The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 06


__ADS_3

tanpa diduga, Mahreen mendatangi kediaman Lasantu. untung saja Haanish ada disana. pemuda itu menyambutnya.


"Kamu pagi-pagi kemari mau apa?" todong Haanish, "Mau ketemu Chouji?" tebaknya.


"Dia ada?" tanya Mahreen.


"Nggak tahu." elak Haanish. "Semalam ia pergi entah kemana. mungkin saja ke rumah dosennya mendiskusikan tentang penetapan hari wisudanya. bukankah dia akan segera diangkat menggantikan Tante Dewi?"


"Atau mungkin, dia dirumah perempuan itu?" tebak gadis itu sendiri dan hatinya terhasut cemburu. Haanish tertawa.


"Kamu terlalu paranoid dengan Aisyah." kilah Haanish. "Aku kasih tahu ke kamu... Chouji paling benci terlalu dicemburui. kamu pasti akan dianggapnya berlebihan dan... jreeenggg... kamu ditinggalkan... mau begitu?" pancing Haanish sedikit mengancam.


"Ya... ya... nggak mau sih." jawab Mahreen. "Tapi.."


"Sudahlah... selesaikan kuliahmu. nanti kalau pulang langsung kesini, jangan ke Buana Asparaga. kamu malah mengganggu disana. biar Chouji yang kemari. okey?!" usul Haanish.


"Okelah kak." ujar Mahreen pada akhirnya kemudian pamit meninggalkan kediaman itu. setelah kepergian Mahreen, Haanish langsung menghubungi Haidar via video call.


📲 "Dimana saja kamu?!" sergah Haanish.


📲 "Dijalan... aku nggak sempat bawa mobil." jawab Haidar.


📲 "Pasti dari rumah Aisyah, ya kan?" tebak Haanish. "Nanam bibit ya?"


📲 "Eiji... hati-hatilah bicara." tegur Haidar.


📲 "Alaaaaa... sok jaga imej kamu." olok Haanish, "Sudah, ngaku sajalah kau! dari muka kau yang kusut-kusut itu sudah kutahu kau baru saja kekurangan vitamin akibat banyak mengerahkan tenaga dalam dengan perempuan itu! benar kan?"



Haidar terdiam ditohok begitu rupa oleh Haanish. pemuda itu menghela napas dan menatap layar gawai.



📲 "Eiji, aku minta bantuanmu." pinta Haidar.


📲 "Tentang apa?" tanya Haanish.


📲 "Jadilah saksi pernikahanku." ujar Haidar.


📲 "Dengan Mahreen?!" tukas Haanish melengkingkan suaranya.


📲 "Bukan... dengan Aisyah." ujar Haidar.


senyum Haanish langsung terkembang.


📲 "Yang benar nih?!!!" ujarnya.


📲 "Aku serius!" jawab Haidar. "Tapi aku minta kamu merahasiakan dari Mama dan Mahreen."


📲 "Lho? kok begitu?" tukas Haanish.


📲 "Kamu mau memenuhinya, apa nggak?!" desak Haidar.


sejenak Haanish bermenung. akhirnya pemuda itu mengangguk.


📲 "Oke deh... kapan dilaksanakan?" tanya Haanish.


📲 "Hari ini, ba'da ashar di..." Haidar menyebut nama seorang penghulu. Haanish mengangguk-angguk.


📲 "Okey deh. sore aku berangkat kesana." jawab Haanish.


📲 "Aku mengandalkanmu." sahut Haidar.


panggilan lewat video call itu berakhir. dengan bersiul dam berdendang, Haanish melangkah santai sambil keluar ke halaman.


...******...


Mahreen masih dihasut rasa cemburu. ia tak percaya dengan penjelasan Haanish. gadis itu berpikir, pemuda itu mungkin menyembunyikan kebenaran tentang keberadaan Haidar.


dia pasti berada dirumah perempuan itu!!!


Mahreen menghentikan sebuah taksi online dan menumpangi kendaraan itu.



"Ke asrama karyawan Buana Asparaga." pinta Mahreen.


sopir itu mengangguk dan mengaktifkan lokasi peta kota Gorontalo dan mengetik nama itu dikeyboardnya. layar holografis muncul memberitahukan letak tempat yang diinginkan penumpangnya. kendaraan itupun melaju menyusuri jalanan.


sepanjang jalan Mahreen duduk tak tenang. ia meremasi jemari-jemarinya. sopir sesekali mengamati penumpangnya melalui kaca spion. kendaraan itu tiba di perumahan Buana Asparaga.


"Kita sudah sampai, Nona." ujar sopir tersebut.


"Tunggu sebentar pak. kita akan mengawasi rumah itu." jawab Mahreen seraya menunjuk ke kediaman milik Aisyah.


sopir itu mengangguk. Mahreen tetap melakukan pengamatan. nampak kendaraan milik Aisyah masih terparkir, berarti wanita itu masih berada didalam rumah. tak lama kemudian pintu terbuka dan Aisyah keluar bersama Aya Sofia. keduanya melangkah menuju kendaraan tersebut dan menaikinya. Aya Sofia duduk diboncengan sedangkan Aisyah kemudian duduk dijok kemudi, menghidupkan mesin dan kendaraan segala medan itu mulai bergerak meninggalkan kediaman.


Mahreen mengangguk-angguk lalu menyentuh kaca termoglass yang menyekat dirinya dan sopir. "Pak, ikuti terus perempuan dan anaknya itu."


sopir mengangguk dan mulai menjalankan kendaraannya, mereka mengejar dan membuntuti kendaraan yang ditumpangi Aisyah hingga kendaraan itu berhenti di sekolah.

__ADS_1


Aisyah menurunkan Aya Sofia dari boncengan. keduanya berbincang sedikit dan Aya Sofia kemudian mencium tangan ibunya lalu berlari pelan memasuki sekolah, berbaur dengan anak-anak lainnya. Mahreen buru-buru keluar dari mobil dan mendekati Aisyah yang hendak menghidupkan kendaraannya.


"Dimana Haidar?" tanya Mahreen langsung membuat Aisyah terkejut.


"Astagfirullah..." serunya kemudian menatap Mahreen. "Non, datang-datang langsung nanya Pak Haidar, memangnya Pak Haidar sekarang berada dengan saya?"



Mahreen sejenak melengos lalu menatap lagi Aisyah. ia menudingkan jemarinya ke wajah Aisyah. "Kamu jangan berani-beraninya mendekati Haidar. dia itu milikku! kau paham nggak?!" sergah Mahreen.


Aisyah mengamati sekitaran. ia mengeluh dalam hati melihat dua-tiga orang ibu-ibu penggosip yang berhasil menangkap dengar pembicaraan keduanya. mereka sudah berbisik-bisik. karlota sudah dimulai. salah satunya mengambil gawai dan merekam percakapan kedua perempuan itu.


Aisyah berupaya menahan kemarahannya. ia menatap Mahreen. "Nona... anda sudah menuduh saya menyembunyikan orang yang anda cari.... apakah anda melihat dengan terang, saya menyembunyikannya? lain kali, kalau menuduh, sertakan bukti!"


"Kamu paling pintar berdebat soal laki-laki! apa kau pikir aku percaya? kamu itu munafik!" seru Mahreen mendorong dada Aisyah. wanita itu nyaris terjungkal jika tidak berpedang pada setang kemudi. "Kau wanita paling gatal yang kukenal! aku pastikan kau akan menderita jika berani mendekati Haidar lagi."


Mahreen langsung meninggalkan Aisyah yang hanya diam dengan wajah yang memerah menahan kegusarannya. kendaraan yang ditumpangi Mahreen melaju meninggalkan tempat itu.


"Wuhhhhuuuuuy... ada perkelahian pelakor nih." celetuk salah satu ibu.


"Iya, kan sudah kubilang. Mama muda itu memang racun!" komentar ibu lainnya.


Aisyah menatap ibu-ibu itu lalu kembali menjalankan mesinnya dan kendaraan itu mulai melaju meninggalkan sekolah.


...*******...


Marissa sudah mulai tenang dihari kedua. ia sudah mengambalikan semula perabotan elektronik di kediaman Alkatiri yang dikacaukannya melalui hacking. Syafira mendesah lega. Kevin terlebih lagi. kini Marissa lebih banyak menghabiskan waktu siangnya bermain game online.



tak ada yang bisa mengalahkan gadis super jenius itu. semua developer game online selalu dibuat pusing untuk terus mengupdate sistemnya sebab selalu saja dibobol oleh Marissa dengan sangat gampang. beberapa lainnya memilih mengakui takluk dan mengajukan kerja sama menjadikan dirinya sebagai mitra kerja developer tersebut.



nama sandinya menggunakan gabungan namanya dan Haanish; MARHAN. dan selalu menduduki tingkat teratas. malamnya, Marissa mengaji dan mempelajari beberapa hal berkaitan dengan tasawuf naqsabandiyah yang dianut Syafira Alkatiri.


Marissa benar-benar tidak sabar lagi menunggu hari esok. ia sudah tak sabar ingin menjalani peran sebagai istri sah dari Haanish Hermawan Lasantu.


...******...


Check clock out telah tiba.


Haidar melangkah cepat menyusuri koridor tiba di lift. pintu itu otomatis membuka begitu Haidar mendekati lift tersebut. ia masuk dan berdiri menunggu hingga lift membawanya ke bagian resepsionis dan lobby yang berada dilantai satu.


baru saja ia keluar dari lift, tiba-tiba seorang petugas resepsionis menghampirinya.


"Pak, Bapak ditunggu seorang wanita tuh. perempuan bermata hijau mirip zamrud sedang duduk disofa lobby." ujar petugas itu.


Haidar menatap petugas tersebut. "Pergilah, biar kusambut wanita itu." jawab pemuda tersebut. petugas mengangguk hendak pergi ketika ditahan lagi oleh Haidar.


"Ya, Pak?" tanya petugas itu lagi.


"Aisyah Tilahunga, sudah pulang kah?" tanya Haidar.


"Sebentar Pak, saya lihat catatan check clocknya pak." jawab petugas itu.


"Kabari aku lewat pesan singkat." pesan Haidar.


"Siap pak." jawab petugas itu.


Haidar mengangguk dan petugas itu pergi. Haidar melangkah kembali menuju lobby. disana nampak Mahreen yang sedang duduk santai menikmati kopi cappucino yang disuguhkan oleh Office Boy.


melihat kemunculan Haidar, Mahreen berdiri. pemuda itu kemudian duduk.


"Aku menunggumu sejak lama." kata Mahreen.


"Kau sudah menyelesaikan kuliahmu?" tanya Haidar.


Mahreen menghela napas lalu menatap Haidar memelas. "Aku bolos kuliah." ujarnya dengan jujur.


"Kenapa kamu bolos?" tanya Haidar mengerutkan alis.


"Aku merindukanmu." ujar Mahreen memelas dan menyentuh tangan Haidar.


"Reen... aku tidak mau, hanya gara-gara aku, kuliahmu terbengkalai." tegur Haidar, "Ingat kedua orang tuamu yang susah payah menyekolahkan kamu! kamu mulai melupakan mereka?"


"Aku masih mengingat mereka." jawab Mahreen. "Tapi bagaimanapun aku merindukanmu. sehari tanpa menemui kamu, aku merasa hampa."


Haidar tersenyum. "Kau terlalu kuatir... bukankah sedikit lagi kau akan kuhalalkan... tunggulah aku saat menjadi presdir Buana Asparaga... apa kau tak bisa menunggu saat itu?!"


Mahreen menghela napas lalu akhirnya mengangguk-angguk pelan dan menunduk.


"Pulanglah Reen... aku nggak mau Mama menegurmu hanya karena kau bolos kuliah." pinta Haidar, "Mama sangat memperhatikan dan menyayangimu... aku pun mencintaimu. kau tak perlu meragukan itu. aku hanya ingin fokus dulu pada karir agar kerajaan bisnis yang diwariskan kepadaku akan tetap berjalan sebagaimana biasanya. kau paham keinginanku, kan?" ujarnya dengan lembut.


Mahreen mengangguk lagi dan tersenyum. "Bakklah... aku akan menunggumu..." gadis itu mencondongkan wajahnya kepada Haidar. "Awas... kalau kau mendekati Aisyah..." ancam Mahreen dengan lirih, "Aku akan membunuhmu..." ujarnya kemudian tersenyum dan bangkit berdiri.


"Aku akan mengantarmu." ujar Haidar kemudian bangkit dan melangkah bersama Mahreen. gawai dalam sakunya bergetar namun ia tak menyentuhnya. keduanya melangkah keluar dari gedung, tiba diparkiran dan tiba didepan Tuatara V33K milik Haidar.


"Masuklah." pinta Haidar.


Mahreen mengangguk dan memutari mobil. sementara itu Haidar meraih gawai dan membuka pesan. disana tertulis.

__ADS_1


✉ dia sudah pulang sejak tadi...


Haidar mengangguk lalu ikut masuk kedalam mobil dan kendaraan itu lalu bergerak meninggalkan kawasan perkantoran Buana Asparaga Tbk.


...*******...


Salman duduk santai di kendaraan besarnya. opsir itu terlihat begitu elegan, pistol revolver besar yang tersampir dipinggang kanannya menambah keangkeran perawakannya yang kekar itu. beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya sempat menjaga jarak ketika melintas didepannya.



salah seorang mahasiswi lewat dan Salman memanggilnya. mahasiswi itu mendekat.


"Ya, komandan... ada yang bisa dibantu?" tanya mahasiswi tersebut.


sejenak Salman menatap ke pintu gerbang besar UIN Sultan Amai Gorontalo kampus I tersebut. ia kemudian menatapi mahasiswi tersebut.


"Kamu kenal Callista Waroka?" tanya Salman.


"Mahasiswi disini juga?" tanya mahasiswi itu.


"Ya iyalah... masa aku nanya mahasiswa UNG?" ujar Salman membuat mahasiswi itu tersipu.


"Kamu kenal nggak?" tanya Salman.


"Maaf Komandan... saya nggak kenal." jawab mahasiswi.


Salman menepuk dahinya. "Aduuh... kalau nggak kenal kenapa nanya?" gerutunya, "Pergilah..."


mahasiswi itu bergegas meninggalkan Salman yang menggerutu panjang-pendek. tak lama kemudian Callista muncul dari gerbang. melihat Salman diatas kendaraannya, jilbaber itu mendekatinya.



"Pipi kapan tiba?" tanya Callista.


"Sudah lama menunggu. rindu benar aden menunggu Mimi. lama benar kuliahnya." gerutu Salman.


Callista tersenyum lalu mengangguk. "Ayo..." ajaknya.


Salman menegakkan kendaraannya. Callista membonceng dan Salman menghidupkan mesin. keduanya bergerak meninggalkan kawasan kampus I tersebut. diperjalanan Callista memeluk erat pinggang Salman dan menyandarkan pipinya dipunggung pemuda itu.


"Kita mau kemana?" tanya Salman.


"Kemana Pupu jalan, *M*umu ikut saja." jawab Callista dengan lembut.


"Pupu takut melarikan anak orang." sahut Salman. "Nanti dikira Penebok."


"Penebok??" tanya Callista.


"Penculik perempuan dan anak-anak." jawab Salman tertawa. mulut Callista membulat sejenak lalu menatap. "Ooo... kalau disini, namanya Gola..."


Salman mengangguk. Callista makin mengeratkan pelukannya. "Biarlah. asalkan Pupu adalah Gola cinta ku."


Salman tertawa melihat mendengar ungkapan kekasihnya itu.


...*******...


Haanish menatap arloji dipergelangan tangannya. arloji hadiah dari Akram yang berfungsi ganda sebagai piranti teleporticon itu terlihat anggun dengan desain futuristik yang elegan. pemuda itu kembali membuang pandang ke jalanan.


disisinya, penghulu ikut-ikutan menatap ke jalanan. setelah itu ia menatap Haanish.


"Pak, jadikah acaranya?" tanya penghulu itu.


Haanish menatap lelaki itu. "Ya, jadilah! masa nggak jadi?!"


"Tapi orangnya belum ada sampai sekarang." ujar penghulu itu. "Sebentar lagi malam akan menjelang. saya ada acara lain yang tak bisa ditunda."


"Bapak tenang saja! kedua mempelai itu akan segera tiba." ujar Haanish.


tak lama kemudian muncul Tuatara V33K memasuki halaman kediaman penghulu tersebut. Haidar keluar mendekati Haanish. ia mengenakan stelan jas sebagai pakaian formal.


"Bagaimana? apakah sudah siap?" tanya Haidar.


"Ini penghulunya masih ragu." ujar Haanish.


"Segera laksanakan acaranya." pinta Haidar.


penghulu mengangguk. ia masuk duluan ke dalam kediamannya. Haanish menatap Haidar.


"Kamu sudah siap?" tanya Haanish. "Mempelainya mana?"


Haidar mengangguk ke arah Tuatara V33K. "Itu didalam."


"Sudah, dipanggil saja mempelainya." ujar Haanish kemudian melangkah masuk ke kediaman menyusul penghulu. Haidar mendekati Tuatara V33K dan mengetuk pintu kaca.


kaca jendela turun dan nampaklah Aisyah mengenakan stelan gaun ditambah dengan jilbab. wanita itu menoleh menatap kepada Haidar.


"Kau sudah siap?" tanya Haidar.


Aisyah memandang lama lalu mengangguk pelan. Haidar mengangguk mantap. "Keluarlah... acara akad akan dimulai."


pintu membuka dan Aisyah keluar dari mobil. Haidar menggandeng tangannya dan keduanya melangkah masuk ke kediaman sang penghulu.

__ADS_1


acara akad nikah siri dilaksanakan dengan khidmat. begitu akad dikabulkan, Aisyah mencium tangan Haidar. ia kini syah menjadi istri pemuda itu secara syar'i. urusan berikutnya, gampanglah dipikirkan. yang penting bagi wanita itu, putrinya kini memiliki figur ayah yang dirindukannya.[]


__ADS_2