The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 19


__ADS_3

"Papa..." panggil Aya Sofia.


Haidar menatap anak perempuan itu dan tersenyum lalu jongkok dan mengembangkan tangan. Aya Sofia berlari dan menghambur ke pelukan Haidar. lelaki itu mencium kepala anak itu lalu bangkit sambil memeluk Aya Sofia.


"Aku bukan si Kambing Tua itu." ujar Haidar. "Aku adalah aku. aku memang begini dan aku memang begitu. lalu apa maumu?!" lelaki itu mendekat duduk disisi Inayah.


"Mama.." sahut Haidar kemudian mencium tangan ibunya. lelaki itu menatap Aya Sofia. "Aya sudah ketemu nenek?"


"Papa... aku bangga punya nenek seorang pendekar." sahut Aya Sofia memandang Inayah yang memasang senyum harunya lalu membelai pipi anak itu. Haidar mengangguk.


"Bagus... mulai sekarang, aku akan berlakukan aturan baru dikeluarga ini." ujar Haidar menatap Aisyah. Inayah tersenyum saja.


"Mulai sekarang, Aya akan memanggil Bunda dengan sebutan Umma, dan memanggil Papa dengan sebutan Abah. paham?!" ujar Haidar.


Aya Sofia yang cerdas langsung menyahut. "Ya, Abah."


Haidar tersenyum. "Anak cerdas." pujinya membuat Aisyaj tersenyum. Inayah tertawa.


"Panggilan itu mengingatkan aku pada Abah dan Umma." ujar Inayah dan tanpa sadar ia mengalirkan air mata meski tak terisak. Aya Sofia tanggap turun dari pangkuan Haidar dan mendekati Inayah.


"Jadda jangan menangis. apakah Abah dan Umma membuat Jadda menangis?" tanya Aya kemudian menyentuh paha Inayah.


Inayaj menggeleng dan kembali memeluk Aya Sofia dan meletakkannya dipangkuan. "Kamu, jadilah Cucu yang berbakti pada orang tua."


"Tentu, Jadda..." jawab Aya Sofia dengan tersenyum. "Dan kelak, saya pun akan mengikuti jejak Jadda... menjadi polisi."


Inayah tertawa lalu mengangguk-angguk. "Nanti kita lihat kedepannya." wanita parobaya itu menatap lagi Aya Sofia. "Namun jangan jadikan itu sebuah beban. jika Allah mentakdirkan kamu menjadi polwan, ya bersyukur... tapi jika tidak, maka yakinlah bahwa Allah lebih tahu apa yang Dia inginkan untukmu ketimbang yang kau inginkan untuk dirimu sendiri." ujar pejabat kepolisian itu.


Aya Sofia mengangguk. Inayah kembali menyuruhnya masuk ke kamar. anak itu patuh dan kembali masuk kekamarnya. Inayah kembali menatap Haidar.


"Mama sudah membereskan masalahmu. sekarang tugasmu adalah berbakti kepada istrimu, begitu juga sebaliknya. paham?" ujar Inayah.


"Paham Ma." jawab kedua laki-bini itu berbarengan.


Inayah menatap Haidar. "Kau tak boleh lagi tinggal di Kediaman Lasantu. kau dan Aisyah akan menempati kembali rumah di Puri Manggis, sedangkan Salman akan tetap tinggal disana. jangan pernah sekalipun memberitahu alamat Puri Manggis kepada Mahreen, sampai dia tahu atau Mama yang memberitahu, paham?!"


"Paham Ma...." jawab Haidar.


"Wisuda kamu akan diselenggarakan pada hari selasa. maka kau akan melaksanakan pernikahanmu pada hari minggu ini. tidak perlu akad karena kalian sudah isbat nikah. laksanakan saja resepsi dihotel manapun kau suka." ujar Inayah, "Ataukah perlu ku gunakan Event Organizer?"


"Makasih Mama..." ujar Aisyah dengah haru.


"Biarlah masalah itu saya yang selesaikan." jawab Haidar. "Mama tahu beres saja."


Inayah mengangguk-angguk. "Bagus."


"Apakah Haanish perlu diundang?" tanya Haidar.


"Tak perlu." jawab Inayah. "Anak itu sekarang sudah menjadi staf rumah tangga kekaisaran. ia mengatur adminstrasi negara dibawah perintah Perdana Menteri Jepang. jangan ganggu kesibukannya."


"Baiklah... aku akan mengirimkan saja padanya siaran langsung pernikahan kami." ujar Haidar.


"Ya, kalau itu boleh-boleh saja. yang penting dia mengetahui bahwa kalian telah resmi menikah." sahut Inayah.


wanita itu bangkit diikuti Haidar. keduanya melangkah menuju pintu. Inayah berbalik sejenak.


"Mama ingin menenangkan diri, Chouji. jangan ganggu Mama lagi dengan kelakuanmu. sudah cukup Haanish dan Mahreen menggangguku dengan kelakuan mereka." tegur Inayah.


"Saya tak akan mengecewakan Mama." ujar Haidar.


Inayah mengangguk lalu berbalik dan membuka pintu lalu keluar. Haidar mengantar ibunya sampai di beranda. Inayah mengendarai kndaraan yang kemudian meluncur meninggalkan kost itu.


tinggal Haidar sendirian diberanda lalu masuk lagi ke dalam kost. disana, Aisyah masih diam memandangi Surat Keputusan Pengadilan Agama tentang Isbat Nikah mereka berdua dalam genggamannya.


Haidar duduk disisinya. "Senang ya?" celetuk Haidar.


"Apanya?" tanya Aisyah.


"Itu... senang ya, sudah diresmikan secara hukum negara?!" ujar Haidar dengan melotot dan mengencangkan rahang.

__ADS_1


"Ya, memangnya kenapa?!" balas Aisyah mencoba menantang.


"Masuk kamar!" perintah Haidar membuat Aisyah membelalakkan mata.


"Kok..." protes Aisyah.


"Sudah kubilang, masuk kamar!" perintah Haidar sekali lagi.


dengan lesu, Aisyah bangkit dan melangkah menghentak-hentakkan kakinya, kesal tapi sebenarnya ia bahagia. berkat Inayah, wanita itu telah menyandang status hukum sebagai istri Haidar yang sah. jilbaber itu masuk kedalam kamar dan Haidar bangkit menyusul istrinya melangkah masuk kedalam kamar. setelah itu hanya Allah Yang Maha Tahu, mengetahui pasti apa yang mereka berdua lakukan dalam kamar tersebut.


...*******...


Desa Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat.


Mahreen menatap hamparan perumahan berdinding pitate (anyaman bambu) dan beratap jerami membentuk gunungan yang berderet rapi membujur disekitar rumah yang mereka tempati. rumah yang mereka tempati adalah salah satu rumah untuk tamu, yang dibangun ketua adat apabila menerima tamu dari luar kampung itu.



rumah tamu bergaya bale tani itu bersebelahan pula dengan rumah bale bonter milik kepala desa, sehingga aktifitas mereka terpantau oleh pejabat tersebut.



Mamiq Gumi Jatiswara, nama kepala desa itu adalah seorang lelaki yang baik dan humoris. dia termasuk dalam golongan bangsawan tingkat ketiga dari strata sosial di Nusa Tenggara Barat.



Cholil mengenalnya melalui perkenalan dengan Bupati Lombok, Pambasaq Gumi Sasak Datu Serinate ketika berkunjung ke Lombok, beberapa waktu lalu saat pulang melancong dari Australia, sebelum akhirnya kembali ke Gorontalo.



Saat ini, Cholil dan Callista sedang bersama-sama Jatiswara menginspeksi desanya. mereka berdua sudah berangkat sejak tadi dan belum ada tanda-tanda hendak balik. terpaksa Mahreen kedapatan tugas menjagai rumah.


sedang asyiknya duduk, datanglah yang mendekat seorang lelaki. ia berwajah datar, melintas lewat rumah yang ditempati Mahreen, menatap sekilas gadis bermata hijau itu dan terus melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanannya.


Mahreen mengekori punggung lelaki itu dan seakan ia merasakan bahwa tatapan gadis itu mengganggunya, sontak lelaki itu berbalik. ia menatap Mahreen dan Mahreen juga menatapnya. keduanya saling menatap hingga akhirnya lelaki itu mengerutkan alisnya dan melangkah mendekati Mahreen yang duduk didepan pintu.


"Ante orang bukan warga sini, kah?" sapa lelaki itu.



"Ya... saya bukan warga sini." jawab Mahreen.


"Boleh... saya duduk?" tanya lelaki itu.


Mahreen menggigiti bibirnya sejenak, lalu akhirnya mengangguk. lelaki itu kemudian duduk diberanda pintu pula sedang Mahreen menggeser duduknya agak kedalam.


lelaki itu mengulurkan tangan. "Perkenalkan Tiang, Datu Lalu Djalenga." ujarnya dengan senyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. kontras dengan permukaan kulitnya yang coklat.


"Hah? disini, tiang rumah juga memiliki nama?" tanya Mahreen dengan kaget. Djalenga langsung merasa ada yang salah. ia langsung meralat.


"Maksudnya kata Tiang itu artinya Saya dalam bahasa Sasak." ujar Djalenga. Mahreen mengangguk-angguk paham. ia mengulurkan tangan menjabat jemari kekar Djalenga.


"Mahreen Nurmagonegov..." ujar gadis itu.


"Ooo... bukan orang Indonesia kah?" tebak Djalenga. ia menerawang. "Kelihatannya... fam kamu orang dari luar negeri begitu."


Mahreen tersenyum. "Saya orang Rusia." jawabnya.


Djalenga terbelalak lagi menatap Mahreen. "Tapi Side orang pandai berbahasa Indonesia? kursus bahasa Indonesia pernah kah?"


Mahreen menggeleng dan kembali tersenyum. "Saya punya banyak teman orang Indonesia. makanya saya sedikit menguasai bahasa indonesia."


Djalenga mengangguk-angguk lalu kemudian bertanya lagi. "Tapi Tiang lihat Side orang memakai kerudung, datang sama dua orang tamu tampang macam ustad dengan ustadzah. apa mereka juga teman Ante, atau apa?"


"Sebentar..." sela Mahreen menahan senyum. "Kamu itu bertanya atau menyelidiki orang?" balik Mahreen bertanya.


Djalenga tertawa. "Tidak juga. Tiang hanya heran saja. kamu orang luar negeri, mata kamu unik, tidak macam mata kami disini. kamu juga pakai pakaian terusan mirip dengan perempuan-perempuan disini... padahal kamu itu bukan orang islam..."


Mahreen tertawa sambil menutup mulutnya membuat Djalenga tertegun sejenak.

__ADS_1


"Kenapa? ada yang salah kah?" tanya Djalenga.


Mahreen mengangguk-angguk lalu kembali tertawa lepas membuat kerudungnya jatuh kepundak menampilkan rambutnya hitam kemerahan.


"Kalau ada yang salah, tolong kasih tahu Tiang. supaya jelas Tiang tahu." tegur Djalenga.


"Maafkan saya..." jawab Mahreen pada akhirnya. "Saya hanya tertawa, kamu menyangka saya bukan orang islam. Saya Mahasiswa Universitas Islam Rusia. Saya ke Indonedia, tepatnya ke Gorontalo, bergabung dengan UIN Sultan Amai Gorontalo dalam program pertukaran pelajar antar dua negara."


Djalenga menepuk jidatnya. "Astagfirullah, maafkan Saya, Nona... saya benar-benar tidak tahu anda itu orang islam. karena perawakan anda sangat mirip dengan bule-bule Kristen."


Mahreen hanya tersenyum dan sesekali tertawa kecil menyadari pemuda dhadapannya tertipu dengan penampilannya.


"Kalau begitu, ite bersaudara ya? saudara seiman. Alhamdulillah." jawab Djalenga pada akhirnya lalu tertawa.


"Kamu tahu nggak, Cholil sama Callista kemana? kok sudah mulai sore, mereka berdua belum nampak batang hidungnya." tanya Mahreen. "Aku lama-lama bisa bosam, kesepian disini."


"Ooo tenang Nona." ujar Djalenga menghibur. "Nona punya teman itu aman kalau jalan sama Datu Serinate itu kepala kampung. orangnya baik sekali. nanti sebentar lagi mereka pulang."


"Saya sudah bosan duduk-duduk saja disini." keluh Mahrwen.


"Kalau begitu, biar Tiang antar saja Nona pesiar sambil cari-cari Kepala kampung dengan teman dua orang itu. mari saya antar Nona." ajak Djalenga.


Mahreen memicingkan mata. "Kamu nggak akan menculikku, kan?" tukas gadis itu.


Djalenga tertawa. "Nona... kalau aku menculik kamu, pasti sudah dari tadi. jalanan sunyi, rumah sunyi, berapa lama alu akan membekap kamu dan menyembunyikan kamu."


Maafkan aku jika terlalu curiga." kata Mahreen.


gadis itu bangkit dan melangkah keluar. kedua muda-mudi itu melangkah meninggalkan rumah dan menyusuri jalanan. sepanjang jalan, Djalenga mendominasi percakapan untuk membuat Mahreen paham mengenai adat setempat.


"Kamu tahu disini ada adat menculik memang. namanya adat Memari." ujar Djalenga.


Mahreen terkejut. "Berarti memang ada yang namanya tindakan menculik. berarti kau membohongiku." seru Mahreen langsung berbalik hendak pulang.


Djalenga langsung menahan pergelangan tangan gadis otu. "Nona mau kemana? memang saya ada tampang mau menculik Nona?"


Mahreen kembali menatap Djalenga. "Benar kau tak akan menculikku?" ujarnya menegaskan.


"Tentu saja aku tak akan menculikmu. adat memari hanya dilakukan oleh sepasang kekasih. si lelaki akan menculik kekasihnya pada malam hari agar tidak ketahuan keluarga perempuan dan terkena sanksi adat." jawab Djalenga sambil tersenyum.


"Ooo... kiranya begitu." gumam Mahreen.


Djalenga mengangguk. "Kita berdua kan bukan sepasang kekasih. jadi Nona tidak usah takut."


Mahreen menyadari ia terlalu curiga dengan lelaki ini. gadis itu kembali berdiri disisi Djalenga.


"Ya sudah. ayo berangkat." ajak Mahreen.


keduanya kembali berjalan. Djalenga terus menjelaskan beberapa karakteristik desa Sade kepada Mahreen. bagaikan seorang pemandu wisata, Djalenga begitu aktif menjelaskan berbagai hal.


Mahreen perlahan tapi pasti mulai menikmati kebersamaan dengan lelaki Sasak itu. ternyata ketahuan bahwa Djalenga penganut ajaran Islam Wetu Limo, bukan Wetu Telu yang bersifat sinkretis antara ajaran hindu dan islam syi'ah.


"Wetu Telu lebih mengarah kepada agama tradisional suku Sasak. mereka mempercayakan pelaksanaan syariat hanya kepada seorang Kyai yang dipercaya sebagai sosok Maksum dari dosa-dosa. mereka senantiasa melaksanakan upacara gawe urip dan gawe pati." tutur Djalenga.


"Gawe Urip?" tanya Mahreen.


"Ya, itu adalah upacara yang mencakup tentang kelahiran dan kehidupan. sedangkan Gawe Pati adalah ritual kematian." jawab Djalenga lagi. "Satu hal yang diakui oleh masyarakat suku lainnya di Lombok, Suku Sasak sangat terkenal amat menghormati leluhur. itulah mengapa ajaran Wetu Telu disebut juga dengan Sesepen."


"Kau akan menemukan penganut ajaran Wetu Telu di Bayan, disebuah kepulauan bagian utara Lombok Utara. mungkin kedua teman kamu sama kepala kampung sementara disana untuk meneliti komunitas Masyarakat Bayan yang masih mempertahankan ajaran Wetu Telu dan ajaran Boga." tambah Djalenga lagi.


Mahreen mengangguk-angguk. mereka tiba pada sebuah alun-alun kecil dengan beberapa wanita berjilbab dan berkerudung kain tipis yang berkerumun didepan rumah saling mencari kutu rambut sambil berghibah. melihat Djalenga muncul dengan seorang gadis, nampak mereka sumringah.


"Djalenga! anak gadis siapa lagi yang hendak kau larikan ini? sudah cukup lah kau banyak membayar sanksi adat. kasihan orang tua kau itu." tegur salah satu wanita.


Djalenga hanya tercengar-cengir saja. seorang ibu lainnya menimpali. "Aduh kasihan anak perempuan orang nanti. bersuamikan kamu yang tak laku ini." olok perempuan satunya.


"Apa Inaq-Amak kau itu tak punya cara mencalonkan Side ante dengan perempuan yang cocok?" olok lagi perempuan satunya. "Rasa-rasanya ini perempuan juga tak akan mau sama Side Ante sebab, meski kau tuh keturunan Datu, tapi manalah biaya kau hendak bernikah?"


Mahreen panas juga mendengar olokan ibu-ibu pengghibah itu. dengan mantap Mahreen maju memperisai Djalenga dari serbuah ghibah mereka.

__ADS_1


"Kalau ibu-ibu sudah selesai berghibah, tunaikanlah sholat ashar. itu jam sholatnya telah tiba." tegur Mahreen. "Dan perlu ibu-ibu ketahui.... saya adalah kekasihnya lelaki ini!" tandasnya membuat para ibu itu melongo.


Djalenga tak kalah melongonya mirip kucing yang kedapatan mencuri ikan dari kulkas.[]


__ADS_2