya Haidar.


"Bahkan sudah pulang." jawab Aisyah. "Kamu terlambat menemuinya."


"Maafkan aku. pekerjaan kantor tadi agak banyak tadi." sahut Haidar. "Apakah ayah-ibumu sudah tiba?"


"Sudah. mereka dibawa Mama ke hotel." jawab Aisyah.

__ADS_1


Haidar mengangguk-angguk pelan. lalu duduk disisi ranjang. "Sebentar malam adalah resepsi pernikahan kita. kuharap mereka bisa mendampingi kamu."


"Mereka akan mendampingiku. kamu nggak usah kuatir." jawab Aisyah lagi.


Haidar menyuruhnya duduk dipangkuan. jilbaber itu mengikutinya. Haidar memeluk istrinya. "Setelah ini, kamu mau bulan madu kemana?"


Aisyah tertawa. "Orang setua aku?" ujarnya dengan pelan menunjuk diri sendiri. Haidar menatapnya.



"Mengapa dirimu menyebut diri sudah tua? usiamu tak setua diriku... aku justru lebih tua dua tahun darimu." ujar Haidar.


"Tapi liang garbaku sudah pernah melahirkan. itu artinya aku sudah tua." jawab Aisyah pelan lalu senyum. Haidar mengangguk-angguk.


"Begitukah?" ujar Haidar. "Berarti kamu nggak keberatan jika aku memanggilmu nenek tua?"



"Berarti kau juga bisa kupanggil kakek tua!" jawab Aisyah kembali dengan senyum.


"Banyak bacot!" seru Haidar kembali mendekatkan wajahnya dan menjelajahi bibir Aisyah dengan bibirnya. Aisyah melingkarkan kedua lebgannya dileher suaminya sementara tangan Haidar yang lain tetap memeluk pinggang dan lainnya menggerayangi dua bukit bulat milik istrinya yang masih dibalut pakaian.


ditengah *******, Aisyah hanya menjawab. "Mmmhhhfff... aku... hanya ingin... bulan madu... ke hatimu... saja."


Haidar terkekeh. "Kalau itu sudah banyak kali."


dan keduanya tanpa sungkan bercinta disaat birahi mereka memuncak. Aisyah hanya tinggal mengangkat terusan kain bawahnya, membuka tungkai kakinya sedang Haidar hanya tinggal memelorotkan celana dan terjadi penyatuan alat reproduksi pada siang itu.


...*******...


Marissa mulai membiasakan diri dengan kehidupan gaya istana meskipun ia beberapa kali merasakan tak nyaman. sering ia mendiskusikan beberapa hal kepada Haanish. lelaki itu hanya tersenyum menanggapi celoteh istri ceriwisnya itu.


Nyonya Hasegawa, itu pangggilannya sekarang mengikuti panggilan Haanish yang dipanggil Tuan Hasegawa. panggilan nama inilah yang agak canggung dirasakannya. istri berusia 19 tahun itu seperti merasa dikungkung dengan tradisi itu.


"Kamu semestinya bersyukur kunikahi diusia belia begini." ujar Haanish kepada Marissa saat mereka berada dikamar. "Pada jaman Sengoku, pernikahan seorang samurai, apalagi yang merupakan golongan aristokrat seperti aku, akan menjalani pernikahan di usia 11 tahun."


"Ih, nggak keren." tukas Marissa. " Bagaimana rasanya tuh?"




"Ooo... jadi kamu mau menikah lagi dengan perempuan usia 11 tahun?" pancing Marissa.


"Enak saja. aku mana mau?" sangkal Haanish.


"Siapa tahu aja mau." timpal Marissa.


"Aku lebih baik sama kamu saja." tukas Haanish sambil senyum-senyum.


"Kenapa kalau sama aku? memang kamu harusnya sama aku." tandas Marissa. "Kita kan suami-istri.... atau kamu mau rencana ngambil istri kedua?"


"Nggak ah." jawab Haanish.


"Lho? bukankah boleh?" tukas Marissa. ia kemudian menyetir potongan ayat kedua puluh empat. "Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat..."


Haanish langsung menyela, "Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki." sambungnya. "Itu ayatnya, kan?"


Marissa mengangguk. Haanish tersenyum. "Apa kamu pikir aku akan bisa berlaku adil?" pancing Haanish.


Marissa terdiam. Haanish terkekeh. "Kamu tahu? konsep keadilan menjadi patokan seseorang boleh untuk melakukan poligami... termasuk disitu keadilan membagi setoran batinnya. dan aku yakin seratus persen... kamu pasti tak akan berkenan. lelaki boleh saja menikahi siapapun wanita yang dia sukai... tapi wanita pasti akan mengklaim lelaki yang dinikahinya... dan tak boleh ada wanita lain dihati lelaki itu. benar apa tidak?" pancingnya.


Marissa kembali terdiam tanpa sadar mempermainkan ujung lengan yukata miliknya. Haanish sudah bisa menerka pemikiran dalam benak istrinya.


"Tapi kan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam kan pernah melakukan praktek poligami..." pancing Marissa.


"Setelah Siti Khadijah wafat... camkan itu." tandas Haanish. "Setelah Siti Khadijah wafat... baru beliau melakukan praktek itu delapan tahun kemudian. itupun hanya untuk mengangkat derajat para janda yang suaminya gugur sebagai syuhada. hanya satu wanita yang dinikahi beliau dengan unsur cinta, setelah Siti Khadijah, yaitu Siti Aisyah radiallahu anha." sangkal Haanish.


Marissa kembali diam. Haanish tersenyum lagi. "Aku bukan seperti mereka... juga bukan seperti almarhum Papa yang punya tiga istri. nggak, aku nggak begitu!" tandas Haanish. "Aku hanya akan menikahi, mencumbui, menghamili satu orang gadis saja... dan itu adalah kamu, Marissa Williams. paham?!"

__ADS_1


"Aaaaa.... kamu bikin aku makin baper saja." tukas Marissa dengan manja. "Peluk dong!" pintanya.


"Nggak ah. kamu saja yang peluk aku." ujar Haanish langsung berbaring.


Marissa langsung menempelkan tubuhnya ditubuh suaminya itu. keduanya berpelukan. Haanish membelai rambut Marissa yang terurai. Haanish mendekatkan kepala istrinya kepelukannya.


"Ah, Marissa... andai jika aku memilih... aku paling tidak senang tinggal disini." gumam Haanish. "Aku berani bertahan, hanya karena kamu."


Marissa mengangkat wajah menatap Haanish. "Kenapa begitu?"


"Karena pekerjaan ini, bagiku sangat berat." jawab Haanish. "Aku pemegang rahasia negara. sedikit saja ada yang bocor maka secara pasti mereka akan mendaulat akulah tersangkanya. bukan siapapun."


"Bukankah kau menikmati peranmu sebagai kepala keluarga dan kepala klan?" tukas Marissa.


"Kenikmatan semu... tapi semua kulakukan... aku bertahan... karena ada kamu disisiku." ujar Haanish. "Hanya kau yang bisa membuatku tersenyum setelah penuh kepenatan berkutat dengan pekerjaan ini dan itu."


"Apakah kau ingin pensiun?" pancing Marissa. "Apapun yang kau putuskan, aku mendukungmu."


"Tak semudah itu melepaskan jabatan tersebut. bisa-bisa Kakek Ryoma akan membunuhku." ujar Haanish.


"Kau cucu lelakinya. dia nggak akan mungkin membunuhmu kecuali dia memang ingin memusnahkan keluarganya sendiri." tukas Marissa. "Dengarkan aku. ini jika kamu mendengarkanku. jika tidak juga, nggak apa-apa. aku tak memaksa."


"Apa itu?" tanya Haanish.


"Temui Kakek Ryoma. katakan kepadanya, kau hendak melepaskan jabatan kepala keluarga dan kepala klan itu, menyerahkannya kembali kepada Kakek Ryoma." usul Marissa.


"Terus?" pancing Haanish.


"Ya... kita pulang ke Indonesia." sambung Marissa.


"Dasar istriku... cantik nan lugu..." ujar Haanish mencubit hidung Marissa. "Kamu belum mengetahui bagaimana arus politik mengalir... salah sedikit kamu berenang atau tak pandai mengarungi arus... kamu bisa tenggelam dan mati sia-sia." ujar Haanish. "Coba renungkan kembali kasus-kasus pembunuhan politik yang pernah terjadi di Indonesia... apakah para pejuang HAM itu masih hidup sampai sekarang? tak satupun... bahkan kuburan mereka tak pernah ditemukan. mereka benar-benar dilenyapkan oleh penguasa dalam lembar sejarah kehidupan manusia... itulah sebab jika kita tak mampu mengarungi arus sebuah politik yang membentang dihadapan kita." ujar Haanish membelai rambut panjang istrinya. "Jangan kira sungai yang diam tak berbuaya.... jangan kira air yang beriak tanda tak dalam... justru arusnya lebih deras dan dapat menghanyutkan orang."


"Uhmmm.... susah juga..." gumam Marissa.


"Aku nggak pusing meski urusan negara memusingkanku. yang penting... kamu ada disisiku..." ujar Haanish.


"Gombaaallll...." ujar Marissa.


"Nggak. beneran..." ujar Haanish.


"Buktinya?" pancing Marissa.


"Buktinya ini...." ujar Haanish langsung mengecup bibir Marissa dan melanjutkannya dengan membuka yukata istrinya. membentanglah dua buah bukit mencuat dengan kuil kecil kecoklatan itu. Haanish tanpa segan mencucupnya dan Marissa tak lagi sungkan memeluk suaminya.


dan keduanya semakin panas menyatukan kedua tubuhnya dalam ritme bertalu hentakan pinggul berbareng ******* nan lenguhan hingga akhirnya dipertempuran yang terjadi dua kali itu, keduanya melepaskan hasrat purbanya dalam kulminasi senggama yang nikmatnya menjalar hingga ke tulang sum-sum.


...*******...


dua orang tua itu saling pandang saking herannya. kemudian mereka berdua menatapi Djalenga yang juga hanya bisa memamerkan cengiran canggungnya sebab telah tersudut oleh enam benturan mata yang juga memelotot ke arahnya.


Mahreen menatapnya. "Kamu kok diam?" tegurnya.


Djalenga dengan canggung memperkenalkan Mahreen kepada kedua orang tuanya.


"Inaq, amak, perkenalkan ini sahabat baru Tiang, Tie punya nama itu, Mahreen Nurmagonegov..." ujar Djalenga masoh tetap memamerkan cengirannya.


Mahreen membungkuk hormat saat Djalenga menyebutkan namanya dihadapan dua laki-bini parobaya tersebut. Djalengan kemudian menyambut.


"Tie ini adalah sukarelawan peneliti dari Gorontalo... utusan lembaga survei..." ujar Djalenga menyebutkan nama lembaga survei tersebut, "Jadi mereka akan melakukan pengamatan dan pencatatan selama tiga bulan ini didesa Sade ini... perlu kiranya inaq-amak ketahui."


laki-bini parobaya itu mengangguk-angguk kemudian. laki-laki parobaya itu mengulurkan tangan. "Saya Samirep Abdullah... ayah dari Lalu Djalenga." ujar laki-laki itu kemudian menunjuk wanita disisinya. "Dan ini Maryati, ibunya."


Mahreen tersenyum menjabat tangan lelaki tua itu. "Saya Mahreen Nurmagonegov dari Dagestan, Rusia. saya adalah mahasiswa program pertukaran pelajar yang menjadi sukarelawan survei lembaga..." gadis itu menyebutkan nama lembaga tersebut. "Maaf jika keberadaan saya mungkin dapat mengganggu anda sekalian."


"Tidak mengganggu sama sekali, anak." jawab Samirep. "Kami warga desa Sade selalu menerima kamu dengan tangan terbuka."


"Bagaimana bisa kamu dapat berkenalan dengan anak saya ini, anak?" tanya Mariyati.


Mahreen menatap sejenak kepada Djalenga. setelah itu ia menatap Samirep dan Maryati. "Anak anda yang mendekati saya. dia memperkenalkan diri kepada saya pertama kalinya, dan saya pun bersedia menjadi temannya. makanya saya kemari datang perkenalkan diri supaya anda berdua tidak curiga sama dia, mengira dia melakukan lagi memari anak gadis orang."

__ADS_1


Samirep tersenyum. "Djalenga tidak sembarangan melakukan itu. dia tahu diri." ujar lelaki tua itu dengan senyum lemah. Memari hanya bisa dilakukan apabila si lelaki dan si wanita sudah saling menyukai. tanpa ada rasa itu maka memari terlarang dilakukan!" []


__ADS_2