
perkataan Inayah barusan bagaikan sambaran geledek yang menyambar benak pemuda itu. kedua matanya mendelik menatap sang ibu.
"Mama..." gumam Haanish.
"Eiji... duduklah disini nak." pinta Inayah menepuk bantalan sofa. Haanish bangkit lalu duduk ditempat yang ditentukan Inayah.
"Kamu pastinya heran, mengapa Mama nggak terkejut mendengar laporan-laporanmu." ujar Inayah membuat Haanish mengangguk. Inayah melanjutkan. "Papamu adalah seorang bipatride. dia punya nama lain, Saburo Koga Mochizuki sesuai dengan akta lahirnya dijepang. Papamu adalah seorang petarung flamboyan yang banyak digilai perempuan..."
"Termasuk ibuku dan ibunya Mahreen?" sela Haanish menebak. Inayah diam sejenak lalu mengangguk pelan.
"Tapi, Mama nggak menganggapmu begitu, Eiji. bagi Mama, meskipun secara harafiah, kamu putra Rosemary Hasegawa, tapi kamu adalah putraku juga. kamu adalah putra keduaku! kau paham, Haanish Hermawan Lasantu?!" tandas Inayah.
Haanish tersenyum, "Mama... nggak usah mengungkit itu dengan menyebut nama formalku. aku tetaplah Eiji, anak kedua Mama."
Inayah tersenyum dan membelai pipi Haanish. "Anak keduaku..."
"Lanjutkan Mama..." pinta Haanish. "Sejak kapan Mama tahu tentang Mahreen?"
Inayah menarik napas sejenak, lalu melanjutkan lagi. "Sebelum pertarungannya dengan Sergey Basarab di Benteng Poenari, Papamu sudah menceritakan tentang Mahreen sama Mama..."
"Jadi, Mama menyuruhku untuk mencari keluarga Nurmagonegov demi menegaskan status Mahreen sebagai anak pungut keluarga itu?" tebak Haanish.
Inayah mengangguk. ia mendesah, "Sayangnya... Miriam keburu wafat." sesalnya.
Haanish menatap ibunya, "Mama... bagaimana menurut Mama tentang hubungan Mahreen dan Haidar?"
"Sangat mengkuatirkan, nak." jawab Inayah, "Mama bisa melihat dengan jelas bahwa keduanya saling mencintai... hanya saja tak mengakui. dan laporanmu barusan makin menegaskan keinginan Mama untuk memisahkan mereka."
"Aku akan membantu Mama dalam hal ini." ujar Haanish.
"Jangan katakan apapun Haanish. tapi amati dan laporkan terus sama Mama tentang mereka berdua." pinta Inayah. Haanish mengangguk. Inayah sejenak teringat sesuatu. "Oh ya... kamu jangan heran jika dikediaman Lasantu, kamu akan mendapati Tante Imel dan seorang wanita beranak bernama Aisyah tinggal disana. mereka tinggal atas perintah Mama."
"Baiklah Mama... kalau begitu, saya permisi." ujar Haanish.
"Istirahatlah nak. tapi ingat, jangan katakan apapun rahasia ini sama Haidar maupun Mahreen." pesan Inayah. "Biar Mama yang akan memberitahukan semuanya pada mereka."
"Baiklah Mama..." ujar Haanish kemudian berdiri dan seketika ia memencet tombol teleportasi setelah menentukan kordinatnya. tak lama kemudian cahaya putih menyelimuti tubuh pemuda itu dan kemudian ia muksa.
...*****...
Haidar memesan sebuah pakaian untuk anak-anak. ia memesan satu set busana muslim yang kemudian pemuda itu meminta penjahit untuk membordir kamon Mochizuki dibagian dada dan punggung pakaian itu. pakaian tersebut kemudian di bungkus dan dipaket. selanjutnya, Haidar membayar semuanya dan membawanya pergi.
sambil bersenandung, Haidar mengendarai Tuatara V33K menyusuri jalanan dan tiba disekolah, dimana Aya Sofia menimba ilmu. mobil itu merapat di sisi gerbang. seorang satpam menghampiri.
"Selamat pagi Pak Haidar." sapa satpam itu. "Mau menjemput Sofia?"
Haidar mengangguk. "Iya. apakah sekolahnya sudah bubar?"
satpam itu mengangguk. "Ya, baru saja ia dijemput ibunya."
Haidar mendengus kesal lalu pamit kepada satpam itu. ditengah perjalanan, Haidar mengaktifkan perangkat mobilephone dan menghubungi Aisyah. tak lama didepan kaca mobil muncul layar holografis menampilkan wajah Aisyah.
"Assalamualaikum... ada apa pak?" tanya Aisyah.
"Ada apa, ada apa... " gerutu Haidar sambil tetap mengendarai Tuatara V33K dengan kecepatan rata-rata.
"Dijawab salamnya dong pak." tegur Aisyah dengan wajah keruh.
"Wa alaikum salaam." jawab Haidar, "Kenapa kau jemput Sofi, nggak bilang-bilang sama saya?!"
"Lho? kenapa? itu kan anak saya." tukas Aisyah, "Bapak, siapanya?"
Haidar langsung mengencangkan rahangnya. "Kamu! okey, dimana posisimu sekarang?"
"Dirumah." jawab Aisyah.
"Dirumah mana?!" tanya Haidar lebih emosional lagi.
"Ya, dirumah bapak lah, memang dimana lagi saya tinggal?" jawab Aisyah, "Nih, bapak makin aneh saja sejak ketemu Sofi."
"Ya, jelas dong! kan Sofi sudah kuanggap..." ujar Haidar.
"Anak sendiriiii..." sela Aisyah setengah mengolok dan menggoda.
"Terserah mulutmu! bilang saja kalau kau juga mau jadi istriku!" balas Haidar.
"Enak saja," tangkis Aisyah. "Pak, gini-begini saya juga masih tahu diri. saya nggak mau harap yang macam-macam. bagi saya, Bapak sudah sayang sama anak saya, itu sudah lebih dari cukup."
"Berarti nggak mau lebihnya?" goda Haidar lagi.
"Sudah ah pak. bicaranya makin ngaco saja." pungkas Aisyah, "Mendingan bapak urus tuh, pacarnya bapak yang matanya hijau itu."
__ADS_1
"Ooo... kamu sudah saingan sama Mahreen?" tukas Haidar lagi.
"Siapa yang saingan? da bo perasaan li pak odito??" tangkis Aisyah dan layar holografis itu lenyap sebab wanita itu memutuskan pembicaraan.
Haidar tertawa pelan dan kemudian melajukan kendaraannya menyusuri jalanan. ia tak sabar hendak tiba dikediaman Lasantu.
...*******...
Imelda asyik memantau sekeliling kediaman ketika sebuah tangan seketika mencengkeram bahunya. dengan sigap berbekal kecakapan karatedo yang diajarkan Inayah padanya, Imelda sontak menangkap tangan itu dan melakukan bantingan tsubamegaeshi. lelaki itu terbanting ke tanah. sejenak kemudian Imelda memekik kaget.
"Tuan Muda Eiji!!!!" serunya membekap mulutnya dengan tangan.
"Wah, bantingan Tante makin mantap saja. berlatih dimana sih?!" goda Haanish masih dalam posisi terbaring.
"Aduuuh... kok nggak bilang sih?" sesal Imelda membantu Haanish bangkit.
"Ya kalau memperkenalkan diri, bukan pembokongan dong namanya." tukas Haanish. "Tapi saya salut, Tante diajari Mama teknik baru lagi?"
"Ah, Tuan Muda Eiji..." ujar Tante Imel tersipu. "Saya masih kalah sama Tuan Muda."
"Ah sudahlah Tante..." ujar Haanish. "Saya mau istirahat dulu. pegal benar badan ini."
"Nanti Tante pijitin." kata Tante Imel.
"Ih, jangan Tante..." tolak Haanish lalu balik menggoda, "Tante mau lihat Eiji...."
"Aaaaah sudahlah... pergilah sana Tuan!" usir Tante Imel.
Haanish tertawa-tawa meninggalkan wanita itu lalu memutar kekanan, menemukan makam Kenzie dan Azkiya. sejenak Haanish membungkuk datar ke makam itu lalu melangkah lagi menyusuri sayap kanan kediaman, menemukan pintu yang dulu digunakan Aisyah melarikan diri. ia membukanya.
pintu itu tembus ke pantry. Haanish melangkah menaiki tangga menuju ke lantai dua dan melangkah menuju kamarnya. sesampainya dikamar, ia langsung meletakkan Si Penebas Angin pada katanakake didinding lalu menuju ranjang dan merebahkan diri.
"Saatnya menelpon, sayangku Denada." ujarnya bermonolog sendirian. ia mengambil gawainya dan mulai memencet nomor milik kekasihnya.
pemuda itu sengaja mengalihkan panggilan ke video call. rindu benar ia akan kekasihnya Denada Wie itu. sudah tiga hari ia melakukan tugasnya tanpa menghubungi wanita itu membuat hatinya sedikit hampa. sekaranglah waktunya mengisi kehampaan itu sendiri dengan kerinduan.
nomor itu terus berdengung beberapa kali, namun layar masih gelap juga. alis Haanish berkerut. hei, kenapa dia tak membalas panggilanku? apakah ia merajuk karena tak kuhubungi selama tiga hari?
Haanish tersenyum lagi. awas kau Wie Aanchi... kudapati kau nanti, ku habiskan cintaku padamu sehari suntuk. kita akan melayari lautan cinta lagi sampai keluargamu merestui... atau bagaimana ya? haruskah kami melakukannya tanpa penghalang apapun?
...******...
Tuatara V33K itu memasuki pekarangan dalam dan berhenti diparkiran, disisi kendaraan segala medan itu dan sepeda motor gede milik Haanish. Haidar keluar menjinjing tak berisi paket. ia melangkah santai menaiki beranda dan menempelkan sidik jarinya pada mesin fingerprint. terdengar suara.
🔊 "Assalamualaikum, Tuan Haidar, silahkan masuk."
pintu membuka dan Haidar melangkah masuk. ia meletakkan paket di meja tamu dan menatapi ruangan.
kok sepi ya? kemana Tante Imel? kemana Sofi???
Haidar kemudian duduk di pantry dan mulai menyeduh minuman. matanya menangkap sebuah tutupan besar diatas meja saji. dia mengulurkan tangan mengangkat tutupan saji itu dan menemukan rantang prasmanan berisi nasi goreng, ikan bilendango, dan sayur pakis.
Haidar tersenyum. dia kembali mengambil gawai dan menghubungi Aisyah. tak lama panggilan audio call itu dijawab.
📲 "Kamu lagi dimana?" tanya Haidar dengan pelan.
📲 "Dikamar, menidurkan Sofi." jawab Aisyah, "Kau sudah makan? aku masak sayur pakis dan ikan bilendango juga nasi."
📲 "Kutunggu kamu setelah menidurkan Sofi. aku nggak akan makan sebelum kau ikut makan bersamamu." ujar Haidar kemudian memutuskan pembicaraan itu.
pemuda itu kemudian meninggalkan pantry menuju meja tamu, mengambil paket dan membawanya ke pantry. tak lama kemudian Aisyah muncul lalu duduk diseberang meja.
"Sofi sudah makan?" tanya Haidar.
"Sudah, sebelum kamu datang." jawab Aisyah mulai memancing seberapa tinggi Haidar menyayangi putrinya itu. "Aku bilang, dia nggak mungkin nunggu kamu pulang. kamu kan sibuk. jadi dia makan siang sendirian."
Haidar mengangguk-angguk, "Lain kali, aku akan makan bersamanya." ujar Haidar kemudian menyorongkan paket kepada Aisyah.
"Ini apa?" tanya Aisyah.
"Apa yang Sofi inginkan." ujar Haidar. "Sudah kubilang berkali-kali kepadamu, Sofi biar aku yang antar-jemput ke sekolahnya. kamu jemput dia pakai apa? pakai otoped usang itu?"
"Eh, biar begitu, kendaraan tersebut telah menemaniku mencari nafkah halal untuk putriku." tangkis Aisyah sembari mengambilkan piring lalu menyendok nasi dan meletakkannya ke hadapan Haidar.
"Makasih." jawab Haidar.
__ADS_1
Aisyah mengangguk. Haidar kemudian mendehem. "Kamu nggak usah pakai lagi otoped itu. simpan saja digudang. dimuseumkan saja disana." pemuda itu menyendok sayur dan mengambil ikan dan meletakkannya dipiringnya kemudian ia makan.
"Berdoa dulu." tegur Aisyah membuat Haidar tersedak. Aisyah menggeleng-gelengkan kepala.
"Maaf..." ujar Haidar tersipu. pemuda itu kemudian memimpin doa dan diaminkan oleh Aisyah. setelah itu Haidar makan kembali. Aisyah menyendok nasi, sayur dan ikan ke piringnya lalu makan bersama.
"Lalu, kalau nggak diijinkan pakai otoped itu, saya pakai apa dong?" tanya Aisyah kemudian menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulutnya.
"Kamu kan lihat ada kendaraan baru diparkiran." ujar Haidar. "Memang kau pikir, aku pesan barang itu untuk dipakai siapa?"
"Oh, itu untuk aku?" tukas Aisyah lalu tersenyum manis, "Makasih..." setelah itu wajahnya mendatar kembali. "Tapi aku nggak suka terlalu bergantung padamu."
BRAKK!!!
Haidar meletakkan garpu dan sendok dipiring agak keras membuat Aisyah terkejut dan menelan ludah karena ciut nyalinya. Haidar memejamkan mata sejenak dan mengencangkan rahangnya lalu membuka mata menatap Aisyah.
JRENGG JRENGG...
Aisyah terkesiap melihat kedua bola mata Haidar memendarkan cahaya kekuningan berkilat-kilat beberapa detik kemudian bola mata itu kembali mencoklat sebagaimana mestinya.
"Aisyah... aku juga membeli apa-apa untukmu bukan mau menyogokmu supaya mau jadi istriku." ujar Haidar memicingkan mata, "Tapi aku hanya ingin mempermudah hidup seseorang saja. aku cukup tahu diri karena biasanya, wanita beranak sepertimu sudah menutup pintu hati untuk laki-laki..."
BRAKKK...
Aisyah yang tersinggung juga turut meletakkan sendok dan garpu ke piring agak keras. kini balik Haidar yang terkejut. Aisyah bangkit dan menatap Haidar.
"Aku kecewa padamu." ujar Aisyah.
Haidar berdiri pula. "Apa kau bilang?"
"Kupikir kau bisa jadi sahabat yang dapat membuatku nyaman. namun ternyata..." Aisyah berbalik hendak pergi.
SREETTTT....
Haidar dengan refleks kemudian mencegat Aisyah. jilbaber itu terkejut menyadari betapa cepatnya lelaki itu tiba didepannya. Haidar sendiri terperangah.
ada apa dengan diriku? kecepatanku benar-benar meningkat. apakah karena darah dewa itu?!
"Kenapa kau mencegatku? aku mau kembali ke kamarku." ujar Aisyah hendak menerobos namun lengannya dicekal.
"Selesaikan makanmu!" ujar Haidar menggeram dan sekali lagi Aisyah kaget menyadari suara pemuda itu berubah... mirip kucing besar...
"Aku nggak berselera lagi." ujar Aisyah kembali hendak menerobos. namun tiba-tiba Haidar mengangkat tubuh jilbaber itu dan menyandarkannya di dinding. wajah Haidar mendekat dan Aisyah kembali melihat dengan jelas pupil mata pemuda itu berubah mirip pupil mata bangsa panthera. geraman khas kucing besar terdengar lagi.
"Aku nggak suka memerintah dua kali, Aisyah..." geram Haidar dan Aisyah dapat dengan jelas merasai nafas pemuda itu terasa diwajahnya. wajah mereka tinggal sesenti saja.
Aisyah meredupkan mata memasrahkan diri. dan ia merasakan bibirnya dijelajahi oleh bibir pemuda itu bercampur dengan geramannya. Aisyah ingin berontak namun tubuhnya seakan tak mau diperintah. ciuman panas yang dikerahkan Haidar ke bibirnya membuat dirinya lemas.
kembali tubuh Aisyah tersentak saat kelima ruas jari kekar Haidar langsung menangkap bagian kiri bukitnya yang tersamar dalam pakaian terusannya itu. namun wanita itu sekali lagi tak mampu melawan. ia hanya melenguh saja.
"Woy! apa yang kalian lakukan disini?!" seru suara lelaki.
keduanya kaget dan saat itulah Aisyah memperoleh kesadaran dan kekuatannya kembali.
PLAKKK
tamparan keras diarahkan Aisyah dan sukses membuat Haidar terpelanting. jilbaber itu langsung melarikan diri meninggalkan tempat itu. Haidar juga tak menahannya lagi. ia menatap lelaki dihadapannya.
"Eiji..." gumam Haidar lalu mengusap wajahnya dan beristighfar beberapa kali.
lelaki yang tak lain adalah Haanish itu hanya tersenyum-senyum saja melihat Haidar yang berdiri lagi lalu menatap saudaranya dengan kikuk.
"Jangan bilang itu sama Mama." pintanya dengan datar.
Haanish tertawa kecil. "Kalau mau berbuat begitu, jangan disini dong. kasihan orang-orang yang melihatnya." pemuda itu lalu duduk ditempat bekas duduknya Aisyah. ia menatapi sajian makanan itu.
"Waah... enak ini. makan aaahhhh..." ujar Haanish mengambil piring dan menyendok banyak nasi hingga menggunung, menyendok sayur juga menggunung begitu juga dengan ikan.
"Kamu itu makannya banyak tapi nggak gemuk-gemuk juga." sindir Haidar kembali ke tempatnya. ia makan kembali kali ini dengan canggung.
"Biarin... ini makanan juga habis untuk energi. aku kan nggak malas-malasan Chouji." kilah Haanish kemudian makan dengan lahap.
"Ya, dan kau sudah lama nggak masuk kantor." tegur Haidar mengacungkan sendok kearah Haanish. "Kamu itu direktur Tangan Ketiga perusahaan! mana integritasmu?!"
Haanish menelan makanannya lalu menangkis lagi tuduhan kakaknya, "Hei Bro. aku juga pergi ke Padang, dalam rangka urusan perusahaan."
"Urusan apa?!" selidik Haidar.
"Mau tahu saja urusan orang." tukas Haanish, "Memangnya kau presdirnya? harus tahu semua urusanku?" pemuda itu menudingkan garpunya. "Aku bertanggung jawab pada CEO Buana Asparaga Tbk, bukan pada direktur HRD Buana Asparaga Tbk. paham?!"[]
__ADS_1