
Haidar terbangun dari tidurnya. tubunnya bermandi peluh membuat pakaiannya basah. napas lelaki itu tak beraturan. Haidar menoleh menatap Aisyah yang tidur disisinya.
untunglah sang istri tidak terbangun dari tidurnya. Haidar mengusap wajahnya sejenak lalu duduk disisi ranjang.
Astagfirullah.... ada apa dengan diriku??? mengapa sosok itu muncul menemuiku??? mengapa aku kembali tersesat ke tempat itu???
Haidar mendesah dan kembali mengusap wajah hingga rambutnya dan lelaki itu menyadari bahwa sejak tadi ia bermandikan peluh yang membuat piyama miliknya basah kuyup. dengan pelan, lelaki itu membuka dan menelanjangi dirinya sendiri, melemparkan piyama yang basah itu ke lantai yang dibalut permadani. Haidar kembali masuk kedalam selimut.
berkali-kali ia berupaya tidur, namun nyata kelopak matanya tak mampu memejam. akhirnya Haidar menyerah, membiarkan kedua matanya nyalang menatap langit-langit kamar, menceraikan kantuk dan mengusirnya.
seorang petarung sejati, mengenal benar siapa dirinya.... barangsiapa mengenal dirinya... akan mengenal Allah... apa maksudnya????
pikiran dalam benak Haidar bermain-main berupaya menerka-nerka apa maksud dibalik ucapan sosok berwajah singa itu.
ah sialan makhluk itu... kenapa dia tak bilang saja jawabannya? mengapa harus memaksaku mencari-cari? telelilolo... apakah selama ini, aku salah dalam mengendalikan darah dewa itu???
Haidar memejamkan mata namun bukan tidur. dia hanya bermeditasi saja dalam posisi itu. tak lama kemudian, lelaki otu telah menjajaki alam subsconcius nya sendiri. ia berdiri menatap hamparan kerlap-kerlip cahaya mirip bintang yang bertebaran diruang gelap gulita itu.
tak lama terdengar sebuah suara.
"Haidar..."
Haidar langsung berbalik. wajahnya yang semula kaku perlahan menyunggingkan senyum.
"Bapu..." ujar Haidar.
sosok dihadapannya memanglah Trias Ali, dalam bentuk badan astralnya. lelaki tua itu mengenakan pakaian bate, sebuah kemeja kurung mirip beskap yang dipadu dengan sarung batik yang melingkar dipinggang. celananya juga panjang sampai ke betis dan ia memakai saluk dari kain batik. benar-benar menampilkan sosok seorang praktisi langga yang mumpuni.
tubuh astral Trias tersenyum. "Bagaimana kabarmu, cucuku?" sapa kakek itu.
Haidar yang diterjang rasa haru sontak kembali menangis. "Bapu... aku rindu sekali..." sedu Haidar.
"Mengapa kau begitu cengeng, nak?" olok suara lagi dibelakangnya. Haidar menoleh lagi. kali ini yang muncul adalah tubuh astral Kenzie. lelaki itu mengenakan gamis panjang dengan surban gaya bekhtasy yang melengket dikepalanya. "Kamu, baru diterpa musibah begitu, sudah mau menyerah." tegur Kenzie, "Jangan bikin malu aku dong." sergahnya.
Trias tertawa, "Ken, sudahlah... nanti sudah jatuh tertimpa tangga pula dia." tegur lelaki tua itu, menenangkan sahabat yang sekaligus menjadi besannya itu.
Kenzie kemudian menampar keras bahu kekar Haidar. "Ingat nak! konsep pengenalan diri adalah salah satu cara dasar manusia untuk mengenal Allah. kamu itu, baru saja mau menjejak dasar tangga sudah mau menyerah." omel Kenzie.
"Ken, sudah... kasihan cucu kita kau marahi terus." tegur Trias kembali. kakek itu kemudian menatap Haidar.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Trias.
"Aku mencari tahu siapa diriku ini sebenarnya." jawab Haidar.
"Yang tahu, memang hanya kamu sendiri, kok." tukas Trias. "Badan, kan badan kamu."
"Tapi... aku bingung, Bapu." keluh Haidar dengan kelu.
"Nggak usah bingung kamu." seru Kenzie. "Patut kamu ingat. dalam diri manusia itu bercokol empat ***** yang mempengaruhi diri manusia itu sendiri."
"Terangkan padaku, Opa." pinta Haidar.
"Kamu sudah mulai lupa lagi ajaran kami berdua kepadamu?!" omel Kenzie menowel-nowel pelipis Haidar. "Dalam diri manusia itu ada Amarah, Lawwamah, Mulhimah dan Muthmainnah."
...*****...
Haidar membuka matanya. jiwanya ditarik paksa dari alam subsconcius menuju realita.
*ya! itu dia! empat ***** dalam diri manusia. Amarah, Lawwamah, Mulhimah dan Muthmainnah... dari keempat itu hanya Amarah yang memiliki kekuatan api. Lawwamah bagaikan air, Mulhimmah bagaikan angin dan Muthmainnah adalah tanah. rupanya, aku masih terjebak dalam sisi Amarah sehingga darah dewa merespon hal itu dan menampilkan sisi lain diriku. aku paham sekarang... seorang yang mengenal dirinya, akan mengenal Allah.
__ADS_1
itu dia! Muthmainnah!
wahai jiwa yang tenang! Muthmainnah! jiwa yang tenang*!
Haidar menarik napas panjang. lelaki itu bangkit dan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. Haidar melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan diri sekaligus berwudhu. setelah itu ia keluar mengenakan handuk dan melangkah menuju lemari kemudian membukanya.
lelaki itu mengeluarkan sebuah kemeja dan memakainya, kemudian ia menutup lagi lemari. Haidar mengambil sarung dan sajadah yang terletak di nakas. ia mengenakan sarung dan menghampar sajadah.
dalam keheningan pagi buta menuju subuh itu, Haidar tenggelam dalam ritual sholat Qiyamullail, hanya untuk mencari makna dari kata al-muthmainnah...
...*****...
tulup warisan Samirep sudah tiba tadi siang, diantarkan oleh kurir sebuah perusahaan pengiriman yang bonafid. lelaki itu menatap satu set senjata tiup itu, lengkap dengan ancar yang tersimpan dalam terontong.
Ancar adalah proyektil berbentuk jarum yang dihias bulu-bulu dipangkalnya. peluru ini terbuat dari pelepah pohon saguer. sedangkan terontong adalah semacam tabung untuk menyimpan ancar itu. sumpit itu sendiri terbuat dari kayu khas Lombok, Meranti (Shorea).
Haanish mengamati senjata tradisional itu. begitu juga dengan Marissa. lelaki itu menatap istrinya.
"Sayangku, apa kamu bisa meniru senjata ini dengan bahan lain yang lebih adekuat?" pancing Haanish.
Marissa menatap Djalenga. " Kak, apakah semua senjata tradisional ini dibuat dari kayu meranti?" selidik Marissa.
"Iya, adek." jawab Djalenga, "Sebab tekstur kayu meranti itu keras dan tahan lama. di kampung, kayu ini juga jadi bahan kontruksi rumah-rumah kami. kayunya punya kadar air sedikit tapi awet dan tidak gampang memuai atau menyusut meski pada suhu yang sering berubah-ubah."
Marissa mengangguk-angguk. "Denai rasa, kita tak perlu menggantinya dengan bahan lain. meranti sendiri bisa denai simpulkan sebagai bahan yang adekuat." wanita itu menatap Haanish. "Denai kelihatan harus sedikit merubah pola pakaian tempur Kak Djalenga."
"Kenapa? apakah solid armor nggak cocok buat dia?" tanya Haanish.
Marissa kembali menatap Djalenga yang duduk menimang-nimang satu set tulup dalam genggamannya itu. "Menilik dari senjata tradisional ini, denai pastikan gaya hidup Kak Djalenga adalah seorang pemburu." tebak Marissa lalu menatap Haanish. "Jadi pakaian tempur yang cocok untuknya adalah jenis suit armor bukan solid armor."
"Analisa yang bagus, Adek." puji Djalenga.
"Adek, adek, memang istriku adek kamu?" omel Haanish membuat Djalenga hanya bisa tersenyum canggung. watak lelaki dihadapannya ini memang angin-anginan.
"Ingat Djalenga! misi kita berdua adalah membebaskan Dinara. dan aku menyerahkan hal itu kepadamu sepenuhnya untuk bisa membuktikan bahwa kau layak untuk Dinara." ujar Haanish.
"Apa saya akan bergerak sendirian, Kakak?" tanya Djalenga.
"Ya, berdua kita bergeraknya." omel Haanish lagi."Tapi aku hanya akan membersihkan jalanmu dan kau yang akan membebaskan Dinara."
"Uda, bukannya terbalik?" pancing Marissa.
"Kenapa terbalik?" tanya Haanish.
"Aduh, Uda yang samurai ini kelihatannya sudah melupakan strategi perang ya?" sindir Marissa. "Kak Djalenga dengan sumpitannya, itu bisa berperan sebagai marksman. dan Uda sebagai pelaksana pembersihan."
"Iya kah?" gumam Haanish merenung.
"Iya dong, suamiku tersayang." sahut Marissa mencolek dagu suaminya. "Kak Djalenga kan senjatanya jenis proyektil, daya jangkaunya kalau kuperhatikan bisa sampai 15 meter. cocoklah jadi penembak jitu, eh... maksudnya penyumpit jitu. nah kalau Uda kan senjatanya pedang, itu kan senjata kontak dekat. jadi Uda lebih cocok jadi penyusup sekaligus pembersih. begitu."
Haanish tertawa. "Oh iya, ya? kok aku malah lupa ya?" lelaki itu kemudian mencolek lagi dagu istrinya. "Makasih Say..."
"Say? memangnya denai Syaithon?" tukas Marissa dengan cemberut.
"Lha? yang ngatai kamu syaithon, siapa?" balas Haanish. "Kan aku bilang, makasih Say... kok malah jadi syaithon sih?"
"Minta maaf, cepat!" tuntut Marissa.
__ADS_1
"Minta maaf untuk apa sayang? kan aku nggak..." tangkis Haanish.
"Minta maaf, atau denai pulang sekarang!" ancam Marissa dengan mata berkaca-kaca.
waduh hormon progesteronnya lagi memuncak nih. mending mengalah saja dulu.... demi bakal anakku...
Haanish kemudian berlutut dan mengangkat tangannya memeluk pinggang istrinya. "Issha, istriku.... maafkan aku ya?"
Marissa langsung mengelus-elus perutnya dan tersenyum lalu mengangguk-angguk senang. Haanish bernapas lega.
syukur dah....
lelaki itu kemudian bangkit dan tersenyum-senyum menatap Marissa. sontak wanita itu mendelik.
"Apa Uda lihat-lihat?" sergahnya.
"Ih, kok makin hari makin galak nih." keluh Haanish.
"Biarin!" seru Marissa. "Awas. sehari ini nggak boleh dekat-dekat." ancam wanita itu dan langsung melenggang pergi meninggalkan Haanish yang hanya bisa melongo melihat kelakuan istrinya yang hamil muda itu.
...*******...
seharian ini, Haidar tidak masuk kantor. ia mempercayakan pengaturan jadwalnya kepada sekretarisnya. Haidar juga memberitahu bahwa ia akan cuti selama beberapa hari.
📞 "Untuk seminggu ini, jadwalku dengan para klien ditunda. ingat! aku berikan kamu keleluasaan untuk mengatur jadwalku, bukan pekerjaanku. paham?!"
📞 "Paham Pak." jawab sekretaris itu. "Lalu, bagaimana dengan wakil direktur? apakah dia boleh hadir hari ini?"
📞 "Nggak. tapi kamu boleh menghubungi Tante Dewi. minta nasihat sama beliau tentang manajemen. okey? aku tutup dulu pembicaraan ini. nanti aku hubungi kamu lagi." ujar Haidar.
lelaki itu kemudian meletakkan gagang telpon pada tempatnya. ia menatap Aisyah.
"Kami akan berangkat Umma." ujar Haidar.
"Berhati-hatilah," pesan Aisyah, "Dan jangan lupakan untuk terus mengingat Allah."
"Abah... semangat!" tambah Aya Sofia.
Haidar maju memeluk kedua orang terpenting dalam hidupnya sekarang. setelah itu ia melepaskannya dan melangkah menjinjing kopor diiringi langkah Aisyah dan Aya Sofia.
diberanda, nampak Haanish yang sedang memeluk Marissa yang menangis.
"Tenang. aku ini mau ke rumah Abi. bukan kemana-mana." ujar Haanish berupaya menenangkan istrinya.
"Tapi kan habis itu Uda ke Inggris mau bertarung melawan klan Dracna." sedu Marissa, "Denai takut kalau-kalau..."
"Hush!" sela Haanish. "Jangan berprasangka yang jelek. terus berdoa dan berdzikir." lelaki itu mencium dahi Marissa. "Aku pergi dulu. Aisyah akan menemanimu."
disisi jalan, Djalenga berdiri dipinggir mobil travel sebuah maskapai penerbangan milik BUMN yang dipesan langsung Haidar untuk menjemput mereka dan mengantar ke bandara.
Haanish berlutut dan mengelus perut Marissa yang mulai nampak membuncit. "Ayah pergi dulu nak. jangan buat ibumu sedih ya?" lelaki itu kemudian mencium perut istrinya lalu bangkit dan melangkah lagi tak menoleh.
Marissa hendak menyusul lagi namun langsung ditahan Aisyah yang kemudian memeluknya. nyonya muda itu tersedu-sedu melihat suaminya pergi mengeraskan hati, tak menoleh sedikitpun sampai ia menaiki mobil travel itu, disusul Haidar dan Djalenga. kendaraan itu kemudian melaju meninggalkan Kediaman Ali.
"Jangan tangisi kepergiannya." ujar Aisyah dengan lembut. "Haanish pergi untuk menunaikan tugasnya sebagai seorang kakak kepada adiknya. begitu juga dengan Haidar." Aisyah menyapu kepala Marissa dengan lembut. "Kita sebagai istri, hanya bisa melepas dan mendoakan, semoga mereka balik dalam keadaan sempurna dan merelakan dengan penuh rasa rela ketika mereka, balik hanya tinggal nama."
Aya Sofia akhirnya ikut memeluk Marissa. "Bibi jangan sedih dong. kami berdua, ada untuk Bibi...."
dan ketiga orang itu kemudian larut dalam perasaan masing-masing. []
__ADS_1