The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 44


__ADS_3

Haanish mulai menjalani hari-hari awalnya sebagai seorang katoku (kepala keluarga) sekaligus seorang toryo (kepala klan) yang membawahi semua anggota keluarga/klan Hasegawa. keseharian penampilannya berubah drastis. jika berpenampilan diluaran, ia akan mengenakan pakaian semi kasual. Haanish paling tidak suka berpakaian formal. adapun dalam lingkungan keluarga, ia akan mengenakan pakaian tradisional yang formil sesuai kapasitasnya sebagai seorang pemimpin kaumnya.


hari ini, ia akan menghadiri undangan keluarga kekaisaran dalam acara perjamuan resmi di Istana Tokyo, dihadiri para negarawan, saudagar ternama dan tokoh-tokoh masyarakat dan agama dijepang.


perjalanan dari Kanagawa ke ibukota pemerintahan memakan waktu hanya setengah jam jika diiringi pengawalan khusus petugas kepolisian. mereka tiba dikawasan Chiyoda, memasuki kompleks istana kekaisaran melalui gerbang utama Kenreimon dengan berjalan kaki sebab kendaraan ditinggalkan jauh diarea parkiran.


Haanish dapat melihat dengan jelas para negarawan dan tokoh-tokoh lainnya yang berbincang-bincang satu sama lain. baru sedikit yang mengenalnya. sebagian besarnya hanya keluarga terkenal dikawasan Kanagawa yang diundang dalam ritual inisiasi kepala keluarga itu.


mereka tiba di Aula Pinus. disana telah menanti Kaisar Reiwa yang usianya sudah seabad lebih, mengenakan pakaian resmi sokutai warna kuning emas dengan bordiran timbul gambar burung shuzaku (phoenix). kepalanya termahkotai oleh topi kanmuri. kedua tangannya memegang papan shaku. ia duduk bersila dialtar yang agak tinggi, dikipasi dengan pelan oleh para dayang istana.


disisi Reiwa no Heika, duduk pula Pangeran Asahiko sebagai wali negara, mengenakan pakaian formal, setelan jas hitam. para undangan duduk dalam posisi seiza, terkecuali wakil tokoh islam yang duduk dalam posisi bersila.


protokoler istana menyampaikan berbagaj jenis kegiatan yang akan diikuti oleh para undangan. acara demi acara dilalui secara khidmat. setelah itu dilanjutkan dengan acara makan formal. para dayang muncul membawakan meja pendek dan meletakkannya masing-masing dihadapan undangan. setelah kelompok dayang pertama pergi, muncul kelompok dayang kedua yang menyajikan minuman dan makanan untuk para undangan.


acara makan itu berlangsung santai dan diselingi candaan sarkastis sebagian tokoh-tokoh, namun tidak bagi Haanish. pemuda itu tak menikmati sepenuhnya acara itu. mungkin kesehariannya sebagai orang bebas sangat nampak, tak nyaman berada diantara orang-orang yang kaku.


acara makan itu berakhir dan protokoler menyatakan bahwa dengan berakhirnya kegiatan makan, maka berakhir pula seluruh rangkaian acara perjamuan resmi itu. Kaisar Reiwa diantar dan dipandu oleh beberapa dayang. pasukan khusus bergerak disekeliling beliau melakukan perisai tubuh bahkan saat sang putra mentari itu meninggalkan Aula Pinus.


setelah acara resmi itu berakhir, para tamu beranjak pulang. Haanish baru saja hendak beranjak ketika salah satu pejabat istana menghampirinya.


"Tuan Yoshiaki Hasegawa?" sapa pejabat itu.


"Ya?" balas Haanish.


"Maaf, membuat waktu anda terganggu... tapi anda ditunggu oleh Yang Mulia Pangeran Asahiko..." ujar pejabat istana tersebut.


Haanish celigukan tak kentara mencari keberadaan wali negara itu. pejabat istana itu membungkuk datar. "Beliau Yang Mulia menunggu anda di Dan-tei."


Haanish mengangguk. "Bawa saya kepada beliau." pinta Haanish.


kedua orang itu meninggalkan Aula Pinus, menyusuri ruangan dan tiba di Aula Shishinden. dari sana mereka menuruni genkan dan menyusuri jalanan, tiba di gerbang Jomeimon dan tiba dihalaman bagian dalam istana yang dihiasi kerikil putih. itulah taman Dan-tei.


disana, Pangeran Asahiko dikawal oleh lima orang pengawal berpakaian serba hitam dengan senjata api yang tersiaga penuh. kedatangan pejabat istana yang membawa Haanish, membuat Pangeran Asahiko membalikkan tubuhnya.


"Assaŕamuaŕaikum..." sapa Pangeran Asahiko meniru cara sapa gaya islam. Haanish yang telah berada dihadapan wali negara itu kemudian tersenyum dan membungkuk dalam seraya membalas sapa.


"Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa baraqatuhu..." jawab Haanish dengan panjang. Pangeran itu tersenyum.


"Aku tak pernah mendengar jawaban sepanjang itu." ujar Pangeran Asahiko. "Bisa kau artikan?"


"Dan keselamatan bagi Yang Mulia Pangeran Asahiko, dirahmati oleh Tuhan dan diberkati-Nya senantiasa." jawab Haanish mengartikan kalimat balasan salam itu.


Pangeran Asahiko tersenyum dan mengangguk-angguk senang. "Keselamatan juga atas kamu, Tuan Hasegawa..."


"Terima kasih Yang Mulia." balas Haanish lagi.


Pangeran Asahiko menatap kelima pengawalnya dan pejabat istana itu, mengisyaratkan mereka menjauh dalam jarak aman. keenam orang itu kemudian menjauh dan berdiri tenang namun waskita pada tempatnya. mereka melangkah pelan menyusuri taman sambil diawasi para pengawal.


"Aku tak menyangka, jika katoku keluarga Hasegawa adalah seorang lelaki keturunan." ujar Pangeran Asahiko membuka percakapan. "Katoku sebelumnya, Yang Terhormat mantan Naikaku Sori Daijin, Ryoma Hasegawa tak memiliki garis keturunan murni, begitu juga dengan adiknya Ryuzou. akhirnya, kamulah yang diputuskan untuk memegang jabatan tersebut bertepatan dengan kedatanganmu. suatu kebetulan yang bagus."


"Secara jujur... saya sebenarnya tak berminat atas jabatan ini." jawab Haanish dengan senyum getir, "Saya tidak suka terikat."


"Bagaimana kabar ayahmu, Saburo Koga Mochizuki?" tanya Pangeran Asahiko.


"Beliau sudah wafat..." jawab Haanish.


"Oooo..." gumam Pangeran Asahiko. "Maafkan saya."


"Tak apa-apa Yang Mulia." ujar Haanish tersenyum lagi.


Pangeran Asahiko menarik napas panjang. "Kamu tahu, mengapa kau ku undang kemari?" pancing wali negara itu.


"Kupikir, Tuan Besar Hasegawa sudah mengungkapkan niat saya kepada Baginda." ujar Haanish dengan senyum heran. "Saya hendak memohonkan ijin kepada Yang Mulia, hendak menelisik arsip-arsip yang berkenaan dengan seorang bernama Mamoru Mochizuki."


"Oooo itu..." gumam Pangeran Asahiko. "Tentu saja. silahkan... tapi untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk membuktikan kebenaran masa lalu dan kehormatan keluarga saya." jawab Haanish.


Pangeran Asahiko mengangguk-angguk paham kemudian mendehem kecil dan memulai lagi percakapan.


"Kamu tentu tahu konsekuensi menjalankan peran sebagai katoku sekaligus seorang toryo." pancing Pangeran Asahiko.


"Tinggal disini selama-lamanya." tebak Haanish.


Pangeran Asahiko tersenyum. "Kau keberatan?"


Haanish membalas dengan senyuman. "Itu tak masalah. aku akan segera mengurus administrasi pengalihan warga negara, tepat setelah aku menikah." jawabnya.


"Kapan?" todong Pangeran Asahiko.


"Sedikit lagi. tak lama." jawab Haanish. "Mohon Baginda sabar menunggu."


"Baiklah..." jawab Pangeran Asahiko.


keduanya tanpa sadar telah berada disisi halaman lain. Pangeran Asahiko mendesah panjang. "Aaaahhh... sudah sejak lama aku tak menyaksikan sebuah kontes." ujar wali negara itu kemudian menatap Haanish.


"Maukah kau menyajikan suatu kontes?" pinta Pangeran Asahiko.


Haanish sejenak menggaruk kepalanya yang sedikit terasa gatal kemudian menatap wali negara itu.


"Kontes apa itu Yang Mulia?" tanya Haanish pura-pura tak tahu.


Pangeran Asahiko tertawa pelan. "Kau sudah tahu..." ujarnya.


seakan sebuah perintah, tiba-tiba meloncat sosok dari atap istana. Haanish memperhatikan lelaki itu. ia seorang pria dengan penampilan kuno, mengenakan yukata dan hakama. atasannya dilapisi haori. sepasang pedang terselip disabuknya. rambut lelaki itu diikat sanggul gaya chonmage.


"Perkenalkan, guru anggar istana. Danjo Ittosai Sakamoto." ujar Pangeran Asahiko memperkenalkan lelaki itu. Haanish membungkuk datar.


"Nama saya sebenarnya, Haanish Hermawan Lasantu... tapi anda boleh memanggil saya, Yoshiaki Koga Hasegawa." balas Haanish memperkenalkan dirinya.


Danjo menatap kepada Pangeran Asahiko dengan heran. wali negara itu tersenyum. "Toryo klan Hasegawa adalah seorang lelaki keturunan Jepang-Indonesia. marga ayahnya adalah Lasantu, sedang marga ibunya adalah Hasegawa."


"Bagus... kalau begitu kontes bisa dimulai." ujar Pangeran Asahiko kemudian menatap pejabat istana. "Ambilkan dua bilah bokuto di dojo." perintahnya.


"Seorang bushi sejati tidak akan menggunakan pedang kayu dalam sebuah kontes, Yang Mulia." sela Danjo kemudian menatap Haanish. "Bukankah begitu, Tuan Hasegawa?"


Haanish tersenyum. "Saya nggak kepikiran jika akan melakukan kontes disini. itulah sebabnya, saya tak membawa Si Penebas Angin." ujarnya. "Apakah kontes ini boleh diundurkan?"


Pangeran Asahiko tertawa. "Wah, sayang sekali. padahal aku sudah sangat mengharapkan bisa melihat gaya Koga Koryu Kenjutsu yang langka itu."


"Ah, Tuan Hasegawa... kau sudah membuat wali negara kecewa." cela Danjo Sakamoto.


Haanish menghela napas. "Yah, apa boleh buat."


Pangeran Asahiko tersenyum. "Ah, gampang." ujarnya kemudian memanggil pejabat istana. lelaki berpakaian formal itu menghadap. wali negara itu memberi perintah.


"Sampaikan kepada pihak Istana Odawara. Tuan Hasegawa hendak melakukan kontes resmi dengan pelatih anggar istana. bawakan pedang milik beliau ke Istana Tokyo, sekarang ini juga!" seru Pangeran Asahiko.


pejabat istana itu membungkuk lalu berbalik dan berlari kecil meninggalkan taman. Pangeran Asahiko kemudian berbalik menatap Haanish. ia tertawa.


"Kamu nggak bisa lari lagi." olok Pangeran Asahiko membuat Haanish menggaruk lagi kepalanya yang tak gatal.


...******...


Inayah duduk di gazebo kebun bersama Marissa. mereka menikmati semangka hasil panen minggu ini.


"Bagaimana rasanya?" tanya Inayah.


"Rancak banaa, Bunda." jawab Marissa disela menikmati buah semangka tersebut. Inayah mengangguk-angguk.


"Bunda senang, kamu kerasan disini." ujar Inayah.

__ADS_1


"Bukan cuma kerasan, Bunda... tapi denai memang ingin tinggal disini selamanya." jawab Marissa.


"Karena lingkungannya... atau karena Haanish?" goda Inayah membuat Marissa langsung menunduk tersipu. kelakuan anak itu membuat Inayah terkekeh pelan. keduanya kembali menikmati semangka.


"Issha..." panggil Inayah.


Marissa mengangkat wajah menatap wanita parobaya itu. Inayah bicara sambil menikmati semangka.


"Bagaimana pendapatmu jika seandainya kau diperintahkan tinggal di jepang bersama Haanish, selama-lamanya?" pancing Inayah.


Marissa mengangkat wajah menatap hamparan dirgantara biru yang dihias kapas awan putih bersemu hitam. Inayah menatap wajah gadis itu. tak lama kemudian gadis itu tersenyum dan menutup mata.


"Selama Uda Haanish disisi denai. kemanapun, dan tinggal dimanapun, itu bukan sebuah masalah." jawab Marissa.


Inayah mengangguk-angguk lagi. "Bunda rasa... kalian harus segera dipersatukan." gumamnya.


"Apakah... Uda Haanish memilih tinggal di jepang, selamanya?" tebak Marissa.


"Karena suatu alasan, bukan atas dasar keinginannya." jawab Inayah.


"Pasti karena ingin move on dari Denada." tebak Marissa lagi.


Inayah menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. "Nggak usah berprasangka yang bukan-bukan." tegurnya. ia menatap Marissa.


"Sore ini, kita akan ke Padang. Bunda akan mengadakan lamaran untuk kamu. setelah itu, kau akan dipingit disana." ujar Inayah lalu mencubit lembut hidung Marissa yang mancung. "Jangan coba-coba lari lagi, ya?"


Marissa kembali tersipu malu. Inayah tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini, anak nakal yang bikin hati Bunda melekat. tak ada yang bisa menenangkan Haanish, kecuali kamu..."


...******...


Istana Edo, pukul 15.00 Waktu Standar Jepang.



Haanish berdiri berhadapan. kemejanya dibuka setengahnya memperlihatkan dadanya yang bidang. kedua lengan kemeja digulung. Pangeran Asahiko benar-benar dapat melihat sosok Saburo Koga Mochizuki dalam diri pemuda tersebut. Haanish menggenggam Si Penebas Angin yang bilahnya terarah ke bawah.


dihadapannya berdiri Danjo Ittosai Sakamoto, seorang praktisi seni pedang perguruan Itto, berasal dari keluarga Satsuma di pulau Kyushu. ia menggenggam pedang pula dengan posisi gaya hasso, gaya sang Fudo Myo O.


disatu sisi berdiri sebuah panggung, dimana Pangeran Asahiko duduk didampingi pejabat istana yang berdiri menyaksikan kontes kendo dengan menggunakan pedang sungguhan. para pengawal membentuk barisan disisi luar panggung. disisi panggung utama, duduk Ryoma Hasegawa bersama Ryuzou Hasegawa. juga beberapa negarawan yang tertarik menonton kontes tersebut.


Haanish menutup matanya sejenak dan kemudian membukanya. kedua matanya menyala memendarkan cahaya kebiru-biruan yang berkilat-kilat pertanda ia telah memasang jurus Karasu Tengu no Shisen dikedua dria penglihatannya itu.


Haanish kemudian menggunakan gaya gatotsu yang digunakan mendiang Hajime Saito, seorang legenda shinsengumi yang terkenal dalam sejarah kuno jepang. mata pedangnya terarah ke depan.


HEEEAAAAAA...


diiringi pekikan melepaskan kakegoe, kedua petarung itu maju. Danjo mengayunkan pedangnya sedang Haanish maku menghujamkan Si Penebas Angin ketubuh lawannya. sontak Danjo menampar pedang milik Haanish.


pemuda itu tak mau kalah, memutar lalu mengayunkan Si Penebas Angin mengincar kepala milik Danjo.


TRANGGGGGGGGGG...


Danjo mengibas lagi pedangnya ke atas menangkis ayunan pedang milik Haanish. Danjo memutar pedangnya lalu kembali mengayun mengincar leher dan dada Haanish. sontak Haanish langsung mundur selangkah dan kembali bersiaga. ayunan pedang itu hanya mengenai udara kosong.


Haanish menatap Danjo dan tersenyum. ia menyilangkan Si Penebas Angin didepan dada lalu maju lagi menyerang, menebas kedepan dari arah atas. Danjo maju mengayunkan pedangnya ke atas hendak menampar pedang lawannya.


namun itu ternyata hanya umpan saja. Haanish tiba-tiba menarik Si Penebas Angin lalu memutar lagi dan mengayunkan pedang itu dari bawah keatas berkali-kali mirip putaran angin beliung. itu teknik Arashi no kiru. salah satu teknik dalam seni pedang aliran Koga.


Danjo berhasil menangkis serangan itu, namun tubuhnya terpental akibat daya dorong dari teknik yang mengandalkan unsur angin itu. lelaki itu bersalto diudara dan menegakkan tubuhnya dalam posisi mengambang. Haanish melompat dan mengejar lelaki itu.


ia megibas-ngibaskan Si Penebas Angin meniru teknik tebasan tujuh penjuru angin milik seorang pembantai terkenal jaman Bakumatsu, Gensai Kawakami.


Danjo terkejut. ia tak menyangka pemuda itu mampu meniru teknik-teknik tingkat tinggi para pembantai dari partai Ishin tersebut. barulah sang praktisi memahami bahwa intelejensia sang lawan mungkin berada dikisaran dua tingkat diatasnya.


TRANGGGG TRANGGG TRANGGG...

__ADS_1


keduanya bertarung diudara. bunyi logam beradu terdengar berkali-kali diudara membentuk ritme indah sebuah ketukan nada. Pangeran Asahiko tersenyum-senyum.


dua orang grandmaster, jika bertarung pastilah terlihat indah... entah koreografinya, entah ketukan nada ritmis yang keluar dari benturan logam pedang... inilah yang kurindukan. []


__ADS_2