
Haanish mengamati Salman dari ujung topi petnya sampai ujung sepatunya. Salman sendiri membiasakan diri dengan tatapan itu. sejenak kemudian Haanish mengeluarkan gawai dan menghubungi ibunya. tak lama layar gawai itu memunculkan wajah Inayah.
"Kenapa Eiji?" tanya Inayah.
"Ma, si Incredible Hulk mau tinggal disini." ujar Haanish, "Dia bilang, Mama yang ngijini. benar Ma?"
"Namanya Salman, Eiji. sebut namanya!" tegur Inayah, "Ya, Mama suruh dia tinggal bersama kalian. itu anaknya Om Ikram. sopan sedikit kamu sama dia."
"Okey Ma. itu saja." kata Haanish.
pemuda berambut panjang setengkuk itu menyimpan gawainya lalu menatap Salman.
"Ikut aku deh." ajak Haanish melangkah melewati ruangan dan menemukan tangga.
ia menaikinya disusul oleh Salman. mereka tiba dilantai tiga. Haanish berhenti disebuah pintu. "Ini kamarmu." ujarnya membuka pintu tersebut.
keduanya masuk ke dalam. Salman mengamati keseluruhan ruangan itu. Haanish menatapnya. "Bagaimana? kau suka?"
"Sangat suka. terima kasih." jawab Salman dengan senyum.
Haanish mengangguk. "Okey. silahkan nyamankan dirimu." pemuda itu berbalik melangkah namun ditahan Salman.
"Mau kemana, Bro?" tanya Salman.
"Kenapa kamu? takut sendirian?" olok Haanish lalu cengengesan.
"Bukan. tapi aku kan urang baru disini." ujar Salman.
"Santai bro. nanti juga kamu terbiasa." jawab Haanish lalu melambaikan tangan sambil tersenyum jahil. "Aku cabut dulu, Bro. kalau ada malam, biasanya dilantai tiga ini sering nyasar ponggo yang habis mangsa bayi."
"Ponggo??" tanya Salman dengan lirih.
Haanish mengangguk-angguk, "Ponggo... kalau dikalimantan biasanya disebut kuyang, kalau di daerahmu kayaknya panggilan mereka... palasik deh."
Salman terdiam. Haanish diam namun dalam hati ia benar-benar tertawa. polisi kekar itu kelihatannya agak gelisah.
"Kamu kenapa? takut dengan makhluk itu?" tebak Haanish.
"Di era perdagangan global seperti ini, masih ada pula makhluk mitos macam itu, ya?" tukas Salman.
"Weits, bro. mereka bukan makhluk mitos. mereka nyata, merupakan bagian dari kearifan lokal Gorontalo disisi gelapnya. pundiala, kalumba, wangubi, genjer-genjer, dan masih banyak lagi. jika kau ingin menetap disini, di Gorontalo, maka kau harus mengenal dan memahami itu." ujar Haanish.
Salman kembali diam. Haanish menghela napas. "Sudahlah. kau tenang saja. kamu kan polisi, kalau mereka muncul ya todong saja pake pistol kamu. aman kan?"
Haanish pamit dan beranjak pergi. namun beberapa saat kemudian ia balik lagi. "Kalau kamu ada perlu, hubungi saja Bik Inah! dia seorang asisten rumah tangga disini. dan ada beberapa tempat yang tak sembarangan kamu kunjungi, terutama dojo pribadi keluarga kami. paham?!"
Salman mengangguk. Haanish tersenyum lalu mengangguk dan pamit lagi. kali ini ia benar-benar pergi. Salman menghela napas panjang lalu menghembuskannya. lelaki itu mulai mempreteli seragam dinasnya dan menggantungkannya dengan hati-hati di lemari. ia memindahkan semua pakaiannya dilemari itu dan meletakkan tas besar diatas lemari. setelah itu, Salman memutuskan membersihkan dirinya di kamar mandi.
ia memutar keran shower dan air hangat memancar membasahi tubuhnya. lelaki botak Itu membiarkan tubuhnya dibasahi oleh titik-titik air tersebut. setelah puas mandi, Salman keluar mengenakan handuk dan bersalin pakaian. ia menatap jam dinding. waktu telah menunjukkan pukul 11 siang. lelaki itu memutuskan merehatkan pancadrianya. sisa-sisa jetlag masih dirasakannya sedikit. istirahat adalah cara paling manjur meredakan hal semacam itu.
Salman melangkah menuju pintu kaca besar dan menarik gorden menutup pintu tersebut. ruangan menjadi sedikit gelap. lelaki itu melangkah menuju ranjang dan merebahkan diri dengan nyaman di kasur empuk tersebut. dalam beberapa detik, kedua mata Salman mulai mengatup dan akhirnya ia melanjutkan petualangannya di alam mimpi.
...******...
Haidar tiba dengan Tuatara V33K miliknya dan menemukan sebuah motor gede bermesin V kembar terparkir di beranda kanan. yang jelas itu bukan kendaraan milik Haanish. adiknya tak punya selera menaiki kendaraan klasik. pemuda itu turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam bangunan.
"Bik... Bik Inaaah..." seru Haidar.
seorang wanita tua muncul agak tergopoh-gopoh dan tiba dihadapan Haidar. "Iya Nyong? ada keperluan apa?" tanya Bik Inah.
Haidar mendekatkan wajahnya, "Orang itu sudah tiba?" tanya pemuda itu dengan lirih.
Bik Inah mengangguk. "Sudah diantarkan Nyong Eiji ke kamarnya. kelihatannya orang itu lagi istirahat." tuturnya.
Haidar mengangguk-angguk lalu menegakkan lagi tubuhnya dan mengisyaratkan Bik Inah untuk kembali ke kegiatannya. Haidar melangkah menuju tangga dan menaikinya. langkah kaki pemuda itu terayun santai hingga tiba di lantai dua. Haidar menuju ke kamarnya.
pemuda itu melepaskan pakaiannya satu persatu. ia menggantikannya dengan kaos dan celana bokser. Haidar melangkah keluar dan menuruni tangga menuju meja makan. di pantry, Bik Inah sibuk memasak makanan kesukaan tuannya.
"Jam berapa orang itu sampai Bi?" tanya Haidar. pemuda itu sudah duduk dikursi. Bik Inah telah lebih dulu menata meja makan. ada tiga piring tertelungkup pada serbet putih disana.
__ADS_1
"Tibanya kalau tak salah pukul 10.45 pagi, Nyong." jawab Bik Inah seraya memindahkan masakan dalam penggorengan ke piring sajian. wanita tua itu membawa nampan berisikan piring-piring sajian ke meja lalu meletakkannya dengan apik.
"Eiji kemana saja?" gumam Haidar. "Apa dia nggak tahu imi sudah jam makan siang?"
"Lagi mikirin aku ya?" cetus seseorang yang membuat Haidar seketika menengadah ke langit-langit menemukan sesosok tubuh menapak sungsang. kedua kakinya menapak begitu lengket dilangit-langit ruangan itu. Bik Inah yang ikut menengok jadi tercengang.
"Nyong Eiji..." desisnya lirih.
sosok itu memang Haanish. pemuda itu kemudian dengan gesit melayang turun dan bersalto lalu mendarat dilantai dengan lembut.
"Sejak kapan kau berada disitu?" tanya Haidar saat Haanish kemudian duduk dikursi berseberangan dengannya.
"Baru saja. saat kau menuruni tangga itu." jawab Haanish sembari menelentangkan piring.
"Ah, yang benar?!" tukas Haidar. "Aku tak mendeteksi keberadaanmu tadi."
Haanish tertawa. "Berarti kemampuan kamu sudah menurun gara-gara memikirkan Mahreen." tebaknya.
Haidar terhenyak, "Jangan sembarangan bicara kamu, Eiji!" tegur pemuda itu.
"Aku sudah pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, saat kau kedapatan jatuh cinta sama Marina." goda Haanish, "Kalimat itu nggak akan mempan padaku lagi. kau yang seharusnya jangan lagi sembarangan bersikap."
"Memang dimana aku pernah melakukan kesembarangan itu?" tantang Haidar dengan nada meninggi.
"Aduuh... sudah Nyong, nggak usah bertengkar. masa disaat mau makan masih juga saling debat?" sela Bik Inah dengan memelas. "Nanti masakannya dingin, Bibi lagi yang repot." rajuknya.
Haidar diam ditegur seperti itu sedang Haanish hanya terkekeh kecil saja. keduanya saling bergantian menyendok nasi. seperti biasanya, Haanish selalu membuat isi dipiringnya bagaikan gunung dumbo. Haanish menatap Haidar yang sementara menyendok sayur.
"Tumben kau tak menegurku, Chouji?" tukas Haanish lagi dengan senyum.
"Tentang apa?" tanya Haidar.
"Biasanya didepan Mahreen, kau akan menegurku untuk jangan mengisi piring banyak-banyak lalu kemudian mengaitkannya dengan hadis tentang keutamaan makan sedikit." sindir Haanish.
"Kan bukan didepan Mahreen." kilah Haidar dengan enteng.
"Dasar makan puji." ejek Haanish dengan senyum lalu makan dengan santai.
"Oke Nyong." jawab Bik Inah kemudian meninggalkan kedua pemuda yang melanjutkan makan siangnya.
"Kamu tahu? sekarang Mahreen tinggal bersama Mama di Kediaman Ali." ujar Haidar.
sontak Haanish tersedak dan terbatuk-batuk. pemuda itu lekas meraih gelas dan meminum isinya. setelah meredakan batuknya, Haanish mendelik takjub kepada kakaknya.
"Yang benar kamu?!" serunya.
Haidar hanya tersenyum datar saja. Haanish menautkan alisnya. "Tapi, kenapa Mahreen nggak mengabarkan hal itu padaku, ya?"
"Untuk apa Mahreen mengabarkan hal tersebut kepada makhluk tak penting macam kamu?" ejek Haidar, "Nggak berguna sama sekali."
Haanish mengangkat alisnya sebelah lalu kembali melanjutkan kegiatan makannya yang tertunda. tak lama kemudian muncul Bik Inah yang didampingi oleh Salman. Haanish mendecak menarik perhatian Haidar.
Haidar mengerling ke arahnya dan Haanish menganggukkan kepala kearah tangga. Haidar menoleh menatap lelaki mirip raksasa bertubuh kekar mendekati mereka.
"Wah, apo kaba Uda Haidar?" sapa Salman dengan keceriaan untuk menarik simpati. lelaki itu mengenakan kaos yang sangat ketat menonjolkan lekak-lekuk sepir tubuhnya.
Haidar mengangguk lalu mengisyaratkan Salman untuk duduk. dengan antusias, Salman memenuhi perintah pemilik kediaman tersebut.
"Bagaimana menurutmu tentang Gorontalo?" pancing Haidar.
"Indah dan menyenangkan." sahut Salman dengan senyum lebar sambil membalik piringnya lalu mulai menyendok nasi. Haanish tersenyum.
"Dasar pencolet..." ejek Haanish dengan lirih.
Salman tak memperdulikannya atau memang pura-pura tak perduli. ia terus saja menyendok sayur dan ikan lalu makan sambil mendecap-decap.
Haidar agak terganggu dengan bunyi decapan lelaki itu saat makan. namun, sebagai tuan rumah ia berupaya tak menghiraukan. Salman kembali menggeleng-gelengkan kepala.
"Ini masakan yang enak." komentarnya. "Siapa yang memasaknya?" tanya lelaki botak itu.
__ADS_1
Haidar mengerling kepadanya, "Untuk apa kau tanyakan hal itu?" tanya pemuda itu dengan wajah mencela.
"Untuk memberi apresiasi kepadanya karena telah membuat masakan seenak ini." puji Salman dengan mata berbinar.
"lebay sangat kau ini." komentar Haanish.
Salman hanya tertawa pendek saat diolok seperti itu. Haanish melanjutkan kalimatnya, "Tapi aku suka padamu. kau sudah kenal siapa kami, kan? apa Mama nggak memberitahu apapun kepadamu?"
Salman kembali terkekeh, "Kalau aang pasti Haidar." tebak lelaki botak itu menatap Haidar dan menggoyang-goyangkan sendoknya. "Dalam keluarga Lasantu, Aang sering dipanggil dengan nama 'Chounan' atau 'Chouji' sebab aang adalah putra pertama Om Sandiaga dengan Bibi Inayah."
Haidar sejenak mengerling ke arah Haanish kemudian menatap Salman lagi sedangkan Bik Inah sudah meninggalkan ruang makan itu. Salman menatap Haanish. "Marina bercerita banyak tentang kalian berdua. dan aden senang, bahwa inyo benar."
Haanish dan Haidar saling berpandangan lagi dan keduanya serentak mengangsurkan tangannya untuk salaman.
"Selamat bergabung dengan keluarga Lasantu." ujar keduanya serentak.
Salman sebenarnya termasuk lelaki yang gampang terbawa perasaan. kedua matanya berkaca-kaca melihat betapa antusiasnya dua pemuda itu. ia langsung mengulurkan dua tangannya menyalami dua tangan itu.
"Tarimo Kasiah " ujarnya dengan lirih.
"Lanjutkan makan." perintah Haidar. "Nanti kita lanjutkan malam. aku harus balik lagi ke Buana Asparaga Tbk."
"Malam, kita bertiga mengunjungi Mama di Kediaman Ali." jawab Haanish. "Kau wajib ikut."
Salman mengangguk-angguk paham dan ketiganya kembali melanjutkan kegiatan makan siangnya.
...*******...
Lelaki itu sedang mencermati video yang dikirimkan seseorang kepadanya. beberapa jenak, ia menekan tuts pause, pada keyboard dihamparan meja thermoglass miliknya. setelah beberapa saat, ia mengangguk-angguk lagi dan menekan lagi tuts play, hingga video itu kembali menayangkan adegan demi adegan.
setelah tayangan video itu selesai, lelaki itu menekan tombol disisi meja. tak lama terdengar suara menyahut.
🔊 "Ya, Pak?" respon orang itu.
🔊 "Ke ruanganku kau.... cepat." panggil lelaki itu.
🔊 "Siap!" jawab orang itu.
lelaki tersebut kembali menegakkan tubuhnya dan bangkit dari kursinya. ia melangkah menuju dinding kaca yang dilapisi granit hitam untuk menyamarkan sosoknya dari luar. tak lama muncullah seorang pria mengenakan stelan jas formal dengan pin logo perusahaan tersemat didasinya. lelaki itu mendekat dan berdiri disisi meja.
"Anda memanggilku, Pak?" tanya pria itu.
lelaki itu menoleh lalu berbalik dan melangkah santai mendekati pria yang berdiri disisi meja.
"Kau sudah mengumpulkan data yang kuminta?" tanya pria itu. sang lelaki yang berdiri disisi meja mengangguk lalu mengangkat pergelangan tangan. disana ada semacam benda yang melingkar. pria itu sejenak menekan benda itu. dari benda itu keluar sebuah keping kecil pipih yang dipungut begitu hati-hati dan diserahkan kepada lelaki itu.
ia menimang-nimang benda kecil itu lalu menatap pria tersebut.
"Nokolai... sebentar lagi, kau akan mendapatkan misi yang penting." ujar lelaki itu.
Nikolai Basarab, pria yang menyerahkan chip itu hanya menatap kepada lelaki itu.
si lelaki itu menyentuh bahu Nikolai. "Kau sudah sangat pantas menerima tugas itu demi kelangsungan klan Dracna hingga menuju pengadilan akhir."
"Katakan padaku." pinta Nikolai, "Apakah Imanuel yang merekomendasikan ini?" pancingnya.
"Kenapa?" tanya lelaki itu.
"Beberapa hari yang lalu, ia mengunjungi aku di Kastil Poenari, membahas beberapa langkah kita untuk segera mengekspansi wilayah Perancis yang menjadi basis Templar. kelompok itu sudah tak pantas menyandang tugas suci untuk menegakkan Salib Agung. itu menurut dia..." jawab Nikolai.
"Eskpansi kesana, ku tangguhkan sementara." jawab lelaki itu. "Aku baru-baru ini mendapat kiriman video rahasia tentang seorang wanita rusia yang keluarganya telah kau bunuh. mengapa perempuan itu kau biarkan hidup?" selidik lelaki itu.
"Untuk menemui saudaranya yang berada di Indonesia." jawab Nikolai. "Dia putri kandung Jabir Nurmagonegov, sedang orang yang hendak dia temui itu, aku curiga... merupakan putri seorang anggota Masyarakat Sungai Amur yang dilindungi Jabir untuk menyembunyikan identitasnya."
"Menurutmu... siapa orang yang hendak ditemuinya itu?" tanya lelaki itu.
"Mahreen Nurmagonegov. tapi aku yakin, itu hanya kamuflase sebab sebelum tewas ditangan musuhnya, Papa pernah memberitahu bahwa perempuan itu aslinya adalah putri dari Ivanka Korkov. perempuan itu kemudian disembunyikan oleh Jabir Nurmagonegov agar tak dikejar-kejar Klan Dracna." tutur Nikolai.
"Teruskan..." desak lelaki itu.
__ADS_1
"Aku menemukan kabar bahwa ia berada di indonesia, sebagai mahasiswa program pertukaran pelajar. hanya saja hingga saat ini, aku belum menemukan lokasi yang pasti." ujar Nikolai.[]