The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 13


__ADS_3

Denada benar-benar dilanda keterkejutan saat membuka-buka lembar demi lembar dokumen pemberian Haanish. lebih terkejut ia menyadari potret Midori yang begitu mirip dengan dirinya. begitu identik. apakah ini yang disebut dengan reinkarnasi?



Denada membuka-buka dokumen itu kembali. ia kemudian menemukan sebuah akta nikah, kartu keluarga dan daftar silsilah keluarga Mochizuki dari generasi ke generasi hingga kepada Haidar dan Haanish.


bahkan dalam silsilah itu, Haanish menggunakan nama jepangnya, Eiji Koga Mochizuki, bukan Yoshiaki Koga Hasegawa maupun Haanish Hermawan Lasantu. bahkan Haidar menggunakan nama jepangnya, Chouji Mochizuki.


disebutkan dalam daftar itu disebutkan Mamoru Mochizuki (Mamoru Genkuro) menikahi Midori Okamoto (Jiao Wie) melahirkan Tasuku Genkuro. Tasuku Genkuro memiliki dua istri, yaitu Yuri Sanada dan Michiko Ban. Yuri Sanada melahirkan Tomomori Genkuro dan Momoshiki Genkuro, sedangkan Michiko Ban melahirkan Kameie Saburo Mochizuki.


Kameie menikahi Fitri melahirkan Chiyome dan Iechika Koga. Chiyome menikahi Kenzie Ardiansyah Lasantu memiliki dua orang anak yaitu Saburo Koga (Sandiaga Hermawan) dan Airina Yuki.


Saburo Koga menikahi Inayah Amalia Ali, dan Rosemary Hasegawa. sedangkan Airina Yuki dinikahi oleh Akram Williams.


pernikahan Saburo Koga dengan Inayah melahirkan Chouji / Chounan Mochizuki (Haidar Ali) sedang pernikahan Saburo Koga dengan Rosemary melahirkan Eiji Koga Mochizuki (Yoshiaki Koga Hasegawa/Haanish Hermawan).


adapun Airina Yuki memiliki tiga orang putri yaitu Marina Williams, Marinka Williams dan Marissa Williams.


(untuk lebih jelas melihat silsilah keluarga Lasantu-Mochizuki, silahkan membaca novel Lazuardi Cinta dan Flamboyant)


Denada meletakkan dokumen itu. ia menengadah menatap jendela. benaknya baru saja tercerahkan bahwa ternyata ia dan Haanish masih memiliki kekerabatan meskipun jauh. Jiao Wie memang bukan kepala keluarga, namun ia juga seorang anggota keluarga Wie yang dianggap tewas dalam peristiwa pembantaian Nanjing. nyatanya keterangan keluarga bisa dipastikan meragukan.


siapa yang memberitahu kematian Jiao kepada Wie Po Thian, kepala keluarga Wie waktu itu? apakah pelapor itu memang benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri, Jiao dibunuh oleh tentara jepang, atau hanya berdasarkan spekulasi sebab dalam pembantaian Nanjing itu, jumlah orang tionghoa yang dibunuh mencapai tiga ratusan orang?


lagi pula mayat-mayat yang diangkut dalam kereta atau gerobak itu adalah mayat-mayat yang buntung kepalanya. tak ada kepala mereka disana. pelapor hanya memberitahu sebab ia melihat salah satu mayat mengenakan pakaian yang dikenakan terakhir kali oleh Jiao Wie.


apakah Mamoru menyamarkan kematian Jiao dan menyelundupkannya ke jepang setelah dia dipindahkan dari Kwantung ke Pulau Sulawesi di Indonesia? wajah sudah pasti membuktikan karena foto itu adalah cetakan tahun 1949, tepat setelah semua tentara jepang dipulangkan oleh Sekutu dari tanah-tanah jajahannya.


Denada takut memberikan dokumen ini kepada Ayahnya, Wie Fen Ying (Johanes) sebab bisa jadi, sang ayah akan menyangkal dengan keras tentang kebenaran itu. warga-warga tionghoa pasti masih memiliki rasa sentimen terhadap jepang disebabkan oleh penyangkalan pemerintah jepang atas peristiwa Nanjing itu, begitu juga dengan Korea. wanita itu kuatir, penyangkalan akan dibuktikan dengan penyerangan secara terang-terangan atau sembunyi oleh keluarga Wie dengan memanfaatkan koneksinya dengan keluarga Tanuwirdja yang dekat dengan Sembilan Naga.


Denada hanya bisa berharap kebenaran ini akan bisa merubah cara pandang Wie Fen Ying untuk menerima keluarga Lasantu sebagai kerabat jauh mereka.


Denada menghela napas lalu menghembuskan napasnya pelan.


...*******...


Haidar memberhentikan Tuatara V33K didepan beranda rumah kediaman keluarga Ali. lelaki itu keluar dari mobil dan melangkah menaiki beranda rumah. ia membuka pintu dan melangkah santai menyeberangi ruang tamu hingga tiba di ruang keluarga.


lelaki itu duduk di sofa sudut dekat lemari-lemari arsip dan perpustakaan milik Inayah. ia menatap ke nakas dan menemukan sebuah buku agenda tebal bersampul coklat. tangan Haidar terulur hendak meraih buku itu dan mulai membukanya saat Inayah muncul dari koridor.


"Nak, sudah lama?" sapa Inayah.


Haidar tidak jadi membuka buku tersebut dan meletakkannya di nakas kembali lalu bangkit dari sofa menyambut ibunya.


"Baru tiba, Mama." jawab Haidar.


"Kau tak pulang bersama kami waktu itu. apa yang merisaukan kamu?" tanya Inayah.


"Persoalan perusahaan Mama. ada beberapa karyawan menyampaikan keluhan..." kilah Haidar menutupi alasan kepergiannya.


"Keluhan apa? apakah ada beberapa kebijakan Buana Asparaga yang sudah tidak relevan menurut mereka?" tanya Inayah lagi.


Haidar melangkah dan menggandeng tangan ibunya. keduanya melangkah lalu mulai menaiki anak tangga.


"Bukan keluhan yang berarti, Mama." kilah Haidar lagi, "Saya bisa mengatasinya."


"Kuharap begitu. sebab sebentar lagi kau wisuda dan siap menggantikan posisi Dewinta sebagai presdir. Buana Asparaga akan dikendalikan lagi secara penuh oleh keturunan langsung Adnan Lasantu." ujar Inayah.


"Aku tak akan mengecewakan harapan Mama." ujar Haidar.

__ADS_1


Inayah mengangguk-angguk. keduanya tiba didepan kamar Mahreen. Haidar membuka pintu. keduanya masuk kedalam kamar. dipembaringan, Mahreen masih terbujur pingsan. dua orang suster sementara memantau perkembangan gadis itu melalui peralatan yang terpasang ditubuhnya.


"Apakah belum sadar juga Ma?" desah Haidar dengan lesu. tatapannya begitu iba melihat perempuan yang dicintainya belum terbangun dari kondisi subsconsiusnya.


"Kita hanya bisa berdoa nak." jawab Inayah. "Kematian Jabir, Sarah dan Miriam membuat goncangan keras dalam diri gadis itu. bayangkan, ia mengetahuinya dari mulut orang lain. ia tak mengetahui beritanya selama ini hingga akhirnya tamu bernama Mikail itu membeberkan kejadian itu secara tak sengaja dalam pertemuannya dengan kalian. itu dapat membuat syok. jika Mahreen lemah, peristiwa itu akan menyeretnya dalam dua kondisi fatal, gila atau wafat."


Haidar mengencangkan rahangnya. "Aku bersumpah, akan membunuh pembantai keluarga Nurmagonegov. ia pasti akan kutemukan, atau ia yang akan menemukanku." geram lelaki itu.


Inayah mengangguk-angguk. "Insya Allah..."


Inayah memegang bahu putranya. "Mari kita keluar. kasihan Mahreen. udara disini nanti sumpek." ajak wanita parobaya itu.


Haidar mengangguk lalu melangkah mendahului menuju pintu dan membukanya, mempersilahkan sang ibu keluar dari kamar dan setelah itu ia menyusul sambil tak lupa menutup pintu kembali.


keduanya melangkah menyusuri lantai dua dan menuruni tangga. diruang keluarga, keduanya bersua dengan Haanish dan Marissa.


Inayah menatap keduanya yang belepotan debu. "Astagfirullah." serunya, "Kalian dari mana saja, sampai belepotan debu seperti ini?" pekik Inayah.


Haanish dan Marissa kompak tertawa. Haanish menjawab. "Lagi berburu tupai, Ma." jawab Haanish.


"Ah, mana ada tupai disini? kebun kita nggak gampang disusupi hewan liar." elak Inayah.


"Berburu tupai betina, Maaa..." ujar Haanish lagi mengerling ke arah Marissa yang cengar-cengir saja. Inayah sejenak tertegun lalu tertawa lagi.


"Ada yang lucu ya?" sela Haidar.


"Wah, benar-benar nih." ujar Haanish menuding-nudingkan telunjuknya sambil tertawa kearah Haidar. "Nih orang kelihatannya dangkal benar sifat humornya nih. ESQ nya kayaknya dibawah 25 nih." olok Haanish.


"Coba ulangi sekali lagi? ku pingsankan kamu didepan istrimu." ancam Haidar.


sontak Marissa berang. "Hah! coba kalau berani!" tantangnya. sejak pertemuan pertama, Marissa memang sudah nggak suka dengan perangai putra pertama keluarga Lasantu itu. ia merasakan Haidar begitu arogan dan dingin bagaikan es.


Marissa mengencangkan rahangnya dan langsung menatap Inayah. "Mama... denai minta ijin!" serunya sambil bercakak pinggang.


"Minta ijin untuk apa, nak?" tanya Inayah dengan senyum.


"Denai minta ijin nak hendak gasak muka kucing besar ini, Ma." jawab Marissa menudingkan telunjuknya kepada Haidar.


sontak Haidar meradang. "Apa? kau bilang aku, KUCING BESAR??!!!" sergah lelaki itu. "Benar-benar akan ku..." Haidar tak mampu melanjutkan kalimatnya. lelaki itu muntab. tubuhnya gemetar. gejolak darahnya menggelegak.


Haanish langsung maju memperisai istrinya. "Wowohohohoho... sabar Cess... jangan emosi. kamu memang singa yang perkasa, tapi dinginkan hatimu... kecuali kalau kau mau digasak Bibi Airina. kau mau?!"


"Arrrggggh..." raung Haidar menjambak kepalanya. "Rasanya aku ingin mencabik-cabik kalian berdua!" serunya. suara lelaki itu berubah menjadi besar dan berat. "Tapi.... aku nggak bisaaaa.... Raaarrrggghhh..."


"Tunggu Chouji!" seru Haanish. "Matamu! matamu berubah! kenapa bisa matamu berubah?!"


Haidar langsung menghalangi wajahnya. "Ah, kamu hanya salah lihat saja!"


Haanish maju dan men mencengkeram kedua pergelangan tangan Haidar dan membukanya. sangat jelas kedua mata Haidar dalam pandangan Haanish sangat aneh. mata itu mirip mata singa.


"Katakan padaku!" desak Haanish. "Apa kau mengkonsumsi sesuatu? doping atau sejenisnya?" selidik Haanish.


Haidar mendengus dan melengos. kini Inayah juga dapat dengan jelas melihat perubahan mata Haidar pula. wanita parobaya tersebut memegang wajah putranya dan mengamatinya.


"Haanish benar. kedua matamu mirip mata kucing." sahut Inayah. "Katakan Chouji! kau mengkonsumsi apa? narkoba? doping, cairan mutasi? katakan Chouji!" selidik Inayah menyergah.


"Aku nggak tahu Ma!" jawab Haidar pada akhirnya. "Aku tak pernah menkonsumsi minuman apapun, kecuali softdrink saja. tapi...."


"Tapi apa?" desak Inayah dengan cemas.

__ADS_1


Haidar mendengus dan menggeram lagi. sangat jelas geraman khas macan terdengar dari mulutnya. lelaki itu duduk disofa dan duduk menyangga sikunya pada kedua lututnya.


"Tapi aku menyuntikkan sesuatu cairan berwarna merah kehitaman yang kutemukan dari dalam gagang Golok Ailesh." jawab Haidar. suara lelaki itu kembali normal dan kedua matanya telah kembali ke keadaan semula.


Inayah terkejut. "Kau menyuntikkan darah dewa ke tubuhmu?!" sergah Inayah dengan kekagetan luar biasa.


"Darah dewa? oh, maksudmu darahmu saat ini sudah terkontaminasi dengan darah dewa?!" sahut Haanish pula.


Haidar hanya bisa mendesah panjang dan mengangguk-angguk dengan lesu. "Sering aku merasakan keanehan pada diriku. refleksku bertambah beberapa kali lipat, tapi juga emosiku makin kurang terkontrol. aku sendiri heran. bahkan metoda zikir yang selalu aku terapkan kini tak lagi mempan menghalau kelepasan emosi itu." keluh Haidar.


Haanish memicingkan mata. jangan-jangan makhluk yang kutemui dikebun Mama... adalah kau???


Haidar menatap Haanish. "Kenapa kau menatapku? apa yang curigakan padaku?"


"Apakah sewaktu pingsan, itu juga karena reaksi darah dewa?" selidik Haanish. Haidar menatap adiknya sejenak.


"Aku tak tahu." ujar Haidar.


"Kau memang lelaki yang bertindak tanpa perhitungan." sembur Haanish. "Apa kau pikir darah dewa hanya sebuah sarah biasa yang gampang ditransfusikan ke darahmu? kalau Allah berkehendak lain dan kau terkapar tanpa nyawa, bagaimana dengan kami? apa kau memikirkan perasaan Mama?!"


Haidar menghembuskan napas pelan. "Ya... aku minta maaf telah membuat kalian semua mencemaskan aku." akunya, "Tapi, kalian tak perlu kuatir... aku sekarang baik-baik saja."


"Sekarang.... bagaimana esok hari? lusa? seminggu kemudian, sedua minggu kemudian seterusnya... apa kau bisa menjamin dirimu baik-baik saja?" todong Haanish. "Kemana pikiran bijakmu selama ini? apakah sejak kutinggal beberapa hari ke Rusia, kamu berubah menjadi manusia paling bodoh?!"


Haidar bangkit. "Eiji! mengapa kau selalu mempermasalahkan hal-hal..." ujar Haidar.


"KARENA AKU ADIKMU!!!!" teriak Haanish dengan murka dan setelah itu mulai tertawa-tawa lagi. "KAU ANGGAP APA AKU SELAMA INI HA?? hahahaha... ahahaha... Aaaarggghhhh..." Haanish meraung marah membuat Marissa buru-buru mendekap suaminya.


"Uda... sudahlah..." pinta Marissa dengan wajah yang cemas bercampur takut. Haanish masih belum bisa mengendalikan kelainan patologisnya.


Inayah menatap Haidar. "Chouji... kau salah! kau salah! kau tidak selamanya benar! ingatlah, kita semua tak tahu jika darah dewa merupakan golongan darah apa? selama ini kita tahu jenis golongan umum darah kita ada empat golongan, selain golongan-golongan darah langka lainnya." wanita itu melangkah ke sofa dan duduk disisi Haidar. "Bagaimana jika Allah berkehendak lain padamu? kau bisa mengalami efek transfusi yang parah. trombosit dalam darahmu akan mengalami purpura dan kekacauan sistem imunitas tubuh.dan akhirnya mengalami kegagalan fungsi ginjal."


Haidar terdiam mendengar omelan ibunya dan duduk lagi dengan lesu. sementara Haanish telah berhasil mengendalikan kelainan patologisnya sehingga menyisakan sedikit sekehan tawa saja dan Marissa masih tetap menenangkannya.


"Untung saja golongan darahmu AB." tukas Haanish, "Sama seperti Mama. itu saja masih tetap menimbulkan efek transfusi. kalau saja sistem tenaga dalam kamu dan imunitas dirimu tak bereaksi, kau sudah lumpuh sejak itu, Chouji. kau dengar? L-U-M-P-U-H.... wa arimasuka?!" omelnya.


"Ya, ya, aku paham... makasih!" ujarnya kepada Haanish.


Haanish hanya melengoskan wajah sambil menyusuti air matanya yang jatuh dipipi. ia menatap Marissa. "Jika saja urusanku sdah selesai, lebih baik aku kembali ke jepang, ketimbang menyaksikan saudaraku yang goblok itu melukai dirinya sendiri." Haanish kemudian menatapi Haidar. "Aku tahu kapasitas diriku, Chouji! aku hanya saudara tirimu. aku tak berhak atas apapun tentangmu... aku tak..."


"Eiji!" tegur Inayah menyela, membuat Haanish tak lagi meneruskan kalimatnya dan memilih menundukkan kepala saja.


"Gomen.... Mama..." ujarnya dengan lirih.


Marissa langsung melolong. "Mama! sebaiknya calon kepala keluarga Lasantu ini lebih dididik dengan baik. Mama, bagaimana bisa dia tak berpikir? hanya demi sebuah darah jenis apapun itu.... dia berani menjadikan dirinya sebagai eksperimen hidup?! kami keluarga Williams saja yang ilkuwan, masih berpikir seribu kali untuk mencobanya!"


"Kau!!!" sergah Haidar.


"Chouji!" tegur Inayah. "Adik iparmu benar kali ini. Mama yang salah karena sudah lama tak mengontrol dirimu! Mama pikir, Mama sudah mempercayai betapa kau bisa membawakan akhlak yang baik sebagai calon kepala keluarga. tapi..."


"Mama... aku mengaku salah dan minta maaf untuk itu." ujar Haidar dengan pelan. Inayah hanya diam.


Haanish menatap Inayah. "Mama.... bagaimana perkembangan Mahreen?" tanya Haanish dengan pelan.


"Masih belum ada tanda-tanda ia akan siuman. kelihatannya berita itu memang sangat menggoncang dirinya." keluh Inayah dengan rasa gugup yang ditekannya.


"Omong-omong tentang Mahreen..." ujar Haidar kemudian menatap ibunya. "Aku telah mengambil keputusan Mama..."


"Keputusan apa itu? Mama harap keputusanmu kali ini sangat bijak dan mrmbanggakanku." sindir Inayah.

__ADS_1


"Aku berkeputusan.... akan menjadikan Mahreen sebagai istriku. aku memohon restumu Mama." ujar Haidar dengan suara mantap. []


__ADS_2