
Aisyah sebenarnya tak berminat melanjutkan percakapan. ia hanya sesekali melirik putrinya yang sedikit lagi menghabiskan makanannya. adapun Haidar hanya fokus menatapi Aya Sofia. sesekali senyuman datar tersungging dibibir pemuda itu.
"Aaah... rupanya putriku sudah selesai makan." ujar Aisyah menyela pembicaraan Callista sebelum gadis berjilbab itu hendak bicara lagi.
"Anak baik." puji Haidar. "Nanti ketemu lagi, Om traktir ya?"
Aya Sofia hanya mengangguk dan tersenyum lebar merespon ujaran Haidar. Aisyah menatap mereka bertiga.
"Silahkan kalian meneruskan percakapan yang tertunda. saya harus segera permisi." kata Aisyah.
"Kau tidak menyentuh makananmu." tegur Haidar.
"Apakah persoalan makanan akan mengganggu kenyamanan kalian dalam bercengkrama?" sindir Aisyah dengan lirih menyindir Haidar. "Biarlah nanti aku akan memakan semua yang kau suguhkan. untuk saat ini aku kehilangan selera makanku. bisa aku pergi?"
Haidar menatap lama dan Aisyah juga menatap dengan memelas tak kentara meminta pemuda itu untuk melepaskannya sehari saja. akhirnya Haidar mengangguk. cepat-cepat Aisyah menarik tangan Aya Sofia menjauh. anak perempuan itu melambaikan tangan dan Haidar membalasnya dengan senyum.
sepeninggal Aisyah dan putrinya, Mahreen menatap Haidar dengan tatapan penuh arti. Haidar kemudian menatap keduanya bergantian.
"Kalian pesanlah makanan dan minuman. aku yang traktir." kata Haidar dengan datar namun senyuman tipis menggelayuti bibir lelaki berkulit terang itu.
"Kalau begitu, aku akan menuju tempat pemesanan. kalian berdua silahkan bicara dulu." sahut Callista sembari bangkit dan melangkah meninggalkan dua orang itu. ia berencana agak lama kembali agar memberi kesempatan kepada Mahreen dan Haidar agar berbicara lebih leluasa.
sepeninggal Callista, Haidar menatap Mahreen dan tersenyum datar. "Aku tahu tatapan cemburumu itu." sindir lelaki itu. "Perempuan bernama Aisyah itu tak ada hubungan apapun denganku... selain hubungan teman lama yang sudah lama tak bertemu." kilah Haidar.
Mahreen kembali tersenyum. ia melihat tatapan dan gerak bibir lelaki itu tak tulus. artinya, Haidar menyimpan kebohongan. wanita berkerudung itu kemudian menunduo dan menghela napas.
"Maafkan aku." ujar Mahreen. "Aku tahu, kau hanya ingin menampilkan kesan baik. aku menghargainya."
sebelah alis Haidar terangkat sedikit. lelaki itu kembali tersenyum. "Terima kasih..." itu saja kalimat yang keluar dari bibirnya. gabungan dua kata yang mengisyaratkan tentang penghargaan kepada seseorang yang dianggap berjasa kepada pelaku tersebut.
Mahreen mengangguk. Haidar menghela napas. "Bagaimana pelajaranmu?" tanya Haidar dengan semangat.
"Biasa saja... datar..." jawab Mahreen. "Aku dan Lista ada tugas bersama untuk membahas tentang laju perkembangan ekonomi di Gorontalo pada tahun ini dan prediksi ekonomi tahun ke depan."
Haidar mengangguk-angguk. "Ada baiknya kau magang saja di Buana Asparaga. selain mendapat pengalaman kerja, kau juga mendapatkan ilmu." usulnya.
"Aku akan mempertimbangkannya..." jawab Mahreen dengan senyum simpatiknya. Haidar mengangguk-angguk. tak lama kemudian Callista muncul lagi.
"Sori nih mengganggu." ujar Callista yang langsung dibalas senyuman penuh arti oleh Mahreen dan Haidar. jilbaber itu menatap Mahreen. "Reen, tadi aku dapat telepon dari ketua tingkat. dosen mata kuliah statistika menetapkan temu mendadak. ketua tingkat mengajukan protes tapi tak diindahkan dosen tersebut. ia memaksa saat ini harus mengadakan perkuliahan."
"Ya sudah. kita pulang lagi ke kampus." ujar Mahreen langsung bangkit. Callista menatap Haidar. "Sori, Kak Chouji. kita harus balik lagi." ujarnya diselingi senyum kikuk.
"Nggak apa-apa." ujar Haidar. "Bagaimana dengan makanannya?"
"Saya sudah pesan supaya dibungkuskan saja." jawab Callista.
"Ya sudahlah. nanti saya yang bayari." sahut Haidar. "Saya antar ya?" ujarnya sambil bangkit.
"Nggak usah kak. saya bawa mobil." tolak Callista dengan halus. Haidar mengangguk-angguk.
"Hadija*)...." jawab Haidar. mereka mengangguk lalu pergi bersama meninggalkan tempat itu.
*) HADIJA \= hati-hati di jalanan.
Haidar bangkit melangkah menuju kasir dan mengeluarkan kartu black gold royal dari dompetnya. ia menyerahkan kartu itu ke kasir yang kemudian menggesekkannya ke mesin perekam data keuangan. transaksi terjadi.
"Harga makanan perempuan dan anaknya, dua orang gadis itu juga saya yang tanggung." ujar Haidar memberi keterangan. Kasir itu mengangguk dan menekan jumlah nominal harga pada mesin perekam data itu kemudian memprosesnya. beberapa jenak, kartu itu dikembalikan kepada Haidar.
lelaki itu berbalik langkah meninggalkan restoran yang masoh ramai pengunjung itu. ia melangkah menuju Tuatara V33K miliknya dan masuk kedalamnya. kendaraan itu bergerak meninggalkan tempat itu.
dalam kendaraan tersebut, Haidar mengaktifkan mobilephone di dashboard mobil. kaca spion dalam mobil yang berfungsi ganda sebagai layar menampakkan wajah Dewinta Basumbul.
🖥 "Assalamualaikum, Tante." sapa Haidar.
🖥 "Wa alaikum salaam." balas Dewinta. "Kenapa nak?"
__ADS_1
🖥 "Tante punya koneksi di Kantor Dukcapil kota?" tanya Haidar.
🖥 "Ada... hubungi saja Pak Adrian Salawali. beliau dibagian data penduduk." jawab Dewinta.
🖥 "Wah, kelihatannya hari ini kantor nggak kerja, kan Tante?" tukas Haidar dengan wajah masygul. Dewinta tersenyum.
🖥 "Memang dibutuhkan sekarang?" pancing Dewinta dengan senyum penuh arti. Haidar mengangguk.
🖥 "Iya, Tante." jawab Haidar, "Tante bisa bantu Chouji nggak?"
🖥 "Iya, Tante bantu." sahut Dewinta. "Apa yang bisa Tante bantu untuk Chouji?"
🖥 "Segala sesuatu tentang perempuan bernama Aisyah Tilahunga." jawab Haidar yang sementara memutar setir kemudi, membelokkan kendaraan ke kanan.
🖥 "Baik. nanti sore, apa yang kamu inginkan akan Tante kirimkan lewat surel." sahut Dewinta.
Haidar tersenyum.
🖥 "Makasih Tante. Assalamualaikum..." ujar Haidar.
🖥 "Wa alaikum salam." balas Dewinta dan konferensi jarak jauh itu berakhir.
Haidar melajukan Tuatara V33K menyusuri jalanan di siang itu. tujuannya pasti jelas.... Kediaman Ali.
...******...
Marinka berdiri dengan posisi kaki gaya heiso, tubuhnya lurus tegap. tangan kiri disembunyikan dibelakang sedang tangan kanan menggenggam Pedang Rinjai yang ujung bilahnya terarah ke bawah. itu postur awal gaya pedang beberapa perguruan kuno di Cina. gadis berambut kepang itu mengenakan kaos tanpa lengan dipadu dengan celana panjang jumpsuit dari bahan jeans. sepatu kets putih tanpa tali membungkus kedua kakinya.
adapun Haanish, ia berdiri santai dengan menyamping. tangan kirinya menggenggam bibir sarung pedang dan tangan kanannya terjulur kebawah. pemuda itu hanya berpakaian kemeja lengan panjang yang digulung sebatas lengan, kerah kemejanya terbuka memperlihatkan dada bidang. celana panjang hitam dan sepatu kets hitam bertali. penampilannya mengingatkan Airina pada sosok mendiang kakaknya, Sandiaga.
senja ini, keduanya sedang melakukan uji tanding sekaligus pembabakan untuk Marinka, menguji apakah ilmu pedang yang diajari sang ibu, benar-benar telah dipahaminya dengan baik. selain itu, Marinka mengkolaborasi gaya pedang Koga dengan gaya pedang aliran Huihui Shibac Zhou.
diberanda belakang yang dijadikan sebagai panggung. duduk Airina dan Akram, diapit oleh Marina dan Marissa. sebagai wasit dan penyelenggara uji tanding, Airina langsung menyerukan dimulainya pertandingan.
TRANGGGGGGG....
bentrokan pertama terjadi, mengundang bentrokan demi bentrokan senjata berikutnya. Marinka menggunakan gaya menggenggam satu tangan sebab Pedang Rinjai berciri khas pedang lentur cina. bahkan setiap gerakannya terkesan tidak menggunakan gaya anggar jepang, justru lebih dominan ke jian wushu aliran Huihui Shiba Zhou.
Haanish tetap tenang melayani permainan pedang lawannya. pemuda itu tidak menggunakan gaya Koga untuk meladeni Marinka. ia malah menggunakan gaya Eishin yang diciptakan Hidenobu Chikaranosuke Hasegawa. Haanish mempelajari gaya tersebut karena dia juga merupakan keturunan Hasegawa. ibu kandungnya adalah Rosemary Hasegawa, kakeknya adalah mantan Naikaku Sori Daijin, Ryoma Hasegawa. namanya dulu sebelum diakui sebagai anggota keluarga Lasantu, adalah Yoshiaki Koga Hasegawa.
Airina tersenyum melihat pertunjukan kedua anak itu yang mirip koreografi anggar beda aliran. satunya merupakan aliran beladiri yang dipelajari orang-orang cina muslim diwilayah Xinjiang, sedang satunya merupakan aliran beladiri yang didasarkan pada seni mengayun pedang aliran Muso Jikiden Ryu cabang Eishin.
TRANGGGG TRANGGG TRAANGGG...
Marinka bertubuh ramping sehingga gerakannya gesit. serangannya lebih banyak mengintimidasi meski serangan itu tetap bisa dipatahkan Haanish dengan berbagai jurus dari aliran Eishin.
hingga pada akhirnya Marinka maju menusukkan pedangnya. Haanish menampar dan menekan pedang lawan dengan pedangnya lalu meliukkan sekaligus menghentaknya keatas hingga Pedang Rinjai terlepas dari genggaman Marinka dan menancap beberapa meter.
Marinka terkesiap ketika Haanish juga melempar Si Penebas Angin menancap disisi Pedang Rinjai. pemuda itu maju mencengkeram tali jumpsuit milik Marinka dan memanfaatkannya untuk melakukan bantingan. tubuh Marinka melayang membentuk garis lengkungan dan jatuh ke tanah, tapi gadis itu tak merasakan sakit sebab punggungnya langsung ditopang oleh tangan Haanish. keduanya terbaring dalam posisi saling menindih.
wajah Marinka pias sesaat, namun beralih warna merona merah saat wajahnya berdekatan benar dengan wajah Haanish. napas pemuda itu bahkan dirasainya menyapu wajahnya.
"Uda..." panggil Marinka dengan lirih.
"Maafkan aku..." ujar Haanish dengan lembut.
Marinka mengangguk perlahan dan Haanish menarik wajahnya. pemuda itu bangkit lalu mengulurkan tangan membantu Marinka bangkit. gadis itu berdiri canggung menatap Haanish yang mencabut Si Penebas Angin kemudian menyarungkannya. Haanish juga mencabut Pedang Rinjai dan menyerahkannya kepada Marinka.
"Makasih..." jawab Marinka dengan lirih.
terdengar applause nyaring yang berasal dari beranda. Airina dan Akram bertepuk tangan. begitu juga dengan Marina dengan Marissa. bahkan Marissa melompat-lompat dengan gembiranya.
__ADS_1
kedua petarung itu melangkah menuju beranda. Airina bangkit. "Bagus. kalian berdua menampilkan permainan yang bagus." Airina menatap Marinka. "Bagaimana nak? kau bisa merasakan perbedaan saat uji tanding dengan sepupumu ini?"
Marinka menunduk dan mengangguk-angguk pelan. gadis itu tak berani menantang wajah ibunya. Marina sendiri melihat adanya perubahan pada sikap adiknya itu. Akram hanya senyum saja sedangkan Marissa langsung melompat memeluk lengan Haanish.
"Wah, Uda hebat sekali. bisa mengalahkan Uni Angah." puji Marissa dengan suara riang.
"Teknik milik Marinka kelihatannya tidak menggunakan gaya Koga." ujar Haanish menatap Airina. "Apakah ia belajar gaya perguruan lain, Bibi?"
"Itu aliran Huihui Shiba Zhou... seni kungfu yang dipelajari suku hui. jika diterjemahkan disebut gaya delapan belas sudut Hui." jawab Airina. "Seni ini sudah diklaim oleh para sejarahwan, namun kemudian seorang praktisi beladiri bernama Ju Kui dari Hebei mengaku mempelajari gaya 18 Siku Hui dari Sun De Kui dari Dezhou, Shandong."
Haanish mengangguk-angguk dan memuji Marinka. "Aku tak tahu tentang aliran itu. tapi secara umum, aku suka permainan pedangmu." pemuda itu menatap Airina. "Aku sendiri ingin melakukan ritual musho-shugyo untuk menguji kecakapanku."
"Kalau kau melakukan ritual musho-shugyo, siapa lagi yang akan mengelola kerajaan bisnis keluargamu?" tegur Airina, "Apa kau akan memberikan seluruh beban kepada Chouji?"
Haanish hanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Akram tersenyum dan maju menepuk pundak Haanish.
"Ayo, kita ke Arklab." ajak Akram.
"Ayo Om." tanggap Haanish.
Marinka menunduk menahan rasa hatinya. Marina memperhatikan adiknya yang pipinya terus merona merah. gadis itu mendekati Marinka dan menyapu punggungnya.
"Inka... kamu nggak apa-apa?" tanya Marina dengan lirih.
Marinka tersentak kaget lalu menoleh kepada kakak sulungnya. "Uni..." gumamnya kaget.
Marina tersenyum. "Kamu kenapa?" tanya gadis itu.
Marinka langsung tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Marina kembali tersenyum. ia tahu, Marinka menyimpan ganjalan. Marina akan menginterogasi kelak adiknya tersebut.
Haanish mengikuti Akram ke ruang bawah tanah kediaman Williams. disana ternyata Akram membuat pula sebuah laboratorium pribadi dan menutup laboratoriumnya di kediaman Alkatiri.
"Halo Arkham..." sapa Akram.
"Selamat datang Tuan." balas Arkham, si program kecerdasan buatan yang menjadi robotic system program di laboratorium tersebut.
"Kita akan mengujicobakan kembali nanotech armoring system (NARSYS) Arkus 01 pada responden kita." ujar Akram.
"Meminta scanning tubuh dari responden." pinta Arkham.
Akram kembali mengisyaratkan Haanish menuju sebuah panggung mini. pemuda itu melangkah menaiki panggung tersebut.
"Harap lepaskan pakaian." pinta Arkham. "Proses Scanning akan dilaksanakan."
Haanish menatap Akram. "Om, maksudnya telanjang beneran nih?" tanya pemuda itu dengan suara melengking.
Akram tertawa kecil, "Sisakan saja segitiga bermuda yang melekat dibawah pusarmu itu."
dengan tersipu, Haanish terpaksa melepaskan pakaiannya dan menyisakan cawat yang membungkus bagian paling pribadinya itu kemudian berdiri tegak lagi untuk di scan postur tubuhnya oleh Arkham.
Akram kemudian mengoperasikan proses scanning untuk mencocokkan peranti ARK 01 NARSYS ke tubuh Haanish. tak lama kemudian Marinka masuk mengenakan jas panjang ilmuwan. langkah kaki gadis itu tertahan saat melihat pemandangan dihadapannya.
"Ah.." pekik Marinka lirih sambil membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. wajahnya putih langsung memerah kembali.
Akram menoleh menatap putrinya. "Masuklah nak." panggil lelaki parobaya. Haanish menatap Marinka dan kembali wajah pemuda itu juga memerah. ia canggung.
Marinka melangkah sambil menundukkan kepala dan tiba di sisi ayahnya. Akram mengintruksikan agar Marinka memposisikan tampilan holografis dari ARK01 NARSYS ke tubuh Haanish sementara Akram mengintruksikan Haanish untuk merentangkan tangannya.
sambil sesekali melirik kearah Haanish, Marinka mengepas pola holograf armor terbaru itu ke tubuh Haanish yang polos. panggung kecil itu memutar pelan untuk memproyeksikan pola itu lebih identik seiring dengan Marinka yang gesit memainkan keyboard panel itu menempatkan pola yang tepat pada Haanish.
"Oke, Scanning selesai." ujar Akram menekan tombol 'enter'. ia menatap Haanish. "Turunlah dari situ. biarkan Arkham yang akan menyelesaikan sisanya."
Haanish mengangguk lalu turun dari panggung kecil itu dan mengepas kembali pakaiannya. pemuda itu berdiri di sisi Marinka. mereka menatap desain canggih yang diproyeksikan oleh Arkham di panggung kecil itu.
Akram mendekati keduanya dan berdiri ditengah Marinka dan Haanish. tangan kekarnya memeluk bahu kedua anak itu. "Sebentar lagi, armor ini akan dapat digunakan." Akram menatap Haanish. "Om berikan ini untukmu sebagai hadiah." ujar lelaki itu penuh makna.[]
__ADS_1