The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 42


__ADS_3

semua anggota keluarga, tak terkecuali Ryuzou menatap seorang pemuda yang mengenakan yukata tebal dengan obi lebar yang mengikat pinggangnya. Haanish membungkuk dalam kearah mereka.


"Aku tak setuju dengan keputusanmu!" tukas Ryuzou menatap Ryoma dengan marah.


Ryoma yang mengenakan pakaian resmi, yukata tebal yang dibalut haori hitam dengan cetakan lambang keluarga Hasegawa dilima sisi pakaiannya, menatap Ryuzou.


"Apa yang mendasari ketidak setujuanmu?" tanya Ryoma.


Ryuzou menudingkan telunjuknya kepada Haanish. "Anak ini bukan anggota keluarga Hasegawa. dia anggota keluarga Mochizuki!"


"Dia putra dari putriku, Rosemary!" tandas Ryoma. ia membalas. "Kau pun tidak punya keturunan laki-laki, Ryuzou. jadi peluangmu sama besar denganku untuk lengser!"


"Putri keduaku, Miyabi juga masih gadis! jika kau mau, nikahkan saja Yoshiaki dengan putriku. dengan itu aku akan mengakuinya sebagai anggota keluarga Hasegawa." todong Ryuzou dengan senyuman licik.


Ryoma mengencangkan rahangnya. amarahnya naik. Haanish tersenyum. ia menatap Ryuzou.


"Maaf Paman. kalau soal itu, saya masih harus berfikir." tolak Haanish dengan halus.


"Apa yang kau pikirkan lagi? tinggal nikah saja, buahi rahim istrimu dan lahirkan keturunan dari Hasegawa." tukas Ryuzou dengan ketus, "Begitu saja kok repot?"


"Ryuzou! kau sudah keterlaluan!" tegur Ryoma. Haanish terkekeh. penyakit patologisnya muncul namun berupaya dikendalikannya sekuat tenaga. pelipisnya mengucurkan keringat dingin. setelah berhasil meredakan amarah yang memicu sindrom patologisnya, Haanish menatap lagi pamannya.


"Paman... kalau boleh saya tahu, apakah keuntungan paman menjabat sebagai kepala keluarga?" tanya Haanish membuat Ryuzou langsung tertawa terbahak-bahak.


"Ryoma! inikah calon penerus keluarga Hasegawa yang kau banggakan?" ejek Ryuzou menatap Ryoma namun telunjuknya tertuding kearah Haanish. "Dia bahkan tak tahu, sejauh mana kekuasaan yang dipegang keluarga ini!" Ryuzou menatap Haanish. "Aku beritahukan kepadamu, Yoshiaki. keluarga Hasegawa secara turun temurun merupakan keluarga aristokrat yang diserahi jabatan tinggi dalam rumah tangga pemerintahan jepang sejak jaman Edo sampai jaman Reiwa. kita punya koneksi yang dekat dengan keluarga kekaisaran sebab kita adalah pendukung kuat Fraksi Nanbocho yang dipegang keluarga Daikaku, keluarga kekaisaran saat ini. kau tak menyadari bahwa kitalah raja yang menguasai pemerintahan?"


Haanish mengangguk-angguk paham lalu tersenyum. "Rupanya inilah ambisi dasar dari keinginan paman hendak mengklaim jabatan kepala keluarga?" todong Haanish membuat Ryuzou tergagap.


"B-bukan b-begitu j-juga maksudk-ku..." kilah Ryuzou.


"Paman. aku tak perduli dengan soal semacam itu. semuanya permainan saja. kedatanganku kemari sebenarnya hanya ingin melacak setiap tindakan yang dilakukan Mamoru Mochizuki dijaman perang pada saat peristiwa Nanjing." Haanish menatap semua anggota keluarganya. "Namun Kakek memintaku menjadi kandidat karena beliau mulai menyadari bibit perpecahan yang ada didalam keluarga kita." Haanish kemudian menatap Ryuzou, "Jika Paman ingin menguasai pemerintahan, silahkan saja. yang jelas, aku sebagai calon kepala keluarga yang ditunjuk hanya bisa memberikan restu selama jalan yang Paman pilih tidak melanggar aturan dalam keluarga kita."


Ryoma tersenyum mendengar jawaban cucunya kemudian mengerling ke arah Ryuzou yang menahan kemarahannya. Haanish menatap pamannya.


"Atau Paman mau mengadakan kontes terbuka seperti pada jaman sengoku?" pancing Haanish sambil mengeluarkan Si Penebas Angin dan meletakkannya didepan dirinya. "Saya selalu bersedia meladeni siapapun yang hendak menantang saya."


Ryuzou tak berkutik. ia tak bisa bicara lagi. sementara Ryoma kembali tersenyum dan menatapi Ryuzou dengan tatapan mencela. Haanish tersenyum.


"Sekarang saya bertanya kepada semua wakil anggota keluarga Hasegawa." ujar Ryoma. "Apakah kalian setuju, cucuku, Yoshiaki menjadi kepala keluarga?"


sejenak semua wakil anggota keluarga Hasegawa saling berpandangan dan berdiskusi. hanya Ryuzou yang memilih diam sambil memandang Haanish dengan tatapan tajam. Haanish mengeluh dalam hati.


telelilolo... baru sehari kedatanganku disini, aku sudah mendapatkan musuh baru... pamanku lagi...


akhirnya para wakil anggota keluarga Hasegawa, terkecuali Ryuzou dan sebagian anggota keluarga yang mendukungnya, sepakat memilih Haanish sebagai kepala keluarga Hasegawa yang baru. Ryoma melihat selisihnya dimenangkan oleh para pendukungnya sendiri.


maka pada malam itu, disepakati bahwa Haanish menjadi kepala keluarga yang baru. Ryuzou meninggalkan pavilyun bersama para pendukungnya dengan wajah memendam dendam. semua anggota keluarga telah kembali ke kota-kota disekitarnya.


Ryoma menepuk bahu Haanish. "Lakukan tugasmu dengan baik, nak."


"Kakek, aku sudah melakukan syaratmu." ujar Haanish. "Meski sebenarnya aku tak punya pikiran untuk mewarisi jabatan ini. tapi Kakek memaksaku. sekarang aku meminta Kakek membantuku menemukan jejak kehidupan Mamoru Mochizuki pada peristiwa Nanjing Daigyakusatsu."


"Besok, akan dilakukan upacara pelantikanmu sebagai kepala keluarga Hasegawa. setelah itu, kau bebas membuka arsip rahasia di Dokuritsu Gyosei Hojin Kokuritsu Kobunshokan. apapun yang kau butuhkan, ada disana." ujar Ryoma yang kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu. kini tinggal Haanish sendirian di pavilyun itu. ia mengambil Si Penebas Angin yang terbaring dilantai kemudian menegakkannya. ditatapinya pedang jenis gunto itu.


"Kawan, jangan bosan menemaniku. kita akan banyak menghadapi tantangan kedepannya." gumam Haanish pada pedang itu. seakan mendengar dan memahami perasaan penyandangnya, Haanish dengan jelas mendengar suara dengungan halus dari pedang warisan keluarga tersebut.


...*******...


pagi itu, Aya Sofia berdandan dengan pakaian muslimah hadiah dari Haidar. hari ini adalah perayaan hari ibu yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, dimana Aya Sofia mengenyam pendidikan. Aisyah juga telah berdandan mengenakan pakaian yang sama. ternyata Haidar sengaja memesan pakaian couple dengan tambahan sulaman lambang keluarga Mochizuki yang tercetak dibagian dada, lengan dan punggung pakaian tersebut. keduanya bercermin dan tersenyum bersama.


"Ayo nak, kita berangkat." ajak Aisyah.

__ADS_1



Aya Sofia mengangguk dan kedua insan itu melangkah keluar kamar dan menyusuri koridor, tiba diruangan lantai satu yang lapang itu. keduanya tiba dipintu saat pintu itu membuka dan muncullah seorang nenek. keduanya terkejut dan sama-sama menahan langkah. mereka berdua saling bertatapan. nenek itu menatap heran.


"Tita yi'o?" tanya nenek itu. (kamu siapa?)



Aisyah langsung menebak, "Bik Inah?"


"Yilongola ilo tawamu tanggulu'u?" tanya Bik Inah dengan heran lagi. (mengapa kau tahu namaku.)


Aisyah tersenyum, "Saya, Aisyah, Nek. saya asisten sementara disini saat Nenek tak ada. nanti Pak Haidar yang memberitahu anda nanti. maaf saya lagi buru-buru. permisi." ujar wanita itu pamit lalu menggandeng tangan putrinya meninggalkan Bik Inah sendirian yang terbengong-bengong disana.


tak lama kemudian, muncullah Salman. ia heran melihat Bik Inah yang hanya berdiri dipintu dan sesekali menengok keluar. lelaki itu mendekatinya.


"Assalamualaikum, Bik." sapa Salman dengan senyum. "Lagi ngapain?"


"Astagfirullah!" seru Bik Inah dengan kaget. ia menatap Salman sambil mengelus dada. "Nyong Salman bikin kaget saja!" omel nenek itu.


"Sory menyory Bik." ujar Salman mengatupkan kedua tangannya menjura. "Habis Bibi aden lihat bengong-bengong sambil melihat-lihat ke pintu. kayak habis lihat palasik saja."


"Nggak." kilah Bik Inah, "Cuma Bibi heran tadi kok ada perempuan beranak dirumah ini..."


"Ooo... itu namanya, Aisyah Tilahunga." jawab Salman, "Dia dikasih tinggal sama Nyonya besar disini untuk bantu-bantu urus Kediaman Lasantu semasa Bibi pergi."


"Berarti kalau Bibi sudah ada, dia dikembalikan kemana?" tanya Bik Inah dengan penuh perhatian.


"Ini Bibi mau kepo atau menginvestigasi nih?" goda Salman.


"Sekali-kali karlota juga nggak apa-apa, kan?" balas Bik Inah membuat Salman tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.


"Kayaknya dia tetap diijinkan tinggal." ujar Salman setengah berbisik. "Prediksiku... sebentar lagi Kediaman ini akan kedatangan ratu." ujar Salman kemudian menegakkan tubuhnya.


"Nggak tahu." jawab Salman mengangkat bahunya. "Bisa jadi diantara mereka... atau bisa jadi malah dua-duanya." pemuda itu kemudian melangkah keluar dari kediaman itu, menuju parkiran dan mengendarai sepeda motor gedenya meninggalkan Kediaman tersebut.


Bik Inah langsung mengangkat tangan. "Ya Allah... segera berikan jodoh untuk dua nyong ku itu. semoga mereka mendapatkan jodoh yang baik."


...*******...


Istana Odawara, pukul 09.00 Waktu Standar Jepang.


ritual inisiasi Haanish sebagai katoku dari keluarga Hasegawa berlangsung secara khidmat. karena ia beragama islam, Ryoma mendatangkan seorang ulama Turki yang tinggal di Masjid Cami Tokyo untuk menjadi saksi dalam pengambilan sumpah sebagai seorang kepala keluarga.


setelah acara khidmat itu selesai diselenggarakan, berikut dilanjutkan dengan pesta syukuran sebagaimana biasanya. bahkan dalam acara itu, hadir Wali Negara, Pangeran Asahiko menjadi wakil Kaisar Reiwa dalam memberi sambutan dan selamat kepada kepala keluarga yang baru.


Haanish, ditengah-tengah meriahnya pesta yang dihadiri para negarawan tersebut, pemuda itu menyelinap keluar dari pavilyun dan menyusuri taman istana itu. ia kemudian mengeluarkan gawai dan menghubungi Inayah menggunakan panggilan video call.


📲 "Assalamualaikum, Mama..." sapa Haanish dengan lembut.


📲 "Wa alaikum salam, nak." balas Inayah yang saat itu sedang menjalankan tugas. dalam tampilan layar gawai itu ia mengenakan seragam dinas kepolisian. "Kau terlihat tampan dan berwibawa. sangat mirip dengan almarhum Papamu."


Haanish tersenyum mendengar pujian wanita itu.


📲 "Mama... aku sebenarnya menghubungimu untuk memberitahukan dua warta. satu baik, dan satunya kurang baik." ujar Haanish.


Inayah tersenyum bijak dan menyahut.


📲 "Katakanlah nak. Insya Allah, Mama siap menerimanya." ujar Inayah dengan sikap yang sudah ditabah-tabahkan.


Haanish masih diam menimbang-nimbang lagi. sekali lagi terdengar suara sang ibu yang memintanya mengatakan berita itu. Haanish memejamkan mata sejenak lalu menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan.

__ADS_1


📲 "Bismillahirrahmanirrahim... Mama... aku secara sepihak, telah diangkat sebagai kepala keluarga Hasegawa." ujar Haanish. "Aku terpaksa mengiyakan keinginan Kakek, sebab hanya itulah cara supaya aku bisa mencari kebenaran tentang leluhurku."


📲 "Terus... apa berita buruknya?" tanya Inayah.


Haanish kembali memejamkan mata dan membuka matanya yang berkaca-kaca kemudian sambil tersenyum getir. Inayah mendesaknya.


📲 "Katakan, nak.... apa berita buruknya?" tanya Inayah dengan hati yang mulai tak tenang. insting keibuannya terusik.


📲 "Mama.... aku .... harus tinggal dijepang... seumur hidupku..." jawabnya dengan lirih lalu tertawa kecil. "Lucu, kan Ma?" setelah itu Haanish tertawa-tawa sendiri dengan airmata yang terus jatuh.


Inayah juga merasa trenyuh mendengar penuturan putra keduanya. ia menutup mulutnya dan tak sadar juga terisak-isak. kedua anak dan mama itu saling bertangisan. setelah menenangkan hatinya, Inayah bicara lagi.


📲 "Lalu... bagaimana menurutmu, nak?" pancing Inayah.


📲 "Aku tak tahu lagi Ma... aku seakan dijebak dalam pilihan yang sama pentingnya.... aku tak tahu lagi Ma..." jawab Haanish dengan lirih lalu tertawa-tawa lagi.


📲 "Eiji... Eiji..." panggil Inayah. "Dengar Mama, nak."


Haanish menghentikan tawa-tangisnya itu dan kembali menatap layar gawai. Inayah memejamkan mata sejenak dan membuka matanya kembali.


📲 "Nak... terimalah keputusan itu." ujar Inayah, "Tinggal di jepang, bukan berarti silaturrahim kamu dengan kami menjadi putus. kamu tetap putraku. kamu harus ingat itu." tandasnya sambil menahan tangis dan terisak-isak.


📲 "Mama... bukan persoalan itu yang kupikirkan. yang menjadi kegalauanku adalah nama. jika tinggal disini, secara langsung aku tak bisa menggunakan nama Haanish Hermawan Lasantu, melainkan Yoshiaki Koga Hasegawa. nama itu kurasa menjadi momok yang akan memisahkan aku dari Mama..." keluh Haanish ditengah tertawa kecilnya yang disertai isakan.


📲 "Namamu memang Yoshiaki Koga Hasegawa... kau putra Saburo Koga Mochizuki.... Haanish adalah nama yang kugunakan untukmu sebagai pengakuan bahwa kau adalah bagian dari keluarga Lasantu... sekarang nak, kau diminta lagi untuk menggunakan nama Yoshiaki Koga Hasegawa, maka terimalah... namun dihati Mama... kau tetaplah Haanish Hermawan Lasantu, putra keduaku." jawab Inayah dengan tegas.


mendengar kalimat sang ibu, hati Haanish makin tersayat dan ia tersedu sedan.


📲 "Mamaaaa...." sedunya.


📲 "Hentikanlah tangismu nak. tegakkan badan! kau putra seorang samurai. kau... adalah seorang samurai! ingat dan camkan dalam hatimu... semoga Allah memberikanmu ketenangan." tandas Inayah. "Sekarang saatnya Allah membukakan kesempatan bagimu menjadi seorang pemimpin. ingatlah setiap nasihat yang kau terima dari ayahmu dalam setiap latihan. kau masih ingat?" pancing Inayah.


wajah Haanish yang tadinya sedih berubah menjadi bengis. airmata yang meleleh semakin menampakkan dendamnya.


📲 "Jika mereka berdiri dibelakangku, aku akan melindungi mereka... jika mereka berdiri disisiku, akan kuhormati mereka... namun jika mereka berdiri didepan untuk menentangku... aku akan menghabisi mereka!" ujar Haanish dengan suara pelan namun gemetar. "Aku akan mengingatnya selalu, Mama... terima kasih."


📲 "Baiklah nak... semoga Allah terus memberikanmu kekuatan dan kesabaran untuk memimpin mereka." ujar Inayah.


📲 "Mama..." panggil Haanish lagi.


📲 "Ya nak..." jawab Inayah dengan lembut.


📲 "Bagaimana menurut Mama... tentang Issha?" pancing Haanish.


Inayah langsung merasakan debaran didadanya. sang anak mulai membuka hatinya.


📲 "Anak yang baik... seorang petualang yang sama sepertimu..." komentar Inayah, "Kenapa... kamu menanyakannya, nak?"


Haanish memperbaiki sikap dan menenangkan hatinya. ia menyusuti airmatanya dan menatap dengan wajah tegak.



📲 "Setelah menyelesaikan urusan brengsek ini... aku akan menikahi Marissa Williams, dengan persetujuan Mama atau tidak." jawab Haanish dengan tegas layaknya pemimpin. seketika hati Inayah seperti merasa disiram air embun yang sejuk. terjawablah sudab kegundahannya yang tak beralasan itu. Haanish kemudian menyahut. "Setelah itu aku akan memboyongnya ke jepang. kami akan hidup disini hingga hari akhir."


Inayah tersenyum. sifat jahilnya muncul.


📲 "Bagaimana jika keluarga Hasegawa menolak keinginan kamu?" pancing Inayah.



Haanish memicingkan mata, memamerkan senyum bengisnya.

__ADS_1


📲 "Mereka harus merelakan kepalanya terpancung Si Penebas Angin." jawab Haanish dengan pelan membuat Inayah secara tak sadar bergidik mendengar sumpah putra keduanya yang menggetarkan jiwa. []


__ADS_2