The Blood Of God

The Blood Of God
ALONE # 03


__ADS_3

pesawat yang mengantar mereka sementara menyusuri zona bebas. setiap melewati perbatasan sebuah negara, pilot pesawat itu pasti langsung melapor untuk bisa mendapatkan akses. bagaimanapun, pesawat pribadi memiliki jakur berbeda dengan pesawat komersil dalam hal akses lintas perbatasan udara sebuah negara.


sementara di kabin, Ketiga orang itu sedang asyik mempersiapkan diri sendiri. Haidar menatap Haanish yang duduk menikmati minuman kaleng merk terkenal.


"Kamu penikmat kopi?" pancing Haidar.


"Bukan kopi." ujar Haanish, "Ini al qahwah al bunniyah..." sambungnya sambil tersenyum dan memperlihatkan merk kaleng minuman itu.


"Ya sama saja." ujar Haidar.


"Iya juga sih..." sahut Haanish kemudian tertawa.


sementara Djalenga lebih memilih menjadi pendengar yang setia. ia ingin melihat sejauh mana keterikatan emosi kedua kakak beradik ini.


Haidar mengambil sebungkus rokok dari saku baju kurungnya beserta korek gas. ia mengambil sebatang dengan jepitan bibirnya lalu menyulut rokok tersebut dan menghembuskan asapnya.


"Kamu mulai merokok, sejak kapan?" selidik Haanish.


"Nggak terlalu sering. cuma kalau lagi menghadapi masalah pelik saja." jawab Haidar kemudian kembali merokok.


Haanish tertawa. Haidar meliriknya sedikit.


"Kenapa?" tanya Haidar.


"Para ulama bilang, rokok itu bid'ah." tukas Haanish.


"Kau sendiri tahu kalau kopi juga nggak ada dijaman Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam. kamu nggak akan menemukan di hadits dan atsar manapun kalau Rasulullah SAW pernah ngopi." balas Haidar dengan sinis.


"Begini saja. kita taruhan." tantang Haanish. "Kira-kira kalau Baginda Rasulullah SAW muncul disini. kira-kira, siapa diantara kita berdua yang akan didekatinya?"


Haidar tertawa, "Kamu jangan bawa-bawa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam ke masalah ini. saya yakin Beliau nggak akan mau dekati kita berdua."


"Lho? kenapa?" tanya Haanish protes.


"Ya karena Beliau nggak akan mau. sewaktu Beliau diundang dalam hajatan makan saja, Beliau nggak makan biawak, padahal jelas Khalid bin Walid saja mencuilnya dan memakan daging itu. apalagi rokok sama kopi." ujar Haidar menjelaskan hujjahnya.


Haanish tertawa lagi. "Wooy, perhatikan hadis itu. Rasulullah nggak makan biawak karena beliau nggak pernah makan sebelumnya sehingga beliau jijik, bukan karena hewan itu haram."


Haidar mendengus sambil menyesap rokoknya lalu menantang lagi. "Sekarang aku tantang kamu. mau nggak kamu makan biawak?!"


"Yeeee.... jangan nantangin apa yang nggak aku bisa dong. ya jelas pasti aku juga nggak mau makan biawak. aku kan nggak pernah mengonsumsi itu." tolak Haanish.


"Tapi katamu, Khalid bin Walid makan secuil daging biawak itu. berarti, daging biawak bisa dimakan, toh?" debat Haidar dengan senyum kemenangan.


"Waah... salah paham nih." tukas Haanish menuding-nudingkan telunjuknya kearah Haidar. "Bro. kukasih tahu sama kamu. biawak yang dilarang itu sejenis Komodo atau biawak air karena tubuhnya mengandung banyak bakteri dan dapat merusak jaringan tubuh jika kita memakannya."


"Berarti kesimpulan kamu, bahwa biawak selain itu, boleh kita konsumsi, kan?" pancing Haidar lagi.


"Aku hanya menukil saja kalimat sabda Rasulullah..." tulas Haanish, "Apabila berkumpul yang halal dan yang haram, maka yang menang adalah haram."


"Apa maksudnya Kakak?" tanya Djalenga menyela.


"Sesuai dengan kaidah itu, hujjah yang mengharamkan lebih didahulukan dari hujjah yang menghalalkan. dengan demikian, jika hukum memakan biawak itu adalah halal, kita boleh tidak memakannya demi kehati-hatian. namun, apabila ternyata hukum memakan biawak itu haram, maka kita tak memakannya sehingga termasuk dalam golongan orang yang benar." jawab Haanish panjang lebar. sejenak kemudian alisnya berkerut. "Kok malah lari ke biawak urusannya? bagaimana nih? aku ulangi pertanyaannya sama kamu." tukas Haanish menatapi Haidar. "Bagaimana jika Rasulullah SAW ada disini sekarang. mana yang akan ia dekati? aku yang minum kopi, atau kamu yang ngisap rokok?" todong lelaki itu.


"Malas aku menjawab hal begituan..." ujar Haidar dengan senyum mengejek. "Nggak masuk hitungan mantiq, tahu nggak?"


"Lho? kenapa?" tanya Haanish menantang.


"Kamu bawa-bawa tokoh jaman dulu untuk menentukan siapa diantara kita yang didekatinya. nggak miring otakmu hah?" ujar Haidar dengan kesal.


"Kan kamu sendiri yang memancing kalau kopi nggak ada dijaman nabi. itu bid'ah, katamu." seru Haanish tak kalah kesal.


Haidar tersenyum, "Sekarang kamu tahu nggak arti bid'ah?"


"Masa nggak tahu?" tukas Haanish, "Biar begini, calon sarjana agama nih." sambungnya. "Bid'ah adalah suatu perkara yang diada-adakan, termasuk disitu menambah atau mengurangi."

__ADS_1


"Berarti sama juga dengan kopi." tukas Haidar lagi.


"Woy karung semang! semua juga tahu kalau kopi memang nggak ada dijaman nabi. minuman itu kan ditemukan di wilayah Keffa, Etiopia sana, dijaman pemerintahan Mamluk di Mesir. sama juga hal nya dengan rokok." ujar Haanish.


"Siapa bilang kalau rokok ditemukan sesudah jaman nabi?" bantah Haidar. "Kamu tahu nggak?" ujarnya kembali menyesap rokok lalu menjelaskan lagi. "Waktu itu tembakau dikunyah orang-orang indian sebagai bagian dari ritual ibadah mereka....."


"Tapi belum jadi bentuknya sebagai rokok." debat Haanish. setahuku rokok mulai populer di perancis pada tahun 1830 dalam bentuk lintingan. rokok lebih populer lagi setelah diciptakan mesin pembuat rokok oleh Juan Nepomuceno Adorno tahun 1847 lalu makin jadi budaya setelah Bonssack ditahun 1880-an. jadi kesimpulannya rokok tetap saja bid'ah karena muncul pada abad 18, setelah kopi ditemukan." pungkasnya dengan senyum kemenangan.


"Dasar otak penjelajah kau ya?" tukas Haidar. "Apa saja bisa kau jawab."


"Ya harus dong!" memang pengetahuan hanya milik para cendekiawan saja, begitu? kita orang-orang kebanyakan nggak boleh tahu banyak, begitu?" pancing Haanish.


"Saya setuju Kakak." ujar Djalenga mengaminkan pendapat Haanish.


"Kamu main setuju-setuju saja." olok Haidar, "Memang kamu tahu apa yang kita bicarakan?"


"Tentang rokok dan kopi." jawab Djalenga.


"Kamu tahu kenapa rokok dan kopi disebut bid'ah?" pancing Haidar.


"Kakak, dalam penalaran saya, apapun yang ditemukan setelah jaman kehidupan Nabi Muhammad SAW itu adalah bid'ah. contohnya mobil, sepeda motor, sepeda kayuh, dan barang-barang elektronik itu adalah bid'ah sebab merupakan inovasi dari para ilmuwan yang dikembangkan oleh para industriawan." ujar Djalenga.


"Berarti hal itu nggak boleh?" pancing Haidar.


"Bukan begitu maksud saya Kakak." ralat Djalenga. "Sebenarnya jika bicara konsep bid'ah, tak ada yang namanya bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah. kesesatan yang dimaksud oleh para shahabat adalah hal-hal yang menyangkut syariat atau ibadah Maddah. adapun hal yang berbau muamalah, itu sifatnya mubah atau jaiz."


Haidar mulai mengakui kecerdasan lelaki sasak itu. "Berikan contoh." tuntutnya.


"Nah yang sementara kita naiki ini? apa? pesawat terbang, kan? ini kan mempermudah kita untuk menjelajahi permukaan bumi. nggak mungkin kan kita menangkap burung terus memaksa untuk menungganginya lalu disuruh terbang. pesawat terbang berhubungan dengan konsep hukum aerodinamika. ini teori yang pernah diterapkan oleh Nabi Sulaiman alaihisalam saat mengendarai angin." ujar Djalengan.


"Nah sekarang tentang angin." ujar Haanish. "Angin apa yang bisa dinaiki Nabi Sulaiman alaihisalam?"


"Jangan samakan kita-kita ini dengan para nabi, Kakak." tegur Djalenga. "Mereka punya ilmu yang disebut al-hikmah. yang ada pada kita hanya dalam bentuk teknologi terapan saja. nggak mungkin lah kita mengendarai angin. secara fisika kan angin punya struktur molekul yang tidak padat sehingga tak terlihat dan tak tergenggam tapi bisa dirasakan oleh molekul tubuh kita."


"Sekarang aku mau tanya sama kalian berdua." ujar Haidar. "Apakah angin yang dinaiki Nabi Sulaiman itu ada atau nggak?"


"Lho? kok dikait-kaitkan dengan cerita hindu sih?" tukas Haidar.


"Jangan lihat hindunya, lihat kemiripan wahananya." ujar Haanish.


"Ah, jelas-jelas dalam atsar dan riwayat disebut Nabi Sulaiman mengendarai angin, bukan Wilmana Puspaka! gimana sih?!" ujar Haidar tak mau kalah debat.


"Ya nggak mungkin juga kalau kubilang awan kintouw." ujar Haanish, "Kalau beliau naik awan kintouw, berarti beliau Sun Go Kong, dong!"


"Eh, jangan samakan Nabi Sulaiman dengan Sun Go Kong ya?!" sergah Haidar. "Seenaknya saja."


"Kamu juga seenaknya. masa iya harus aku pikirin jenis angin apa yang dinaiki Nabi Sulaiman? belum ketemu jawabannya, tuh Rumah Sakit Malalayang bertambah dua orang pasien yang kebingungan nyari jawaban kamu, Bego!" sembur Haanish.


"Kau mau menantangku?!" sergah Haidar.


"Kenapa nggak, Goblok?!" balas Haanish dengan sengit.


Haidar dan Haanish nyaris saja bertikai kalau saja Djalenga tak langsung berdiri ditengah-tengah mereka berdua.


"Sabar Kakak berdua." lerai Djalenga. "Ini musuh belum selesai digebuk, jagoannya sudah gontok-gontokan. Kasihan Dinara disana menunggu kita bertiga."


"Minggir kamu, brengsek!!" seru Haanish mendorong Djalenga dengan keras hingga lelaki sasak itu kembali terduduk.


kini kedua bersaudara itu saling berhadapan. "Ingat Eiji, pertempuran kita belum selesai." ungkit Haidar menudingkan telunjuknya ke wajah Haanish.


"Tentu! aku menunggu saat itu dengan senang hati!" balas Haanish dengan seringai bengis, "Sudah lama aku ingin menginjak kepalamu!" ujarnya memprovokasi.


"Aku nggak segampang itu kau kalahkan." tandas Haidar.


"Dan aku pun tak segampang itu takluk!" balas Haanish.

__ADS_1


"Baik! kita akan bertarung setelah kita bertiga menyelamatkan Dinara! deal?!" tantang Haanish.


"Aku tak sungkan menolaknya." ujar Haidar. "Sudah lama juga aku ingin menghajar kepala peyangmu itu!"


akhirnya keduanya mendengus dan melengos dan duduk kembali. Haidar mengelus-elus gagang golok Ailesh sedang Haanish hanya *******-***** jemari tangannya. Djalenga menatap keduanya dengan itperasaan heran nan takjub.


tak lama kemudian terdengar suara s upilot dari kokpit.


🔊 "Kita mulai memasuki perairan negara Inggris, pak. persiapkan segalanya." kabin. Haanish bangkit dan melangkah menuju tempat penyimpanan ransel parasut. ia mengambil parasut model persegi empat yang biasa digunakan dalam olahraga paralayang.


dengan membawa dua benda itu Haanish kembali menuju bangku dan menyerahkan salah satu ransel parasut itu kepada Haidar. lelaki itu menerimanya dan memasang benda itu dipunggungnya diikuti Haanish.


sedangkan Djalenga tak memerlukan ransel parasut tersebut. suit armor yang dipakainya juga memiliki fungsi sebagai squirell wingsuit. Akram sengaja mendesain suit armor pemuda sasak itu dengan mode multifungsi.


armor yang didesain Akram untuk Djalenga dibuat dari campuran berbagai jenis sutra laba-laba yang diramu khusus, menghasilkan bahan bertekstur padat, keras namun lentur dan pas ditubuh. adapun holster dari tulup milik Djalenga menggunakan perekat biomagnet yang diletakkan dipunggung sedang terontong yang menyimpan seratus batang ancar buatan Akram tersampir disisi kiri armor tersebut.


Haidar menekan earphone pada telinganya.


🎧 "Disini Asad, Tengu dan Rase... ganti." panggil Haidar.


🎧 "Disini Nightingale..." balas Marina yang saat ini berada di Glasgow. ia memantau pergerakan pesawat yang ditumpangi ketiga lelaki itu dari Villa Langside Drive di Glasgow melalui perangkat khusus pada suitcase PC portable buatan Ark Industries.


🎧 "Kami akan melakukan skydiving. tunjukkan koordinatnya." seru Haidar.


Marina menyebutkan titik-titik koordinat yang akan diterjuni oleh Haidar, Haanish dan Djalenga.


🎧 "Baik. pantau terus." pinta Haidar kemudian menatap Haanish.


"Kita akan mendarat disekitaran Gua Fingal. menurut Marina, itu adalah salah satu akses menuju ke tempat penyekapan Dinara." ujar Haidar.


"Kau yakin Dinara tidak dipindahkan ke tempat lain?" tanya Haanish dengan sangsi. "Aku tadi berupaya mendeteksi gelombang aura milik Dinara, dan tak merasakan kehadirannya."


"Kelihatanya Nikolai sudah tahu kedatangan kita." tebak Haidar. "Dia sengaja mengurung Dinara dalam ruangan yang khusus mencegah gelombang aura miliknya keluar. tapi untuk memastikan bahwa mereka telah memindahkannya, kurasa tak mungkin sebab aku merasakan gelombang kekuatan milik Nikolai sangat jelas."


"Parameter kekuatan?" tanya Haanish.


"Sangat kuat. bagaimanapun, dia sama sepertiku yang merupakan pengguna darah dewa. jadi diantara kami terjalin konektivitas homogen yang saling terhubung secara aktif dan terus-menerus." jawab Haidar.


"Berarti, antara sesama pengguna darah dewa memiliki keterkaitan resonansi gelombang yang sama. intinya, siapapun dia, selama ia merupakan pengguna darah dewa sepertimu, kau akan bisa mendeteksinya?" tebak Haanish.


"Iya... seperti itu." jawab Haidar.


"Itu lebih bagus." ujar Haanish.


Haidar melangkah menuju kokpit. ia menemui pilot. sesampainya diruang itu, ia menyentuh sang pilot yang asyik mengemudikan pesawat tersebut. sejenak pilot itu menoleh.


"Bawa kami ke sudut timur Gua Fingal. ini koordinatnya." ujar Haidar kemudian menyetel koordinat penerjunan ke panel komputer memunculkan layar holografis yang menunjukkan titik-titik penerjuan ketiga orang itu.


pilot itu mengangguk. sekarang pesawat sudah memasuki wilayah Britania. pesawat menukik ke kanan mengarah ke titik tertentu hingga memasuki perairan Hebrides. tak lama terdengar lagi suara pilot.


🔊 "Kita memasuki perairan Hebrides dalam. Pulau Staffa sebentar lagi akan kelihatan. protokol persiapan penerjunan dilaksanakan."


pilot kemudian mengalihkan kemudi analog ke otomatis. ia kemudian melangkah menuju kabin mendapati ketiga orang itu yang telah siap berdiri di pintu. pilot itu kemudian memberikan pengarahan.


"Sesuai prosedur Standar operasional, anda bertiga akan menyusup ke pulau Staffa. lakukan bagaimana caranya, Nona Dinara harus keluar dalam waktu paling lambat sejam. saya akan tetap berada di udara dan melalukan pengisian ulang bahan bakar diudara memanfaatkan ARGONAUT milik perusahaan MLt. Group." ujar pilot itu kemudian membuka pintu.


"Kita sudah masuk koordinat penerjunan. silahkan terjun!" seru pilot.


Haidar tanpa banyak bertanya, maju dan langsung melompat keluar pesawat. disusul kemudian oleh Haanish dan terakhir Djalenga yang masih ragu.


"Kenapa?" tanya pilot.


Djalenga hanya menatap pilot tersebut dengan senyum kuatir.


"Jangan takut. armor milik kamu adalah buatan Ark Industries. bukan buatan perusahaan kaleng-kaleng. kamu akan selamat sampai destinasi. lakukan penerjunan!" seru pilot itu.

__ADS_1


atas desakan pilot itu, Djalenga akhirnya memberanikan diri melompat keluar dari pesawat.


semua ini demi kamu, Dinara.... []


__ADS_2