
Denada berdiri didepan gerbang rumahnya sendiri. dihadapannya, Haanish juga berdiri. keduanya saling menggenggam tangan.
"Aku harap, kamu nggak akan kecewa denganku." ujar Haanish dengan senyum getir. "Aku memang orang yang angin-anginan ya?"
Denada tersenyum dan menggeleng. "Nggak. bagiku, kau adalah pangeranku... calon suamiku."
Haanish tertawa. "Aku juga berharap begitu. aku ingin mengikis setimen anti tionghoa yang sudah terlalu mengakar di negeri ini. bagiku, kau bukan cina. kau bukan apa-apa. bagiku... kau adalah warga negara indonesia yang memiliki hak dan kewajiban, sama sepertiku."
Denada tertawa. "Ada baiknya kau jadi aleg propinsi atau orang-orang di Senayan II sana."
"Memangnya kenapa?" pancing Haanish dengan senyum menggoda. "Apa karena aku pandai orasi, begitu?"
"Nasionalisme dalam dirimu itu mengakar kuat. kendati kutahu, kau nggak benar-benar seorang pribumi. kau warga keturunan juga sepertiku." ujar Denada.
"Aku tahu, meski almarhumah Oma dan Mamaku itu dari jepang, almarhum Papa juga orang keturunan sama sepertiku dan Chouji. tapi Mama selalu menekankan nilai-nilai patriotisme kepada kami. itu adalah ajaran yang selalu di ajarkan almarhum Bapu dan Opa kepadanya." ujar Haanish. "Sebenarnya soal suku, darah, itu bukan sebuah masalah Sebenarnya. yang penting, selama mereka atau kita mengaku bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia dan berbahasa Indonesia, maka kita adalah warga negara Indonesia."
"Diskriminasi sedemikian mengakar sejak jaman Orde Baru hingga sekarang. dan dijaman yang sudah memasuki era perdagangan dunia ini, Indonesia masih saja terjebak dalam isu SARA." keluh Denada.
"Kamu nggak usah pikirkan itu." ujar Haanish, "Biarlah itu menjadi pemikiranku. dengan bersatunya kita, sekat itu akan hilang. kamu ingat novel klasik karya Chin Yong?"
Denada mengerling sejenak keatas lalu menebak. "Pendekar Pemanah Rajawali?"
Haanish menggeleng lalu tersenyum, "Kembalinya Pendekar Rajawali." jawabnya.
"Tentang Yo Ko dan Siauw Liong Nie?" tebak Denada.
"Kitalah mereka itu." ujar Haanish. "Kita akan berupaya menghapus sekat tersebut."
"Tapi kamu nggak buntung tangan kanannya." goda Denada.
"Aku berani membuntungkan tanganku, kalau kau mau." pancing Haanish.
"Nggak ah, aku nggak mau." tolak Denada.
panggilan seorang lelaki dalam bahasa cina, membuat Denada menoleh. lelaki itu sudah tua dan memegang tongkat namun tatapannya tajam. dia bicara dalam bahasa cina sedang suaranya menggelegar.
Denada menyahut dalam bahasa cina pula. setelah itu ia menatap Haanish.
"Sudah, kamu pulang saja. aku sudah dipanggil ayah." ujar Denada dengan senyum.
"Baiklah... aku cabut dulu... sayangku." ujar Haanish hendak mendekat mencium Denada, namun wanita itu ternyata mundur selangkah dan memberi isyarat pada Haanish. pemuda itu membulatkan bibir dan melambaikan tangannya saja pada gadis itu dengan wajah cemberut.
Denada tertawa membalas lambaian tangan kekasihnya. Haanish pun melambaikan tangan kearah lelaki tua itu sambil tersenyum lebar memamerkan barisan giginya. namun responnya justru membuang muka dan menggerutu dalam bahasa cina. Haanish berbalik menaiki sepeda motor gede dan menghidupkan mesinnya. pemuda itu memakai helm dan menekan persneling lalu melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman wanita itu.
lelaki tua itu cepat melangkah mendatangi Denada yang baru saja berbalik dan melangkah masuk.
"Kamu kenapa masih saja bergaul dengan pemuda jepang itu?! kamu tahu bahwa dendam keluarga kita tak surut padanya?!" omel lelaki itu dalam bahasa cina logat kanton.
"Memangnya dia yang bertanggung jawab pada dosa leluhurnya? kami ini hanya anak-anak yang tak tahu dosa apa yang pernah dilakukan oleh leluhur kami. kenapa selalu saja mengungkit itu?!" balas Denada tak kalah sengit dalam bahasa yang sama.
"Ingat, Annchi..." tekan lelaki tua itu menyebut nama tionghoa dari Denada, "Sampai saat ini, Peristiwa Nanking itu masih membekas dikeluarga kita. memang kita tidak tahu siapa yang membunuh leluhurmu, tapi bisa jadi leluhur anak itu juga berada disana." omel lelaki tua itu.
"Paman Fung..." ujar Denada.
"Dan ayahmu sudah mewanti-wanti. sekali lagi dia melihatmu bersama pemuda itu... kau akan menyesalinya nanti Annchi." ujar lelaki itu kemudian mendengus sejenak dan berbalik meninggalkan Denada yang hanya bisa membanting kakinya sekali ditanah, kesal dengan kekerasan hati pamannya."
...*****...
Haanish memarkir sepeda motornya di parkiran lalu melangkah santai menyusuri pekarangan kantor hingga tanpa sengaja ia menyenggol seorang perempuan berkaca mata hitam.
"Maaf..." ujar Haanish dengan senyum.
tapi kelihatannya, perempuan itu tidak terima. ia melotot kearah Haanish. "Hei! kalau jalan itu pake mata!" hardiknya.
"Maafkan saya." sekali lagi Haanish meminta maaf lalu membungkuk 30 derajat. perempuan itu mendengus lalu pergi sambil mengomel.
"Huh, memang begitu sifat anak orang kaya. mentang-mentang ber-uang, tak menghargai orang lain." omel perempuan itu.
Haanish panas juga mendengarnya. rahangnya menggembung lalu pemuda itu berbalik mengejar perempuan itu lalu menghadangnya.
"Ulangi perkataan anda itu!" tantang Haanish.
"Apa?! mau berkelahi kau?" hardik perempuan itu lagi.
"Eh yang mau ajak kau berkelahi siapa?!" tanya Haanish dengan kesal. "Aku hanya ingin kamu mengklarifikasi pernyataan kamu barusan. bukankah tadi aku sudah minta maaf? dua kali lagi. pake bungkukan segala. kalau kamu nggak terima ya it's okey, itu hakmu. tapi jangan sembarangan bilang kalau aku tak menghargai kamu."
__ADS_1
"Yang bilang kau tak menghargai orang siapa?" tangkis wanita berkaca mata hitam itu.
"Kamu!" tukas Haanish.
"Ha? aku? memang aku menyebut namamu? kenal saja belum kok. dasar sok akrab!" balas wanita berkaca mata hitam itu.
"Kau!!!" hardik Haanish yang masih berusaha menahan emosinya.
"Apa?! mau ngajak baku hantam?! aku layani!" ujar perempuan itu menantang.
aksinya menarik perhatian beberapa orang dan mereka berkumpul menyimak pertengkaran itu, bahkan ada yang mendokumentasikannya. Haanish memandang sekeliling. ini tak menguntungkan baginya. lagipula, Haanish malu jika bertengkar dengan wanita.
Haanish menatap perempuan itu. "Hari ini, aku biarkan kamu pergi. aku tak mau berurusan denganmu." ujar Haanish lalu berbalik meninggalkan wanita berkaca mata hitam itu.
"Lelaki loyo!" ejek wanita itu.
Haanish mengencangkan rahangnya dan terus melangkah sambil menebalkan telinga. ia menaiki beranda dan selasar lalu masuk kedalam kantor Buana Asparaga Tbk. sedangkan wanita berkaca mata hitam itu mendengus kesal lalu berbalik melangkah meninggalkan tempat itu diikuti tatap pandang penonton.
Haanish menuju meja resepsionis. semua orang sudah tahu siapa dirinya. mereka memujanya karena paras tampan dan sikap santainya. berbeda dengan Haidar yang selalu serius.
Haanish tiba di meja resepsionis. seorang karyawati menyapanya. "Halo Kak Haanish..." sapa karyawati itu dengan sopan namun mengandung nada kekaguman.
"Halo cantik." balas Haanish kemudian mencolek dagu karyawati itu membuatnya tersipu malu. "Ines..." sebut Haanish melihat papan nama yang tersemat diseragam karyawati itu. "Aku ada janji dengan Pak Haidar. katakan pada beliau aku sudah datang." pinta Haanish.
"Tunggu sebentar Kak." ujar Ines lalu menekan tombol. tak lama terdengar suara.
🔊"Ya, ada apa?" itu suara Haidar. terdengar jelas.
Ines baru saja hendak menjawab ketika Haanish tiba-tiba merebut pelantang.
🔊 "Wey Bro... aku sudah disini. kau yang kemari, atau aku yang kesana?" tanya Haanish.
🔊 "Ke ruanganku saja." pinta Haidar.
🔊 "Oke..." jawab Haanish lalu menatap Ines dan mencolek dagunya. "Kakak pergi ya?" ujarnya pamit sambil mengedipkan mata. Ines tersipu lagi.
Haanish melangkah menuju lift khusus pejabat. ia menekannya dan pintu tersebut terbuka. Haanish masuk dan lift itu membawanya ke lantai tiga. pemuda itu melangkah dengan santai dan tiba diruangan HRD.
Haidar memang bertugas di divisi itu. Haanish mengetuk sejenak lalu mendorong pintu tersebut. Haidar sudah menunggunya.
"Aku mau memintamu bergabung." pinta Haidar dengan datar.
"Wah, sorry man, aku nggak minat." tolak Haanish, "Kamu tahu kan? aku nggak suka terikat."
"Aku memang nggak akan mengikatmu. kamu bisa berpetualang kemana saja meski kau memegang jabatan itu." ujar Haidar mengatur beberapa berkas dan menepikannya lalu menatap lagi Haanish. "Bagaimana? kau bersedia?"
"Lalu? gajiku bagaimana?" tanya Haanish dengan senyum cengiran.
"Kamu kan punya stock option dalam perusahaan. nggak perlu gaji kamu. lagian dikartu kamu itu nggak akan kehabisan saldo." ujar Haidar dengan alis bertaut.
"Alaaah... dasar pelit." umpat Haanish. "Kamu tahu nggak? orang pelit tuh neraka ke lima, tahu nggak?" ancam pemuda itu menakut-nakuti.
"Puih! kamu bicara neraka? jangan bikin aku tertawa Eiji." balas Haidar bangkit dan memajukan tubuhnya kearah Haanish yang kemudian mengambil kursi lalu duduk seenaknya. "Bagaimana dengan kamu yang sudah melakukan perzinahan itu?! tingkatan neraka ke berapa kami, hah?!"
"Wweyyysss... sensi sangat jadi kakak." olok Haanish kemudian tertawa. setelah itu ia mendehem pelan dan menatap Haidat. "Katakan, aku akan jadi apa disini?"
"Kau pimpin divisi Tangan Ketiga." kata Haidar. "Kompetensimu sangat mendukung hal itu. kamu kan.. apa? Storm Shadow?" ungkit Haidar dengan senyum mengolok.
"Memangnya aku kelompok Cobra, apa?! sembarangan bicara kau!" umpat Haanish.
"Kau kujuluki Snake Eye, nggak mau. alasannya kau nggak bisu seperti karakter itu." kilah Haidar.
"Sudahlah..." tepis Haanish. "Apa tugas divisi Tangan Ketiga?" tanya pemuda itu.
"Kamu nggak tahu?" tanya Haidar dengan heran.
Haanish menghela napas lalu menatap Haidar. "Chouji, kau tahu kan? aku sebenarnya nggak suka terlibat dalam urusan Buana Asparaga. aku orang bebas. aku nggak suka terikat. kalau kau, memang iya. sebab kau adalah putra mahkota yang..."
"Berhenti menyebutku putra mahkota, Eiji." sela Haidar dengan ketus sembari menudingkam telunjuknya kearah Haanish.
Haanish tersenyum. pemuda itu bangkit dan melangkah mondar-mandir dihadapan Haidar yang duduk tegak dikubikelnya.
"Sekuat apa engkau menyangkal, semua sudah tahu bahwa kaulah pewaris Buana Asparaga Tbk, bukan aku." ujar Haanish dengan senyum.
"Kalau kau berminat menjadi Presdir Buana Asparaga Tbk, aku akan dengan senang hati mendukungmu!" sela Haidar.
__ADS_1
Haanish sontak menggeleng sambil menggoyang telunjuknya. "Wohohohoooo... jangan seret aku dalam rutinitas yang membosankan Chouji." tolaknya lalu duduk kembali. "Sudah kukatakan, aku manusia bebas. aku tak mau terikat oleh apapun."
"Bahkan oleh pernikahan?" cetus Haidar mengingatkan."Ingat Eiji, hubunganmu dengan Denada sudah terlalu jauh."
"Eh, kita bicara tentang perusahaan atau apa sih? kok malah membelok ke urusan aku dan Denada?" sela Haanish dengan ketus. "Yang benar mana nih? urusan divisi Tangan Ketiga atau hubungan aku dengan Denada?!"
Haidar terkesiap. "Maaf." ujarnya kemudian duduk lagi dan menarik sejenak kerahnya, melonggarkannya memberi udara yang lega pada lehernya yang dirasakannya tercekik.
"Apa tugas divisi Tangan Ketiga?" tanya Haanish lagi.
"Intelijen bisnis. mengumpulkan informasi tentang lawan dan kawan bisnis dari Buana Asparaga Tbk. kau sanggup kan?" pancing Haidar.
Haanish tertawa, "Kalau itu sih, gampang." sedetik kemudian wajah pemuda itu kembali serius. "Tapi aku nggak terikat, kan? aku nggak perlu masuk kantor, kan?"
"Kamu tahu tentang Sat Intelkam polisi, kan?" pancing Haidar.
Haanish mengangguk. "Oke, aku paham. artiannya aku hanya bergerak ketika diperintahkan."
"Nah, kamu tahu." cetus Haidar. "Bagaimana? kamu mau menjadi Direktur Tangan Ketiga?"
"Oke deh." ujar Haanish.
"Bagus." jawab Haidar kemudian tersenyum.
"Adem benar hatiku lihat kau senyum." olok Haanish lagi membuat Haidar menghilangkan senyumnya. "Lho? kok serius lagi? aaah... payah kau. jadi manekin saja kau..." ujar Haanish kemudian bangkit dan melangkah menuju pintu. sebelum keluar, ia menatap lagi Haidar.
"Tante Dewi sudah tahu hal ini?" tanya Haanish.
"Aku yang mengusulkannya." kata Haidar, "Tante menyanggupinya."
Haanish mengangguk-angguk lalu kembali menarik daun pintu dan hendak keluar.
"Hei, mau kemana?!" tanya Haidar.
"Lho? mau pulang." jawab Haanish, "Ngapain aku lama-lama disini? bisa mati bosan aku disini. udah ah, yooo..." seru Haanish pamit meninggalkan Haidar yang ebali sendirian di ruangan itu.
...*****...
Callista terpekik mendengar penuturan dari Mahreen. mata lentik gadis itu membelalak.
"Yang benar nih? kamu dikasih tinggal disana?" seru Callista dengan tatapan tak percaya.
Mahreen tersenyum dan mengangguk.
"Wah, ini berita gembira. apakah Haidar dan Haanish sudah tahu?" tanya Callista.
"Aku belum memberitahu mereka." jawab Mahreen.
"Aku akan memberitahu mereka." ujar Callista meraih gawainya dan menekan tombol pengaktif.
"Jangan..." cegah Mahreen.
"Lho? kenapa? mereka harus tahu." ujar Callista. "Mereka adalah anggota keluarga Lasantu yang paling wajib diberitahu saat Nyonya Besar memutuskan sesuatu."
"Kenapa kamu memanggilnya Mama? aku juga disuruh memanggilnya dengan sebutan Mama." selidik Mahreen penuh minat.
"Sejak ditinggal Om Sandiaga, Nyonya Besar itu sangat kesepian. kedua putranya sudah mendiami properti warisan keluarga. Haidar tinggal di Puri Manggis Residence sedang Haanish mendiami kediaman Lasantu. jadi itulah alasannya memintamu tinggal bersama." jawab Callista.
"Tapi kan Kak Haidar disuruh pindah ke kediaman Lasantu." ujar Mahreen.
"Untuk mengawasi Kak Eiji. soalnya dia itu playboy, lelaki flamboyan yang banyak digandrungi cewek." jawab Callista.
"Kamu nggak tertarik sama dia?" pancing Mahreen.
"Apa? tertarik sama Kak Eiji? aduh, kayaknya matahari akan terbit dari barat kalau aku jadian sama dia." tukas Callista.
Mahreen tertawa. Callista melanjutkan. "Kami itu besar bersama. jadi sudah tahu watak masing-masing. kedua lelaki itu kuanggap sama dengan Rakandaku."
Mahreen mengangguk-angguk. Callista kemudian menekan tombol satunya dan muncul layar holografis menampilkan wajah Haidar.
"Eh, kenapa kau menghubunginya?" pekik Mahreen dengan malu.
"Sudah diam." sela Callista.
📱"Ada apa Callista?" tanya Haidar.
__ADS_1
📱"Mahreen mulai detik ini, tinggal bersama Nyonya Besar di Kediaman Ali." ujar Callista membuat Haidar serentak terkejut.[]