
Haidar mulai merasa tenang, melihat adiknya lebih banyak menghabiskan waktunya di dojo untuk bermeditasi. sehari ia melihat sang adik tenggelam dalam ritual seishin teki kyoyo untuk merelakan dan membiasakan diri dalam kekosongan.
Haanish sudah menemukan kembali kedamaiannya. perihal sang kekasih memilih mengikuti keluarganya itu adalah pilihan yang dia buat dan Haanish tak punya hak untuk melarang. setiap orang memilki jalan hidupnya masing-masing.
Haanish tinggal memikirkan satu masalah. sebuah cela yang menyebabkan nama keluarganya menjadi cemar dimata keluarga Wie. jika ini dibiarkan, akan menjadi bumerang yang akan berimbas pada reputasi perusahaan, sebab bagaimanapun, Buana Asparaga Tbk adalah milik keluarga Lasantu.
pikiran itu mengganggu benar benaknya. hanya pembuktian yang bisa menyelesaikan hal itu. ia harus mencari kebenarannya. Haanish membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. ia bangkit dan keluar dari dojo. ia akan menghadap kepada ibunya, memohon restu untuk sekali lagi melakukan pengembaraan.
...******...
Airina menyatakan keinginan sang putri bungsu kepada suaminya. Akram terdiam lama sebab ia dalam hal ini berat mengabulkan permintaan putrinya. selama ini, Marissa belum pernah melakukan perjalanan jauh. jika dikabulkan, maka inilah perjalanan perdananya.
"Aku sebenarnya tak hendak mengijinkannya." ujar Akram dengan jujur, "Namun aku ingin mendengar bagaimana pendapat kamu." sambungnya menatap Airina.
"Jika kita menolaknya, Marissa akan mencari cara untuk bisa merealisasikan keinginannya." jawab Airina. "Anak itu sudah mampu melakukan apa yang dianggapnya benar..."
"Menurutnya benar, belum tentu menurut kita, benar." sela Akram.
Airina mengangguk-angguk. "Ya, aku paham maksud Hubby. tapi kita juga harus mempertimbangkan faktor kematangan jiwanya. Marissa merupakan sosok keras kepala dan teguh pada pemikirannya. kita tak bisa mencegahnya dengan alasan bahwa kita merasa berat melepasnya."
Akram mondar-mandir diruangan itu. ia berpikir keras sambil menyangga dagu dengan tangannya. Airina hanya menatap suaminya. lama Akram bersikap semacam itu, tetap saja membuatnya terasa buntu.
"Nggak! aku nggak bisa mengijinkannya." pungkas Akram. lelaki itu menatap istrinya. "Katakan padanya, aku tak akan mengijinkannya."
"Baiklah, jika itu maunya Hubby." jawab Airina pada akhirnya bangkit meninggalkan ruangan tersebut. ia melangkah menuju kamar Marissa.
pintu itu diketoknya beberapa kali. tak ada jawaban disana. Airina mendekatkan telinganya ke pintu. "Nak, ini Umi..." ujarnya.
tetap saja tak ada jawaban. hati Airina mendadak tidak tenang. didorongnya pintu itu dan menemukan ruangan Itu kosong. Airina mengintari ruangan itu dengan tatapannya. ia hendak berbalik ketika matanya menangkap sehelai kertas diatas ranjang. Airina mendekat.
itu sepucuk surat dalam amplop putih. kening wanita itu bertaut. perasaannya makin tidak nyaman. dibukanya surat tersebut dan ia mulai membaca.
kepada umi tercinta.
maaf, Umi. *denai pergi tanpa pamit. bukan karena durhaka, tetapi denai sudah yakin, Abi nggak akan mengijinkannya anak kecilnya ini pergi. semuanya sudah kuprediksi. jadi, denai tak mau merepotkan Umi yang mau susah payah bernegosiasi dengan Abi. aku pergi... daaaghhh. ciaooo...
^^^Marissa Williams*^^^
Airina langsung meremas surat dan berlari keluar dari ruangan itu.
...*****...
dihamparan dirgantara, Marissa melayang menggunakan armor WM01 miliknya sendiri. gadis itu sudah mereboot sistem pengendali sehingga ayahnya tak akan bisa menggagalkan fungsi kerja armornya, meski menggunakan bantuan Arkham.
bagaimanapun, sang putri bungsu ini merupakan seorang mekanik cyber yang handal. ia seorang hacker pula sehingga mampu membalik fungsi piranti pengendali terpusat dari Arklab menjadi tidak berfungsi.
gadis itu sudah memperkirakan sang ayah akan murka, namun ia sudah siap. ini adalah perjalanan perdana, ini adalah petualangan pertama. selama ini sang ayah mewanti-wanti dirinya untuk tak mempergunakan WM01 untuk tujuan nggak jelas. kini tiba saatnya ia mengeksplorasi semua komponen pendukung dalam armor itu.
"Willy, gunakan jet turbo." ujar Marissa pada piranti robotiv system program yang terdapat pada WM01. "Kita harus tiba paling lambat jam lima sore."
🔊 "Kemana kita akan menuju?" tanya Willy.
"Tentu saja ke Gorontalo. gimana sih kau ini? katanya kau ini kecerdasan buatan. kok malah nanya? mikir dong!" omel Marissa.
🔊 "Sis, aku memang kecerdasan buatan. tapi bukan berarti aku langsung bisa menebak kemana kamu mau mendarat. kita mendaratnya dimana?" tanya Willy lagi.
"Ya sudah, kita mendarat di Kediaman Lasantu." jawab Marissa. "Munculkan kordinat."
kecerdasan buatan itu kemudian menampilkan layar holografis yang memperlihatkan peta datar sesuai dengan garis khayali untuk memulai hitungan navigasi udara. Marissa memberi intruksi bagi Willy untuk menentukan kordinat itu.
tak lama kemudian, WM01 meluncur lebih cepat membelah udara. hanya dalam waktu dua jam, Marissa telah riba di Gorontalo. melalui aplikasi peta kota, ia menemukan letak kediaman Lasantu.
Marissa memerintahkan Willy untuk mendaratkan WM01. gadis itu mendarat dengan baik di pekarangan dalam. setelah itu Marissa menekan tombol di tengah dadanya membuat armor WM01 itu perlahan-lahan memudar dan menghilang.
__ADS_1
Marissa melangkah santai memasuki beranda dan menatap mesin fingerprint yang terdapat disisi gagang pintu. ia tahu, ia tak memiliki akses, maka jalan satu-satunya hanyalah mengetuk pintu.
TOK TOK TOK TOK
Marissa mengetuk pintu dengan keras. tak lama, muncul seorang wanita mengenakan seragam dress hitam yang dipadu apron putih. wanita itu tak lain adalah Tante Imel.
"Ya, cari siapa?!" tanya Tante Imel dengan datar.
"Denai boleh ketemu dengan Uda Eiji?" tanya Marissa dengan santai. Imelda menatap gadis dihadapannya dari atas hingga bawah. Marissa juga ikut-ikutan menatap juga Imelda dari atas sampai bawah.
"Eh, kenapa kau menatapku begitu?!" tanya Imelda dengan nada tinggi.
"Ya, waang sendiri menatap denai juga seperti itu. denai nggak protes." balas Marissa.
"Anak kurang ajar kamu ya?!" sergah Imelda, "Berani berkata begitu pada orang yang lebih tua!"
"Mbak, mohon maaf jika sudah tersinggung. tapi saya punya kepentingan dengan Uda Eiji. bisa saya masuk?!" tanya Marissa lagi.
"Nggak akan!" bentak Imelda hendak menutup pintu, namun Marissa buru-buru menahannya.
"Sabar coy, kenapa mau nutup pintu, apa denai punya tampang kriminal sampai mau ditutupi pintu." omel Marissa yang mulai tak sabaran.
"Eh, suka-suka saya." sergah Imelda hendak lagi menutup pintu namun tetap ditahan oleh Marissa. "Ooo... kamu melawan ya?!" sergahnya lagi kemudian mengayunkan tinju. Marisaa berkelit dan langsung mengarahkan tendangan ke dada Imelda.
sontak wanita itu melompat mundur. pintu terbuka dan Mariasa melangkah masuk. ia sejenak mengedarkan tatapannya lalu tersenyum menatap Imelda.
"Sekarang Denai sudah berdiri disini. apa mau waang sekarang?!" olok anak gadis itu.
"Brengsek!" seru Imelda maju kembali mengayunkan tinju. kali ini ia tak main-main.
teknik chudan tsuki yang diarahkah Imelda langsung ditepis Marissa. namun gadis itu tak sempat menghindar kala Imelda menyusulnya lagi dengan chudan tsuki lainnya. gadis itu terdorong ke belakang sambil memegangi dadanya yang kena tumbukan. Imelda mengayunkan tendangan mae geri chudan, Marissa kembali sigap dan menyilangkan tangannya menangkis tendangan itu, Imelda memutar dan mengayunkan ushiro geri menghantam perut Marissa lagi membuatnya kali ini terjengkang.
Imelda berdiri menyunggingkan senyum sinis. Marissa dengan cepat bangkit dan langsung menekan starting button yang ada di dadanya. seketika armor WM01 kembali menyelimuti tubuh gadis itu.
Imelda terkejut dan memasang sikap siaga. Marissa yang telah dilindungi armor WM01 mengarahkan kedua tangannya. selarik sinar photon menyembur dari telapak tangan armor itu.
sinar itu mengenai Imelda membuatnya terpelanting jauh hingga membentur meja pantry. sambil meringis kesakitan, Imelda bangkit dan meraih salah satu spatula dan pisau pemotong daging yang terselip pada tempatnya. wanita itu langsung bersiaga kembali.
Marissa maju dengan penuh percaya diri sebab dirinya terlindungi oleh armor WM01 itu. Imelda maju pula mengayunkan spatula ke arah kepala Marissa. gadis itu mengangkat tangannya menangkis benda tersebut.
TING!!!
namun Marissa tak menduga Imelda mengayunkan golok pemotong daging itu menebas pinggang gadis itu.
SRRIIIINGGGGG...
untung saja armor WM01 melindungi tubuh Marissa hingga benda itu hanya bisa menggores tanpa menimbulkan luka. Marissa yang marah mengulurkan tangan mencengkeram leher Imelda dan mengangkatnya lalu membanting wanita itu ke lantai.
BRUAAAKKKK...
Imelda merasakan udara dalam paru-parunya serasa terhempas keluar. Marissa mengangkat kaki hendak menginjak wanita itu. dengan sigap Imelda bergulingan dan bangkit beberapa jarak dari Marissa.
🔊 "Hei, perempuan... aku datang dengan baik-baik, mau bertemu Uda Haanish. kok kamu melarangku? apa hubunganmu dengan Uda Haanish, hah?!" sergah Marissa mengarahkan kedua telapak tangannya yang membuka, siap menembakkan sinar photon lagi kearah Imelda.
"Kau masuk ke rumah tanpa ijin pemiliknya. sebagai penjaga rumah ini, aku wajib mempertahankan kediaman ini dari orang-orang sepertimu!" jawab Imelda dengan ketus. Marissa menurunkan kedua tangannya dan menudingkan jarinya kepada Imelda.
🔊 "Lho? bukannya tadi saya bertanya baik-baik sama anda. tapi penyambutan anda tidak baik kepada saya. saya bisa menuntut anda untuk ini. Bibi saya pasti akan mendukung saya untuk itu." ujar Marissa dengan ketus.
"Sekalipun itu bibi kamu, dia tak akan bisa membantumu untuk ini!!" hardik Imelda sambil maju mengayunkan golok. jarak mereka sudah semakin dekat dan siap bentrok.
"HENTIKAN!!!!"
keduanya serentak menahan langkah dan menoleh ke pemilik suara. seorang lelaki kekar berdiri disana membuat Marissa langsung menonaktifkan WM01 miliknya dan menghambur lari menuju lelaki itu.
__ADS_1
"Uda Attar!!!" seru Marissa langsung melompat memeluk sepupu lelakinya itu.
Imelda hanya diam bengong saja ditempatnya. sedetik kemudian dia sadar dan langsung meletakkan kedua benda dalam genggamannya di meja pantry. kedua orang itu mendatanginya.
"Tante Imel berantem sama Marissa?" tanya Salman dengan tenang. Imelda hanya mengangguk dengan canggung dan menyengir. Salman menggeleng-gelengkan kepala kemudian memperkenalkan gadis disisinya.
"Ini Marissa Williams, anak bungsu Mintuo etek." ujar Salman langsung membuat Imelda syok. Salman tersenyum.
"Masa Tante nggak mengenal armor yang dikenakannya?" ujar Salman.
"Soalnya perempuan ini main nyelonong saja masuk. ya, sebagai penjaga rumah, saya tak terimalah..." kilah Imelda menatap Marissa yang masih memendam marah kepadanya.
Salman menatap Marissa. "Waang minta maaf sama inyo. beliau tuh hanya menjalankan tugas. waang sebagai yang lebih muda harus menghormati beliau."
Marissa langsung protes. "Lho? inyo yang serang denai duluan kok denai yang harus minta maaf?!"
"Issha..." ujar Salman dengan sabar dan lembut. "Jangan bawa perangai di kampuang dengan disini. bolehlah waang tu anak raja di kampuang. tapi nggak disini. Aden nggak mau waang disangka orang tak tahu menjunjung adat."
dengan cemberut akhirnya Marissa maju dan meminta maaf. Imelda juga langsung memaafkan karena dasarnya, perkelahian itu hanya didasari salah paham saja.
"Nona Marissa mau minum apa? saya buatkan." tanya Imelda dengan datar.
"Nggak usah Tante. saya mau bincang-bincang saja dengan Uda Attar." tolak Marissa dengan santai.
Imelda menarik napas panjang lalu mengangguk. "Baiklah. kalau begitu saya permisi ke belakang." ujarnya kemudian berbalik melangkah meninggalkan Salman dan Marissa. keduanya langsung menuju pantry. Salman meletakkan spatula dan golok pada tempatnya lalu duduk sementara Marissa memeriksa apapun dilemari pendingin.
"Waang mau apa?" tanya Salman.
"Masak.... lapar..." jawab Marissa dengan enteng. Salman tersenyum-senyum saja.
"Pasti waang kabur dari rumah nih." tebak Salman. Marissa hanya menyengir saja sambil mempersiapkan bahannya. ia kemudian mulai memotong sayur dan mulai menggoreng nasi.
Salman memperhatikan adik sepupunya memasak nasi goreng. rupanya ia memasak makanan kesukaannya, nasi goreng padang. tak lama kemudian bau harum masakan menyeruak ke udara. Marissa memindahkan makanan ke piring lalu membereskan alat-alat masak. ia membaginya menjadi dua piring dan menyodorkan piring berisi nasi goreng itu kehadapan Salman.
keduanya makan lagi sementara berbincang. "Kenapa waang kabur dari rumah?" tanya Salman.
"Bukan kabur sih. denai sudah minta ijin mau kesini. tapi denai mendengar Abi nggak setuju. ya denai cabut saja. toh denai nggak melayap kemana-mana. denai datang ke rumah keluarga juga." kilah Marissa sambil menikmati makanannya.
"Ya sama juga bohong dong." tukas Salman. "Jangan buat Mamak Tuo marah. kasihan beliau."
Marissa merenung, "Iya juga sih."
"Pulanglah, dan minta maaf sama beliau." pinta Salman dengan lembut.
"Enak saja. nggak mau!" tolak Marissa dengan tegas. arogansinya kembali muncul. "Sekali mengibar layar, pantang biduk surut dari lautan!" ujarnya berpantun.
"Memang waang kesini naik kapal?" olok Salman tersenyum dan mengeluarkan gawai. ia melakukan panggilan video call kepada Akram.
tak lama kemudian terdengar suara dan tampilan wajah lelaki parobaya itu dilayar gawai.
📲 "Assalamualaikum, Akram. apakah Marissa sudah berada disana?" tanya Akram dengan cemas. Salman tersenyum.
📲 "Wa alaikum salam. alhamdulillah, dah tiba baru saja dia disini." jawab Salman dan mengarahkan gawai itu menyoroti Marissa yang sementara makan dan melambaikan tangan.
📲 "Hai Abi... hai Umi." sapa Marissa enteng dan kembali makan.
📲 "Anak nakal! beraninya kamu kabur dari rumah ya?! untung saja kamu tak tersesat!!" omel Akram dengan geram.
Marissa menjeda sejenak makannya dan menatap ayahnya yang terpampang dilayar kamera.
📲 "Yeee.... salah Abi sendiri tak mengijinkan denai. Abi kan tahu denai ini sudah dewasa. sudah patut berpetualang mencari pengalaman hidup. masa mau mendekam terus dirumah? memangnya denai gadis pingitan?" rajuk Marissa kemudian kembali makan.
📲 "Memang kamu harus dipingit! anak nakal sepertimu harus segera dicarikan jodoh supaya nggak melayap kemana-mana!" omel Akram kembali.
__ADS_1
📲 "Boleh. denai setuju saja Abi carikan jodoh." Marissa kemudian mengacung-acungkan sendok lalu memutar-mutarnya. "Tapi, denai hanya mau kalau dinikahkan dengan Uda Haanish." jawabnya dengan enteng.
seketika Salman tersedak dan terbatuk-batuk, sementara Akram hanya terperangah mendengar kata-kata putrinya itu.[]