The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 54


__ADS_3

pekarangan kediaman Alkatiri. pukul 07.05 WIB.


dipekarangan itu berdiri panggung pendek yang berhamparkan deretan kursi yang diduduki ninik-mamak dari keluarga Alkatiri. ditengah duduk Kevin Williams dan Syafira Alkatiri. disisi kanan, duduk Akram Williams dan Airina Yuki. disebelahnya lagi, duduk Hayati dan Ikram Williams. disisi kiri, duduk Marinka yang menanti dengan wajah penuh kecemasan. pasalnya ia belum mengetahui kalau Puncan seorang petarung atau bukan. diluar panggung berdiri Haidar yang memasang wajah membesi bersama Djalenga yang menatap dengan penuh minat.


sementara dihalaman depan panggung itu, kedua petarung berhadapan saling menatap tajam. Haanish memandang dengan senyum bengis sedangkan Puncan hanya bisa berdiri tegap dengan wajah datar yang ditabah-tabahkan.


"Kamu sudah siap, Puncan?" tanya Haanish.


Puncan menghela napas. akhirnya ia mengangguk. "Baiklah... aku siap." ujarnya dengan rendah.


"Bagus... kau pilih mana? pertarungan tangan kosong, atau bersenjata?" tanya Haanish lagi.


"Terserah kepada anda saja." jawab Puncan.


Haanish mengangguk-angguk. kemudian lelaki itu menghadap kepada para penghuni panggung itu.


"Saya akan melakukan pertandingan, dengan pertarungan tangan kosong saja, berhubung... istri saya lagi hamil..." ujar Haanish.


Akram terhenyak dan langsung mencela. "Kenapa kau tak beritahu kami, kalau Marissa hamil?!"


"Kan Abi nggak nanya." jawab Haanish dengan enteng.


Akram menatap ibunya. "Umi... bagaimana ini?"


Syafira mengencangkan rahang. "Sutan Pamenan nan mudo. disaat seperti ini kau memberitahu berita kehamilan Marissa? apakah ini salah satu trik kamu supaya menghindari pertempuran?"


Haanish tertawa. "Saya bisa meneruskan pertandingan ini. tapi... apakah tak akan berdampak pada kehamilan istriku?" pancing lelaki itu mengembangkan tangan. "Setahuku, selama seorang istri hamil, sang suami tak boleh melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan kejelekan bagi kandungan sang istri... termasuk masalah berkelahi ini."


Syafira Alkatiri kembali menggeram dan menatap kumpulan ninik-mamak. "Bagaimana dengan kalian? apakah pertandingan ini bisa dilanjutkan atau tidak?"


"Ditunda, tapi akan dilanjutkan sampai istri dari Sutan Pamenan nan mudo selesai melahirkan." usul salah satu anggota keluarga.


"Beh, kelamaan, pak." tolak Haanish. ia kemudian menatap Haidar. "Bro! sini kau!" panggilnya.


Haidar melangkah mendekati Haanish. sesampainya dihadapannya lelaki itu mendekatkan wajahnya. "Yilongola?" tanya Haidar.


"De poleleya ma'o o li mongoliyo... wa'u ma landingalo molohuluwa ... mo'ongolo. oluwo olebe penting mondeto. de po sambe ma'o olimongoliyo... alihe'o." pinta Haanish dengan berbisik pula.


Haidar mengangguk-angguk lalu menatap rombongan ninik-mamak tersebut. "Sebelumnya kepada mongutata-mongodula'a, saya menghaturkan maaf mewakili adik saya ini. tapi jika menunda pertandingan maka tentunya akan mendapatkan mudharat." ujar Haidar.


"Mudharat seperti apa?" tantang salah satu ninik-mamak.


Haidar tersenyum, "Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda, apabila ada diantara wanita, telah datang seorang yang kita tahu akhlaknya, agamanya dan perilakunya baik, dan kita menundà-nunda atau menolaknya, maka tunggulah fitnah yang akan diadakah Allah." lelaki itu menyambung. "Dan jelas, fitnah ini bukan hal yang terdengar menyenangkan. apakah keluarga Wiliams-Alkatiri sanggup menanggung fitnah itu?!"


"Tentu kami bisa menanggungnya!" tandas salah satu ninik-mamak itu.


Haidar mengangguk-angguk dan rasa jengkelnya muncul. "Kami orang Gorontalo memang tak mengenal adat Minangkabau. tapi, Marinka Williams adalah adik sepupu saya, terlepas dari kedudukannya sebagai sosok yang ditinggikan menurut adat matriarki. bagaimanapun, dia adalah adik saya, secara darah keturunan sebab ibunya adalah bibi saya. maka saya juga punya kewajiban belapati jika ada keputusan dari ninik-mamak yang ternyata membawa dampak buruk baginya."


"Kau berani menantang kami?! ingat kedudukan kamu!" seru salah satu ninik-mamak yang tubuhnya agak kekar tersembunyi dibalik pakaiannya.


Haidar menatap Haanish yang kemudian tertawa. Airina dan Akram langsung dilanda rasa kuatir. pasalnya jika Haanish sudah tertawa tanpa alasan, pastilah ia akan membuat kekacauan. sedangkan Haidar hanya menatap sinis kepada ninik-mamak itu.


"Bagaimana kalau aku yang menantang anda untuk mengadu kekuatan?" tantang Haidar yang langsung merobek pakaiannya dan bertelanjang dada. "Aku tak akan segan lagi jika ini menyangkut kebahagiaan adik perempuanku!" seru Haidar yang langsung memperdengarkan aumannya, jurus Bahana Penggetar Sukma dan seketika tubuhnya berubah bentuk menjadi sosok kekar berwajah singa, lalu kembali mengaum keras.


seketika isi panggung itu gempar terkecuali anggota keluarga inti Wiliams-Alkatiri. mereka memang sudah tahu keistimewaan Haidar yang telah mengkonsumsi darah dewa. si lelaki kekar itu langsung jatuh lemas dengan bibir gemetar dan tergagap-gagap.


"Ayo! siapa diantara kalian yang ingin mengorbankan diri sebagai mangsaku?! dengan senang hati! demi Marinka, aku tak akan segan memangsa kalian!" tantang Haidar kembali mengaum.


"O'o wa'u olo bo sama wonu odito." tukas Haanish dengan seringai tak sabarnya.


Puncan tak menyangka bahwa ternyata kedua kakak beradik itu kini justru berdiri didepan membelanya. ia menatap Djalenga yang juga tersenyum kepadanya dan mengisyaratkan agar dia bersikap biasa-biasa saja.


Haanish pun akhirnya langsung mengaktifkan armor Ark-Narsys miliknya. seluruh tubuh lelaki itu kini dilapisi baju jirah gaya tosei gusoku dan menyandang dua pedang. satunya adalah warisan keluarga Mochizuki, Si Penebas Angin.


"Bagaimana?! tidak ada yang berani?!" ejek Haidar menuding-nudingkan telunjuknya yang berkuku tajam itu kepada kumpulan ninik-mamak tersebut.


Syafira Alkatiri tiba-tiba mengangkat tangan. Haidar yang menatapnya kemudian berdiri tegap. sedangkan Haanish menurunkan pedangnya.


"Katakan padaku, dua anak-anak Lasantu!" seru Syafira dengan pengerahan tenaga dalam. "Apa yang terlintas dalam benak kalian?"


Haidar akhirnya merubah ujud kembali ke tubuhnya semula. begitu juga dengan Haanish. lelaki bertelanjang dada itu kemudian memberi usul, "Pikir saya, pertandingan akan tetap dilanjutkan, namun diganti dengan pertandingan lain."


"Semacam apa?" tanya Syafira Alkatiri.


"Semacam asah otak misalnya?" pancing Haidar.

__ADS_1


"Peraturannya?" tanya salah satu anggota keluarga itu.


"Sama dengan pertandingan pada umumnya. siapa yang tak menjawab soal yang diberikan ya pasti kalah." ujar Haidar dengan tenang.


mendengar hal itu, para ninik-mamak mulai berembuk lagi. setelah kata sepakat, mereka kemudian membisiki Syafira. nenek itu mengangguk-angguk lalu menatap Haidar.


"Baiklah. kami setuju!" seru Syafira.


"Terima kasih Oma." ucap Haidar sambil membungkuk. syaa janji tak akan mengecewakan Oma." sambungnya.


"Baiklah..." ujar Syafira mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Haidar agar segera memulai permainan.


Haidar membungkuk lagi lalu menatap Marinka yang tersenyum kepadanya pula sambil mengucap kata terima kasih tanpa suara. Haidar mengangguk tak kentara lalu berbalik mendatangi Haanish.


"Kamu ada ide nggak tentang permainan ini?" bisik Haidar.


Haanish menonaktifkan armornya lalu tertawa lagi namun kelihatan tawanya adalah tawa nakal. ia mengangguk-angguk. "Pasti." ujarnya.


Haidar membalik lagi menatap rombongan ninik-mamak itu. "Haanish yang akan membawakan soalnya. Puncan akan menjawab apapun yang disoalkan oleh Haanish." lelaki itu kemudian menatap Puncan dan menudingkan jarinya kehadapan lelaki Tenggarong itu. "Kau bersedia?!"


Puncan akhirnya tersenyum lalu menjawab. "Bersedia..."


"Bagus!" ujar Haidar kemudian melangkah kembali hingga tiba disisi Djalenga.


Haanish tiba-tiba memanggil Djalenga. lelaki sasak itu kemudian berlari menghampiri Haanish.


"Ada apa, Kakak?" tanya Djalenga.


"Ambilkan dua kursi dan sebuah meja." pinta Haanish."Jangan lupakan Mirana!"


Djalenga buru-buru kembali kepada kumpulan ninik-mamak itu menyampaikan permintaan Haanish. mereka menyediakannya. kini dihadapan kedua kontestan itu tergeletak sebuah meja dan sebuah bangku. Haanish menyuruh dengan isyarat agar Puncan juga duduk di bangku itu. ditengah meja tergeletak dua botol Mirana, salah satu minuman khas Minangkabau yang kemas dalam botol plastik.


"Ini permainan asah otak." ujar Haanish dengan senyum jahil. "Kalau kau menjawabnya benar, maka kau yang menang. namun bila kau menjawabnya salah, maka aku yang menang." ucapnya sambil tersenyum-senyum.


"Semua juga begitu. kalau jawab salah ya salah." tukas Puncan dengan senyum pula.


"Kalau kamu menjawab 'botol', kamu yang menang." ujar Haanish mengambil satu dari dua buah botol Mirana itu kemudian membuka tutup botol itu, meneguk sedikit isinya.


"Lho? kok sudah ada jawabannya?" tukas Puncan dengan heran.


"Ini soalnya lain." ujar Haanish, "Beda pokoknya, dan nggak boleh lepas emosi!" sambungnya. "Kalau kamu jawab selain kata 'botol', kamu kalah! paham?"


"Kenapa begitu?" tanya Haanish.


"Ya, dibayangkan saja." ujar Puncan. "Buat apa aku menjawab kata yang lain, jika jawabannya memang 'botol', iya kan?"


Haanish mengangguk-angguk lagi. "Oooo... begitu ya?" gumamnya kemudian tersenyum lagi. " Oke, sudah siap? ini. pertanyaan pertama..."


"Aku sudah siap dari tadi." tukas Puncan dengan semangat.


kontes pun dimulai. Haanish memberikan pertanyaan pertama.


"Makananmu apa, Puncan?" tanya Haanish.


Puncan langsung terdiam dibarengi tawa dari para ninik-mamak dan Syafira yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyadari keusilan menantu keluarga Williams itu. wajah Marinka langsung merah menahan malu.


"Nggak bisa jawab?" pancing Haanish. "Kamu bisa kalah lho."


"Kok bisa kesitu pertanyaannya?" protes Puncan.


Haidar sebagaimana Syafira dan Airina serta Hayati yang menggeleng-gelengkan kepala menahan senyum, sedangkan Akram, Ikram dan Djalenga spontan tertawa menahan perutnya yang terasa geli.


"Yang penting itu pertanyaannya." tandas Haanish sambil tersenyum-senyum. Puncan langsung menyadari di dirundung oleh lelaki itu. si pemuda Tenggarong itu garuk-garuk kepalanya dan tersenyum getir.


"Wah, kalau begini... gampang-gampang susah nih." keluhnya sambil tersenyum.


"Mau jawab apa nggak?!" todong Haanish memelototkan mata.


Puncan mendengus. "Berhubung ini adalah pertandingan untuk memenangkan Marinka, dan soalnya begitu, jawabannya sudah pasti maka aku akan menjawab: makananku...BOTOL!!!!" seru Puncan langsung menggebrak meja dan tertawa keras.


"Memangnya kamu itu kuda lumping ya?!" seru Haanish berlagak heran.


"Terserah maunya itu kuda lumping atau nggak yang pentinh jawabnya 'botol' hehehehe..." jawab Puncan dengan santai.


"Waah... menang dong." komentar Haanish tersenyum-senyum.

__ADS_1


"Iya dong, salah kamu sendiri." balas Puncan kembali tertawa.


"Kalau kamu menang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Haanish.


"Tentu saya akan melamar Marinka secara resmi." jawab Puncan dengan senyum bahagia menatap Marinka yang tersipu-sipu.


Haanish menggebrak meja dan mengangkat kedua tangannya. "Yes, yes..." serunya kemudian menudingkan jari ke arah Puncan. "Kau kalah!"


"Tunggu!" sela Puncan, "Kamu pakai urusan yang mana nih?" protesnya.


"Tadi pertanyaannya: apa yang akan kau lakukan jika kau memenangkan pertandingan ini? nah jawabmu tadi apa, Puncan?" pancing Haanish.


"Ya, itu, akan melamar Marinka secara resmi. kok divonis salah sih?" protes Puncan.


"Tapi kamu nggak jawab 'botol', kan?" pancing Haanish kemudian tertawa.


"Lho? ini sudah termasuk pertanyaan kedua?" tukas Puncan dengan panik.


"Ya iyalah... masa iya-iya dong." jawab Haanish mengolok lalu menatap Marinka. "Wooi Inka... kesempatannya tinggal satu kali!"


Marinka menatap Haanish dengan kesal. bisa-bisanya lelaki itu menggunakan muslihatnya untuk memperdayai Puncan agar terjebak dengan kalimat tersebut. Puncan menggeleng-gelengkan kepala dengan masygul.


"Wah, harus jeli kalau begini!" keluh Puncan kemudian menepuk pahanya sendiri. "Ya sudah! kesempatanku tinggal satu! pokoknya kamu ngomong apa, aku juga ngomong!"


"Baik! pertanyaan ke tiga!" seru Haanish. "Kakekmu apa, Puncan?"


"La ilaha illallaah" keluh Puncan lagi dengan geram. tapi mau tak mau, ia harus menjawab, "BOTOL!!!!"


"Kok kakekmu Botol?!" seru Haanish dengan heran sementara para hadirin sudah tertawa terkecuali, Haidar, Airina dan Marinka.


"Sudah diam! kakek saya juga nggak tahu kejadian ini!" sela Puncan menukas dengan geram. "BOTOL!!!" serunya lagi.


"Tapi masa kakekmu kau sebut Botol?" desak Haanish lagi.


"Sudah diam! sudah tua juga beliau!" sela Puncan dengan kesal."Botol.... botol deh."


"Pertanyaan berikutnya!" seru Haanish. "Nenekmu apa, Puncan?"


Pemuda Tenggarong itu langsung terdiam lagi hingga akhirnya ia protes.


"Keterlaluan kamu nih." protes Puncan. "Yang lain dong, yang lain..." pinta lelaki itu.


"Nggak mau jawab?!" ancam Haanish, "Batal sama Marinka!"


"Eeeh, diaaamm!" seru Puncan dengan panik. "Ya sudah deh, nenek saya BOTOL!"


"Kok nenek kamu, Botol?!" sergah Haanish lagi.


"Pokoknya yang namanya 'botol' menghasilkan kemenangan!" seru Puncan sambil tertawa, "Nenek saya kan nggak tahu begini!"


Haanish geram menyadari Puncan mampu membuatnya kewalahan. ia berseru.


"Pertanyaan terakhir!" seru Haanish. "Kamu pilih Marinka atau Botol?!"


"BOTOL!!!!" seru Puncan tanpa sadar.


semua hadirin tertawa dan Haanish langsung menyerahkan sebotol Mirana kehadapan Puncan. "Nih, terima Botol! kamu batal sama Marinka."


Puncan terdiam menyadari kesalahannya. sedangkan Marinka langsung pasang wajah jengkel kepada Haanish yang berhasil menjebak Puncan. wajah cantik itu kelihatan mulai menangis.


"Kamu tadi jawab apa?" tanya Haanish lagi.


"Botol..." jawab Puncan dengan pelan dan masygul.


"Ya sudah, ambil botol itu dan pergilah." ujar Haanish sambil tertawa.


"Jadi saya batal melamar Marinka?" tanya Puncan memastikan.


Haanish mengangguk-angguk lagi lalu tertawa. Puncan garuk-garuk kepala lagi. "Iya, ya? pilih botol ya pasti dapat botol." gumam Puncan dengan kecewa. kemudian dia protes.


"Kamu pintar benar! peraturan kamu sendiri yang kau pakai." protesnya.


"Namanya juga asah otak." ujar Haanish. "Kamunya yang nggak jeli."


Haidar langsung buru-buru maju ke tengah gelanggang dan mengumumkan. "Dengan ini saya nyatakan, Puncan Karnaaq dari Tenggarong, Muara Kaman... memenangkan pertandingan." seru Haidar.

__ADS_1


"Asah otak apa lagi ini?" tanya Puncan dengan kesal. "Susah tahu saya kalah, dimenangkan lagi." gerutunya. "Saya ini laki-laki. kalau kalah ya kalah! nggak usah dimenang-menangkan. saya permisi!" seru Puncan hendak berbalik.[]


BERSAMBUNG KE SEASON 3 - ALONE


__ADS_2