The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 44


__ADS_3

sejak kematian Inayah, Anggota keluarga Hamid yang kebanyakan diam, mulai menunjukkan taringnya. mereka mengincar perkebunan luas milik Inayah yang diwariskan secara turun temurun dari Saripah dan Trias Ali.


malam itu berlangsung rapat keluarga besar Hamid yang diselenggarakan di Kediaman Nunce Hamid, anggota keluarga Hamid paling berpengaruh. Nunce Hamid adalah sepupu dari Fahruriza Hamid. semua anggota keluarga Hamid hadir semua. adapun keluarga Ali diwakili Haidar dan Haanish.


Nunce memulai pembicaraan. "Cucuku Haidar. keberadaan kami disini adalah membicarakan tentang harta keluarga Hamid yang sebelumnya dikelola oleh ibumu. mulanya, kami memang mempercayakan kepengurusannya kepada ibumu, sebab beliau adalah putri satu-satunya dari Saripah Hamid yang notabene adalah putrinya Fahruriza. namun, sepeninggalnya jelas telah menimbulkan dampak yang sangat signifikan bagi perkembangan perkebunan itu. jadi disini, kami datang untuk merembuk, bagaimana menurutmu, jika perkebunan itu diserahkan kepada kami? sebab secara garis kekeluargaan, kami lebih dekat ketimbang kamu."


"Apakah Kakek tidak mempertimbangkan bahwa saya juga adalah cucu satu-satunya dari Saripah Hamid yang notabene adalah pemilik sebelumnya dari perkebunan tersebut?" ujar Haidar memicingkan mata.


"Bukankah kau telah memegang kepemimpinan Buana Asparaga Tbk sebagai perpanjangan dari keluarga Lasantu?" sahut Dino Hamid yang merupakan adik dari Nunce. "Jangan serakah kau." tukasnya.


"Siapa yang serakah, Kakek?" tukas Haidar menegakkan tubuhnya. "Aku tak keberatan jika kalian mengurusi perkebunan itu. namun, jika kepemilikannya harus dialihkan, itu yang membuat saya tak setuju. bagaimanapun, perkebunan itu telah menjadi mitra dari Buana Asparaga Tbk dalam hal industri perkebunan. saya hanya tidak ingin roda perkebunan itu tersedat-sedat disebabkan manajemen yang kurang baik."


"Berarti kau menuduh kami hendak menguasai perkebunan itu?!" tuduh Dino menudingkan jemarinya ke arah Haidar.


"Turunkan jemarimu, Kakek!" hardik Haanish.


"Kalau tidak, kenapa?!" tantang Dino Hamid. "Kau menantangku?!"


"Kamu jual, aku beli!" seru Haanish menyeringai bengis dan merentangkan tangan kanannya mengaktifkan sebagian armor Narsysnya menampakkan ujud Si Penebas Angin dalam genggamannya.


"Anak kurang ajar!" seru Dino berdiri. "Rupanya kau memang ingin dihajar!" lelaki tua itu langsung memperagakan beberapa teknik langga miliknya.


Haidar bangkit dan berdiri memperisai Haanish. "Kalau Kakek ingin menantang, maka akulah lawanmu!" ujarnya dengan tatapan tajam dan seketika kedua matanya beralih rupa menandakan dirinya mulai dirasuki darah dewa.


"Kak! tenangkan hatimu." bisik Haanish. lelaki itu juga sudah kembali menonaktifkan armornya hingga Si Penebas Angin kembali menghilang.


Haidar, sesuai arahan Haanish akhirnya menenangkan dirinya hingga akhirnya kedua matanya kembali ke bentuj semula. lelaki itu menghela napas.


"Aku tidak akan menyerahkan sepenuhnya pengendalian perkebunan itu kepada kalian. bagaimanapun, perkebunan itu telah terikat kontrak dengan Buana Asparaga Tbk sebagai pemasok logistik. jadi, aku akan tetap melakukan pengawasan menyeluruh." tandas Haidar dengan emosi yang ditahan. "Lagi pula, Saripah Hamid masih memiliki cucu, yaitu aku. dan Mama juga menginvestasikan sebagian kekayaannya pada perkebunan tersebut. masing-masing dari kalian akan mendapatkan stok opsi dari royalti perkebunan itu. namun, jika kalian menginginkan kekuasaan menyeluruh, berarti... kalian mencoba memancing di air keruh. aku tak akan segan kepada siapapun yang kuanggap dapat membahayakan roda ekonomi para pekerja yang mengadu nasibnya diperkebunan itu. meskipun, kalian adalah kerabatku sendiri."


Dino hendak menghambur namun langsung ditahan oleh Nunce. kakek itu menatap Haidar dengan tatapan tajam berupaya mengintimidasi lelaki itu melalui tekanan psikis. namun kakek itu lupa kalau Haidar merupakan praktisi yang telah mencapai kata 'mumpuni' dalam seni keperwiraan, termasuk tatapan tajam menusuk.


Haidar membalas tatapan itu bahkan lebih menghujam. Nunce terkejut merasai seakan tubuhnya dihimpit oleh sebentuk kekuatan kasat mata. kakek itu berupaya melepaskan diri dengan mengerahkan kekuatannya. keringat mengalir deras dari dahi kakek itu. anggota keluarga Hamid yang lainnya gentar melihat jawara mereka dipecundangi sedemikian rupa oleh Haidar.


Apakah kau hendak menekanku, Kakek?! aku bukan cucumu! kau tak ada apa-apanya bagiku.


Nunce terhenyak ketika telepati lelaki itu merasuk kedalam benaknya. kakek itu makin goyah. perlahan ia mengendurkan tenaga dalamnya hingga Haidar juga mengendurkan tenaga dalamnya dan Nunce menarik napas lega.


"Bagaimana Kakek? pikirkan dengan baik." ujar Haidar.


Haanish terus mengamati semua anggota keluarga Hamid yang saling berdiskusi. Nunce berdiskusi secara pribadi dengan Dino.


Nunce akhirnya mengangguk. "Baiklah, kita akan membagi keuntungan dari hasil perkebunan itu. sekarang katakan padaku. siapa yang memimpin perkebunan diatas kertas?"


"Aku akan menuliskan surat pengalihan kuasa perkebunan milik Mama kepada anda. namun, pengawasan penuh perkebunan itu tetap berada dibawah tangan saya." ujar Haidar.


Nunce menatap Dino. kakek itu mengangguk pula. Haidar ikut mengangguk. "Baiklah, ijinkan saya membereskan dulu urusan Mama selama empat puluh hari. setelah itu, kita akan bicarakan kembali. ada yang keberatan?!" tanya Haidar sambil mengamati satu persatu wajah semua anggota keluarga Hamid itu.


mereka saling mengangguk sahut menyahut. Pembicaraan itu selesai dan Haidar serta Haanish pamit tak memperpanjang lagi percakapan mereka. kedua lelaki otu diantar keluar oleh Nunce dan keduanya masuk kedalam Tuatara V33K milik Haidar.


kali ini Haanish yang mengemudikan kendaraan itu. setelah agak jauh dari kediaman itu, tiba-tiba Haidar memukul dashboard mobil itu dengan jengkel.


"Dasar Kakek-kakek serakah!" umpat Haidar dengan jengkel.


Haanish sejenak menatap saudaranya lalu kembali mengemudi. Haidar menggeram dan jelas sekali Haanish mendengar geraman yang lebih mirip dengan dengkuran sejenis reptil besar.


"Bro, tenangkan dirimu dulu." tegur Haanish. "Kelihatannya Darah Dewa mulai merasuki dirimu. bisakah kau melakukan cara untuk mengendalikannya?"


"Aku sudah coba beberapa kali untuk menekannya." ujar Haidar.


"Bukan menekannya, namun mengakuinya bahwa darah dewa itu kini sepenuhnya mengalir dalam tubuhmu." jawab Haanish. "Ingat, Bro. waktu kita nggak banyak. dalam waktu tak boleh kurang dari empat puluh hari, Dinara sudah harus ditemukan lalu kita akan membahas pengalih kuasa perkebunan Mama."


"Aku tahu." ujar Haidar. "Aku sendiri bingung, mengapa aku seakan tak mampu mengendalikan darah dewa. ada apa dengan darah ini? Papa tak menjelaskannya." keluhnya.


"Kau pikir kau seorang ilmuwan, hah?" tegur Haanish mengarahkan kendaraannya membelok ke jalanan yang kurang pencahayaannya. "Kamu tahu mengapa Norman Osborn saat mencoba serum hijau itu malah menjadi jahat dan berubah menjadi Green Goblin? mengapa Dokter Oktavius yang membuat mesin dan menguji cobanya malah terkena celaka dan berubah menjadi Doc. Octopus?"


Haidar diam saja.

__ADS_1


"Karena mereka sombong, mengira bahwa hal itu bisa mereka kendalikan! kau pun begitu, Chouji. kau berpikir bisa mengendalikan darah dewa saat kau menyuntikkannya ke tubuhmu dan nyatanya apa? tubuhmu malah bermutasi menjadi..." cela Haanish.


"Apa bedanya dengan kamu?" tukas Haidar.


"Dengan aku? apanya?" tantang Haanish kemudian terkekeh. "Aku bukan pengguna darah dewa."


"Ya, tapi kau menanam mikrochip armor Narsys didalam tubuhmu." tukas Haidar.


"Bro. jangan bedakan mikrochip Narsys dengan Darah Dewa. sangat jauh berbeda! darah dewa memiliki organisme sendiri, yang antigennya kuduga, dapat memutasi semua sel-sel. dan kamu kesulitan mengatasi perubahan itu. kamu seperti Eddie Brock yang kesulitan bersatu dengan simbiosisnya." ujar Haanish.


"Kamu sama-samakan aku dengan karakter Marvel, untuk apa? okey, aku akui memang aku sampai saat ini masih kesulitan untuk mengendalikan darah dewa. tapi aku yakin ke depannya aku bakal bisa!" tandas Haidar.


"Terserah kamu bagaimana caranya untuk mengendalikan darah itu. mau pakai meditasi kek, pakai apa kek, yang penting jangan makan orang saja." tukas Haanish.


Haidar tersenyum saja ketika Haanish mengungkit kata makan orang tersebut.


tanpa terasa, mereka telah memasuki kompleks bagian dalam pemukiman mewah Puri Manggis Residence. Tuatara V33K itu tiba didepan kediaman Haidar. Haanish menyetop laju kendaraan itu lalu keluar.


"Okey, sampai ketemu lagi di Buana Asparaga Tbk. aku akan melacak keberadaan Dinara lewat perangkat disana." ujar Haanish lalu hendak melangkah.


"Kamu nggak mampir dulu?" tanya Haidar.


"Kamu pikir ini masih jam berapa?" tukas Haanish memperlihatkan arloji yang merangkap sebagai piranti teleportasi dipergelangan tangannya.


Haidar mengangguk-angguk. "Okelah kalau begitu. aku tunggu kamu di ruang direktur. ingat! sampai saat ini aku belum memecatmu sebagai direktur Tangan Ketiga perusahaan. jadi kau masih tetap sebagai pejabat di Buana Asparaga. paham?!"


"Makasih untuk itu. aku pergi dulu." ujar Haanish kemudoan memencet salah satu tombol pada bagian piranti yang melingkar dipergelangan tangannya. seketika tubuh Haanish dikelilingi cahaya putih dan lelaki itu muksa.


Haidar berbalik melanjutkan langkah kakinya menaiki beranda dan membuka pintu. langkah kaki lelaki itu tertahan dan dia tertegun mendapati Aisyah yang duduk tertidur di sofa ruang tamu.


kasihan... maafkan aku sayang...



Haidar mendekati sofa itu lalu duduk disisi Aisyah yang sementara tidur. diraihnya pundak wanita itu dan dibaringkannya dengan pelan dan kepala Aiysah menyangga paha Haidar.



"Ah, Abah... baru tiba ya?" sapa Aisyah dengan suara serak.


"Ya... aku nggak tega, bangunin kamu. makanya aku baringkan." ujar Haidar dengan pelan. "Sudah lama menunggu?"


Aisyah mengangguk-angguk pelan sambil mengucek-ucek matanya. Haidar mengangguk-angguk pula.


"Sofi sudah tidur?" tanya Haidar lagi.


"Sudah dari tadi." jawab Aisyah dengan suara serak menahan kantuk. "Aya menunggumu terus dari tadi. aku sudah bujuk dia untuk istirahat duluan."


Haidar bangkit lalu melangkah menuju kamar milik Aya, didampingi Aisyah. lelaki itu membuka pintu mengintip sedikit melihat Aya yang sudah tidur nyenyak.


Haidar menutup lagi pintu itu lalu menggandeng Aisyah masuk kedalam kamar. keduanya naik kedalam ranjang. Haidar merebahkan diri sedang Aisyah ikut pula. Haidar mengisyaratkan istrinya untuk memeluk.


Aisyah memeluk tubuh Haidar. lelaki itu menatap langit-langit kamar.


"Umma..." panggil Haidar.


Aisyah mendongak menatap wajah suaminya. Haidar menghela napas sejenak lalu melanjutkan bicara.


"Jika suatu saat... aku, bukan lagi menjadi aku..." ujar Haidar kemudian menunduk menatap Aisyah. "Apakah... kau masih mencintaiku?"


Aisyah tertawa malas. "Kenapa sih Abah bicara begitu?" tukasnya. "Abah bicaranya kayak mau pamitan."


"Pamitan?" ujar Haidar.


"Pamitan... udah bicara kayak orang mau wafat." jawab Aisyah dengan wajah merajuk. "Apakah..."


"Hush!" hardik Haidar lirih. "Bukan begitu... kamu itu sensitif sekali sih?" gerutu lelaki itu kemudian mencubit pipi istrinya. setelah agak lama, Haidar kembali berujar, "Kamu tahu kan, kalau dalam darahku ini mengalir darah dewa. bagaimana jika suatu saat, darah terkutuk ini merubah diriku menjadi sosok dan pribadi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.... apakah.... kau masih mencintaiku?"

__ADS_1


Aisyah tersenyum lalu membelai wajah suaminya. "Abah tahu? sejak Abah menjebol Umma pertama kalinya dimobil ditempat sepi itu..." ungkit Aisyah membuat Haidar tersipu. wanita itu melanjutkan, "Umma sudah menetapkan hati untuk mencintai Abah, apapun keadaannya. jika sekiranya hal yang Abah takutkan itu benar-benar terjadi... Umma akan tetap mencintai Abah."


Haidar menatap lama dan akhirnya ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Aisyah pun tersenyum lalu membelai wajah suaminya kembali.


"Aku mencintaimu... Monsterku..." bisik Aisyah dengan lirih.


Haidar memejamkan matanya dan perlahan tubuh lelaki itu berubah bentuk ke wujud makhluk buas. Aisyah menatap lama wajah buas menyeringai itu. wanita itu kemudian bangkit dan menaiki tubuh makhluk perwujudan Haidar tersebut.


"Aku mencintaimu..." bisik Aisyah dengan lirih lalu memajukan wajahnya dan menyatukan bibirnya ke bibir makhluk jelmaan itu. keduanya saling mengulum dan menyatu dalam permainan itu.


lama kelamaan wujud makhluk itu kembali keujud semula sebagai Haidar. keduanya masih tetap berciuman hingga akhirnya Aisyah melepaskan bibirnya dari bibir suaminya.


"Lihatlah, Abah... cinta merubah sesuatu yang jelek terasa indah." bisik Aisyah dengan lirih.


Haidar tersenyum lagi dan setitik air mata jatuh menetesi pipinya. kini ia paham mengapa Haanish bersikeras menjodohkannya dengan Aisyah. wanita itu memang mampu melihat dirinya seutuhnya.


"Aku mencintaimu..." bisik Haidar dengan suara serak. "Jangan tinggalkan aku..." pintanya.


keduanya kembali berpelukan dan Haidar menumpahkan emosinya, menangis tanpa suara. hanya dihadapan Aisyah, lelaki itu mendadak cengeng seperti ini. wanita itu memberi kehangatan dalam pelukan, bagai seorang ibu yang mengayomi putranya.


Haidar benar-benar merasakan kedamaian saat tenggelam dalam pelukan hangat istrinya.


malam mulai beranjak larut menuju subuh. kesunyian melabur dalam keheningan, menyambut lazuardi fajar yang mulai nampak pada pagi buta itu.


...*******...


🎶 Jangan tinggalkan aku...


kumohon kepadamu...


tak sanggup diri ini...


hidup tanpa dirimu...


🎶 kekasihku... percayalah padaku sayang


aku juga telah bersumpah


tak rela kau disentuh orang...


hanya dirimu permata hatiku...


🎶 jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu...


tak sanggup diri ini hidup tanpa dirimu....


🎶 cintaku hanya satu


sayangku cuma kamu


🎶 hidupku ini untukmu kasih...


🎶 biarpun bidadari yang datang menggodaku


tak sedikitpun goyah imanku


🎶 Aku selalu setia...


semoga Yang Kuasa selalu melimpahkan


rahmat-Nya pada cinta kita berdua...


🎶 jangan tinggalkan aku...


ku mohon kepadamu...


tak sanggup diri ini....

__ADS_1


hidup tanpa dirimu...


^^^(lirik lagu Imam S. Arifin dan Nana Marlena.) []^^^


__ADS_2